JUDUL: I love you, Brother

Rated: T

Genre: Family/romance

Pairing: ItaSasu KisaSui

Summary: just read please :3

Disclaimer: Itachi and Sasuke are not mine neither are the other characters of Naruto... And this chapter is inspired by running man (you know the korean variety show :3).

Warning! This fic contain BL element and Uchihacest although in this story they're not a real brother. So, don't like don't read. If you don't like BL or Uchihacest please just go and don't give me flame, I appreciate that if you do m(_ _)m.

So without further ado please enjoy :D

Chapter 9

Sepuluh menit setelah permainan dimulai...

Seorang perempuan berjalan dengan kesal menuju penjara. Penjara adalah sebutan untuk tempat semua orang yang tereleminasi dikumpulkan. Walaupun diberi nama penjara tetapi sebenarnya tempat tersebut hanya sebuah lapangan terbuka di pinggir desa dandelion dengan banyak layar yang menampilkan permainan yang sedang berlangsung.

"Yo Tayuya," kata salah seorang pemuda yang sudah duduk di penjara.

"Ukon, Sakon! Kupikir aku yang pertama dieleminasi!" seru Tayuya kaget melihat kedua pemuda kembar tersebut.

Ukon dan Sakon hanya meringis mendengar komentar Tayuya.

"Siapa yang mengeleminasi kalian?" tanya Tayuya sambil mengambil tempat duduk di samping Ukon.

"Seorang pria berkulit biru dari tim merah. Aku baru berkeliling tiga menit dan langsung berhadapan dengan pria barbar dari tim merah itu! Sial sekali aku!" gerutu Ukon.

"Aku juga dieleminasi oleh seseorang dari tim merah. Seorang pria aneh dengan wajah yang sangat datar. Dia bahkan tidak berkedip saat kami berpapasan. Dia hanya menatap kosong dan saat berikutnya armbandku sudah berhasil diambilnya," cerita Sakon. "Bagaimana denganmu, Tayuya?"

"Aku? Ughh, aku masuk ke dalam perangkap tim biru. Tim mereka benar-benar licik! Mereka menggunakan anak-anak kecil sebagai umpan dan saat aku lengah mereka langsung menyerangku bersama-sama! Satu tim penuh!" sahut Tayuya kesal.

"Sekarang harapan kita ada pada Minato-san dan Kurama-san," kata Sakon sambil mendesah panjang.

"Jangan lupa, ada Juugo juga," kata ukon mengingatkan.

"Tapi dia tidak akan bertahan kalau bertemu dengan Kimimaro. Dia pasti langsung mengalah begitu saja..." kata Tayuya.

"Atau langsung menyerangnya. Masih ada harapan karena bersama Juugo masih ada 'dia'," kata Ukon.


"Riida-san, apa kau yakin tim kuning akan menerima tawaran kerja sama kita? Maksudku kita sudah mengeleminasi salah seorang anggota mereka tadi," kata Suigetsu.

"Aku tidak yakin Otou-san akan mau bergabung dengan kita," kata Naruto.

Kushina mengangguk setuju.

Mikoto tersenyum miring. "Kalau sudah waktunya, mereka akan menyadari kalau membentuk aliansi sangat penting untuk mengalahkan tim merah yang menguntungkan dari segi kekuatan."

"Nah, sekarang saatnya kita menjalankan rencana selanjutnya," sahut Mikoto ceria.

"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Sasuke.

"Setelah ini kita harus bisa mengeleminasi salah satu tim merah... Kurasa Deidara-kun bisa diandalkan."

"Benar sekali un! Danna sama sekali tidak tertarik dengan permainan ini. Kurasa kita bisa melakuka transaksi dengannya un."

"Transaksi?" tanya Kushina tidak mengerti.

"Un! Transaksi armband ditambah walkie-talkie miliknya dengan informasi toko alat pahat. Danna seorang pemahat dan sama sekali tidak tertarik dengan hal apapun diluar itu, un. Kebetulan tadi aku melihat ada toko alat pahat yang bagus di desa ini un!"

"Baiklah kalau begitu masalah Danna-mu itu kuserahkan padamu, Deidara-kun," kata Mikoto. "Kita akan bergerak lagi setelah kita memiliki walkie-talkie tim merah."

Setelah itu, Deidara segera bergerak mencari Sasori. Lima menit kemudian dia menemukannya.

"Danna, un!" panggil Deidara.

Sasori membalikkan tubuhnya, dia langsung tahu siapa yang memanggilnya. "Apa? Mau kueleminasi?" tanyanya datar.

"Jahat un! Tentu saja bukan," seru Deidara. "Danna, aku punya penawaran untukmu, un."

Sasori mengangkat sebelah alisnya. Dia malas berbicara karena dia sedang kesal. Kesal karena dipaksa mengikuti permainan bodoh ini oleh pacarnya itu padahal ide untuk memahat karya berikutnya akhirnya muncul juga setelah dua minggu. Sekarang, pacarnya tiba-tiba saja muncul dan akan menawarkan sesuatu yang apapun itu pasti membuatnya bertambah kesal.

"Aku... menemukan toko alat pahat," Deidara memulai.

Mata Sasori bersinar mendengar kata 'pahat'.

'Oh! Mungkin tidak seburuk yang kukira,' pikir Sasori.

"Lebih tepatnya, alat pahat Sesshu (1)..."

"Dimana?" tanya Sasori tidak sabar. Sesshu adalah salah satu penjual alat pahat paling terkemuka sepanjang sejarah.

"Disini. Tapi aku tidak akan memberi tahumu begitu saja un! Ada sayaratnya."

"Apa itu? Aku akan melakukan apapun." kata Sasori.

Deidara tersenyum puas. Walaupun nada Sasori masih terdengar datar namun dia bisa mendengar sedikit antusiasme disana.

"Aku mau armband dan walkie-talkiemu, un."

"Antar dulu aku ke sana baru setelah itu aku akan menyerahkan apa yang kau minta."

"Kau tidak percaya padaku?" tanya Deidara kesal.

"Fugaku-san memperingatkan kami untuk berhati-hati pada tim kalian," kata Sasori.

Deidara menghela napas. "Baiklah, ikuti aku un."

Tiga menit kemudian, Deidara dan Sasori sampai di depan toko alat pahat. Mata Sasori membulat senang.

"Aku tidak percaya?! Di tempat seperti ini... Ini ambillah!" serunya tidak sabar sambil memberikan armband dan walkie-talkienya.

Deidara mengerucutkan bibirnya. Dia selalu kalah oleh alat-alat pahat itu. Biasanya dia akan marah-marah kalau Sasori sudah mulai mengacuhkannya seperti ini tapi kali ini dia punya misi sendiri.

Di tempat lain...

"Kimimaroo-chaaan~" panggil seorang pemuda berambut orange. "Aku tahu kau ada disini... Keluarlah."

Kimimaro melipat tubuhnya lebih kecil di bawah meja. Sekarang dia sedang bersembunyi di salah satu toko alat tulis yang ada di Desa Dandelion.

Setelah sepi selama beberapa saat, terdengar suara pintu terbuka kemudian tertutup, lalu sepi kembali.

'Kurasa dia sudah pergi,' kata Kimimaro dalam hati sambil berusaha mendengarkan suara-suara di sekitarnya.

Setelah yakin orang yang mengejarnya pergi, Kimimaro hendak beranjak keluar dari tempat persembunyiannya. Tapi, tiba-tiba kepala seseorang muncul di depannya, menengok ke bawah meja.

"AHHHHHH!" Kimimaro berteriak kaget.

"Kimimaro-chan! Aku menemukanmu!" seru pemuda berambut orange sambil tersenyum sadis.

Namun senyumannya tidak bertahan lama karena Kimimaro dengan cepat keluar dari tempat persembunyiannya dan memiting orang yang sudah membuatnya kaget.

"Juugo! Berani benar kau mengagetkanku!" seru Kimimaro kesal sambil mengunci lengan Juugo dengan kakinya.

"Maafkan aku, Kimimaro. Tadi 'dia' muncul begitu saja," kata Juugo sambil meringis kesakitan.

"Kalau begitu kendalikan sedikit, dirimu yang lain itu," kata Kimimaro tajam pada pemuda berkepribadian ganda yang masih meringis kesakitan.

Dengan gerakan cepat, Kimimaro mencabut armband Juugo.

"Tidaaak!" teriak Juugo.

"Salahmu sendiri membuatku kaget," kata Kimimaro dingin.

"Kimimaro-chan, aku akan menghukummu karena sudah membunuhku!" teriak Juugo sambil tertawa seperti orang gila saat dibawa oleh tim keamanan.

Tidak lama kemudian, di penjara...

"Juugo! Kau si bodoh tidak berguna," maki Tayuya. "Kenapa kau bisa tereleminasi hah?! Sekarang tim kita tinggal tersisa dua orang!"

"Ah! Maafkan aku. Tadi aku bertemu dengan Kimimaro kemudian 'dia' muncul tapi membuat Kimimaro marah... Yaah, jadi sekarang di sinilah aku," kata juugo merasa sedikit bersalah.

Ketiga teman satu timnya hanya mendesah putus asa.

"Ah! Itu orang yang sudah mengeleminasiku!" sahut Sakon tiba-tiba.

Ketiga temannya berbalik dan melihat seorang pria berambut merah dengan wajah yang terlalu datar digiring ke penjara. Pria tersebut sama sekali tidak memperdulikan peserta lain yang ada di penjara.

"Apa aku boleh pergi lagi ke sana?" tanya Sasori menunjuk toko Sesshu.

"Maaf kami tidak bisa..."

"Aku bersumpah tidak akan ikut campur lagi dengan jalannya permainan bodoh ini. Aku tidak akan membantu teman satu timku. Aku bahkan tidak peduli siapa yang menang atau kalah," potong Sasori tidak sabar.

"Tapi..."

"Biarkan aku bertemu dengan Konan-san. Aku akan berbicara langsung dengannya," tuntut Sasori.

Sasori bersama tim kemanan tersebut pergi menemui Konan dan setelah perdebatan yang cukup alot, Sasori diperbolehkan pergi ke toko pahat Sesshu.

"Hei kenapa dia boleh pergi ke sana?" protes Sakon.

"Karena Sasori-san sudah berjanji tidak akan mengganggu jalannya pertandingan," jawab Konan yang datang dari belakang mereka. "Dan kami sudah menutup akses ke toko tersebut jadi para pemain tidak masuk ke sana."

"Tapi Konan-san..." mulai Tayuya.

"Saya harap kalian bisa tenang menunggu disini. Sekian," kata Konan sambil berbalik pergi, kembali menuju tempat panitia.


Deidara kembali ke tempat timnya menunggu sambil tersenyum puas. Setelah bertransaksi dengan Sasori tadi, di tengah jalan dia bertemu seorang pemuda berambut abu-abu dengan bentuk alis yang aneh. Dari armbandnya, dia adalah salah satu anggota tim merah. Tanpa pikir panjang, Deidara langsung menyerang pemuda itu. Jika dilihat dari ekspresi wajahnya yang sangat kaget, pemuda itu pasti tidak menyangka dirinya akan diserang.

"Riida-san aku sudah berhasil mendapatkan apa yang kau mau," sahut Deidara ceria ketika kembali ke tempat persembuyian mereka di salah satu atap bangunan di Desa Dandelion.

"Bagus!" sahut Mikoto sambil mengambil walkie-talkie Sasori dari Deidara.

"Nee Riida-san, tadi aku..."

"Mengeleminasi lagi satu orang tim merah 'kan? Lebih tepatnya mengeleminasi Kimimaro-kun," potong Mikoto.

"Bagaimana.."

"Bagaimana aku bisa tahu? Karena aku melihat semuanya dari sini," kata Mikoto tersenyum puas.

'Mulai lagi,' pikir Sasuke yang saat itu sedang mengawasi sisi kanan tempat mereka bersembunyi.

"Aku melihat saat kau menyerang. Tindakan yang sembrono tapi aku bersyukur hasilnya baik. Kemudian lampu seseorang bernama Kimimaro dari tim merah padam jadi aku tahu siapa yang berhasil kau eleminasi."

Bahu Deidara turun mendengar perkataan Mikoto.

"Mikoto-san seharusnya kau membiarkan pemuda malang ini menceritakannya sendiri," kata Kushina sambil tertawa.

Mikoto hanya mengangkat bahu dan kembali menyadap pembicaraan tim merah.

"Kerja yang bagus," kata Kushina sambil menepuk bahu Deidara.

"Terima kasih, un. Tapi bagaimana Riida bisa tahu apa yang kulakukan?"

"Oh itu, tadi saat kita berpencar menuju gedung ini, kami menemukan sebuah teropong karena kami pikir berguna jadi kami membawanya," jelas Naruto sambil menunjuk Suigetsu dan Sasuke.

"Sudahlah jangan patah semangat seperti itu," kata Kushina membesarkan hati Deidara.

Deidara mengangguk dan ikut mengawasi bagian kiri tempat persembunyian mereka bersama Kushina.


Sementara itu, di tempat lain, Minato dan Kurama sedang membuntuti seorang pemuda berkulit kebiruan, salah seorang anggota tim merah.

"Minato-san, apa kau yakin kita harus menyerangnya? Entah kenapa perasaanku tidak enak."

"Kurama-kun, kenapa harus ragu sekarang?! Kalau kita diam terus, tim kita akan dihabisi tanpa bisa mengeleminasi satu orang pun dari tim lawan," tegur Minato.

"Kurasa aku masih memikirkan tawaran bekerja sama dengan tim biru. Tidak bijaksana kalau kita menyerang sekarang."

"Tawaran mereka memang menarik tapi mereka mencurigakan. Kenapa mereka bisa mendapatkan wakie-talkie tim kita?"

"Aku juga tidak tahu tapi..."

"Cukup. Kita lakukan apa yang ada di depan mata kita selanjutnya bisa kita pikirkan nanti."

Kurama terkekeh mendengar ucapan Minato barusan. "Setelah tiga tahun tidak bertemu kau sedikit berubah. Kurasa Kushina-san sudah banyak mempengaruhimu ya?"

"Banyak yang bilang seperti itu," jawab Minato sambil tersenyum. "Nah, sekarang lebih baik kita bergerak. Ayo!"

Mereka berdua pun melangkah menghampiri pemuda berkulit biru tersebut.


Kisame berjalan santai tanpa menyadari ada yang sedang mengikutinya.

'Ternyata permainan ini tidak terlalu membosankan. Kalau saja aku bisa menemukan Suigetsu...' pikirnya.

"Bzzt.. Kisame... Bzzt.. ada yang mengikutimu... Bzzt."

Kisame sedikit terlonjak mendengar walkie-talkienya tiba-tiba bersuara memotong pikirannya.

"Itachi-san! Kau mengagetkanku," seru Kisame.

"Bzzt.. Apa kau... Bzzt.. perlu bantuan?"

"Tidak perlu. Kurasa aku bisa mengatasi mereka."

Seolah tidak terjadi apapun Kisame berbelok di tikungan berikutnya kemudian diam-diam memutar ke arah sebaliknya.

"Kemana dia?" tanya seseorang kebingungan.

Kisame terkekeh, dia selalu menyenangi momen dimana pemburu jadi yang diburu.

"Apa kalian mencariku?" tanya Kisame santai dari belakang dua orang tim kuning yang mengikutinya.

Mendengar suara Kisame, Minato dan Kurama langsung membalikkan badan.

"Kau!" seru Kurama antara marah dan kaget.

Entah siapa yang memulai tapi tidak lama kemudian mereka bertiga sudah bergulingan di tanah. Minato dan Kurama berhasil menahan Kisame namun Kisame dapat mempertahankan armbandnya dengan baik.

"Ughh," Kurama menggeram kesakitan saat Kisame menyikut perutnya.

Akibat cengkaraman Kurama lepas, Kisame dapat melepaskan diri dengan mudah. Ketiganya terengah-engah. Berbeda dengan dua orang tim kuning yang waspada, Kisame malah terlihat kegirangan.

Kemudian Kisame tertawa terbahak-bahak. "Menyenangkan sekali! Sudah lama aku tidak bergulingan di tanah seperti tadi!"

Minato dan Kurama menatapnya aneh.

'Mungkin mereka menganggapku gila,' pikir Kisame. 'Yaah, aku tidak peduli...'

"Baiklah! Karena kalian menarik, untuk kali ini aku akan melepaskan kalian. Tapi kalau kita bertemu lagi, aku tidak akan menjamin keselamatan armband kalian."

"Ukhh aku tidak mau dikasihani oleh lawan," ujar Kurama.

"Terserah kau saja. Daah aku pergi dulu," kata Kisame sambil berbalik.

Minato dan Kurama berpandangan. Mereka memikirkan hal yang sama sekarang.

Bergabung dengan tim biru!


Haiii semuanya~ setelah sekian lama akhirnya fic ini diupdate juga hahaha

Tapiiii tetep belum selesai huhuhu TT_TT maafkaan

Tadinya ga akan di post sebelum beres tuntas tapi entah kenapa ingin nge-update sesuatu sebelum kita pindah tahun heheh

Mau update yang lain juga tapi ternyata waktunya ga sempet hiks :(

Yap segitu dulu aja

Jya ne~

Happy holiday and happy new year :3