Makasih ya buat yang udah baca, ataupun yang review chapter 2 kemarin ^^ setelah saya utak-atik akun FFn, sekarang saya ngerti gimana caranya bales lewat PM! XD *wong deso* Jadii, silahkan lihat di akun masing-masing yaa :D
.
Okeh! Let's start!
.
.
" Nice Present "
An Eyeshield 21 Fanfic
.
Chapter 3 – Unexpected
Disclaimer
Eyeshield 21 Manga&Anime © Riichiro Inagaki and Yusuke Murata
Warning
Ada OC, OOC, Semi-AU, Abal, Pendeskripsian GaJe, pemakaian bhs. Gaul, type/misstype
'blablabla' = di dalem hati
"blablabla" = ngomong biasa
Mulai nggak 'sreg'? Silahkan klik tombol back! :) Jangan paksain baca yah! ^^
Previously : "…, Jangan sampai Sena masuk ke dalam houseclub! Oke?" ujar Juumonji memberi pengarahan. Yang mendapat anggukan dari teman-temannya. Kemudian ia beranjak keluar. Memulai sandiwara ini. "CUKUP SUDAH!" "
.
.
.
"CUKUP SUDAH!" bentak Juumonji cukup keras yang menyebabkan Sena tiba-tiba mengurangi kecepatannya dengan drastis. Juumonji dan Suzuna bisa melihat adanya raut kekhawatiran dari wajah Sena. Kalau saja mereka berdua tidak sedang dalam bersandiwara, mereka pasti tertawa melihat raut wajah Sena yang.. err —menggelikan?
"Ju..Juumonji-kun..," Sena terlihat gemetaran menyebut nama Juumonji. 'Bhuh! Sena! Ya tuhan! Bwahahahaha..! Tampang mukamu itu lho! Astaga Sena! Bwahaha.. hahaha!' Sungguh, Suzuna ingin tertawa melihat Sena gemeteran seperti itu! Tapi ditahannya rasa tawa itu sekuat mungkin, sampai tanpa ia sadari, air matanya ikut mengalir keluar.
"Cu..cukup, Ja..jangan—," sebelum Sena selesai berbicara, Juumonji menoleh ke arahnya –yang tadinya membelakangi Sena dan menghadap Suzuna– dan segera menyelanya
"Dan kau! Kau sama saja seperti gadis menyebalkan ini!"
"Hieee?" kekagetan menyerang Sena. Namun sebelum ia mengatasi kekagetannya sendiri, Juumonji melanjutkan perkataannya lagi.
"Tidak becus ngurus klub! Jadi kapten kelembekan!"
Sena syok ditempat.
"Kau niat gak sih jadi kapten? Kalau memang tidak, lebih baik kau mengundurkan diri saja!"
JGEERR! Bagai disambar petir disiang bolong, Sena merasa sakit, dihatinya– saat itu juga. Bagaimana tidak? Kalimat Juumonji yang terakhir merupakan suatu bukti yang jelas, kalau dia tidak cocok –dan tidak bisa– menjadi seorang kapten. Karena merasa hampir semua yang dikatakan Juumonji ada benarnya, ia lebih memilih diam, mengigit bawah bibirnya, dan menunduk. Sehingga beberapa helai poni[1] menutupi matanya.
"Hei! Jangan diam saja! Jawab pertanyaanku barusan! Kau niat atau tidak? Kalau tidak, kami akan cari kapten lain yang lebih baik daripada kau!" Juumonji merasakan kesenangan tersendiri saat memarahi Sena. Sementara Suzuna? Ia merasa khawatir pada kekuatan mental Sena. Diawalnya sih, emang lucu. Tapi kalau seperti ini? Rasanya sudah berlebihan. Suzuna berpikir, kalau saja Sena itu perempuan, pasti ia sudah nangis sesegukan. 'Kurasa ini sudah berlebihan. Lebih baik sedikit kuredakan saja.' pikirnya.
"Monjii! Cukup! Kau sudah keterlaluan! Apa-apaan kau, menghinanya seperti itu!" mendengar suara Suzuna, yang diajak bicara pun menoleh. Juumonji merasa kesenangannya terganggu.
"Kau diam saja! Ini urusan sesama pria! Jangan ikut campur masalah ini!" bentaknya sambil mengacungkan tangannya ke depan muka Suzuna. Tentu saja hal ini membuat Suzuna naik darah.
"Ikut campur? Sesama pria? Apanya yang sesama pria! Kalau masalah penggantian kapten, itu urusan semua anggota! Jangan memutuskan seenaknya!" Suzuna mulai panas. Tak ingat tujuan sebelumnya.
"Kalau kubilang diam, ya diam! Suaramu itu berisik! Kau dengar itu?"
"Apa kau sendiri tidak sadar kalau suaramu itu juga memekakan telinga siapapun, hah?"
Dan begitulah. Perang antarmulut itu terus saja terjadi dan mengalir begitu saja. Bagaimana dengan Sena? Ah, silahkan saja kau tengok sendiri. Tak jauh dari mereka yang sibuk adu mulut—yang sama sekali tidak berguna—ia hanya berdiam diri, memikirkan apa yang dikatakan Juumonji. Ironis sekali, bukan?
.
.
[Tak jauh dari sana, HouseClub Deimon]
.
Terlihatlah Kuroki, Toganou, dan Monta yang sedang mengintip dari dalam houseclub. Sedangkan Komusubi, ia sedang duduk-duduk santai sambil meminum teh hijau hangat—yang baru saja dibuatkan Mizuna—di dekat penghangat ruangan.
"Hei, apa-apaan mereka? Kenapa malah terbawa emosi sendiri?" Tanya Kuroki kebingungan.
"Tidak tahu," ujar Monta. ".., dari dasarnya mereka sendiri emang emosional." Lanjutnya dengan malas.
"Haa? Bukannya semua anggota yang ada di Deimon ini memang seperti itu, ya?" Toganou melirik ke arah Monta yang sedang melihat Juumonji dan Suzuna bertengkar. Monta balas menengoknya ke arah Toganou dengan ekspresi heran.
"Mukyaa? Apa maksudmu?"
"Oi! Kita kapan keluarnya nih? Mereka terlalu lama ambil bagian deh." Kata Kuroki memotong pembicaraan Monta dan Toganou. Keduanya melirik ke arah Kuroki.
"Sekarang saja, yuk? Kayaknya mereka lupa sama tujuan awal kita yang sekarang. Gimana menurutmu?" Tanya Monta, meminta persetujuan kawan-kawannya.
"FU-FUGOO!" Komusubi yang sedaritadi diam saja memperhatikan teman-temannya berbicara, ikut andil dalam musyawarah kali ini *?*. Semua yang mendengarnya, spontan menoleh ke arah Komusubi.
"Haah? Apa yang dia katakan?" Kuroki yang tidak mengerti sama sekali, cuma bisa menggaruk kepala belakangnya.
"Nggak ngerti MAX!"
"Mungkin dia bilang, Nanti saja! Tunggu saja sebentar lagi," ujar seseorang yang memberi sedikit bantuan.
"Mukyaa? Sejak kapan kau berada disana?" Tanya Monta sambil mundur sedikit demi sedikit. Ia mengira, laki-laki yang ada didepannya ini adalah hantu atau sejenisnya. Tapi, mana ada hantu di siang bolong seperti ini? O.o
Tanpa menghiraukan pertanyaan Monta, Mizuna segera menyelanya. "Hito-kun! Kau kemana saja? Kenapa jam segini baru datang?"
"He? Diluar 'kan salju turun, jadi aku males keluar," jawab Hito tanpa ada rasa bersalah sedikitpun, yang membuat lainnya memunculkan tiga urat dikepalanya. 'Ini orang seenaknya aja!'
"Lagipula kalian rajin sekali, datang pagi-pagi sekali," imbuhnya santai.
"Lho? Kan sudah kutelpon kau semalam buat dateng pagian biar bisa bantu dekor klub," ujar Mizuna dengan ekspresi heran. "juga sudah ku SMS lho." Tambahnya.
"Huh? Apa iya? Lagian kau telpon malem-malem banget, aku kan lagi enak-enak tidur Mizu-chan," elak Hito sambil melepas jaket dan topinya sekaligus membersihkannya dari salju-salju yang menempel.
"Haaah? Sudah tidur? Jam 8 kau sudah tidur? Aku tak percaya!" teriak Mizuna tak percaya.
"Terserah kau saja lah.." balas Hito—yang kelewat santai—sambil berjalan, dan duduk di dekat Komusubi dengan santainya.
"Terus? SMS-ku? Kau nggak baca?"
"Semalem habis kau telpon, hp-ku jadi lowbat," ujarnya memberi alasan. ".., karna aku terlalu ngantuk, kubiarkan saja—biar ku-charger nanti pagi. Dan karna aku bangun kesiangan, ku-charger hp-ku dulu, baru berangkat deh. Selesai. Oh iya, boleh aku minta teh hangat yang kayak Komusubi minum? Disini dingin banget nih." Pintanya pada Mizuna tanpa menghiraukan kemarahan para anggota DDB yang lain. Tentu saja mereka merasa Hito udah seenak jidatnya—yang kalo dipikir-pikir kayak Hiruma aja—dateng telat dengan alesan gaje seperti itu =_= Karena itu mereka sedaritadi memberi Hito deathglare terbaik mereka, agar Hito sedikit mengerti keadaannya saat ini. Beruntung Hito menyadarinya.
Hito merasa kalau semua tatapan tajam dari seluruh anggota mengarah ke dirinya. Hal ini—tentu saja—membuatnya merasa jenuh dan tidak enak.
"Ada apa? Kenapa semuanya melihatku dengan tatapan seperti itu?"
"…"
"Minna?"
"…"
"Kenapa semuanya diam saja?"
"…"
"…"
"…"
"…"
"OKE! CUKUP! AKU MINTA MAAF! PU—UPH!" sebelum Hito menyelesaikan permintaan maafnya, mulutnya dibekap oleh Mizuna.
"Ssstt! Permintaan maafmu kami terima! Tapi, bisakah pelankan sedikit suaramu? Ntar Sena-kun bisa mendengar suaramu!" bisiknya ditelinga Hito. Setelah Hito mengangguk, tanda ia mengerti, Mizuna segera melepaskan tangannya dari mulut Hito.
"PUAAH! Akhirnya bisa bernafas juga.. Haaah.." ujar Hito sambil menghirup oksigen bebas sebanyak-banyaknya yang ada disekitarnya.
"Eeh? E..emangnya aku membekap mulutmu sebegitunya ya? Sampai kau tidak bisa bernafas seperti itu?" Tanya Mizuna khawatir.
"Memangnya kau tidak sadar ya, Mizu-chan?" sekarang giliran Kuroki yang bertanya pada Mizuna.
"Eeh? Ke..kenapa?"
"Tadi kau juga menutup hidungnya juga! Hahahaha! Lucu MAX! Dia sam—UPH!" kali ini, mulut Monta yang ditutup oleh 2 bersaudara Ha-Ha.
"Ssstt! Diam, baka saru!
"Mmm! Mmhm!" teriak Monta—yang tentu saja tidak bisa bicara sekaligus bernafas. Tiba-tiba dari luar houseclub terdengar suara…
PLAK! BRUK!
"Ugh.."
"Kau!" suara teriakan penuh amarah terdengar dari luar. Nada bicaranya terkesan kacau—keluar begitu saja. Sepertinya orang tersebut sangat marah sekali.
Spontan, Kuroki dan Toganou melepaskan tangannya dari mulut Monta. "Su..suara apa itu?"
Monta yang terlepas dari Kuroki dan Toganou juga keheranan. "A..ada apa ini?"
Mizuna yang paling cepat bereaksi, segera berlari ke arah jendela untuk melihat apa yang terjadi.
Tap tap tap tap!
BUAK! SRAAK!
"AGH!"
Refleks, Mizuna berhenti setelah mendengar suara erangan seseorang. Semua orang pun membeku untuk sesaat, dan menerka-nerka apa yang sedang terjadi diluar—yang pastinya tidak bagus.
"Mizu-chan! Cepat lihat apa yang terjadi diluar sana!" ujar Hito, dengan pelan tentunya.
"A..ah! Haik!" Mizuna melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda tadi. Setelah ia sampai didepan jendela, ia segera memperhatikan sekeliling luar houseclub dengan teliti—seperti yang biasa ia lakukan saat menjadi seorang manager di pertandingan. Matanya membulat lebar—terbelalak dengan apa yang ia lihat. Lebih tepatnya apa yang ia saksikan. "A..astaga.." bibirnya hanya bisa mengucapkan kata itu saja.
"A..ada apa Mizu-chan?" Tanya Hito dengan heran bercampur panik.
"Ss..sena-kun.." ujar Mizuna gemetar. Kakinya tak kuat untuk bergerak. Mungkin karena syok? Atau.. kaget?
"Ada apa dengan Sena?" kali ini Kuroki sudah tidak bisa menahan emosinya.
"Kalian lihat saja sendiri!"
Karena rasa penasaran yang amat tinggi, mereka berebutan ke jendela untuk melihat apa yang terjadi diluar. Reaksi mereka sama saja seperti Mizuna, mata mereka membulat besar dengan mulut menganga lebar.
"Astaga.."
"Kazu-chan!"
"Cukup! Aku akan membantumu Sena!" kata Monta sambil berlari ke arah pintu.
"H..hei! Tunggu dulu!" cegah Hito. "ba..bagaimana de—"
"Apa kau tidak lihat apa yang terjadi diluar, hah?" teriaknya dengan penuh amarah.
"E..eh? Ta-tapi.."
"Senaa!" teriaknya sambil membuka pintu klub dengan asal-asalan—yang dapat dipastikan memerlukan perbaikan lagi—dan mengabaikan Hito yang melarangnya keluar.
"Kazu-chaan!" teriak Kuroki dan Toganou bersamaan, mengikuti apa yang dilakukan Monta, keluar dari houseclub.
"HENTIKAN!"
.
.
.
[tsudzuku]
Hiee! Gomenne minna! DX
Gomen! Gomen! Gomen! Chap kali ini lebih pendek daripada kemaren :'(
Ada masalah yang membuat Ame nggak bisa membuat fic ini lebih panjang :(
Mana OOC nggak ilang-ilang DX
Pendeskripsian GaJe pula! Huaaa! *histeris GaJe*
Yang pastinya Ame minta maaf yang sebesar-besarnya sama minna-san! Hontou ni gomenasai minna-san! (_ _) Karena hari ini tahun baru! :D *gak nyambung* #plak
Huwokeh! Berikut keterangan yang terlampir! XD
[1] Sena-kun emang punya poni 'kan? O.O Emang sih Ame akui, cowo imut pasti punya poni! XDDD Kyaaa! Sena-kun! Riku-kun! Kyaaaa! XDDDD *dibazooka karna terlalu histeris*
At least but not last, I just can say.. Review Onegai! :D
.
.
HAPPY NEW YEAAAARR! XDDDDDD
