Looks likes this fiction hasn't been update for almost a year. ^^

Sorry before and let's start!

.

.

" Nice Present "

An Eyeshield 21 Fanfic

.

Chapter 4—Memories, Hatred, and Guiltiness

Disclaimer

Eyeshield 21 Manga&Anime © Riichiro Inagaki and Yusuke Murata

Nice Present © Tamakii Mitsukuri

Warning

OC, OOC, Semi-AU, Abal, Plot cerita yg terbang kemana2, Penggunaan bahasa resmi dgn tiba2, Type/misstype, etc.

"blablabla" = ngomong biasa


Mulai nggak 'sreg'? Silahkan klik tombol back! Saya gak paksain baca lho~! ;)


Previously :

"Cukup! Aku akan membantumu Sena!" kata Monta sambil berlari ke arah pintu.

"Kazu-chaan!" teriak Kuroki dan Toganou bersamaan, mengikuti apa yang dilakukan Monta, keluar dari houseclub.

"HENTIKAN!"


.

.

.

[Still at DHS field, 20 December 2xxx]

{Normal P.O.V}

"HENTIKAN!" teriak Monta sambil berlari keluar. Ia sendiri agak kalut dengan apa yang dilihatnya sekarang. Terlihatlah Suzuna yang tengah terduduk di lapangan yang mulai tertutupi salju sambil memegangi pipinya. Cukup jelas untuk diketahui kalau ia sehabis menangis, karena sekarang ia tengah terisak-isak pelan. Sekilas membuatnya heran dan ingin menghampirinya, tapi saat melihat Sena yang terdiam—sambil mengepalkan tangan, ia segera menghampiri Sena terlebih dahulu. Sedangkan Kuroki dan Toganou, membantu Juumonji yang tengah 'tergeletak' di lapangan.

"Cukup Sena! Hentikan! Apa yang kau lakukan?" bentaknya sambil menahan pergerakan Sena—dengan menahan pundaknya—namun Sena tetap tidak bergeming, malahan dengan penuh rasa marah, ia mengarahkan jari telunjuknya ke arah Juumonji.

"Kau..," ujarnya dingin lalu menurunkan jari telunjuknya. "Sekali lagi kau menyakitinya…" ia berhenti sebentar, menatap Juumonji dalam diam namun dengan penuh kemarahan. Diulangnya perkataannya yang tadi, "Sekali lagi, kau menyakitinya… Aku tak 'kan segan untuk mematahkan rahangmu!" ujarnya dengan penuh dengan penekanan ditiap kata.

Baik Monta, Kuroki, ataupun Toganou tertegun. Tak 'kan disangkanya Sena akan berkata demikian. Sena yang pemalu.. pendiam.. dan penurut.. berkata seperti itu pada teammatenya sendiri?

"Keh," cibir Juumonji sambil berusaha bangun yang dibantu oleh Kuroki dan Toganou. "Untuk apa kau membela gadis kurang ajar dan tak tahu diri seperti dia, eh?" ujarnya sambil mengelap sedikit darah yang keluar dari pinggir bibirnya. Mungkin rahangnya memang benar – benar Sena patahkan tadi. Atau giginya yang patah? Entahlah. Yang jelas, perkataannya barusan membuat Sena makin bertambah marah.

"Grrh…Kau..," geram Sena. Kepalan tangannya makin terlihat mengencang. Bersiap untuk menghajar seseorang yang ada didepannya sekarang juga. "DASAR BRENGSEK!"

Dengan gerakan tiba – tiba, Sena segera berlari maju untuk menghajar Juumonji. Melesat dengan cepat, sehingga Monta tak sempat lagi menahannya.

"SENA!" teriak Monta. Tapi Sena tidak memedulikannya. Sekarang yang ada dipikirannya hanya ada satu, menghajar Juumonji. Ingin sekali Sena menghajarnya sampai dia babak belur dan memaksanya meminta maaf pada Suzuna.

Tapi yang terjadi sungguh diluar pikiran Sena. Kepalan tangannya tidak mendarat di wajah Juumonji, tetapi berhasil ditangkap oleh Juumonji.

"Kau pikir hanya dengan gerakan mengecoh seperti itu kau bisa menghajarku lagi?" seringaian Juumonji tampak menyebalkan untuk Sena lihat. "Jangan harap.."

"Khh," Sena segera menjauh dari jangkauan tangan Juumonji.

"Kau mau melarikan diri, heh, Sena?" ejekan Juumonji terasa panas ditelinga Sena.

"Ini sama sekali belum selesai.." ujar Sena kembali menggeram. Monta yang segera beranjak menghampiri temannya yang pikirannya sudah kacau itu.

"Cukup Sena! Berkelahi takkan menyelesaikan apapun!" lerai Monta sekali lagi. Ditahannya lagi Sena dengan menekan bahunya.

"Lebih baik kau tidak usah ikut campur, Monta." Ditepisnya tangan Monta yang tengah menahannya. Membuat Monta kaget. Benarkah ini Sena yang dikenalnya?

"A-ada apa sebenarnya Sena? Jelaskan padaku!"

"Tak ada yang perlu kujelaskan," ujarnya dingin. "Pergilah dan jangan ganggu aku."

'Apa? Astaga, apa yang terjadi padamu, Sena?' ingin sekali Monta membentak dan menampar wajah Sena, agar temannya itu sadar. Tapi, jika ia pikir sekali lagi, itu malah akan menambah runyam suasana. Suara Juumonji yang tiba – tiba membawanya sadar kembali ke pergelutan mereka.

"Lebih baik kau mendengar ucapan temanmu yang sama brengsek dengan wanitanya, Monta." Ujarnya kasar dengan sebuah seringaian. Sena kembali menggeram. Ia menyipitkan matanya dan memandang tajam Monta, "Kecuali kalau kau memang ingin ikut babak belur."

"Apa? Apa yang sebenarnya terjadi disini? Sena! Jelaskan padaku apa yang ia maksud dengan wanita, Sena!" tuntutnya pada Sena. Namun Sena diam saja dan masih memandang Juumonji dengan dingin dan tajam. Sorot matanya dipenuhi dengan rasa kebencian.

"Ooh.. kalau kau memang mau tahu," ujar Juumonji tiba – tiba. Spontan Monta menoleh ke arahnya dengan rasa heran dan alis terangkat. ".., yang kumaksud adalah wanita jalang itu." Lanjutnya sambil menunjuk ke arah Suzuna yang tengah menangis terisak. Kekagetan menyerangnya penuh, membuat kedua alisnya naik ke atas dan langsung menoleh ke arah Suzuna. Tidak melihat Sena yang tengah bersiap kembali menghajar Juumonji dengan membabibuta.

"Maksudmu.. Suzuna?" tepat begitu mendengar kata Suzuna, Sena segera berlari dengan cepat sehingga tidak ada satupun orang yang menyadarinya, begitupun juga Juumonji yang lengah karena perhatiannya tidak lagi terpusat pada Sena.

BUAGH!

"AARGH!"

SRAAK!

Dengan sekali hantaman—yang dengan tepat mengenai pipi kirinya, Juumonji kembali terdorong jauh dari tempatnya berdiri. "BRENGSEK! Kau membuat gigiku patah!" Teriaknya penuh amarah. Kemudian, Juumonji pun meludah, yang tentu saja sudah bercampur dengan darah.

"Itu sama sekali belum cukup untuk orang brengsek sepertimu.." Sena kembali melesat, melayangkan hantaman berikutnya ke wajah Juumonji.

Namun dengan gesit, Juumonji kembali menahannya. Sena tertegun menatapnya, "Akulah yang selanjutnya," Juumonji menyeringai. "Rasakan ini!" Dengan satu gerakan cepat, Juumonji menarik tangan Sena ke atas, sehingga daerah badan Sena—yang tidak terlindungi—terlihat. Dilepaskannya tangan Sena, dan sebelum Sena menutup bagian tubuh yang tidak terlindungi olehnya, Juumonji sudah menendang bagian perutnya dengan gerakan yang sangat cepat dan jelas, bertenaga.

DUAKK!

"Aagh!"

SRAAAAAK! SRAAAK!

Sena terlempar cukup jauh dari tempat Juumonji. Nampaknya Juumonji memang benar – benar berniat untuk menghajar Sena. "Bagaimana rasanya, heh? Menyenangkan bukan?" ujarnya remeh.

"Astaga! Sena!" karena kejadian tersebut terjadi terlalu cepat, sulit bagi Monta untuk mencerna semua kejadian kalut itu dalam sesaat. Butuh beberapa detik untuk menyadarkan dirinya kalau Sena dan Juumonji benar – benar dalam masalah. Monta segera menghampiri sahabat baiknya yang sudah berubah sifatnya 180° itu. Dibantunya Sena untuk bangun, agar tidak tiduran di atas salju.

Dadanya terasa sakit, bukan hanya karena tendangan Juumonji tadi, tapi—saat terbangun tadi—ia sempat melihat Suzuna menangis. Tangisan itu tidak berhenti, malah semakin deras. Membuat hatinya mencelos—sakit, dan perih, melihat gadis yang disukainya terluka dan menangis seperti itu. Ah, ralat, ia bukan saja menyukai gadis yang selama ini tersenyum dan menyemangatinya, tapi ia mencintainya. Sangat mencintainya.

Dan hal itu lah, yang membuat Sena keras kepala dan buta. Buta akan pikiran dan hati yang jernih. Ia tidak bisa berpikir jernih saat melihat Suzuna ditampar dengan keras. Ia hanya bisa merasakan detak jantungnya berhenti, dan itu terasa sangat menyakitkan.

Dan keras kepala, itulah yang menyebabkan hal yang tidak berguna seperti ini terjadi. Sena tetap ingin menghajar Juumonji, walaupun tidak sepenuhnya kesalahan dibuat oleh pria itu. Suzuna lah sendiri yang menyebabkan dirinya terancam akibat kemarahan Juumonji. Namun Sena tidak perduli. Hanya satu alasan kuat yang Sena miliki untuk menghajar Juumonji, pria brengsek itu sudah melukai Suzuna! Itu saja.

Ia bangun dibantu oleh Monta. Dengan pelan—sambil meringis, tentu saja—ia mencoba untuk duduk tegak. Ditekannya pelan dibagian dada dengan tangannya sendiri, dan Sena kembali meringis pelan.

"Hanya segitu saja kemampuanmu, hey Sena?" teriak Juumonji—lagi—dengan nada menantang.

Sejujurnya, Monta sudah muak melihat semua kelakuan Juumonji, yang menurutnya hanya membuang waktu dan tenaga. Dan yang paling membuatnya sangat kesal, kenapa Kuroki dan Toganou yang ada disana diam saja? Tak bisakah mereka melerai atau melakukan apapun saja agar pekelahian bodoh ini berhenti?

"Bisakah kau berhenti membuat bualan kosong seperti itu, baka? Kapan kau akan berhenti melakukan hal – hal yang tidak berguna seperti ini?" bentak Monta sambil membantu Sena berdiri.

Entah kenapa saat Sena ingin berdiri, dadanya terasa sangat sakit. Seperti ada sesuatu yang ingin keluar. Sena merasa tungkai kakinya melemas dan perasaan tiba – tiba ini membuatnya kembali terduduk.

BRUK!

"Sena!" pekik Monta kaget. "Kau tidak apa?" tanyanya khawatir. Tendangan Juumonji memang sangat keras. Dan tendangan itu diarahkan tepat ke dada Sena. Daerah vital bukan, yang saat itu diincar Juumonji?

Sena tidak menjawab. Dadanya terasa perih. Tiba – tiba saja, ia merasa sangat sulit bernafas. Ia mencoba menghirup udara dingin yang ada disekitarnya, namun tetap saja sulit. Dan hal buruk terjadi begitu saja.

"Uhuk! Uhuk! Hhh.. Hhh.." darah mengalir dengan lembut, mengalir melalui bibir Sena dan membasahi lapangan yang tertutup salju itu. Semuanya terkejut kaget. Bahkan Suzuna dan Juumonji sekali pun. Namun Juumonji lebih pandai untuk menyembunyikan perasaannya. Sekarang, ia merasa sangat bersalah.

"S-sena…! Daijoubu ka, Sena?" Tanya Monta dengan sedikit membentak. Kali ini Monta sangat kalut dan kaget. Otaknya tidak dapat berpikir jernih. Sena adalah teman baiknya. Ia sangat takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Sena. 'Oh Kami-Sama… Apa yang sebenarnya terjadi disini? Seharusnya ini semua hanya candaan! Kenapa sekarang jadi begini?' Pikir Monta kacau.

"S..Se…na," bisik Suzuna tercekat. Air mata yang sedaritadi mengalir di pipinya yang membengkak akibat tamparan tadi, sudah mengering. Mata gadis dark blue membulat lebar. Ia tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Seluruh tubuhnya kaku, shock dengan apa yang terjadi. 'Sena-kun… A..aku… aku… ugh! Hontouni gomennasai, Sena-kun!' setelah berpikiran seperti itu, Suzuna langsung lari dari sana. Menjauhi keramaian yang memekakkan telinganya dan hatinya. Ia butuh tempat sendiri untuk menyalahkan dirinya sendiri.

Seluruh mata teralih ke Suzuna. Termasuk Sena. Disela-sela rasa sakit, ia masih sempat untuk mengangkat wajahnya menatap Suzuna. Matanya mengekor mengikuti gerakan yang tiap Suzuna lakukan. Sempat terlupakan rasa nyeri didada kirinya, namun rasa itu kembali menyerang dengan nikmatnya saat ia mencoba mengejar Suzuna. Dan dialiri banyak darah yang keluar, seiring ia mencoba untuk bergerak.

"Su…zu… UHUK! UHUK! UAGH!" Sena kembali memuntahkan darahnya. Sementara Suzuna terus belari. Berlari meninggalkan Sena dan yang lainnya. Lari dari kenyataan yang dibuat olehnya sendiri. Dan disebabkan oleh dirinya yang bodoh itu.

"Sena!" pekik Monta dan yang lainnya. Mizuna, Hito, dan Daikichi segera keluar dari houseclub sambil membawa kotak P3K.

'Suzu…na… matte…' dan…

BRUK!

Sena pingsan setelah ia sudah tidak kuat lagi menahan semuanya.

"Senaaa!"

.

.

.

.

[Deimon Hospital, 20 December 20xx ; 14.03.34]

Keadaan diluar gedung rumah sakit Deimon bisa dibilang cukup stabil. Namun walaupun demikian, salju turun semakin lebat. Tak banyak orang yang berkunjung ke rumah sakit dalam keadaan cuaca seperti ini. Oleh karena itu, rumah sakit Deimon sedang sepi penjenguk saat ini. Paling hanya ada suster-suster yang berlalu-lalang di koridor rumah sakit.

Saat itu, Sena tengah terjaga dari tidur lelapnya. Sekujur tubuhnya merasakan sakit ketika ia mencoba untuk bergerak dari ranjang. Setelah perjuangannya yang sia-sia—hanya untuk bangun sekalipun—akhirnya ia memutuskan untuk menyandarkan sekujur badannya sejenak sambil memejamkan mata.

Melupakan segala kebencian dan perasaan bersalah yang selalu menggeluti renung hatinya.

Dan menunggu sang kedamaian menyelimuti dirinya.

Setelah beberapa menit berlalu, Sena menyadari bahwa ruangannya terlalu sunyi. Sebelumnya ia juga tak perlu memerlukan banyak waktu untuk menyadari bahwa ruangan sekelilingnya adalah sebuah ruang inap khas rumah sakit. Ditangannya juga terdapat sebuah selang infus. Jadi Sena tahu pasti apa yang telah terjadi saat ia pingsan tadi.

"Hhh," Sena mendesah berat. Ia ingat tiap detik yang telah ia lalui sebelumnya..

'Anak tak tahu diri!'

'Diam kau wanita jalang!' Sena menggelengkan kepalanya sekeras mungkin, mengusir ingatan buruknya yang tiba-tiba datang.

'Brengsek kau!'

'Diaam!'

'Se..sena..'

'Senaaaaa!'

'Tidak.. kumohon..cukup.. berhenti…tidak..tidak kuat…'

"TIDAAK!" Sena berteriak cukup keras tanpa disadarinya. Nafasnya tersengal-sengal akibat perbuatannya tadi.

Drap drap drap drap drap!

"Kobayakawa-san! Apa yang terjadi, tuan?" beberapa suster dan dokter datang ke ruangan Sena. Pandangan khawatir dan meminta penjelasan terlihat dimata mereka.

Sena hanya diam saja dan menyandarkan kembali tubuhnya yang sempat tegang. Entah kenapa bernafas saja sangat sulit untuk ia lakukan.

"Kobayakawa-san? Harap anda mengerti, anda harus banyak istirahat dan jangan banyak bergerak terlebih dahulu," ujar si dokter menerangkan. Sebelum Sena menyahutinya, dokter itu segera menyelanya. "Ssstt! Anda juga dilarang untuk berbicara untuk beberapa saat, Kobayakawa-san. Beberapa tulang rusuk anda retak, dan hal itu juga mengakibatkan anda sulit bernafas."

Sena memutar bola matanya dengan kesal, walaupun raut wajahnya bisa dibilang no expression.

"Oleh karena itu kami meminta pengertian anda, Kobayakawa-san." timpal seorang suster sambil menyuntikkan suatu cairan ke dalam infus Sena.

"Anda akan dirawat inap di rumah sakit ini paling lama sekitar 3 hari, itupun juga tergantung dari kondisi anda." Lanjut sang dokter.

"Maka dari itu, anda tidak boleh banyak bergerak jika ingin segera keluar dari tempat ini, Kobayakawa-san." Ujar suster yang satunya lagi sambil tersenyum, seakan-akan tahu isi pikiran Sena. Sena yang mengerti maksudnya hanya tersenyum masam.

"Hai, wakarimashita." Ujar Sena lirih.

"Sou desu, baiklah, kami permisi dari tempat ini. Jika anda butuh sesuatu, anda tinggal tekan tombol tersebut." Si dokter pun menunjuk sebuah tombol berwarna merah yang berada sisi samping tiang besi kantong infus Sena. Sena yang mengerti menganggukan kepalanya dengan lemah. Setelah penjelasan tersebut, mereka permisi sekali lagi dan meninggalkan Sena seorang diri. Dengan segala ingatannya tentang Suzuna.

Setelah beberapa lama terdiam menatap salju-salju yang bertaburan—dan memutar kembali memori-memori di kepalanya—Sena melirilk jam dinding yang terletak di depannya.

"Jam 14. 28 ya?" bisik Sena pada dirinya sendiri. Ia ingat sudah berjanji akan mencari dan mengejar Suzuna saat itu, tapi kalau keadaannya seperti ini?

'Kuso!' rutuknya dalam hati. Ia harus keluar dari tempat ini sekarang juga. Hanya ia yang tahu dimana Suzuna akan pergi saat ia sedang dalam mood yang tidak seperti biasanya. Ya, karena menurut Suzuna, hanya Sena seorang dirilah yang pantas mengetahui rahasia kecil tersebut.

Sena berjanji, setelah menemui gadis itu, ia akan menghajar kembali Juumonji atas apa yang telah ia perbuat sebelumnya pada Suzuna.

"Pasti…" bisik Sena penuh kebencian.

'Suzuna-chan, wa..watashi o matte! Onegai!'

.

.

[At a beautiful lake near a forest; 14.28.45]

Suzuna tengah meringkuk di tepi danau sambil menangis. Walaupun peristiwa itu sudah lewat beberapa jam tadi, tapi baginya terasa baru terjadi beberapa menit yang lalu. Masih membekas diingatannya bagaimana dan apa yang telah terjadi pada Sena. Orang yang sebenarnya ia sayangi dari lubuk hatinya yang paling dalam. Mengingat hal itu kembali, tangis Suzuna semakin menjadi-jadi. Dikeluarkannya semua airmata yang tersisa—berharap rasa sakit didadanya berhenti.

Suzuna tahu, bukan ia yang dihajar oleh Juumonji. Juga bukan dia yang merasakan bagaimana rasanya dihajar habis-habisan. Tapi perasaan sakit saat melihat kejadian itulah yang menyebabkan dada Suzuna sesak dan berat luar biasa. Ia memang bodoh, ia yang menyebabkan semua ini terjadi, ia yang dengan bodohnya menyinggung perasaan orang, dan menyebabkan Sena—

"Eeghh… khh… hiks… Se…hiks…na…"

Tiap kali mengingat apa yang terjadi pada Sena, dadanya terasa sesak, air matanya tak mau berhenti mengalir, walaupun sudah berjam-jam ia menangis. Ia ingat ditepi danau ini, kenangan-kenangan manis bersama Sena… Walaupun hanya sekedar mengobrol dan tertawa bersama, namun kenangan itulah yang amat berharga bagi Suzuna. Ia ingat apa yang dikatakan Sena saat kesekian kalinya mereka pergi ketempat indah ini, yang mampu membuat debaran jantung Suzuna berdegup tiga kali lebih cepat dari biasanya…

Flashback…

"Kau tahu sesuatu, Suzu?" ujar Sena pelan sambil menatap pendaran cahaya matahari yang tengah terbenam dari air danau sambil tersenyum. Perlahan arah pandangannya mengarah ke gadis manis yang tengah menatapnya dengan senyuman yang sama.

"Apa itu, Sena?" tanyanya sambil melangkah maju ke depan untuk bermain dengan air ditepi danau tersebut. Sena yang melihatnya hanya tertawa pelan. Matanya memandang gadis yang sedang asyik tertawa—sambil bermain air—tersebut dengan lekat. Mengagumi keindahan tuhan yang terlihat jelas didepan matanya. Ia bisa merasakan hatinya membuat komitmen yang kuat yang ia bersumpah tak pernah ia ingkari.

"Aku…" Sena berhenti sejenak dari kegiatan melamunnya, lalu menatap langsung mata si gadis yang tiba-tiba berhenti bermain.

"Ya, Sena?" tanya Suzuna sambil memasang senyum manisnya pada Sena. Sena yang pipinya terlanjur memerah karena diberi senyuman semanis itu, mengalihkan pandangannya pada sang surya yang mulai bersembunyi.

"A…aku berjanji akan melindungimu, Suzu… Aku janji."

Deg deg deg!

Suzuna tertegun. Ia bisa merasakan degup jantungnya terasa berdebar-debar. Walaupun kata-kata barusan terkesan picisan dan dramatis sekali, namun tak bisa dipungkiri kata-kata itu sanggup membuat jantung Suzuna berdebar lebih keras dan membuat darah disekujur tubuhnya mengalir dengan cepat ke pipinya yang mungil.

Suzuna yang merasa situasi yang tadinya damai menjadi kaku dan kikuk seperti ini memutuskan untuk mengembalikan keadaan seperti semula.

"A…ahaha…hahahahaha! Sena lucu ya?"

"Hiee?"

"Hahahahaha! Wajahmu lucu sekali, Sena! Haha…hahaha!"

"Hiee? Ehehe…hehehehe… Sebenarnya aku bingung, Suzu?" raut wajah Sena yang kebingungan makin mengundang gelak tawa dari Suzuna.

"WAHAHAHAHAHA!"

"Hieee! Suzunaa! Sore o tomete, kudasaaaii!"

"Ti…tidak bisa, Sena! Mwahahahahaha!"

"Hieeee?"

.

.

Back to the realty…

Suzuna menekan dadanya dengan keras dan kencang, mencoba menghilangkan rasa sakit yang sedaritadi tak mau meninggalkannya. Kepalanya yang terasa semakin lama semakin pening, membuat penglihatan semakin kabur. Ditambah lagi air matanya yang terus mengalir menyebabkan matanya membengkak.

Tubuhnya mengalami mati rasa sekarang. Cuaca keadaan yang dingin di kota tempat danau kecil ini berada cukup berbeda dengan cuaca di kota Deimon. Suasana dingin dikota ini lebih menusuk dibandingkan disana. Namun Suzuna tidak peduli. Kalau dengan cara ini rasa sakit dihatinya itu menghilang, ia akan dengan senang hati melakukannya.

Sesaat sebelum tubuhnya tumbang, ia sempat mendengar dan merasakan suara derapan langkah kaki mendekat.

"Suzu…naaa…!"

Mungkin senyum ini untuk terakhir kalinya bagi Suzuna.

"Se…na…?" lirih Suzuna pelan sebelum akhirnya…

BRUUK!

Suzuna tertidur indah dalam lautan salju yang meninggalkannya dengan kenangannya bersama sang tersayang.

.

.

.


Yap, saya update, setelah sekian lama tak update. Kali ini tak ada proof-read, jadi maaf bila ceritanya banyak type dan kurang dimengerti.

Happy Birthday, Sena dear :) *nggak apa telat kan?*

Love you always, even though I already dating with Tsuna-kun :/) *blush

Bye, makasih bagi yang udah ninggalin review sebelumnya ^^

Akii-chan—ganti nama lagi—out from here!