Title: I'm Here For You

Cast: PaGa dan BuPan (?)

Summary: Ketika melihat manik matanya, aku hanya dapat melihat kekosongan disana. Kemana kebahagiaan dan pancaran semangat yang harusnya ada? Ia juga begitu dingin dan datar. Membuatku… ingin menaklukannya. Bad Summary. KrisTao/TaoRis. BL. DLDR.

Warning: Judul tidak sesuai dengan cerita. Typo(s). OOC (maybe).

Disclaimer: Semua cast disini merupakan milik Tuhan. Saya cuma minjem nama mereka buat dijadiin cast di fic saya ini~

A/N: Maafkan keteledoran saya di chap kemarinn x_x jujur, Nana sama sekali ga inget kalo udah ada 'Kim Minseok' di chap sebelum-nya. Huahuaha .-.v Dan akhirnya, Nana mutusin buat ganti nama kakak Tao jadi 'Park Chanyeol' okay? Jadi Chanyeol gitu yang jadi kakak-nya Tao ahaha '-')b Sekali lagi maafin Nana, ne? *deepbow*

-0-

Fajar telah menyingsing. Dan berarti, itu saatnya Tao untuk bangun. Benar saja, mata namja itu perlahan terbuka.

Tao merasakan sesuatu menimpa tangan kiri-nya. Dan ketika ia menoleh. Ia terkejut ketika melihat dokter yang menanganinya, Kris, yang kini tengah tertidur di lengan kiri Tao.

Tao ingin sekali membangunkan Kris agar ia segera mengangkat kepalanya yang cukup berat dari lengan kirinya. Tapi, Tao tetap menahan hasratnya itu. Ia tidak ingin menunjukan perkembangan apapun di hadapan Kris.

Dan akhirnya, terdengar suara menguap dari Kris. Dokter tampan itu membuka matanya pelan dan dapat melihat bahwa pasien yang ditangani-nya itu sudah bangun.

"Wah, kau sudah bangun, ne? Baguslah," kata Kris senang "Ah, maaf kalau aku menyakiti tangan-mu. Aku tadi malam sedang mengecek keadaan-mu dan tanpa sadar tertidur. Mianhae, ne?"

Seperti yang Kris duga sebelum-nya, tidak ada balasan apa-pun dari Tao. Namja itu sudah melakukan hal yang biasa ia lakukan. Menatap ke luar jendela. Membuat Kris menghela nafas.

"Hhh, baiklah. Aku akan pulang dulu. Setelah itu aku ke sini lagi. Bye, Tao."

Kris berdiri dari duduk-nya dan berjalan keluar dari ruangan Tao. Ia menengok sebentar, ingin melihat apakah Tao bereaksi terhadap perkataannya, tapi ternyata tidak. Aish…

Ketika Kris keluar dari ruangan Tao, ia menaikkan alisnya ketika melihat seseorang yang sedang mengintip ke dalam ruangan yang ditempati oleh namja bermata panda itu. Orang itu menatap Tao dengan pandangan intens. Membuat Kris sedikit curiga. Kris tidak menyadari kehadiran orang itu sebelum-nya, karena, yah, ia tidak fokus ketika di dalam tadi.

"Permisi," Kris menyapa orang itu "Kau… salah satu keluarga Tao?"

"Eh?" Namja itu menolehkan kepala kearah Kris. Ketika Kris melihatnya, entah kenapa terasa familiar. Tapi, Kris lupa "A-Ah, ti-tidak. Aku hanya, aku hanya sedang ingin mengetahui tentang bagaimana alat-alat kedokteran di sini. Itu saja!"

"Dan kau memilih untuk melihat ke dalam ruangan pasien yang mengalami depresi itu, eum?" tanya Kris "Seharusnya kau melihat ke-dalam ruangan pasien yang menderita koma atau semacam-nya."

"Eh? Tao depresi?" Namja itu terlihat sangat kaget "A-Aigo…"

"Kau mengetahui nama-nya?" Kini Kris merasa sangat curiga pada orang di hadapannya itu. Kelakuannya benar-benar aneh.

"Te-Tentu saja! Aku sempat bertanya pada perawat yang tadi lewat," kata namja itu gugup "Umm, sudah, ne? Aku, aku harus pergi."

Namja itu langsung berlari pergi dari hadapan Kris. Kris yang sebenarnya ingin menanyai namja itu, menggeram kesal.

"Ck. Sebenarnya namja itu siapa, sih? Kenapa rasa-nya aku pernah melihatnya? Tapi… dimana?"

Kris sekarang merutuki ingatannya yang buruk. Padahal rasa-nya ia baru saja kemarin melihat namja itu, tapi sekarang sudah lupa. Ingatannya benar-benar buruk.

"Haish, sudahlah. Aku pulang saja."

-0-

Kai tengah terdiam di ruangannya. Ia terlihat sedang menekuni beberapa lembar kertas yang tersaji di hadapannya. Raut wajah-nya terlihat sangat serius.

"Park Chanyeol… Huang Chanyeol… kau sebenar-nya dimana?"

Kai menghela nafas. Sudah sejak beberapa jam yang lalu ia menekuni kertas-kertas ini, tapi tetap tidak menemukan petunjuk apapun. Bahkan alamat-nya di Amerika saja tidak ada. Bagaimana cara ia mencari namja bernama Park Chanyeol itu? Benar-benar menyebalkan.

Kai heran, kenapa ia bisa begitu peduli pada pasien bermata panda itu? Padahal, ia bukan termasuk orang yang perhatian. Ia bahkan tidak peduli sama sekali pada pasien yang kehilangan seluruh keluarga-nya dan kasus-kasus lain. Tapi ini? Begitu melihat mata namja itu, Kai seolah ter-hipnotis oleh mata panda itu.

"Haish. Namja bernama Park Chanyeol ini benar-benar menyebalkan."

Kai menguap sesaat, ia benar-benar mengantuk. Ia belum tidur dari tadi malam dan terus berkutat dengan seluruh data mengenai Park Chanyeol. Bahkan ia belum makan sama sekali.

"Lebih baik aku tidur dulu," gumam Kai. Ia bangkit dari kursi-nya "Ahh, aku benar-benar mengantuk."

Kai melangkahkan kaki-nya ke sofa panjang yang tersedia dan membaringkan tubuh disitu. Ia berharap tidak ada yang mengganggunya, karena ia sangat mengantuk. Sungguh.

Tok Tok Tok

Kai memutar bola mata-nya malas. Benar kan? Baru ia berfikir agar tidak diganggu, ini malah datang gangguan. Menyebalkan.

"Masuk!" teriak Kai serak

CKLEK

Pintu terbuka dan muncul-lah sosok Do Kyungsoo, seorang koki rumah sakit yang sudah Kai kenal sejak ia masih kecil. Kyungsoo, begitulah Kai memanggilnya. Bahkan kadang-kadang Kyungie, kalau Kai sedang dalam mode manja-nya. Kyungsoo juga merupakan dokter kedua yang merawat Tao, menggantikan Kai.

"Ah, Kai. Maafkan aku kalau aku mengganggu waktu istirahat-mu," kata Kyungsoo begitu melihat Kai yang tengah berbaring "Aku harus mengatakan sesuatu, tadi Kris menyuruh-ku memberitahu-nya pada-mu. Ini sesuatu tentang pasien bernama Huang Zi Tao."

Kai langsung bangkit dari tidur-nya, ia menatap Kyungsoo penasaran. Membuat Kyungsoo merasa sedih ketika melihat respon Kai yang sangat cepat ketika mendengar nama Tao.

"Ada apa, Kyung? Apa yang terjadi pada-nya?" tanya Kai khawatir

"I-Ia baik-baik saja," kata Kyungsoo "Hanya saja… kata Kris tadi ada seorang namja yang cukup tinggi tengah memandang ke dalam ruangan Tao. Ia memandang Tao dengan intens, kata-nya. Dan sepertinya, namja itu mengenal Tao. Tapi ia tak mau mengakui-nya. Kata Kris, gelagat-nya sangat aneh."

"Namja tinggi?" Kai menaikkan alisnya. Ia memutar otak-nya. Rasa-nya familiar "Namja tinggi? Apakah rambut-nya ikal?"

"Entahlah. Kris tidak memberitahu-nya," kata Kyungsoo "Kai… kau begitu peduli dengan Tao, ya?"

Kyungsoo mengatakan kalimat terakhir dengan sangat pelan, sehingga Kai tidak mendengarnya. Bahkan mungkin kalau Kai mendengarnya, ia tidak akan menggubrisnya. Begitu pikir Kyungsoo. Kai terlalu peduli dengan Tao.

"Eumm, baiklah. Terimakasih atas informasi-nya, Kyungsoo," kata Kai sambil tersenyum hangat "Sudah sana, kembali ke ruang kerja-mu. Aku mau istirahat."

"E-Eum. Baiklah, maaf telah mengganggu istirahat-mu, Kai."

Tidak ada balasan dari Kai. Membuat Kyungsoo cukup sedih. Kai memang begitu. Ia memang dingin pada setiap orang, kecuali beberapa orang yang ia kenal sangat dekat. Tapi… ah. Sudahlah, lupakan.

'Kai… aku, aku menyayangi-mu.'

-0-

"Kris, kenapa kau baru pulang?"

Kris menghela nafas malas begitu mendengar suara itu. Suara seseorang yang terus mengganggu-nya.

"Bukan urusan-mu, Lay."

"Bukan urusan-ku bagaimana? Ayolah, Kris. Kau kan-,"

"Kau siapa, hah? Kau siapa?" tanya Kris kesal "Sudahlah. Aku lelah, okay? Aku ingin beristirahat. Dan aku harus kembali ke rumah sakit jam 11 nanti. Jadi, tolong jangan ganggu aku, okay?"

Kris memasuki apartemennya dan meninggalkan Lay seorang diri di luar sana. Jujur saja, Kris sudah sangat muak dengan segala perlakuan Lay yang terlihat terlalu mengikat-nya. Mungkin dulu Kris memang, emm, menyukai Lay. Tapi rasa itu sirna ketika mengetahui bahwa Lay ternyata sudah memiliki kekasih. Dan, yah, entah kenapa sekarang Lay malah terus berada di dekatnya.

Lay adalah, yah, teman Kris dari kecil. Mereka berdua dulu sangat dekat, seperti perangko dengan lem. Tapi, entah sejak kapan, mungkin sejak Kris menyatakan perasaannya, hubungan mereka menjadi renggang. Bahkan dulu, selama beberapa bulan, Kris dan Lay tidak pernah berbicara satu sama lain dan terus berjauhan. Tapi, entah kenapa, tiba-tiba saja Lay kembali ke kehidupannya.

Kris menghela nafas kasar. Ia membaringkan diri-nya di kasurnya yang nyaman. Ia merasa sangat lelah. Sekujur tubuhnya pegal-pegal. Mungkin efek tidur dengan posisi yang tidak terlalu mengenakkan itu. Mungkin.

Kris lalu teringat dengan namja yang ia lihat di depan ruangan Tao itu. Kris masih berusaha mengingat-ingat tentang siapa namja itu, tapi sungguh, ia benar-benar lupa. Salahkan saja otaknya yang tidak bisa mengingat hal sepenting itu.

'Siapa dia? Siapa…?' fikir Kris

Kris terus memotar otaknya, tapi, bahkan ketika ia hampir tertidur, tidak ada satu nama-pun mampir di otaknya. Tapi, tiba-tiba saja…

'Park Chanyeol?'

Dan setelah itu Kris terlelap.

-0-

Seorang namja terlihat membuka pintu ruangan Tao dengan pelan, namja itu terlihat sedang berusaha untuk tidak menimbulkan suara apapun. Ia dapat melihat Tao tetap bergeming, tidak mengacuhkan diri-nya yang membuka pintu ruangan. Dan karena-nya, ia berjalan perlahan mendekati ranjang Tao.

"Panda…," gumam namja itu "Annyeong, aku sudah kembali."

Tao tetap bergeming. Ia tidak menolehkan wajahnya kearah namja yang saat itu tengah menggerakan tangannya perlahan untuk menyentuh rambut halus milik pemuda panda itu. Ketika tangan itu sudah menyentuh rambut halus milik Tao, Tao tetap tak bergeming. Seakan tidak terganggu sama sekali dengan kehadiran namja tinggi itu.

"Tao…," namja itu bergumam miris "Kenapa kau berubah seperti ini, eum? Kenapa? Mana panda yang dulu selalu ceria dan selalu merengek manja, eumm? Kenapa kau jadi diam seperti ini?"

"Maafkan aku, Tao. Maafkan aku," lanjut namja itu "Aku tau aku pengecut. Aku lari begitu saja karena tak kuat dengan keadaan yang ada. Maafkan aku, Tao. Maaf. Aku tau aku seharusnya tak meninggalkan-mu sendirian. Aku tau aku seharus-nya menemani-mu selalu. Maafkan aku, Tao."

"Tao, aku mohon. Jangan diam seperti ini," namja itu menatap Tao dengan pandangan sedih "Aku mohon. Aku tak kuat melihat-mu seperti ini."

"Bukankah kau yang membuat-ku seperti ini?"

Ketika kalimat itu meluncur dari mulut Tao, si namja bertubuh tinggi itu langsung membalikan badan Tao sehingga pemuda panda itu menatap kearahnya. Tidak ada ekspresi yang berarti, memang. Hanya saja… entah bagaimana cara-nya, namja tinggi itu dapat melihat kesedihan yang terpancar di sana.

"Tao, Tao. Maafkan hyung, ne?"

Namja tinggi itu merengkuh Tao ke dalam pelukannya. Jujur, ia sangat merindukan tubuh rapuh milik namja ini. Tubuh rapuh yang membuatnya selalu ingin melindungi Tao, bahkan ia berjanji kalau ia akan selalu berada di samping Tao dan melindungi-nya. Tapi… ia malah mengingkari janji itu dengan mudah-nya.

Namja itu menggumamkan kata maaf berulangkali, walaupun tidak ada balasan sama sekali dari Tao. Tao bahkan tidak membalas pelukan yang diberikan oleh namja tinggi itu. Ia hanya diam. Pandangannya kosong.

"Aku, aku tau aku bodoh karena aku meninggalkan-mu," kata namja itu pelan "Aku tau aku makhluk brengsek karena mengingkari janji-ku dengan mudah-nya. Aku tau itu. Aku tau tidak mudah untuk memaafkan-ku."

"Kenapa kau kembali? Aku sudah berhasil melupakan-mu."

Tao mengatakan hal itu dengan mudah-nya, seolah tak ada beban sama sekali. Hanya saja, suara-nya ketika mengatakan itu serak dan sangat pelan. Mungkin karena diri-nya sudah lama tak berbicara.

Namja tinggi itu benar-benar tak menduga Tao akan mengatakan hal seperti itu pada-nya. Melupakannya? Benarkah Tao telah melupakannya? Semudah itu-kah? Padahal… sejak dulu ia tak pernah melupakan Tao. Bahkan ketika ia tidur, ia selalu memimpikan sosok namja bermata panda itu.

"Kau benar-benar sudah melupakan-ku?" tanya namja tinggi itu "Semudah itu-kah? Kau melupakan-ku dengan mudahnya?"

Tao hanya diam. Ia tidak berniat sama sekali untuk membalas perkataan dari namja yang tengah memeluknya ini. Tao tau betul siapa namja ini. Ia bahkan sangat mengenali-nya. Namja ini adalah orang yang menyebabkan Tao sempat… down untuk beberapa bulan.

Namja ini adalah… seseorang yang sangat berarti untuk Tao, dulu. Bahkan mungkin sampai sekarang masih. Tapi… sosok ini telah berusaha Tao hapus dari fikirannya. Dan ketika berhasil, namja ini malah kembali dengan mudah-nya.

"Tao…"

"Tao-nie! Eh, ups."

Namja itu langsung menoleh kearah pintu yang terbuka lebar. Sedangkan Tao, seperti kebiasaannya, ia hanya diam, tidak menunjukan pergerakan apapun.

"A-Ah, ma-maaf, aku mengganggu, ya?" tanya namja yang barusan membuka pintu itu "A-Aku mau mengantarkan sarapan untuk Tao. Luhan hyung yang biasa mengantarkannya tidak bisa. Jadi, aku menggantikannya."

"Kau siapa?"

"Aku? Aku salah satu perawat disini. Nama-ku Byun Baekhyun," kata namja kecil itu, Baekhyun "Emm, lebih baik aku menaruh makanan-nya."

"Umm, sini, berikan saja pada-ku," kata namja tinggi itu canggung "Akan aku berikan pada Tao."

Baekhyun menatap namja tinggi di hadapannya heran. Siapa orang ini? Kenapa ia seperti mengenal Tao dengan baik? Baekhyun benar-benar heran, sekaligus penasaran. Ia benar-benar ingin tau apa hubungan namja tinggi ini dengan Tao. Bahkan namja tinggi ini tadi memeluk Tao! Catat itu. Memeluk Tao!

"Kau siapa?" tanya Baekhyun sambil memiringkan kepala-nya "Aku tidak pernah melihat-mu sebelumnya. Lagipula… tidak ada yang pernah mengunjungi Tao sebelum-nya."

"Aku? Aku saudara Tao. Nama-ku Park Chanyeol."

-TBC-

Jangan protes karena kependekan. Saya tau ini sangat pendek huaa T-T mianhae, ne? Aku ngebut ngerjainnya orz. Maaf, ya? Maaf banget *deepbow*

Thanks To: kim hyobin, Guest, Hanny TaoRis EXOtic, kwonlee1812, onix hangel, meyy-chaan, ajib4ff, vickykezia23, imroooatus, Shin Min Hwa, ICE14, wonkyuhomintaoris all, Shin SungGi, Brigitta Bukan Brigittiw, paprikapumpkin, aniyoong, Jin Ki Tao. Gomawo ne udah review :D Mianhae ga bisa bales review kalian *deepbow*

Last, mind to review?