Differences

Disclaimer: I wish I was Kubo Tite, seriously. . .

Title: Differences

Subtitle: Smoker

Warning: Diskripsi minim bin payah, AU, typo(s), extremely OoC, die hard IchiRuki fic!

Special Warning! Cerita ini BUKAN untuk IchiHime shippers! Jika Anda salah satu dari mereka, lebih baik TEKAN TOMBOL BACK! Saya tidak mau ada yang sakit hati setelah membaca imajinasi paling liar saya ini. . . Terima Kasih ^_^


ICHIHIME SHIPPER, CLICK BACK IMMEDIATELY

»«

.

«»
.

Hari Minggu yang cerah, di pertengahan musim semi. Bunga-bunga sakura tengah bermekaran di setiap sisi jalanan. Menyemarakkan keindahan musim yang paling ditunggu di Jepang.

Seorang gadis cantik nan seksi nampak terburu-buru berjalan menuju taman kota. Gaun merah marun selutut yang dikenakannya ikut menari mengiringi langkah cepat yang diambil. Rambutnya yang cerah bergelombang terurai indah sampai ke punggung. Tak lupa hiasan rambut berwarna biru di sisi kepalanya, menambah pesona yang ia tampilkan.

Tinggal satu belokan lagi sebelum ia sampai di tempat tujuan. Namun gadis tersebut tiba-tiba berhenti di depan sebuah kaca toko yang sangat besar dan memantulkan bayangan wajah cantiknya dengan jelas. Sejenak ia memperhatikan penampilannya. Kurang sempurna! Ini adalah kencan pertamanya, dan lihatlah rambut indahnya sedikit berantakan akibat ulah angin nakal. Tangannya kemudian merogoh tas tangan yang selalu dibawa kemana-mana. Menemukan benda yang dicarinya, ia lalu menggunakannya untuk merapikan mahkota oranye kecokelatan kebanggaannya. Selesai, ia kemudian mengganti senjatanya dengan bedak, dan lipgloss berwarna merah jambu. Nah, sekarang sudah sempurna! Tinggal memasang wajah cantik saat bertemu dengan pria pujaannya.

Dilihatnya pemuda berambut oren terang duduk membelakangi dirinya. Dengan jahil, mengendap-endap menghampiri. Tangannya ia gunakan untuk menutup mata pria di depannya. "Tebak siapa aku..." gadis itu berbisik tepat di telinga kanan sang pemuda.

"Tentu saja aku tahu kalau ini dirimu, Inoue."

Inoue kemudian melepaskan tangannya dan memasang wajah cemberut, "Mou Kurosaki-kun, setidaknya kau kan bisa berpura-pura tidak mengenaliku," gadis itu pun mengambil duduk di samping Kurosaki-kun. Dilihatnya tangan kiri sang kekasih memegang benda panjang nan silinder yang mengepulkan asap dan sudah tidak asing baginya di antara jari telunjuk dan jari tengahnya.

"Uum, Kurosaki-kun sejak kapan kau merokok?" tanya Inoue sambil menunjuk rokok di tangan Ichigo.

Ichigo menghisap rokoknya sebelum menjawab pertanyaan sang kekasih, "Entahlah. Mungkin sejak ibuku meninggal," pria itu memandang kekasihnya yang sepertinya tidak begitu senang jika ia seorang perokok. "Memangnya kenapa? Apa kau tidak suka?" tanya Ichigo lembut.

Inoue menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Ti-tidak! Bukan begitu Kurosaki-kun!"

"Tidak apa-apa Inoue, bila kau tidak menyukaiku merokok, katakan saja dan aku akan mencoba berhenti."

"Tidak! Aku akan selalu mendukung setiap keputusanmu. Apapun itu. Jika itu bisa membuatmu senang, aku juga akan ikut senang!" ucap Inoue terburu-buru.

Kurosaki Ichigo tersenyum mendengar ucapan gadis itu. Mereka berdua bertemu lewat sosial media beberapa bulan yang lalu. Kemudian memutuskan untuk bertemu seminggu kemarin dan saat itu juga kedua insan beda jenis tersebut menjadi sepasang kekasih.

Inoue sangat senang bisa berpacaran dengan Ichigo. Pemuda itu merupakan pacar pertama baginya. Sejak saat itulah ia mulai mengagumi Ichigo, seolah ia adalah pangeran berkuda putih yang dikirim untuknya, seperti dalam dongeng-dongeng yang sering dibacanya semenjak kecil. Sang putri bertemu dengan sang pangeran, dan mereka akan hidup bahagia selamanya.

"Benarkah? Apapun keputusanku tanpa menanyakan alasan atau pun memberikan saran yang lain?" ujar Ichigo serius.

Gadis cantik tersebut terdiam sejenak mencerna maksud dari pertanyaan Ichigo, "Iya, kupikir aku akan mempercayai seluruh keputusan yang kau buat. Bukankah kepercayaan pada pasangan adalah salah satu pondasi paling kuat untuk keharmonisan sebuah hubungan?"

"Itu benar. Tapi apa tidak masalah jika keputusan yang kubuat nanti merugikanmu atau mungkin membuatmu bersedih?"

Inoue kembali menggeleng kuat-kuat, "Aku percaya padamu Kurosaki-kun. Dan aku yakin kau tidak akan melakukan hal yang bisa membuatku bersedih," tutup Inoue Orihime tersenyum.

"Baiklah kalau begitu," Ichigo merenggangkan tangannya ke atas. "Nah sekarang, ayo kita pergi."

Akhirnya pasangan kekasih itupun pergi. Meninggalkan taman yang dipenuhi bunga sakura yang berguguran. Meninggalkan asap rokok yang dihembuskan Ichigo.

Tangan mereka tidak terkait satu sama lain layaknya seperti pada orang kencan biasanya. Karena sebelah tangan Ichigo ia masukkan ke dalam saku jaket supaya terlihat keren dan yang lainnya sibuk menggengam batangan salah satu penyebab kanker, gangguan jantung, dan yang paling penting bagi seorang pria, dapat menyebabkan impoten.

Tapi bukankah seperti yang Inoue Orihime bilang tadi, ia akan meyerahkan apapun keputusan di tangan Ichigo. Meskipun nanti akan membuatnya sedih dan sakit hati.

.

.

.

.

Admiration is the emotion furthest from the understanding. . .

.

.

.

.

Hembusan angin yang hangat menerbangkan beberapa helai rambut hitam seorang gadis yang tengah duduk di bangku panjang dekat air mancur taman kota. Tangan kanannya sibuk membalik buku yang dibawanya. Sesekali ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, sekadar tahu apa orang yang akan bertemu dengannya sudah datang. melihat belum ada pertanda kedatangannya, ia kemudian melanjutkan membacanya.

Beberapa menit kemudian seorang pemuda berambut seterang mentari menghampiri sang gadis. "Maaf aku terlambat datang Rukia," ucapnya begitu sampai di depan gadis tadi.

Rukia mengangguk dan tersenyum, "Tidak, kau tidak terlambat Ichigo. Aku saja yang datang terlalu cepat, mengingat aku sedikit tidak suka jika aku yang ditunggu."

Ichigo lalu mendudukan pantatnya di dekat Rukia. Sejurus kemudian ia merogoh kantong jaket miliknya dan mengeluarkan sebungkus cigaret berwarna hitam dan mulai mulai menyalakan dan menghisapnya.

Rukia terpana melihatnya. Memang mereka baru bertemu beberapa hari yang lalu saat perayaan ulang tahun sang ibunda. Dan ternyata itu merupakan perjodohan dari kedua belah keluarga. Ia dan Ichigo tidak menolak ataupun menyetujui rencana orang tua mereka, tapi tidak ada yang akan di penjara jika mencobanya, bukan?

"Sejak kapan kau mulai merokok Ichigo?" tanya Rukia datar.

"Huh? Oh, mungkin sejak teman-temanku memberiku rokok saat aku SMP," ucap pemuda itu sambil terus menghisap nikotin di tangan kanannya. "Aku mulai ketagihan sejak itu. Kurasa dengan merokok bisa membuatku sedikit rileks dan nyaman."

Gadis beriris ungu menghela napas panjang sebelum bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.

"Hei, kau mau kemana Rukia?" tanya Ichigo melihat gadis di sampingnya meninggalkannya.

Rukia membalikkan badannya, "Kau tunggu saja sebentar, dan jaga bukuku baik-baik. Aku akan segera kembali."

Ichigo memandang buku yang ditinggalkan Rukia di bangku.

'Bleach' ucapnya dalam hati. 'Heh, judul yang aneh. Mana ada yang mau membaca novel yang judulnya saja sama seperti merk pemutih pakaian!'

Setelah beberapa saat kemudian Rukia kembali dengan sekantung barang bawaan di tangan.

"Kau meninggalkanku sendirian di sini hanya untuk berbelanja?" Ichigo tak percaya jika Rukia lebih mementingkan belanja daripada dirinya di hari pertama mereka berkencan.

"Bukan untukku bodoh! Tapi ini untukmu," gadis itu menyerahkan kantung berwarna putih pada Ichigo.

Pemuda itu segera melihat isinya, "Apa ini? Berbagai macam permen dan permen karet mint?"

"Aku tidak akan memaksamu untuk berhenti merokok Ichigo, tapi setidaknya cobalah untuk sedikit menguranginya. Aku sangat yakin kalau kau tahu akibat dari nikotin itu. Tidak hanya dirimu, tapi juga orang-orang yang ada di sekitarmu juga mendapat dampak negatif dari asap rokok itu, bahkan bisa jauh lebih parah terkena imbasnya.

Jika kau merasa ingin menghisap rokok, coba ganti dengan memakan permen-permen ini. Kurasa itu akan membantu mengalihkan dari rasa gatalmu."

Ichigo memandang takjub gadis di sampingnya. Para kekasihnya terdahulu tidak pernah ada yang melarangnya untuk merokok. Mereka malah beranggapan jika pemuda yang menghisap tembakau itu sangat keren dan gaul. Menjadikan Ichigo sangat bangga kalau ia adalah salah satu perokok. Tapi tidak dengan gadis mungil ini, dia sangat berbeda dengan yang lain...

"Baiklah, aku... aku akan mencobanya."

Rukia tersenyum mendengar ucapan Ichigo, "Kau jangan melakukannya untukku Ichi, lakukanlah untuk dirimu sendiri. Aku tidak mau kau terpaksa, dan kembali merokok jika aku tidak ada di hadapanmu."

Ichigo membuang nikotin yang masih setengahnya di tempat sampah khusus. "Aku ikhlas melakukannya. Mungkin karena selama ini tidak ada yang menegurku untuk berhenti merokok, maka kupikir semua akan baik-baik saja."

Ichigo mulai membuka sekotak permen karet mint rasa strawberry. "Tidak buruk juga, apa kau mau?"

Rukia menerima sebungkus yang disodorkan si pemuda. "Umh, rasa anggur."

"Terima kasih Rukia, mungkin tanpamu aku tidak akan berumur lebih dari 50 tahun karena mati terkena serangan jantung atau kanker paru-paru," ujar Ichigo. "Dan yang paling penting tidak terkena impoten dan tidak bisa memuaskanmu nanti~"

Wajah putih pucat Rukia berubah merah seketika mendengar ucapan Ichigo. "Bo-bodoh! Kita belum tentu menikah!"

Kikikan geli Ichigo membuat gadis mungil mengayunkan tangannya ke kepala oren kebanggaannya.

"Ouch, sakit!" si korban mengusap-usap belakang kepalanya yang terasa nyeri. "Tapi aku sangat membutuhkanmu Rukia~. Bahkan aku sudah menemukan nama untuk anak pertama kita, Ichiru, gabungan dari nama kita berdua, bagaimana? Bagus bukan?"

Pertengkaran kecil dan menggemaskan itu masih terus berlanjut. Mengundang beberapa orang melihatnya dengan tatapan aneh. Kencan pertama yang seharusnya mereka isi dengan pujian dan kata-kata cinta, kini berubah menjadi cibiran, godaan dan tentu saja pukulan sayang dari Rukia. Tapi itu semua lebih dari cukup untuk saling mengenal karakter pasangan. Jika tidak suka, tinggal katakan saja. Memberi solusi dari masalah yang dihadapi jauh lebih baik daripada diam saja dan terus berpura-pura mendukung jalan yang salah. Dan tentu saja membuat menyesal sekaligus sakit hati suatu hari nanti...

.

.

.

.

.

.

.

.

.

» SELESAI «


A/N: An epic fail. . . . oh well.

Aku lupa bilang di chapter kamarin, kalo Inoue di manga bener-bener berharap pengen menjadi hujan, entah di chapter berapa aku lupa, hehehe. Dan mungkin ini salah satu hint jika IchiHime sudah masuk ke dalam 'kotak', secara Ichigo membenci hujan =D

Daaaan untuk chapter kali ini rasanya kurang puas, maaf jika membosankan dan membuat mata sakit T.T

Untuk solusi Rukia ke Ichigo berasal dari pengalaman pribadi, hehehh. Memang susah, tapi kalo serius usahanya pasti berhasil. Eh, bukan aku yang merokok! Tapi seseorang, :D

Special thanks to: uzumaki. kuchiki, Chappy ruki, Keiko Eni Naomi, krabby paty, hendrik. widyawati, SheWonGirl, Aurora Borealix, candy loly berry, Naruzhea AiChi, Izumi Kagawa, dan Voidy.

Chappy ruki: Yup, bener sekali! Rukia mengerti Ichigo udah kaya baca buku bisa tahu tanpa kata-kata. Terima kasih reviunya! :*

Krabby patyy: Yeah, IchiRuki FTW!

Voidy: Hehehh, iya dari canonnya. Quote dari rukia ke ichigo pasti diucapkan langsung face to face. Tidak seperti seseorang yang mengucapkannya saat ichigo lagi tidur. (=_=)"v

Seperti biasa, jika ada kritik, saran, atau apapun itu silahkan tulis di kotak review di bawah, =D

Untuk chapter selanjutnya, Hollow Mask! Hueco Mundo Arc part I

Btw adakah yang ingat quote ditengah cerita itu punya siapa? hehe