Differences

Disclaimer: Milik Kubo-sensei

Title: Differences

Subtitle: Cheer Me Up!

Warning: Deskripsi minim bin payah, AU(?), typo(s), try not to OoC, die hard IchiRuki fic!

Special Warning! Cerita ini BUKAN untuk IchiHime shipper! Jika Anda salah satu dari mereka, lebih baik TEKAN TOMBOL BACK! Saya tidak mau ada yang sakit hati setelah membaca imajinasi paling liar saya ini. . . Terima Kasih ^_^


ICHIHIME SHIPPER, CLICK BACK IMMEDIATELY

»«

.

«»
.

Seorang gadis cantik nampak terburu-buru melangkah menuju gym sekolah. Hari sudah semakin sore saat jari-jari panjangnya menyentuh kenop pintu dan mendorongnya pelan. Di sana terlihatlah seorang pemuda berambut oranye terang yang masih sibuk memukul-mukul sandsack walaupun keringat sudah membuat kaus cokelat yang dipakainya menyatu dengan kulit. Rambutnya yang biasanya berdiri tegak menantang langit, kini mulai layu karena basah oleh keringatnya sendiri. Matanya terlalu fokus pada obyek di hadapannya sehingga suara langkah kaki dari belakang tak terdengar kedua telinganya.

'Buaagh!" tinju tangan kanan menjadi serangan terakhir pada benda merah yang tergantung. Napasnya sudah tidak teratur, air alami yang keluar dari pori-pori kulitnya mulai menetes deras lewat dagunya. Iris cokelatnya ia sembunyikan dari dunia untuk sejenak, mengingat bagaimana—

"Kurosaki-kun?"

Suara lembut familiar terdengar dari belakang tubuh besarnya. Menoleh kebelakang, dilihatnya seorang gadis seksi tengah menyodorkan sebotol air mineral dingin padanya. Senyuman singkat menghampiri bibir yang nyaris kering karena kekurangan cairan itu, "Terima kasih Inoue," Ichigo mengambil air kemasan dengan kedua tangannya yang masih mengenakan sarung tangan dan berjalan menuju bangku kayu di sudut ruangan, diikuti sang gadis senja.

Dijepitnya botol di antara dua paha, kemudian membebaskan kedua tangannya dari kungkungan pelindung berwarna merah gelap. Namun sebelum meminum, ia menyiramkan sebagian cairan itu hingga membasahi seluruh kepalanya.

Suasana terasa sunyi tatkala tidak ada satupun diantara mereka yang mau membuka mulut, membuat keadaan semakin terasa canggung. "Maaf..."

"Eh?"

"Maaf, karena aku gagal mendapatkan gelar juara seperti yang kuucapkan padamu kemarin lusa," ucap Ichigo sambil menyandarkan seluruh badannya dan menutup mata.

Inoue Orihime, kekasih sekaligus teman sekelas pemuda Kurosaki tersenyum kecut menanggapinya, "Tidak, jangan meminta maaf karena bagiku tak masalah. Tidak memenangkan kejuaraan pun tak mengapa, asalkan Kurosaki-kun tidak terluka lagi seperti kemarin."

"Terima kasih..." timpal Ichigo singkat dan lirih.

Apakah sebagai kekasih, gadis cantik berusia 15 tahun itu lupa jika pemuda di sampingnya pernah mengatakan bahwa ia sangat terobsesi untuk menjadi juara tinju nasional di tahun pertama SMA mereka? Apakah Inoue itu lupa jika sekali Ichigo berjanji maka ia akan memegang perkataan yang terlanjur keluar dari mulutnya? Dan disaat ia mencoba meminta maaf karena gagal memenuhi janji yang telah terucap, malah penolakan yang dia dapatkan.

"Nah Kurosaki-kun, sekarang cepat ganti bajumu dan aku akan mengajakmu ke suatu tempat untuk menghilangkan stres karena kalah dari Jaegerjaques-san kemarin~" ucap Inoue seraya berdiri dan membersihkan roknya dari debu yang menempel.

Ichigo hanya mengangguk dan melihat gadis yang dipacarinya selama 1 bulan terakhir menghilang dari balik pintu gym. Menghela napas panjang lewat mulut, Kurosaki sulung mulai bangkit dan berjalan menuju loker untuk mengganti bajunya yang basah dengan seragam sekolahnya.

Begitu sampai di gerbang sekolah, ia mendapati Inoue yang menunggunya seraya memainkan ponsel silver di genggaman. Kedua sejoli itu akhirnya meninggalkan kompleks sekolah menuju kafe langganan sang gadis senja.

Tidak ada yang lebih menyenangkan dan menghibur selain menikmati hangatnya sore bersama orang terdekat dan ditemani segelas es krim. Tak lupa ekspresi heran akan kebiasaan makan Inoue yang tidak pernah membuat Ichigo paham selera gadis di depannya. Ada kah orang lain di dunia ini selain Inoue Orihime yang memakan es krim dengan pasta kacang merah sebagai topingnya?

.

.

.

.

The one that can change his whole world—

.

.

.

.

Suara debuman cukup keras terdengar di segala penjuru ruangan yang tidak bisa dibilang kecil itu. Suara hantaman berulang kali antar benda mati dari tempat yang sudah tidak ada penghuninya selain satu orang. Teriakan frustasi mengiringi setiap pukulan yang seorang daratkan pada benda berisi pasir yang tergantung pasrah.

Sesosok gadis mungil mengamati bagian belakang seorang pemuda berambut oranye terang dari atas ring latihan. Kedua tangannya tersilang di atas tali pembatas berwarna putih. Ia tahu dengan pasti kenapa kepala jeruk kesayangannya menjadi sangat tertekan seperti itu. Kalah 2 kali berturut-turut oleh lawan yang sama di final kejuaraan tinju tingkat nasional bukanlah suatu hal yang patut dibanggakan.

"Jika kau benar-benar ingin menjadi kuat, setidaknya berlatihlah melawan sesuatu yang bisa merespon gerakanmu," perkataan dengan nada agak menyindir menghentikan sejenak kegiatan meninju Ichigo.

Dengan gaya menantang, mata cokelat itu menatap gadis yang menjadi menejer klub, "Apa maksudmu Nona? Tak ada satu partner pun yang tersisa di sini," seringai kecil mulai terbentuk di sudut bibirnya. "Jangan bilang kalau kau mau menjadi sparring partner-ku."

"Tidak, aku tidak mau menjadi sparring partner. Aku hanya ingin menemanimu berlatih dengan benda bergerak, jadi segera naik kemari dan 'bermain'lah denganku," ujar Rukia seraya mengambil punch mitts yang telah diletakkannya tadi di sudut ring dan kemudian memakainya.

Ichigo yang tidak bisa tidak menerima semua tantangan yang ditujukan padanya segera menaiki 'panggung' bagi para petarung. "Jangan menangis jika nanti kedua tanganmu patah Rukia," goda pemuda tahun kedua di SMA.

"Aku tak akan menangis tawake! Ayo, kerahkan seluruh kemampuanmu dan keluarkan amarahamu di sini," gadis berambut hitam menepuk-nepuk benda bulat yang empuk dengan kedua tangannya.

Pukulan pertama yang dilancarkan tangan kiri Ichigo diterima dengan mudah oleh tangan kanan partner di depannya. "Itu seperti pukulan seorang bayi baru lahir Ichigo! Seriuslah sedikit!"

Kritikan dari bibir mungil sedikit membakar emosi si oranye, menambah lagi kekuatan tinju pada pukulan-pukulan selanjutnya. "Ya! Bagus! Seperti itu Ichigo, lebih keras lagi!"

"Jika kau kalah, kau hanya perlu berlatih lebih keras dari sebelumnya. Sampai kau merasa lebih kuat dari semua lawanmu, sampai kau merasa tidak ada lagi yang bisa menandingimu!" pukulan yang diterima kedua tangan mungil tersebut semakin cepat dan keras.

"Ichigo yang kukenal bukanlah seorang pecundang yang hanya bisa meratapi kekalahannya. Ichigo yang kukenal, tak akan menyerah dan terus berusaha untuk menjadi yang terbaik dari segalanya! Itulah dirimu yang selalu berada dalam hatiku Ichigo!"

Sekilas, seringai menyebalkan Grimmjow Jaegerjaques—orang yang selalu mengalahkannya dalam 2 pertarungan terakhir— melintas di pikirannya. Seringai meremehkan saat ia terjatuh di atas kanvas, menginvasi otaknya. Tanpa ia sadari tangan kanan ia ayunkan sekuat tenaga, ke arah kepala hitam pujaannya. "Uuaarghhh!"

Manik ungu Rukia membulat mendengar teriakan Ichigo yang disusul gerakan pukul ke bagian kepalanya. Beruntung baginya, reflek yang cepat dengan melindungi organ penting menggunakan lengan kiri. Namun itu belum cukup, untuk mengurangi efek benturan ia sengaja melompat ke arah kanan dan membuatnya jatuh terpelanting.

Ekspresi horor merambat di wajah tampan Ichigo yang penuh dengan keringat setelah menyadari apa yang baru saja dilakukannya. "Rukia!" ia langsung menghampiri gadis yang sudah beberapa bulan belakangan menyita seluruh perhatiannya. Melepas dengan asal sarung tinju yang masih melekat, Ichigo melihat keadaan manejer yang menutup erat iris indahnya. "Rukia! Rukia!" tak ada respon, pemuda itu mulai panik dengan apa yang terjadi. Namun 1 detik sebelum ia sukses mengangkat tubuh mungil itu ke UKS, sebuah pukulan cukup keras mendarat di belakang kepalanya. "Aawh."

"Yang tadi itu hampir saja tawake!" putri Kuchiki mendudukkan tubuhnya agar lebih nyaman. "Kalau memuku—" ucapan gadis itu terhenti saat tubuh penuh peluh Ichigo memeluknya erat.

"Syukurlah kau tidak apa-apa! Syukurlah kau baik-baik saja! Aku takut jika terjadi sesuatu padamu Rukia!" lolong Kurosaki yang semakin mengeratkan dekapannya pada si mungil.

Wajah gadis 15 tahun yang semula memerah karena marah, kini semakin menjadi merah karena semua kupu-kupu mulai berterbangan di perutnya. "I-ichigo..."

"Tahun depan adalah tahun terakhirku di sini. Dan aku pasti akan menjadi juara nasional, untuk nama baik sekolah, untukku dan..." Ichigo melepas pelukan pada adik kelasnya dan menatap wajah mungil nan cantik yang dihiasi semburat warna merah di kedua sisi pipinya, "yang paling penting untukmu, Rukia..."

Tangan mungil gadis itu terkulai lemah di samping tubuhnya seolah tak bisa digerakkan, tatapan mata cokelat seolah menghipnotisnya agar bergerak maju. Sedikit demi sedikit, kedua kelopak sepasang manusia beda jenis itu mulai menutup. Ia merasakan sesuatu yang lembut dan basah menyentuh bibirnya. Sebuah kecupan singkat dari seorang senpai yang selalu ia marahi dan tendang tulang keringnya membuatnya tak bisa berkata-kata.

"A-ah, maaf! Kita belum resmi berpacaran tapi aku sudah berani menciummu."

"Jadi..."

"Jadi, apakah kau menjadi kekasihku Nona Kuchiki?"

"Gendong aku sampai rumah, jika kau ingin aku menerimamu Tuan Kurosaki."

Ichigo tersenyum lebar mendengar jawaban dari Rukia, "Dengan senang hati Kuchiki-sama~"

.

Malam harinya berbungkus-bungkus koyo cabe berserakan di atas meja belajar Rukia. Dengan sedikit rintihan, ia memasang setiap senti kulit tangannya dengan benda kotak setipis kertas yang bisa mengeluarkan panas jika ditempelkan di bagian luar tubuh. Kedua lengan kecil gadis itu sekarang terasa ingin lepas, kaku, linu dan sangat pegal. Ucapkan terima kasih pada pukulan yang dilancarkan Ichigo sore tadi yang sekarang membuat tangannya seolah mati rasa. 'Kurosaki sialan, tunggu pembalasanku suatu hari nanti!' rutuknya pelan dalam hati.

Namun seutas senyum mampir di sudut bibirnya mengingat betapa terasa lembut saat mereka berciuman. Ciuman pertama dari pacar pertama sepertinya cukup untuk membayar semua ini kan?

.

.

.

.

.

.

.

.

» SELESAI «


A/N: Umh, idenya kuambil dari c196, awal Arrancar Arc dan sekelumit info dari kawaichappy's essay. Aku tahu di situ Inoue failed miserably, jadi kubuat sedikit beda di cerita ini. Antara Inoue yang mampu membuat Kurosaki melupakan sejenak kegagalannya dan Rukia yang mampu membantu Ichigo menyelesaikan masalahnya. Btw cerita di atas tidak OoC kan?

Special thanx to: poppukoo, Keiko Eni Naomi, Voidy, uzumaki kuchiki, Sakura-Yuki15, miisakura, Naruzhea AiChi, hendrik widyawati, LeEdacHi aRdian Lau, zirconia, tamagochi, Izumi Kagawa, Hiruma Enma 01, life's really hard, Aurora Borealix, dan juga MR. KRabs! XD

Dan juga SEMUA yang telah membaca fiksi absurd saya ini, yang mem-fav dan me-alert, terima kasih banyak teman! =D

Voidy: Hahaha, tuh kan sudah saya bilang absurd! XD. Terima kasih reviunya senpai! =D

miisakura: kyyaaa senpai! Aku kangen semua ficmu! Kapan mau dilanjut? *OoT* ehm, waah senengnya bisa bikin orang lain ketawa, hehehh. Terima kasih reviunya! =D

zirconia: ehh, namanya ganti lebih cantik . U-um, Cuma Ruki yang paling ngerti Ichi... dan maaf updatenya molor, T_T. Terima kasih reviunya senpai! XD

tamagochi: waah, username kamu mengingatkan pada mainan jaman aku TK, XD *OoT* eh iya, panggil apa aja boleh, asal jangan panggil senpai ya, hehehh. Eh kurang panjang ya? Ini memang ngga panjang, cuma memfokuskan perbedaan Rukia dan Inoue di mata dan hati Ichi, =). Hahaha syukurlah kamu suka scene aneh yang kubuat, hehehh. Dan terima kasih reviunya tama! =D

life's really hard: yip, Rukia pasti ngga akan pasang tampang ketakutan seperti 'dia' apapun alasannya. Umh, SS dan HM ya? Pernah baca juga sih, tapi nanti kalo dibuat bakal panjang dan malah seperti essay-nya *alesanlawas* XD. Kita liat saja apa kapasitas otakku mampu membuatnya, hehehh. Dan terima kasih reviunya senpai! =D

seperti biasa, jika ada saran, kritik atau apapun itu silahkan tulis di kotak review di bawah ini! XDDD

sampai jumpa chapter depan!

Next chapter upcoming: SS vs HM arc!