Differences

Disclaimer: Aku semakin jatuh cinta pada Isshin waktu mudanya! *squeeee* =D

Title: Differences

Subtitle: Soul Society Arc vs Hueco Mundo Arc.

Warning: Deskripsi minim bin payah, bahasa berantakan, slight modified canon, typo(s), try not to OoC, die hard IchiRuki fic!

Special Warning! Cerita ini BUKAN untuk IchiHime shippers! Jika Anda salah satu dari mereka, lebih baik TEKAN TOMBOL BACK! Saya tidak mau ada yang sakit hati setelah membaca imajinasi paling liar saya ini. . . Terima Kasih ^_^

A/N: Cerita di bawah tidak seratus persen sama dengan manga-nya! Aku sedikit lupa karena aku membacanya sekitar 4-5 tahun yang lalu, jadi kubuat garis besarnya saja. Jika ada kekeliruan, silahkan memberi tahu lewat review atau PM, dan pasti akan segera aku ganti. Terima kasih. . .


ICHIHIME SHIPPER, CLICK BACK IMMEDIATELY

»«

.

«»

.


The Beginning


Kedua kelopak mata itu sedikit demi sedikit mulai terbuka. Menampilkan iris cokelat pemiliknya. Dirasakan tubuh kekarnya sudah tidak sesakit malam kemarin, terasa sangat sehat malah. Sontak ia bangun dari posisi tidurnya. Sebelah tangan memegangi mukanya, berkonsentrasi siapa gerangan yang telah menyembuhkannya. "Inoue..." ia masih merasakan setitik reiatsu teman sekelasnya itu dalam luka sabetan pedang Grimmjow.

"Kurosaki! Inoue-san menghilang, kau segera ikut aku ke 'markas'!" sesosok kapten divisi 10 menyerbu masuk lewat jendela atau mungkin bisa disebut pintu masuk untuk para shinigami ke kamarnya.

Tanpa banyak berpikir segera saja ia berubah menjadi sosok dewa kematian, dan langsung menuju apartemen Inoue yang menjadi markas sementara shinigami di dunia nyata. Sesampainya di sana semua sudah menunggu teman-temannya yang lain.

Setelah mendengar penuturan Ukitake-taichou dan Yamamoto-soutaichou yang menyatakan bahwa gadis periang berambut oranye gelap sebagai pangkhianat, sontak saja ia marah. Tidak mungkin temannya adalah seorang pengkhianat. Bagaimanapun juga gadis sepolos Inoue disebut pengkhianat? Yang benar saja!

"Aku tidak percaya semua omonganmu orang tua! Aku akan membawanya pulang dan membuktikannya bahwa semua yang kau bicarakan adalah omong kosong!" sembur Ichigo marah.

"Tidak ada yang ke sana jika tidak ada perintah! Kita harus mempersiapkan diri untuk perang musim dingin, tidak ada waktu untuk melakukan hal yang sia-sia!" bantah komandan kapten tegas.

Tak lama kemudian pintu senkaimon terbuka. Menampilkan dua sosok kapten yang akan menjemput para shinigami untuk kembali ke soul society.

"Kalian tidak bisa memaksaku untuk mengikuti peraturan kalian! Jika kalian tidak mau membantu, aku akan pergi ke sana sendirian!" Ichigo kini memandang Rukia yang berada di sampingnya dengan penuh harap. "Rukia..."

Gadis mungil itu menggeleng pelan, "Maaf Ichigo, tapi aku harus mengikuti perintah dari atasan." ujarnya lirih.

Raut muka shinigami daiko semakin tertekuk. Melihat semua temannya tak ada yang mau membantu. Tangannya terkepal erat menahan emosi yang membuncah. "Apapun yang terjadi aku akan tetap ke sana. Dengan atau tanpa bantuan kalian!"

.

.

SS vs HM

.

.

Dilihatnya sosok mungil yang selama dua bulan terakhir ini tinggal di kamarnya dan tidur dalam lemari pakaiannya. Tetapi ia tidak sendirian, ada dua shinigami yang bersamanya. Seorang dengan rambut panjang merah menyala yang dikuncir tinggi dan shinigami memakai haori putih bertuliskan kanji angka 6 di punggungnya.

Tampa pikir panjang, langsung saja ia melompat menghadang jalan mereka bertiga, "Kalian mau membawa Rukia kemana?!"

"Hoo, jadi inikah orang yang membuatmu kehilangan kekuatan Rukia? Kalau begitu aku akan mengalahkannya dan membuatnya menyesal!" ucap si rambut merah sembari mencabut pedang dari sarungnya.

Pertarungan sengit tak terelakkan. Mereka merasa apa yang dilakukannya paling benar. Namun pengalaman seorang pemuda yang baru mengenal dunia shinigami kurang dari dua bulan melawan shinigami yang mempunyai pengalaman selama puluhan tahun tentu sangat tidak seimbang. Ichigo jatuh terduduk, pedang besarnya terlepas dari genggaman.

Saat dewa kematian bertato akan mengayunkan tebasan terakhir untuk menghabisi nyawa Ichigo, tiba-tiba saja Rukia melompat menahan tangannya. "Lari Ichigo! Larilah sejauh mungkin!" gadis yang sudah kehilangan kekuatannya itu mencoba mencari celah agar pemuda tak bersalah itu masih bisa melanjutkan sisa hidupnya. Digenggamnya erat-erat lengan kanan Renji.

"Hei! Apa yang kau lakukan Rukia? Lepaskan tanganku sekarang!" Renji berusaha melepaskan cengkeraman adik angkat sang kapten.

"Berdiri dan cepat angkat kaki dari sini sejauh mungkin!" teriak Rukia lantang. "Ichi—"

Namun usaha gadis mungil mengulur waktu sia-sia belaka. Ichigo kembali meraih gagang pedangnya, sekali lagi menantang Renji untuk bertarung. Gerakannya yang lebih cepat dan bertenaga membuat Abarai terkejut. "Hah! Ada apa denganmu? Kenapa gerakanmu semakin lambat?" sindir Ichigo sinis.

'Tidak mungkin, bukankah dia seharusnya sudah kehilangan banyak tenaga? Kenapa reiatsunya bisa meningkat drastis seperti ini? Siapa sebenarnya bocah ini?' batin Renji menganggapi perubahan besar lawannya.

Melihat wakilnya kewalahan menghadapi shinigami ingusan, pria kalem berkenseikan melangkah maju. Gerakannya yang sangat cepat dan di luar nalar membuat Ichigo hanya berdiri mematung. Melihat setangah pedangnya berada dalam genggaman pria di depannya, kemudian ia merasakan darah mengalir cukup deras dari perutnya. Dan akhirnya jatuh tak berdaya.

"Kau benar-benar menyedihkan. Bahkan cara jatuhmu sangat lambat," ujar pria berambut hitam dingin.

Ichigo belum mau menyerah, ia berusaha meraih ujung shihakusho sebelum kaki mungil menendangnya cukup keras. "Jangan berani menyentuh nii-sama dengan tangan kotormu!"

"Rukia..."

"Sebentar lagi kau pasti akan mati, jadi jangan banyak bergerak. Nikmatilah sisa hidupmu, berusahalah hidup lebih lama walau hanya satu detik." Gadis itu kemudian berbalik menuju pintu senkaimon yang telah terbuka. "Tetaplah di sana, dan jangan pernah berpikir untuk mengejarku. Jika kau berani melangkah walau hanya sejengkal, aku tidak akan pernah memaafkanmu."

Terulang lagi. Seseorang yang ingin dilindunginya malah bebalik melindunginya. Rasa perih akibat tebasan pedang tidak lebih sakit daripada rasa perih hatinya akibat kegagalan melindungi Rukia. Di malam yang dingin dan hujan yang lebat ini, sekali lagi ia kehilangan seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya, "Aaaarrrrggghhhh!"


The Purpose


"Aku tanya sekali lagi, apa sebenarnya tujuanmu kemari shinigami?" ucap Grimmjow disela-sela pertarungan ketiga mereka.

"Bukankah sudah jelas? Aku datang kemari untuk menyelamatkan Inoue!" Ichigo kembali menyerang sexta espada berambut biru tersebut.

"Bodoh! Aku yakin bukan itu tujuanmu kemari. Dan jika memang itu alasanmu, kenapa kau tidak langsung membawanya pergi saat kau pertama kali bertemu dengannya?" ia menendang keras perut Ichigo hingga terlempar jauh ke belakang. "Kalau kau tidak tahu, biar kukatakan padamu alasan yang mendasari kau kemari. Karena kau ingin bertarung melawanku! Karena kita sama-sama ingin menjadi pemenang!" ucap Grimmjow mendekati tubuh shinigami daiko, "Dan mungkin saja kau juga ingin membalas dendam karena aku telah melukai gadis shinigami yang bersamamu kala itu..." seringai di wajah pria berambut biru semakin lebar tatkala raut wajah Kurosaki Ichigo berubah sedikit menakutkan.

Ichigo mengayunkan pedangnya sekuat tenaga, "Kau benar Grimmjow, aku memang datang kemari untuk bertarung dan sekaligus mengalahkanmu!"

.

.

SS vs HM

.

.

"Untuk apa kau bersikeras melawan peraturan soul society, kozo?" ujar Byakuya dingin. "Hukuman untuk adikku sudah ditetapkan. Dan jika masalah penyusup sepertimu sudah selesai, aku akan mengeksekusinya dengan tanganku sendiri."

"Jangan pernah mengatakan hal menjijikan seperti itu di depan Rukia! Mengeksekusinya dengan tanganmu sendiri kau bilang? Jangan membuatku tertawa! Seorang kakak laki-laki dilahirkan pertama kali untuk melindungi adiknya!" Ichigo ber-shunpo ke hadapan Byakuya dan mencoba menebasnya, "Kekuatan yang ada di tanganku ini adalah pemberian darinya, aku tak akan membiarkanmu melukainya!"

Ceramah dari bocah oranye membuka hatinya walaupun hanya sedikit. "Kau mengenal adikku hanya sebentar, apa yang dilakukannya hingga membuatmu berambisi seperti ini?"

"Tidak ada, dia hanya selalu memukulku jika aku melakukan kesalahan, memberiku ruang saat aku tidak ingin masalah pribadiku diusik. Dia hanyalah gadis cerewet yang sudah merubah hidupku!" Ichigo semakin bersemangat mengalahkan pria bangsawan di depannya ini. "Maka dari itu, setelah aku mengalahkanmu, aku akan menyeretmu ke depan Rukia dan membuatmu membungkuk meminta maaf!"


Battle Spirit


Langkah cepat yang diambil kaki panjang Ichigo yang menggendong arrancar mungil terhenti saat ia merasakan reiatsu milik Rukia yang semakin terasa menipis. Segera saja ia berbalik ingin mengetahui keadaan sebenarnya.

"Dia sudah mati." suara dingin dan datar membuat Ichigo kembali berbalik.

"Shinigami yang kau cari sudah mati. Bersamaan dengan noveno espada," lanjutnya melihat ekspresi bingung Ichigo.

"Aku tak percaya padamu! Lagipula aku tidak punya satu alasan pun untuk bertarung denganmu," ia melangkah melanjutkan tujuannya.

"Bagaimana jika kubilang, akulah yang membawa temanmu kemari?" espada pucat tersebut masih saja mencoba memanasi Ichigo.

Meletakkan Nel di area yang aman, shinigami bersurai oranye langsung menerjang lawannya dengan zangetsu, "Jadi dia tidak kemari atas kemauannya sendiri? Kau yang membawanya ke tempat sialan ini?!"

"Aku heran denganmu. Jika kau masih meragukannya kenapa kau harus bersusah payah datang kemari?" ucapnya seraya menghindari semua ayunan pedang Ichigo.

"Gara-gara tindakanmu, kami semua mengira Inoue adalah seorang pengkhianat, sialan!"

.

.

SS vs HM

.

.

Darah segar mengucur deras dari berbagai bagian di tubuh Ichigo. Tebasan terakhir dari pedang tanpa nama milik Kenpachi membuat si penyusup jatuh bermandikan darah segar.

"Kukira kau bisa memberi sedikit hiburan untukku sampai berani datang kemari. Ternyata kau sama saja seperti yang lainnya, membosankan," pria berambut lancip itu segera pergi meninggalkan Ichigo yang tidak berdaya.

'Sialan! Aku tidak boleh mati! Tidak boleh! Tidak di tempat ini dan tidak sekarang!' batin Ichigo frustasi. 'Ayolah tubuh bergeraklah! Aku harus mengalahkannya, karena aku... karena aku harus menyelamatkan Rukia! Aku harus menyelamatkan Rukia!'

Mata Ichigo membelalak lebar saat wujud materialisasi zangetsu berjalan ke arahnya. "Apakah kau masih ingin bertarung?"

Melihat sosok yang biasanya berada dalam inner world-nya berdiri tepat di hadapannya secara nyata membuat Ichigo bingung. Bukankah Yoruichi pernah bilang mematerialisasikan zanpakutou butuh waktu minimal 10 tahun setelah menguasai bankai?

"Ya! Aku ingin bertarung dan aku ingin menang!" teriak Ichigo berapi-api. 'Dan juga untuk menyelamatkan Rukia tentu saja' tambahnya dalam hati.

"Begitukah? Kalau itu alasanmu, aku akan meminjamkan kekuatanku padamu dan kita akan bertarung bersama."

Zzzrrtrtt zzzrrrrtttr

Kapten divisi 11 itu menghentikan langkahnya ketika reiatsu yang meluap-luap datang dari bocah yang ia pikir sudah dikalahkan tadi. 'Apa yang terjadi? Bagaimana mungkin bisa dia mempunyai kekuatan sebesar ini setelah tadi hampir mati?'

"Jangan pernah berpikir pertarungan kita berakhir rambut kaktus!"


Selfish - Selfless


'Ini semua salahku... seandainya saja aku tidak memaksa Kurosaki-kun untuk menyelamatkanku, dia pasti tidak akan menjadi seperti itu,' Inoue yang masih terduduk tak bergerak melihat Ichigo menjadi sosok yang sangat mengerikan baginya.

Di depannya monster yang keluar dari dalam jiwa Ichigo mulai menghabisi siapapun yang menghalanginya. 'Aku datang kemari untuk melindunginya, tapi kenapa pada akhirnya aku yang selalu bergantung padanya?'

TusukanTensa Zangetsu menembus perut Ishida yang mencoba menyadarkannya, membuat raut Inoue samakin terlihat bingung apa yang harus dilakukannya. Dari tengah tanduk si monster keluar cahaya hitam, menandakan ia siap menembakkan cero dengan kekuatan penuh. "Tidak! Tunggu dulu Kurosaki-kun! Jangan lakukan!"

.

.

SS vs HM

.

.

Iring-iringan 9 orang yang berpakaian serba putih yang mencoba menyeberangi jembatan menuju ruang untuk memindahkan tahanan dikejutkan oleh reiatsu yang setingkat dengan kapten. Mereka yang tidak kuat menahan tekanan roh sebesar itu jatuh berlutut. Rukia yang merasakan sumber kekuatan itu berasal dari atas langsung mendongakkan kepalanya. Iris ungu gelapnya melebar melihat sosok yang ia kira telah kehilangan kekuatan muncul dengan peralatan terbang.

"Yo Rukia!" sapa Ichigo begitu mendarat di depan gadis mungil berambut hitam.

Tangan mungil Rukia yang terikat mengepal erat, "Apa yang kau lakukan di sini baka! Bukankah sudah kubilang untuk tidak kemari dan mencariku!" matanya menatap tajam pemuda keras kepala di depannya.

"Heh, apa-apaan sikapmu itu? Seharusnya kau bahagia melihatku di sini, semestinya kau bilang 'Oh Ichigo, selamatkan aku secepatnya dan bawa aku pulang~'" bocah SMA itu menirukan suara tinggi Rukia yang biasa dipakai saat di sekolah sambil memposekan diri dengan tangan terkepal di depan dada dan mata berbinar-binar.

"Ka-kaaauuu! Gara-gara kemari kau jadi terluka seperti ini baka! Aku sudah berusaha untuk menjauhkanmu dari semua masalah ini! Tapi—"

"Semua pendapatmu kutolak!" potong Ichigo keras kepala. "Sebelum memikirkan keadaan orang lain, sesekali pikirkanlah keadaanmu dulu mungil!" Sesaat kemudian dirasakannya reiatsu yang sangat familiar dengan malam di mana Rukia dibawa paksa dari sisinya. "Kau boleh menceramahiku setelah aku mengalahkan dia!" jari telunjuk Kurosaki sulung menunjuk pria berkenseikan yang berjalan anggun ke arah mereka.


Power Achieve


"Tolong aku Kurosaki-kun!"

Teriakan lantang Inoue pada tubuh Ichigo yang terbaring sekarat tak berdaya akibat cero tepat di dadanya membuat proses regenerasi pada tubuhnya meningkat drastis. Menjadikan sosok yang dicintai selama 5 kehidupan oleh gadis berambut oranye berubah menjadi monster mengerikan. Sosok yang sebenarnya sangat ditakuti Ichigo kini mengambil penuh kontrol atas tubuhnya.

Tanpa belas kasihan Ishida yang berusaha menyadarkannya dilumatnya habis. Tak peduli kawan ataupun lawan.

"Aaku.. ak..an me-nollong.. mu aaku akkkan meno-lo..ng mu...," ucap hollow Ichigo terbata-bata. Perubahan wujud pemuda berambut oranye menjadi monster membuat Inoue ketakutan. Seandainya saja ia bisa menyembuhkannya lebih awal, seandainya saja ia tidak berteriak meminta bantuan, mungkin Kurosai-kun tidak akan menjadi seperti ini. Menjadi sesosok yang ternyata bisa membuat inner world-nya tenggelam oleh air. Suatu hal yang sangat dibenci oleh zangetsu.

Memberikan pelajaran pada gadis belia tersebut agar tidak terlalu menggantungkan diri pada Ichigo. Janjinya untuk berubah lebih kuat agar tidak menjadi beban pada Kurosaki-kun sebelum datang ke markas lawan sia-sia belaka.

.

.

SS vs HM

.

.

Ichigo bodoh jika ia ingin menyelamatkan Rukia tanpa persiapan dan juga tanpa kekuatan. Urahara dengan senang hati akan memberi tahu caranya menjadi shinigami kembali jika ia sudah sembuh. Syarat yang tentu saja langsung ditentang pemuda itu. Ia ingin secepatnya membawa pulang Rukia, dan menyimpannya kembali di dalam lemari pakaiannya seperti biasa.

Namun setelah diberi ancaman dan penjelasan bahwa masih ada 10 hari lagi sebelum hukuman diputuskan, ia tak lagi memberontak. Ia memanfaatkan betul sisa hari untuk berlatih di markas bawah tanah Urahara yang super besar.

Dengan nyawanya sendiri sebagai taruhannya, ia berusaha keras agar dapat kembali memegang zanpakutou. Pelatihan yang tidak mudah mengingat Urahara benar-benar memotong rantai jiwanya. Memaksanya untuk menjadi shinigami dalam beberapa hari(?) dan jika gagal ia akan menjadi hollow.

Dengan ketetapan hati dan janji pada jiwanya, ia mampu menjadi dewa kematian pada detik-detik terakhir sebelum seluruh topeng putih khas hollow menutup mukanya.

.

.

"Aaargh! Kenapa kau malah membawaku kemari! Kenapa bukan Rukia yang kau selamatkan!" teriak Ichigo emosi pada wanita berambut ungu di depannya. Susah payah ia menemukan gadis yang dicarinya, sekarang ia malah dibawa menjauh oleh Yoruichi.

"Tenangkan dirimu bodoh! Apa kau pikir dengan kekuatanmu sekarang kau bisa mengalahkan shinigami selevel kapten? Bisa-bisa kau mati sebelum menyentuh Rukia-chan!" Yoruichi merasa frustasi atas sikap keras kepala Ichigo. "Dan meskipun aku membawa Rukia, tidak ada jaminan jika mereka tidak akan mengejarku. Lebih baik pulihkan dirimu dulu. Dan dalam 3 hari ini, aku akan melatihmu mendapatkan bankai."

"Bagaimana bisa hanya dalam 3 hari? Bukankah itu membutuhkan waktu yang sangat lama? Berpuluh-puluh tahun?" tanya shinigami penyusup penasaran.

"Dengan alat yang diciptakan Kisuke dulu, waktu untuk mendapatkan bankai bisa dipercepat hanya dalam hitungan hari. Tapi kau harus bersungguh-sungguh, jika tidak nyawamu benar-benar melayang," lanjut mantan kapten divisi 2.

"Cih, kupikir aku sudah mati saat Urahara-san memotong rantai jiwaku dulu. Dan ancamanmu itu tidak akan membuatku takut. Dalam 3 hari ke depan kupastikan kau akan terkesima dengan bakai-ku!" ucapnya penuh rasa percaya diri.


Hollow's Interfere


"Tidak! Jangan! Hentikan Kurosaki-kun!" teriakan penuh horor Inoue menggema ketika dilihatnya sosok monster Ichigo hendak menembakkan cero tepat ke arah Ishida, teman tapi musuh bagi shinigami pengganti. Namun Ichigo seolah tidak mendengarkannya, ia terus berkonsentrasi melepaskan tembakan yang pasti akan sangat disesalinya saat tersadar nanti.

Sedikit lagi, sebelum ia merasakan pengganggu datang dari arah belakangnya. Ulquiorra Schiffer yang beberapa detik lalu telah ia kalahkan muncul dengan pedang reiatsu hitamnya. Belum sempat ia bereaksi, tanduk sebelah kirinya terpotong hingga hingga cero yang ditujukan pada Ishida meledak dan secara tidak langsung mengembalikan kesadarannya secara penuh.

"A-apa yang terjadi?" reaksi pertama Ichigo begitu kembali dari alam bawah sadarnya. Dilihatnya Ishida yang terduduk tak jauh darinya, matanya membelalak lebar ketika disadarinya tensa zangetsu menancap tepat di perut sang sahabat.

Kini dipandangnya quatro espada yang kini hanya tinggal separuh tubuhnya. "Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang sudah kulakukan!?"

"Kau telah memenangkan pertarungan pertarungan ini shinigami, bukankah ini yang kau inginkan?" tanya Ulquirra tenang.

Ichigo menggeleng keras, "Bukan kemenangan seperti ini yang kuinginkan. Ayo, sembuhkan dirimu dan kita bertarung secara adil!"

Ya, Kurosaki Ichigo memang menyesali ia tidak bisa mengendalikan hollow yang berada dalam tubuhnya. Ia tidak bisa menekan kekuatan mengerikan dan mengembalikan kesadaran dengan kekuatan/kemauannya sendiri . Seharusnya ia berterima kasih pada espada pucat itu, seandainya saja ia tidak memotong tanduknya mungkin saja ia akan membunuh semua orang yang ada di sekitarnya.

.

.

SS vs HM

.

.

Ichigo berlutut di hadapan Byakuya. Bankai yang ia kuasai dalam 3 hari tak kuasa melawan kekuatan sesungguhnya kepala keluarga Kuchiki tersebut. "Ada kata-kata lain sebelum kau mati kozo?"

Melihat sang ryouka hanya terdiam tak berkedip, Byakuya mengangkat senbonzakura tinggi-tinggi dan bersiap untuk mengayunkan serangan terakhir.

'Slash'

Pedang tajam milik kapten divisi 6 ditahan dengan tangan kosong Ichigo, "Sudah kubilang padamu bodoh, jika kau mati, aku juga yang akan menderita!" seringai tajam dan topeng hollow yang mulai terbentuk membuat Byakuya terkejut.

"Aku akan mengajarimu bagaimana menggunakan bankai secara benar dan bagaimana cara bertarung untuk menang!" sosok bertopeng hollow menyerang Byakuya secara membabi buta. Kakak angkat Rukia itu terlihat kuwalahan menghindari setiap tebasan pedang hitam 'Ichigo'.

Namun beberapa saat kemudian gerakan 'Ichigo' terhenti. "Sialan, jangan mengganggu pertarunganku!" sebelah tangan shinigami berambut oranye itu berusaha menyingkirkan topeng hollow dari wajahnya.

Setelah topeng putih terlepas, ia kembali menggenggam erat tensa zangetsu. "Maaf atas gangguan tadi Byakuya, dan mari kita lanjutkan pertarungan kita secara adil!"

Keinginan kuat Kurosaki Ichigo untuk mengalahkan lawan dengan kedua tangannya sendiri membuatnya mampu melepaskan diri dari pengaruh sisi gelap dalam dirinya. Kemauan keras shinigami daiko untuk membuat Byakuya menyadari kesalahannya karena tidak melindungi adik angkatnya sendiri mampu untuk kembali menjadi penguasa atas tubuh yang tadi dikuasai sang hollow.


The Ending


Tubuh kekar itu terbaring tak berdaya selama sekitar 1 bulan. Ketiga nakama-nya masih setia menunggu sang pahlawan perang musim dingin lalu kembali membuka mata. Seorang gadis berambut oranye gelap bergelombang berteriak histeris saat kedua kelopak mata orang yang disukainya perlahan terbuka. Air mata kebahagiaan pun tak lagi bisa dibendungnya. "Kurosaki-kuuun."

"Ah! Ini kamarku?" tanyanya sepontan, mengabaikan panggilan teman sekelasnya yang berlutut di samping tempat tidurnya. Matanya memandang lurus pada sosok shinigami di seberang ruangan.

"Tentu saja tawake. Kau sudah membuat kami semua cemas! Butuh 1 bulan untuk menstabilkan reiatsumu," ujar Rukia.

"Ah kekuatanku!" ia berteriak seolah kehilangan sesuatu yang paling berharga. Tangan kanannya mencengkeram erat kaus di bagian dada bidangnya.

Rukia memandang pemuda yang masih terlihat sayu. "Kami sudah tahu dari Urahara-san. Rambutmu yang dulu panjang kini kembali pendek, bukan kami yang memotongnya, itu karena tekanan roh dalam tubuhmu sudah stabil."

"Begitu ya. Bolehkah aku keluar?"

Mereka berjalan beriringan ke halaman depan klinik Kurosaki. Ichigo ingat, di tempat inilah dulu ia 'mengambil' semua kekuatan Rukia. dan mungkin di tempat ini untuk terakhir kalinya ia akan kehilangan kekuatannya, sekaligus kemampuan untuk melihat makhluk halus.

Kerutan di dahi Ichigo yang biasanya terlihat 'keras' perlahan 'melembut'. "Jangan memasang wajah yang menyedihkan seperti itu tawake, walaupun kau tidak bisa melihatku, aku masih bisa melihatmu!" goda Rukia disaat-saat terakhir mereka.

"Itu sama sekali tidak membuatku senang! Dan lagi, aku tidak memasang wajah menyedihkan!" Ichigo menggaruk bagian belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Menandakan bahwa dirinya merasa canggung berbicara pada shinigami mungil yang kini menundukkan kepala berdiri tepat di depannya.

"Katakan pada yang lainnya aku sudah berusaha sekuat tenaga."

"Ya."

Begitu membuka mata, perlahan kaki Rukia mulai menghilang dan terus menjalar ke atas. Tangannya yang kini berada dalam saku tergenggam erat, menahannya agar tidak meraih roh gadis Kuchiki.

Rukia yang merasa ini adalah saat terakhir Ichigo dapat melihatnya, memberanikan mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk. Perasaan yang ia pikir tak boleh dimiliki seorang shinigami menusuk relung hatinya saat melihat wajah sendu Ichigo.

"Terima kasih Rukia. Sampai bertemu lagi."

.

.

SS vs HM

.

.

Dua orang manusia yang kini berada di komunitas roh berlarian ke sana kemari mencari sosok mungil yang kemarin lusa baru saja lolos dari hukuman mati. Setiap divisi dimasukinya demi menemukan Rukia.

Namun setelah diberi tahu Ukatake-taichou* bahwa kemungkinan bawahannya itu berada di rumah keluarga Shiba, langsung saja sepasang makhluk berambut oranye bergegas ke sana.

"Oi, Rukia! aku mencarimu kemana-mana bodoh! Cepatlah pulang dan beristirahatlah, karena besok mereka akan membukakan gerbang senkaimon untuk kita pulang," ujar Ichigo begitu gadis yang dicarinya tepat berdiri di depannya.

"Benar Kuchiki-san! Bahkan Ishida-kun sudah membuatkan dress yang sangat indah bagimu, dan membuatku iri! Kau pasti akan terlihat sangat cantik saat menggunakannya!" tambah Inoue Orihime penuh semangat.

Rukia tersenyum mendengar perkataan sahabatnya yang sangat berharga. "Terima kasih Inoue, tapi Ichigo ada satu hal yang ingin kukatakan padamu. Kupikir aku akan tinggal di sini, karena komunitas roh adalah rumahku."

"Oh, begitu ya..." suara Ichigo sangat lirih dan terdengar sedikit... kecewa? "Itu bagus, jika memang itu yang kau inginkan Rukia," ia menggaruk tengkuknya. Bingung akan apa yang harus diucapkan pada sahabatnya. "Sekarang aku sadar kenapa aku begitu ingin menyelamatkanmu Rukia. Terima kasih, berkat dirimu hujan dihatiku sudah reda," tutup pria bersurai oranye.

Keesokan harinya beberapa kapten dan shinigami lainnya mengantarkan kepulangan ryouka di pintu utama senkaimon.

"Terima kasih semuanya, aku yakin jika salah satu diantara kalian tidak ada, mungkin aku tidak akan berdiri di sini," ujar Rukia pada 4 orang manusia dan seekor kucing hitam.

.

.

.

.

.

.

.

.

» SELESAI «


A/N: MAAF UNTUK CHAPTER YANG KEMARIN!

Mulai sekarang aku akan belajar bagaimana untuk tidak terburu-buru memposting sesuatu. Maaf sekali lagi minna, m(_ _)m

Ini request dari life's really hard. Semoga cerita absurd ini tidak mengecewakanmu kawan! :)

Dan untuk ending dari kedua arc, aku tidak menemukan perbedaanya, tapi menarik untuk ditulis. Secara Arc yang diklaim IH shipper sebagai 'IchiHime Arc' berakhir sangat manis dengan perpisahan IchiRuki yang emosional, =P. Bleach started with IchiRuki and it will end with IchiRuki, XD

And special thank to: Naruzhea AiChi, uzumaki kuchiki, Keiko Eni Naomi, Izumi Kagawa, hendrik widyawati, Voidy, life's really hard, Aurora Borealix, Sakura-Yuki15, Ichikawa soma, kazusa kirihika, MR KRabs, Wishy-washy Nara, zircon, LeEdacHi aRdian lau, dan Chadescan. Terima kasih banyak reviunya!

Voidy: eh, iya ya, aku ngga kepikiran sampe situ, hehehh. U-um purapura kuat, padahal aslinya kesakitan ^^. Terimakasih reviunya senpai! XD

MR Krabs: selusin koyo, =D. Hahaha Ichi suka nyosor duluan sih, jadi gitu deh, untung aja diterima, kalo ngga kan jadi berabe, XD. Terimaksih reviunya! =D

zircon: aah, aku suka nama yang kemaren :( *slap*. Rukia-chan memang kawaiiiii, hehehhh. Koyonya jadi trendsetter di reviu chapter lalu, XD. Terimakasih reviunya! =D

Chadeschan: haha, iyakah? Syukurlah kalo bisa menghibur, hehehh. Dan terima kasih reviunya! XD

Btw menurut kalian cerita di atas melanggar peraturan ngga sih?

P.S: kalau ada parbandingan yang terlewat silahkan PM atau melalui reviu. Atau jika ada yang masih bingung silahkan tanya lewat reviu ataupun PM ^_^

Sampai jumpa di chapter depan minnaaaa :*

EDIT 5 MEI: menambahkan hollow scene.