Differences

Disclaimer: Bleach belong to Kubo-sensei.

Title: Differences

Subtitle: Action Speak Louder Than Word

Warning: Deskripsi minim bin payah, bahasa berantakan, AU, typo(s), try not to OoC, die hard IchiRuki fic!

Special Warning! Cerita ini BUKAN untuk IchiHime shippers! Jika Anda salah satu dari mereka, lebih baik TEKAN TOMBOL BACK! Saya tidak mau ada yang sakit hati setelah membaca imajinasi paling liar saya ini. . . Terima Kasih ^_^


ICHIHIME SHIPPER, CLICK BACK IMMEDIATELY

»«

.

«»

.

Dua orang remaja berseragam SMA terlihat berjalan beriringan. Langit sudah berubah menjadi gelap sepenuhnya. Jalan pintas menuju apartemen sang gadis berambut oranye gelap yang kini mereka lewati serasa sepi dan mencekam. "Maaf ya Kurosaki-kun, gara-gara kesalahanku tadi rapat anggota menjadi lebih lama dari biasanya dan kamu harus mengantarkanku pulang seperti ini."

Kurosaki yang membawa tas di pundaknya menggelengkan kepala, "Tidak apa Inoue, lagipula ini juga sudah agak larut bagi seorang gadis sepertimu pulang sendirian."

Lagi. Mereka hanya berjalan dalam diam. Hanya ada satu dua patah kata yang mereka ucapkan, seolah sulit untuk menemukan bahan pembicaraan yang bisa berlangsung lama.

Namun beberapa langkah kemudian langkah kaki Ichigo terhenti. Sekitar 5 meter di depan mereka terdapat segerombolan pemuda dengan botol-botol minuman keras berserakan di sekitarnya. Tangan kirinya yang bebas langsung menarik tangan teman sekelasnya yang sepertinya tidak mewaspadai keadaan sekitarnya.

"Ada apa Kurosaki-kun?" suara tinggi Inoue menarik perhatian para pemuda yang setengah mabuk itu. Salah satunya berdiri dan mulai menghampiri murid Karakura High School tersebut. Ketiga temannya yang lain hanya mengamati dan kembali menenggak minuman keras.

Insting melindungi milik Ichigo bekerja cepat. Ia menarik gadis cantik itu kebelakang tubuhnya. Mata cokelatnya menatap tajam pria berambut hitam panjang dan kurus yang menyeringai menantang. "Hei hei hei, tak perlu takut seperti itu kawan! Kami hanya ingin mengajakmu bergabung kok," napas berbau alkohol langsung menyapa hidung Ichigo. Tangan kanan pria mabuk yang mencoba meraih pundaknya ditepisnya kasar. "Wah wah, tenang saja kawan. Aku tak akan melukaimu, lagipula kita akan bersenang-senang. Dan tentu saja gadis cantik itu juga boleh ikut, bagaimana?"

"Maaf, aku tidak punya waktu untuk meladeni orang sepertimu," Ichigo berbalik dan menggandeng tangan Inoue yang gemetaran. Baru selangkah meninggalkan pria mabuk, ia dikejutkan dengan pekikan gadis di sampingnya. Ditengoknya kebelakang, seringai mengerikan kembali terpampang di wajah lonjong pria berambut hitam.

"Mungkin kau bisa meninggalkan gadismu untuk bersenang-senang bersama kami jika kau tidak punya waktu."

Sebuah tinju dari kepalan tangan kanan Ichigo menghantam keras pipi pria yang telah menggoda Inoue dan membuatnya terjengkang ke belakang. Ketiga teman yang sedari tadi hanya melihat kini menghampiri mereka.

Pria berambut hitam mengusap kasar darah dari sudut bibirnya. Ia berdiri dan langsung membalas pukulan Ichigo. Saling jual beli serangan pun tak terelakkan. Meskipun secara fisik pria itu lebih besar, Ichigo bisa memanfaatkan kesadaran dan kecepatannya. Satu tendangan telak mengenai sisi kanan kepala pria mabuk dan membuatnya jatuh tersungkur. "Apa yang kalian lakukan? Cepat habisi dia!" seruan sang komandan mengembalikan angan anak buahnya yang membayangkan sedang menyaksikan film laga.

Inoue yang berada beberapa meter di belakang Ichigo terdiam tak bergerak. Kakinya seolah kaku dan tak mau menuruti perintah otaknya untuk melakukan sesuatu. Melihat teman sekelasnya sekaligus orang yang selama ini diam-diam dicintainya dikeroyok 3 orang yang bertubuh lebih besar darinya membuatnya jatuh terduduk, air mata mulai mengalir deras di pipinya. 'Apa yang harus aku lakukan... apa yang harus aku lakukan... apa yang harus aku lakukan...' batinnya bergejolak saat Ichigo mulai kesulitan menghadapi preman mabuk tersebut.

"Kurosaki-kun!" pekiknya melihat Ichigo terjatuh di jalanan dan mulai menjadi bulan-bulanan 4 orang pria mabuk. "To-tolong! Tolong aku!" teriaknya sekuat tenaga, berharap ada orang yang mendengar jeritannya.

Suara derap kaki terdengar dari belakangnya. Dua orang siswa dengan rambut hitam bergegas menghampiri segerombol orang yang menganiaya pemuda berambut oranye. Dengan bersenjatakan tas dan bermodal keberanian mereka mencoba mengusir para preman kampung. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk membuat orang yang hilang akal sehat segera pergi menjauh.

Pemuda berkulit pucat mulai menghampiri Inoue yang masih duduk dan menangis. "Inoue-san, mereka sudah pergi. Ayo kuantar kau pulang," tangannya terulur membantu Inoue Orihme berdiri.

"Ulquiorra-kun, bagaimana dengan Kurosaki-kun?" jarinya menyentuh telapak tangan yang terasa dingin.

Ulquiorra mengambil tas milik sang gadis yang tergeletak terlupakan, "Ishida sudah membawanya ke klinik terdekat, sebaiknya kau pulang dan tenangkan dirimu dulu. Dan mungkin besok kau bisa menjenguknya."

"A-aku, aku benar-benar tidak berguna ya... yang bisa kulakukan hanyalah minta tolong dan tanpa dapat melakukan apapun untuk membantu Kurosaki-kun. Padahal aku... aku—"

Ucapan primadona sekolah terhenti saat ia merasa tubuhnya dipeluk erat oleh si ketua kelas. "Jangan bilang kalau kau tidak berguna. Bayangkan saja jika tadi kau tidak berteriak, mungkin aku dan Ishida tak mendengarmu. Jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri Inoue-san."

Inoue kembali menangis di pelukan hangat Ulquiorra Schiffer. Tangannya bergerak, membalas pelukan si pucat tak kalah eratnya.

.

.

.

.

The power of love, is stronger than steel...—

.

.

.

.

Kedua tangan mungil gadis berambut hitam menenteng se-ember air kotor bekas membersihkan ruangan tempatnya berlatih drama tadi. Minggu ini sebenarnya bukan hanya dia saja yang mendapat piket untuk bersih-bersih, ada 2 orang teman namun semua beralasan ada kegiatan yang lebih penting. "Huh, bilang saja kalau mereka tidak mau membantu! Pakai alasan konyol pula!" gerutunya sambil berlalu. Ia ingin membuang air sisa tersebut di belakang gedung olahraga. Sekalian menyiram bunga yang ditanamnya di sana.

Suara debuman cukup keras menusuk telinganya di belokan sebelum sampai tujuan. Dilihatnya seorang siswa botak dan temannya berambut hitam sebahu sedang menyudutkan sosok pemuda berambut oranye terang.

"Sudah kubilang berkali-kali, kalau aku muak melihat warna rambutmu yang mencolok ini!" teriak salah satu siswa sambil mencengkeram erat kerah seragam si junior.

"Siram saja rambutnya dengan cat hitam Ginjou, beres kan?" saran si botak yang memegang pedang kayu yang berdiri di belakang.

Tamparan keras mendarat di pipi Ichigo, "Apa kau mendengarku bocah? Jika kau tidak merubah warna rambutmu, jangan salahkan aku kalau besok kau akan berkepala plontos seperti Ikaku."

"Aku tak mau merubah warna rambut kebanggaanku hanya karena perintah darimu," ucap Ichigo dingin. Tamparan tangan kiri sang kakak kelas kembali mengenai pelipisnya.

"Kau mau melawanku, heh? Ayo kita lihat seberapa kuat dirimu hingga berani menantangku!" murid berandal kelas 3 SMA itu melemparkan adik kelasnya hingga jatuh terduduk. Ichigo yang melihat Ginjou berjalan ke arahnya segera bangkit. Kedua orang itu pun terlibat pertarungan mempertahankan pendiriannya.

Ikaku diam saja menyaksikan perkelahian di depannya. Ia yakin temannya akan dengan mudah mengalahkan si rambut abnormal. Namun sayang sekali dugaannya salah. Setelah 5 menit berguling-guling di tanah dan saling pukul, hanya ada satu orang yang masih sanggup berdiri. Genggaman pada gagang pedang kayunya semakn erat. Ia mengangkat pedangn dan bersiap mengayunkannya pada belakang kepala orang yang berdiri membelakanginya.

Klontang!

Belum sempat otaknya merintahkan tangannya untuk bergerak, sebuah ember besi mengenai tepat kepala botaknya. Keras. Ia menoleh ke belakang dan mendapati seorang siswi mungil memandangnya dengan tatapan marah. "Botak sialan! Kalau kau ingin bertarung secara jantan, bukan dengan menyerang dari belakang bodoh!"

"Dan ini," Rukia mengangkat ember yang berada ditangannya dan menyiramkan air kotor ke tubuh teman se-angkatannya. "Itu bonus dariku!"

"Gadis sialan!" si botak berjalan ke arah Rukia yang kini memandangnya ngeri.

"Kyyyaaaa!" sekali lagi dengan sekuat tenaga, ia melemparkan ember besi ke arah Ikaku.

Wuushh...

Plaakk!

Dan... strike! Lemparan keduanya juga tepat mengenai muka preman sekolah dengan pantat ember menempel cukup erat.

Madarame Ikaku terdiam mendapati ciuman pertamanya untuk ember besi karatan. Ia merasa dunia serasa berputar lebih dari 7 kali, hidungnya mulai mengalirkan cairan berwarna merah. "Gadis... sialan..." itulah ucapan terakhirnya sebelum terjatuh dengan tidak elit.

"Ru-rukia..." Ichigo tergagap melihat hanya dengan 2 pukulan (atau lemparan) gadis mungil sanggup merobohkan Ikaku Madarame, salah satu pentolan grup yang tidak menyukainya.

"Hei! Sudah kubilang untuk memenggilku dengan 'nee' bocah nakal! Seharusnya kau berterima kasih padaku Ichigo, andai saja aku tak membantumu tadi, kau pasti sudah terkapar sekarang," Rukia berjalan mendekati adik kelas yang juga merupakan tetangganya.

"Ya ya ya, terima kasih banyak nee-san~" Ichigo menyeka darah yang mengalir di pelipis akibat pukulan dari Ginjou tadi.

"Apa masih terasa sakit?" siswi tingkat akhir tersebut ikutan menyentuh lebam di wajah Ichigo.

"Tidak jika kau mau mengobatinya Rukia-chan~"

Tubuh mungil itu berbalik dan berjalan meninggalkan pemuda berambut oranye. "Kenapa kau diam saja kalau kau mau aku mengobatimu? Ayo ikut!"

Senyum simpul menghiasi sudut bibir Ichigo yang sedikit robek. Hei, tak ada salahnya dan tak ada yang melarang untuk jatuh cinta pada gadis yang 2 tahun lebih tua darinya kan? Mungkin dengan usaha dan juga kesabaran mendekati Rukia yang buta akan masalah percintaan, ia akan mendapatkan balasan yang setimpal. Mungkin...

.

.

.

.

.

.

.

.

» SELESAI «


A/N: Umh, ini diambil dari dome scene untuk IH dan juga chapter 1 dan 477 untuk IR. Bukane mau men-discredit-kan Inoue, hanya saja karakternya kurang lebih memang seperti itu kan? *malah nanya*

Special thanks to: uzumaki kuchiki, Keiko Eni Naomi, life's really hard, hendrik widyawati, Aurora Borealix, Izumi Kagawa, Wishy-washy Nara, corvusraven, AlwaysIchiruki, Shinigami Teru-chan, Naruzhea AiChi, mr KRabs, darries, LeEdachi aRdian Lau, Voidy, miisakura, dan juga shinshi terima kasih banyak reviunya! XD

Mr KRabs: Belum end, masih ada idenya hanya saja aku bingung bikin scene-nya, T_T. Terima kasih reviunya! XD

darries: senpaaaaai, terima kasih idenya! :* aku beneran lupa kalo itu ada, hehehh. Dan terima kasih reviunya! =D

Voidy: u-um, itu memang karakter Rukia banget. Terima kasih reviunya! =D

Life's really hard: udah kuganti! Hahaha, malu banget ketauan salah, XD. Dan terima kasih reviunya! :*

miisakura: belum abis senpai, hanya saja aku bingung aja mau bikin scene yang beda tapi intinya tetap sama dengan canon-nya, judulnya udah siap cuman isinya masih kosong, hehehh. Terimakasih reviunya! XD

shinshi: belum kok, :). Berhubung kapasitas otak pas-pas'an jadi gini deh hehehh. Terima kasih reviunya! Oh, dan juga sarannya! Terimakasih! =D

Jadi seperti biasa, jika ada keluhan, saran, kritik, protes dan pertanyaan ataupun ide, silahkan sampaikan lewat kotak review di bawah dengan semangat! *sayatunggu~* XD

Review please~


Pertanyaan ke-galau-an: Apa menurut kalian nanti Ishida dan Ichigo akan saling membunuh?

p.s:

SS Arc= IchiRuki= squuueeaall! =D

HM Arc= IchiHime= Nuh uh

FB Arc= Ichigo= boring

Quincy Arc= IchiIshi= WhatTheFuuuun!? Son of Darkness X Prince of Light! XXDDD