Chapter II — Jejak Penculik

Napas Conan memburu. Cepat-cepat ia keluar dari rumahnya, menguncinya, dan pergi ke rumah yang berada tepat di sebelahnya. Rumah Profesor Agasa.

"PROFFF!" seru Conan sambil menggedor pintu rumah Profesor Agasa dengan panik.

Tak lama, sang Profesor keluar dari "persembunyiannya". "Loh? Shin-kun? Ada apa?"

"Gawat! Ran diculik!" seru Conan sambil berlari masuk.

"A-apa?!"

"Aku serius!" ujar Conan sambil menyalakan komputer sang Profesor. "Aku diberi waktu untuk menaruh uang lima juta yen di depan kantor Detektif Mouri sampai jam tiga nanti sore."

"Jam tiga?" gumam Profesor. "Itu empat jam dari sekarang!"

"Karena itulah, waktu kita tidak banyak," balas Conan. "Aku pinjam komputermu, Prof. Aku butuh internet untuk melacak mereka."

"Bagaimana kalau mereka yang... menculik pacarmu?"

Conan menoleh. "Ai-san? Siapa yang kau maksud dengan 'mereka'...?"

"Tentu saja si serigala hitam," jawab Ai dengan wajah menyeramkan. "Mungkin identitasmu sudah diketahui oleh mereka. Tidak hanya kau, tapi aku juga."

Conan mendecak. "Tidak, kuharap bukan," ujar Conan sambil memfokuskan diri terhadap komputer yang kini telah menyala. "Lagi pula, mereka tidak akan sebodoh itu menyuruh anak kecil menaruh uang lima juta yen di depan kantor seorang detektif yang sedang naik daun, bukan? Itu bukan cara mereka, Ai-san. Kau tahu itu."

Ai mengangguk. "Sepertinya, ini bukan mereka."

"Oi, oi," sela Profesor. "Kalian tidak berpikir bahwa organisasi hitam yang menculik Ran, kan?"

Ai menggeleng. "Orang-orang ini terlalu bodoh untuk menjadi anggota organisasi."

"Bagaimana kalau mereka berpura-pura?" tanya Profesor agak panik.

Ai menggeleng lagi. "Mereka tidak berpura-pura, mereka juga tidak akan sebodoh itu menggunakan ponsel gadis yang baru mereka culik untuk meminta tebusan. Mereka akan berusaha keras agar tidak meninggalkan bukti sekecil apa pun. Mereka akan menggunakan cara sekasar apa pun asal bisa menghilangkan bukti-bukti. Itu cara mereka."

Profesor mendesah lega. "Jadi... siapa yang menculik Ran?"

"Aku belum bisa pastikan itu," sahut Conan. "Tapi... tampaknya Ran disekap tidak jauh dari sini."

Ai dan Profesor buru-buru mendekati Conan. "Apa maksudmu? Dia ada di dekat sini?" tanya Ai heran.

"Ya."

"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Ai masih keheranan.

"Aku menggunakan aplikasi pelacak nomor ponsel dari internet," jawab Conan cepat. "Aku memasukkan nomor ponsel Ran dan titik merah inilah yang muncul. Artinya, Ran ada di sini. Atau... sebelumnya dia ada di sini."

"Apa maksudmu dengan 'sebelumnya', Shin-kun?" tanya Profesor heran.

"Mungkin saja para penculik itu sudah memindahkan pacarnya ke tempat lain," jawab Ai. "Kita tidak pernah tahu apa yang ada di pikiran para penculik seperti itu."

"Tepat," sahut Conan. "Dan Ai, tolong ya, Ran bukan pacarku."

"Menuju, kan?" balas Ai.

"Tidak," ketus Conan sebal.

"Sudah, sudah," lerai Profesor. "Lebih baik sekarang kita hubungi Kogoro-san sebelum—"

"Mereka melarang kita untuk menghubungi polisi. Jika kita menghubungi detektif, itu sama saja. Mereka bisa langsung membunuh Ran."

"Mereka kan, tidak akan tahu kalau kita menghubungi polisi, Shin-kun," ujar Profesor.

Conan menggeleng. "Entah bagaimana caranya. Tampaknya mereka cukup lihai."

"Kita butuh bantuan," tukas Ai. "Tidak mungkin hanya kita bertiga yang menangani penculikan ini."

"Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko masih di perkemahan?" tanya Conan pada Profesor.

Profesor menggeleng. "Karena kau batal ikut, mereka juga membatalkannya. Mereka tidak ingin pergi tanpamu."

Mata Conan berbinar-binar. "Kurasa, kita bisa meminta mereka memeriksa keadaan."

"Kau tidak akan menjerumuskan mereka dalam bahaya, kan?" tanya Ai khawatir.

Conan menggeleng. "Aku punya rencana bagus," katanya sambil meraih lencana detektifnya. Ia menekan satu tombol lalu berbisik pelan, "Halo, ini Conan. Kalian bisa mendengarku?"

xXx

"Genta di sini!" bisik Genta pada lencana detektifnya. "Aku ada di depan kantor Detektif Mouri dan aku tidak melihat siapa-siapa selain kakak yang mondar-mandir di depan Kafe Poirot."

"Seperti apa kakak itu, Genta?" balas Conan di ujung sana.

"Tinggi, kulitnya putih, rambutnya dicat merah, pakai celana jeans, rambutnya dikuncir, bajunya—"

"Eh, maksudku, apa dia membawa sesuatu?"

Genta menggeleng. "Tidak ada selain ponsel."

"Oke, Mitsuhiko, bagaimana kondisi di tempat itu?"

"Mitsuhiko di sini," balas Mitsuhiko pelan. "Aku ada di gudang Kota Beika 5 dan tidak menemukan sesuatu yang aneh. Kurasa, tidak ada orang di dalamnya. Aku juga sudah memastikannya dengan mengintip lewat jendela kecil yang ada. Di dalamnya tidak ada orang."

"Kau yakin?"

"Seratus persen, Conan!" jawabnya. "Di pintunya, ada jejak ban mobil dan beberapa orang dewasa. Sepertinya semua laki-laki. Dari jejaknya, tampaknya ada tiga atau empat orang."

"Jadi... tampaknya mereka menggunakan mobil?"

"Sepertinya begitu."

"Baik, terima kasih Mitsuhiko," balas Conan dari ujung sana a.k.a dari rumah Profesor Agasa. "Ayumi, kau ada di mana?"

"Ayumi ada di gudang monster yang waktu itu!" jawab Ayumi riang. "Sekarang, Paman pemiliknya sedang membukakan pintu gudang untuk Ayumi."

"Kenapa kau ke sana?"

"Tadi Conan bilang untuk mencari gudang yang kira-kira bisa jadi tempat persembunyian, kan?" balas Ayumi. "Karena itulah, Ayumi pergi ke sini. Mungkin saja di dalamnya ada sesuatu."

"Lalu? Kau menemukan sesuatu?"

"Paman, tolong bentuk kanji air di sini!" pinta Ayumi pada Paman pemilik gudang ini. "Eh, Ayumi mau memeriksa atap dulu. Siapa tahu, para penculik bersembunyi di sana."

"Terima kasih, Ayumi. Hubungi aku terus."

xXx

"Gawat!" Conan kembali mengambil alih komputer milik Profesor dan mengetikkan beberapa angka dan huruf pada aplikasi yang ada.

"Ada apa?" tanya Ai heran.

"Mereka sudah pindah! Gudang itu kosong sekarang!" jawab Conan sambil memelototi monitor di depannya.

"Kalau begitu, kau tidak bisa melibatkan anak-anak itu lebih jauh lagi," ujar Ai. "Mereka cuma anak kelas satu SD."

Conan mengangguk. "Ah, mereka masih berjalan dengan mobil."

"Apa?"

"Lihatlah," kata Conan sambil menunjuk sebuah titik yang terus bergerak. "Satu kesalahan yang sangat fatal, mereka membawa ponsel itu. Kita jadi dapat dengan mudah melacaknya."

"Mereka bergerak menuju sekolahmu, Kudo-kun," ujar Ai sambil terus memerhatikan monitor tersebut.

"Kau harus mengejarnya, Shinichi-kun!" ujar Profesor. "Ran-chan bisa saja dalam bahaya!"

"Dia memang sudah berada dalam bahaya sejak tadi," dengus Conan. "Aku pergi sekarang. Hubungi aku lewat lencana detektif kalau-kalau mereka berpindah tempat lagi."

"Hai!"

xXx

Conan mempercepat langkahnya menuju SMU Teitan. Peluh sudah menghiasi wajahnya yang lelah akibat terus berlari. Tapi... sejauh apa pun ia berlari, meski harus ke ujung dunia, kalau untuk menyelamatkan Ran, ia rela.

Ia berhenti sejenak di depan gerbang SMU Teitan yang pada hari Minggu ini tentu saja ditutup. Setelah mengatur napas, Conan mengambil lencana detektifnya lalu menekan sebuah tombol sambil berbisik, "Aku ada di SMU Teitan. Doakan aku."

"Ganbatte, Conan-kun! Ayumi di sini," balas Ayumi dari "gudang monster".

"Aku masih di gudang Kota Beika 5," sahut Mitsuhiko. "Tidak ada yang kembali ke sini, Conan-kun. Sepertinya mereka memang ada di SMU Teitan."

"Aku sudah menaruh tas tipuan di depan kantor Detektif Mouri, Conan-kun," kata Genta.

"Hati-hati, Shin-kun!" pesan Profesor Agasa via lencana detektif Ai.

Conan mendengus. Profesor..., batinnya dalam hati.

"Shinichi-kun?" Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko bertanya kompak.

"Maksudnya tikung," jawab Ai santai. "Hati-hati di tikungan, begitu maksudnya."

"Ya sudah! Hati-hati, Conan-kun!" pesan Ayumi.

"Ya, ya, arigatou minna," ucap Conan. "Jangan hubungi aku kecuali jika aku yang menghubungi kalian, paham?"

"Yaa!"

"Aku masuk sekarang. Jangan hubungi aku."

Setelah menyelipkan kembali lencananya di pakaiannya, Conan melangkah masuk ke dalam area SMU Teitan. Sekolahnya... ralat, ex-sekolahnya ini sangat dia rindukan... tiba-tiba saja ia bisa membayangkan teman-temannya berlalu-lalang sambil bercanda, mengobrol, tertawa, saling mengejek, atau sekedar berjalan bersama dalam diam. Sungguh, Conan alias Shinichi sangat merindukan saat-saat seperti itu.

Ia juga selalu ingat ketika Ran menghampiri rumahnya di pagi hari dan mengajaknya berangkat sekolah bersama. Ia selalu ingat ketika Ran menekan bel pintunya berulang-ulang dan membuatnya kesal setengah mati. Ia akan membentak Ran tepat ketika ia baru membuka pintu. Ran tampak terkejut—tentu saja! Apa yang diharapkannya dari orang yang dibentak gara-gara menekan bel pintu terus menerus?—tapi ia berusaha bersikap tenang. Untungnya, Ran tidak melancarkan tendangan atau pukulan karatenya terhadap Shinichi. Kalau sampai terjadi, Shinichi tidak tahu dirinya akan berada di mana sekarang. Tendangan dan pukulan Ran memang tidak dapat diprediksi.

Di perjalanan pulang, Ran selalu menginterogasinya mengenai segala macam seputar Sherlock Holmes atau kasus yang baru-baru ini ia tangani. Eh, lebih tepatnya, Shinichi lah yang membanggakan diri dengan menceritakan hal-hal sejenis itu pada Ran. Ran sering memasang wajah tertarik, bosan, kesal, atau datar. Kadang juga Ran bertanya mengenai hal-hal yang bisa dikategorikan sebagai hal yang "agak" tidak mungkin meski sebenarnya tidak ada yang salah dari semua pertanyaannya. Sampai saat ini, hanya Ran yang setia mendengarkan semua cerita Shinichi dari awal sampai akhir. Shinichi baru menyadari bahwa ia sering bersikap tidak adil pada Ran karena tidak kunjung menyadari perasaannya. Saat menjadi Conan, barulah ia menyadari bahwa Ran sangat menyayangi dirinya.

Dan kini, ia tidak boleh membiarkan orang yang menyayanginya itu hilang dari dunia ini.

Tidak sebelum aku dapat menyatakan perasaanku yang serupa padanya, pikir Shinichi alias Conan atau siapa pun itu sambil terus berjalan menyusuri lingkungan SMU Teitan.

Pikirannya tak bisa lepas dari bayangan bahwa Ran sedang dibius dalam keadaan tangan dan kaki terikat. Ran tergeletak tak berdaya... Ran sebentar lagi akan dibunuh... hanya Ran, Ran, dan Ran yang ada dalam pikirannya. Entah sampai kapan para penculik amatir itu akan mempertahankan nyawa Ran sebelum memutuskan untuk mengakhiri hidup Ran. Pokoknya, sebelum itu terjadi, Conan harus menyelamatkan Ran atau ia akan terlambat. Untuk selama-lamanya...

xXx

Kogoro tengah menikmati siang yang santai itu dengan meminum kopi sambil menonton acara Yoko Okino, artis favoritnya, di channel TV Nichiuri. Aaah, desahnya dalam hati. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada menghabiskan hari Minggu yang santai ini dengan menonton acara Yoko. Hari bebas kasus dan bebas anak-anak. Hihihi...

Di tengah pemikirannya yang "menyebalkan" itu, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka dan menimbulkan bunyi yang tidak pelan. Kogoro terpaksa mengalihkan perhatiannya pada pintu tersebut. Siapa yang mau mengganggu hari liburku?!

"Ojiisan! Ojiisan!" seru Genta heboh ketika memasuki kantor Detektif Mouri.

"AAAH! ANAK NAKAL! Kau merusak acara Yoko-ku tersayang! Lihat! Dia sudah selesai!" seru Kogoro kesal sambil menunjuk TV dengan wajah sesedih dan sekesal mungkin.

"Ojiisan bicara apa, sih?" tanya Genta polos. "Oh! Ojiisan! Aku punya berita penting!"

"Kalau beritamu hanya tentang kucing tetangga yang hilang atau bayanganmu mengenai monster jahat yang menyerbu Tokyo atau mayat khayalanmu, aku tidak mau mendengarmu," ujar Kogoro sambil melanjutkan aksi "pundung"-nya terhadap Genta.

"Ojiisan seperti anak kecil," komentar Genta sebal.

Yang anak kecil kan, kamu, pikir Kogoro sebal. "Ya, ya, ada berita penting apa?"

"Kasus penculikan, Ojiisan!"

"Oke, oke, siapa yang diculik dan siapa penculiknya?" tanya Kogoro malas.

"Kalau aku tahu siapa penculiknya, untuk apa aku melapor padamu, Ojiisan?"

Kogoro menghembuskan napas kesal. "Kalau kau tidak menyelesaikan laporanmu sekarang, aku tidak akan mendengarkanmu lagi."

Genta membelalak. "Ojiisan! Aku tidak berbohong! Sungguh!"

"Cepat selesaikan laporanmu!"

"Ran Oneesan diculik, Ojiisan! Sekarang, Co—"

"Ran-chan diculik?!" potong Kogoro cepat dan panik. "Sekarang dia ada di mana?!"

"Sebaiknya, Ojiisan menghubungi Ai-san dan Profesor Agasa lewat lencana ini," kata Genta. "Biar aku saja yang melakukannya. Kau hanya akan merusak."

"Anak nakal...," geram Kogoro. "Cepatlah!"

"Ya, ya," balas Genta sebal. "Ai-san? Profesor?"

"Ini Ai, Genta-kun," jawab yang di seberang sana alias Ai Haibara. "Ada apa?"

"Bisakah kau memastikan posisi Ran Oneesan sekarang?" tanya Genta. "Aku barusan melapor pada Kogoro Ojiisan dan dia memintaku melakukannya."

"Oh, baiklah," jawab Ai. "Tunggu sebentar... ia masih di SMU Teitan, kok."

"Dengar itu, Ojiisan?" tanya Genta pada Kogoro. "Ran Oneesan masih di SMU Teitan!"

"Kalau begitu, kau ikut aku sekarang!" ujar Kogoro sambil merapikan rambutnya dan menarik Genta. "Kita pergi ke SMU Teitan!"

"Hah?"

Bersambung...