Differences

Disclaimer: Milik Kubo-sensei

Title: Differences

Subtitle: Privacy

Warning: Deskripsi minim bin payah, AU(?), typo(s), try not too OoC, die hard IchiRuki fic!

Special Warning! Cerita ini BUKAN untuk IchiHime shipper! Jika Anda salah satu dari mereka, lebih baik TEKAN TOMBOL BACK! Saya tidak mau ada yang sakit hati setelah membaca imajinasi paling liar saya ini. . . Terima Kasih Banyak Sebelumnya ^_^


ICHIHIME SHIPPER, CLICK BACK IMMEDIATELY

»«

.

«»
.

Mata dengan iris kecokelatan itu masih setia terbuka meski sudah belasan atau mungkin puluhan kali ia coba untuk menutupnya. Ia miringkan tubuhnya ke samping kiri, dan memeluk guling— mencoba mencari posisi yang nyaman. Selang 5 menit kemudian rasa kantuk yang biasanya telah menguasainya sejak 4 jam yang lalu, kini seolah enggan menghampirinya.

Tangan kanannya terangkat, mencoba meraih sesuatu di atas meja. Benda persegi berwarna hitam ia tekan tombol kunci dan langsung memancarkan cahaya di tengah suasana gelap dalam sebuah kamar.

17 Juni.

Ahh, ya pantas saja ia masih terjaga sampai dini hari seperti ini. Geraman lirih lolos dari tenggorokannya, meski sudah terlewat 11 tahun, perasaan pada saat itu tak akan pernah bisa terkikis oleh rentang waktu. Kejadian ketika—

"Kau belum tidur?"

Suara serak setengah berbisik dari arah belakang membuat pikirannya kembali ke bumi. "Belum. Maaf membangunkanmu," pria itu kemudian berbalik, menatap wanita yang baru 1 tahun menjadi pasangan mengarungi bahtera rumah tangga. Wajah sayu dengan kelopak mata yang kembali terpejam ditangkap manik cokelat madunya ketika ia sudah berhadapan dengan sang isteri. Hembusan napas panjang dan lelah samar terdengar keluar dari mulutnya. Haruskah ia katakan hal ini padanya?

...

Sejak 10 menit yang lalu, tangan kiri pria yang kini telah memakai pakaian yang rapi tersebut masih menopang bagian tulang pipi. Tangan kanan mengaduk-aduk malas sarapan yang telah disediakan sang isteri beberapa saat yang lalu. Pikirannya kembali tidak fokus pada makanan di hadapannya ini. Samar-samar ia mendengar suara isterinya yang mengoceh seraya sibuk membereskan dapur yang cukup berantakan.

Ia mengusap-usap wajahnya kasar. Mungkin hanya tertidur kurang dari 2 jam membuatnya sedikit gila pagi ini. Dengan lesu, ia bangkit dari tempat duduknya dan segera memasang sepatu hitam yang telah disikat hingga mengkilat. "Aku berangkat," ia berpamitan dengan nada suara malas. Makanan yang susah payah dibuatkan untuknya tidak ia masukkan sesuap pun ke dalam mulut.

"Iya! Hati-hati—"

Blam

"... di jalan," wanita berambut panjang dengan bentuk tubuh yang mampu membuat mata laki-laki tidak berkedip itu menggelembungkan pipinya. Sang suami ternyata tidak menunggunya untuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum berangkat. "Selalu saja bersikap seperti ini setiap tahun semenjak kita bertemu..." gumamnya pada dirinya sendiri.

Orihime mengenal Ichigo saat mereka kuliah 6 tahun yang lalu. Selama 4 tahun, ia tidak pernah menyerah untuk mendapatkan perhatian dari sang pujaan hati. Sebenarnya ia ingin bertanya mengenai hal ini sejak dulu, tapi ia tidak memiliki keberanian untuk melakukannya. Wanita yang terlahir 24 tahun lalu itu tahu, karena sangat sering mengamati tingkah polah dan kebiasaan Kurosaki sulung sejak mereka berkenalan, ada yang tidak beres dengan tanggal 17 Juni dalam kehidupan pria itu. "Ahh, apa sebaiknya aku bertanya pada Tatsuki-chan saja ya..."

...

Sepasang sahabat terlihat bercengkerama dengan riang disalah satu sudut meja di sebuah kafe. Perbedaan warna rambut yang sangat mencolok membuat perhatian pengunjung sering mereka dapatkan. Segelas jus alpukat dan sepiring cheescake untuk wanita bersurai hitam. Sedangkan Inoue memesan spring roll dengan isi pasta kacang merah dengan jus jambu sebagai minumannya.

"Saat itu aku yang membantunya membawa ke rumah sakit terdekat. Meskipun tidak terlalu keras benturannya, darah yang keluar banyak sakali!" wanita berambut hitam panjang itu bercerita dengan semangat. "Tapi sayang, tidak lama setelah sampai di rumah sakit kemudian dia tewas," ia mengakhiri ceritanya tentang apa yang terjadi 11 tahun lalu.

"Jadi karena itulah Ichigo selalu bersikap seperti itu setiap tahunnya, Orihime," Tatsuki menyesap minuman yang tinggal setengahnya. "Aku heran, kenapa kau tidak menanyakannya langsung padanya? Kalian kan sudah menikah setahun belakangan ini."

Orihime tersipu malu, dan hanya bisa menggaruk bagian belakang kepalanya. "Ahaha itu karena aku—" ucapannya terhenti di kerongkongan saat ia melihat mobil sang suami melintas pelan di depannya. "Ah! Itu mobil suamiku!" dengan cekatan, ia ambil beberapa lembar uang dari dalam tas-nya dan segera beranjak pergi meninggalkan Tatsuki. Berlari keluar dan mengejar mobil hitam yang ia yakini sebagai kendaraan Ichigo.

Sekitar 5 menit mengejar, mobil hitam mengkilap tersebut berhenti tepat di ujung gang sempit. Seorang pria dengan rambut mentereng keluar dari bagian kemudi dan berjalan memasuki jalanan sempit. Lama ia menatap bangunan rumah sederhana, masih ragu untuk melangkah masuk.

Ketika ia akan berbalik, sebuah pelukan mendarat di punggungnya. Sepasang tangan yang sangat ia kenal melingkr erat pada perutnya. "Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah tahu."

Ichigo tidak perlu bertanya dari siapa Orihime mengetahui rahasia kelam dalam hidupnya. Karena selama 11 tahun ini hanya keluarganya dan Tatsuki saja yang tahu, menginngat ia dan wanita tomboy tersebut bertetangga dan telah berteman semenjak masih mengenakan popok.

"Aku.. akan menemanimu masuk ke dalam," tanpa perlu meminta persetujuan dari Ichigo, Orihime menarik paksa tangan kekar lelaki yang semakin dalam mengkerutkan dahinya.

Tidak tahukah wanita itu, jika Ichigo ingin menyelesaikan masalahnya seorang diri, tanpa campur tangan orang lain? Tidak tahukah Orihime jika ada suatu hal yang tidak harus diketahui pasangan ketika hal itu menyangkut masalah yang sangat pribadi? Tidak tahukah ia, jika seseorang tidak boleh melewati suatu batas yang telah dibuat agar tidak sembarang orang bisa seenaknya masuk? Suatu garis batas yang disebut privasi.

.

.

.

.

I have no right to know. I will wait, when you want to talk to me. Until that time, I will wait... —

.

.

.

.

Suasana hening sebuah kamar yang remang-remang, terganggu dengan geraman dan gerakan gelisah dari salah satu penghuninya. Napasnya cepat dan tidak teratur. Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitnya.

"Ichigo... Ichigo..."

Guncangan pada bahu dan pipi berkali-laki Rukia lakukan untuk membangunkan suaminya dari mimpi buruk yang sedang dialami. Dengan napas yang masih tersengal dan piyama yang menempel pada kulit tubuh, pria berambut oranye terang akhirnya membuka mata. Rukia dengan sigap segera mengambilkan segelas air putih yang selalu mereka siapkan di atas meja samping ranjang. "Kau mimpi buruk?"

Ichigo menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, sebelum menerima sodoran gelas dari isterinya. Seisi gelas langsung berpindah masuk ke dalam lambungnya. "Iya, aku mimpi buruk."

Tangan mungil Rukia mengelus lengan suaminya lembut, "Jangan terlalu dipikirkan Ichigo, itukan hanya mimpi," wanita yang telah menjadi nyonya Kurosaki selama kurang dari setahun itu merebahkan tubuhnya kembali. Diikuti Ichigo. "Nah, sekarang kembalilah tidur. Masih 3 jam sebelum matahari bangun."

'Hanya mimpi ya...' batin Ichigo seraya menerawang. 'Yah, seandainya itu hanya mimpi yang selalu mengahantuiku selama 9 tahun ini.'

...

Suara sendok yang beradu dengan piring terdengar di ruang makan sederhana di apartemen yang ditinggali sepasang suami-isteri. Mereka hanya berkenalan selama 6 bulan sebelum akhirnya memutuskan menikah.

Sarapan yang biasanya sudah habis dalam beberapa menit, kini masih tersisa lebih dari setengahnya di mangkuk Ichigo. Pikirannya selalu tidak tenang jika hari ini sudah tiba. Tepat 9 tahun lalu ia—

Genggaman tangan yang mungil dan terasa halus membuyarkan lamunannya. Digelengkan kepalanya beberapa kali untuk menghapus pikiran yang sedari tadi masuk ke dalam otaknya, dan mencoba mengalihkannya pada sosok Rukia yang memandangnya khawatir.

"Kau baik-baik saja Ichi? Wajahmu terlihat sedikit pucat," kini telapak tangan yang hangat menyapa permukaan pipinya.

Ichigo mencoba mengembangkan senyumnya yang ia rasa sangat berat terbentuk. "Ahh, aku baik-baik saja."

"Kau bisa menceritakan padaku jika kau punya masalah sayang..." tatapan iris ungu wanita muda berusia 23 tahun semakin melembut melihat Ichigo yang tidak seperti biasanya yang keras dan sering menggodanya.

Kepala oranye menggeleng pelan, "Tidak apa-apa Rukia. Ini... bukan masalah yang besar."

"Baiklah kalau begitu. Tapi jika suatu saat kau ingin membicarakannya padaku, aku bersedia menjadi pendengar yang baik. Sampai saat itu tiba, aku akan menunggu. Dan tidak akan pernah memaksamu untuk mengatakannya."

Ichigo terdiam mendengarnya. Memang ia tidak pernah menceritaan kejadian itu pada siapapun. Kecuali keluarganya dan Arisawa Tatsuki yang kebetulan lewat di jalan yang sama. Tapi sepertinya ia mempunyai seorang lagi yang dapat ia percaya dan menjadi tempat keluh kesahnya. Senyum kecil mulai mengintip dari sudut bibirnya.

"Dulu aku pernah menabrak seseorang hingga tewas..."

Informasi yang barusan masuk ke dalam gendang telinga Rukia membuat wanita mungil tersebut tidak bisa menahan ekspresi kagetnya. Iris violet melebar dengan mulut yang terbuka.

"...11 tahun lalu saat aku pertama kali menaiki sepeda motor. Aku tidak bisa menyalahkannya yang berjalan sedikit ke tengah jalan raya, karena pada saat itu aku juga memacu motor dengan cukup kencang saking senangnya dapat mengendarai motor," Ichigo diam dan mengambil napas sebentar. "Aku melihat Tatsuki yang baru pulang latihan karate dan meminta bantuannya untuk membawa bocah yang kutabrak ke rumah sakit terdekat."

Tangan mungil Rukia yang sejak tadi digenggam suaminya merasa remasan yang semakin erat. Wanita itu tahu, jika ini adalah hal terberat yang harus diceritakan Ichigo. "Kalau kau belumm siap, jangan memaksakan dirimu Ichi..."

Ichigo lagi-lagi menggeleng, "Tapi sayangnya tidak sampai 1 jam kemudian dia... pergi..." kepala oranye semakin tertunduk dalam.

"Jangan terlalu menyalahkan dirimu seperti ini sayang... bukankah kau juga bilang jika anak yang kau tabrak tadi terlalu masuk pada jalur motor?" ucap Rukia mencoba menghapus sedikit rasa bersalah dalam hati suaminya.

"Tapi tetap saja aku yang menabraknya Rukia!"

"Dengar Ichigo, kematian bukanlah sesuatu yang dapat manusia tentukan. Meskipun kau menabraknya hingga terpelanting jauh, jika ia belum ditakdirkan meninggal oleh Kami-sama, maka dia akan tetap hidup sampai saat ini. Jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri."

"Tapi—"

Protes si strawberry terhenti ketika jari telunjuk Rukia mengunci bibirnya. "Yang paling penting, kau tidak lari dari tanggung jawab dan membawanya ke rumah sakit secepat yang kau bisa. Aku yakin, keluarganya juga sudah merelakan kepergian salah satu anggota keluarganya."

"Keluarganya ya..."

"Kenapa? Kau sudah meminta maaf pada mereka kan?" tanya Rukia curiga.

"Ka-karena saking takut, aku tidak berani menemui mereka. Jadi oyaji dan kaa-san yang menyampaikan permintaan maaf," Ichigo melihat tatapa mata wanita di depannya berubah tajam, "La-lagipula aku langsung demam selama seminggu setelah kejadian itu!" tambah pria berumur 24 tahun cepat.

Rukia menyilangkan kedua tangannya di depan dada kecilnya dan menyenderkan punggung di sandaran kursi, "Suatu saat kau harus menemuinya Ichigo."

"Aku tahu."

...

Langit senja yang kemerahan diselingi semburat warna abu-abu pekat menghiasi pamandangan cakrawala sore hari itu. Kaki-kaki mungilnya melangkah mendekati halte bus yang akan membawanya kembali ke rumah sederhana, tempat tinggal nyamannya bersama sang suami. Di tangannya tergantung beberapa kantong-kantong belanjaan dari supermarket yang didatanginya 2 minggu sekali untuk membeli bahan-bahan pokok.

Ketika ia sedang duduk untuk menunggu bus yang selanjutnya datang, sebuah mobil hitam yang ia tahu milik suaminya melintas dari sisi jalan yang lain. 'Bukankah jalan ke rumah berlawanan?' tanyanya dalam hati. Ia masih memperhatikan mobil yang kini berbelok pada gang sempit.

Karena terlanjur penasaran, ia mengikuti kemana kendaraan kesayangan suaminya pergi. Tepat beberapa meter dari bibir gang, mobil hitam terparkir rapi. Ia melihat sosok suaminya yang membelakanginya tengah berdiri di depan sebuah rumah sederhana. Sekarang manik ungu menangkap gambar suaminya yang berkali-kali membungkuk, seolah meminta maaf. Ia melangkahkan kakinya sedikit mendekat.

"Ahh, itu bukanlah kesalahanmu anak muda... cucuku sebelumnya memang sudah divonis dokter terkena kanker paru-paru dan juga jantungnya sangat lemah. Bahkan ia diprediksi tidak akan bertahan sampai ulang tahunnya yang ke-7. Tapi ucapan dokter itu salah, buktinya ia masih bisa bertahan lebih lama, meskipun hanya 2 hari," kakek tua itu tertawa lepas,memperlihatkan barisan gigi depan yang masih kokoh dan kuat. "Jadi, kami sekeluarga tidak menyalahkan siapapun dalam hal ini. Kau tenang saja! Hahaha!" ia menepuk-nepuk lengan Ichigo cukup keras.

Rukia tersenyum tipis melihat keberanian Ichigo yang akhirnya keluar. Ia berbalik melangkah pulang. Ahh, mungkin i harus memberi kejutan untuk strawberry tercintanya. Sebuah makan malam romantis dan ditutup dengan menghabiskan malam panjang yang akan mereka lewati hanya berdua. Itu... bukan ide yang buruk, kan?

.

.

.

.

.

.

.

.

» SELESAI «


A/N: Sebelum ada yang bingung kenapa Ichigo mempunyai 2 isteri, 2 kejadian di atas sama sekali tidak berhubungan. Ichigo saat bersama dengan Inoue dia tidak mengenal Rukia. Begitu juga ketika dia dengan Rukia, Inoue tidak ada di dalam kehidupannya. Di cerita ini hanya membandingkan berdasar canon mengenai cara Rukia dan Inoue menghadapi masalah(?) yang dialami oleh Ichigo.

Dan scene yang diambil di chapter ini, obviously, Memories in the Rain dan juga saat Ichigo berlatih dengan para vizard. Rukia yang tahu dari mulut Ichigo sendiri tentang kematian ibunya dan tidak mencari keliling Karakura 'hanya' untuk menemui Ichigo saat berlatih dengan Shinji dkk. Dia percaya dengan apa yang Ichigo lakukan meski pergi diam-diam tanpa mengatakan apapun. Sedangkan Inoue dia tahu dari Tatsuki tentang Masaki, yang merupakan masalah yang tidak pernah diceritakan Ichigo pada siapapun. Seharusnya dia menghentikan Tatsuki untuk menceritakan lebih detil, dan menunggu Ichigo sendiri yang mengatakannya, karena itu adalah masalah yang sangat sensitif. Bagi sebagian besar IR shipper, Inoue dianggap telah melanggar garis privasi dari Ichigo, kalau menurutku sih juga begitu, hehehh ^^a. Dan Inoue juga tetap 'memaksa' masuk padahal sudah ada barrier yang dibuat Hacchi, dengan kata lain melarang semua jenis makhluk masuk ke dalam.

Mungkin ada yang tidak setuju tentang kalimat terakhir di bagian IH. Mungkin ada yang berteriak 'Sepasang suami isteri harus terbuka dan jujur pada pasangannya!' itu benar, hanya saja menurutku seseorang tidak harus menanyakan pada orang lain tentang masalah suaminya kan? Lebih baik mendengarkan dari mulut pasangan daripada dari orang lain. Mungkin suami atau isteri punya alasan sendiri kenapa mereka belum atau tidak bilang pada pasangannya. Like Rukia said: I will wait until you talk to me, XD

Dan kenapa suami-isteri? haha itu permintaan Keiko-san, ^^a. Semoga ngga ada yang protes yah, XD

Special thanks to: LeEdacHi aRdian Lau, Keiko Eni Naomi, Aurora Borealix, uzumaki kuchiki, hendrik widyawati, Naruzhea AiChi, Izumi Kagawa, Anemone Jie, r, life's really hard, Voidy, Wishy Nara, darries, Hiruma Enma 01, dan juga Fuuchi. Terima kasih banyak reviunya! *hug* XD

uzumaki kuchiki: hahaha masi yang akun yang lawas, XD. Yup Inoue emang bisa bikin IR geleng-geleng kepala... sedikit... nyebelin *digorokInoueFC* XD. U umh, yang kemaren romens-nya absen, hehehh. Terimakasih reviunya Azu~

Anemone Jie: hahaha, iya... shipwar yang seru diantara IR dan IH ^^a. Saling lempar argumen, pembelaan dan saling menjatuhkan. Berasa seperti di persidangan waktu baca argumen yang ada. Lebih seru malah, XD. Terima kasih reviunya senpai! =D

r: wah maaf buat kamu bingung yah. Penjelasan pertanyaanmu ada di atas. Dan kalo masih bingung silahkan tanya lagi, ^_^. Terimakasih reviunya senpai!XD

Voidy: iye, ame Ulqui-kun... tapi sayang udah tewas, T_T. Tapi masih ada Ishida, jadi ngga masalah, hehehh. Terimakasih reviunya senpai! :*

darries: hahaha, sepertinya kamu ngga suka sama Inoue yah, XD. Dan terimakasih reviunya senpai! XD

Fuuchi: aah, kalo aku suka yang chapter Rain, ^^a. Waah, malah baca FF dulu baru jadi IR shipper ya? Emang FF bikin kita semakin tergila-gila sama IR! XD. Yang penting ngga gila beneran ajah, *slap* XD. Dan terima kasih reviunya! Maaf ngga bisa kilat updatenya!

Oh ya, maaf kalo cerita diatas gaje bin abal, m(_ _)m

Dan jika ada uneg-uneg, saran, kritik, umpatan, cacian, silahkan dikirim lewat kota kecil reviu di bawah, ^_^... umh, mungkin ini chapter yang terakhir hehehh. Sepertinya aku sudah mulai kesulitan untuk nemuin perbedaan yang laen. Tapi jika nanti ada ide lagi, pasti akan kubuat yang lain kok...

Terima kasih sudah berkenan membaca sejauh ini. Bagi yang mem-fav dan mem-follow terima kasih. Bagi yang nyumbang reviu juga terima kasih banyak! *hug* XD

Soo, untuk yang terakhir review pleaseee~

—berry