Yah... sebelum mulai ceritanya, saya mau membalas satu review dari "guest" dulu xD entah siapa dia... yang jelas, saya balas di sini .w.)/
guest: wah, arigatou komentarnya x3 soal Ai yang manggil Genta... mungkin memang seharusnya "Kojima-kun", ya? memang salah saya :D sumimasen... *bungkuk bungkuk*
Nah, selamat membaca! Gomen, typo... x3
Chapter III — Seseorang Di Bawah Tangga
Conan terus berlari menyusuri koridor demi koridor SMU Teitan. Ia tahu Ran ada di dalam, tapi ia tidak tahu tepatnya di mana. Ia sudah memberi "kunjungan" kecil ke kelas-kelas mulai dari kelas satu sampai tiga, ruangan-ruangan tambahan seperti ruang kesehatan, ruang seni, ruang musik, ruang klub-klub SMU Teitan, dan berbagai ruangan lainnya. Ia juga sudah menyusuri tiap lorong di perpustakaan. Tapi apa hasilnya?
Nihil.
Conan tidak menemukan Ran di mana pun. Tidak juga di lapangan olahraga indoor milik sekolah. Hampir tidak ada orang di SMU Teitan hari ini. Tentu saja. Siapa pula yang mau berbaik hati mengunjungi sekolah tercintanya di hari Minggu yang bahagia seperti ini? Hanya Conan satu-satunya murid "teladan" yang berbaik hati menyusuri tiap koridor sekolah ini pada hari Minggu. Bukan untuk mengenang masa-masa SMU-nya, melainkan untuk mencari Ran. Bukan rasa rindu yang membuat dirinya ada di sini sekarang melainkan karena Ran. Ran, Ran, Ran, Ran, Ran, pikir Conan terus menerus. Oke, mungkin orang-orang akan menyangka ia tidak waras. Bukankah aneh, anak berusia tujuh tahun yang bahkan belum lulus SD bisa memiliki perasaan sedalam itu?
Tidak aneh bagi Conan, tentu saja. Karena pada dasarnya, dia bukan anak berusia tujuh tahun yang belum SD melainkan seorang detektif SMA berusia tujuh belas tahun yang sangat terkenal di Jepang. Gara-gara obat itu...
Sungguh, Conan ingin menghabisi mereka saat ini juga.
Organisasi yang membuat tubuhnya mengecil.
Obat aneh buatan ilmuwan mereka yang tidak jelas maksud dan tujuannya apa.
Kumpulan manusia berdarah dingin yang mengancam nyawa orang-orang yang disayanginya.
Sial, ia ingin menumpas habis organisasi itu sampai ke akar-akarnya.
Ia hanya belum tahu caranya.
"Kudo-kun, Kudo-kun," panggil Ai dari lewat lencana detektifnya. "Ada hal penting mengenai pacarmu."
Conan mendecak sebal. "Bukankah sudah kubilang untuk tidak menghubungiku kecuali kalau aku menghubungimu?"
"Sumimasen, tapi ini benar-benar penting."
"Hai, tapi... bagaimana dengan tiga anak itu? Bisa-bisa mereka mendengarmu bilang 'Kudo' lewat lencana ini."
"Iie, mereka ada di sini sekarang. Profesor sedang mengurusi mereka," jawab Ai. "Mereka mulai bergerak lagi, Kudo-kun. Asal kau tahu, tadi mereka menetap di gudang SMU Teitan. Sekarang mereka menuju... entah ke mana, yang jelas, masih di area SMU Teitan."
Conan terdiam. "Beri tahu aku lebih lanjut."
"Masih belum jelas...," balas Ai. "Oh, mereka menuju ruang—"
"Hoy, gadis rambut coklat! Apa yang sedang kau hubungi adalah si anak berkacamata itu?"
Alis Conan terangkat sebelah. Kogoro Ojiisan? pikirnya heran. Apa yang sedang dilakukannya di rumah Profesor Agasa?
xXx
Kogoro tiba di rumah Profesor Agasa sekitar setengah jam yang lalu. Awalnya, ia hanya berniat mengantar si bocah gemuk nan besar bernama Genta Kojima ini. Ia juga berniat bertanya pada Profesor Agasa mengenai putrinya yang dikabarkan terlibat dalam penculikan. Oh, bukan hanya terlibat melainkan menjadi korban!
Ketika sedang mengobrol dengan Profesor Agasa, Kogoro melihat seorang gadis berambut coklat—yang pernah dikenalkan oleh Profesor Agasa sebagai Ai Haibara, kalau dia tidak salah ingat. Gadis berambut coklat itu sedang sibuk berbicara dengan lencananya. Kogoro menyimak obrolan gadis itu baik-baik.
"... kun. Asal kau tahu, tadi mereka menetap di gudang SMU Teitan. Sekarang mereka menuju... entah ke mana, yang jelas, masih di area SMU Teitan."
"Beri tahu aku lebih lanjut."
Kogoro mendengar suara seseorang dari lencana gadis itu. Jelas sekali itu suara laki-laki, bukan suara gadis itu. Lalu siapa? Apakah bocah berkacamata itu? Conan Edogawa?
"Masih belum jelas...," balas si gadis rambut coklat pelan. "Oh, mereka menuju ruang—"
"Hoy, gadis rambut coklat! Apa yang sedang kau hubungi adalah si anak berkacamata itu?" potong Kogoro sekaligus bertanya pada Ai.
Gadis rambut coklat alias gadis yang disebut-sebut sebagai Ai Haibara itu menoleh menatap Kogoro. "Maksudmu Conan Edogawa?"
"Siapa lagi?" balas Kogoro sebal. "Tanyakan padanya, di mana putriku?!"
"Dia tidak akan tahu," jawab Ai. "Aku yang tahu."
"Bagaimana kau bisa tahu? Kau hanya gadis kecil," kata Kogoro setengah meremehkan. "Sama seperti si bocah berkacamata yang sering merasa dirinya adalah detektif hebat sepertiku."
"Edogawa-kun ada di SMU Teitan," jawab Ai. "Sama seperti putrimu. Ia disekap di sana."
Kogoro terdiam. "Benarkah itu, bocah kacamata?"
"Hai, Kogoro Ojiisan," jawab Conan yang kini berada di SMU Teitan. "Aku akan berusaha mencari Ran Oneesan sampai ketemu, aku janji."
Kogoro terdiam lagi. "Aku akan ke sana."
Ai menatapnya horor. "Tidak, Ojiisan. Sebaiknya kau tetap di sini. Biarkan Edogawa-kun yang menyelesaikan semuanya."
"Aku akan ke sana sekarang," kata Kogoro cepat sambil mengambil jasnya segera. "Tuan Profesor, terima kasih sudah menampungku di sini. Sekarang, aku harus pergi."
"Ke mana, Mouri-san?" tanya Profesor heran.
"SMU Teitan, menjemput anakku."
"Menjemput Ran-chan?" ulang Profesor. "Jangan! Biarkan Shi—ah, Conan-kun yang menjemputnya! Sebentar lagi Ran-chan pasti selamat."
Kogoro mendengus. "Kau pikir aku akan membiarkan bocah berkacamata ingusan itu yang berusaha menyelamatkan anakku sendirian? Tidak, aku akan menyusulnya," kata Kogoro. "Hubungi aku lewat ponsel dan katakan ada di mana bocah itu sekarang. Aku harus pergi sekarang juga."
Pintu depan tertutup. Profesor Agasa dan Ai saling berpandangan. Profesor menggeleng cepat. "Tidak bisa dibiarkan. Aku akan berusaha menyusul Mouri-san. Ai-chan, usahakan agar Shinichi-kun menyelamatkan Ran-chan secepat mungkin!"
Ai mengangguk lalu kembali menghubungi Conan. "Kau dengar aku? Ayah pacarmu menyusul. Cepat selamatkan pacarmu sebelum ayahnya mengganggu."
xXx
Setelah menerima pesan singkat dari Ai lewat lencana detektifnya, Conan kembali menyusuri koridor demi koridor SMU Teitan. Kali ini, ia tahu apa yang ia tuju. Ia menuju gudang belakang sekolah, tempat favorit bagi para penjahat untuk menyembunyikan diri atau mayat. Tunggu... mayat?!
Conan mempercepat langkahnya. Benar juga, sekarang sudah pukul satu. Walau Genta bilang dia sudah menaruh tas tipuan di depan kantor Detektif Mouri, bisa saja para penjahat tidak tertipu. Bagaimana kalau mereka memutuskan untuk mengakhiri hidup Ran pada detik ini juga?! Conan merinding membayangkan kemungkinan yang ada. Ia tidak bisa berpikir jernih. Bayangan mayat Ran di dalam kepalanya terus menghantuinya seperti mimpi buruk. Conan berusaha menenangkan diri tapi ia tak bisa. Pikirannya panik.
Ia terdiam sejenak. Bukankah Kogoro Ojiisan ada di sini? Setidaknya, dia akan lebih berguna untuk Ran dibandingkan Conan. Conan hanya anak kecil berumur tujuh tahun yang dianggap belum lulus menulis kanji. Ah, sebaiknya ia menelepon polisi dengan suara Shinichi Kudo. Saat ini, hanya dia yang bisa.
Conan memilih untuk bersembunyi di balik tangga sekolah. Setidaknya, di tempat itu, suaranya tidak akan begitu terdengar. Tubuhnya juga akan sedikit tertutup tembok. Ia akan aman. Setidaknya, untuk sementara ini. Sampai polisi datang ke tempat ini, lebih tepatnya.
"Moshimoshi?"
"Inspektur, ini Shinichi Kudo," kata Conan sambil mengaktifkan mode suara Shinichi Kudo lewat dasi kupu-kupu pengubah suaranya.
"Shi-Shinichi?!" balas polisi yang ada di ujung sana alias Inspektur Megure. "Ada apa menelepon? Kasus?"
"Ran diculik, Inspektur," jawab Conan. "Dia ada di SMU Teitan sekarang."
"Tunggu, tunggu." Inspektur terdiam sejenak. "Kau bilang Ran diculik, tapi dia ada di SMU Teitan? Shinichi-kun, bukannya aku tidak mempercayaimu, tapi bagaimana bisa kau mengatakan itu penculikan kalau Ran ada di tempat di mana dia biasa berada?"
"Ran dibawa ke sini oleh sebuah komplotan, Inspektur," jelas Conan masih dengan suara Shinichi. "Lagi pula, apa Inspektur lupa? Hari ini hari Minggu."
"Lalu kenapa kalau hari ini hari Minggu?"
"Sekolah libur di hari Minggu, Inspektur."
"Oh, kau benar," balas Inspektur. "Baik, akan segera kukirim beberapa orang ke sana. Kau temukan mereka secepat mungkin ya, Shinichi-kun."
Conan tersenyum. "Baik, Inspektur. Arigatou gozaimasu."
"Hai," balas Inspektur sebelum menutup teleponnya.
Conan menghembuskan napasnya dengan lega. Setidaknya, sekarang polisi sudah mengetahui adanya penculikan di Beika dan akan tiba di tempat ini sesegera mungkin. Yang harus dilakukannya sekarang hanya mencari Ran dan komplotan itu.
"Sudah kuduga kau ada di sini, bocah."
Jantung Conan seolah berhenti berdegup. Siapa yang...? batinnya terus bertanya-tanya di sela-sela kepanikan yang melanda dirinya. Conan mendongak perlahan. Dilihatnya sosok besar, tinggi, dan hitam. Astaga, laki-laki! Penculik itu kah...?
Apa yang dilakukannya di sini? pikir Conan heran campur panik.
Bersambung...
