Chapter IV — Aksi Kogoro

"Tidak usah memasang wajah seram begitu," kata pria tadi. "Aku tidak semenyeramkan apa yang kau bayangkan, bocah."

Conan mengerjapkan matanya. Satu kali. Dua kali. Ia berusaha menebak wajah si "penculik" yang kini ada di hadapannya. Apakah jelek? Atau tampan? Jangan-jangan Ran justru tertarik padanya? Oh. Oh. Itu tidak boleh terjadi!

"Apa yang kau mau?!" Bentak Conan geram.

"Kau bicara apa, bocah? Di mana putriku?!"

Conan terdiam sejenak. "Kogoro Ojiisan?"

"Siapa lagi?!"

"Eeh... Sumimasen, Ojiisan. Kukira kau si penculik itu."

Kogoro mendecak. "Dasar bocah," geramnya pelan. "Sudahlah, di mana putriku?"

"Ran-chan?"

Kogoro menyipitkan matanya. Apa? Bocah ini bilang "-chan"? "Apa katamu?" Tanya Kogoro penuh selidik.

"Eeh, maksudku Ran Oneesan, Ojiisan... Sumimasen," ucap Conan pelan. "Aku belum menemukannya."

Kogoro mendecak lagi. "Gadis rambut coklat itu bilang Ran-chan ada di sini."

Conan mengangguk. "Aku hanya belum tahu tempat yang tepatnya di mana."

"Kalau begitu, kita cari sekarang," kata Kogoro. "Aku akan membantumu, bocah. Aku yakin anak sekecil dirimu tidak akan sanggup melawan gerombolan penculik sendirian."

Conan mendecak pelan. Memangnya kau bisa? Pikir Conan sebal. Detik itu juga, ia ingat kemampuan judo Kogoro yang bisa dikatakan di atas rata-rata atau bahkan mendekati sempurna. Cepat-cepat Conan menutup mulutnya yang hendak menghujani Kogoro dengan jutaan kalimat protes terhadap keputusan sepihak tadi. Ia hanya bisa terdiam dan menurut pada Kogoro. Bagaimanapun juga, dalam kondisi seperti ini, Kogoro lebih berkuasa dibandingkan dirinya.

Tapi... Kalau para penculik itu tahu bahwa Kogoro adalah Kogoro Mouri si detektif tidur... Apa yang akan mereka lakukan? Memutus nyawa Ran pada saat itu juga?

Conan harap tidak.

Ya, itu tidak mungkin.

Lagi pula, bukankah Ran adalah wanita yang kuat? Dia pasti dapat mengatasinya. Conan yakin itu. Kini, ia tidak begitu khawatir lagi.

xXx

Kogoro dan Conan tiba di ruang musik SMU Teitan. Tidak apa-apa di dalamnya selain alat musik yang terabaikan. Conan meneliti tiap sudut ruangan itu tapi tidak menemukan apa-apa. Sama halnya dengan Kogoro yang mulai percaya bahwa Conan bukan bocah biasa. Baginya, seorang bocah biasa tidak mungkin dapat memimpin penyelidikan sebuah kasus penculikan.

Tidak mungkin kalau dia cuma anak kelas satu SD biasa, pikir Kogoro penuh rasa heran. Jangan-jangan dia punya IQ yang sangat tinggi? Misalnya, lima ratus atau enam ratus? Rasanya itu tidak mungkin. Tapi...

Conan menatap Kogoro. "Ojiisan, sepertinya Ran Oneesan ada di ruang seni."

"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Kogoro heran.

Conan menunjuk ruang seni yang letaknya tepat di sebelah ruang musik, di mana mereka berada sekarang. "Jejak-jejak debu di handle pintu itu berbeda dengan jejak ketika aku menutupnya tadi, sebelum kau datang, Ojiisan."

Kogoro mengerutkan dahi. "Kau sudah mengelilingi tempat ini sebelumnya?"

Conan mengangguk. "Sekali, Ojiisan. Tapi aku tidak menemukan Ran-chan di mana pun."

"Ran-chan?"

Ups... "Eh, maksudku, Ran Oneesan."

Kogoro mengerutkan dahinya lagi. Kali ini, bukan karena bingung melainkan curiga. Anak sekecil bocah ini bisa membuat hipotesa dengan melihat sekilas? Itu lebih dari jenius! pikirnya dengan rasa heran kelas berat. Lalu... Ran-chan? Setahuku, hanya aku, Eri, si profesor, si nona kaya, dan bocah detektif itu yang memanggil Ran begitu. Apa mungkin...?

Kogoro menatap Conan dengan seksama. Conan memang laki-laki, Conan memang ahli membuat hipotesa, Conan ahli menyelidiki dan selalu mendapat nilai seratus pada tiap ujiannya walau Kogoro tak pernah melihatnya belajar. Conan tahu banyak hal-hal kecil mengenai apa pun dan selalu mengatakan bahwa ia mendapat pengetahuan itu dari televisi. Kogoro sering curiga dengan berbagai macam alibi yang dikatakan Conan, tetapi ia sendiri tak punya bukti untuk menuduhnya macam-macam. Lagi pula, apa untungnya?

"Ojiisan, jangan membuat suara," bisik Conan. "Tampaknya penculik itu sibuk dengan Ran-ch—eh, Oneesan."

"Apa yang mereka lakukan terhadap Ran-chan?" tanya Kogoro pada Conan. Untuk sesaat, ia melupakan lamunan "indah"-nya juga kesalahan yang "nyaris" terjadi pada ucapan Conan.

Fyuh... "Mm... aku tidak tahu, Ojiisan. Kuharap bukan sesuatu yang buruk."

"Berapa jumlah penculiknya?"

Conan menghitung pelan. "Tiga orang, Ojiisan."

Kogoro tersenyum puas. "Kalau hanya tiga, aku dapat mengalahkan mereka dengan mudah."

"Biarkan aku membantu!" pinta Conan dengan wajah memelas.

Kogoro berpikir sejenak. "Baiklah. Kau kalahkan satu orang, ya. Aku akan mengalahkan dua orang lainnya."

Conan mengangguk. "Hai!"

xXx

Kogoro membuka pintu ruang seni dengan satu kali sentakan. Tiga orang penculik yang sedang sibuk mengurus sesuatu entah apa namanya atau maksudnya itu buru-buru mengalihkan perhatian mereka terhadap pintu yang tiba-tiba menjeblak terbuka sendiri. Wajah mereka berubah dari santai menjadi tegang dan panik. Yang ada di hadapan mereka adalah seorang detektif ternama yang sebenarnya tidak pintar-pintar amat dan seorang detektif SMA yang "dikutuk" menjadi seorang bocah kelas satu SD.

"Oh, rupanya para pemberi tebusan sudah datang," kata penculik pertama. "Mari, kita beri sambutan untuk para pahlawan ini."

Ketiga penculik itu segera beranjak dari duduknya. Di balik ketiga penculik itu, Kogoro dan Conan dapat melihat tubuh Ran yang terlihat sangat lemas. Mulutnya dilakban, tangan juga kakinya diikat dengan tambang, dan badannya dibiarkan "tertidur" di lantai. Tampaknya, Ran dibius.

"Lepaskan putriku!" seru Kogoro lantang.

"Putrimu? Aah..." Penculik kedua manggut-manggut. "Dia terlalu cantik untuk dilepaskan, sayang sekali."

"Di mana uang tebusan kami?" tanya penculik pertama. "Kami sudah memintanya."

"Bukankah kalian bilang di depan kantor detektif Mouri jam tiga sore?" Conan menyahuti pertanyaan itu. "Uang itu sudah di sana."

"Kau bocah yang di telepon?" tanya penculik ketiga. Ups, kesalahan fatal baginya. Ia menyebut hal yang membuka jati "dirinya".

Berarti ia yang menelepon, pikir Conan sambil tersenyum dalam hati. "Telepon? Memangnya ada telepon, ya?" Conan balik bertanya sambil memasang wajah sepolos mungkin.

Penculik pertama meninju perut si penculik ketiga. "Kau! Diam saja!" perintahnya. "Oh, jadi uang itu sudah di sana?" tanyanya pada Kogoro dan Conan. "Kenapa tidak ada yang mengabari kami, ya?"

Conan mendesis dalam hati. Rupanya ada empat orang... "Entahlah, apa itu urusanku?" tanya Conan. "Yang jelas, uang itu sudah ditaruh di sana."

"Cukup basa-basinya," ujar Kogoro mulai naik pitam. "Serahkan putriku!"

Penculik kedua menggeleng. "Sayang sekali kami tidak bisa, Tuan Berkumis," katanya setengah mengejek. Membuat Kogoro tambah naik pitam. "Dia sangat cantik, sayang sekali kalau dikembalikan. Kami harus memanfaatkannya sebaik mungkin, bukankah begitu, teman-teman?"

Penculik pertama dan ketiga menjawabnya dengan kekehan ala penjahat. Mereka terus terkekeh sampai Kogoro melancarkan pukulan terhadap penculik ketiga yang otomatis membuatnya tidak sadarkan diri.

"Dasar penjahat," geramnya. "Kalian tidak tahu siapa yang kalian hadapi, huh?"

Kedua penculik lain terdiam. Tanpa menunggu jawaban, Kogoro Ojiisan segera melancarkan pukulan dan tendangan ala judo pada dua penculik itu. Melihat kesempatan emas itu, Conan segera menghampiri Ran, melepas ikatan pada kaki dan tangannya, melepas lakban pada mulutnya, dan berusaha menyadarkannya.

Tak lama, Ran sadar. "Co... Conan-kun...?"

Conan tersenyum. "Aku di sini, Ran-chan."

"Eh?"

"Eh... maksudku, Ran Oneesan."

Oke, mari kita lihat bagaimana nasib ketiga penculik yang dibabat habis-habisan oleh Kogoro Mouri yang ahli judo itu...

"Nah, itu akibatnya kalau melawanku!" ujar Kogoro sambil membanting penculik kedua. "Kalian mau tambah lagi?!"

Ketiga penculik itu mengerang kesakitan. Mendengar ancaman Kogoro, mereka langsung "mengesot" mundur sambil berkata "ampun" berulang kali. Dengan wajah sangar ala bulldog, Kogoro mengangkat wajahnya pongah. "Awas kalau berani lagi..."

"Ampun, Tuan!" seru si penculik pertama sambil memohon-mohon. Kedua temannya mengekor.

"Tidak akan kuampuni sebelum kalian kembalikan uang tebusan itu!" balas Kogoro.

"Kami belum mengambilnya, Tuan. Ampuni kami...," pinta si penculik pertama dengan suara yang sangat memelas.

"Kalian akan tetap berurusan dengan polisi," sahut Conan. "Polisi sudah ada di sini."

Penculik pertama itu terdiam sejenak. Kemudian, ia menatap Kogoro lalu bertanya, "Sebenarnya... siapa Tuan?"

Kogoro menatap ketiga penculik itu dengan tatapan tidak percaya. "Kalian tidak tahu siapa aku?"

Ketiganya kompak menggeleng.

Kogoro mendecak. "Aku Kogoro Mouri," katanya lantang. "Detektif."

"APA?! DETEKTIF TERKENAL KOGORO TIDUR ITU?!" seru penculik pertama. "A-ampun, Tuan... aku tidak tahu kalau Tuan adalah detektif terkenal itu..."

"Walau aku bukan detektif terkenal sekali pun, penculikan tetap saja penculikan. Kau akan tetap dihukum pidana terhadap apa yang kau lakukan pada putriku," ujar Kogoro tegas. "Tidak ada ampunan."

Ketiga penculik itu hanya bisa meringis seraya menahan rasa sakit pada tubuh mereka yang makin menjadi-jadi.

xXx

"Mouri-san, kuberi peringatan lagi padamu," kata Inspektur Megure pada Kogoro setelah para penculik berhasil diringkus. "Sebaiknya, kau tetap di rumah. Kepergianmu hanya membawa kasus, kau tahu?! Sudah berapa kasus yang kau hasilkan? Dasar wabah!"

Kogoro terkekeh. "Tapi, Inspektur... di mana ada kasus, di sana selalu ada detektif."

"Terserah kau saja," ujar Inspektur Megure sambil mengibaskan tangannya bermaksud mengusir. "Terima kasih sudah menangkap penjahat ini. Mereka memang buronan polisi yang kabur dari penjara sekitar dua minggu yang lalu."

Kogoro membungkuk. "Douitashimashite."

"Omong-omong, soal Ran-san," ucap Inspektur Megure. "Apa dia baik-baik saja?"

Kogoro mengangguk. "Dia hanya dibius dengan dosis rendah, kata paramedis. Sebentar lagi, dia akan baik-baik saja. Conan bersamanya."

"Conan-kun, ya?" Inspektur manggut-manggut. "Aneh sekali, aku selalu merasa dia bukan anak kecil biasa."

Kogoro mengangguk lagi. "Begitulah..."

"Baiklah, urusanku di sini sudah beres," kata Inspektur. "Kami akan kembali ke kantor polisi untuk mengurus tahanan-tahanan ini. Sebaiknya kau datang ke kantor besok untuk interogasi. Oke, Kogoro?"

Kogoro membungkuk. "Hai."

xXx

"Ran Oneesan, kau sudah merasa lebih baik?" tanya Conan pada Ran yang masih berbaring sambil meraba keningnya.

Ran tersenyum. "Aku sudah lebih baik, Conan-kun. Arigatou."

Conan mengangguk pelan. "Douita."

Ran terdiam sejenak sambil memerhatikan wajah Conan. "Conan-kun, kenapa kau berkeringat?"

Conan mengerutkan dahinya. "Entahlah, aku juga merasa kepanasan."

"Tapi sekarang dingin..."

Conan tersentak. Jangan-jangan...?

Bersambung...