Sebelum memulai chapter ini, saya ingin mengucapkan maaf sebesar-besarnya atas kesalahan yang baru saya sadari... *sujud sujud mohon maaf(?)*
Pertama, harusnya Kogoro itu bukan 'Ojiisan' tapi 'Ojisan' karena 'Ojiisan' artinya kakek... sumimasen minna, saya baru lihat kamus lagi *sujud sujud lagi*
Kedua, harusnya di bagian awal chapter IV alias empat, kata-kata berbahasa Jepang dan ucapan-ucapan dalam hati si tokoh hurufnya dimiringkan. Saya lupa memiringkannya... sumimasen lagi, minna... mohon maafkan manusia tak sempurna ini... *sujud sujud lagi*
Yah, sekian. Semoga chapter ini gak ada kesalahan lagi! X3
Enjoy!
Reynyah a.k.a Rey-nyan x3
Chapter V — Detektif SMU Shinichi Kudo
Conan menyadari keanehan pada dirinya. Oh, gejala ini... jangan-jangan...
Sambil menahan rasa sakit yang menjadi-jadi dalam tubuhnya, Conan berkata pelan pada Ran. "Ra-Ran On-Oneesan... a-aku ha-harus ke to-toilet...," katanya terbata-bata. "Bi-biar Ojisan yang me-menemanimu..."
Ran mengerutkan dahinya. "Tampaknya kamu sangat kesakitan, Conan-kun."
Memang..., pikir Conan setengah sebal. "Ya sudah, O-oneesan... aku ke t-toilet du-dulu, ya..."
Tanpa menunggu jawaban Ran, Conan buru-buru berlari ke arah gym SMU Teitan. Di sana ada ruang loker. Nah, ia yakin ada baju milik siapapun di sana. Setidaknya, ia bisa gunakan itu. Untuk sekarang saja, kok...
Bajunya basah karena keringat. Conan tidak peduli. Ia mempercepat langkahnya menuju Setidaknya, ia bisa gunakan itu. Untuk sekarang saja, kok...
Bajunya basah karena keringat. Conan tidak peduli. Ia mempercepat langkahnya menuju gym sekolah sambil terus menahan rasa sakit yang mengocok seluruh isi tubuhnya. Tentu saja tidak mudah untuk berlari dengan kondisi seperti itu. Tapi... mau bagaimana lagi? Apakah Conan mau berubah di depan Ran...? Tidak, sebelum ia dapat memastikan perubahannya kali ini, ia tidak akan membuka jati dirinya pada Ran. Dia janji pada dirinya sendiri, Profesor Agasa, kedua orang tuanya, Heiji, dan terakhir... si orang itu, orang hitam itu, eh, ralat, orang yang dulunyahitam itu, yang sekarang dinamai Ai Haibara.
Aku tidak boleh memberi tahu Ran bahwa aku adalah Shinichi Kudo sebelum waktunya tiba, pikir Conan. Sebelum aku menghancurkan organisasi hitam itu... tidak boleh...
Tapi... apa yang terjadi dengannya saat ini? Gejala yang sama dengan yang ia rasakan ketika Gin meminumkan APTX 4869 padanya. Gejala yang sama dengan yang ia rasakan setelah meminum bir paikaru yang diberikan Heiji karena disangka obat flu. Gejala yang sama dengan yang ia rasakan setiap meminum penawar APTX 4869 buatan Ai.
Sebenarnya... apa yang terjadi?
xXx
Conan tiba di ruang ganti pakaian pria yang terletak di gym sekolah. Setelah memastikan tidak ada orang yang mengikutinya, Conan menghembuskan napas lega. Napasnya masih tersengal-sengal akibat berlari sambil menahan rasa sakit yang terus menghantui tubuhnya. Conan bersembunyi di balik pintu ruang ganti. Ia tahu, saat ini ia akan berubah menjadi Shinichi Kudo. Maka itu... ia harus bersembunyi kalau tidak mau ketahuan bahwa Conan Edogawa dan Shinichi Kudo adalah satu orang yang sama. Itu... masih rahasia.
Perlahan tapi pasti, jantung Conan berdetak lebih cepat, lebih cepat, lebih cepat, dan lebih cepat lagi. Conan yang sudah tidak kuat menahan rasa sakitnya akhirnya terduduk. Ia merasa lemas. Ia tidak kuat lagi. Cepat-cepat ia mengambil lencana detektifnya dan menghubungi Ai.
"Haibara-san... bisakah kau bantu aku...? Eh, tampaknya aku akan kembali jadi Shinichi Kudo... entah, aku tidak tahu. Oh, diam kau. Bisakah kau datang ke ruang ganti pria di gym SMU Teitan? Sekarang, Haibara-san... cepatlah, aku tidak kuat lagi... bawakan baju atau apapun. Eh? Bersama anak-anak itu? Jangan... bawa profesor saja. Hah? Apa? Oh, baiklah... terima kasih, Haibara-san."
Conan mendesah lega. Setidaknya, sudah ada orang yang tahu bahwa dia ada di sini. Sekarang, hanya tinggal memejamkan mata dan membiarkan rasa sakit ini menguasai tubuhnya. Beberapa detik kemudian, ia sudah tidak sadarkan diri...
xXx
Ai mendesah pelan. Ada apa dengan Conan sebenarnya? Sejak tadi Conan sibuk menghubunginya. Mungkin ada hal penting? Yah... Ai menjawab panggilan dari Conan lewat lencana detektif.
"Apa apa, Kudo-kun?... bantu apa?... apa? Bagaimana bisa?!... tidak kuat bagaimana maksudmu? Bagaimana jika aku pergi bersama anak-anak itu?... oke, aku akan pergi bersama Profesor. Profesor ya, Kudo-kun... ya, sama-sama."
Ai mendesah, lagi. Ia buru-buru memutuskan hubungan lewat lencana detektifnya dan segera memanggil Profesor Agasa.
"Apa apa, Ai-chan?" tanya Profesor heran melihat wajah Ai yang panik.
"Kudo-kun ada di SMU Teitan! Ia akan berubah kembali menjadi Shinichi Kudo!"
"Apa?! Bagaimana bisa?!"
"Aku juga tidak mengerti. Cepat! Kita harus membawakannya pakaian. Kita harus pergi secepat mungkin. Hmm... kau ikut, ya?"
Profesor mengangguk. "Kau siapkan bajunya. Ambil saja dari lemari pakaianku. Aku akan menyiapkan mobil dan menyuruh anak-anak itu menunggu di sini."
"Bagus."
xXx
Profesor Agasa dan Ai tiba di depan SMU Teitan. Langit sudah berubah menjadi oranye. Ah, SMU Teitan juga sudah sepi. Tampaknya Ran, Kogoro, dan para polisi tadi sudah tidak di sini. Profesor dan Ai buru-buru masuk dan mencari gym sekolah, tempat Conan alias Shinichi berada.
"Kalau seingatku, gym-nya ada di sana," kata Profesor Agasa. "Ayo, Ai-chan."
Ai mengangguk lalu mengikuti Profesor Agasa menuju gym itu. Gym SMU Teitan tidak begitu besar, tapi cukup untuk menampung murid SMU Teitan yang entah berapa jumlahnya itu, begitu kata Profesor Agasa. Ruang ganti pria berada tepat di dekat pintu masuk, karena hanya pria yang sering menggunakan akses masuk yang satu itu. Murid-murid yang "berfungsi" sebagai penonton akan masuk melalui pintu yang lain.
"Ai-chan!" seru Profesor Agasa yang sudah membuka pintu ruang ganti pria sejak beberapa detik yang lalu. "Shinichi-kun di sini! Dia... dia... bukan Conan Edogawa lagi!"
Ai menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. "Pakaikan bajunya."
Profesor Agasa terdiam sejenak. "Oh, kau benar juga," katanya sambil terkekeh pelan. "Tunggu sebentar ya, Ai-chan."
Ai mengangguk. "Cepatlah."
Sekitar sepuluh menit kemudian, Profesor Agasa memunculkan kembali kepala botaknya di depan pintu ruang ganti pria dan berkata, "Aku sudah selesai. Kau boleh masuk."
Ai mengangguk lalu mengintip lewat pintu. "Kudo-kun, apa kau sudah sadar?"
Conan, eeh... Shinichi mengerang pelan. "Yah... begitulah."
"Shinichi-kun?! Kau sudah sadar, ya?!" Profesor tampak bahagia sekali. "Eh... kenapa kau berubah jadi Shinichi Kudo?"
Shinichi menatap kakinya, badannya, tangannya, juga baju Conan alias Shinichi semasa kecil yang agak robek. Ia menyentuh kepalanya. Besar. Ia menyentuh kacamata Conan yang ia masih kenakan. Oh, itu merupakan satu-satunya peninggalan Conan untuknya. Shinichi tersenyum sendiri. Ia telah kembali ke tubuhnya yang semula. Kini, ia adalah detekif SMU terkenal berumur tujuh belas tahun dan bukan lagi seorang bocah berkacamata umur tujuh tahun yang semua omongannya dianggap bohong belaka. Ia sangat senang.
"Haibara-san...," panggilnya pelan. "Apa aku akan kembali jadi Conan Edogawa lagi?"
Ai tertegun sejenak lalu menggeleng. "Kau akan tetap jadi Shinichi Kudo sekarang."
"Lalu... bagaimana denganmu?" tanya Shinichi heran. "Kalau aku dapat kembali, mengapa kau tidak kembali ke tubuh asalmu?"
Ai berpikir sejenak. "Yah... tentu saja. Kau kan, meminum obat itu lebih dulu dariku. Mungkin dalam hitungan beberapa hari atau bulan, aku juga akan kembali menjadi diriku yang sebenarnya."
"Shiho Miyano," gumam Shinichi.
Ai mendelik. "Dari mana kau tahu nama asliku?!"
"Aku ini detektif," jawabnya bangga.
Ai mendengus.
Profesor Agasa tertawa riang. "Senang melihatmu bisa kembali, Shinichi-kun," kata Profesor. "Dan... soal Ran-chan, apa kau akan mengatakan semuanya padanya?"
Shinichi menatap Ai. "Bagaimana...?"
Ai mengangkat bahunya. "Terserah kau saja. Kuharap tidak ada masalah jika kau benar-benar menceritakannya."
Shinichi tersenyum senang. "Kalau begitu, aku pergi dulu menyusul Ran-chan! Doakan aku!"
Profesor Agasa tersenyum dan mengangguk sedangkan Ai hanya membalas kata-kata itu dengan anggukan pelan dan nyaris tak terlihat.
Yah... setidaknya dia bahagia, pikir Ai. Walau bukan denganku...
xXx
TOK! TOK! TOK!
"Ya... ya..." Kogoro berjalan malas ke arah pintu. Begitu membukanya, matanya membelalak dan jantungnya serasa hampir copot. "KAU?! BOCAH DETEKTIF ITU?!"
Shinichi memasang cengiran terbaiknya. "Konbanwa, Ojisan."
"Mau apa kau ke sini?" tanya Kogoro cepat tanpa memedulikan sapaan Shinichi.
"Bertemu dengan Ran," jawabnya santai. "Apa dia di rumah?"
"Otousan? Siapa yang meminta bantuan detektif pada jam makan malam seperti ini?" tanya Ran dari arah dapur. Ah... Shinichi mendesah senang dalam hati. "Otousan, aku sedang bicara padamu."
"R-Ran-chan..." Kogoro menatap putri semata wayangnya. "Lihat siapa yang datang..."
Ran mengerutkan dahinya lalu menghampiri pintu. "Siapa yang datang bert—"
"Konbanwa, Ran-chan. Ohisashiburi desu ne...," sapa Shinichi.
Ran terpaku sejenak. Apa yang ada di depannya ini benar-benar Shinichi? Ia ragu akan hal itu. Tapi... senyum itu... gaya itu... suara itu... wajah itu... tatapan itu...
Tidak diragukan lagi. Itu memang Shinichi Kudo, orang yang telah lama dirindukannya.
Dan tak ada lagi yang dapat ia lakukan selain memeluk Shinichi tepat di depan ayahnya. Dan... Kogoro tentu saja tidak bisa mencegah hal tersebut, bukan?
Shinichi terkejut. Sangat. "Oi, oi, Ran...," panggilnya heran.
Ran menangis di bahu Shinichi. "Aku sangat merindukan Shinichi-kun..."
Shinichi tersenyum. "Aku juga, Ran-chan," katanya pelan. "Aishiteru yo."
Mata Ran membelalak lalu ia melepas pelukannya. "A-aishiteru wa, Shinichi-kun..."
"Sekarang, maukah kau mendengar ceritaku soal beberapa bulan ini?" tanya Shinichi. "Aku kan, sudah menghilang lama sekali."
Ran meninju lengan Shinichi pelan. "Kau memang menyebalkan! Baka! Cepat ceritakan!"
Shinichi hanya tertawa mendengar ejekan Ran. Tapi, kali ini ia tidak merasa sakit hati atau apapun, karena... Ran sudah memiliki hatinya. Itu sudah cukup.
xXx
"Waa!"
Conan terjatuh dari tempat tidur. Oh, rupanya ia sedang menginap di rumah Profesor Agasa. Tunggu dulu, pikirnya buru-buru. Ia segera menatap kakinya, badannya, tangannya, pakaiannya, juga kacamatanya. Tak lupa, ia menyentuh kepalanya. Kecil.
Ah! Itu cuma mimpi! dumel Conan dalam hati. Oh, Kami-sama... kapan aku bisa menyatakan perasaanku yang sesungguhnya pada Ran kalau begitu? Kapan aku dapat menceritakan semuanya pada Ran?
Yah... kita tidak pernah benar-benar tahu.
FIN
Please review xD
Salam,
Rey-nyan x3
