.

.

"Selesai."

"Sebelah ini juga sakit, dokter."

"Hn."

Sasuke lalu memeriksa pergelangan tangan gadis tersebut.

"Tanganmu tidak apa-apa."

"Baiklah~, mungkin hanya perasaanku saja. Tapi sepertinya dadaku benar-benar sakit, dokter. Sebelah kiri."

"Kau beloh pergi. kau sehat."

"T-tapi—"

Melihat pandangan tajam dokter muda tersebut, gadis itu lalu memanyunkan bibirnya dan menyerah.

"Aku akan kembali lagi mengecek kesehatan besok dokter ~" katanya sambil menutup pintu itu.

Hah... sepertinya dokter tampan itu mulai merasakan hal yang sama ketika ia praktek di luar negeri dulu. Pasien-pasien dengan genre wanita itu pasti akan kembali lagi tanpa bosan. Padahal ia adalah seorang dokter spesialis jantung, seharusnya ia dapat menolak pasien-pasien itu dengan alasan itu. Tapi terimakasih pada Oka-sannya yang mengatakan bahwa membantu tidak ada salahnya karena pasiennya masih terglong sedikit. Memangnya siapa yang sanggup melawan titah wanita cantik itu? Fugaku-sama saja tidak.

Rasanya yang ia butuhkan sekarang adalah secangkir kopi hangat untuk merilekskan pikirannya. Seharian meladeni wanita-wanita itu lebih menguras pikiran daripada melakukan operasi jantung yang biasa ia tangani, menurutnya.

Tok tok tok.

"Hn."

"Maaf, mengganggu Uchiha-san. Saya hanya ingin mengantarkan kopi ini."

Ahh, kebetulan yang aneh. Kopi dan gadis cantik aneh itu lagi.

'Ternyata ia sama saja dengan wanita lain yang ingin menncari perhatianku.' Pikir Sasuke.

"Hn. letakkan saja di atas meja."

"Hai. Permisi Uchiha-san." Stelah itu Hinata lalu meninggalkan ruangan itu.

Hanya itu? Tidak ada flirting?'

'Cih, mungkin hanya trik saja.'

Sebenarnya ia ragu meminum kopi itu, tapi mengingat ia sudah menginginkannya sedari tadi, ia pun meminumnya.

"Hn. Lumayan."

Tanpa mengetuk pintu atau meminta izin terlebih dahulu seseorang langsung memasuki ruangan itu dan langsung memeluk Sasuke. Sasuke langsung diam saja melihat siapa yang datang.

"Miss you, Sasuke-kun."

"Hn. Bukankah kau harusnya pulang besok?"

"Surprise. Apa kau tidak senang aku datang?" tanya gadis cantik itu pura-pura merajuk.

"Hn."

"Sepertinya kau harus mengajakku makan malam. Aku sudah sejak lama ingin merasakan masakan khas jepang."

"Hn. Tapi kau harus menunggu satu jam lagi sampai jam kerja berakhir."

"Baiklah. Aku haus sekali. Dimana letak dapur?"

"Kau istirahat saja. Aku akan mengambilkanmu."

.

.

Dari belakangnya saja Sasuke tahu bahwa yang didepannya sekarang adalah gadis aneh itu. Hinata.

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Eh? Uchiha-san? Sedang apa disin?"

Sepertinya ia mengagetkan gadis itu.

"Aku bertanya lebih dulu."

"Aa, benar. Saya sedang membuatkan teh dan kopi. Shizune-san sedang sakit dan tidak bisa mengantar minuman."

"Dan kau menggantikan tugasnya?"

"Hm, kurang lebih begitulah. Lagipula pasien sedang sepi." Katanya sambil tersenyum manis.

Sepertinya Sasuke kurang suka dengan kenyataan itu.

"Hn. antar satu lagi ke ruanganku." Dengan itu Sasuke langsung pergi.

"Apa-apaan dia? Tidak sopan sekali."

.

.

Jadi, tadi ia hanya terlalu percaya diri? Gadis itu memang tidak sedang mencari perhatiaannya.

'Cih, memalukan'

Saking kesalnya, ia tidak sadar telah membuka pintu ruangannya dengan kasar dan menyebabkan gadis yang menunggunya terkejut.

"Ah! Kau mengagetkanku Sasuke-kun."

"Hn?"

"Kau hampir membanting pintunya, Sasuke-kun. Apa kau sedang kesal?"

"Tidak apa-apa."

Tanpa pikir panjang gadis itu menutup pintunya kembali sampai,

"Ini minumannya, Uch—ah!"

Prang!

"Eh? Gomen, saya tidak sengaja."

"Hinata! Apa kau tidak apa-apa?"

"Hai, hanya agak panas dan perih, Uchiha-san."

"Apa di ruanganmu ada obat P3K?"

Setelah mendapat anggukan dari gadis itu, Sasuke langsung membawanya dari ruangan itu dan meninggalkan gadis di belakangnya menatap mereka dengan alis bertautan dan memandang kepergian mereka dengan heran.

"Apa aku baru saja dicuekkan Sasuke-kun?"

Bertanya pada diri sendiri sajalah yang dapat dilakukannya.

.

.

"Kau tidak perlu melakukannya, Uchiha-san."

"Kau pikir siapa yang akan memeriksa pasienmu jika tanganmu seperti ini?"

Dan gadis cantik itu memilih diam saja sambil memperhatikan tangannya yang sudah dibalut perban tipis setelah dioleskan obat.

"Arigatou, Uchiha-san."

"Cukup Sasuke saja."

"Eh? Baiklah, Uch-, Sasuke-san. Saya Hinata. Hyuuga Hinata."

'Hyuuga? Hn. Gadis baik-baik.'

"Hn. Jadi kita bisa berteman, bukan?"

Sejak kapan Uchiha itu sudi menawarkan pertemanan? Entahlah, yang pasti ia sendiri terkejut dengan pertanyaannya.

"Tentu saja."

"Hinata! Aku baru saja dengar – Uchiha?"

"Hn. Sabaku."

"Apa kau baik-baik saja?"

Pria Sabaku itu merasa lebih baik mengacuhkan keberadaan Uchiha muda itu.

"Tidak apa-apa Gaara-kun, ini hanya luka kecil."

"Tapi yang ku dengar—"

"Kau berlebihan Gaara-kun. Wajahmu sangat jelek seperti itu" kata Hinata sambil tertawa geli. Dan Gaara hanya tersenyum miring dibuatnya.

"Sapertinya saya harus kembali. Sekali lagi, arigatou Sasuke-san."

"Hn."

Samar-samar Sasuke masih dapat mendengar Gaara yang mengkhawatirkan Hinata dan tawa merdu Hinata. Lalu ia merasa aneh dalam dirinya. Perasaan seperti, seperti kurang suka, tidak terima, dan sejenisnya. Yang pasti perasaan itu tidak nyaman.

"Sepertinya aku memang butuh makan malam dengan Shion."

.

.

"Wah, tempatnya lumayan bagus, Sasuke-kun."

"Hn. kau ingin makan apa?"

"Terserah Sasuke-kun saja. Aku tidak tahu menu spesial di tempat ini. Eh, bukankah itu gadis yang tadi sore?"

Mengikuti arah pandangan Shion, Sasuke langsung dapat menangkap maksud Shion. Dengan Sabaku itu lagi? Jadi mereka benar-benar pacaran?

"Bagaimana kalaku kita bergabung dengan mereka?"

"Untuk apa?"

"Ayolah, Sasuke-kun."

"Hn."

"Ehm, bolehkah kami bergabung, eh? Gaara-kun?"

"Shion?"
"Wah, sudah lama sekali kita tidak bertemu. Apakah kami mengganggu?"

"Duduklah."

Jadinya Sasuke berada di samping Hinata karena Gaara dan Hinata berhadapan, dan Shion berada di antara Gaara dan Hinata.

"Hai, namaku Shion. Maafkan untuk kejadian tadi sore."

"Tidak apa-apa Shion-san. Saya Hinata."

"Aaa, tidak ku sangka Gaara-kun bisa jatuh cinta juga."

Uhuk,uhuk.

"Apa kau baik-baik saja Gaara-kun?"

"Hn. kau tidak perlu mendengarkannya, Hinata. Dia memang cerewet."

"Hei, aku tid—"

"Ini pesanannya, tuan."

"Wah, sepertinya enak sekali. Itadakimasu"

Sasuke sebenarnya heran melihat Hinata yang belum juga memakan makanannya. Tapi ia gengsi untuk bertanya. Apa peduliku? Pikirnya.

"sepertinya aku sudah memesan agar tidak menaruh udang. Pelayan itu perlu diingatkan."

"Tidak perlu, Gaara-kun. Ini hanya masalah kecil."

"Kau selalu begitu. Baiklah."

Lalu Gaara mengambil semua udang dalammakanan Hinata dan menaruhnya di piringnya.

'Apa Hinata tidak menyukai udang?' pikir Sasuke

"Apa Hinata-san tidak menyukai udang?"

Itu jelas bukan Sasuke, tapi Shion.

"Hn."

"Wah, kalian pasangan yang manis. Sasuke-kun saja pasti tidak mengetahui makanan yang tidak ku suka padahal kami sudah pacaran dua tahun." Sindirnya.

Sauke hanya diam saja karena dia memang tidak terlalu peduli tentang kesukaan Shion. Ia hanya tahu bahwa ia menyukai Shion. Itu cukup, kan? Apa ia juga perlu tahu apa yang disukai Shion?

Sepertinya ia memang perlu tahu, karena ia merasa tidak suka ketika melihat bahwa Gaara saja mengetahui makanan apa yang disukai dan tidak disukai Hinata.

"Bagaimana Shion-san mengenal Gaara-kun?" tanya Hinata.

"Kami dulu berada dalam SMA yang sama." Jawab Gaara

"Cih, apa kau malu mengakui bahwa dulu kita berteman akrab, Gaara-kun?"

"Benarkah?" tanya Hinata antusias.

"Tentu saja. Bahkan dulu kami sering digosipkan pacaran. Hahaha. Tapi tentu saja itu tidak mungkin. Tuan Sabaku ini tidak akan pernah menyukai wanita ada disampingnya. Aku saja sering diusirnya."

Kedua gadis cantik itu tertawa. Menertawakan Gaara yang sudah dalam bad mood walaupun mukanya hanya datar saja kelihatannya.

"Bukankah kau sehausnya di Amerika?"

"Ya. Tapi aku merindukan Sasuke-kun. Jadi tidak ada salahnya jalan-jalan sekitar satu bulan disini."

"Gomen, saya permisi ke belakang sebentar."

"Apa perlu kutemani?"

"Tidak perlu, Gaara-kun. Hanya sebentar."

"Hn."

"Sasuke-kun, harusnya Sasuke-kun belajar romantis seperti Gaara-kun pada Hinata-san."

"Hn."

"Gaara-kun sudah berapa lama pacaran dengan Hinata-san?"

"Belum."

"Hn?" kali ini Sasuke mulai tertarik, sedangkan Shion tidak mengerti. Belum mengerti tepatnya.

"Maksunya apa?"

"Kami belum pacaran."

Entah kenapa Sasuke merasa lega mengetahuinya. Tanpa ia sadari tentunya. Yang ia ketahui adalah makan malam enak itulah yang membuat pikirannya yang semula galau dan perasaan tidak nyamannya berkurang.

"Belum? Berarti Gaara-kun menyukainya?"

"Hn."

"Kenapa tidak mengatakannya saja? Aku yakin Hinata-san juga menyukai Gaara-kun." Ucapnya.

"Habiskan makananmu Shion." Kata Sasuke karena sepertinya ia tidak ingin Shion melanjutkan kata-katanya.

'Bagaimana jika si Sabaku itu benar-benar menyatakan perasaannya? Bisa-bisa mereka benar-benar jadi pasangan.'

Apa yang kupikirkan, sih? Apa peduliku? Memangnya kenapa jika mereka pacaran? Bukankah aku sudah memiliki Shion?

Aku menyukai Shion, kan?

.

.

Tiba-tiba Sasuke teringat gerak-gerik Hinata sebelum ke belakang tadi. Dia sebenarnya merasa aneh pada Hinata yang duduknya kurang nyaman.

'Apa jangan-jangan?'

"Aku perlu udara segar sebentar."

Shion walaupun merasa aneh, tetap saja mengangguk sedangkan Gaara diam saja.

.

.

Tidak perlu waktu yang lama untuk menemukan Hinata. Hinata sedang berusaha mencari sesuatu di dalam tasnya dengan panik.

"Kau ikut denganku."

"Sasuke-san? Sedang apa?"

"Hn."

Sesampainya di dalam mobil, Sasuke meberikan Hinata sejenis bedak tabur. Hinata yang seorang dokter tentunya tahu bedak itu untuk apa.

"Arigatou, Sasuke-san."

"Hn. kenapa kau tidak mengataknnya saja? Pasti sakit menahannya."

"Aku tidak mau Gaara-kun khawatir. Lagipula, aku takut Gaara-kun memarahi pelayan itu. Padahal udangnya hanya termakan sedikit." Jawabnya sambil mengoleskan bedak itu pada kedua tangnnya. Gatal-gatalnya memang belum terlalu menyebar.

"Kenapa Sasuke-san memiliki bedak ini?"

"Kaa-san juga alergi sea-food."

"Aa, saya mengerti."

"Sejak kapan Gaara mengetahui kau tidak suka udang?"

"Eh? Apa Sasuke-san mengatakan sesuatu?"

"Hn. Sebaiknya kita kembali."

"Ha'i. Sekali lagi, Arigatou."

"Itu gunanya teman, bukan?"

Sama seperti ketika mengajak pertemanan, ia juga tidak tau darimana kalimat yang baru saja ia ucapkan berasal. Ia hanya tahu ia ingin berguna bagi temannya yang baru ia kenal itu.

'Pertemanan itu berarti aneh' pikirnya—lagi-.

.

.

Tbc

.

.

Gomen. Lelet. Saia benar-benar tidak bisa membagi waktu belakangan ini. Ini saja baru dibuat. jadi abal2 seperti ini... TT_TT

Ada ide tentang konfliknya?/ saia agak bingung.

Arigatou sudah membaca...