.
.
Dari sebuah restoran tampak dua pasangan baru saja keluar dan menghampiri tempat parkir.
"Loh, mobil kalian dimana?" tanya gadis cantik berambut pirang.
"Hinata lebih menyukai sepeda motor." Jawab Gaara.
"Benarkah? Sepertinya lain kali kita harus mencobanya Sasuke-kun."
"Hn."
'Apa hebatnya sepeda motor? Gadis itu memang aneh. Mana ada orang yang lebih menyukai sepeda motor dibanding mobil mewah. Apalagi perempuan.'
Hinata hendak menaiki sepeda motor yang dapat dibilang berukuran besar itu sebelum Gaara melarangnya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Eh?"
"Aku sudah mengatakan padamu aku tidak mau mengantarmu dengan sepeda motor jika kau tidak memakai jaket"
"Aku lupa Gaara-kun. Lagipula malam ini tidak terlalu dingin."
"Alasanmu selalu sama." Katanya lalu membuka jacket yang ia kenakan dan memberikannya pada Hinata.
"Pakai ini."
"T-tapi bagaimana dengan Gaara-kun?"
"Bukankan malam ini tidak terlalu dingin?" tanya Gaara mengulang kata-kata Hinata dan membuat gadis cantik itu memanyunkan bibirnya. Tentu saja itu membuat Gaara menyunggingkan senyum tipisnya sebagai tanda kemenangannya.
" Kau menjengkelkan."
Tapi tetap saja Hinata mengambil jacket itu dan memakainya. Ia merasa senang memiliki teman seperti Gaara. Lelaki itu sungguh baik. Hinata bukanlah gadis lugu yang tidak mengerti apa-apa. Ia tahu bahwa dokter berambut merah itu memiliki perasaan khusus padanya. Hinata bukanlah juga gadis yang suka mempermainkan perasaan orang lain. Ia bukan ingin memanfaatkan kebaikan Gaara karena sebenarnya ia juga merasa senang ketika Gaara memperhatikannya. Singkatnya ia merasa nyaman di samping Gaara.
"Sampai jumpa Shion-san, Sasuke-san."
"Sampai jumpa Hinata-san." Jawab Shion sambil melambaikan tangannya.
"Wahh, mereka pasangan yang serasi. Benar kan Sasuke-kun?"
"Hn. ayo pulang."
.
.
Sasuke pov
Keesokan harinya aku merasa bahwa kami—maksudku aku dan Hinata—menjadi lebih akrab. Memang kami hanya terlibat obrolan ringan, tapi untuk seseorang yang baru ku kenal Hinata adalah orang pertama yang paling cepat dekat denganku. Mungkin inilah efek dari aku menawarkan pertemanan untuknya. Perkataan konyol itu ternyata tidak terlalu buruk, padahal waktu itu aku merutuki diriku sendiri ketika aku mengajaknya menjadi teman.
"Sasuke-kun, kau belum pulang? Jam kerja kan sudah berakhir sejam yang lalu."
"Kau sendiri mengapa disini?"
"Kau memutar pertanyaanku. Kalau aku baru selesai menangani pasien."
"Hn. sebentar lagi aku akan pulang."
"Baiklah, sebaiknya cepat-cepat. Jangan sampai seperti semalam. Kau bahkan hampir terlambat paginya." Katanya sambil tersenyum geli.
Dan kalian mulai tahu maksudku ketika aku mengatakan akrab, bukan? Seperti itu maksudku. Entahlah. Aku dan Shion saja tidak pernah berbicara senyaman ini. Berbicara dengan Hinata membuatku tidak bisa memasang muka datarku. Dia sangat mudah bergaul dan enak diajak bicara. Bahkan tidak jarang ia membuatku tersenyum. Dan kalian juga sudah mendengar bahwa ia memanggilku dengan 'Sasuke-kun', kan? Aku sangat senang ketika pertama kali mendengarnya. Aku merasa menjadi orang spesial baginya waktu itu.
"Hinata, apa kau sudah siap?" tanya seseorang dari luar. Seperti biasa.
"Ia Gaara-kun. Sasuke-kun, kami pergi dulu. Sampai jumpa besok."
"Hn."
Dan itulah yang membuatku tidak pernah mengajaknya pulang bersama. Karena Gaara akan mengajaknya terlebih dahulu. Tepatnya, mereka sudah terbiasa pulang bersama, tanpa pun saling mengajak. Dan yang aku tahu beberapa kali dalam seminggu mereka akan makan di luar jika jam kerja cepat selesai. Satu hal yang aku belum tahu. Status mereka. Apa mereka sudah pacaran?
Aku kacau, bukan? Ya, belakangan ini aku kacau. Karena yang ada di pikiranku adalah selalu Hinata. Aku selalu memikirkan apa yang ia lakukan ketika sampai di apartemennya, apa yang akan ia bicarakan dengan Gaara ketika mereka makan berdua di luar, jam berapa dia bangun pagi hingga ia tidak pernah terlambat datang kerja, apa yang- . Sudahlah. Intinya, ia selalu menguasai pikiranku.
Aku jadi merasa bersalah pada Shion. Aku bahkan hampir tidak pernah memikirkannya. Aku sudah jarang mengajaknya keluar. Aku belum jadi mengenalkannya pada Kaa-san. Aku bahkan jarang meneleponnya untuk sekedar menanyakan kabarnya.
Drrrtt. Drrrtt.
Shion calling
Ya, kecuali ia yang meneleponku.
"Hn."
"Sasuke-kun, bisakah kita bertemu malam ini? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan."
"Hn. Dimana?"
"Di kafe dekat apartemenku."
Mungkin dengan mengiyakan setiap permintaannya dapat menebus rasa bersalahku.
.
.
"Bagaimana kabarmu, Sasuke-kun?"
"Hn. Baik. Apa yang ingin kau bicarakan Shion?"
Senyum yang ia berikan saat ini sangat aneh. Tidak seperti biasanya. Apa yang terjadi padanya?
"Apa kau tahu, Sasuke-kun?"
"Hn?"
"Seharusnya ketika aku menanyakan kabarmu kau juga menanyakan kabarku kembali. Artinya kau peduli padaku. Ah, tidak. seharusnya kita tidak saling menanyakan kabar, karena seharusnya kita selalu tahu kabar masing-masing. Seharusnya sepasang kekasih begitu, kan Sasuke-kun? Tapi mungkin aku salah."
"Aku tidak mengerti arah pembicaraan ini Shion."
Ya. Aku memang tidak mengerti. Apalagi ia yang mulai berkaca-kaca. Apa aku melakukan kesalahan? Aku hanya tidak menanyakan kabarnya kembali, kan?
"Tou-san menyuruhku pulang."
"Tidak apa-apa."
"Tapi aku tidak akan kembali jika aku pulang."
"..."
"Tou-san menjodohkanku dengan seseorang disana. Ia mantan pacarku. Pemuda yang baik. Bagaimana menurutmu Sasuke-kun?"
"Terserah padamu."
Aku tidak bermaksud mengatakannya. Tapi apa yang dapat kulakukan? Bukannya aku tidak ingin memperjuangkan Shion. Tapi aku sendiri bertanya, apa yang ingin ku perjuangkan? Aku tidak yakin lagi dengan perasaanku. Awalnya aku memang menyukai Shion. Walaupun dia agak cerewet dan berisik ia selalu mengerti apa yang ku inginkan. Hal itu cukup membuatkku menyukainya waktu itu. Belakangan ini aku memikirkan 'suka' itu seperti apa.
Mengapa aku tidak suka melihat Hinata pergi bersama Gaara sedangkan aku tidak merasakan apa-apa ketika mendengar penuturan Shion yang akan pergi selamanya?
Karena aku sudah menyadari bahwa 'rasa suka' tidak sesederhana itu.
"Kau bahkan tidak berusaha menahanku, Sasuke-kun."
"Gomen, Shion."
"Tidak. Perasaan memang tidak bisa dipaksakan. Aku hanya ingin memastikan bahwa yang aku pikirkan seminggu terakhir ini benar. Bahwa Sasuke-kun sudah bukan milikku lagi. Atau memang tidak pernah menjadi milikku kah?"
"..."
"Kau harus berjuang jika memang menginginkan Hinata-san, Sasuke-kun."
Tentu saja aku kaget mendengarnya. Apa maksudnya?
"Kau sangat bodoh. Bahkan kau tidak menyadari bahwa kau menyukai Hinata-san."
Benarkah?
"Khe, kau sangat tidak peka Sasuke-kun. Bagaiman aku bisa bertahan selama satu tahun lebih denganmu?"
Aku tersenyum miris mendengarnya.
"Gomen, Shion."
"Tidak apa-apa. Sepertinya aku harus pergi sekarang."
"Hn. Aku harap kau bahagia."
Aku tidak tahu apa kata-kataku salah lagi karena ia kembali menangis.
"Tentu saja aku akan bahagia. Semoga kau juga Sasuke-kun."
"Hn."
Sebelum ia benar-benar pergi, ia membalikkan badannya lagi.
"Sainganmu adalah Gaara-kun. Itu tidaklah mudah, kau tahu?"
"Hn."
"Berhentilah hanya mengucapkan dua konsonan itu. Jaa ne. Kau jangan merindukanku!" katanya dan langsung pergi. Aku masih sempat melihat air matanya yang mulai menumpuk lagi. Gomenne.
Sepertinya aku memang akan merindukan teman sepertinya. Ya. Aku sudah menyadari perbedaan teman dan orang yang ku suka.
End of Sasuke pov
.
.
"Mengapa restoran ini tidak ramai seperti biasa ya?"
"Entahlah. Kau ingin memesan apa?"
"Hmm. Seperti biasa saja Gaara-kun."
Gaara lalu memesan makanan untuk mereka berdua.
"Aku lihat akhir-akhir ini kau dekat dengan Sasuke."
"Ya. Aku tidak menyangka Sasuke-kun orang yang baik. Awalnya ku kira ia pemuda yang sombong."
"Hn. Apa kau menyukainya?"
"Sepertinya semua gadis di rumah sakit menyukainya." Kata Hinata. Dan Gaara tahu Hinata sedang tidak menganggap obrolan ini degan serius.
"Aku benar-benar ingin tahu Hinata." Kata Gaara serius.
"Baiklah. Aku memang menyukainya. Ia teman yang baik. Tapi jika maksud Gaara-kun adalah suka yang berbeda, aku tidak tahu. Aku hanya menganggapnya teman seperti yang lain."
"Benarkah?"
"Apa aku pernah berbohong pada Gaara-kun?"
"Baiklah. Lalu, apa, apa kau menyukaiku?"
"..."
"Aku menyukaimu Hinata."
"..."
"Dan aku tahu kau sudah mengetahuinya dengan jelas."
"Ya. Aku rasa aku sudah mengetahuinya."
"..."
"..."
"Lalu?" tanya pemuda itu lagi.
"Apa?"
"Bagaimana denganmu?"
"..."
"Hinata, maukah kau menjadi pacarku?"
.
.
.
Ada sesuatu yang aneh pagi ini. Dan semua orang menyadari itu. Termasuk Sasuke.
Hinata datang bersama dengan Gaara pagi ini. Memang hal yang biasa ketika mereka bersama, tapi itu hanya untuk pulang bersama atau makan malam bersama. Tidak pernah untuk berangkat ke rumah sakit pun harus berdua. Tentu saja hal ini menimbulkan tanda tanya pada setiap orang. Dan jangan lupakan ekspresi Sabako no Gaara yang tidak henti-hentinya memberikan senyumnya pada semua orang yang menyapanya dan menjawab salam mereka. Sangat tidak biasa, untuk ukuran Sabaku muda itu.
Dan jangan lupakan juga kenyataan bahwa mereka berjalan sambil berpegangan tangan. Sesampainya di ruangannya, Gaara melepas pegangannya dan membisikkan sesuatu pada Hinata yang membuat gadis cantik itu tersipu malu lalu meninggalkan Gaara tanpa menghiraukan Gaara yang terus memanggil namanya sambil tertawa geli.
"Selamat pagi Sasuke-kun."
"Pagi. Ada apa dengan mu?"
"Maksud Sasuke-kun apa?"
"Kau dan Gaara. Ada apa?"
"Aa... semalam kami makan malam."
"Itu tidak menjawab pertanyaanku Hinata. Dan kau tahu itu. Dan aku tidak menyukai senyummu itu."
"Baiklah, aku akan mengatakannya. Kau sangat tidak sabaran. Tadi malam bukan hanya sekedar makan malam biasa. Gaara-kun bilang, dia menyukaiku."
Gadis cantik itu sepertinya tidak terlalu menyadari perubahan mimik pria di depannya.
"Dan, dan kami sekarang sedang pacaran."
"..."
"Sasuke-kun, apa kau tidak senang?"
"Hn."
"Kenapa tidak memberiku selamat?"
"Hn. Dari tadi Konohamaru mencarimu. Dia sudah diperbolehkan pulang. Aku pergi dulu. Sepertinya hari ini akan banyak pasien."
Gadis itu diam saja melihat kelakuan Sasuke yang terbilang aneh.
"Ada apa dengannya?"
.
.
"Nee-chan dengar kau akan pulang hari ini."
"..."
"Konoha-kun, apa kau marah pada Nee-chan?"
"..."
Jelaslah sudah bagi Hinata kalau Konohamaru sedang merajuk. Mungkin salahnya juga yang akhir-akhir ini kurang dapat meluangkan waktu untuk Konohamaru. Tapi bukan Hinata namanya jka tidak dapat menangani anak-anak. Termasuk bocah nakal seperi Konohamaru.
"Baiklah kalau begitu. Nee-chan pergi saja." Pura-puranya sambil beranjak pergi.
"Nee-chan mau kemana?"
Berhasil.
"Tentu saja pergi. Konoha-kun kan tidak ingin bertemu Nee-chan."
"Aku sedang malah sama Nee-chan. Sehalusnya Nee-chan melayuku agal tidak malah lagi."
Ppft. Dokter cantik itu berusaha menahan tawanya ketika Konohamaru mengatakan 'merayuku'. Belajar dari mana dia kata-kata itu?
"Memangnya Nee-chan salah apa?"
"Ku dengal Nee-chan pacalan dengan si kepala melah."
"Memangnya kenapa?"
"Aku tidak suka. Doktel Gaala itu jelek. Aku lebih ganteng. Lebih cocok untuk Nee-chan."
"Konohamaru tidak tahu ya? Setelah Konohamaru besar nanti baru boleh memikirkan pacar. Pastinya umurnya sama dengan Konohamaru. Dan Nee-chan juga pacaran dengan orang yang umurnya sama dengan Nee-chan." Kata Hinata lembut.
"Memangnya sepelti itu?"
"Tentu saja. Lihat saja Sasuke-kun dan Shion-san. Mereka juga seumuran, kan? Dan mereka juga pacaran."
"Tidak lagi."
"Eh?"
"Paman bilang meleka sudah tidak pacalan lagi."
"Eh?"
Jadi itu sebabnya Sasuke-kun agak aneh pagi ini. Karena putus dengan Shion-san?
.
.
Tbc
.
.
Saia orang yang akan mengupdate my ff jika memang saia punya waktu.
Arigatou bagi yang sudah mereview. Gomen belum sempat membalas. Tapi review kalian adalah semangatku. #contek kata-kata para senpai.
.
.
Thanks for reading
