Disclaimer : Hetalia Axis Powers milik Hidekazu Himaruya

Ringkasan

Ini bukan tentang penculikan. Bukan tentang pembunuh bayaran. Bukan pula tentang hantu gentayangan. Ini hanya kisah Laura ketika ia melewatkan liburannya di rumah kakaknya. Fic horor anti-gantung, diusahakan hadir menemani pembaca di malam Jumat ini.

Catatan Penulis

SANGAT aman dibaca sendirian. Mohon maaf bila tak terlalu menyeramkan bagi Anda penggemar atau penulis kisah-kisah horor. Bila tak berkenan di hati, kirimkan kritik membangun via review tanpa unsur-unsur flame.Yang paling utama, mohon maaf sebesar-besarnya karena saya sangat terlambat meng-update fic ini.

Selamat Membaca!

-Sudut Pandang Laura-

Aku tidak tahu pukul berapa aku tidur semalam. Kakak mengguncang-guncang tubuhku ketika aku masih terlelap. Awalnya aku mendiamkannya saja, tetapi lama-lama aku kesal! Dengan mata masih tertutup, kutarik selimutku menutupi sebagian kepalaku dan berusaha kusingkirkan tangannya. Akan tetapi, aku tak kunjung menemukannya. Kakak sudah berhenti -bagaimana kalau dia iseng lagi?

"Kak, aku ma -"

Terjadi lagi hal aneh. Tak ada siapa-siapa di kamarku. Pintuku masih tertutup. Tak mungkin kakak hanya masuk untuk menggangguku, aku tak mendengar suara pintuku terbuka dan tertutup lagi. Kembali aku merasakan hawa dingin yang aneh. Aku menekan tanganku ke jantungku agar ia berhenti berdetak keras-keras.

Kuarahkan langsung mataku ke jam dindingku. Dalam gelap, cahaya lampu jalan yang terang membantuku melihat bahwa sekarang nyaris pukul satu pagi. Kenapa aku harus bangun jam segini, sih? Kata orang, dini hari begini 'kan waktunya para hantu berkeliaran... duh, apa sih yang kupikirkan.

Omong-omong kata orang, ada yang mengatakan padaku bahwa kalau kita bangun dini hari begini, berarti kita lapar. Jika perut kosong, akan sulit tidur. Aduh, aku ogah naik-turun ke dapur. Lagipula aku tak lapar. Masalahku cuma tak bisa tidur.

"Ya ampun."

Aku mendengar suara perutku sendiri meminta makan. Tahan sajalah! Aku memarahi perutku sendiri dengan kesal. Aku tak mau turun ke dapur, aku tak ingin mendengar suara cerek apalagi piano. Aroma teh dan melati itu juga, aku tak ingin menghirup keduanya lagi. Apa yang salah denganku? Padahal belum sampai tiga hari aku ada di sini jika hari kedatanganku tak dihitung.

Halusinasi? Tak mungkin. Halusinasi takkan meninggalkan jejak setebal itu dalam ingatanku. Buktinya aku masih merinding sampai sekarang! Iya sih, kadang aku kena paranoid, tetapi belum pernah aku merasa ketakutan lebih dari delapan hingga sepuluh jam sehari. Aku berusaha menjauhkan pikiran-pikiran negatifku tentang rumah ini demi bisa tidur dengan tenang. Kubayangkan saja sosok Elizaveta, Antonio, dan teman-temanku di sekolah dulu serta hal-hal menyenangkan yang pernah kita lalui bersama.

Hasilnya, aku malah semakin tidak bisa tidur dan hanya berbaring tak nyaman. Aduh, mau makan apa aku pada pukul dua pagi begini? Kakak hanya membawakanku hamburger tadi dan aku tak mau ke dapur. Selama kurang lebih tiga puluh menit aku berkali-kali berganti posisi tidur. Setiap aku memejamkan mataku, aku selalu terbayang-bayang oleh setiap kejadian yang sungguh menggangguku sejak aku datang ke rumah kakak.

Aku tidak berani mempertanyakan siapa yang mencoba membangunkan aku tadi. Tiba-tiba saja aku teringat hal itu. Kalau dipikir-pikir, itu... memang tidak mungkin kakak. Dulu ia tak pernah mau bangun pukul segini kecuali ada pertandingan sepak bola Liga Inggris atau domestik. Ketika kakak mau ujian akhir sekolah dulu, dia hanya belajar dini hari tiga kali.

Pikiranku melayang ke kamar kosong yang kakak tak memperbolehkan aku untuk masuk ke dalamnya. Mungkin ada seseorang di kamar itu. Maksudku –bagaimana mungkin lampu di dalam bisa hidup dan mati seenaknya? Bukankah bila kabel lampu putus, lampu takkan memyala lagi? Kemudian, bisa saja orang itu memainkan piano semalam! Lalu, orang itu juga yang menggunakan parfum melati dan memasak air! Nah! Hipotesisku nyaris sempurna!

Masalahnya tinggal satu. Aku tak punya cukup keberanian untuk membuktikan bahwa kamar itu ditempati. Juga ada larangan kakak. Sebenarnya sih tidak masalah dengan masalah tambahan itu, aku 'kan bisa mengendap-endap (kalau berani).

Tanganku akhirnya mengambil ponselku dan menyalakannya. Sejenak aku bingung menatap layar ponselku. Mau apa ya? Aku iseng mengecek Twister dan me-mention Antonio, menanyakan apakah dia sudah tidur. Lama kutunggu tak ada balasan. Ayolah, aku butuh kau sekarang, batinku mulai takut kembali.

'Maaf lama, sedang nonton video'

Dia membalas. Aku menghela napas lega. Akhirnya, ada sesuatu yang bisa membebaskan aku dari ketakutan sementara itu. Akan tetapi, tak sampai sekian banyak kami saling mention, aku langsung menelan ludah karena ngeri.

'Video apa? O_o'

'Horor'

Astaga. Dasar Antonio. Aku mendadak merinding lagi, leherku yang serasa kaku mulai memandang sekeliling ruangan yang gelap. Gelap, nyatanya cahaya lampu jalan tak cukup untuk menerangi seluruh kamar. Jarum jam itu seakan menertawakanku dengan suara yang cukup membuat suasana semakin menakutkan.

'Jangan buat aku semakin takut -_-'

'Ah, maaf, rupanya kau sedang takut. Aku sedang nobar bersama Lovi dan adiknya'

'Baik, selamat menonton'

Kesepian lagi. Aduuh, ada-ada saja, seharusnya aku terus saja berkomunikasi dengannya via jejaring sosial itu. Harusnya aku jujur saja padanya kalau aku takut. Ini apa pula, kenapa si Alfred dari tadi membicarakan makanan melulu dengan Toris? Aku jadi semakin lapar, 'kan... dan aku juga senewen karena Elizaveta yang biasanya suka tidur dini hari rupanya tidak ONLINE sekarang. Sepanjang menit itu aku terus mengecek akun teman-temanku, mencari tahu apakah mereka masih terjaga atau tidak. Kadang kusela aktivitas itu dengan menjelajahi internet. Semoga pulsa dan bateraiku tak cepat habis!

Setelah puas memantau mereka, akhirnya aku menyerah. Sepertinya semua tidur. Sudahlah, aku akan mencoba tidur juga, batinku sambil mematikan ponselku yang baterainya sudah merah. Ah, mulutku terbuka lebar dan menguap. Kupikir seharusnya aku bisa tidur dengan cepat. Kutarik korden di jendela yang sempat meneruskan cahaya lampu jalan itu ke kamarku. Aku tak bisa tidur bila ada cahaya. Kupejamkan mataku sambil berdoa sebelum tidur (dan mohon perlindungan Tuhan dari hal yang tidak-tidak). Akhirnya, aku bisa bermimpi indah -

"Laura, bangun."

Suara kakak mengetuk pintu. Aku menggerutu kesal dan menutup seluruh kepalaku dengan selimut. Apa-apaan?! Baru aku hendak istirahat dengan tenang! Masa bodoh, masa bodoh! Sementara aku tidak mengacuhkannya, suara ketukan itu makin keras.

"Laura, kalau kau diam, berarti aku boleh masuk, ya," kemudian aku mendengar pintu kamarku berderit.

Kali ini memang kakak. Syukurlah Kak, tetapi aku sedang tak ingin melihatmu dalam dunia nyata -cukup di mimpiku saja. Aku bisa mendengar langkah kaki kakak semakin dekat padaku. Ia duduk di sisi tempat tidurku, menghela napas, lalu mencoba menurunkan selimutku dari kepalaku.

"Aku tahu kau masih bangun," katanya, "sudahlah, turunkan selimutnya."

Aku mendecak kesal dan membalik tubuhku hingga aku memunggunginya yang ada di sisi kiriku. Kakak setengah mendesakku, ditariknya selimutku pelan-pelan. Karena malas bertengkar dengannya, kubuka selimutku dan kupaksa mataku yang tinggal segaris untuk menatapnya dengan kesal.

Aku kembali berbaring menghadapnya tanpa repot-repot duduk,"Mau apa?"

"Maaf mengganggumu," ujarnya sambil mengangkat alisnya saat memandangku, "aku ingin minta tolong."

Kebetulan sekali aku menguap lebar saat ia mengatakan itu.

"Apa?"

"Aku mau ke mini market untuk beli sarapan. Kalau kunciku tak terbawa temanku, aku tak harus membangunkanmu begini... aku hanya ingin kamu menjaga rumah. Duduklah di ruang tengah, sambil nonton TV juga tidak apa-apa."

Alisku menurun curam, "Tidak mau, aku mengantuk sekali."

"Makanya," ia menghela napas dan membuka korden lebar-lebar, "jangan begadang main Twister."

Aku menjerit pelan ketika seberkas cahaya matahari pagi masuk ke kamarku, cukup membuatku silau. Gila, ternyata aku benar-benar tidak tidur lagi setelah terbangun! Kakak menertawakanku ketika ia melihat tampang pagiku yang pastinya kusut masai. Aku jadi kesal karena ia tak tahu apa-apa soal apa yang terjadi. Terpikir olehku untuk memberi tahu kakak soal hal aneh yang kualami dini hari tadi.

"Sebenarnya..."

"Sudah," ia mengacak pelan rambutku sambil tersenyum samar, "curhatnya nanti saja. Yuk, turun."

Tunggu dulu. Jika aku membiarkan kakak pergi belanja sekarang, berarti aku harus sendiri lagi di rumah ini. Berarti aku harus menunggu kakak di ruang tengahnya, ditemani harum melati, suara air mendidih, piano tanpa pianis, dan nyanyian kamar mandi itu. Mataku yang memerah dan menyipit lantaran mengantuk berat mendadak terbuka lebar.

"Tidak mau, Kak," aku menarik bagian bawah kaus kakak ketika ia bangkit dari duduknya.

"Kau tak mau makan?" Ia berkata heran, "Tak apa-apa sih, aku bisa berangkat ke kantor lebih pagi dan makan di jalan."

"Bu -bukan begitu... maksudku, aku saja deh yang belanja."

Pemuda berambut pirang itu terlihat ragu sejenak. Ayolah, batinku penuh harap. Tak salah sih kalau dia bingung begitu. Dulu aku paling tak suka disuruh-suruh olehnya. Kali ini, aku lebih suka meminjam sepeda kakak yang sudah agak berdebu di garasi untuk beli sarapan dibandingkan menunggunya bersama orang asing di kamar itu.

Kakak mengajakku keluar kamar sambil mengangguk setuju. Aku bersorak dalam hati. Kami keluar bersama dari kamarku dan saat itulah aku melihat pintu kamar misterius itu terbuka sedikit.

Aku tak mendengar pintu mana pun berderit pelan sebelum kakak mengetuk pintuku...? Tiba-tiba, kakak menepuk bahuku dan mengisyaratkan padaku untuk segera turun. Rupanya aku berpikir sambil berhenti melangkah. Kuturuni tangga dengan hati-hati sementara kakak masih di atas, hendak membuka korden besar jendela dekat piano. Aku menguap lebar saat tiba di lantai bawah. Tak ada masalah, batinku lega. Syukurlah kakak telah membuka korden dan menyalakan lampu ruang makan, aku bisa lewat sana tanpa takut untuk pergi ke ruang tengahnya.

Kulirik sebal jam dinding yang ada di sana. Apa-apaan, masa sudah pukul enam lewat. Aku nyaris tertidur di sofa ruang tengah yang empuk ketika kakak menghampiriku dan menyodorkan kepadaku beberapa lembar uang. Dia menyertakan daftar belanja di selembar kertas memo. Ketika aku bangkit dari sofa sambil meregangkan tubuhku, kakak memanggilku hingga aku tak buru-buru beranjak ke garasi.

"Pakai ini," ia melempar kemeja flanel kotak-kotak lengan panjang yang dipakainya kepadaku, "kau terlihat gendut jika hanya pakai you-can-see begitu."

Aku menangkapnya dan mengenakannya tanpa berkomentar. Aku mengerti, dia tak mau aku mengalami hal tidak baik pagi-pagi begini. Kulangkahkan kakiku dengan ogah-ogahan ke garasi. Tak ada hal mengerikan yang kualami di sana, jadi aku tidak takut. Kunyalakan lampu garasi dan kubuka dahulu pintu keluarnya. Sepeda itu masih terdiam di tempat yang sama seperti kemarin saat aku mengambil penyedot debu. Kubersihkan sedikit jok hitam yang akan kududuki dengan tanganku sebelum membawa sepeda itu ke mini market.

Kendati aku berusaha untuk berbelanja dengan cepat, tetap saja aku tak bisa pulang ke rumah kakak dalam waktu lima belas menit. Aku menyempatkan diri untuk mencuci muka di keran terdekat, tersasar beberapa belokan, dan jatuh gara-gara ketiduran. Untung tak ada antrean di kasir (siapa yang mau belanja pagi-pagi begini?) dan itu sangat membantu. Aku sudah jauh lebih segar ketika mengayuh sepedaku untuk pulang, sehingga insiden-insiden itu tak terjadi lagi... kecuali salah belok.

Syukurlah kakak tidak marah. Ternyata musibah di tikungan itu sangat membantu. Ketika sedang bersepeda hendak ke mini market tadi, kedua mataku perlahan menutup dan ketika aku membuka mereka lagi, roda depan sepeda nyaris membentur dinding di depanku –jalannya berbelok ke kanan. Aku terkejut dan buru-buru membanting stang sepeda, tetapi terlambat. Aku jatuh dan lutut kananku terluka. Kakak memang tidak terlihat khawatir, hanya langsung menyuruhku meluruskan kakiku di sofa. Lalu ia kembali dan membersihkan lukaku sebelum memberinya obat luka.

"Aku akan buatkan sarapan. Lain kali hati-hati. Hari ini sepertinya aku akan pulang larut, banyak pekerjaan," katanya sambil berlalu ke dapur.

Kedua sudut bibirku mendadak turun tak membentuk senyum lagi. Pulang larut? Oh, tidak. Aku memandang seluruh rumah ini dari tempatku duduk. Sendiri lagi... ini baru hari kedua aku berlibur di rumah kakak. Kendati aku mulai tidak tahan dengan hal seram kemarin, aku tak mau langsung pulang seenaknya. Waktu liburan masih panjang -di mana lagi aku bisa mendapatkan makanan dan tempat tidur gratis?

Aku tak bicara apa-apa kepada kakak ketika aku mengekorinya ke dapur. Kami membuat sarapan bersama. Keadaan dapur normal-normal saja selama aku bersama kakak. Sepanjang hawa keberadaan kakak bisa kurasakan, rumah ini bersikap baik padaku. Pengecualian untuk kejadian semalam -eh, dini hari tadi.

Kurang lebih pada pukul tujuh, tanganku melambai lemas ke kakakku yang pergi kerja dengan pakaian yang rapi. Ah, suatu saat nanti aku juga akan begitu, batinku. Kurasa menjadi sekedar ibu rumah tangga tidak akan seru. Aku menghela napas ketika pintu kututup kembali. Aku menguncinya dan memasukkan kunci itu ke saku celanaku.

Apa yang harus kulakukan untuk mengusir kesendirian ini? Aku sempat menonton televisi, tetapi tak ada yang menarik. Aku malah memainkan ponselku di sofa dan tertidur hingga pukul setengah dua belas siang (astaga). Maka kumatikan kembali televisi itu hingga tak ada lagi suara di seluruh rumah kakak. Mungkin sebaiknya aku jalan-jalan keluar. Namun aku segera terbayang jalan macet yang dipenuhi berbagai mobil menuju perkantoran. Ah, jadi malas.

Tiba-tiba telingaku dikejutkan oleh suara perabot kaca yang menghantam lantai sampai berkeping-keping. Aku tersentak. Dari arah ruang makan! Apakah itu tikus besar yang menyerempet gelas di meja? Meski penasaran, aku tak buru-buru mengecek ke sana. Aku punya dugaan mengenai apa yang akan kulihat di ruang makan itu.

Tidak ada apa-apa. Tak ada gelas, piring, apalagi asbak kaca di atas meja makan. Tak ada beling atau serpihan perabot di lantai yang dingin itu. Semua masih terdiam di tempat masing-masing. Bahkan dapur itu masih sama, kosong, hening, dan dingin.

Tepat seperti dugaanku. Kupandangi sekelilingku dengan kesal. Jendela dapur dan sekitar ruang makan tertutup, kacanya masih utuh. Tak mungkin ada kucing masuk. Ah, dinding dan lemari makanan itu seperti menyembunyikan sesuatu dariku!

Aku tahu, tidak ada gunanya aku terdiam di sini lebih lama. Kuikuti kakiku yang membimbingku naik ke lantai atas. Anak-anak tangga itu berderit pelan seiring berat tubuhku menekan mereka. Bisakah kau bayangkan suara tangga kayu yang dipijak di rumah kosong? Kemudian, ketika aku sampai ke anak tangga terakhir, korden jala putih itu melambai-lambai pelan di depan mataku. Piano hitam yang ada di antara aku dan si korden bergeming, seakan menungguku menghampirinya.

Kalau difoto mungkin bagus sekali, batinku. Bagus, agak gotik, tapi... tetap agak mengerikan. Namun jariku seolah terpanggil oleh tuts-tuts berdebu itu. Aku menghampiri piano itu perlahan, menarik kursinya, dan duduk menghadapnya. Benar-benar bagus. Mataku tertuju kepada skor musik yang tertutup. Jika dilihat dari tempat kakak meletakkannya, aku langsung tahu bahwa kakak selalu membaca skor musik saat bermain.

Aku mengambil kumpulan skor musik yang dibundel jadi satu itu dan meniup debu di atasnya. Tuts piano putih dan hitam itu juga sama berdebunya. Berarti kakak tak pernah bermain lagi. Kakak telah menyampul skor itu dengan kertas licin berwarna putih polos. Tak ada daftar isi. Halaman pertama skor itu nyaris kosong, hanya ada tanda tangan kakak di sudut bawah kanannya.

Judul lagu pertama yang ada di halaman berikutnya adalah 'Turkish March'. Gila, masa kakak langsung belajar lagu susah begini. Lalu ada 'Chopstsicks' yang seingatku cukup mudah dan beberapa lagu klasik lainnya. Kupikir semua skor ini dia dapat dari internet -tetapi ternyata tidak.

'Dance of Sugarplum Fairy -aransemen oleh saya'. Oh. Keren. Kalau tidak salah, itu lagu Tchaikovsky yang tak dipopulerkan dengan piano. Kakak menulis sendiri not-not hasil pemikirannya di paranada itu. Aku tahu bahwa kakaklah yang menulis judul dan 'saya' itu. Ternyata dia rajin. Ada beberapa halaman berisi lagu-lagu tanpa judul yang kelihatannya tidak selesai.

"Aku tak percaya, Kakak pernah bermimpi menulis lagu sendiri," gumamku pada kertas itu. Tiba-tiba aku melihat beberapa judul lagu asing yang pernah kudengar. Kebanyakan lagu-lagu itu diberi lirik di bagian paling bawah -tidak di bawah not masing-masing. Beberapa di antara mereka adalah hasil aransemen kakak dan -seseorang yang disebutnya dengan kata 'dia'.

'Bengawan Solo', 'Indonesia Pusaka', 'Sepasang Mata Bola', dan 'Rayuan Pulau Kelapa'. Semua lagu-lagu rakyat Hindia Belanda. Rata-rata lagu itu pendek dan berlirik entah tentang apa, aku tak menguasai bahasa itu. Setelah skor 'Rayuan Pulau Kelapa', tak ada lagi skor-skor musik. Hanya ada sedikit halaman berparanada kosong.

Piano itu berdenting. Seandainya aku tak menyadari bahwa jariku sendirilah yang tidak sengaja menyentuh salah satu tuts putih itu, aku akan langsung melesat ke kamarku dan membiarkan lembaran-lembaran itu berserak di lantai. Namun ada hal lain yang menarik perhatianku. Bagaimana suara piano ini begitu jernih?

Kuletakkan skor itu dengan terbuka di tempat yang sama ketika aku mengambilnya. Dengan hati-hati aku mulai memainkan akor-akor dasar dengan tujuan iseng mencoba. Benar-benar bagus, batinku terkesima. Kedua tanganku akhirnya tergoda untuk menekan tuts-tuts berdebu itu. Ah, sudah banyak sekali lagu yang kupelajari, tetapi aku lupa -permainanku beberapa kali terputus atau terhenti.

Kemudian mataku kembali mengamati isi skor musik halaman terakhir. Aku memikirkan not-not itu dalam kepalaku, membayangkan bagaimana suara mereka kelak. Tak puas berimajinasi, bibirku melantunkan nada-nada itu dengan lirih. Komposisi yang manis, sepertinya... astaga, bagaimana kakak bisa membuat ini.

Aku mendadak lupa dengan kasus piano-bermain-sendiri yang terjadi kemarin. Kini jari-jariku menari bersama debu tuts putih dan hitam, terhipnotis nyanyian piano anggun itu. Betapa lagu ini mengalun lembut dan hasil aransemen kakak memang tak diragukan indahnya. Tinggal beberapa paranada lagi sebelum aku mencapai bagian reff ketika aku menyadari bahwa telingaku juga dimanja oleh melodi biola yang begitu mesra berpadu dengan permainan pianoku.

Biola?

Jariku berhenti bermain tepat satu not sebelum reff. Suara piano tak terdengar lagi. Rumah itu kosong, tetapi aku mendengar biola itu melantunkan reff lagu dengan penuh penghayatan. Senar yang digesek itu semakin terdengar menyayat hati. Rasa dingin mulai menjalari jari-jariku. Lagu itu belum berakhir, tetapi aku tak menunggunya selesai untuk -

"KYAAA!"

-minggat dari kursi piano dan membiarkan skor itu terdiam di tempatnya. Aku tak terpikir untuk masuk ke kamarku, aku bergegas menghampiri tangga dengan ngeri dan berlari turun ketika mendengar suara biola itu semakin jelas di tangga. Gila, sejak kapan aku main piano sambil berkolaborasi dengan violis tanpa wujud?! Saking takutnya, dalam hitungan detik aku sudah ada di luar rumah dan menutup pintu sambil terengah-engah.

Astaga, ternyata aku tidak cukup pintar untuk mengambil dompetku dahulu di kamar sebelum kabur. Bukan -bukan pintar, tapi berani. Apalagi suara biola itu terdengar agak lebih jelas ketika aku hendak melewati tangga...

"Beli koran, Tante?"

Aku terkesiap. Syukurlah, kali ini ada suara yang bisa kulihat sumbernya. Beberapa meter di depanku, berdiri seorang anak laki-laki bertopi biru muda berdiri sambil menawarkan satu-satunya koran di tasnya. Ia menungguku menjawab -alis tebalnya naik ketika aku balik memandangnya.

"Apa -oh, jangan panggil aku tante," aku menghampirinya sambil berkacak pinggang, "lihat koranmu."

Tangannya menyodorkan media cetak itu kepadaku sambil bicara, "Tinggal satu, buat Bibi yang cantik ini bayar setengah harga boleh deh."

Aku membaca sepintas koran itu sambil menggumam, "...bibi? Huh, semoga bukan ayahmu yang mengajarimu begitu."

Anak itu tertawa. Sesekali aku meliriknya dan rambut pirangnya. Sepertinya usianya kisaran tiga belas hingga lima belas tahun -kenapa dia tak sekolah? Mataku sudah membaca berita-berita terakhir koran itu ketika akhirnya rasa simpatiku muncul pada anak itu. Dia masih menungguku sambil membuat lingkaran di tanah dengan ujung kakinya dengan harapan aku akan membeli koran terakhirnya.

Aku menghela napas. Kurogoh saku kemeja flanelku dengan harapan menemukan uang sisa belanja tadi. Aku memberikan beberapa lembar uang kepadanya setelah bertanya harganya. Dia kelihatannya senang sekali karena (tanpa sengaja) aku memberinya uang lebih.

"Terima kasih," katanya gembira, "kalau aku sudah punya toko buku sendiri, nanti Kakak beli ya."

Dia hanya sopan ketika aku membeli korannya, batinku sambil menahan rasa untuk mencebik di depannya. Payah, anak zaman sekarang. Dia memasukkan uangnya ke dompet kumalnya bersama hasil penjualannya selama pagi ini. Kurasa dia tidak semiskin itu, deh.

"Hei, kau," panggilku sebelum dia pergi, "tidak sekolah?"

"Namaku Peter," ujarnya, "hari ini aku memang tidak boleh sekolah. Harus membantu kakakku."

"Menjual koran?"

Dia mengangguk pelan. Kami sama-sama terdiam sejenak. Dengan suara pelan, ia pamit hendak pulang. Tiba-tiba aku terpikir untuk bertanya beberapa hal lagi kepadanya.

"Kau sudah lama keliling antar koran di sini, 'kan, Peter?"

Ia berbalik batal pergi lagi, "Tentu saja."

"Oh, kau pasti pernah melihat penghuni rumah ini yang sekarang, 'kan?"

"Om-om berambut pirang mohawk gagal dan syal biru garis-garis putih."

Aku tersenyum menahan tawa, "Iya, dia kakakku. Kau pernah melihat orang lain di rumah ini bersamanya?"

Anak itu terlihat seperti berpikir. Satu alisnya naik sementara yang lainnya menurun curam ke arah hidungnya. Beberapa kali kulihat bola matanya bergerak-gerak sementara bibirnya bergumam pelan sekali, menyebut sesuatu yang terdengar seperti 'siapa, ya, ada tidak' dengan ragu-ragu.

"Aku tahu," katanya tiba-tiba dengan bersemangat, "yang tinggal dengan om itu... Kakak sendiri, iya 'kan?"

"Bukan aku," protesku agak kesal, "maksudku, sebelum aku ke sini. Dia pernah tinggal dengan siapa? Atau -apakah kau tahu sejarah rumah ini?"

"Kalau itu sih, mana aku tahu," dia mengangkat bahu, "mungkin aku belum berjualan di sekitar sini. Seingatku, pernah ada orang menyambut om pirang itu pulang dari rumah ini -tapi aku lupa siapa."

Oh. Ada petunjuk. Aku membiarkan anak itu pergi dari sini setelah ia pamit (dan memintaku membeli koran lagi besok). Ternyata benar, 'kan, pasti ada sesuatu dengan rumah ini. Dulu ada yang tinggal di sini, jelas ia mengalami suatu hal yang membuatnya menghantui rumah ini. Apapun itu, kurasa itu bukan poltergeist biasa -hantu jahil itu tak bisa main biola, 'kan?

Cahaya matahari mulai terasa menyengat. Aku memandang pintu di depanku dengan ngeri. Sebelum kejadian tadi, aku tak pernah menyangka akan ada hal mistis di siang bolong (kalau di pagi buta sih biasa). Aku mengeluarkan kunci di sakuku dan menghampiri pintu kayu di depanku pelan-pelan. Dalam waktu kurang dari dua menit, aku sudah berada di dalam rumah kakak kembali.

Hah. Syukurlah, rumah ini masih kosong. Tidak terdengar apa-apa lagi. Aku sempat menunggu sambil bersandar di pintuku yang tertutup kalau-kalau ada suara dadakan (jadi bisa langsung kabur). Merasa aman, akhirnya aku mengunci kembali pintu dan melangkah naik ke kamarku. Koran yang kubeli tadi kulempar begitu saja ke sofa dengan niat membacanya lain waktu. Sekilas aku melihat bahwa kertas-kertas paranada itu masih tergeletak di piano itu.

Dari jendela kamar, aku tahu bahwa matahari naik semakin tinggi. Sebentar lagi waktu makan siang. Aku mau saja memasak untukku sendiri di dapur, tetapi sekejap aku teringat dengan harum melati. Bagaimana, ya? Tadi aku sempat berbelanja... menurut logikaku sih, seharusnya makhluk halus tak menampakkan diri di siang hari, 'kan?

Kalau tidak dicoba 'kan aku takkan tahu -maksudku, siapa tahu aroma bunga itu tak tercium lagi.

Aku menyempatkan diri untuk berdiri di sisi jendela. Kupandangi pemandangan rumah-rumah di luar sambil menghela napas. Apakah aku harus cerita kepada kakak soal ini atau tidak, aku belum bisa memutuskan. Aku tak mengerti kenapa dia bisa tenang-tenang saja tinggal di sini bertahun-tahun. Apakah karena aku orang baru, ya?

Kepalaku segera menoleh ke pintuku ketika aku mendengar sesuatu melangkah di loteng. Bukan langkah kaki. Suaranya terlalu ringan untuk seorang manusia walau anak kecil pun. Serasa ada air es menjalari jemari kakiku yang tiba-tiba jadi kaku. Aku masih bisa mendengar langkah itu, pelan, semakin dekat -

-dan ketika aku memutuskan untuk bangkit dari tempat tidurku, terdengar suara kucing mengeong dan kegaduhan barang-barang jatuh di lantai kayu loteng.

Sial. Cuma kucing liar. Sial! Maksudku -kenapa aku harus setakut itu?! Cuma kucing yang masuk ke loteng kakak entah dari mana, tak ada yang perlu kukhawatirkan. Aku mengambil CHARGER dan mematikan ponselku selama baterainya diisi. Kuletakkan ponselku di meja sisi tempat tidur.

Sudah hampir jam dua belas, batinku ketika melihat jam di dinding kamar. Makan siang, ah, tapi jangan di rumah ini. Seingatku, ada banyak warung makan di dekat mini market yang kudatangi pagi tadi. Kuambil beberapa lembar euro dari dompetku. Aku sengaja meninggalkan ponsel dan dompetku di kamar. Kututup korden kamarku setelah memastikan bahwa jendelanya terkunci. Aku keluar kamar sambil melirik ke pintu kamar kosong itu dan piano. Tepat ketika aku melihat ke arah kaca besar pintu balkon, mataku menangkap sesuatu melesat jatuh. Bagian dalam korden jala putih yang terbentang itu menyamarkan bentuk benda yang jatuh.

"Astaga!"

Terkesiap, aku buru-buru menuruni tangga. Apa yang jatuh tadi? Di mana benda itu mendarat? Kunciku masih ada di sakuku hingga aku dengan mudah bisa keluar rumah dengan cepat. Aku segera melihat sekeliling halaman, mencari-cari apa yang kira-kira jatuh. Lima belas menit aku memutari halaman rumput rumah kakak yang kecil. Aku tak mendapatkan apa-apa.

Mungkin aku salah lihat, batinku bingung. Aku masuk kembali ke rumah untuk mengambil sepeda kakak. Kupikir aku tak perlu berganti pakaian. Setelah mengunci pintu, kukayuh sepedaku ke arah jalan tempat mini market itu berada.

Aku terlalu banyak melihat-lihat dan berkeliling hingga pukul lima. Malah, aku sudah jauh sekali dari rumah kakak. Kawasan itu aktif mulai dari sore hari, rupanya, karena kebanyakan pedagang membuka kios mereka selewat pukul tiga. Uangku tinggal beberapa keping uang logam saja lantaran selain makanan, aku membeli makan malam souvenir kecil-kecilan sebelum pulang. Perjalananku sempat terhambat oleh aku sendiri yang lagi-lagi tersasar di komplek.

Pukul tujuh lewat tiga puluh sore aku baru sampai di depan rumah. Biasanya hari mulai terlihat gelap. Itulah yang harusnya terjadi di rumah. Jendela-jendela harusnya terlihat gelap dari luar karena aku tak menyalakan lampu. Akan tetapi, tidak kali ini. Aku melihat cahaya dari jendela ruang tamu.

"Kakak sudah pulang!" Aku bergumam ceria sambil buru-buru membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Seperti tadi pagi, kubawa sepeda itu masuk juga untuk diletakkan di garasi. Lampu ruang tamu memang menyala. Aku bersenandung seiring membuka pintu garasi untuk memasukkan sepeda.

Di dalam garasi yang gelap itu, aku mendengar suara tombol lampu senter yang ditekan beberapa kali. Cahaya dari pintu masuk garasi tak cukup untuk menerangi. Kurasa itu kakak yang sedang mencari-cari sesuatu di sudut garasi dengan senternya. Mungkin baterainya habis, batinku sambil memasang penyangga sepeda di dekat pintu masuk garasi yang masih terang. Aku meraba-raba dinding terdekat dan menemukan tombol lampu. Namun, lampu garasi tidak kunjung menyala, sama seperti senter itu –yang masih berbunyi.

"Sudahlah Kak, cari besok saja," kataku sambil bersandar di kusen pintu garasi, "harusnya tadi beli lampu ruangan dan baterai senter."

Karena kakak tidak menjawab, aku hanya mengangkat bahu dan meninggalkan garasi tanpa menutup pintunya. Aku meletakkan souvenir dan makanan yang kubeli di atas meja tamu. Tiba-tiba aku ingin masuk ke kamar kakak untuk mencoba toiletnya (terakhir aku ke sini, kamar kakak sedang direnovasi). Segera saja aku melangkah ke sana, membuka pintunya, dan kembali terkejut nyaris mati.

Berani sumpah bahwa tadi dia mencari-cari sesuatu dengan senter rusaknya di garasi.

Akan tetapi dia ada di dalam, menatap bayangan dirinya sendiri yang agak berantakan di depan cermin. Agak berantakan -maksudku, rambut tidak teratur, dasinya terbuka, satu kancing kemeja teratasnya tak terpasang, dan kemeja putihnya tak dimasukkan ke dalam celana. Oh iya, blazer hitamnya ada di atas tempat tidur. Dia memang bukan tipe yang kaya ekspresi, tetapi aku bisa langsung tahu bahwa ia terkejut melihatku.

"Kamu...?"

"Aku tadi makan siang di luar," kataku sambil duduk di tempat tidurnya, "maaf, tidak memberitahumu."

Kak Nether perlahan berbalik hingga berhadapan denganku, "Kamu dari tadi... tidak di rumah?"

"Umm, hanya dari pukul dua belas, kok. Aku juga belikan Kakak makan malam, he he he."

Sepertinya kakak menyempatkan diri untuk minum dan berkaraoke dengan teman-temannya sepulang kerja –ada sedikit bau minuman.

"Terima kasih," ujarnya sambil masuk ke kamar mandinya (masih dengan wajah terkejutnya), "kau tunggu saja di meja makan. Aku mau mandi. Kalau mau makan lebih dahulu juga tidak masalah."

Alih-alih duduk di kursi makan, aku lebih memilih untuk duduk di sofa ruang tamu. Kunyalakan televisi dan kucari acara yang cukup menarik bagiku. Aku hampir memakan makan malamku ketika kakak datang dengan kaus rumahannya dan duduk bersamaku di sofa. Kami makan dalam diam, tak seorang pun bicara kecuali komentator sepak bola di televisi.

Rasanya, kakak menyimpan sesuatu yang enggan diutarakan.

Akhir dari Sendiri di Rumah Kakak, Hari Kedua