Disclaimer : Hetalia Axis Powers milik Hidekazu Himaruya
Ringkasan
Ini bukan tentang penculikan. Bukan tentang pembunuh bayaran. Bukan pula tentang hantu gentayangan. Ini hanya kisah Laura ketika ia melewatkan liburannya di rumah kakaknya. Fic horor anti-gantung, diusahakan hadir menemani pembaca hari ini.
Catatan Penulis
SANGAT aman dibaca sendirian. Mohon maaf bila tak terlalu menyeramkan bagi Anda penggemar atau penulis kisah-kisah horor. Bila tak berkenan di hati, kirimkan kritik membangun via review tanpa unsur-unsur flame.Yang paling utama, mohon maaf sebesar-besarnya karena saya sangat terlambat meng-update fic ini. Terima kasih sudah rela membaca sampai akhir. Bagi para siswa-siswi, selamat berlibur!
Selamat Membaca!
-Sudut Pandang Laura-
Ketika aku terbangun, tubuhku terbaring di atas sofa kakak. Televisi di depanku masih menyala. Mataku terasa sakit karena banyak cahaya yang mendadak masuk. Lagi-lagi ketiduran, batinku, di lantai satu pula. Aku menggerutu pelan sambil melihat penunjuk waktu di ponselku.
"Cih."
Pukul dua belas lewat sepuluh malam. Kenapa aku harus terbangun di malam buta begini?! Ruangan ini bercahaya remang-remang, lampu berdaya kecil yang menyala seakan membujukku untuk tidur lagi. Kalau bukan karena kerongkonganku yang meminta diisi air, aku mungkin akan menjatuhkan diri lagi dan tidur sampai pagi. Kulihat gelasku ada di atas meja tamu, tanpa setetes air pun. Meski masih setengah sadar, aku cuek saja bangkit dari sofa dan melangkah menuju ruang makan dengan gelasku.
Baru saja aku bergerak tiga langkah dengan ogah-ogahan, aku kembali dikejutkan oleh suara kucing yang mengeong di dalam rumah.
Seketika kantukku pergi. Gantinya, bulu romaku kembali pasang ancang-ancang untuk meremang. Aku menghentikan langkahku dan berusaha menyimak. Seharusnya rumah ini sepi dan tenang, terutama kakak tak terlihat memelihara seekor binatang pun. Suara itu muncul kembali dan menjadi lebih keras. Segera aku memandang ke arah sekitarku -belakang sofa, di bawah korden jendela ruang tengah ini, lemari perabot...
Aku berusaha mengumpulkan keberanian untuk mengecek ruang makan dan dapur. Oh tidak. Bagian yang paling menyeramkan dalam rumah ini. Langkah besarku menjadi jingkatan kecil. Jika bukan karena suara kucing itu, aku pasti bisa mendengar jantungku berdegup cepat. Pelan-pelan aku mendekat ke ruang makan yang lampunya menyala. Dengan ragu, kakiku berjingkat-jingkat masuk sembari mataku menyisir ruangan pelan-pelan.
"Tidak ada apa-apa," gumamku sambil mendekati lemari es di ruang makan. Syukurlah, lampunya menyala! Aku mengisi gelasku dengan air dingin dari salah satu botol di lemari es. Dalam beberapa detik, gelasku sudah kosong lagi.
Lalu nyanyian kucing itu terdengar lagi, lebih jauh dan sayup-sayup.
Jelas bukan dari dapur, batinku sambil mendelik ke arah dinding yang membatasi dapur dan ruang makan. Kuletakkan gelasku di atas meja makan. Buru-buru aku meninggalkan ruangan itu dan kembali ke ruang tengah tanpa mematikan lampunya. Benar sekali, suara itu terdengar lebih jelas ketika aku berada di sana. Aku hanya belum tahu -sebenarnya dari mana suara itu berasal?
Saat aku melihat ke pintu garasi, aku terkejut. Apakah aku lupa menutup pintu itu semalam? Pintu itu setengah terbuka, menunjukkan kegelapan ruangan di dalamnya yang sempat kumasuki tadi. Kuhampiri pintu itu hanya untuk menutupnya. Aku tak mau melihat ke dalam. Namun rasa ingin tahuku menang -kini aku berada di depan pintu itu, beberapa langkah dari kegelapan ruangan, menatap garasi yang seakan tertutup tirai hitam.
Aku tak bisa melihat apa-apa. Ya, cahaya dari luar tak cukup menerangi seluruh garasi. Aku hanya bisa melihat dua titik putih yang berada rendah, menyala berdekatan. Nyaris terkejut, aku ingat bahwa mata kucing mampu menyala dalam gelap. Pasti kucing itu ada di sudut ruangan.
"Pus," panggilku sambil mengulurkan tangan ke dalam, "ayo sini, pintunya mau kututup."
Hewan itu bergeming. Matanya seakan mencoba menerawangku. Ah, kenapa lampunya harus mati? Aku membujuk hewan itu kembali, tetapi hasilnya nihil. Aku tidak berani masuk ke dalam karena gelap. Bagaimana jika aku tak sengaja menginjak sesuatu?
"Bila kau memang ingin di dalam, ya sudah."
Pelan-pelan aku menutup pintu. Lagipula kucing itu tidak akan mati, pikirku. Kalau lampu garasi menyala sih, aku berani masuk dan mengambilnya. Setelah merasa bahwa urusanku dengan si kucing itu selesai, aku meninggalkan pintu itu menuju ke tangga. Kutekan tombol lampu ruang tengah yang ada di dekat tangga hingga seluruh lantai satu gelap -sama seperti di garasi. Lampu yang dipasang di dinding tangga menimbulkan cahaya remang-remang, hanya menerangi kawasan tangga. Aku tidak berani melihat ke arah lain kecuali tangga di depanku. Dengan hati-hati aku menapaki anak tangga itu agar tidak menimbulkan derit.
Aku sudah memijak anak tangga terakhir ketika suara siulan cerek air memanggilku dari dapur. Langkahku terhenti seiring aku mencoba mengingat apakah tadi aku menyalakan kompor atau tidak. Rasanya tidak! Bahkan aku tak menyentuh cerek sama sekali. Ingin sekali aku langsung masuk ke kamarku dan tidur, tetapi kakiku tidak bisa bergerak maju. Aku masih terdiam ketika sadar bahwa suara itu semakin keras. Tidak salah lagi -itu memang suara air mendidih.
Mungkin tangan jahilku tidak sengaja memutar tombol kompor, batinku sambil berbalik. Sebenarnya, aku masih bingung dalam benakku sendiri -bahkan kemungkinan itu membuatku ragu. Namun, kebimbanganku sekejap tersingkir sementara karena aku menemukan hal lain yang menarik saat tak ada lagi tangga yang harus kuturuni.
"Kenapa lampu ruang tengah menyala?"
Kuamati sejenak ruangan di depan mataku. Aku yakin sekali bahwa aku mematikan lampu. Tidak mungkin kakak. Jika memang kakak yang menyalakannya, seharusnya aku mendengar pintu kamarnya yang terbuka. Aku ragu kakak bisa bangun cuma gara-gara 'bisikan' air matang.
Awalnya aku tenang-tenang saja melewati ruang makan yang masih terang. Langkahku semakin cepat ketika aku menuju dapur. Nyaris aku menabrak konter. Temperatur dapur terasa lebih tinggi dari ruang makan -kali ini pasti air sungguhan! Aku menghampiri kompor dan memutar tombolnya langsung tanpa melihat -
"Eh."
-keadaan kompor yang mati. Buru-buru kutarik lagi tanganku dari kompor itu. Tak ada panci maupun cerek di sana. Ngeri, mataku tak sengaja menemukan cerek terletak di lantai sudut dapur kecil itu. Dapur ini mendadak dingin ketika aku menyadarinya. Tak ada siapa-siapa di dapur, jendelanya juga tertutup.
Tanpa bicara apa-apa, aku melangkah keluar dari dapur dengan bingung. Lagi-lagi aku dibuat bingung oleh rumah ini. Kucek lagi ruang makan yang seharusnya kosong. Posisi gelasku juga baik -tidak di pinggir meja. Kaca tidak terbuka. Lampu menyala. Oh, itu wajar karena aku memang tidak mematikannya. Aku meninggalkan ruang makan dengan perasaan ngeri entah kenapa.
Sebelum aku naik kembali ke kamarku, kusempatkan untuk mematikan lampu ruang tengah. Mendadak rumah itu menjadi gelap kembali. Hati-hati sekali aku melangkah dan mencari tangga agar tak menabrak apa pun yang ada di sekitarku. Kupercepat langkahku saat menapaki anak-anak tangga dalam keremangan lorong tangga. Aku tidak membuang waktu tidurku untuk mengecek keadaan pintu kamar yang berseberangan dengan kamarku. Dalam hitungan menit, tubuhku sudah terbaring nyaman di atas tempat tidur empuk yang telah kurindukan sejak tadi.
PRANG!
Mulutku baru saja menguap lebar saat aku mendengar suara benda kaca yang menghantam lantai sampai berkeping-keping. Mendadak mataku segar kembali, air mata kantuk itu rasanya cuma sepintas lewat. Aduh, ada apa lagi sih... suara itu terdengar bersamaan dengan jerit mengerikan seekor kucing. Aku mendecak kesal sambil memutar arah hadap tidurku. Dasar hewan, sudah kubiarkan dia tenang di garasi, malah memecahkan perabot!
Saking kaget dan mengantuk aku tadi, aku bahkan melupakan sebuah hal penting. Kucing itu... bukankah dia kutinggalkan di dalam garasi dengan pintu tertutup? Bukankah pintu keluar garasi yang menghadap halaman juga terkunci rapat? Tidak mungkin dia bisa keluar! Jadi –jadi siapa– apa yang memecahkan benda itu?!
Aku berusaha tak mengacuhkan hal tadi dan tidur. Sudahlah, jangan dipedulikan! Paling kasusnya sama seperti tadi lagi, tidak ada yang terjadi. Selama beberapa menit aku terbaring tanpa menutup mataku, hanya memandangi langit-langit yang kosong.
Kalau ternyata memang ada benda yang pecah...
"Astaga, sebaiknya kucek," gumamku sendiri sambil turun hati-hati dari tempat tidur. Aku menelan ludah ketika membuka pintu kamarku sendiri –gelap. Tangga remang-remang itu tidak terlihat bersahabat, begitu pula pintu kamar di seberangku.
Nyaris aku terjatuh dari tangga karena berlari. Ruang tengah itu gelap gulita, sunyi, kosong... cahaya dari ruang makan membantuku sedikit untuk berjalan sambil meraba-raba. Aku tidak mengecek garasi terlebih dahulu karena kupikir kakak tidak menyimpan barang-barang kaca atau keramik di sana.
Aku bernapas lega sejenak ketika terlepas dari kegelapan ruang tengah. Mataku mengamati sekeliling ruang makan dan lantai yang dingin itu. Tepat seperti dugaanku sebelumnya –tak ada pecahan perabot. Meja makan itu masih sama. Hanya saja, gelasku lenyap.
Hah?
"Bukankah aku tak membawa gelasku ke kamar?"
Kembali aku melihat ke atas meja. Benar-benar tidak ada. Tanpa sengaja kakiku mendekat ke dapur dan hampir masuk ke dalam. Dari luar, aku bisa mendengar suara air hangat yang dituangkan ke dalam gelas, disusul aroma melati yang semakin kuat tercium...
"AAAAAH!"
Itu –sumpah– bukan aku yang menjerit! Gara-gara itu, refleks aku berteriak juga. Aku segera beranjak dari ruang makan dan berlari ke ruang tengah dengan ngeri. Teriakan wanita itu terdengar begitu mengerikan! Aku terlalu panik saat berlari hingga tidak berhati-hati dengan langkahku.
Tubuhku jatuh menghantam lantai. Aku masih bisa mendengar teriakan itu seiring aku berdiri. Kemudian terdengar suara percakapan dalam bahasa Inggris disertai musik horor yang biasa kudengar di film-film seram. Sadar akan apa yang tengah terjadi, hatiku yang takut berubah menjadi kesal. Perlahan aku bangkit dan melangkah ke arah suara itu terdengar –televisi.
Rasanya aku ingin menendang televisi itu sampai rusak. Memangnya aku tidak mematikan televisi sial itu sebelum aku naik?! Atau –bukankah saluran yang kutonton sebelumnya tidak memutarkan film horor? Buru-buru kutekan tombol power yang ada di sisi bawah kanan televisi tanpa melihat ke arah layar. Kini ruang tengah benar-benar gelap dan aku harus berjalan sambil setengah membungkuk, kembali meraba-raba agar tak menabrak sesuatu.
Entah berapa lama aku harus begitu sampai akhirnya aku tiba di tangga. Sebelum aku naik, kembali terdengar olehku denting piano klasik. Kali ini langkahku benar-benar terhenti. Bagaimana bisa –televisi sudah kumatikan dan kakak masih tertidur di kamarnya... belum selesai lagu mengalun, kembali aroma melati melayang di tempat aku berdiri.
Tanpa pikir panjang, kakiku segera memijak anak tangga demi anak tangga. Di dalam lorong tanga berlampu redup ini, merebak wangi bunga putih itu. Perutku mendadak mual, aku ingin muntah. Semakin aku naik, suara piano dan aroma itu semakin kuat.
Aku menahan napas ketika aku sampai di lantai dua. Memang aku tak menyalakan lampu ruangan ini, tetapi cahaya lampu jalan cukup menerangi walau agak terbias korden jala. Korden jendela besar itu melambai-lambai walau kaca jendela tertutup rapat. Di tempat partitur piano, kulihat halaman berisi paranada itu membalik sendiri tiga kali tanpa angin meniupnya.
"Demi Tuhan!"
Segera saja kusambar pegangan pintu yang paling dekat denganku. Aku membukanya dan langsung masuk ke dalam kamar itu. Detak jantungku semakin keras. Kutempelkan punggungku di balik pintu itu sambil mengatur napas. Astaga... aku benar-benar melihatnya, kertas partitur itu bergerak sendiri. Juga korden itu. Juga melati itu –
–dan aku baru menyadari bahwa aku tidak berada di kamarku sendiri, yang kutempati selama di sini.
Ruangan ini tidak berwarna jingga. Tak ada jendela mengarah ke jalan. Tak ada pula tas yang kuletakkan di sudut ruangan. Tak ada ponselku di atas lemari pakaian kayu berbentuk laci-laci persegi panjang. Tak ada selimut hangat di atas tempat tidur dingin berseprai putih itu. Ya, tempat tidur itu terlihat begitu rapi dan kaku seolah tak pernah tersentuh siapapun selama bertahun-tahun. Secara keseluruhan, ruangan ini sangat berbeda, baik dari segi penataan maupun suasana.
Di salah satu sudut ruangan terdapat meja, kursi belajar, dan boks besar plastik yang sepertinya dulu penuh berisi buku-buku pelajaran. Meja belajar itu kosong dan hanya ada vas bunga sederhana berdebu di atasnya. Masih ada sedikit buku yang tertumpuk di dalam boks. Namun yang membuatku tertarik bukanlah buku-buku itu, melainkan benda lain yang tergeletak di atasnya. Aku mengenali benda itu sebagai kotak biola model lama.
Kotak itu memanggilku. Tanpa kukehendaki, kakiku mendekatinya. Tidak, dia tak memanggil namaku –maksudku, ada sesuatu dengan kotak itu hingga aku terus menatapnya dan mencoba meraihnya. Aku sudah hampir membuka kotak dan membukanya saat mataku melihat ada gembok kecil yang menguncinya. Meski kecewa, masih kupandangi kotak biola itu sembari menyentuhnya dengan tangan kanganku.
Debu menyambutku saat jariku mengenai kotak itu. Kotak kayu itu begitu dingin dan kuno. Tiupan udara dari mulutku tidak cukup untuk menipiskan debu. Namun, Nampak jelas bahwa kotak itu dulu dipelihara dengan baik oleh pemiliknya. Tak terlihat olehku goresan atau cipratan setitik tinta pun. Aku hamper membuka satu per satu laci yang ada di ruangan itu demi mencari kunci kotak, tetapi tak kulakukan.
Kakak tak pernah menceritakan soal biolanya yang begitu ia sayangi.
Puas mengamati kotak tua itu, puas mengetahui apa yang ada sebenarnya dalam ruangan ini, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke kamarku sendiri. Ah, kurasa aku tak perlu mengecek tempat tidur kaku itu. Aku melangkah menuju satu-satunya pintu keluar dari kamar itu dan memutar pegangan pintu untuk membukanya.
Tidak terjadi apa-apa. Pegangan pintu itu mau terayun ke atas dan ke bawah mengikuti tanganku, tetapi tidak pintunya. Berkali-kali kucoba membukanya, hasilnya nihil. Seseorang telah mengunciku dari luar.
"Hei," ujarku panik sambil mengetuk-ngetuk pintu, "siapapun kau, buka pintunya!"
Tanganku semakin kasar memaksa pintu itu agar membiarkan aku pergi. Ketukanku juga berubah menjadi gedoran. Kata-kataku menjadi jeritan ketika lampu yang menerangi ruangan ini berkedip-kedip hendak mati. Taka da siapa-siapa yang merespon dari luar –ayolah, tanganku sudah pegal.
"ASTAGA!"
Ruangan bercat putih itu gelap seketika. Lantai kayu itu bersuara pelan –seseorang berjalan menapakinya! Tak lama, kudengar tempat tidur itu berderit seakan ada yang menempatinya. Eh, gila –keluarkan aku, siapapun! Aku mengumpat kesal dalam ketakutanku, meratap nyaris menangis dalam keputusasaanku. Aku bahkan mencoba mendobrak pintu itu dengan tubuhku. Itu hanya membuatku merasa sakit –kucoba lagi menggedornya seperti tadi dengan dua kepalan tanganku lebih keras. Apa-apaan ini, siapa yang mondar-mandir di lantai kayu itu, kenapa pintu ini tiba-tiba terkunci?! Tuhan –siapapun– tolong aku!
Kembali tubuhku tersentak terkejut. Seseorang menekan tombol lampu yang tak kulihat ada di mana. Sekejap terang kembali hadir dalam ruangan mengerikan ini. Napasku terengah-engah saking takutnya perasaanku tadi. Kembali kucoba membuka pintu itu, tetapi hasilnya sama saja.
Saat aku berbalik untuk bersandar sejenak menenangkan diri di pintu, barulah aku menyadari bahwa hal itu hanya menambah teror yang kudapat di sini.
Di tepi tempat tidur itu duduk sesosok laki-laki bertubuh kurus dengan kemeja putih. Tak ada binar dalam mata cokelat gelapnya. Entah itu merupakan efek dari kantung matanya, atau karena pandangannya memang kosong. Rambut hitamnya tidak rapi dan terkesan acak. Wajahnya tampak tirus dan pucat.
Meski aku berusaha menutup mulutku agar aku tak menjerit, sosok itu menyadari bahwa aku ada. Tubuhku seakan membeku akibat kengerian yang kurasakan ketika kepala itu memutar perlahan menghadapku. Bibir yang telah membiru itu tersenyum ketika kami bertemu mata.
"Jangan," teriakku saat sosok itu perlahan bangkit dari tempat tidur, "oh, buka pintunya! Buka! Tolong aku!"
Dia mendekat! Aku melihatnya menapaki udara di atas lantai dan 'melangkah' ke arahku. Suara lantai kayu yang dipijak terus terdengar seiring dia mendekat –padahal dia tak menginjaknya. Semakin gencar usahaku mendobrak pintu itu, tetapi tak ada yang terjadi. Sosok itu tak bicara apa-apa. Setiap aku menengok ke belakang, jarak laki-laki pucat itu dengan aku semakin berkurang.
Sampai aku merasakan aura dingin yang tak biasa tepat di belakang punggungku.
"Tolong!"
Kini laki-laki itu benar-benar ada di sisiku. Aku menutup mataku dengan takut. Kakiku tak bisa melangkah ke mana-mana. Apa –aku harus bagaimana… isakanku mulai terdengar ketika angin dingin menggelitik telinga kananku, diiringi bisikan sayup-sayup yang menurutku berasal dari bibir sosok itu.
"…kakakmu, Nether."
Aku tak tahu lagi apa yang terjadi setekah itu, pesan orang itu tak terekam baik dalam kepalaku. Entahlah, kata-katanya juga tidak jelas. Tubuhku mati rasa, kedua lututku menghantam lantai kayu. Berikutnya yang kuingat hanyalah gelap.
Saat aku membuka mataku, aku sudah tidak berada di dalam kamar itu. Kamar ini berwarna jingga. Aku sudah kembali ke kamarku. Seseorang membaringkanku di atas tempat tidur dan menyelimutiku.
"Sudah bangun?"
Seseorang membuka pintu. Aku nyaris ketakutan lagi –ternyata itu hanya kakak. Dia membawa segelas air hangat. Diletakkannya air itu di meja samping tempat tidurku. Ia tidak memakai pakaian rapi seperti saat ia hendak berangkat kerja. Apakah dia libur hari ini?
"Aku kaget melihatmu tidak di kamar ini pagi tadi. Aku tak sengaja terbangun di pagi buta dan… yah, kupikir kau kabur. Tiba-tiba aku melihat lampu kamar sisi tangga menyala…"
"Kak," ujarku lesu, "aku mau pulang saja."
Alis kanan kakak naik karena heran, "Hah? Katamu kau mau menghabiskan waktu liburmu di sini?"
Aku tak menjawab, perlahan aku beringsut duduk di tempat tidurku. Kuambil air hangat di atas meja dan kuminum pelan-pelan. Kakak menunggu aku menjawab, matanya menatapku penuh rasa ingin tahu yang ia sembunyikan.
Apakah sebaiknya kuceritakan saja hal ini kepada kakak, ya. Kurasa dia takkan tersinggung. Bisa saja ia balik menjelaskan bahwa ia juga mengalami hal yang sama. Atau lebih baik lagi, dia meminta maag atas kehororan rumahnya yang membuatku takut setengah mati dengan memberiku tiket pesawat ke Amerika… ha ha, mimpi. Kuletakkan gelas berisi air hangat itu di meja kembali sebelum bicara.
"Aku mau menghabiskn waktuku di sini," kataku berbasa-basi, "tetapi tidak sendiri. Apalagi sendiri di rumah Kakak ini."
"Memangnya rumahku kenapa?"
Aku berusaha menggunakan bahasa yang tidak membuatnya tersinggung, "Ada sedikit hal yang –yah, agak kurang nyaman untukku."
"Jelaskan saja secara langsung," desaknya.
Ada siulan cerek air yang tak kasat mata, harum melati menyesakkan napas, biola dan piano bermain sendiri, suara di kamar mandi, paranada bergerak sendiri, lampu aneh, suara gelas pecah, kucing misterius, dan kamar paling mengerikan yang pernah kumasuki.
"Aku bertemu laki-laki kurus berambut hitam di kamar sisi tangga."
Dahi kakak mengernyit. Matanya memandangku tidak percaya. Entahlah –aku sendiri tak tahu kenapa harus kejadian itu yang kuutarakan lebih dahulu kepadanya. Sebelum ia menghujaniku dengan pertanyaan lagi, buru-buru aku komplitkan penjelasanku yang mungkin akan membuatnya paham mengapa aku tak mau berlama-lama di sini. Namun aku belum membeberkan semua kejadian mengerikan di sini –cuma kronologi kejadian semalam saja.
"Jadi semalam, aku salah masuk kamar. Aku memasuki kamar yang dekat dengan tangga… ketika kau hendak keluar, seseorang mengunci pintu. Lampu kamar itu berkedip-kedip. Tiba-tiba orang itu muncul."
Aku menghela napas untuk jeda ceritaku, "Dia… dia laki-laki, duduk di sisi tempat tidur. Rambutnya pendek dan hitam. Kulitnya agak kecokelatan, tetapi kelihatan pucat. Ia menghampiriku sambil melayang di atas lantai…"
Sengaja kuhentikan ceritaku saat melihat respon seseorang yang seharusnya memiliki rasa ingin tahu tinggi mengenai apa yang terjadi padaku semalam. Dibandingkan penasaran, kakak sepertinya malah tidak mendengarkan aku. Posisi tubuhnya seakan mencoba menunjukkan bahwa ia tengah berpikir, tetapi matanya fokus pada udara kosong tanpa berkedip.
"Kak –"
"Hm," dia berusaha untuk tidak terlihat terkejut, "sebaiknya kamu cuci muka dan mandi, nanti kita bicara lagi saat kau sudah tidak melantur."
"Kak," aku bicara dengan nada protes, "masih banyak yang ingin kuceritakan!"
Seakan tidak memedulikan aku, mata hijau itu berlalu. Pintu berayun menutup. Dia tak memandangku lagi. Aku masih tidak percaya dengan kenyataan bahwa kakak menganggap ceritaku hanya kisah fiksi belaka. Pandangan dan sikapnya menunjukkan hal itu, bukan? Aku kesal sekali, tetapi tidak mau memanggilnya kembali.
Kuraih ponselku yang sepertinya sengaja kakak letakkan di sisi bantalku. Angka nol, tujuh, dan lima belas terpampang pada layar, terpisah dengan tanda titik di antara angka tujuh dan satu. Pukul tujuh pagi? Berapa lama aku tidur? Kulihat ada satu pesan masuk yang belum kubuka.
'Bagaimana kabar liburanmu? Aku mau tanya, apa sih password akun Pointless-mu? Aku mau pinjam akunmu, terus main :D'
Pointless adalah sejenis game online yang dulu hobi kumainkan –sebelum aku menyadari bahwa aku tidak berbakat dalam permainan sejenis itu, hingga membolehkan Antonio menggunakan akunku untuk bermain.
Aku mengetikkan password -ku dan langsung mengirimkan pesan balasanku untuknya. Aku tak menjawab pertanyaan pertamanya. Sudahlah, aku juga tak mau menjawabnya. Liburanku masih panjang, kurasa aku tak mau menghabiskan liburan dengan cara begini.
Kupaksa tubuhku untuk bangun dari tempat tidur. Sambil mengisi baterai ponselku, kunyalakan musik yang kusukai. Kutatap koperku yang terbuka lebar dengan pakaianku yang masih tertata agak rapi di dalamnya. Aku tak meninggalkan kamarku hingga matahari naik cukup tinggi.
Setelah membersihkan diri dan merapikan semuanya, aku menuruni tangga pada jam makan siang. Oh ya, aku dan koperku serta isinya. Kakak duduk di sofa sambil menonton televisi dan segera menoleh ke arahku ketika mendengarku suara roda koperku. Dengan santai kuparkir koperku di dekat pintu utama rumah.
"Laura," katanya ketika aku hendak melewatinya ke arah ruang makan, "mau ke mana?"
Kujawab pertanyaannya tanpa piker panjang sambil mencari gelasku di atas meja makan, "Pulang."
"Liburanmu sudah selesai?"
"Tentu saja belum," ujarku tidak sabar sebelum meneguk airku sampai habis, "ada sedikit hal yang agak menggangguku di sini, jadi kupikir aku tidak mungkin bisa menghabiskan seluruh liburanku di sini."
Kakak terdiam. Mungkin dia merasa heran. Aku bersenandung pelan sambil mencari-cari sesuatu yang bias kujadikan makan siang di kulkas dan lemari makan kakak. Dia 'kan tidak terlalu peduli akan apa yang terjadi padaku, untuk apa bercerita padanya.
Aku hanya menemukan mie instan impor dari Hindia Belanda di lemari makan. Tidak apa-apa deh, kepalaku mulai pusing karena aku belum makan pagi. Kuambil sebungkus mie itu dan kututup pintu lemari. Kakak tiba-tiba sudah berada di sisi meja makan, menatapku dengan heran.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi?"
Aku menghela napas sambil mengambil salah satu piring, "Kakak tidak akan percaya."
"Ceritakan saja."
Mungkin aku terlanjur marah pada kakak. Rasanya ogah sekali mengutarakan semua hal itu. Maksudku –kalian bagaimana sikapnya pada pagi buta itu, 'kan? Kalau dia takkan percaya, untuk apa aku susah-susah menjelaskan? Aku mengacuhkannya dan membawa mie plus piringku ke dapur. Dengan sigap kakak menghampiriku dan mengambil sebungkus mie itu dariku.
"Hei!"
"Aku akan memasaknya untukmu," katanya sambil membuka lemari es dan mengambil sebutir telur, "sambil mendengarkan kamu menjelaskan apa yang membuatmu buru-buru pulang."
Akhirnya aku mau dibujuk. Kuberikan piringku kepada kakak. Dia masuk ke dapur dan mempersiapkan panci kecil yang diisinya dengan air. Sementara ia sibuk memasak, aku bersandar di dinding dapur dan menceritakan semua yang terjadi selama tiga hari aku di sini.
Selama aku bercerita, kakak tak mengatakan apa-apa. Sesekali ia bertanya mengenai detail kecil yang nyaris kulupakan saat berkisah. Ia tidak menunjukkan ekspresi berarti seperti biasa, dan kurasa ini lebih baik dibandingkan pandangannya dini hari tadi. Ketika mie siap disajikan, kakak juga mengisi gelasku dengan air tanpa bicara. Sepanjang aku melahap mieku pun ia masih termenung seakan memikirkan sesuatu.
Singkatnya, setelah piring dan gelasku kosong, aku mohon pamit kepada kakak. Dia mengantarku ke pintu dan membukakannya untukku. Sebelum aku pergi, kami sempat berbicara pendek.
"Jujur, aku tak pernah mengalami semua hal yang kaukatakan selama aku tinggal di sini," gumamnya sambil bersandar di pintu, "kau serius akan pergi?"
"Kakak sendiri," jawabku, "apa Kakak serius tidak tahu apa-apa soal pria kurus itu?"
Matanya beralih dari tatapanku, "Aku hanya… belum bisa menjelaskan kepadamu tentang semua itu."
"Jika Kakak tidak selalu pergi pagi dan pulang malam, kau pasti akan mengerti kenapa aku segera pergi."
Aku berbalik dan menarik napas. Ah, akhirnya aku meninggalkan rumah kakak. Namun, ketika kakiku hendak melangkah, tangan kakak menepuk bahuku, memintaku berbalik.
"Apa?"
Kakak merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebuah buku memo kecil dan pulpen. Tangannya mencoretkan sesuatu di memo tersebut. Dirobeknya kertas memo yang ditulisinya dan diberikannya kepadaku. Aku membacanya dan mengernyit heran. Dia mencoretkan alamat rumah seseorang dengan lengkap berikut negara tempat alamat itu berada.
"Berliburlah di sana," katanya, "meski aku dan Lux sering bertengkar dulu, kurasa dia akan dengan senang hati meminjamkan salah satu kamarnya untukmu."
Senyumku merekah saat aku tahu siapa yang tinggal di alamat itu. Kak Lux! Kupikir aku takkan bertemu dia lagi. Aku mengangguk senang dan memasukkan secarik kertas itu ke saku jaketku. Kuberi kakak pelukan perpisahan sebelum kakiku benar-benar melangkah pergi meninggalkan rumahnya. Liburanku masih panjang dan perjalanan ke sana pastinya tidak akan membosankan. Kini aku sudah tahu akan melangkah ke mana –aku tidak akan pulang dahulu.
Saat aku menoleh ke belakang, kakak sudah masuk ke dalam rumahnya, kembali sendiri seperti ketika aku mendatanginya.
Akhir dari Sendiri di Rumah Kakak, Hari Ketiga
Catatan Penulis
Terima kasih telah setia sampai di sini! Saya tahu bahwa saya benar-benar membuat pembaca menunggu lama hingga selesainya fic ini. Entahlah, jika benar-benar ada yang menunggu… saya hanya bisa mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih saya dengan kata-kata. Epilog di bawah ini diharapkan dapat meninggalkan kesan bahwa fic yang saya buat memang tidak dibuat 'gantung'. Salam hangat dari saya untuk Anda, pembaca!
EPILOG
Aku sedang berada di sebuah kafe. Sudah seminggu lebih berlalu sejak aku menyelesaikan liburanku di rumah kakak. Sambil menikmati segelas minuman coklat dingin, aku membuka laptopku dan menggunakan fasilitas jaringan nirkabel yang menyambungkanku dengan dunia maya. Ada e-mail baru yang dikirimkan oleh kakak beberapa hari lalu kepadaku.
Laura, apa kabar? Semoga sisa liburanmu jauh lebih menyenangkan dibandingkan saat itu. Mungkin kau terkejut karena aku jarang mengirimimu e-mail. Aku hendak memberitahukan sesuatu kepadamu terkait dengan kejadian di rumahku.
Orang yang kau temui di kamar itu bernama Nesia. Dulu ia adalah mahasiswa dari Hindia Belanda yang sangat ingin bersekolah di Eropa. Dengan modal tabungannya, ia memilih Belanda, tetapi uangnya sama sekali tidak cukup untuk menginap di apartemen termurah pun. Membayar biaya asrama saja dia tidak mampu. Pada hari-hari pertama kuliah dia tidur di belakang kampus dan menitipkan barang-barangnya di gudang. Kadang dia mengerjakan tugas orang lain dengan bayaran uang atau tempat tinggal sementara.
Singkatnya, salah satu temanku yang memiliki apartemen tempat pemuda itu tinggal dan berhutang memaksaku untuk menampungnya di rumahku –rumah ini– yang dulu masih baru. Waktu itu aku baru mendapat pekerjaan yang bagus pula sehingga bias membeli rumah ini. Dia berbuat begitu karena geram atas Nesia yang tak mampu membayar uang sewa. Aku enggan menerima pendatang, karena itu aku sering bersikap ketus padanya. Saking kesalnya, aku dan Arthur saling acuh tak acuh selama beberapa hari. Oke, dia adalah pemilik apartemen itu.
Bosan diteriaki si alis tebal itu, akhirnya aku mengizinkannya tinggal di sini dan memberinya kamar di sisi tangga lantai dua. Aku menjelaskan sedikit mengenai peraturan di rumahku. Pekerjaanku tak pernah memberiku kesempatan memantau gerak-geriknya kecuali pada hari-hari libur. Dari sedikit pengamatan itu, dapat kusimpulkan bahwa ia orang yang penurut. Bahkan ia mengerjakan semua pekerjaan rumah untukku. Lambat laun jarak antara kami berkurang dan ia tak lagi segan untuk bicara denganku.
Mungkin kau tengah berpikir, 'lalu apa hubungan si Nesia itu dengan kejadian sial yang kualami tiga hari berturut-turut?'. Sabar. Aku sedang menjelaskannya kepadamu. Kau tahu, aku sudah berteman dengan banyak orang dan mendengar berbagai kisah aneh. Salah satunya ada yang bercerita menarik tentang energi.
Dia berkata bahwa semua benda di sekitar kita selalu memiliki energi. Air, dinding, tanah, semuanya mempunyai energy yang cukup kuat untuk mengingat apa yang merka alami atau saksikan. Misalkan kamu menyiram bunga atau merobek kertas di suatu ruangan. Semua benda di sekitarmu tahu itu dan merekam semua hal yang kaulakukan dengan baik.
Kadang, memori itu akan terungkap kembali dalam bentuk kenangan yang tiba-tiba terulang.
Jika dihubungkan dengan kejadian yang kaualami, maka teori temanku itu terbukti. Kau melihat kucing di garasi dan mendengar suara gelas pecah. Dulu, Nesia memiliki kucing yang sering ditinggalkannya di dalam garasi (atas perintahku). Kucing itu pernah memecahkan gelas pada tengah malam ketika ia diam-diam mengeluarkannya dari garasi dan membiarkannya berkeliaran di dalam rumah. Mengenai suara air di dapur, dulu Nesia suka mmbuat teh melati untukku dan dia sendiri dengan air yang masih panas. Dia juga cukup pandai bermain musik. Biola itu adalah warisan dari kakeknya dan ia bawa pergi pula saat pergi ke sini. Namun ia lupa membawanya pulang saat masa kuliahnya sudah selesai.
Kupikir rasa takutmu akan lebih berkurang jika aku memberitahumu ini. Waktu itu aku agak sulit mengutarakannya padamu –aku tidak yakin. Bagaimanapun juga aku meminta maaf atas ketidaknyamanan yang kaudapatkan selama menginap di rumahku.
Mengenai sosok Nesia di kamar itu, aku tak bias menjelaskan apa-apa. Akan tetapi, ada hal menarik yang terjadi setelah hal itu terjadi.
Esoknya aku langsung pergi ke bandara dan membeli tiket pesawat ke Batavia. Aku mencari dia di sekolah lamanya. Dari staf kesiswaan aku berhasil mendapatkan alamat rumahnya. Aku bertemu dengan dia di kamarnya dalam keadaan koma (adik-adiknya baru membawanya pulang dari rumah sakit). Biaya perawatan rumah sakit tak bias ditanggungnya sehingga ia terpaksa seperti itu.
Meski aku sempat membawanya ke rumah sakit untuk dirawat inap kembali seperti sebelumnya, aku hanya sempat bicara satu kali padanya ketika ia terbangun pada hari kelima aku di sana. Ia berterima kasih saat aku mengembalikan biolanya. Ketika esok aku datang ke sana, dia sudah beristirahat dengan tenang untuk selamanya.
Maaf ya, ceritaku terlalu panjang. Kuharap kau mau berlibur di rumahku lagi. Salam untuk Lux bila kamu masih berlibur di rumahnya saat menerima pesan ini.
Akhir dari Sendiri di Rumah Kakak
