Jaejoong sedang duduk di salah satu kursi coffee shop-nya sambil memandangi orang yang berlalu lalang melewati coffee shop-nya. Sesekali ada beberapa orang yang masuk membeli kue lalu pergi. Merasa aneh? Ya, coffee shop milik Jaejoong sebenarnya juga merangkap toko kue. Namun, coffee shop tersebut menjual kue mulai pukul sepuluh pagi sampai jam tutupnya, yakni jam 22.30.

"Ya, ampun. Hyung-ku yang cantik ini kenapa melamun saja?" tiba-tiba saja si hiperaktif Mir mengganggu Jaejoong yang sedang asyik melamun.

"Gwaenchana, Mir-ah," jawab Jaejoong lesu.

"Hyung sepertinya sedang tidak bersemangat? Wae? Apa karena cafe sepi?"

"Ani, bukan karena itu. Aku masih bingung, bagaimana bisa aku amnesia?" Jaejoong menghela napas.

"Aku sudah melihat berita dan membaca koran, ini memang tahun 2012. Tapi bagaimana bisa aku amnesia? Huh, mana Su-ie dan G.O masih sibuk! Kapan mereka akan menjelaskan padaku?"

"Sepertinya sebentar lagi," ujar Mir sambil menunjuk ke arah Junsu yang sedang berlari ke arahnya.

"Hyuungg~" Junsu langsung menubruk Jaejoong.

"Yah, jadi bagaimana? Kenapa aku bisa amnesia?" Tanya Jaejoong tidak sabar, sampai-sampai tidak menyahut sapaan Junsu.

Junsu mengerucutkan bibirnya. "Hyung benar-benar tidak sabar ya?"

Jaejoong mengangguk.

Junsu menghela napas kemudian ia mulai bercerita.

.

.

Flashback

"Hari ini Junsu-ie ulang tahun," seorang namja cantik dengan mata berbinar memandang kue ulang tahun buatannya yang berbentuk bola dengan hiasan lain yang menyertai kue berbentuk unik itu.

"Junsu pasti suka, dia kan suka bola," ucapnya pada dirinya sendiri. "Yah, tapi jangan sampai begitu lihat kue ini, bukannya dimakan, tapi malah ditendang. Lihat saja kalau dia sampai berani melakukannya."

Jaejoong berjalan keluar rumah menuju coffee shop miliknya. Ia, Changmin beserta karyawan di coffee shop tersebut, yakni G.O, Mir dan Cheondoong sudah berencana membuat kejutan untuk ulang tahun Junsu.

Karena terlalu sibuk membayangkan reaksi Junsu mengenai kejutan yang akan mereka berikan, ia menjadi tidak waspada akan keadaan sekitar. Ia menyeberangi jalan, namun tiba-tiba sebuah truk melaju kencang ke arahnya. Pengemudinya yang saat itu sedang sibuk menelepon tidak sadar
ada menyeberang jalan.

"Awas!" tiba-tiba terdengar jeritan panik dari banyak orang. Jaejoong yang mendengarnya segera menolehkan kepalanya.

"Omo!" pengemudi truk itu langsung membanting setirnya.

Jaejoong yang menyadari keadaannya hanya terdiam kaku, begitu panik sampai tidak bisa melakukan
apa-apa. Seorang namja berusaha meraih tubuh Jaejoong namun...

BRAAKKK!

JDUUKKK!

Terlambat. Tubuh Jaejoong terhempas beberapa meter akibat tertabrak truk itu. Kepalanya terbentur sangat keras. Sementara truk yang menabraknya baik-baik saja. Dengan tergesa, pengemudi truk tersebut segera mendatangi Jaejoong, begitu pula namja yang tadi sempat berusaha menyelamatkan Jaejoong dan beberapa pejalan kaki lainnya. Namja itu kemudian meraih tubuh Jaejoong, menepuk-nepuk pipinya.

"Hei, bangun! Apa kau mendengarku?" Begitu ia tidak mendapat respons dari namja cantik di hadapannya itu, ia segera membawanya menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari lokasi kecelakaan itu.

"Maaf," sebuah suara menginterupsi namja itu. "Seharusnya aku yang bertanggung jawab di sini, jadi..."

"Nanti, hubungi aku di sini," potong namja itu kemudian menuliskan nomor ponselnya setelah membaringkan Jaejoong di jok mobilnya.

"Dan kuharap kau bersedia membantu membiayai pengobatannya sebagai bentuk pertanggungjawabanmu. Namaku Yunho, Jung Yunho," lanjut pemuda bersuara bass itu.

Sang pengemudi truk menganggukkan kepalanya kemudian memandang mobil yang dikendarai Yunho yang semakin menjauh. Ia mengacak rambutnya.

"Sial! Kenapa aku bodoh sekali. Lihat, harus berapa banyak uang yang kukeluarkan untuk biaya pengobatannya. Aisshh...apa sebaiknya aku melarikan diri dari tanggung jawabku? Ah, tidak, jangan. Lagipula kecelakaan tadi murni kesalahanku." Ia menghela napas.

.

.

.

"Yeobboseyo?" namja bermata setajam musang itu segera mengangkat teleponnya begitu ponselnya berdering.

"Ne, Changmin-ah, aku sedang berada di Rumah Sakit"

"..."

"Aniya, aku baik-baik saja. Hanya saja tadi ada kecelakaan dan aku membawa seorang korban ke Rumah Sakit."

"..."

"Ne, nanti saja kau mengantarku berkeliling. Ya, sampai nanti." Yunho menghela napas.

Hari itu, seharusnya ia bisa melihat-lihat hotel tempatnya akan bekerja di kota itu. Ia dipindahtugaskan ke kota itu dan menjadi manajer dari hotel yang merupakan cabang dari hotel tempatnya bekerja di Seoul sebelumnya.

Tapi karena menolong namja tadi, ia terpaksa menunda rencananya itu. Ia harus menunggu setidaknya
sampai kerabat namja tadi datang.

Tiba-tiba pintu ruang ICU terbuka, menampakkan seorang dokter yang berjalan ke arahnya.

"Maaf, apa anda kerabatnya?" tanya dokter itu.

"Ah, sayangnya bukan. Maaf, boleh saya tahu bagaimana keadaannya?" tanya Yunho.

"Ia masih belum sadar. Untuk saat ini saya tidak berani mengatakan apapun. Kalau bisa, segera hubungi kerabatnya. Akan lebih baik jika kerabatnya tahu lebih cepat," ujar dokter itu.

Yunho menanggukkan kepalanya.

"Hhh...bagaimana aku bisa menghubungi kerabatnya? Aku saja tidak tahu dia siapa," gumam Yunho saat dokter itu berjalan menjauh.

Ia mengacak-acak rambutnya.

"Permisi," sebuah suara menginterupsi Yunho.

Yunho menoleh. "Kau pengemudi truk tadi?" Namja itu menganggukkan kepalanya.

"Tadi aku belum memperkenalkan diri. Saya Cha Minwoo," namja itu memperkenalkan diri. Yunho tersenyum.

"Ternyata kau orang yang jujur. Kupikir kau akan meninggalkan tanggung jawabmu. Tapi bagaimana kau tahu aku membawanya kesini? Kau tadi tidak menghubungiku."

"Oh, itu mudah. Ini satu-satunya Rumah Sakit besar terdekat di kota ini. Bahkan orang yang baru datangpun tahu," jawab Minwoo.

Yunho mengganggukkan kepalanya mengerti.

"Mengenai biayanya..."

"Sebaiknya kau bicarakan itu dengan keluarganya," potong Yunho. "Sekarang sebaiknya kau bantu aku cari tahu siapa kerabatnya. Atau mungkin alamat rumahnya. Seharusnya dia punya kartu tanda pengenal, 'kan?"

Pengemudi truk itu menganggukkan kepalanya.

Hyung!" sebuah suara yang amat dikenal Yunho menyapanya.

"Changmin, kenapa kau disini?" tanya Yunho mengernyitkan dahinya.

"Kupikir kau kenapa-kenapa, makanya aku kemari. Aku hebat kan bisa tahu Hyung dimana..." Changmin menaik-turunkan alisnya. "Ngomong-ngomong Hyung tidak ke tempat kerja?"

"Ani, mereka memberiku satu hari libur sebelum bekerja."

"Siapa yang kecelakaan Hyung?"

"Molla, aku hanya membawanya saja, tapi aku tidak tahu dia siapa."

Changmin menganggukkan kepalanya.

"Hyung, boleh aku melihatnya? Siapa tahu aku mengenalnya."

"Sepertinya boleh. Aku tidak tahu. Dokter tidak bilang apa-apa," jawab Yunho. Changmin menganggukkan kepalanya, kemudian berjalan masuk ke kamar tersebut.

Changmin langsung membelalakkan matanya begitu melihat orang yang sedang terbaring lemah. "Jaejoong-hyung!"

Changmin segera mengambil handphone-nya kemudian menghubungi seseorang. Yunho dapat menangkap suasana panik mendengar percakapan Changmin dengan sesorang yang sedang dihubungi oleh sepupunya itu.

"Jadi kau mengenalnya?" tanya Yunho saat ia melihat Changmin selesai menelepon.

"Ne, dia pemilik coffee shop tempat aku bekerja paruh waktu."

Yunho menganggukkan kepalanya.

"Sepertinya Junsu-hyung akan segera datang."

"Itu siapa?"

"Sepupu Jae-hyung."

Yunho hanya mengagukkan kepalanya, tidak tahu mau mengobrol apa dengan Changmin.

"Jae-hyung!" tiba-tiba sebuah suara melengking mengagetkan mereka.

"Jae-hyung, kenapa bisa begini?" namja imut bersuara melengking itu mulai terisak pelan. "Padahal ini ulang tahunku. Kenapa hyung malah begini?"

Changmin langsung berjalan mendekati namja bernama Junsu itu kemudian merangkul bahunya.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Junsu pada Dokter saat akhirnya ia sudah mulai tenang. Dokter itu tadi datang setelah Yunho memanggilnya.

"Tidak ada luka serius pada tubuhnya, tidak ada satupun tulang yang patah pula, namun..." dokter itu terdiam sebentar.

"...benturan yang ia alami di kepalanya sepertinya cukup keras. Saya tidak bias mengatakan apapun saat ini. Perlu dilakukan CT scan dan MRI untuk bisa dilakukan diagnosa selanjutnya. Selain itu, kita juga perlu menunggu hingga ia sadarkan diri, baru kita bisa mengetahui dampak dari benturan di kepalanya," jelas dokter tersebut.

"Um..baiklah, terima kasih dokter..."

"Yang. Namaku Yang Seungho."

"Ah, ne. Gamsahamnida Dokter Yang." Dokter tersebut menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum.

"Bagaimana, hyung?" sambut Changmin begitu melihat Junsu.

"Dokter Yang belum bisa memberikan diagnosa apapun. Kita perlu menunggu sampai Jae-hyung sadar."

"Ngomong-ngomong kalian siapa?" tanya Junsu, menyadari ada dua orang lainnya selain dirinya dan
Changmin.

"Aku Jung Yunho dan dia Cha Minwoo."

Cha Minwoo membungkukkan tubuhnya.

"Cha Minwoo imnida... Sebelumnya saya ingin mengucapkan permohonan maaf."

"Untuk apa?" tanya Junsu bingung.

"Ini... karena saya adalah penyebab kecelakaan yang dialami oleh Kim Jaejoong."

Junsu terperanjat kaget. Matanya membelalak begitu mendengar pengakuan Minwoo.

"Mwo?! Jadi kau yang menyebabkan Jae-hyung seperti itu!? Yah, kemari kau!" teriak Junsu penuh amarah. Pukulannya sudah pasti akan mengenai Minwoo seandainya saja tidak ada Changmin yang menahannya.

"Lepaskan aku, tiang listrik!" Junsu kalap. Ia memberontak, meminta Changmin melepaskannya.

"Ya, hyung! Tenanglah sedikit! Ini rumah sakit," Changmin mengingatkan.

Junsu menatap Minwoo dengan penuh amarah. "Saya benar-benar menyesal ini terjadi karena kecerobohan saya," ucap Minwoo.

Junsu mendengus kesal. "Jika saja semuanya bisa kembali seperti semula begitu kau mengucapkan kata-kata itu." Ada jeda menyakitkan sesaat setelah Junsu mengucapkannya.

"Tapi setidaknya dia berusaha memperbaikinya," Yunho angkat bicara.

Junsu mendecih kesal mendengar ucapan Yunho.

"Sebaiknya kalian bicarakan ini besok saat Junsu-hyung sudah lebih tenang," ucap Changmin.

"Saya akan berusaha semampu saya bertanggung jawab atas kecerobohan saya ini." Junsu membuang muka.

Cha Minwoo kemudian memutuskan untuk pergi, dan besok ia akan kembali lagi. Yunho menghela napas.

"Min, kau mau menginap di sini, menemani namja itu?" tanya Yunho.

"Dia punya nama, hyung bodoh. Dan namanya Kim Jaejoong. Dan tidak. Junsu-hyung saja yang menemani."

Yunho mengalihkan pandangannya pada Junsu yang terlihat sangat khawatir dengan keadaan Jaejoong saat ini. Ia duduk di kursi sebelah ranjang Jaejoong sambil memandang Hyungnya yang terbaring lemah dengan balutan perban di kepalanya. Ya, saat ini mereka memang sedang berada di kamar Jaejoong.

"Aku mau kembali ke apartementku. Kau ikut?" tawar Yunho

Nanti saja, aku menyusul," jawab Changmin.

Yunho menganggukkan kepala kemudian meninggalkan ruangan itu.

Tiga hari kemudian

"Ungg~" Junsu terbangun mendengar suara erangan pelan yang dikenalnya.

"Jae-hyung?" dengan mata yang masih mengerjap-ngerjap karena baru bangun, Jaejoong berusaha membiasakan pandangannya pada suasana dengan pencahayaan yang cukup terang.

"Ungg... Su-ie.. Omo! Su-ie, hari ini kau ulang tahun! Saengil Chukkae!"

Kali ini giliran Junsu yang mengerjapkan matanya bingung.

"Ini dimana? Sepertinya ini rumah sakit." Jaejoong meraba kepalanya.

"Omo! Perban? Kenapa aku sampai diperban segala?"

"E-eh, hyung. Sebaiknya aku panggil dokter dulu, ya..." ucap Junsu akhirnya.

Junsu bingung. Apa hyungnya tidak ingat kalau ia kecelakaan? Tunggu...apa jangan-jangan Jae-hyung amnesia? Junsu menggelengkan kepalanya.

"Ani, tidak mungkin! Ia masih ingat siapa aku. Rasanya...tidak mungkin. Mungkin ia hanya sedikit bingung saja," Junsu berusaha optimis.

.

.

.

Junsu menunggu di luar kamar Jaejoong sementara Dokter Yang memeriksanya, dan melakukan serangkaian tes yang diperlukan

Beberapa hari yang lalu, Junsu sudah menyetujui usul dokter tersebut untuk segera melakukan tes-tes yang diperlukan begitu Jaejoong siuman.

Junsu segera mengambil ponselnya dan memberi tahu Changmin bahwa Jaejoong telah sadar lewat e-mail. Ia tidak mau meneleponnya karena tahu Changmin masih berada di sekolahnya, Dong Bang High School.

Pintu terbuka perlahan, membuat Junsu menoleh dan segera menghampiri dokter tersebut. "Bagaimana keadaannya, Dokter Yang?"

"Jangan memanggilku seformal itu. Seungho saja juga tidak apa-apa."

"Ne, Dokter Seungho. Jadi bagaimana keadaannya?"

"Kita tunggu dulu hasil tes-nya. Maaf membuat anda terus menunggu."

"Ah, gwaenchana. Gomawo, Dokter" Seungho tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, membalas ucapan terima kasih Junsu.

Junsu segera menghampiri Jaejoong. "Bagaimana hyung? Hyung baik-baik saja?"

Jaejoong menganggukkan kepalanya. "Hanya kepalaku saja sedikit sakit."

Junsu tersenyum kemudian langsung memeluk sepupunya yang berwajah cantik itu.

"Syukurlah hyung tidak apa-apa. Kupikir hyung akan koma, atau hal lain yang aneh-aneh," ucap Junsu.

"Bagaimana bisa?" tanya Jaejoong bingung. Junsu melepas pelukannya, menatap Jaejoong penuh
tanya.

"Maksudku kenapa kau berpikir begitu? Aku kan baik-baik saja, hanya kepalaku sedikit sakit dan ada perban aneh ini di kepalaku."

Junsu mengerjapkan matanya, bingung. "Hyung, hyung tidak ingat kalau hyung mengalami kecelakaan?"

"Kecelakaan apa? Aku baik-baik saja Su-ie. Justru kau yang aneh, kuucapkan selamat ulang tahun malah kau bingung. Masa kau lupa kalau hari ini ulang tahunmu?" ujar Jaejoong sambil mencubit pipi Junsu.

"Tapi hyung, hari ini aku tidak ulang tahun."

"Ani, kau ulang tahun hari ini Su-ie" Jaejoong bersikeras.

Junsu menatap hyungnya bingung. 'Ah, lebih baik aku menunggu hasil tes-nya saja,' Junsu membatin.

.

.

.

"Amnesia."

Junsu membelalakkan matanya tidak percaya.

"Dilihat dari gejalanya, sepertinya ia mengalami kerusakan pada memori jangka menengahnya. Ia hanya mampu mengingat peristiwa selama sekian waktu kemudian ia akan melupakannya. Namun kejadian sebelum kecelakaan itu terjadi tidak akan terpengaruh," jelas Dokter Seungho.

"Terapi bisa dilakukan untuk setidaknya memperpanjang kemampuan otaknya menyimpan memori sebelum dihapuskan lagi. Dan aku sarankan, ikuti saja apa yang ia lakukan. Jangan membuatnya kaget dengan memberitahunya kalau ia amnesia, ataupun mengenai tanggal berapa hari ini, atau apapun yang bertentangan dengan apa yang ia ingat. Aku khawatir itu akan membuatnya tertekan dan cenderung membuatnya memiliki niat untuk melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya," jelas dokter itu lagi.

Junsu hanya menganggukkan kepalanya lemah.

End Flashback

.

.

.

"Jadi begitu hyung" Junsu menutup ceritanya. "Tapi tadi pagi aku membuatmu terkejut dengan bilang kalau aku tidak ulang tahun hari ini. Mianhae, hyung."

Jaejoong terdiam, berusaha mencerna kata-kata Junsu. "Ja-Jadi aku amnesia? Lalu bagaimana dengan namja bernama Jung Yunho itu?"

"Dia memang namjachingu-mu hyung."

"Ne, terima sajalah. Lagipula dia baik kok," ujar Mir asal yang menghasilkan jitakan cukup keras dari Junsu.

"Junsu-ah," Jaejoong menarik sepupunya menjauh kemudian membisikkan Junsu. "Kalau kami adalah sepasang kekasih, apa kami pernah melakukan itu?"

"Melakukan apa?"

"Ituu…aisshhh, bagaimana menyebutnya ya?"

"Oh, maksud hyung berhubungan seks?" Jaejoong langsung menjitak Junsu.

"Ya! Pelankan suaramu!"

Junsu mengelus kepalanya. "Molla, tanya saja padanya hyung."

Jaejoong menghela napas. Masa iya tanya langsung, rasanya memalukan sekali.

.

.

.

TBC

Balesan review

dindaR :: Ne, aku usahakan. Tapi aku mau hiatus dulu. Mianhae.. n.n
gomawo udah review. XD

doki doki :: aku malah seneng ada yang baca, kenapa malah minta maaf? Iya, yun kasian, tapi kan demi jae tercinta.. *plakkk* gomawo udah review. n.n

trililililili :: mianhae, ini udah ada penjelasannya. Semoga udah cukup udah review… n.n

minkyuwookie :: ganti hape aja. *plakkk* eh, tapi bener kok pas aku ganti hape malah bisa.. O.o
benarkah dari kisah nyata? Keren! Gomawo udah review… n.n

JennyChan :: di chap ini udah terjawab kan… XD gomawo udah review

.

.

Annyeong, mian updatenya lama. Oh ya, di chap sebelumnya aku salah nulis nama aslinya G.O, harusnya Jung Byung Hee, bukan Lee Byung Hee. Mianhae~ tapi belum ku edit, belum sempet juga soalnya.

Oh ya, aku memutuskan untuk hiatus dulu karena aku harus UN dan US. Sumpah ya, ribet banget, karena ada UN, aku yang hari Sabtu biasanya libur, malah masuk untuk ikut pendalaman materi. Dan gara-gara itu juga besar kemungkinan aku ga bakal bisa update, soalnya hari minggu aku pake buat ngerjain tugas sama belajar.. –a

Oh ya, aku ngerasa chap ini feel-nya ga dapet, apalagi pas Jaejoong kecelakaan. Aku jarang nulis cerita, jadinya jelek deh. Salut sama author yang veritanya keren banget dan feel-nya juga dapet banget.

Gomawo yang udah review. yang login udah aku bales lewat PM ne. aku ga nyangka bakal dapet banyak review. mungkin menurut author lain segitu segikit, tapi kataku banyak.. XD

mian kalo ternyata ada yang belum dibales reviewnya. Jeongmal mianhaeyo.

See you… XD

-Milia-