Never sorry for loving you
.
Genre
Romance
Cast/Pairing
YunJae, Yoosu
.
Warning
Yaoi, miss typo, cerita terlalu pendek
.
Disclaimer
I own nothing except the story line
.
Chapter 4
.
.
"Jae-hyung, kami pulang dulu ya!" seru Mir yang diikuti oleh Cheondoong. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Saatnya bagi mereka untuk pulang. Kini hanya tersisa Jaejoong, Junsu dan G.O.
"Hyung, besok cafe tutup kan?" tanya G.O.
"Tutup kenapa?" tanya Jaejoong.
"Untuk bersih-bersih. Kan setiap sebulan sekali cafe akan tutup dan kita akan membersihkannya." Sahut Junsu.
Jaejoong menganggukkan kepalanya. "Jam berapa?"
"Hyung tidak perlu ikut, besok hyung akan ada acara dengan Yunho-hyung." terang G.O.
Jaejoong mengangkat kepalanya yang sedari tertunduk, menuliskan bahan-bahan yang perlu dibelinya untuk persediaan.
"Acara? Dengan orang aneh itu?"
PLAKK!
Junsu langsung menjitak kepala Jaejoong. "Biar aneh, dia itu namjachingu-mu."
Jaejoong hanya menjulurkan lidahnya kesal sambil mengusap kepalanya.
"Hyung, jangan lupa masak sesuatu untuk Yunho-hyung. Dia pasti belum makan malam." kata Junsu.
"Dia merepotkan sekali," dengus Jaejoong.
"Hm, masak apa ya?" lanjutnya.
Junsu sweatdrop. Tadi katanya merepotkan sekarang malah mau memasak untuknya. Hyung-nya benar-benar labil.
"Ah," seru Jaejoong sambil menjentikkan jarinya. "Samgyetang sepertinya tidak buruk. Semua bahannya ada." Jaejoong mulai memasak, sementara Junsu dan G.O melayani pembeli yang semakin sedikit seiring malam yang makin larut.
.
.
.
"Hyung, nanti kuncinya antarkan ke rumah ya. Hyung kan nanti ke apartment bersama Yunho-hyung." seru Junsu meninggalkan Jaejoong sendiri di cafe.
"Ne~" jawab Jaejoong. Ia segera menyusun samgyetang buatannya di tempat makan sambil menunggu Yunho menjemputnya.
Sebenarnya Junsu yang menyuruhnya menunggu Yunho. Kata Junsu, Yunho memang selalu seperti itu. Pukul delapan, setelah selesai bekerja, ia akan segera pulang. Lalu sekitar jam sepuluh, ia akan pergi ke cafe untuk menjemput Jaejoong.
Jejoong inginnya sih langsung pulang, namun entah kenapa akhirnya ia lebih memilih untuk menunggu Yunho saja.
Dan menurut Junsu -lagi- Yunho pasti belum makan. Maka dari itu, tadi Junsu menyuruhnya memasak untuk Yunho.
'Huh, aku yang namjachingu-nya, tapi kenapa Su-ie yang lebih mengenalnya? Kalau begini kan lebih baik Junsu saja jadi namjachingu si Jung 'pervert' Yunho itu,' gerutu Jaejoong dalam hati.
Cklek.
"Chagi~ sudah menunggu lama? Mian, aku telat," suara pintu café yang terbuka mengganggu lamunan Jaejoong.
Ternyata Yunho.
"Ayo pulang," lanjut Yunho sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya.
Jaejoong, entah kenapa, ia tersipu malu melihat senyum Yunho. Sambil menunduk ia meraih uluran tangan Yunho dan berjalan keluar, mengunci cafe, kemudian berjalan menuju rumah Junsu
Meski sekarang yang tinggal di sana adalah Junsu dan Changmin. Tadinya Changmin tinggal bersama Yunho. Namun, setelah Yunho dan Jaejoong menjadi sepasang kekasih, Changmin memilih tinggal dengan Junsu.
Alasannya? Dia tidak mau mengganggu Jaejoong dan Yunho katanya. Selain itu, biarpun lebih tua, di mata Changmin, Junsu itu polos sekali seperti anak kecil. Changmin jadi khawatir. Biarpun saat tinggal bersama, mereka lebih sering bertengkar daripada akurnya.
"Kita ke rumah Junsu dulu. Aku harus memberikan kunci cafe padanya," kata Jaejoong.
Yunho hanya mengiyakan.
"Malam ini dingin ya," ujar Jaejoong tiba-tiba sambil menggosok kedua telapak tangannya. Kotak makan berisi samgyetang saat ini tengah ditenteng oleh Yunho.
Yunho tersenyum mendengarnya, kemudian ia meraih sebelah tangan Jaejoong dan memasukkannya ke dalam kantong jaket miliknya sambil menggenggamnya.
"Hanya sebelah saja? Yang satunya juga dingin," kata Jaejoong sambil melambaikan sebelah tangannya yang lain.
"Hehe, kumasukkan satunya lagi ke kantongmu juga ya."
Yunho tertawa, kemudian melepas jaketnya dan memberikannya pada Jaejoong.
"Siapa suruh tadi pagi buru-buru? Sampai lupa bawa jaket begini," ujar Yunho sambil mengusap kepala Jaejoong. Jaejoong hanya mempoutkan bibirnya.
.
.
.
"Hyung, yakin tidak mau mampir dulu?" tanya Junsu pada Yunho dan Jaejoong.
"Ani, Su-ie. Aku ngantuk, mau cepat-cepat pulang, lalu tidur," jawab Jaejoong
Changmin yang saat itu berdiri di sebelah Junsu, tersenyum jahil. "Tapi ini kan rumahnya hyung juga. Atau...hyung memang ingin tidur bersama Yunho-hyung?" goda Changmin.
Jaejoong langsung merasakan wajahnya memanas. Ia yakin sekali saat ini wajahnya pasti sudah sangat merah.
"Tidak usah malu-malu begitu, hyung. Lihat, muka hyung sampai merah begitu," lanjut Changmin masih menggoda Jaejoong.
"Ya! Shim Changmin!" teriak Jaejoong sambil memukul kepala Changmin.
"Wae? Hyung sudah tua tapi kelakuannya seperti anak SMP sedang jatuh cinta saja," ujar Changmin sambil mengusap kepalanya.
"Mwo? Apa katamu? Dasar dongsaeng kurang ajar!" Changmin langsung kabur menyadari hyung cantiknya mengamuk.
"Ish..Changmin!" teriak Jaejoong kesal. "Dasar evil! Yun, pulang sekarang! Kajja!" Jaejoong langsung menarik Yunho.
"Junsu-ah, kami pulang dulu ne!" pamit Yunho.
Junsu tertawa sambil melambaikan tangannya.
.
.
.
"Kau mengantuk?" tanya Yunho menyadari Jaejoong berjalan sempoyongan.
Jaejoong menganggukkan kepalanya.
"Ayo, sini kugendong."
"Tidak apa-apa?" Yunho menganggukkan kepalanya.
"Tapi, kata Junsu Yunnie pasti belum makan. Benar tidak apa-apa?" Yunho menganggukkan kepalanya lagi.
"Ayolah, kau tidak seberat itu. Tenang saja." Jaejoong kemudian naik ke punggung Yunho.
"Yun..."
"Hm?"
"Kenapa tidak makan dulu?"
"Aku tidak bisa masak."
"Kalau begitu kenapa kau tidak makan di luar saja?"
"Tidak sehat, Joongie. Lagipula masakanmu lebih enak."
"Kalau begitu, kau dating saja ke café lalu makan di sana. Atau kau juga bisa bawa pulang makananmu."
"Benar juga, tapi aku ingin makan denganmu. Kalu di café kan sibuk."
Jaejoong mempoutkan bibirnya. Namja ini keras kepala sekali! Ingin rasanya menjitak namja yang sedang menggendongnya, tapi dia mengurungkan niatnya.
"Boo, sudah sampai," kata Yunho. Jaejoong langsung turun dari punggung Yunho. Ia segera menyiapkan makan malam untuk Yunho.
"Hm, sepertinya enak. Apa ini samgyetang?" tanya Yunho.
Jaejoong mengangguk. Yunho segera duduk kemudian makan.
"Kau tidak makan, Jae?"
"Eh? Umm, baiklah aku akan makan."
Yunho tersenyum kemudian mengambilkan nasi untuk Jaejoong.
"Ah, tidak perlu. Aku bisa sendiri," Jaejoong mengambil piring yang tadinya ada di tangan Yunho.
"…"
"…"
"Yun…"
"Ne?"
"Lambungmu lemah kan? Kata Junsu begitu." Tanya Jaejoong.
"Ne, memangnya kenapa?"
"Kalau begitu kau tidak boleh telat makan, benar kan?"
Yunho menganggukkan kepalanya. Mulutnya penuh dengan makanan, jadi ia tidak bisa menjawab pertanyaan Jaejoong.
"YA!" Jaejoong berteriak tiba-tiba sambil melempar sebuah pensil yang kemudian jatuh tepat di dahi Yunho dengan keras. Yunho langsung mengusap dahinya sambil memandang Jajoong penuh tanya.
"Kalau begitu kenapa kau memaksakan diri untuk tidak makan? Dasar pabbo!" Jaejoong langsung memukul Yunho berkali-kali.
"Ya! Itu sakit sayang," ucap Yunho ketika ia berhasil menangkap tangan Jaejoong.
"Biar!" sahut Jaejoong menjulurkan lidahnya.
"Senangnya kekasihku yang cantik ini mau mengkhawatirkanku," kata Yunho sambil mencubit pipi Jaejoong.
"Iishhh…lepas! Aku tampan bukan cantik!" sungut Jaejoong yang dibalas dengan tawa dari Yunho.
.
.
.
Yunho keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melingkar di pinggulnya. Ia segera berjalan menuju lemari pakaian.
"Kau lama se…Ya! Mana bajumu!?" Jaejoong histeris dan langsung menutup wajahnya dengan selimut.
"Ini baru mau pakai baju,"
Jaejoong menurunkan selimut yang ia gunakan untuk menutup wajahnya. Ia mengira Yunho sudah selesai berpakaian. Namun ternyata, Yunho belum pakai baju. Handuk pun sudah tidak bertengger di pinggulnya lagi. Jadi sekarang Yunho naked! TELANJANG!
"YA! Pakai bajumu di kamar mandi sana! Pabbo!" Jaejoong makin histeris kemudian melempar sebuah bantal ke arah yang ia rasa tempat Yunho berdiri. Tidak lupa ia tutup wajahnya lagi dengan selimut. Rasanya wajahnya memanas melihat pemandangan tadi.
"Astagaa…mataku yang polos…" keluh Jaejoong, masih dengan selimut yang setia menutupi matanya dari pemandangan yang…errr…menggoda?
Tidak lama ia merasakan selimutnya ditarik. Jaejoong menarik selimutnya lagi. Namun, selimutnya seperti ditarik kembali. Jaejoong membalas menarik selimutnya juga.
"Joongie, turunkan selimutnya. Kau kenapa sih?" tanya Yunho, orang yang tadi menarik selimutnya.
"Aku baru akan menurunkannya kalau kau benar-benar sudah pakai baju!" seru Jaejoong.
"Aku sudah pakai baju. Kau ini kenapa sih tadi tiba-tiba histeris begitu?" tanya Yunho, seperti tidak terjadi apa-apa.
"Ya! Tadi kau pakai baju, tapi tidak di kamar mandi. Dan aku melihatmu telanjang!"
"Makanya, tutupi matamu dong sayang."
"Sudah, tapi…tapi… Aishh, sudahlah!" dengan kesal Jaejoong berbalik memunggungi Yunho.
Yunho tertawa melihat tingkah Jaejoong. Manis sekali. Yunho kemudian mengusap kepala Jaejoong dengan lembut.
"Jaljayo," ucap Yunho kemudian ia mengecup kening Jaejoong.
"Yun," Jaejoong berbalik menghadap Yunho.
"Ne, gwaenchana? Mau kucium lagi?" Yunho, meskipun mengantuk masih sempat menggoda Jaejoong rupanya.
"Aniyo! Bukan, aku cuma mau tanya."
"Tanya apa?"
"Umm….bagaimana ya? Ah, sudahlah! Lupakan saja, ini memalukan."
"Boo, apa yang ingin kau tanyakan? Kenapa memalukan?"
"Ani! Sudah kita tidur saja!"
"Baiklah."
"…"
"Ummm…eh, Yun…" Jaejoong memanggil Yunho lagi.
"Apa lagi sayang?"
"Aduuhhh…aku bingung bagaimana menanyakannya," ucap Jaejoong.
"Memangnya apa sih Boo?"
"Eh, umm, itu. Kita sudah pacaran kan?"
"Ne"
"Sudah lama, benar kan?"
"Ne."
"Lalu apa kita sudah pernah aneh-aneh?" tanya Jaejoong.
"Ha? Aneh-aneh apa?"
"Ituu… melakukan sesuatu yang aneh-aneh."
"Chagi, apa maksudmu aneh-aneh?" tanya Yunho kebingungan.
"Melakukan ituu…"
"Melakukan apa?"
"Ituuu..." muka Jaejoong memerah.
Butuh beberapa detik, tapi kemudian Yunho mengerti. Ia langsung tertawa. "Maksudmu hubungan seks?" tanya Yunho memastikan.
Jaejoong menganggukkan kepalanya dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Yunho. Malu sekali rasanya menanyakan hal semacam itu.
"Hahhaha, ya ampun begitu saja malu. Kau manis sekali," ucap Yunho sambil sekilas mencium pipi Jaejoong.
"Jadi, sudah atau belum?"
Yunho menggelengkan kepalanya. "Belum."
"Mwo? Serius? Tapi kau kan mesum," ucap Jaejoong blak-blakan.
Yunho tertawa. "Mungkin memang ada saatnya aku ingin melakukannya bersamamu. Tapi pasti sulit untukmu. Kau seperti baru mengenalku sehari, lalu tiba-tiba kita melakukannya."
Jaejoong mendongakkan kepalanya. "Jinjja? Benarkah kau berpikir demikian?"
Yunho menanggukkan kepalanya. "Lagipula, kalau kita benar-benar melakukannya, esoknya kau pasti akan histeris kan? Kau pasti menyangka aku memperkosamu. Kau akan kesal, marah kemudian kau mendiamkanku. Itu yang paling sulit untukku. Jadi aku memilih untuk tidak melakukannya."
"Tapi aku pasti akan melupakannya kan?"
"Ya, tapi sehari saja kau mendiamkanku, tidak mempedulikanku, aku tidak tahan. Aku benci itu. Selain, aku ingin melakukannya saat kita sudah menikah nanti," jelas Yunho.
Jaejoong tertegun. Ternyata meskipun mesum, namja ini perhatian sekali.
CUPP
Jaejoong mengecup sekolas pipi Yunho. "Gomawo."
Yunho tersenyum. "Ne, apapun untukmu, Jae." Yunho segera memeluk Jaejoong.
"Isshh…lepas! Kenapa kau memelukku?" Jaejoong berusaha melepaskan pelukan Yunho.
"Kau nyaman, Boo."
"Gombal! Ya sudah, peluk saja," balas Jaejoong.
Yunho tersenyum. Mereka pun segera menutup mata, menyambut alam mimpi yang sebentar lagi akan menjemput mereka.
TBC
.
.
.
Mianhae update lama. Sebenarnya, ff ini bakalan jadi sad ending. Tapi setelah kubaca ulang, kayanya ga cocok. Jadi kayanya sad endingnya ga jadi. Gimana menurut kalian? Gapapa kan?
Untuk balesan reviewnya, mianhae belum bisa bales satu-satu. Ini aja ngetik langsung pos. Kecuali yang login, udah aku PM.
Gomawo yang udah mau sekedar berkunjung dan baca.
