Naruto by Masashi Kishimoto
Refrain by Winna Effendi
Fiction by Dae Uchiha
Votum: The Series
©2012
Standard warning applied
Don't like, don't read!
"Bayi yang seperti apa yang kau inginkan?"
Pertanyaan itu datang begitu saja dari bibir kekasihku pada suatu malam yang dingin. Manik mutiaranya berbinar samar dalam kegelapan malam dengan cahaya bulan dari balkon yang terbuka membingkai wajahnya.
Aku berpikir.
Bayi?
"Apakah yang kau maksud makhluk kecil yang memakai popok dan menangis di malam hari?—Ouchh!" Aku mengusap perutku yang dicubitnya. Hinata mengembungkan pipinya, berbalik dan memunggungiku.
Aku menghela napas samar, melingkarkan tanganku di perutnya dan menariknya mendekat, membiarkan punggungnya dan dadaku bersentuhan. "Kau marah?"
Aku bisa merasakan bahu itu berguncang pelan. Ia bukan lagi marah, tetapi menangis. Perubahan emosinya memang sangat kentara semenjak satu bulan lalu, saat kabar—yang sampai sekarang masih membuatku bingung apakah aku harus bahagia atau tidak—itu sampai ke telingaku. Aku mengecup bahunya. "Kenapa kau marah?"
"Kau menolak keberadaan bayi ini."
"Tidak," sergahku cepat, nyaris tidak berpikir. Namun sedetik kemudian, ketika isakan Hinata terdengar, aku tahu ia berpikir bahwa aku membentaknya. "Hinata, dengar," Kupelankan suaraku, sadar bahwa Hinata mudah sekali menganggap aku membentaknya karena suaraku yang sering bernada dingin tanpa kumau, "meskipun karena bayi ini kau menolak bercinta denganku—"
"Bercinta tidak baik pada trisemester pertama."
"—oke, dan perubahan emosimu membuatku pusing dan kau sering meminta benda yang aneh-aneh—"
"Sasuke, ini bukan kemauanku!"
"—dan kau bertambah gendut—ouch!" Aku menghentikan kata-kataku ketika Hinata berbalik dan mencubitku dengan keras. Ia membenamkan wajahnya di dadaku.
"Kau jahat."
Aku menyeringai. "Hey, dengarkan, aku belum selesai, Tuan Puteri."
"Lanjutkan, kalau begitu." Suara Hinata sungguh membuatku ingin menerkamnya sekarang juga, namun kutahan. Bisa-bisa ia semakin menolakku setelah ini.
"Bagaimanapun kelakuanmu karena bayi ini, aku sungguh senang kau mengandungnya, Hinata. Dia anakku."
Hinata mendongak untuk menatapku. Binar itu kembali terlihat pada bola matanya, membuatku tak tahan untuk tidak mengecupnya. "Lalu bayi yang seperti apa yang kau inginkan?"
"Tentu saja tidak sepertimu yang ceroboh dan bodoh ini." Aku kembali berkata tanpa berpikir, dan untungnya kini Hinata tidak semarah tadi—ia mengerucutkan bibirnya lucu.
"Tapi aku manis. Dan imut. Dan aku baik hati."
Aku terkekeh mendengar kenarsisan yang keluar dari bibir Hinata. Berbeda dengan kesehariannya yang lumayan pemalu, ranjang kami adalah tempat dimana kami satu sama lain bisa menemukan sifat kami yang berbeda dengan yang kami perlihatkan di luar.
"Oke, Nona Baik Hati, jadi sekarang bisakah kita tidur?"
Ia menempelkan pipinya pada dadaku, mencari posisi tidur dalam pelukanku senyaman mungkin. "Kau jadi mirip Cassanova, Sasuke-kun," ucapnya, lalu menguap pelan. "Perayu."
Aku kembali menyeringai. "Dan kau mencintaiku yang seperti ini, Hinata." Aku memeluknya erat, terbiasa untuk menghirup wangi tubuhnya yang beraromakan lavender.
Malam itu aku bermimpi. Di antara kami, hadir seorang bayi yang lucu. Matanya sekelam malam—mataku, dan rambutnya sewarna rambut Hinata. Bayi itu perempuan, dan ia memiliki pipi yang sama chubby-nya dengan Hinata. Senyum yang terlukis di wajahnya membuatku merasakan kebahagiaan yang asing dan melegakan.
Aku terbangun tengah malam, masih dalam euphoria kebahagiaan. Kutatap Hinata yang tertidur pulas, perlahan menempelkan tanganku ke perutnya yang masih rata.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasakan ketidaksabaran yang asing saat menantikan sesuatu yang baru di hidupku.
Anakku.
.
.
Wish 2: Cepatlah lahir. [Sasuke]
.
~Wish Two: End~
.
.
Dua chapter sekaligus, dan lagi, Sasuke OOC banget. Oke, anggap hiburan semata. :)
Concrit dan review masih dinanti...
:D
-dae-
