Naruto by Masashi Kishimoto
Refrain by Winna Effendi
Fiction by Dae Uchiha
©2012
Standard warning applied
Don't like, don't read!
Itu Uchiha Sasuke.
Uh, uh.
Hyuuga Hinata menelan ludahnya gugup. Oke, ini cuma kebetulan, gadis itu mensugesti dirinya sendiri. Kebetulan, Hinata.
Yeah, apalagi yang membuat Uchiha Sasuke, si Casanova incaran sebagian gadis-gadis Konoha High School itu berada di bagian depan perpustakaan, dengan badan bersandar santai dan sebuah buku di tangannya? Bahkan menyeringai kecil pada gadis-gadis yang lewat. Pemuda itu pasti sedang dalam mood yang sangaaatt baik.
Tapi, demi Sasuke dan segala mood baiknya itu! Kenapa ia harus berada di sini? Maksud Hinata, KENAPA HARUS DI PERPUSTAKAAN?!
Well, apa yang kurang dari seorang Uchiha sepertinya? Ia ... sempurna. Dan, dalam kasus ini, ia kelihatannya tak perlu bersusah payah untuk bisa meraih peringkat sempurna, yang artinya walaupun ia membolos seharian pun, ia takkan ketinggalan pelajaran. Dan sekarang, ia berada di perpustakaan?
Oh, mungkin perlu ditambahkan lagi:
Uchiha Sasuke + perpustakaan = kemustahilan.
See? Sudah mengerti dimana kesalahannya?
Oke, katakanlah ia sedikit berlebihan, tapi dengan sekali lihat, Hinata langsung tak menyukai pemuda itu. Pemuda itu memang keren dan tak kalah memesonanya dengan personil boyband dari negeri gingseng itu, oke, Hinata mengakuinya, tapi mengapa di matanya pemuda itu sama menyebalkannya dengan sosok berambut pirang platina dalam serial Harry Potter kesukaannya?
Jangan salahkan Hinata.
Salahkan sikap Sasuke yang suka sekali berkomentar sinis atau berkata pedas pada gadis itu. Atau ketika pemuda bermarga Uchiha itu tak segan memberinya deathglare gratis saat Hinata bersemu merah ketika bertemu sahabat karibnya, Uzumaki Naruto. Atau saat pemuda itu begitu terlihat senang menggodanya dengan sikapnya yang sungguh membuatnya—uhh, oke, lupakan, Hinata tak ingin membahasnya sekarang.
Dan lagi, pemuda itu seakan mengikutinya kemana-mana! Katakan Hinata terlalu percaya diri, namun kau akan merasakan hal yang sama saat pemuda bungsu keluarga Uchiha itu satu kelas denganmu (hei, orang bodoh mana—selain Uchiha Sasuke—yang mau pindah dari kelas unggulan, kelas yang penuh dengan orang-orang yang memiliki kecerdasan istimewa dan bakat istimewa ke kelas reguler biasa? Mungkin benar kata orang, idiot dan jenius itu beda tipiiisss), SELALU satu kelompok denganmu, dan bahkan mengikuti ekstrakurikuler yang SAMA denganmu.
Yang terakhir membuat Hinata gemas setengah mati. Sejak kapan Uchiha Sasuke yang merupakan MVP semasa SMP itu rela melepaskan hobinya bermain basket dan mengikuti ekstrakurikuler drama?
Dunia pasti sudah terbalik.
Tapi, ngomong-ngomong soal drama, Hinata selalu membayangkan jika Sasuke bermain drama, Sasuke pasti akan bermain drama Si Kerudung Merah dan mendapat peran sebagai serigalanya.
Pemikiran itu sempat membuat Hinata merasa geli.
Tapi, ia pasti akan sangat cocok menjadi seekor serigala. Lihat saja matanya yang mampu menusuk siapapun yang memandangnya itu.
Oke, cukup tentang Uchiha Sasuke.
Kembali ke permasalahan.
Hinata sudah ingin pulang, sungguh. Sekarang sudah jam tiga, dan ia harus membeli bahan makanan dan memasak makan malam. Lalu kenapa si Uchiha itu tidak pergi juga? Bel pulang sudah berbunyi satu jam yang lalu, demi Tuhan!
Jangan tanya kenapa Hinata menunggu si Sasuke itu. Tentu saja karena gadis yang memiliki mata sewarna mutiara itu tidak ingin bertemu dengan pemuda menyebalkan itu. Hinata sudah beberapa kali mengalami kejadian 'pahit' saat harus pulang 'bersama' Uchiha Sasuke.
Uh, oh. Jangan tanya lagi. Hinata sedang tidak ingin membahasnya.
Mata gadis itu sedikit berbinar saat Temari dan Tenten yang sepertinya baru selesai kegiatan ekstrakurikuler memasuki perpustakaan. Sepertinya mereka ingin mengembalikan buku.
"Temari! Tenten!" Hinata memanggil kedua sahabatnya itu.
Mereka menoleh serempak, kemudian mendatangi Hinata yang memang posisinya agak di sudut.
"Hei, Hinata. Kenapa belum pulang?"
Hinata mengerucutkan bibirnya. Mereka masih bertanya kenapa? Jelas-jelas mereka tahu apa yang membuat Hinata masih berada di sini. "B-bisakah k-kalian membantuku k-keluar?"
Temari dan Tenten berpandangan, lalu keduanya tertawa geli.
"Kenapa kau memerlukan bantuan kami? Hanya orang buta yang tak tahu kalau ia menyukaimu, Hinata. Well, meski masih dengan gengsi Uchiha-nya yang selangit, sih." Kalau begitu, pasti Hinata dan semua anak KHS buta, dan yang tidak buta hanya Temari dan Tenten.
Uuh, mereka benar-benar tidak bisa diajak bekerja-sama. Lagian, siapa yang suka sama siapa? Si otak dingin Sasuke itu tidak mungkin menyukainya. Dia hanya suka mengintimidasi, dan Hinata adalah korban keisengannya. "Pleasee?"
Mereka saling berpandangan lagi, kemudian Hinata melihat senyuman (jahil) terukir di wajah Temari. "Oke, akan kusuruh Uchiha itu pergi."
Mereka berbalik, dan Hinata bisa melihat Temari membisikkan sesuatu pada Sasuke. Sasuke mengangkat sebelah alisnya, lalu mengikuti mereka keluar.
Gadis itu bernapas lega. Buru-buru Hinata membereskan seluruh bukunya, lalu setengah berlari keluar dari perpustakaan.
Mungkin saking bersemangatnya, Hinata sama sekali tak menyadari di ujung koridor sesosok tubuh berdiri di tengah jalan, sama sekali tak berniat memberi jalan bagi Hinata yang masih sibuk setengah berlari sambil membenahi resleting tasnya.
Dan ...
Brukhh!
"Aduhh ..." Hinata mengeluh, ia terjatuh dengan tidak elitnya dan Hinata bisa merasakan bokongnya sakit. Menyebalkan. Gadis itu mendongak untuk melihat siapa yang telah ditabraknya.
Glekk.
Sosok itu: masih berdiri, ekspresi tenang meski sudut bibirnya sedikit terangkat, dengan gaya khasnya; tangan dimasukkan ke saku celana.
Uh-oh. Hinata merutuk dalam hati.
"Kalo jalan lihat-lihat, Hyuuga."
Tuhh kannn ...
"Sebegitu ingin menabrakku, hmm?"
Kalau sekarang ia melihat ada lubang yang besar dan muat menampungnya, Hinata bakal masuk dengan senang hati. Spesial pakai senyum.
"Sebagai gantinya, aku akan ikut makan malam di rumahmu."
Sudah mengerti kenapa Hinata ingiiiinnn sekali menghindari Uchiha Sasuke? Yap, inilah dia, pengalaman 'pahit' dan 'pulang bersama' Uchiha Sasuke. Alasan apa lagi yang akan diberikannya pada Papa Hiashi?
Hinata sudah pernah memberikan alasan bahwa Sasuke kesasar dan kelaparan, Sasuke adalah teman sekelasnya dan mereka sedang mengerjakan tugas, Sasuke tidak punya orang tua dan kelaparan (well, yang ini memang agak kejam, tapi yang menyedihkan, itu memang kenyataan—Sasuke tidak punya orang tua dan hanya memiliki kakak laki-laki), Sasuke mencintai masakannya, Sasuke tidak bisa makan masakan selain masakan Hinata, dan blablabla ...
Ingin rasanya ia memarahi Temari dan Tenten. Pasti mereka yang merencanakan semua ini. Mereka salah, Sasuke tidak mungkin menyukainya.
"Ayo bangun. Atau kau mau kugendong?"
Ingat narasi yang bilang Sasuke selalu menggodanya dengan ekspresi senang ditambah sikap yang bikin Hinata tidak ingin membahasnya? Ini salah satu contoh nyatanya.
Uuhh, ini akan jadi sore yang panjaaang bagi Hinata.
"T-tapi Sasuke-kun, a-aku harus ke p-pasar dulu."
"Aku ikut."
"M-mungkin akan lama."
"Tak apa-apa."
"Itachi-niisan k-kemana?"
"Entahlah."
"K-kenapa tak m-makan di rumah Naruto-kun?"
"Jangan sebut nama manusia itu di depanku."
"Ah! A-aku harus m-mampir d-di—"
"Hinata, kau akan diam atau benar-benar mau kucium?"
Tuhhh kannn ...
.
.
Wish 3: 'Serigala' itu cepat pergi. (Hinata)
.
~Wish Three: End~
.
.
A/N: Saya berusaha bikin humor, dan dengan kadar humor saya yang mengerikan, saya tahu ini garing banget. Bisa bikin kalian senyum aja kayaknya udah bersyukuuurrr banget.
Thanks buat yang udah review chapter 1 dan 2, hontou ni arigatou gozaimashita! Aku balas di sini ya?
Lavender Bo-Chan: Masih lanjut dong~ Ini lanjutannya!
Kertas Biru (2x): Mungkin karena dia gak berharap banyak, hehe :D Hinata OOC? Ngg, apa di chap 3 ini kadar OOC-nya udah berkurang?
Dyana NHL: Silakan dibaca & review~~
Lope itachi: Sankyuu udah suka, nih lanjutannya... ;)
Kau-Tahu-Siapa: Baca penname Anda serasa berhubungan ama Voldemort dunia nyata... :) Syukur deh kadar fluffy-nya terasa... :D
Lily Purple Lily: Thanks ... review lagi? :)
Suzu Aizawa: Soalnya ini drabble, mudah-mudahan chap 3-nya udah cukup panjang :)
Mamoka: Hm-hm! Diusahakan agar lebih terfokus sama satu hal dan bikin alurnya gak terasa cepat! Chap ini gimana?
Yumi michiyo: Thanks udah suka... :)
Shuriken89: Hmm... aku agak bingung sih mau balas apa, :/ Aku baca bio-mu, jujur aku suka 'idealisme'-mu yang bilang kalau kamu gak suka OOC dan AU. Aku tau dimana kamu bisa dapat Canon dan IC. Kamu mending baca AniManga aslinya, ding. Aku juga gak bakal pakai tameng DLDR, tapi di sini aku berniat menghibur dan aku nulis untuk mengasah kemampuanku. Makasih buat kritik pedasnya, mudah-mudahan kalau aku bikin Canon, kamu mau baca dan menilai lagi dengan jelas dimana kesalahanku. Maaf fic ini mengecewakanmu, mungkin kamu bisa cari fic lain yang sesuai dengan kriteriamu. Satu lagi, di dumay ini, aku maya, kamu maya, dan ini cuman fiksi. Jadi jangan harap aku mencak-mencak gak jelas, ok? :) Arigatou gozaimashita atas reviewmu! :D
Daiyaki Aoi: Makasih banget ... Ini pendek karena dia drabble, Say ... mudah-mudahan chap ini cukup panjang, ya? Rate gak bakal kuubah ke M kok, tapi mungkin bisa menurun ke K+, K, atau tetap T! Oh ya, anak DnA juga? Wahh salam kenal! Aku jarang main ke sana sih~~ Thanks buat reviewnya!
Astia morichan: Kurang puas? Mudah-mudahan chap ini cukup memuaskan, ya! Thanks reviewnya!
AA Jebug Ueureu Bulbabs (2x): Syukur kalau kamu puas, thanks reviewnya!
SasyaTazkiya Lawliet: OOC-nya bagus? Hehe, thanks reviewnya!
Gui gui M.I.T: Makasih udah suka, chap ini gimana? Thanks reviewnya!
Ore (2x): Suka konflik? Mungkin Series ini minim konflik, soalnya drabble... :/ Chap ini gimana?
: Penname-mu susah dibikin... Hehe, Sasuke emang Uke sejati! ^.^b
Uchihyu chan: Chap ini gak deg-degan kan? ;)
Concrit & review, minna?
:D
-dae-
