Naruto by Masashi Kishimoto

Refrain by Winna Effendi

Fiction by Dae Uchiha

©2012

Standard warning applied

Dari tepi rindu, aku berbisik

Dengan cinta yang mendesah

Jalarkan beribu kehangatan

.

Di tepi rindu, aku berjalan

Rasakan gelisah menyentuh raga

Dengan sesak bersinkronisasi

.

Rindu itu melambai

Menelisik hati

Dari tepi rindu, aku mengingat

Wajahmu yang teduhkan kalbu ...

.

.

.

"Kakek hari ini agak aneh, ya?"

Kakak pernah berbisik padaku suatu hari, saat kami pergi ke rumah keluarga besar. Aku menatap kakek. Kakekku adalah orang dengan garis wajah yang keras dan tegas, bahkan di usia senjanya kini. Ekspresi wajahnya yang datar dan dingin mungkin terlihat menakutkan bagi orang lain, namun tidak bagiku yang sudah terbiasa. Terlepas dari semua itu, kakek adalah panutan bagi keluarga kami. Ayah, paman, kakak, bahkan sepupuku semua sangat menghormati kakek.

Waktu itu kakek terlihat sangat lelah. Mata elangnya tampak sayu, entah kenapa.

Tapi aku sangat menyayangi kakek.

Terusik dengan ucapan kakak, diam-diam aku menyelinap ke kamar kakek malam itu. Kamar berpintu mahoni itu kuketuk, kemudian aku berbisik menyebut nama kakek. Para pelayan yang bekerja di rumah kakek sangat tegas. Jika aku ketahuan aku pasti akan dijaga tidur semalam suntuk.

"Masuklah."

Aku membuka pintu perlahan, memastikan tak ada yang melihat sebelum menutupnya kembali.

Kakek sedang duduk di tepi tempat tidur, dengan sebuah album besar di pangkuannya. Kakekku menoleh ketika aku mendekatinya. Ia mengangkatku dan mendudukkanku di pangkuannya. Aku sungguh suka ketika tangan kuat yang terlatih itu mengangkatku. Kakek menyalurkan kasih sayangnya lewat cara-cara yang membuatku nyaman, tak seperti ibu yang terkadang terlalu memanjakanku.

"Nenekmu," ujar kakek saat jariku menyentuh foto seorang wanita yang sangat cantik. Rambut indigonya tergerai dan tampak halus, mata sewarna mutiara miliknya terlihat meneduhkan.

Aku tercekat. Kakek sangat jarang menceritakan tentang nenek. Ayah tak bisa menceritakan nenek padaku, karena nenek meninggal saat ayah belum genap berusia satu tahun.

"Aku sangat mencintainya."

Nada suara kakek entah kenapa membuatku merasakan kehangatan.

"Sayang aku tak bisa mempertahankan nenekmu. Aku sungguh ... merasa menyesal." Kakek menghela napas pelan. "Dia adalah gadis yang sungguh baik. Satu-satunya wanita yang mau menerima keadaanku saat aku sedang sangat miskin. Wanita yang memotivasiku hingga aku bisa berhasil seperti ini."

Album itu kubalik. Sebuah foto ketika kakek dan nenek masih muda, dengan pose saling berpegangan tangan.

"Nenekmu selalu berkata, tak pernah berpikir akan menghabiskan sisa hidupnya bersamaku. Tak pernah berpikir akan mendapat kehormatan untuk menjadi seorang ibu dari paman dan ayahmu."

Aku membalik lagi, sebuah foto ketika nenek menggendong paman—kakak ayah—dengan ekspresi yang bahagia.

"Saat mengetahuinya menderita penyakit itu, aku kalap. Satu-satunya hal yang kutakuti di dunia ini adalah kehilangannya. Salju teduh yang berhasil memadamkan seluruh api masalahku di masa lalu."

Foto-foto selanjutnya selalu foto nenek. Wajahnya yang memucat dan tubuhnya yang mengurus, terlihat jelas bagaikan sebuah rekaman bagiku.

"Aku merindukannya."

Aku terdiam, tak berani menatap kakek ketika setetes air membasahi sebuah foto nenek. Nenek yang tetap cantik, sedang menggendong ayah meski tampak sangat lelah.

"Begitu besar dan kini terasa menyesakkan. Melihat pamanmu, ayahmu ... aku berpikir andai saja ia berada di sini, membesarkan mereka bersamaku. Apa yang akan ia katakan saat melihat keberhasilan anak-anaknya?"

Tetesan yang lain mengikuti. Membuatku tercekat.

Kakek ...

.

.

Wish 4 : You were here, with me ... [Sasuke]

.

.

A/N: Akhirnya aku update lagi. Maaf nggak bisa update cepet, aku mengalami kecelakaan dan kaki kananku patah, dan aku sedang menjalani proses penyembuhan. Untuk reviewnya, maaf nggak bisa di balas.

Bagaimana pendapat kalian tentang chapter ini?

Sign,

:D

-dae-