"K-kalau begitu, p-pergi saja!"

Hinata, gadis manis dan lembut yang sudah selama lima tahun ini selalu ada di sisiku dan menemaniku, mendadak membentakku—meski masih dengan gagap yang menjadi ciri khasnya—dan tanpa memberiku kesempatan untuk menjelaskan, gadis berambut indigo itu melompat turun dari tempat tidurku, memakai bajunya dengan tergesa-gesa, lalu—

BLAM!

—membanting pintu kamarku begitu saja.

Aku tak punya waktu untuk bengong karena aku langsung melompat turun dan menyusulnya, menarik tangannya tepat pada saat ia nyaris membuka pintu apartemenku. Matanya membulat begitu menyadari ia tertangkap dengan mudah.

"L-lepas."

"Tidak."

"S-Sasuke, lepas."

"Tidak akan."

"S-Sasuke—"

"Hinata, kancing bajumu dengan benar. Kau mau membiarkan orang lain—selain aku—melihat dadamu?"

Dan—

PLAK!

—Ouch, satu tamparan yang menyakitkan. Kenapa Hinata begitu kasar malam ini?

Hinata menarik tangannya dan mengancingkan kemejanya dengan buru-buru, membuatku menyeringai kecil.

"D-dasar Don Juan b-brengsek!" Ia berusaha mengumpat, namun tentu saja tidak berhasil. Kapan Hinata bisa mengucapkan kata-kata kasar?

"Dengarkan aku."

"T-tak akan, brengsek!" Hinata hendak membuka pintu di belakangnya, namun ia mengernyit saat menyadari pintu itu terkunci.

"Mencari ini?" Aku memperlihatkan sebuah kunci kecil. Kunci apartemenku.

Hinata menunduk, kalah. "A-apa maumu, S-Sasuke-kun?"

Aku mengantongi kunci itu, kemudian mengurung Hinata di antara kedua lenganku. "Pertama, tatap aku."

Ia mendongak, menampilkan wajah cantik yang selalu kusukai. Matanya membulat begitu menyadari jarak di antara kami. Lalu hidungnya. Aku bisa merasakan napas kami bertabrakan di udara, membuatku makin bersemangat untuk menggodanya. Dan bibir merah itu. Aku menelan ludah menyadari bahwa Hinata sama sekali tanpa pertahanan sekarang (abaikan kemampuan karatenya, aku bisa menahannya) dan seandainya saja kini kami sedang berada di tempat tidur seperti tadi (aku sedang melakukan pemanasan bersamanya saat kalimat laknat itu keluar dari mulutku, menghentikan semua kegiatan kami) aku pasti sudah menyerangnya habis-habisan sekarang.

"S-Sasuke-kun ..."

Aku tersentak saat Hinata menatapku bingung dengan wajah merah padam, dan seketika aku menyadari apa yang membuat gadis bermata pearl ini merona. Oh, shit! Masa hanya dengan memikirkannya saja aku sudah—bodoh sekali kau, Sasuke!

"Kedua," Aku melanjutkan, menarik napas dan berusaha menenangkan diri, mengabaikan sesuatu yang terasa mendesak di celanaku, "Aku memang akan pergi, tapi bersamamu. Jadi—uhm—Hinata—akh!" Aku menatap ke bawah, merasakan sesuatu yang lembut dan halus membelai sesuatu yang ada di tengah selangkanganku.

"K-kenapa ... ini j-jadi begitu keras?"

Aku mengerang dalam hati. Hinata mendongakkan kepala, menatapku masih dengan wajah yang merah padam, dan aku mendadak menyadari sesuatu. Hinata yang membentakku, kasar, dan kini begitu agresif ... pasti karena sebotol vodka tanpa es yang ia kira air putih tadi. Argh! Kenapa aku bisa lupa? Dan bisa-bisanya aku nyaris menyerangnya saat di ranjang tadi!

"Hinata, dengar, kau harus pulang, oke?"

Ia menggeleng, menurunkan resleting jeans milikku dan memelorotkan jeans itu ke bawah. "A-aku penasaran..."

Aku menarik napas, menenangkan diri. Oke, Sasuke, hentikan semua ini sebelum terlambat dan kau akan menyesalinya nanti. Tarik napas ... hembuskan ...

Aku mungkin terlihat mesum—meski si baka dobe itu pasti lebih mesum—tapi aku tipe pria konservatif. Sudah lima tahun ini aku menjaga Hinata, dan rencananya malam ini aku akan melamarnya dan membawanya ke London setelah menikah. Rencana yang menurutku sangat sempurna. Dan jika malam ini akan jadi malam pertama kami, maka baik aku dan Hinata pasti akan menyesal esok.

Aku bisa mendengar bisikan setan menyuruhku membawa Hinata ke ranjang, lalu ... melakukan apa yang bisa dilakukan oleh dua orang insan dewasa berbeda jenis di tempat tidur.

Hinata takkan tahu ...

Besok pagi ia akan bangun dengan hangover hebat menyerangnya, dan ia akan melupakan semuanya. Semuanya. Aku bisa berpura-pura tak terjadi apa-apa di antara kami, lalu melamarnya dan rencanaku akan tetap berjalan.

Tapi ...

Mungkin aku takkan bisa memandangnya dengan cara yang sama lagi. Mungkin aku akan sangat merasa berdosa hingga merasakan semuanya adalah sebuah kewajiban. Mungkin aku akan melupakan bagaimana aku mencintainya selama ini, menjaganya ... dan aku pasti akan merusak semua kepercayaan yang diberikan kepadaku. Semua akan sia-sia.

Karena itu aku memutuskan untuk menarik Hinata yang sudah berjongkok di hadapanku hingga berdiri. Gadis itu menatapku bingung, tapi aku tersenyum kecil.

"Aku mencintaimu ... Sasuke-kun."

Ia mengecup bibirku sekilas, lalu memelukku dan mendadak terkulai lemas. Entah tidur atau pingsan karena mabuk hebat.

Aku mengangkat Hinata dan membopongnya ke kamar tamu. Kutidurkan ia di sana, dan menyelimutinya.

Aku menarik napas lagi.

Rasanya malam ini aku bukan seorang Uchiha Sasuke yang biasa. Rasanya malam ini ... aku telah melepas semua topeng keegoisanku, keangkuhanku, dan segala atribut Uchiha-ku ... untuk Hinata seorang.

Ini aku, Sasuke. Seorang pemuda yang mencintai gadis bernama Hinata.

.

.

Wish 6: Saved her, always [Sasuke]

.

.
Naruto by Masashi Kishimoto
(Review?)