Naruto by Masashi Kishimoto
Refrain by Winna Effendi
Fiction by Dae Uchiha
©2014
Standard warning applied
Extra warning! Road to Ninja Version of Sasuke-Hinata, with Alternate Universe, and Semi-M for dialog, DWP (Dialog without Plot)
Siapa bilang punya pacar preman itu enak?
Uchiha Sasuke, tujuh belas tahun, mengeluh dalam hati. Tangannya bergerak hati-hati, menyentuhkan kapas yang basah oleh cairan antiseptic ke kulit kebiruan milik kekasihnya yang lebam akibat berkelahi. "Sakit?"
Sasuke bukannya tidak suka perkelahian. Ia hanya lebih memilih menghindari. Pun, beberapa bentuk beladiri yang ia kuasai hanya ia gunakan jika berada dalam ancaman atau bahaya. Selebihnya, ia memilih hidup dengan tenang dan damai tanpa baku hantam.
Sialnya, prinsipnya itu bertentangan dengan prinsip dari kekasihnya ini.
Hyuuga Hinata, tujuh belas tahun, adalah anak dari pimpinan yakuza dari klan Hyuuga yang kuat. Manis, tapi yandere. Kecantikan Hinata ibarat mawar, cantik tapi penuh duri. Hinata adalah pimpinan preman-preman terkuat di sekolah mereka. Pimpinan, pastinya otak dari segala sepak terjang berandalan sekolah. Dia adalah gadis yang berdiri di posisi puncak kekuasaan yang membuat Konoha Gakuen jadi sekolah yang ditakuti karena rekor perkelahiannya.
Hinata hanya berdecih pelan sebelum memalingkan wajahnya. "Nggak sakit kok—aww!" Mata bundar sewarna lavender miliknya mendelik saat Sasuke dengan sengaja menekan keras keningnya yang berdarah.
Sasuke terkekeh, dengan gemas menekan kembali kening gadisnya. "Kamu tuh nggak cocok berkelahi. Kalo mau berkelahi, sini sama aku aja di ranjang, pasti kuladeni."
Rasanya bulu kuduk Hinata meremang gara-gara gombalan bernada mesum yang dilontarkan Sasuke. Pipi Hinata merona dengan cepat, reaksi tubuhnya bertentangan dengan bibirnya yang melontarkan serentetan makian yang tak enak didengar telinga. "Playboy!" Hinata akhirnya mencibir.
Sasuke menghela napas. "Tiap sore pasti berakhirnya di UKS, ngobatin kamu. Ck, tujuanmu apa sih, hm?"
Pipi chubby yang dihiasi lebam kebiruan itu menggembung. "Bilang aja kamu lebih seneng ngegombalin cewek-cewek gebetanmu di luar sana. Iya, kan?" Hinata, yang pada dasarnya bertemperamen tinggi, mendadak menepis tangan Sasuke dan menatap cowok itu dengan tatapan menuduh.
Sebuah seringai muncul di bibir Sasuke yang jahil. "Nah, itu kamu tahu."
"Ugh!" Sifat ringan tangan Hinata muncul. Refleks gadis itu melayangkan satu tinju kepada Sasuke, namun dengan santai ditangkis cowok itu. "Brengsek!" Hinata mendesis.
Sasuke tertawa ringan melihat tingkah kekasihnya. Dengan tatapannya yang nakal ia menatap sudut bibir Hinata yang terluka dan mendesah. Tangannya terulur untuk mengobati luka itu sembari berkata dengan nada yang sedih, "Ah, gimana kita bisa ciuman penuh hasrat kalo kamu korbanin bibirmu demi tawuran."
Hinata tambah melotot. "Sekali lagi kamu ngomong semesum itu, kusunat tuh Sasuke-junior!" ancam gadis itu.
Tawa Sasuke semakin mengeras. Pemuda yang dikenal playboy dan ahli flirt itu mengacak-acak rambut indigo Hinata yang tergerai dengan gemas. "Jangan dong. Ntar gimana dengan rencana masa depan kita buat bikin dede bayi?"
"Batal!" Hinata menyahut jutek. "Aku mau cari sperma cowok yang lebih berkualitas dibanding sperma-mu." Gadis itu membuka kemejanya yang robek akibat tersabet batu ketika tawuran tadi tanpa risih. Dengan satu tangan ia memegangi rambutnya dan meringis kecil saat Sasuke menekankan kapas pada lengannya yang berdarah.
Sasuke kemudian melepas kemeja sekolahnya, menyisakan t-shirt putih yang dipakainya sebagai dalaman. Kemeja itu ia pakaikan pada Hinata; hal yang terbiasa dilakukannya karena sebagian besar kemeja Hinata selalu berakhir dalam keadaan robek. Sasuke lalu mendesah, "Mungkin kamu bisa dapat sperma yang lebih berkualitas, tapi di mana lagi kamu bisa cari cowok yang pengertian kayak aku, hm?" Sasuke berkata dengan nada prihatin yang dibuat-buat.
"Di tong sampah!" Hinata kembali berkata dengan nada pedas, mengancingkan kemeja milik Sasuke yang dipakainya. "Pacar tipe kamu tuh gampang dapatnya, soalnya semua cowok sekarang udah jadi raja gombal."
Sasuke tak tahan lagi. Pemuda itu memeluk erat Hinata yang memang bertubuh mungil dibandingkan tubuhnya sembari tertawa. Pacarnya ini memang unik. Hal awal yang membuat Sasuke tertarik pada Hinata adalah sikap gadis itu yang acuh tak acuh, namun pada akhirnya ia benar-benar jatuh pada pesona Hinata.
"Ck, lepasin!" Hinata memberontak, masih dengan semburat semerah apel pada pipi chubby-nya. "Kamu tuh bikin aku sesak! Mau kuhajar?"
Sasuke justru mempererat pelukannya. Tak takut sama sekali dengan ancaman Hinata. Hinata mungkin memang jago berkelahi, tapi gadis itu hanya punya sedikit dasar yang didapatnya dengan belajar pada dojo ayahnya. Tentu Sasuke yang lebih banyak belajar takkan kalah dengan mudah. "Hajar aja. Mau di mana, hm? Di sofa? Di ranjang?"
"Sasuke!"
"Diamlah. Atau mau kucium?"
Punya pacar preman mungkin memang tak enak, tapi Sasuke rela. Asal preman itu semanis Hyuuga Hinata.
.
.
Wish 7 : Bersamanya selalu …. [Sasuke]
.
.
Author's territory: *sigh* dibuat dengan ngebut kilat, curi-curi waktu dan ide di tengah Ujian Sekolah. Tangan nulis tapi pikiranku sih kecantol sama ujian Bahasa Prancis. Haha, jadi abal gini. Yosh, aku nulis karena tau ada event, tapi aku bahkan ga tau sama sekali ketentuannya. Mudah-mudahan ini masuk sebagai archive event #ReuniAuthorSasuHina.
Sign,
:D
-dae-
