Tittle: My choice

Cast: Leeteuk, Keisya

Support Cast: Heechul, Yesung, Kangin, Shindong, Sungmin, Eunhyuk, Donghae, Siwon, Ryeowook, Kyuhyun, Ji ah.

Genre: Romance, Friendship

Rating: Fiction T

Warning : EYD kurang baku, Geje , tak banyak menggunakan kosa kata Korea, alur membinggungkan.

Don't like it? Don't read it please.

Summary: Perlu kalian tahu, aku tak akan pernah setuju. / "Aniya, hanya saja menurutku kau sangat mirip dengan Leeteuk super junior. Ji-ah eonni bilang kau memang dia tapi aku tak begitu yakin." /'Aku ingin jatuh cinta denganmu, pasti hari yang indah.'

DON'T BE A PLAGIATOR !

Happy reading chingudeul !

Chapter 2

Dengan salah satu punggung tangan yang menyangga dagunya, Leeteuk mengarahkan pandangannya keluar jendela.

Merasa bosan dengan pelajaran seni membuatnya lebih memilih untuk menatap langit mendung yang seakan ingin menghadiahi Seoul dengan tumpahan butiran – butiran air hujan.

'Kau yakin menyukainya hyung?' ucapan Siwon saat dongsaengdul mengintrogasinya kemarin terngiang kembali di benaknya.

Flashback

"MWO!" teriak semua member.

"Aissh, berhenti berteriak! Kalian mau membuat telingaku tuli, eoh?" dengus Leeteuk kesal.

"Kau yakin menyukainya hyung?"

"Wae?"

"Aniy, hanya saja kalau dia benar berkerudung bukankah itu artinya dia beragama islam?" Siwon menatap lekat Leeteuk, begitu pun sebaliknya. Keduanya nampak serius.

"Dia memang islam lalu kenapa?" tanya Leeteuk penasaran.

"Tak apa hyung, aku hanya––"

"Kenapa kalian belum bersiap?" suara Kim Jung Hoon manager Super junior yang tiba – tiba saja sudah berdiri di depan pintu dorm memotong ucapan Siwon.

Flashback End

'Sebenarnya apa yang ingin dikatakan Siwonie?' batin Leeteuk.

Perkataan namja kuda itu yang belum selesai membuatnya dirundung frustasi. Apa lagi selama sepekan dia tak akan bisa bertemu dengan dongsaengnya satu itu.

Siwon sedang ada jadwal syuting film terbarunya di Beijing hingga beberapa minggu kedepan, karena itu dia sepertinya sangat sibuk hingga bahkan Leeteuk tak bisa menghubunginya.

Jangankan menanyakan kelanjutan ucapan Siwon, menanyakan kabar dongsaeng berlesung pipit itu saja sulit.

Ia terus menggomel frustasi, hingga akhirnya––

""Park JungSoo-ssi, bisakah kau memperhatikan pelajaranku barang sebentar saja?"

Glek!

Leeteuk tersentak melihat seorang namjaparuh bayamemandang dirinya dengan tatapan berbahaya. Tatapan membunuh.

"Apakah pelajaranku sangat membosankan, Leeteuk-ssi?" tanyanya pelan, namun mengerikan.

Leeteuk telah menjadi pusat perhatian sekarang, seluruh murid memandangnya takjub.

Bagaimana tidak, selama ini tak ada satu pun murid yang berani berulah dengan guru yang terkenal paling killer sekampus, bahkan sekedar melamun atau menguap dikelas.

"Te-tentu saja tidak sonsaengnim."

"Kalau begitu bisa kau jelaskan kenapa dari tadi kau menggomel tidak jelas, hah?" Guru itu bertanya dengan raut tak suka.

"Mi-mianhae, a-aku hanya—"

"Leeteuk-ssi sudah ku peringatkan berkali – kali padamu, jangan pernah mempermainkan pelajaranku." potongnya cepat. "Kau sudah sering kali membolos dengan ijin ke UKS, aku bisa memaafkan tapi membuat konsentrasi belajar para murid yang lain terganggu aku tak bisa mentolerirnya."

"Ta-tapi Sonsa—"

"Tak ada tapi – tapian, keluar k—"

"Permisi." ujar seorang yeoja, membuat seluruh mata di ruangan itu kini memandangnya.

Tak terkecuali Choi sonsaengnim yang belum sempat menyelesaikan kata pengusirannya pada namja bermarga Park di sebelahnya. "Nde, ada apa?" tanyanya pada yeoja itu.

"Maaf menggangu anda sonsaengnim." yeoja itu mulai melangkahkan kakinya mendekat. "Perkenalkan, saya murid pindahan dari Indonesia. Jeoneun Keisya imnida."

Deg Deg Deg

Debaran jantung tak terkendali kembali menyergapnya, membuatnya sesak.

Wajah itu kembali muncul di hadapannya. Wajah rupawan yang membuatnya sulit tidur, wajah yang selalu di lihatnya setiap memejamkan bola mata coklatnya.

Keisya, pemilik wajah yang telah mengusik ketenangan hatinya kini duduk tepat di sebelahnya setelah sonsaengnim mempersilahkannya duduk.

"Kali ini kau lolos lagi Leeteuk-ssi." kata Choi sonsaeng sebelum kemudian kembali ke depan kelas dan melanjutkan materinya.

~My choice~

"Gomawo Keisya-ssi." ucap Leeteuk tanpa memperdulikan debaran jantungnya yang semakin berpacu.

Ia hanya berharap bisa lebih dekat dengan gadis pujaannya itu, dan mungkin dengan memulai percakapan seperti ini, hal itu bisa menjadi awal baginya.

"Untuk apa?"

"Untuk kedatanganmu."

Keisya mengeryit binggung. "Kedatanganku?"

"Kau datang tepat sebelum setan tua itu benar – benar mengusirku." kata Leeteuk pelan.

"Maksudnya?"

"Appo—! Yaa~ siapa yang—!" suara Leeteuk tercekat ketika menyadari siapa sosok yang telah menimpuknya dengan spidol.

"Jangan membuatku menyesal karena berbaik hati meloloskanmu lagi Leeteuk-ssi." ucap Choi sonsaeng garang.

Ok cukup, kilatan amarah itu merupakan tanda mati baginya untuk diam. Jika tidak, entah apa yang akan di lakukan sonsaengnim padanya.

Kurasa sekedar nilai E untuk pelajaran seni adalah konsekuensi terbaik yang bisa didapatnya.

.

.

.

"Keisya-ssi!" panggil Leeteuk setelah jam pelajaran seni yang amat membosankan berakhir.

Dengan langkah cepat ia menghampiri Keisya.

"Ada apa oppa?" tanya Keisya begitu Leeteuk tepat berada di hadapannya.

"Kau mau kemana? Bagaimana kalau kita makan bersama?" ajak Leeteuk, ia sungguh ingin terus bersama dengan yeoja berkerudung itu, hingga membuatnya tak kehabisan akal untuk membuat gadis itu terus disisinya.

"Mianhaeyo oppa, tapi aku harus pergi." ucap Keisya menyesal.

Raut yang sama juga nampak pada wajah namja di depannya, namun ia tak mau menyerah.

"Kemana? Bagaiman kalau ku antar?" tawarnya.

Keisya menundukkan kepalanya, berfikir sebentar lalu kembali menatap Leeteuk yang masih setia menunggu jawabannya.

"Aku mau mencari tempat untuk sholat. Kau yakin mau ikut?" tanya Keisya ragu.

Menginggat Leeteuk berbeda agama dengannya membuatnya tak yakin namja yang sedikit lebih tinggi darinya itu bersedia ikut.

Tapi berbeda dengan yang difikirkan Keisya, Leeteuk malah mengganguk setuju.

"Tentu saja, kenapa tidak." jawabnya cepat.

~My choice~

Di kantin, seorang yeoja mungil berambut hitam panjang yang di ikat kebelakang sedang duduk santai dengan seporsi besar kimbab dan choco frappucino di depannya.

Ia duduk di meja bundar yang berada di sudut kantin yang penuh sesak. Di sekelilingnya delapan orang namja juga duduk di dekatnya dengan beberapa pertanyaan.

"Ji-ah." tegur Donghae.

"Hmm."

"Kau kenal yeoja bernama Keisya tidak? Dia pindahan dari Indonesia."

"Kenal." jawab Ji-ah singkat tanpa memandang Donghae yang bertanya padanya. Ia masih asik melahap makanannya.

"Kau tahu seperti apa dia?" kali ini Ryeowook yang bertanya.

Ji-ah mendongak sebentar lalu kembali menunduk melanjutkan maknannya."Dia yeoja yang baik, wae?"

"Apa dia sexy?"

Plak

"Appo!"

Heechul menjitak kepala Eunhyuk keras. "YAK! Hyuk jae, kenapa dari kemarin kau terus bertanya dia sexy atau tidak eoh?" ujarnya dengan mata mendelik.

Plak

"Aaaauu!" ringis Euhnyuk lagi ketika untuk kedua kalinya ada yang menjitaknya, namun kali ini Ji-ah pelakunya.

Eunhyuk memandang Ji-ah tak suka. "Kenapa kau menjitakku juga hah?" keluhnya sambil mengelus kepalanya yang sakit.

Ji-ah dan member super junior yang lain memang berteman dekat. Meski tak berteman sejak kecil seperti dengan Leeteuk, tapi mereka teman saat masih sama – sama peserta traineedi SMent.

Ya, Ji-ah dulu pernah menjadi salah satu peserta trainee di agensi besar tersebut namun karena nilai sekolahnya yang terus merosot, akhinya dia di keluarkan.

"Jangan berani berfikir yang macam – macam tentang Keisya, oppa! Dia itu sepupuku." ucap Ji-ah memperingkatkan. Ia tahu betul bagaimana otak yadong namja pemilik gummy smile itu.

"Mwo! Jadi dia sepupumu?" tanya Kangin terkejut.

Member lain juga menampakkan raut yang tak jauh berbeda dengan Kangin keculi Yesung yang tetap setia dengan wajah datarnya. Ji-ah mengganguk.

Ia menyeruput minumannya hingga setengah gelas, lalu memandang namja – namja di sekelilingnya.

"Kenapa kalian terus menanyakannya, huh? Jangan bilang kalian menyukainya ya. Perlu kalian tahu, aku tak akan pernah setuju." ucapnya mantap.

"Wae?" tanya member suju serempak.

Ji-ah membenarkan duduknya, satu tangan di letakkannya di atas meja dan tangan yang lain mulai menunjuk satu persatu ke delapan namja itu.

"Eunhyuk oppa, kau terlalu jorok dan juga cenggeng sama seperti Donghae oppa. Sungmin oppa terlalu individualis, kurang suka bersosialisasi dengan banyak orang dan Ryeowook oppa, kau kurang tangguh. Selalu mengahadapi masalah dengan menangis."

"Yesung oppa—" Ji-ah menunda sebentar ucapanya.

Ia menggeleng melihat Yesung yang menatapnya serius.

Ji-ah tahu sebenarnya namja itu berharap penuh dengan kelanjutan ucapanya namun tatapan Yesung lebih seperti ingin memancarkan aliran listrik dari pada memberi Ji-ah isyarat untuk mengatakan hal yang baik tentangnya.

"Yesung oppa terlalu aneh." lanjutnya sambil membentuk tanda silang dengan ujung jarinya.

"Kyuhyunie." Ji-ah terlihat berfikir sejenak. "Aku tak bisa mempercayakan sepupu kesayanganku pada evil sepertimu. Apa lagi dengan opsesimu terhadap game, bisa – bisa kau selingkuh di belakangnya dengan PSP."

"Shindong oppa. Kita semua tahu dia sudah menjadi milik Nari eonni. Dan—"

"Aaaauuh!"

Ji-ah memukul keras tangan Shindong. "Jangan coba – coba menggambil makananku oppa!" hardiknya saat Shindong mencoba mencari kesempatan menggambil beberapa potong kimbab Ji-ah yang belum dihabiskannya.

Shindong tersenyum dengan wajah memelas. "Kumohon sedikit saja Ji-ah. Perutku sangat lapar." pintanya sambil mengelus perut besarnya.

"Lalu bagaimana denganku?" tanya Kangin antusias. "Kau tahu kan Ji-ah, kalau aku namja paling tampan di korea." ucapnya dengan penuh percaya diri.

"Aku juga sangat sempurna. Wajahku sangat cantik." timpal Heechul. Ia melihat ke dalam cermin yang ada di genggamannya, merapikan sudut rambutnya dan tersenyum senang melihat betapa cantiknya dia di dalam cermin.

Ji-ah menggeleng. "Kalian berdua sama saja, malah lebih parah." ujarnya tegas.

Tanpa memperdulikan Heechul dan Kangin yang memandang tajam ke arahnya, ia menambahkan. "Heechul oppa dan Kangin oppa, temperamen kalian sangat buruk. Mudah marah dan tak bisa mengendalikan emosi."

"YAK apa maksudmu eoh!" sungut Heechul marah. Sungmin, Donghae dan Kyuhyun berusaha menahannya yang hendak mengamuk.

"Hyung tenang, nanti cantikmu bisa hilang. Marah bisa membuatmu memiliki banyak kerutan." bujuk Kyuhyun.

Menginggatkan akan kerutan dan kecantikannya adalah jurus adalan bagi member super junior untuk menjinakkan Cinderella mereka yang terbukti selalu ampuh, termasuk untuk kali ini.

Mendengar ucapan Kyuhyun, Heechul segera meredahkan amarahnya dan memperhatikan wajahnya kembali yang terbikai indah di cermin. Memeriksa setiap detail wajahnya dan kemudian tersenyum. "Perfect." katanya pada diri sendiri.

"Bagaimana dengan Teukie hyung?" tanya Yesung. Ia ingat kalau sekarang ini hyung tertuanya itu sedang kasmaran dengan yeoja Indonesia itu.

"Teukie oppa namja yang baik, sopan, dan lembut. Tapi aku tetap tak setuju jika menginggat betapa playboy dan pelitnya dia." jawab Ji-ah santai.

~My Choice~

Leeteuk dan Keisya berjalan beriringan menyusuri satu demi satu koridor kampus yang masih cukup ramai. Mencari tempat yang cocok untuk Keisya menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.

Walau sudah hampir 20 menit mereka mencari dan belum juga menemukannya, tak membuat keduanya berhenti.

"Bagaimana dengan tempat ini?" tanya Leeteuk untuk kesekian kalinya yang kembali hanya di balas gelengan pelan.

Kalau di hitung – hitung ini sudah tempat ke sembilan yang disarankannya untuk Keisya.

Namun semuanya tak ada yang sesuai dengan kemauan gadis itu. Dari mulai aula hingga perpustakaan semuanya di tolak.

'Sebenarnya tempat seperti apa yang diinginkannya?Tempat untuk sholat katanya? Aissh, bagaimana aku bisa tahu kalau kata sholat saja sangat asing bagiku.' Runtuknya dalam hati.

Tanpa sadar ia menggaruk lehernya yang tidak gatal dan mendesah panjang.

"Mianhae." kata Keisya pelan, ia merasa sangat bersalah pada namja di sampingnya itu yang sudah terlihat sangat lelah menemaninya.

"Kau pasti lelah, maaf merepotkanmu oppa." ucapnya sambil menunduk.

Cepat – cepat Leeteuk mengoyangkan tangannya di depan dada. "Aniya, aku tidak merasa di repotkan sama sekali. Sebaliknya aku malah senang." jawabnya yang kini bahkan kepalanya pun ikut menggeleng cepat.

"Hanya saja—!" lanjut Leeteuk. "Sebenarnya tempat seperti apa yang kau butuhkan untuk sholat itu?"

"Emm, tempat yang tenang dan setidaknya bisa memberiku waktu beberapa menit untuk beribadah."

Leeteuk nampak berfikir sejenak. "Aku tahu!" serunya kemudian.

Ia lalu mengajak Keisya melintasi koridor, menaiki tangga, melewati beberapa mahasiswa yang berlalu lalang, hingga sampai di sebuah ruangan yang sedikit tersembunyi di balik sebuah ujung lorong.

Tak lagi banyak mahasiswa yang nampak di sekitar mereka, bahkan lebih tepatnya hanya tinggal mereka berdua sekarang.

Keisya nampak sedikit canggung dengan situasinya, berdua dengan seorang namja di tempat sepi seperti ini membuat perasaannya tak enak.

Bukan apa – apa, hanya saja agamanya melarang dua orang insan berbeda jenis untuk berduaan seperti ini, bisa terjadi fitnah nanti, fikirnya.

"Kita sampai." seru Leeteuk membuyarkan lamunannya.

Sebuah ruangan cukup luas bercat coklat tua menyapanya ketika namja tampan itu membuka pintu.

Keisya melangkahkan kakinya masuk.

"Tempat apa ini oppa?" tanyanya ketika melihat deretan beberapa alat musik yang nampak usang tertata rapi di atas lantai yang berwarna senada dengan dindingnya.

"Ini ruang musik yang lama." Leeteuk berjalan mendekati tirai yang menggantung menutupi jendela di baliknya.

Menariknya ke sudut dan membiarkan cahaya cerah matahari masuk menembus kaca yang masih bersih walau tempat ini sudah tak terpakai, bahkan bisa di bilang terbengkalai.

"Sepertinya ahjussi masih sering membersihkan tempat ini meski tak lagi di pakai." gumam Leeteuk lirih.

"Bagaimana dengan tempat ini?" Leeteuk berbalik menghadap Keisya. "Tempat ini tenang dan jarang di kunjungi karena tak lagi digunakan, jadi kau bisa melakukan apa pun disini tanpa takut ada yang menggangumu." terangnya.

Keisya tak menjawab, namun kepalanya mengganguk dengan seulas senyum yang merekah di wajah cantiknya.

Ia mulai menggeluarkan perlengkapan sholatnya dari dalam tas ransel biru miliknya.

"Oppa dimana toiletnya?" tanya Keisya setelah menggelar sajadahnya sesuai dengan arah kiblat yang ia tentukan dengan menggunakan aplikasi Qibla touch yang ada di handphonenya.

"Di sebelah kiri tangga yang kita lewati tadi." ucap Leeteuk.

Heran juga sebenarnya melihat setiap gerak Keisya yang tak dia menggerti. Apalagi setelah yeoja itu kembali dari kamar mandi dengan wajah yang basah. Gerak – geriknya semakin aneh saja.

Menggenakan sesuatu berwarna putih menutupi seluruh tubuhnya yang memang sudah terbalut dengan baju panjang, hanya saja bedanya kali ini ia menyisakan wajah dan telapak tangannya saja yang terlihat.

Setelah itu, berdiri dalam diam di atas kain yang tadi di bentangkannya di atas lantai. Tak lama kemudian ia menggangkat kedua tangannya, lalu meletakkannya di bawah dadanya, kemudian menunduk dan berdiri tegak lagi setelah menggangkat tanganya seperti tadi.

Ia juga sujud, lalu duduk, kemudian sujud lagi dan berdiri tegak lagi. Keisya terus melakukannya berulang kali, membuat Leeteuk mengeryitkan alisnya binggung. 'Apa itu yang disebut dengan sholat?' pikirnya.

Selama hampir lima menit matanya terus menatap Keisya, memperhatikan setiap tingkahnya dari sudut ruangan. Entah kenapa walau setiap gerakan yeoja itu sangat membinggungkan baginya, tapi membuatnya merasa tenang dan damai.

"Kau sudah selesai?" tanyanya setelah Keisya merapikan semua mukenah dan sajadahnya. Melipatnya dan memasukkan kembali kedalam tasnya.

"Sudah oppa, gomawo." ucapnya.

Ia kemudian menghampiri Leeteuk dan duduk di kursi sebelahnya.

"Oppa, aku boleh tanya sesuatu?"

"Tentu." jawab Leeteuk. "Kau mau tanya apa?"

"Kau benar Leeteuk? Eum, maksudku apa kau benar Leeteuk Super Junior?" tanya Keisya.

Meski Ji-ah sudah bilang bahwa dia benar – benar Leeteuk super junior, Keisya sepertinya belum bisa mempercayainya.

Menurutnya namja di sampingnya itu hanya kebetulan mirip saja dengan leader boyband terkenal korea itu.

Hal mustahil kan kalau dirinya benar – benar bisa bertemu apalagi mengobrol secara langsung dengan member salah satu grup idolanya itu seperti ini.

"Kenapa?" Leeteuk malah balik bertanya.

"Aniya, hanya saja menurutku kau sangat mirip dengan Leeteuk super junior. Ji-ah eonni bilang kau memang dia tapi aku tak begitu yakin." aku Keisya.

Leeteuk hanya tersenyum simpul lalu bangkit berdiri dan berpindah duduk di kursi panjang namun kecil yang terletak di depan piano.

"Aku memang Leeteuk, leader super junior." ucapnya.

Keisya membelalakan kedua matanya yang nampak lucu bagi Leeteuk. Ia juga menutup mulutnya yang tanpa sadar mengganga lebar, takjub.

"Jinjja?" tanyanya meminta kepastian.

"Nde, kau mau bukti? Aku bisa menyanyikan sebuah lagu jika kau mau."

Leeteuk mulai merenggangkan jemarinya ketika Keisya mengganguk. Ia menarik napas pelan dan kemudian mulai beryanyi.

My love everytime

I'm thinking about you My life is you

I miss you

I believe my dream will come true

Jemari – jemari lentiknya kini menari dengan indah di atas tuts tuts piano berwarna putih di hadapannya.

Geudaewa isseul ttaen nae ma-eumkkaji

Da deulkyeobeorigo maneunji

Geo-ure bichin nae moseubeul bomyeon nae ma-eumi da boyeo

Bogoshipttaneun nae ane yaegiga

Teongmitkkaji na-oryeohago

Chamaboryeogo jamshi saenggakhamyeon nan eoneusae marangeol

Keisya tak berkedip memandang Leeteuk, manik – manik mata indahnya itu seakan terbius suara merdu Leeteuk, bahkan hatinya juga sepertinya tak luput dari bius itu.

I wanna hold your hands

Everytime I'm thinking about you

I wanna kiss to your lips

Nae ma-eum gadeukhi

I wanna fall in love with you

It must be beautiful lovely day

Leeteuk mulai memejamkan matanya, mencoba menyelami lagu yang dimainkannya.

Saranghandaneun yaegineun jeoldaero

Seodureumyeon an dweneungeoji

Nae mami gabyeopkke bo-iji ankil weonhaedo nan eoneusae

Setiap kata dengan sepenuh hati dinyanyikannya, kata demi kata yang sebenarnya mewakili perasaannya yang sesungguhnya pada yeoja yang sedang memperhatikannya tanpa suara.

I wanna hold your hands

Everytime I'm thinking about you

I wanna kiss to your lips

Let me love you baby

I wanna fall in love with you

It must be beautiful lovely day

'Aku ingin jatuh cinta denganmu, pasti hari yang indah indah.'

Nae sarang geudaereul wihaeseo sesang eodirado

Naega hamkke hal su itttamyeon

My love for you my everything

Geudaemaneul wihae

Leeteuk mengakhiri lagunya, namun terkesan menggantung.

Keisya yang menyadari hal itu tersenyum geli. "Kenapa akhirnya sangat buruk oppa?" goda Keisya.

"Aku hanya lupa nada berikutnya." elak Leeteuk. Ia tentu tak ingin Keisya tahu kalau ternyata dia tak terlalu pintar menyanyikan bagian rap. Bisa seperti kepiting rebus wajahnya kalau Keisya sampai tahu hal itu.

Namun takdir ternyata berkata lain.

Leeteuk memang bisa menggelak dari kepayahannya dalam menyanyikan bagian rap, tapi rasa malu itu tak bisa di hindarinya lagi saat perutnya yang keroncongan berbunyi.

"Kau lapar oppa?" tanya Keisya yang mendengar bunyi nyaring perut Leeteuk yang berteriak minta di isi.

Leeteuk menggeleng cepat. "Anio, aku tidak lapar." akunya, berharap kali ini bisa lolos lagi dari rasa malu. Tapi —

Kruyuuuuukkk~

Cacing – cacing diperutnya kembali berbunyi. 'Sial' batin Leeteuk. Ia tak menyangka, perutnya ini sama sekali tak mau di ajak berkompromi dan malah mempermalukannya.

Keisya tak lagi bertanya, ia kemudian bangkit berdiri dan menggantungkan tas ranselnya di atas punggungnya. "Ayo oppa ke kantin, aku juga lapar." ajak Keisya.

Mata hitamnya memperhatikan Leeteuk yang masih duduk dan terlihat kikuk karena malu.

"Gwechanayo oppa, perutku tadi juga berteriak seperti itu. Tapi mungkin kau tak mendengarnya karena terlalu fokus dengan nyanyianmu." hibur Keisya.

"Kajja oppa!" seru Keisya lagi ketika Leeteuk tak juga bangkit berdiri.

Ia kemudian menggambil tas milik Leeteuk yang tergeletak di dekat piano dan mendahului berjalan meninggalkan ruangan musik itu, membuat Leeteuk mau tak mau akhirnya mengikuti berjalan dibelakangnya dengan wajah masih memerah, malu.

~My Choice~

"Hyung!" teriak Kangin ketika melihat Leeteuk sedang berdiri kebinggungan mencari tempat duduk yang kosong di antara penuh sesaknya kantin. Disampingnya, Keisya juga berdiri sambil celingukan mencari tempat duduk untuk mereka berdua.

Leeteuk dan Keisya kemudian menghampiri Kangin dan yang lain yang masih belum beranjak dari meja bundar di sudut kantin tersebut.

Hanya Heechul, Kyuhyun dan Sungmin yang sudah tak ada di tempatnya tadi karena mereka berdua harus mengikuti kelas mereka selanjutnya. Heechul dengan kelas seninya, sedangkan Sungmin dan Kyuhyun dengan kelas vocalnya.

"Kau kemana saja hyung? Kenapa baru nongol?" tanya Donghae begitu Leeteuk duduk di kursi kosong yang tadi di tempati Heechul. Sedangkan Keisya, ia duduk di kursi yang tadi di gunakan Sungmin yang kebetulan berada persis di samping Ji-ah.

"YAK hyung itu milikku." protes Eunhyuk, saat Leeteuk tanpa ijin menyeruput segelas strawberry juice miliknya hingga tandas tak bersisa, lalu menjawab pertanyaan Donghae tanpa memperdulikan Eunhyuk. "Aku habis dari ruang musik lama." jawabnya singkat.

"Hyung cepat ganti minumanku." rengek Eunhyuk, ia masih belum ridho' minuman yang baru di pesannya tadi dihabiskan Leeteuk begitu saja padahal ia belum meminumnya sedikitpun.

"Jangan pelit Hyukjae, aku kan hanya memintanya sedikit." kata Leeteuk tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Eunhyuk melotot dan menggambil gelas strawberry juice yang kini telah kosong, ia lalu menyodorkannya ke arah Leeteuk dan kembali mengomel. "MWO! Ini yang kau bilang sedikit hyung? kau menghabiskannya hingga tak tersisa setetespun dan kau bilang itu hanya sedikit hyung?"

"Hyung aku tak mau tahu, pokoknya kau harus mengganti minumanku." kata Eunhyuk lagi, ia mempoutkan bibirnya kesal.

"Ne, ne, arraseo." jawab Leeteuk singkat.

"Keisya, kau kenapa bisa pergi dengan Leeteuk oppa?" tanya Ji-ah pada Keisya yang sontak membuat namja – namja di sekelilingnya terkejut, kecuali Leeteuk.

"Eo, jadi kau yang bernama Keisya?" tanya Ryeowook, sejak tadi sebenarnya dia sudah menduganya saat melihat krudung yang menutupi kepala yeoja itu, tapi ia ragu.

"Nde, jeoneun Keisya imnida, baghapseumnida." kata Keisya sopan memperkenalkan diri pada namja yang diyakininya bernama Ryeowook, namja imut yang menjadi salah satu lead vocal Super Junior.

"Jadi kau yeoja yang disukai Le—" belum selesai Donghae menyelesaikan kata - katanya, Leeteuk dengan sigap sudah menjejalkan sesuap penuh bibimbab kemulut dongsaeng fishy-nya itu, agar tak meneruskan ucapanya.

Ia melotot dan berbisik. "Awas kalau kau berani bilang aku menyukainya, Hae-ah." ancam Leeteuk yang kemudian beralih memandang Keisya.

"Kau mau pesan apa? Biar ku pesankan." tawar Leeteuk. Terlihat raut wajahnya berbeda, rona merah yang tadi bertengger dikedua pipinya kini telah hilang. Sepertinya ia sudah melupakan insiden nyayian perutnya tadi.

Keisya tersenyum lega melihat Leeteuk yang kembali ceria begitu bertemu dengan dongsaengdeulnya. Tak seperti tadi yang hanya diam dan menunduk malu. "Seporsi bibimbab dan orange juice." ucapnya, menimpali tawaran Leeteuk.

"Gomawo oppa." tambahnya.

Bola matanya terus menggamati Leeteuk yang berdiri dari duduknya dan pergi memesan makanan. Di belakangnya Eunhyuk mengekor seperti anak kecil, merengek minta Leeteuk mengganti minumannya tadi.

.

.

.

Matahari perlahan mulai bergeser menuju pelataran bumi sebelah timur, menyambut hadirnya sore hari yang tiba terasa lebih cepat.

Deretan bangunan – bangunan dengan kaca etalase yang memajang berbagai produk dari toko mereka masing – masing menghiasi kawasan kota Seoul yang penuh ramai dengan orang – orang yang berlalu lalang.

Sebuah taman di ujung pertokoan nampak seorang yeoja yang tengah duduk santai di bangku panjang yang memang disediakan di taman itu. Ia duduk dengan nyaman sambil menikmati sepoi angin yang menyapanya dan memperhatikan langit sore yang terlihat sangat indah.

Di atas kepalanya yang terlilit kain biru cerah, bertengger headset yang menutupi telinganya dengan kabel yang tersambung langsung ke ponsel di genggamannya.

Dari yang terlihat, ia tak hanya sedang asik menikmati pemandangan sore di salah satu sudut kota Seoul, tapi juga sedang mendegarkan lagu dari ponsel miliknya.

'Ketika aku denganmu, perasaanku selalu terlihat. Jika aku melihat ke cermin, aku dapat melihat persis bagaimana perasaanku.' batinnya ketika mendegar sebait lagu Lovely day super junior.

Geudaewa isseul ttaen nae ma-eumkkaji

Da deulkyeobeorigo maneunji

Geo-ure bichin nae moseubeul bomyeon nae ma-eumi da boyeo

Keisya– yeoja itu menghela nafasnya berat, lalu menenggadahkan kepalanya menatap langit yang mulai menampakkan sinar jingga. "Bagaimana aku harus menghilangkan perasaan yang tak seharusnya ini ya Rabb?" ucapnya lirih.