===THREE===

"Byakuran… ya.." gumamnya lirih.

Hari ini ia mengambil cuti—sebenarnya sudah ia dipecat. Ingin mengistirahatkan tubuhnya setelah sekian lama bekerja, tapi ia menyesali keputusannya untuk tidak berangkat menacri kerja lagi stelah ia dipecat kemarin. Kini ia hanya berdiam diri, melamun dan tidak melakukan apapun. Adik-adiknya sibuk dengan urusan mereka—bermain, ibunya sudah pergi bekerja, jadi hanya tinggal dirinya yang berada di rumah saat ini. Dan entah mengapa ia berpikiran untuk mengambil cuti di hari yang memang untuk libur—minggu.

"Haa~ tau seperti ini sebaiknya aku tak mengambil cuti, ck," gumamnya lagi, ia tengah duduk di lantai rumahnya yang menghadap ke halaman belakang. Disana ia menggoyang-goyangkan kakinya, memandangi gantungan-gantungan kain putih yang tertiup angin.

"Lambo-san mau ini!"

"I-pin mau!"

"Kalian sudah jangan bertengkar,"

"Pokoknya Lambo-san mau!"

"Tidak I-pin yang duluan!"

"Lambo-san!"

"I-pin!"

"Lambo-san!/ I-pin!"

Teriakan-teriakan dari adik-adiknya cukup untuk membuat Tsuna sibuk hari ini. Bagaimanapun, ia sangat sayang terhadap mereka. Dan sebagai kakak yang baik—walaupun bodoh—ia akan melakukan apapun untuk saudara-saudaranya tercinta. Dan yah walau nantinya ia akan terkena apes.

"Lambo, I-pin, kali ini apa yang kalian perebutkan?" ia menghampiri kedua adiknya yang tengah memalingkan muka satu sama lainnya.

"I-pin mau itu Tsuna," tunjuk i-pin kearah sebuah brosur dengan gambar kue dango berbentuk kelinci berwarna merah, sepertinya produk baru keluaran toko di kota.

"Lambo-san mau itu untuk lambo-san!" disela oleh si sapi yang kali ini memperlihatkan brosur tadi tepat kearah wajah Tsuna.

"Tsuna-nii, mereka mau kue dango itu, tapi tadi aku sudah menjelaskan kalau harganya itu mahal, jadi kita tak akan bisa membelinya, dan mereka mulai meributkan kue itu," jelas si anak kedua, ia menatap memelas ke arah Tsuna.

"Bisa aku lihat brosurnya?" Tsuna mengambil brosur yang tadi di perlihatkan oleh lambo tepat didepan wajahnya.

Diabacanya brosur itu dengan seksama dan setelahnya ia menyerahkan lagi brosur itu pada lambo.

"Aku rasa bisa mengusahakan membelinya 3 biji saja, bagaimana?" ujarnya.

"Benarkah, Tsuna-nii?" ujar Fuuta senang.

"Yeiy Lambo-san bisa makan itu!/ i-pin makan dango kelinci horee!" pekik senang kedua adik kecilnya itu.

"Yosh! Baiklah aku akan keluar sekarang, kalian baik-baik dirumah, ok?" Tsuna mengambil sebuah jaket yang lusuh—dengan warna yang sudah luntur—tergantung di ruang tamu rumahnya. Kemudian ia meninggalkan si kecil dengan menutup pintu dan menguncinya dari luar, takut kalau nanti mereka keluar rumah tanpa meninggalkan pesan, wajar, mereka masih dibawah 10 tahun.

.

.

"Sepertinya uang minggu ini akan menipis, haa~" Tsuna memandangi dompet mulut kodoknya sambil menghela nafas. Ia melihat uang recehnya semakin menipis dan hanya ada dua lembar uang kertas dengan nominal 10000 terlipat disana.

Ia mengeluarkan uang untuk tiga biji kue dango kelinci merah jambu sebanyak 32500 yang cukup banyak mneguras uang mingguan di dompetnya. Kini ia tengah menenteng kue dango dalam kotak berwarna coklat di tangannya. Ia menutup dompetnya kemudian memasukkan kedalam kantong celana butut miliknya.

Tanpa sengaja di tengah keramaian sepulang dari membeli kue, ia menabrak seseorang.

"Aghhh!/ Aduh!" pekik dua orang baru saja bertabrakan.

"Mukuro-sama! Anda baik-baik saja?" seorang gadis yang mengenakan pakaian seperti bodyguard datang menghampiri mereka, ia berlari kearah seorang pria yang mengenakan jaket berbulu dengan kaca mata berlensa coklat. Ia berjongkok di samping si pria.

"Maaf! Maafkan saya, saya kurang hati-hati, sungguh maafkan saya," ujar Tsuna membungkukkan kepalanya dalam-dalam—sekitar 90 derajat. Ia terus melakukan hal tersebut berulang kali, ia merasa bersalah karena tidak melihat lihat jika ada orang yang berjalan di sekitarnya.

"Ah! Kue dango ku!" pekiknya kaget ketika ia melihat seonggok kue yang sudah berhamburan keluar dari kotak berwarna coklat tersebut. Ia berlari kearah itu, dan tanpa pikir panjang lagi ia mengambil kue-kue itu kemudian ia masukkan lagi kedalam kotak, walaupun bentuknya sudah tidak menyerupai kelinci merah jambu lagi, namun kue itu masih bisa dimakan, dan ia tak akan membuangnya begitu saja mengingat betapa adiknya menantikan kue itu dirumahnya saat ini.

"Maafkan niisan ya, sepertinya kue-kue ini tidak bisa niisan bawa pulang dengan keadaan utuh, lambo, i-pin, fuuta, maafkan niisan," racaunya sambil mengambil kue-kue itu dengan hati-hati.

Satu hal yang Tsuna lupa, pria yang baru saja bertabrakan dengannya kini menatap kearahnya dengan pandangan menusuk. Ia terlihat menyeringai kearah Tsuna saat ini.

"Sekali lagi maafkan saya tuan, saya sungguh menyesal," ia kemabli menundukkan kepalanya kearah pria itu. Kali ini ia memeluk kotak kue berwarna coklat itu dengan cukup erat—takut kotak itu jatuh lagi.

"Hmm~ tapi pantatku sakit lho~ khukhukhu~" ujar pria itu, Ia menutupi bibirnya dengan sebelah tangan yang dihiasi dua buah cincin yang cukup besar, ketika ia berucap agar seringaian yang terlukis di wajahnya saat ini tidak terlihat oleh Tsuna.

"Ma—maafkan saya! Sungguh!" Tsuna mulai merasa cemas, apakah ia akan mendapat tuntutan karena menabrak tadi? Ataukah ia akan dibunuh? Mungkin saja yang ia tabrak adalah orang penting, atau mungkin saja orang itu mafia? Oh , astaga! Itu masalah besar untuk si mungil Tsunayoshi kita.

"Bagaimana ya~" ujar pria itu dengan nada sing a song. Masih menatap tajam kearah Tsuna yang tengah menundukkan kepalanya.

"Maaf…." Kali ini Tsuna berujar lirih masih menundukkan kepalanya. Ia tak berani menatap kearah pria itu.

"Hmm.. untuk menebus kesalahanmu, besok carilah aku di sini," pria itu menyerahkan sebuah kartu nama kepada Tsuna.

Tsuna yang melihat sesuatu berwarna putih di julurkan kearahnya segera menatap kertas itu. Ia menatap lagi kearah pria yang menganggukkan kepalanya kearahnya, kemudian ia mengambil kartu itu dengan sebelah tangannya.

"Besok jam 10 pagi, aku tunggu kau disana," setelah mengucapkan itu ia berbalik diikuti oleh gadis yang sejak tadi berdiri dibelakangnya. Ia pergi meninggalkan Tsuna yang termangu menatap kearah kartu nama ditangannya.

.

.

"Ini aku bawakan kuenya," ujar Tsuna meletakkan kue dalam kotak yang tadi ia bawa. Dan dengan segera kue itu diserbu oleh adik-adiknya, terutama Lambo dan I-pin, dibelakang mereka diikuti oleh Fuuta.

"Tsuna nii, kuenya bentuknya bukan kelinci," ungkap Fuuta ketika melihat kue yang sudah berubah bentuk dari kelinci menjadi hmmm…. Seperti kue pipih.

"Maaf tadi di jalan kotaknya jatuh dari tanganku jadi sepertinya bentuknya jadi berubah," jelasnya sambil menatap kedua adiknya yang kini mulai berbeda pendapat lagi mengenai siapa yang akan memakan kue itu duluan.

"Lambo, I-pin, Niisan saja yang membaginya ya," Tsuna yang melihat Lambo hendak protes ia memelototkan sedikit matanya, memberi isyarat agar si kecil itu diam saja. Kemudian ia mengambil tiga piring dan meletakkannya diatas meja. Ia pun perlahan mengeluatkan kue-kue itu dari dalam kotak satu persatu, meletakkannya di atas ketiga piring.

"Ini bagian Lambo, Ini bagian I-pin, dan ini bagian Fuuta," sambil membagi ketiga kue dango itu sama rata.

"Lalu bagian Tsuna-nii dimana?" Fuuta yang hanya melihat Tsuna membagikan ketiga kue itu untuk mereka, namun ia tak melihat ada kue untuk niisannya tersebut.

"Aku tidak usah, kalian saja, nah ayo silahkan dimakan," ia menjawab seadanya.

"Kalau begitu ini bagian Fuuta sebaiknya Tsuna-nii juga makan," ujarnya sambil hendak membagi kue dango itu menjadi dua bagian.

"I-pin, juga, ini untuk Tsuna," ujar I-pin yang melihat Fuuta membagi kuenya menjadi dua.

"Lambo juga!" dan kini lambo yang mengikuti langkah kedua kakaknya itu.

"Tidak usah, kalian makan saja. Ini aku belikan untuk kalian, " ia memberikan senyuman lembut kepada adiknya itu. Ia semakin mendekat kearah mereka dan mengusap kepala mereka satu persatu.

"Makanlah, aku akan mulai menyiapkan makan malam untuk kalian," ujar Tsuna kemudian meninggalkan mereka dengan kue dango masing-masing.

"Arigatou Tsuna-nii/ arigatou Tsuna/ arigatou Tsuna," ungkap terima kasih mereka pada sang kakak yang selalu mengerti mereka.

Ketika Tsuna melangkah menuju dapur ia mengeluarkan kartu nama itu dan menatapnya.

"Besok aku harus kerja, lalu bagaimana? Kalau aku tidak datang bagaimana? Apa boleh aku telat ya?" gumamnya bingung sambil menatap ke arah kartu nama ditangannya.

"Ah, aku lupa bukankah aku baru saja dipecat kemarin?" sepertinya otak milik Tsuna sudaj mencapai batasnya, bahkan ia sampai lupa kalau ia baru saja dipecat dari pekerjaannya.

"Baiklah, aku akan datang, aku tak mau ia sampai mencari-cariku kemari dan ujung-ujungnya menyebabkan masalah baru dalam hidupnya," ia menggenggam erat kartu nama ditangannya, ia memantapkan dirinya untuk pergi kesana. Ke tempat pria bersurai nanas dengan warna ungu kebiru-biruan itu.

===Sawada Tsunayoshi===

"Ja-jadi ini tempatnya?!" ia memekik kecil melihat betapa tinggi sebuah gedung dihadapannya saat ini. Ya, kini ia tengah berada di depan sebuah gedung berlantai sekian yang sangat mewah. Kakinya sampai gemetar harus memasuki gedung dihadapannya saat ini.

"Masuk tidak ya?" ia menggigiti bibirnya sambil memikirkan haruskah ia masuk kedalam atau sebaiknya ia pulang kerumah mulai mencari kerja dan nantinya pria itu datang dan mulai membuat hidupnya tak tenang. Hell no!

"Aku masuk!" ia melangkahkan kakinya menuju kedalam gedung. Ia sudah mantap. Daripada nantinya ia mendapat masalah lebih besar sebaiknya ia selesaikan sekarang.

.

.

"Maaf apa ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya seorang wanita yang nampak sangat berkilau.

"Sa-saya datang mencari Rokudo Mukuro," ujarnya setengah gugup. Tiba-tiba punggungnya ditepuk dari belakang oleh seseorang.

"Ikuti saya," ujar gadis yang ia ketahui bersama pria yang menyuruhnya datang.

"Baik," Tsuna mengikuti langkah gadis dihadapannya saat ini. Ia ingin bertanya tapi masih ragu, antara berani atau tidak.

Mereka memasuki lift dan menuju ke lantai 21. Setelah keluar dari lift mereka menuju ke sebuah ruangan. Gadis itu menyuruh Tsuna untuk masuk kedalam sedangkan ia menunggu di luar ruangan.

"Oya~oya akhirnya kau datang juga~" ujar pria yang bertabrakan dengannya kemarin. Pria itu mengenakan kaos v-neck putih dan celana skinny jins hitam selutut, membuatnya terlihat seksi.

"Jadi ini yang kau bilang, Mukuro?" ujar seorang pria lagi yang nampak begitu mirip dengannya, hanya saja rambutnya pendek.

"Tentu saja, bagaimana menurutmu hm? Kurasa ia cocok dengan pekerjaan kita kali ini, daemon," ia memberikan sebuah gelas berisi minuman pada pria yang dipanggil Daemon.

"Hmm…" Daemon mengambil gelas yang disodorkan padanya.

"Anuu…" ujar Tsuna bingung yang tak mengerti apa yang tengah menjadi pembicaraan disini. Dan untuk apa ia dipanggil disini.

"Oya~ oya kita melupakan tamu kita, khukhukhu~" ujar Mukuro sambil melirik kearah Tsuna.

Tsuna yang merasa dipandangi begitu tajam, dari bawah ke atas, kemudian dari atas kebawah lagi merasa sungguh sangat risih.

"Chrome!" panggil Mukuro. Dan gadis yang tadinya menunggu di luar kini masuk dan berdiri tepat disebelah Tsuna.

"Lakukan tugasmu," perintahnya, gadis itu mengangguk pelan.

Chrome menatap Tsuna sebentar kemudian ia menarik lengan pemuda mungil itu agar mengikutinya. Tsuna hanya bisa cengo mendapat keadaan yang seperti itu.

"Kita lihat, seberapa menariknyakah pemuda itu untuk pekerjaan ini," Daemon meneguk isi dalam gelas itu

"Aku yakin kau tak akan menyesal Daemon-niisan~ khu khu khu~" Mukuro menyeringai menatap daun pintu tempat Tsuna ditarik keluar oleh Chrome.

.

.

"Dimana model baru itu Chrome?" tanya Daemon ketika mendapati Chrome datang tanpa Tsuna.

"Ia akan segera masuk Daemon-sama," Chrome melangkah menuju pintu dan menarik lengan seseorang agar mengikutinya.

Dan ketika orang yang dibawa oleh Chrome memasuki ruangan, semua orang yang berada diruangan itu menahan nafas sejenak. Bagaimana tidak, pemuda yang ditarik oleh Chrome saat ini itu adalah Tsuna. Pemuda itu datang dengan pakaian lusuh dan wajah yang sedikit kotor, namun sekarang lihatlah, sosok yang berdiri dihadapan mereka saat ini sangat-sangat memukau. Ia yang dirias dengan make-up minimalis dengan eyeliner di bagian matanya, rambut yang tadinya berantakan kini ditata rapi dan di extention dibagian ujungnya serta ditambahkan sebuah pita berwarna hitam, ia mengenakan kemeja putih seperti pada jaman eropa abad pertengahan—baju yang digunakan para bangsawan—dengan celana hitam sepaha yang menampakkan pahanya yang mulus dengan sepatu selutut dengan tali.

Tsuna yang ditatapi seperti seekor tikus yang dikelilingi puluhan kucing hanya bisa menciutkan diri.

"Sudah ku katakan bukan, dia cukup bagus untuk pekerjaan kali ini," Mukuro berujar masih dengan menatap sangat intens kearah Tsuna.

"Baiklah, kali ini aku setuju, sebaiknya kita mulai," Daemon mengalihkan perhatiannya dari Tsuna. Ia mengarahkan para kru nya agar mempersiapkan apa yang di butuhkan.

Butuh sekitar 10 menit hingga semuany siap.

"Tsuna, naiklah keatas ranjang," perintah dari Daemon, yang ditanggapi dengan mata melotot dari Tsuna.

"Untuk apa aku harus naik kesana?!" ia cukup marah mendengar perintah dari orang yang sama sekali tidak dikenalnya.

"Jangan berpikiran kotor bocah! cepat naik atau pikiran kotormu akan menjadi nyata sekarang. Disini!" tekannya dengan nada menusuk.

"Ba-baik!" ia akhirnya mengangguk cepat. Dan menaiki ranjang dengan cepat pula. Semua kru yang ada disana hampir tertawa oleh tingkah polosnya.

"Miringkan sedikit kepalamu kearah kiri,"

"Begini?"

"Terlalu keras bocah. Aku bilang sedikit, bodoh!"

"M-maaf,"

"Sekarang letakkan jari tengahmu di depan dadamu,"

"Seperti ini?"

"Ya, sekarang duduk seperti bersimpuh, letakkan tangan kananmu diantara kedua pahamu,"

"Begini?"

"Sekarang pandang kearah kamera, jangan berpikir apapun, pikirkan saja hal-hal yang membuatmu merasa senang, dan menggebu-gebu,"

"Bagus,"

"Sepertinya pemuda yang kau bawa memang punya kualitas," ujar Daemon pada Mukuro masih sambil memandangi Tsuna yang masih sedang berpose seperti yang diarahkan oleh sang cameramen.

"Dan ingat, setelah ini ia selesai ia milikku," tegasnya sambil meminum air dalam botol ditanganya.

"Tentu, jangan sampai kau menghancurkan sifat polos anak itu, Mukuro. Dan juga jangan sampai kau bermain kasar dengannya, ingat tubuhnya cukup penting untuk project selanjutnya, mengerti," daemon terlihat sedikit mengancam.

"Oya~ oya tenang saja, aku akan pelan-pelan dengan makhluk mungil itu, fuufufu~" seringainya tajam.

Dan Tsuna, ia yang masih cukup bingung atas situasi saat ini hanya bisa diam dan menunggu penjelasan dari orang-orang itu.

===CIAOSSU===

===Review Onegaishimasu===