Tittle: My choice

Cast: Leeteuk, Keisya

Support Cast: Heechul, Yesung, Kangin, Shindong, Sungmin, Eunhyuk, Donghae, Siwon, Ryeowook, Kyuhyun, Ji ah.

Genre: Romance, Friendship

Rating: Fiction T

Warning : EYD kurang baku, Geje , tak banyak menggunakan kosa kata Korea, alur membinggungkan.

Don't like it? Don't read it please.

Summary: "Kalian bertengkar?"/ "Aku tak mungkin menyerahkan sepupu kesayanganku pada namja playboy sepertimu kan?" kata Ji-ah ketus./ "Apa Leeteuk oppa serius dengan Keisya? aku tak mau kalau dia mempermainkan sepupuku."

DON'T BE A PLAGIATOR !

Happy reading chingudeul !

Chapter 3

"Maaf ya, kau pasti sudah lama menungguku." ucap seorang yeoja berperawakan mungil pada sepupunya.

"Kenapa kau lama sekali, eon?" protes sepupu yeoja mungil itu. Ia menggembungkan pipinya kesal, lalu bangkit berdiri dan melepas headset yang sedari tadi bertengger di kepalanya.

Yeoja mungil berambut hitam panjang itu menagkupkan kedua tangannya yang penuh dengan tas belanjaan di depan dada. "Jeongmal mianhae."

"Kau tahu, barang yang ditawarkan di deretan toko – toko itu benar – benar bagus. Dari mulai pakaian, jam tangan, aksesoris, dan barang – barang lainnya benar – benar menakjubkan. Sayangkan kalau aku tidak melihat dan membelinya." tuturnya panjang lebar sambil memperlihatkan beberapa barang belanjaannya yang ada di dalam kantung – kantung tas dengan label bermacam – macam toko.

"Lalu apa kau tahu sudah berapa lama aku menunggumu disini, eon?" keluh Keisya—sepupu yeoja mungil itu, yang tak lain adalah Ji-ah.

"Sudah hampir satu setengah jam aku menunggumu sendirian disini, eon." lanjutnya. "Jika kau datang lebih lama satu menit saja, kurasa tubuhku ini pasti sudah karatan karena terlalu lama menunggu."

Ji-ah menggengam tangan Keisya dan menggoyang – goyangkannya seperti anak kecil yang meminta permen. Ia berusaha keras menggambil hati Keisya agar tak lagi kesal dan memaafkannya.

Bisa gawat kalau sepupu kesayangannya itu terus ngambek sepeti ini. "Saengi-ah, jebal mianhae." rengeknya dengan wajah memelas yang dibuat se-aegyo mungkin.

Melihat tingkah Ji-ah, Keisya menghela nafasnya panjang. 'Hufft, kenapa aku selalu kalah dengan mata berbinar memohon dan wajah imut ini?'

"Kau tahu kan eon, aku sangat membenci hoby shoppingmu yang sudah sangat over load itu." ucapnya sambil melangkah pergi di ikuti Ji-ah yang masih terus meminta maaf dibelakangnya.

~My Choice~

Keisya membuka pintu apartemen dan langsung melangkah menuju kamarnya, membiarkan Ji-ah di belakangnya menutup pintu yang dibukanya tadi.

Walau ia tak lagi marah pada kakak sepupunya itu, ia akan tetap memberi Ji-ah sedikit pelajaran agar dia tak menggulangi kesalahannya lagi.

Setelah masuk ke dalam kamar tidurnya di ujung ruangan, ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal dan dengan segera memejamkan matanya.

Di luar kamar, Ji-ah mengerucutkan bibirnya sambil mengelus perutnya yang masih keroncongan. Meski tadi siang ia sudah menghabiskan seporsi besar kimbab di kantin kampus tapi perutnya masih sangat lapar.

Apa lagi sekarang kan sudah jam delapan malam, terang saja kalau perutnya kembali berteriak.

Sesekali kepalanya menenggok ke arah kamar Keisya, menunggu sang pemilik kamar itu keluar dan segera menuju dapur untuk membuatkannya makanan.

Sama seperti Kyuhyun magnae Super Junior, Ji-ah juga sama sekali tak bisa memasak.

Kalau dipikir – pikir legenda sungai han yang di buat Kyuhyun masih jauh lebih baik jika dibanding kepulan asap yang di buatnya saat mencoba memasak ramen.

Saat itu bahkan penghuni apartemen yang lain sampai berhamburan keluar karena mengira ada kebakaran.

Sudah hampir lima belas menit ia menunggu Keisya keluar, namun adik sepupunya itu tak juga menampakkan batang hidungnya, hingga akhirnya karena jengah ia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Keisya.

"Keisya, kau belum tidurkan? Jebal, buatkan makanan untukku, aku lapar." rengeknya. Ia mengguncang tubuh Keisya agar yeoja itu segera bangun, namun usahanya sia – sia.

Keisya tetap memejamkan matanya dan tak menghiraukan Ji-ah sama sekali.

Sebenarnya ia tak tega juga dengan yeoja mungil itu, tapi jika tidak seperti ini lain kali Ji-ah akan mengulanginya lagi. Ia tak ingin sepupunya itu menghambur – hamburkan uangnya untuk membeli barang – barang yang sebenarnya tak dibutuhkannya.

Sudah banyak barang yang dibelinya tapi tak pernah digunakan dan dibiarkan tergeletak begitu saja hanya untuk memuaskan hoby shoppingnya itu.

.

.

.

Keisya membuka kedua matanya, setelah mendengar pintu kamarnya di tutup dari luar.

Ji-ah sepertinya sudah menyerah untuk membanggunkannya, hingga akhirnya ia pergi setelah dengan kesal berpamitan pada Keisya.

"Arraseo, kalau begitu aku akan pergi mencari makan di luar saja." dengus Ji-ah kesal.

~My Choice~

Teettt

"Oppa, buka pintunya." seru seorang yeoja dari luar kamar sebuah apartement lantai 11 di daerah Gwangjin.

Dengan kasar ia memencet bel berulang kali dan menggedor – ngedor pintu coklat di hadapannya.

"Nuguseyo?" tanya seorang namja dari dalam yang merasa sangat terganggu dengan suara ribut – ribut di luar apartemennya.

"Oppa! Cepat buka pintunya, ini aku Ji-ah. Cepat buka atau aku akan mendobraknya." Bentak Ji-ah yang mulai kesal karena pemilik kamar apartement ini tak juga membukakan pintu untuknya.

Mendengar nada tinggi Ji-ah, salah seorang dari namja – namja tampan yang berada di dalam langsung membuka pintu sebelum Ji-ah benar – benar melakukan ancamannya.

Ji-ah memang gadis bertubuh mungil, feminim, sangat cantik dan juga imut. Tapi di balik itu semua, dia sangat kuat. Lebih kuat dari sekedar untuk mendobrak pintu.

Ia pernah melakukannya dulu saat Super Junior masih tinggal di dorm lama mereka. Jadi bukan hal yang mustahil jika dia juga tak segan – segan akan melakukannya lagi, hanya karena mereka tak segera membukakan pintu untuknya.

Yeah benar, saat ini Ji-ah sedang berada di apartement— atau lebih tepatnya dorm Super Junior.

Dengan gerak cepat, Ji-ah langsung masuk ke dalam dorm begitu pintu terbuka. Tanpa memberi salam atau sekedar menyapa, ia melewati Sungmin yang membukakan pintu.

Bahkan tanpa ba–bi–bu, ia segera mendudukkan tubuhnya di atas sofa dan menyuruh Ryeowook untuk segera membuatkan makanan untuknya.

"YAK Shin Ji-ah apa yang kau lakukan disini? Kenapa datang – datang langsung seenaknya sendiri meminta Ryeowookie membuatkanmu makanan, eoh?" tegur Kyuhyun yang tak senang dengan sikap seenaknya Ji-ah pada hyungdeulnya.

Selama ini dalam kamusnya hanya ada dirinya yang boleh seenaknya memerintah hyungdeulnya dan mengerjai mereka habis – habisan.

Ji-ah mendelik menatap Kyuhyun tak suka. "Diam kau, evil." ucapnya kasar. Ia lalu berbalik menatap Ryeowook yang duduk tak jauh darinya dan melancarkan aksinya.

Ia menangkupkan kedua tangannya memohon dengan mata bulatnya yang memelas seperti anak kecil tanpa dosa dan jika sudah begini– siapa orang yang akan tega menggabaikan permintaannya?

"Kau mau makan apa, Ji-ah?" tanya Ryeowook.

"Terserah,yang penting aku bisa kenyang." jawab Ji-ah. "Aku yakin apa pun yang Ryeowook oppa buat pasti enak." tambahnya lagi dengan senyum.

"Kemana yang lain? Kenapa hanya ada kau, Ryeowook oppa dan setan satu itu?" tanya Ji-ah pada Sungmin. Ia memperhatikan setiap sudut ruangan ini dari tempatnya duduk. Terlihat sepi tak seperti biasanya.

Kyuhyun mendengus kesal. "Ya~ siapa yang kau bilang setan huh?" katanya yang hanya di balas cibiran tak berarti dari Ji-ah.

Sungmin berjalan ke arah lemari es, menggambil minum sambil menjawab pertanyaan Ji-ah. "Kau sudah tahu kan Siwonie sedang ada urusan di Beijing, Yesung hyung tidur di kamarnya, Kangin hyung menemui orang tuanya, sedangkan yang lain ada di lantai atas. Ku rasa sebentar lagi mereka juga akan turun untuk mengisi perut kosong mereka sama sepertimu."

"Ryeowookie, cepat masak. Aku lapar." seru Shindong dari depan pintu.

Leeteuk dan Eunhyuk juga ikut masuk ke dalam dorm mengekor Shindong.

"Benar kan, belum ada lima detik aku mengakhiri ucapanku mereka sudah berada di sini." gerutu Sungmin. Ia lalu pergi ke dapur dan membantu Ryeowook memasak.

"Ji-ah, kenapa kau ada di sini?" tanya Leeteuk heran.

"Aku lapar." jawab Ji-ah singkat.

"Kalau kau lapar kenapa datang kemari? Tempat ini bukan restoran." sulut Eunhyuk, yang tak pernah suka Ji-ah datang ke drom mereka apa lagi kalau dengan alasan makanan.

Ia was – was jatah makanannya akan berkurang lagi karena Ji-ah adalah orang yang memiliki kemampuan makanan di atas rata – rata orang normal. Shindong saja kalah rakus jika dibandingkan dengannya.

"Aku tahu ini bukan restoran. Tapi hanya ini tempat satu - satunya yang memiliki koki terbaik di seluruh daratan Seoul." kata Ji-ah memuji Ryeowook. "Lagi pula jika makan disini aku tak harus repot – repot menggeluarkan uangku." (*nyari gratisan -_-")

"Dimana Donghae oppa dan Heechul oppa?" tanyanya entah pada siapa.

Leeteuk yang segera menggambil tempat di samping Ji-ah menjawab. "Mereka masih tidur di atas, lelah karena jadwal padat mereka hari ini."

.

Di apartement yang berbeda, Keisya berkali – kali melihat jam dinding di ruang tengah. Sudah jam 10.00 malam tapi Ji-ah belum juga pulang. Rasa khawatir menyeruak di hatinya, takut – takut kalau terjadi sesuatu pada Ji-ah.

Tanpa berfikir panjang ia segera menyambar ponselnya yang berada di meja, menekan angka 3 sebagai panggilan cepat untuk Ji-ah.

"Eonni, kau dimana? Cepat pulang. Aku sudah memaafkanmu, jadi jangan membuatku khawatir. Aku janji akan memasakkan makanan kesukaanmu asal kau pulang sekarang juga." kata Keisya begitu telponnya tersambung.

.

.

.

"Yeobosse ––"

"Eonni, kau dimana? Cepat pulang. Aku sudah memaafkanmu, jadi jangan membuatku khawatir. Aku janji akan memasakkan makanan kesukaanmu asal kau pulang sekarang juga."

"––yo." belum selesai orang itu bicara, seseorang yang kita tahu pasti siapa dia membrondongnya dengan kata – kata tanpa celah.

"Ji-ah eonni." ucap Keisya dengan sedikit berteriak, ketika tak ada jawaban dari sebrang telponnya.

"Mianhaeyo Keisya-ssi. Tapi ini aku Leeteuk bukan Ji-ah." jawab Leeteuk.

Keisya mengeryitkan alisnya binggung, ia yakin angka tiga adalah panggilan cepat untuk Ji-ah, tapi kenapa Leeteuk yang menggangkatnya? Tidak mungkin dia salah menghubungi Leeteuk jika nomernya saja dia tak punya.

"Ah, mian oppa. Apa aku salah menghubungimu?" tanya Keisya ragu.

Leeteuk menggeleng cepat seakan yeoja di sebrang telpon melihatnya. "Aniy, ini memang ponsel Ji-ah, tapi sekarang ini dia sedang di toilet dan memintaku yang menggangkat telpon."

"Apa kalian bersama, oppa?"

"Nde. Ji-ah sekarang ada di dorm kami."

Keisya bernafas lega, kekhawatirannya mulai memudar. Setidaknya dia bisa merasa tenang karena Ji-ah tak berkeliaran di luar.

"Apa ada yang perlu disampaikan?"

"Tolong katakan saja pada Ji-ah eonni untuk cepat pulang karena ini sudah terlalu malam. Dan katakan juga kalau dia tidak cepat pulang aku akan mencabut maafku untuknya, gomawo oppa." jawab Keisya.

"Kalian bertengkar?" tanya Leeteuk, ia sedikit mengeryitkan alisnya.

"Aniya, hanya tadi aku sedikit kesal hingga berinisiatif memberinya pelajaran. Tapi ternyata sekarang dia malah membuatku khawatir." jelas Keisya, terdegar suara tawa kecil dari nadanya bicaranya.

"Baiklah oppa, gomawo." ucapnya kemudian memutuskan sambungan telpon.

Tepat saat itu Ji-ah keluar dari toilet.

"Huaahh leganya. Akhirnya semua kotoran itu bisa ku buang jauh – jauh dari dalam perutku." ujar Ji-ah senang. Wajahnya Nampak sumringah setelah selesai membuang semua sampah di perutnya.

Ia sama sekali tak memperdulikan death glare dari beberapa namja di sekelilingnya.

"Ya~ jangan bicarakan hal menjijikkan seperti itu saat kami makan." bentak Eunhyuk yang mendadak jadi kehilangan selera makan karena ucapan Ji-ah.

Ji-ah menggangkat kelima jarinya, dengan wajah datar ia menggucapkan kata maaf lalu berlari kecil ke arah Leeteuk, menyodorkan tangan meminta ponselnya.

"Siapa yang menelpon?"

"Sepupumu, Keisya." jawab Leeteuk.

Sambil menggotak atik ponselnya ia kembali bertanya.

"Apa katanya?"

"Dia menyuruhmu untuk cepat pulang atau kalau tidak, dia tidak akan memaafkanmu. Kalian bertengkar."

"Aniy, dia hanya ngambek karena aku membuatnya menunggu hingga hampir satu setengah jam lebih gara – gara sibuk shopping." jawabnya enteng, tanpa melepas pandangannya dari ponselnya.

"Kau kelewatan Shin Ji ah." kata Leeteuk."Jadi kau akan pulang sekarang?"

"Nde."

"Kau bawa mobil?" Ji-ah menggeleng. "Kalau begitu tunggu disini aku ambil kunci mobilku dulu, tak baik kau pulang sendiri malam – malam begini."

Leeteuk bangkit berdiri dan keluar dari dorm lantai satu. Ia masuk ke dalam lift dan naik ke lantai 12.

"Sungmin oppa, apa dia salah makan?" tanya Ji-ah. Ia heran melihat tingkah Leeteuk. Seumur – umur baru kali ini Leeteuk bersedia mengantarnya pulang tanpa Ji-ah harus mati – matian membujuknya terlebih dahulu.

Sifat pelitnya itu terlalu parah sampai tak mau menggeluarkan bensin sedikit pun hanya untuk mengatarkan Ji-ah.

"Siapa?" tanya Sungmin yang memang tak tahu siapa yang dimaksud Ji-ah.

"Leeteuk oppa. Sikapnya aneh, apa penyakit pelitnya itu sudah sembuh?"

"Penyakit pelit Teukie hyung itu sudah stadium akhir, jadi tidak mungkin sembuh. Bisa jungkir balik dangkoma kalau hal itu sampai terjadi." timpal Shindong.

"Dangkoma tak bisa jungkir balik, tapi kalau salto mungkin bisa." Yesung ikut bicara. Kemunculannya yang tiba – tiba di belakang Shindong dan Eunhyuk yang berada di sampingnya tersentak.

"Ya~ hyung, hilangkan kebiasaanmu yang seperti setan itu." omel Eunhyuk.

"Ji-ah ayo!" teriak Leeteuk dari pintu.

Sebelum pulang Ji-ah berpamitan dengan yang lain, termasuk Ryeowook yang sempat menjawab pertanyaannya dan menitipkan sekotak makanan untuk Keisya.

Di jam semalam ini, jalanan kota Seoul terlihat lenggang. Hanya ada beberapa mobil yang berlalu lalang dan tak banyak orang yang berkeliaran di pinggiran trotoar.

Jika dibandingkan dengan pagi atau siang hari, Seoul benar – benar nampak berbeda.

Ji-ah duduk di samping Leeteuk yang memegang kemudi. Ia duduk sambil memeluk bungkusan kotak yang di berikan Ryeowook untuk Keisya. Memandang bungkusan itu lalu ingatannya kembali ke saat dimana Ryeowook menjawab pertanyaannya.

Namja imut itu bilang bahwa hanya ada satu alasan kenapa leader mereka bersedia menggantarnya pulang, yaitu Keisya, yeoja yang membuat kacau tidur Leeteuk. Yeoja yang menghiasi hati dan fikirannya.

Leeteuk sedikit melirik ke arah Ji-ah, sedikit risih karena dia terus memperhatikannya. "Ada apa kau terus memperhatikanku seperti itu huh?" tanya Leeteuk.

"Kenapa oppa mengantarku? tumben."

"Sudah kubilang kan tadi, tak baik kalau kau pulang sendirian malam – malam begini."

"Kau yakin karena itu? Yakin bukan karena kau ingin bertemu Keisya?" tanya Ji-ah penuh selidik.

"A – apa maksudmu?" Leeteuk sedikit gugup.

Melihat gelagat Leeteuk yang berubah, Ji-ah bisa menebak bahwa yang di katakana Ryeowook padanya itu benar.

Ia semakin memincingkan matanya. "Kau mencintai Keisya?" tanya Ji-ah terang – terangan yang sontak membuat Leeteuk mengerem mobilnya.

"Ya~ oppa jangan ngerem mendadak." omel Ji-ah. Ia membenarkan kembali posisi duduknya yang sempat terdorong ke depan karena ulah Leeteuk.

Leeteuk semakin gugup. "Ba – ba – bagaimana k – kau tahu?" suranya sedikit bergetar.

"Jadi benar kau mencintainya." Ji-ah kembali menatap ke depan, menatap jalanan. Sedangkan Leeteuk mulai melajukan mobilnya kembali.

Sempat keduanya terdiam, kini Ji-ah mendahului membuka mulut.

"Kau boleh mencintainya, tapi jangan harap aku akan mendukungmu oppa." ucapnya terus terang.

"Wae?"

"Aku tak mungkin menyerahkan sepupu kesayanganku pada namja playboy sepertimu kan?" kata Ji-ah ketus.

Leeteuk tersenyum kecut. "Siapa yang playboy?"

"Lalu apa namanya seseorang yang gemar meminta nomer telpon setiap wanita yang di temuinya, menyimpannya dan menghubungi mereka satu persatu eoh?"

Ji-ah menambahkan. "Aku berani bertaruh, di ponselmu itu pasti lebih banyak menyimpan nomer ponsel yeoja disbanding namja. Benarkan?"

Leeteuk berusaha menggelak meski yang di ucapkan Ji-ah itu 100% benar. Tapi seberapa keras pun usahanya ia tak bisa menggalahkan Ji-ah yang sejak kecil dekat dengannya.

Semua kebiasaan, sifat, kejelekan dan keburukannya itu sudah diketahui dengan baik oleh Ji-ah sama seperti yang diketahui member Super Junior yang lain.

.

.

.

Sebuah mobil mewah berwarna putih berhenti di depan gedung apartemen tak jauh dari pusat kota Seoul, menurunkan seorang yeoja.

"Kau yakin tidak mau menyuruhku mampir?" kata namja yang menggantanya. Ia sangat berharap agar di undang masuk agar bisa bertemu dengan yeoja lain yang tinggal sekamar dengan yeoja itu.

"Jangan harap." ujar yeoja itu. Ia menutup pintu mobil dan berbalik lalu melenggang pergi meninggalkan namja yang berada di dalam mobil menelan kekecewaan.

~My Choice~

Suara alarm yang terus berdering dari ponsel Keisya membuatnya tersadar dari mimpi indahnya. Udara dingin yang menyelinap masuk dari sela – sela jendela kamarnya mampu menusuk tubuh Keisya meski ia sudah menyalakan penghangat ruangan.

Sesaat Keisya mengerjap – ngerjapkan matanya berusaha membiasakan penglihatannya dengan cahaya yang secara serabutan masuk ke dalam retina.

Tangannya meraba nakas yang berada persis di sebelah ranjangnya, mencoba meraih jam weker yang masih terus berdering.

Keisya mengucek kedua matanya yang masih sedikit menggantuk, lalu bangkit berdiri untuk bergegas ke kamar mandi menggambil wudhu.

"Allahu Akbar."

Alunan takbir yang menggalun dari suara merdu Keisya menggema di seisi rungan.

Secercah cahaya berbendar di wajah langsatnya yang berbalut mukenah putih yang semakin membuatnya terlihat bersinar.

Tangannya bersendekap di depan dada. Wajahnya menunduk dengan mata yang menatap lurus ke arah sajadah yang menjadi alas sholatnya, sedang hatinya khusyu' menggingat sang Ilahi.

Bacaan sholat yang sangat fasih, tak hanya keluar tanpa arti dari bibir merahnya, tetapi juga menggalir di sekujur aliran darahnya.

Meresapi setiap kata demi kata yang di ucapkannya,memuji kebesaran Allah, bersyukur dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada sang akhir sholatnya yang di tutup dengan salam.

Keisya menenggadahkan kedua tangannya, dengan segala kerendahan ia berdoa.

"Ya Allah, Ya Rabb. Engkau sang pemilik hati, kepada-Mu hamba memohon dengan segenap ketidakberdayaan. Cinta yang tidak seharusnya ini, mohon bantu hamba meredakannya." Keisya menggusap wajahnya, mengamini do'a yang ia panjatkan.

Jarum jam yang tergantung di ruang tengah tepat menunjuk ke angka tujuh saat Keisya keluar dari kamarnya menuju ke dapur untuk mempersiapkan sarapan. Kegiatan yang menjadi kebiasaan rutin sejak dia tinggal dengan Ji-ah.

Kemampuan memasak Ji-ah yang nol besar membuatnya harus memasak setiap pagi untuk mereka berdua sarapan.

Cklek!

Terdengar suara pintu terbuka. Keisya yang tadinya baru mulai membuka kulkas menoleh. "Kau sudah bangun." tegurnya pada Ji-ah yang baru keluar dari dalam kamarnya dengan setelan baju tidur dan rambut yang acak – acakan.

"Emm, kau sedang apa?" tanya Ji-ah. Dengan keadaan yang masih sedikit menggantuk ia berjalan menghampiri Keisya.

"Membuat sarapan." Keisya melonggokkan kepalanya ke dalam kulkas mencari bahan – bahan yang di perlukannya.

Telur, wortel, kacang polong ia keluarkan dari dalam kulkas secara bergantian. Namun saat ia menggambil bahan lainnya lagi, ia terhenti. "Apa ini eon?"

Keisya menggeluarkan sebuah bungkusan dari dalam kulkas, memperlihatkannya pada Ji-ah.

"Ah, itu titipan dari Ryeowook oppa untukmu." Ji-ah membuka bungkusan itu dan senyum merekah menghiasi wajah chubbynya.

Yangnyeom tongdak yang merupakan ayam goreng khas korea itu membuat mata sipitnya yang tadi menggantuk terbuka lebar dengan memancarkan cahaya yang berbinar.

Saus ayam itu yang memiliki cita rasa manis bercampur pedas membuat air liurnya hampir keluar, membayangkan bagaimana jika rasa itu menjalari setiap sudut rongga mulutnya.

"Sepertinya hari ini kau tak perlu membuat makanan untuk kita." ujar Ji-ah girang.

Dengan cepat ia langsung menyambar makanan di hadapannya itu dengan lahap.

Keisya yang melihat kelakuan Ji-ah berdecak kesal. "Setidaknya cuci mukamu dulu sebelum makan eon? Kenapa kau jorok sekali." tegur Keisya yang sejurus kemudian merebut yangnyeom tongdak dari tangan Ji-ah.

"Hanya sedikit Kei, biarkan aku mencobanya dulu." pinta Ji-ah, namun Keisya tetap menolak.

Ia berbalik dan memasukkan kembali bahan makanan yang akan di masaknya tadi kedalam kulkas.

"Dasar Keisya pelit." ledek Ji-ah. "Aku heran kenapa dia bisa menyukaimu. Kalian sama – sama pelit, apa mungkin karena itu dia tertarik padamu ya? Karena sifat kalian yang tak jauh beda." cerocos Ji-ah pelan, yang sangking pelannya Keisya sampai tak mendengarnya.

Yeoja muslim itu sibuk memasukkan kembali bahan makanan yang di ambinya tadi ke dalam kulkas.

.

Langit pagi ini mendung, membuat sebagian besar siswa Kyunghae University terlihat tidak bersemangat kuliah.

Beberapa di antara mereka bahkan sengaja tidak ikut perkuliahan dengan berbagai alasan, padahal sebenarnya mereka hanya malas dan lebih memilih untuk bergelung di balik selimut di cuaca yang sepertinya akan segera turun hujan.

Leeteuk berjalan di lorong sepi kampusnya, Kyunghae University. Di bagian gedung musik yang di kelilingi rimbunan pohon sakura yang sedang tak berbunga karena belum memasuki musim semi.

Tak seperti biasanya, hari ini ia sangat bersemangat masuk kuliah. Bahkan sangking semangatnya jam 6 pagi dia sudah bangun, mandi dan bersiap untuk berangkat padahal jadwal perkuliahannya hari ini baru akan dimulai jam 8 pagi.

Ryeowook, Kangin, dan member super junior yang lain di buatnya geleng – geleng kepala karena perubahan sikapnya yang mendadak. Bangun pagi dan datang ke kampus lebih awal beberapa jam bukanlah kebiasaanya. Tapi kalau datang terlambat itu keahliannya.

"Hyung, kau kenapa?" tanya seorang namja yang tiba – tiba menerjang dan merangkul Leeteuk dari belakang.

"Apanya yang kenapa? Aku baik – baik saja."

"Aku tak yakin kau baik – baik saja hyung, buktinya pagi ini kau bangun pagi sekali padahal kan kuliah baru beberapa jam lagi." kata seorang namja lain yang berjalan beriringan dengannya.

"Memangnya salah kalau aku berangkat lebih pagi eoh?" Leeteuk melepas rangkulan Eunhyuk.

"Aniya, memang tak salah. Tapi aneh saja. Kami takut, sepertinya ada yang konslet di otakmu itu." ujar Donghae, Eunhyuk mengganguk setuju.

"Tak ada yang konslet dengan otakku."

"Leeteuk hyung? Apa aku tak salah lihat?" seru seorang namja jangkung yang merasa takjub dengan kedatangannya.

"Changmin-ah, jika kau mau ikut menggomentari kedatanganku sebaiknya kau diam saja."

Leeteuk melenggos meninggalkan Changmin yang kemudian melirik Donghae dan Eunhyuk, heran.

"Apa Teukie hyung salah minum obat? Kenapa jam segini sudah datang? Kuliah kan baru akan di mulai satu jam lagi." tanya Changmin setengah berbisik kepada keduanya yang hanya menggangkat bahu tanda tak tahu.

7.45 a.m

Ruang kelas untuk mata kuliah musik yang tadinya sepi perlahan mulai ramai di penuhi mahasiswa yang menggambil mata kuliah ini.

Satu persatu mulai masuk ke dalam ruangan dan duduk di bangku – bangku yang di kehendakinya, menunggu perkuliahan yang 15 menit lagi akan segera di mulai.

"Hyung, bangku di sebelahmu kosong kan?" tanya Changmin. Ia segera berjalan mendekati bangku di sebelah Leeteuk namun niatnya untuk duduk di sana urung karena Leeteuk segera menaruh tasnya di atas meja itu.

"W–wae?"

Leeteuk menatap Changmin yang terlihat binggung. "Tempat ini sudah ada yang menempati." ucap Leeteuk ketus.

"Nugu?" tanya Changmin penasaran.

Leeteuk tak menjawab dan malah mengedarkan matanya mencari seseorang.

Senyum merekah di wajahnya ketika bola matanya menangkap sosok seorang yeoja yang baru saja masuk dan terlihat binggung mencari tempat.

"Keisya-ssi." Leeteuk menggangkat salah satu tangannya.

Changmin yang berada di dekat Leeteuk mengarahkan pandangannya ke arah Keisya yang tengah berjalan mendekati keduanya dengan seulas senyum yang sangat indah.

"Annyeong oppa." sapa Keisya.

"Kau duduk di mana?" Leeteuk menggangkat rahangnya menampakkan senyum.

"Entahlah, aku binggung. Sepertinya kelas sudah sangat penuh, hingga tak ada tempat duduk yang tersisa."

"Kalau begitu duduk di sini saja, tempat ini kosong." ucap Leeteuk sambil menunjuk bangku di sebelahnya.

Melihat itu Changmin mendengus kesal. "Ya~ hyung, tadi kau bilang tempat ini sudah ada yang– appo." Leeteuk menyikut perut Changmin keras.

"Ah Changmin-ah, kalau bilang tadi ingin duduk dengan Donghae dan Eunhyuk kan? Itu mereka." Leeteuk menunjuk Donghae dan Eunhyuk yang sedari tadi ternyata melihat ke arah mereka.

"Ta–tapi . . ."

"Selamat pagi." seru Im sonsaeng.

Dosen dengan dandanan casual itu segera melangkah masuk menempati tempatnya untuk segera memberi perkulihan, setelah meminta semua mahasiswanya duduk dan berhenti bersuara. Membuat Changmin tak bisa melanjutkan protesnya hingga akhirnya duduk di samping Donghae dan Eunhyuk.

"Annyeong oppa."

Sungmin refleks menoleh dan menghentikan aktifitasnya membaca buku saat di rasanya seseorang menepuk bahu belakangnya.

"Ji-ah, sedang apa di sini?"

"Menurutmu?" Ji-ah meletakkan beberapa tumpukan buku di depan Sungmin dan duduk berhadapan dengan Sungmin sambil membuka salah satu bukunya.

"Oiya, kemarin, untuk apa oppa menanyakan tentang jadwal Keisya padaku?" tanya Ji-ah tanpa memandang Sungmin. "Apa jangan – jangan ada hubungannya dengan Leeteuk oppa?"

Sungmin mengganguk. "Dia memintaku untuk mencari tahu tentang jadwal perkuliahan Keisya, berharap ada mata kuliah yang sama dengan sepupumu itu selain mata kuliah seni tempo lalu, agar dia bisa mendekatinya." jelas Sungmin.

"Apa Leeteuk oppa serius dengan Keisya? aku tak mau kalau dia mempermainkan sepupuku."

Sungmin mengangkat bahunya tanda tak tahu. "Yang jelas, hyung bukan tipe namja yang suka mempermainkan hati yeoja. Dia selalu serius jika sudah mengatakan kalau dia mencintai seseorang." jelas Sungmin.

"Aku tahu itu." Ji-ah menatap kosong bukunya, raut mukanya tiba – tiba menjadi sedih. "Tapi justru itu lah yang ku takutkan."

"Oppa, apa menurutmu tak apa membiarkan mereka? Sepertinya Keisya juga menyukainya." Sungmin melirik Ji-ah binggung.

"Huh?"

TBC

REVIEW PLIISS ^^

Jangan jadi pembaca gelap!

GOMAWO

REVIEW anda sangat mebantu author untuk menggembangkan lagi ceritanya.