My choice
Tittle: My choice
Cast: Leeteuk, Keisya
Support Cast: Heechul, Yesung, Kangin, Shindong, Sungmin, Eunhyuk, Donghae, Siwon, Ryeowook, Kyuhyun, Ji ah.
Genre: Romance, Friendship
Rating: Fiction T
Warning : EYD kurang baku, Geje , tak banyak menggunakan kosa kata Korea, alur membinggungkan.
Don't like it? Don't read it please.
Summary: "Jangan bohong, kau mencintainya kan? Kau tak bisa membohongiku saeng."/"Kau tahu kan konsekuensi dari perasaanmu itu?" tanya Ji-ah sambil menggengam tangan Keisya yang mulai gemetar karena menangis./ "Aish, menyebalkan. Lihat saja nanti."
DON'T BE A PLAGIATOR !
Happy reading chingudeul !
Chapter 4
"Ah, aniy . . gwechanna." Ji-ah menggeleng.
Sebuah kerutan muncul di antara alis Sungmin. Ia masih binggung dengan tingkah yeoja di depannya ini. Ia tak dapat mendengar dengan jelas ucapan Ji-ah tadi, karena suaranya yang terlalu pelan.
Tapi ia bisa melihat ada yang aneh dengan raut wajah Ji-ah yang tiba – tiba murung seperti memikirkan sesuatu. 'Apa ada sesuatu yang salah?' batinnya.
Eunhyuk, Donghae dan Changmin, ketiganya ikut membubarkan diri bersama dengan mahasiswa yang lain setelah kelas musiknya usai, namun mereka tak langsung beranjak meninggalkan ruangan itu begitu saja.
Sampai di depan pintu masuk kelas tersebut, mereka berhenti dan berdiri memperhatikan dua insan yang telah berjalan terlebih dahulu meninggalkan mereka tanpa menoleh sama sekali.
Keduanya terlihat asik menggobrol satu sama lain, bahkan sesekali tertawa.
"Hyung, siapa yeoja itu? Sepertinya aku baru pertama kali melihatnya." tanya Changmin kepada dua makhluk di samping kanan kirinya.
"Dia sepupu Ji-ah dari Indonesia, Keisya-ssi." Eunhyuk melipat kedua tangannya di depan dada sambil bersandar di pintu.
"Lalu apa hubungannya dengan Leeteuk hyung? Sepertinya mereka sangat dekat." Changmin kembali bertanya, namun kali ini Donghae yang menjawab.
"Hyung menyukainya."
Changmin menggalihkan pandangannya menatap Donghae tak percaya. Matanya membulat dan suaranya sedikit memekik. "Mwo!"
"Ya~ Changmin-ah jangan berteriak di telingaku." omel Donghae yang mengorek telinganya karena terasa pengang akibat suara nyaring magnae TVXQ itu.
"Ah, mianhae hyung. Tapi apa kau yakin Teukie hyung menyukainya? Yeoja berbalut krudung itu?" Changmin menunjuk Keisya yang sosoknya mulai menjauh bersama Leeteuk.
"Nde."
Eunhyuk menggangkat sebelah alisnya. "Hae-ah, apa jangan – jangan karena itu Leeteuk hyung berangkat pagi sekali hari ini?"
Donghae dan Changmin menoleh ke arah Eunhyuk yang kini memandang keduanya. "Karena Leeteuk hyung ingin duduk dengan Keisya." tebak Eunhyuk.
"Tapi Hyukie, dari mana Leeteuk hyung tahu kalau hari ini mereka sekelas? Keisya-ssi baru masuk kelas musik hari ini kan?"
Changmin mengganguk. "Donghae hyung benar."
"Kalau itu aku juga tak tahu."
Ketiganya kemudian mulai berjalan meninggalkan ruang kelas dalam diam, sibuk dengan pikirannya masing – masing.
Di sisi lain, Keisya dan Leeteuk masih berjalan beriringan. Keduanya nampak dekat dan asik menggobrol.
Tiba – tiba Keisya menghentikan langkahnya, matanya membulat dengan binar mata yang terekspos di dua pasang bola coklat itu menatap Leeteuk di depannya yang ikut menghentikan langkahnya.
"Jinjja? Oppa mau mengajariku?"
Leeteuk mengganguk. "Nde, aku akan mengajarimu meski tak sebaik Yesung. Dia sangat ahli dalam dalam hal itu sebenarnya."
"Gwechannayo oppa, aku sudah sangat senang kau mau membantuku. Lagi pula aku takut kalau Yesung oppa yang mengajari."
"Wae?" Leeteuk mengerutkan dahinya.
"Sepertinya dia akan menjadi guru yang sangat keras dalam mengajari hal ini."
"Kau benar." Leeteuk menyetujui ucapan Keisya.
"Gomawo oppa, dengan begini aku tak perlu khawatir dengan tes menyanyi kelas musik minggu depan." ucap Keisya girang.
Awalnya ia sangat khawatir saat Im sonsaeng mengumumkan bahwa minggu depan akan ada tes menyanyi di kelas musiknya. Maklum saja, selama ini Keisya belum pernah belajar menyanyi dengan benar.
Ia hanya menyanyi seadanya tanpa memikirkan bagaimana intonasinya, temponya, peach controlnya atau hal – hal lain yang seharusnya di perhatikan saat menyanyi.
Jadi tak salah jika dia memiliki kekhawatiran tentang hasil nilai tesnya nanti. Tapi berkat Leeteuk yang bersedia mengajarinya, ia bisa merasa lega sekarang.
"Jadi kapan oppa akan mulai mengajariku?" tanya Keisya antusias.
Ia sudah tak sabar ingin segera berlatih vocal dengan namja yang masih berdiri di depannya itu.
"Kita bisa memulainya sekarang, kau tak ada kuliah lagi kan?" Leeteuk memastikan dan tersenyum saat Keisya mengganguk.
"Kalau begitu kita ke ruang musik lama sekarang. Aku bisa mengajarimu dengan tenang di ruangan itu sambil menggunakan alat musik yang ada di sana."
"Kajja."
Leeteuk dan Keisya melenggang dengan langkah kaki yang seirama menuju ruang musik lama.
.
Ruang musik lama.
"Aaaaa …"
"Tinggikan sedikit lagi suaramu Keisya-ssi. Jangan menahannya di tenggorokan, buka lebar mulutmu agar suaramu itu bisa terdengar jelas."
"Nde …" Keisya menarik nafas dalam dan kembali membuka mulutnya, mengeluarkan suaranya hingga di batas kekuatannya.
"Aaaaaaaaa …"
"Bagus, seperti itu baru benar." puji Leeteuk.
Sudah setengah jam lebih Leeteuk melatih vocal Keisya yang sebenarnya memang sudah bagus. Ia hanya perlu mengajari teknik – tekniknya saja agar suara Keisya yang notabennya merdu itu semakin sempurna.
"Bagaimana menurutmu oppa?" Keisya menyandarkan punggungnya di kursi sambil menenguk air mineralnya.
Mereka sedang beristirahat sejenak, capek juga ternyata berlatih vocal. Meski tubuh hanya berdiri tegap tapi suara yang berkali – kali dikeluarkannya dari mulutnya membuat tenaga Keisya terkuras.
"Suaramu indah, hanya saja kau sering menahan suaramu ditenggorokan sehingga tak bisa keluar secara maksimal." koreksi Leeteuk.
"Tapi yang terakhir tadi sudah sangat bagus, kau melepaskannya dengan sangat baik."
"Jinjja? Gomawo." ucap Keisya girang. Ia kemudian berdiri dan kembali menggambil posisi berdiri tegak siap berlatih lagi. Namun saat hendak mengambil suara, ponselnya berbunyi.
Bukan karena mendapat kiriman pesan atau telpon.
Ponselnya itu berbunyi, menyerukan suara adzan, tanda bahwa kini sudah waktunya untuk melaksanakan kewajibannya.
"Kau mau sholat?" tanya Leeteuk yang mulai mengerti kebiasaan Keisya yang seorang muslim.
"Nde, mianhe oppa, aku harus sholat dulu. Kau bisa menghentikan latihan kita sampai di sini dulu jika kau tak bersedia menungguku sampai aku selesai sholat." ucap Keisya.
Leeteuk menggeleng cepat. "Gwechannayo. Aku akan menunggumu."
.
Lima menit berlalu sejak Keisya memulai sholatnya. Ia terlihat khusyuk menjalankan ibadah wajibnya itu.
Wajahnya tertunduk, matanya mengarah ke bawah tepat di atas sajadahnya. Mulutnya terkunci tapi hatinya bersuara menyerukan bacaan sholat. Fikirannya menggingat ke sang Ilahi Rabbi.
Leeteuk yang menyaksikannya dari jauh hanya bisa memandangi Keisya dari tempatnya duduk, di kursi kecil piano.
Bola matanya tak berhenti menatap gadis di hadapannya itu yang terlihat tenang dalam diam, membuat hatinya ikut merasa nyaman dan merasakan sensasi teduh yang amat dalam.
"Kau sudah selesai?" tanya Leeteuk saat Keisya bangkit berdiri merapikan mukenah dan sajadahnya.
Yeoja itu mengganguk dengan seulas senyum yang tak pernah pudar.
"Jadi, apa kita bisa melanjutkan latihannya lagi?"
"Nde."
Setelah memasukkan kembali perlengkapan sholatnya ke dalam tas, Keisya menghampiri Leeteuk dan kembali melatih vokalnya.
Keduanya tak menyadari seseorang yang tak sengaja lewat memperhatikan mereka dari seberang kaca jendela dengan tatapan tak suka.
Natseolgo meongireul hemaedanyeotjyo
Tto dareun naui kkumeun jeobeodunchaero
Keisya mulai menyanyikan lagu yang menjadi pilihannya untuk tes menyanyi beberapa hari lagi saat kelas Im seonsaeng.
Nan mitji anhatjyo bol su eomneun geon
Maeumeul yeoreoyaman ireoke bol su inneunde
Dengan suaranya yang merdu, Keisya menyanyikan setiap bait lagu yang sempat di nyanyikan Luna dan Ryeowook dalam sebuah drama musical itu.
Oh i know cheoeum bon sungan nareul kkaeuneun geu gaseumtteollim
Ije nunbusin baro geudaereul nae gaseumi arabongeojyo
Keisya menaikkan sedikit nada suaranya saat namja di sampingnya yang memegang kendali piano sebagai pengiring nyanyiannya memberi kode.
Oh geudae du nuneul bomyeon neukkil su isseo
(neukkil su isseo)
Leeteuk menyahuti.
Uriui sijageul
Di bagian jedah lagu, Keisya menutup mata, begitu pula Leeteuk. Keisya menyiapkan suaranya untuk bagian bait lagu berikutnya, sedangkan Leeteuk menyelami alunan tuts piano yang beriringan dengan setiap tarian jemari lentiknya.
I know soksagideut nareul gamssaneun geudaeui sumgyeol
Ije nunbusin baro geudaereul nae gaseumi ara bongeojyo
Oh geudae du nuneul bomyeon neukkil su isseo
Uriui sijageul …
Lagu indah itu pun diakhiri oleh permainan panjang dari musik yang mengalun dari Leeteuk.
Keduanya membuka mata dan tanpa sadar saling menatap, namun sedetik kemudian keduanya memalingkan muka. Malu.
Rona merah di wajah putih keduanya tak bisa membohongi bagaimana perasaan mereka.
Keisya, memeganggi dada sebelah kirinya yang terus berdegup tak beraturan, sedangkan Leeteuk– tak jauh berbeda dengan Keisya ia juga memeganggi dadanya sambil mengatur nafas yang tiba – tiba terasa sesak.
~My choice~
"Kemana saja kau belakangan ini eoh? Kau sering pulang terlambat dan setiap selesai kuliah kau buru – buru pergi, setelah itu tak terlihat lagi."
"Eoh, apa aku belum memberitahumu eon?"
"Tentang apa?"
"Beberapa hari ini aku berlatih vocal di ruang musik lama."
"Berlatih vocal? Untuk apa? Dengan siapa?" tanya Ji-ah beruntun.
Keisya menghela nafasnya. "Ya~ eonni, tanya satu – satu bisa kan?"
"Aku berlatih vocal karena Im sonsaeng akan mengadakan tes menyanyi." jawab Keisya sambil berjalan ke arah dapur sambil membawa piring kotornya.
"Lalu dengan siapa kau berlatih? Seingatku kau masih belum memiliki banyak teman di sini."
"Leeteuk oppa, dia bersedia mengajariku."
Ji-ah tersentak. "Mwo! Leeteuk oppa? namja pelit itu?"
"Dia bukan namja pelit eon, buktinya dia bersedia dengan sukarela mengajariku."
"Huh, sukarela? Apa aku tak salah dengar, aku 100% yakin kalau dia itu pasti punya maksud tersembunyi." cibir Ji-ah dengan suara lirih yang tak terdengar Keisya.
Kesal, Ji-ah berpindah tempat ke depan TV, menyalakannya dan menonton acara di hadapannya itu sambil terus menggerutu.
"Aaiisshh awas saja kalau ketemu besok, akan ku jitak keras kepalanya. Mentang – mentang menyukai Keisya dia dengan senang hati mengajarinya. Sedangkan aku? Berkali – kali memohon tak pernah di gubrisnya. Huh, menyebalkan."
"Kau menggerutu apa sih eon? Dari tadi ku lihat mulutmu itu komat – kamit terus." tanya Keisya. Setelah mencuci piring bekas makan mereka ia ikut mengambil tempat di depan TV, duduk di samping Ji-ah sambil membuka snack di tangannya.
"Opso, aku hanya bosan dengan acara TV-nya. Sangat membosankan, satu pun tak ada yang menarik." jawab Ji-ah bohong sambil terus mengganti chanel TV.
"Pindah saja ke acara musik, bukannya sekarang ada acara musik bank?"
"Shireo, hari ini Super Junior akan tampil dan aku malas kalau harus melihat salah satu membernya yang menyebalkan." tolak Ji-ah yang malah menghentikan chanelnya pada acara komedi.
"Eo, menyebalkan? Nugu?"
"Kau tak perlu tahu, lagi pula ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padamu."
"Mwo?" Keisya mengalihkan pandangnnya, ia menatap Ji-ah dengan dahi yang berkerut.
"Leeteuk oppa, apa pendapatmu tentangnya?"
"Pendapatku?" ucap Keisya memastikan inti dari pertanyaan Ji-ah. Ia kembali menatap layar TV dan memasukkan beberapa kripik dari kantung snacknya ke dalam mulutnya sebelum menjawab.
"Dia namja yang baik, lembut, ramah, dia juga …"
"Apa kau mencintainya?" potong Ji-ah membuat Keisya tersedak.
"Apa maksudmu eon? me – mencintai Le – leeteuk oppa? Tentu saja tidak." jawab Keisya gugup yang nampak jelas dari suaranya yang sedikit bergetar.
"Jangan bohong, kau mencintainya kan? Kau tak bisa membohongiku saeng." ucap Ji-ah sambil menatap lekat adik sepupunya yang kini menunduk.
"Keisya!" seru Leeteuk sambil mengangkat sebelah tangannya begitu melihat Keisya yang duduk seorang diri di bawah pohon sakura.
Saat Keisya merespon seruanya dengan menoleh, sudut bibir Leeteuk terangkat membentuk senyuman yang mempertontonkan gigi putihnya yang berjejer rapi.
Namun selang beberapa detik, senyumnya pudar. Keisya malah langsung berjalan dengan langkah cepat menggambil arah berlawanan dari tempatnya berdiri.
"Eo, Keisya chakkaman."teriak Leeteuk, namun yeoja itu malah mempercepat langkahnya.
Leeteuk berlari mengejar Keisya yang semakin menjauh darinya, ia bahkan sampai harus menggambil jalan pintas agar dapat mendahului yeoja itu.
"Keisya, kenapa kau lari?" tanya Leeteuk begitu ia berhasil menghentikan langkah Keisya dengan berdiri di hadapannya.
Ia dapat melihat wajah gelapan Keisya. "Ah, oppa, annyeong." ucap Keisya seperti tak terjadi apa pun.
Leeteuk mengeryitkan alisnya binggung. "Kau kenapa?"
"Eo, nan gwechanna." jawab Keisya sedikit kikuk.
"Lalu kenapa kau lari saat aku memanggilmu?"
"La – lari? Aku tak lari. Memang tadi oppa memanggilku?" Keisya balik bertanya.
"Apa kau yakin tak mendengar aku memanggilmu?" Keisya menggeleng. Sebisa mungkin ia mencoba bersikap biasa saja. Ia tak ingin Leeteuk menyadari kalau sebenarnya dia ingin menghindari namja itu.
"Kau tahu kan konsekuensi dari perasaanmu itu?" tanya Ji-ah sambil menggengam tangan Keisya yang mulai gemetar karena menangis.
"Nde, arraseo eon, tapi aku sendiri sulit untuk meredakan rasa ini." ucap Keisya dengan terisak.
Ji-ah merengkuh tubuh Keisya, memeluknya dan menepuk punggung sepupunya. "Gwechanna, kau pasti bisa. Lakukan sebelum rasa cintamu itu semakin dalam. Aku bukan melarangmu mencintainya saeng, hanya saja aku takut kau akan terluka."
Keisya mengganguk dalam dekapan Ji-ah. Ia tahu betul maksud ucapan Ji-ah dan selama ini Keisya sudah berusaha memendam perasaannnya itu namun cinta itu malah semakin dalam seiring seringnya mereka bersama.
Karena itu dalam hati Keisya akhirnya memutuskan untuk menjauhi Leeteuk mulai sekarang. 'Mungkin aku bisa menghilangkan perasaan ini jika aku tak lagi bertemu dengannya.' batin Keisya.
Namun meski sepertinya hal itu mudah, kenyataannya itu sangat sulit untuk di lakukan.
"Keisya." panggil Leeteuk sambil mengoyang – goyangkan tanganya di depan Keisya, membuat Keisya tersadar dari lamunannya.
"Kau melamun?" tanya Leeteuk yang hanya di jawab dengan gelengan kepala dari Keisya.
Keduanya mulai berjalan dan duduk di bangku panjang yang terdapat di sepanjang jalan menuju fakultas seni.
"Jadi bagaiman hasil tes menyanyimu hari ini?" tanya Leeteuk memecah keheningan di antara keduanya yang tadi sempat terjadi sejak mereka berjalan beriringan.
"Aku dapat nilai "A" untuk tes menyanyi hari ini. Gomawo oppa." ucap Keisya.
"Jinjja? Waahh daebak, chukae."
Keisya tersenyum lembut menerima ucapan selamat yang tulus dari Leeteuk.
"Tapi, kenapa tadi kau tak masuk oppa?" tanya Keisya.
Saat kelas musik hari ini Leeteuk memang tak terlihat, begitu pula Eunhyuk dan Donghae. Ketiganya sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya sejak jam pelajaran di mulai hingga berakhir.
"Aku ada jadwal pemotretan hari ini." jawab Leeteuk.
"Apa dengan Eunhyuk dan Donghae oppa juga? Mereka juga tak masuk hari ini."
"Mwo!" ucap Leeteuk kaget. "Kau yakin mereka tak masuk hari ini?"
"Nde, aku sama sekali tak melihat mereka di kelas. Aku yakin hanya ada Changmin oppa, tak ada Eunhyuk oppa maupun Donghae oppa." jawab Keisya.
"Geurae, mereka pasti membolos lagi karena aku tak ada. Aaiisshh ikan dan monyet jelek itu– awas saja kalau sampai ketemu nanti." ucap Leeteuk sambil meremas kedua tangannya.
Keisya tak bisa menahan tawa saat melihat tingkah Leeteuk yang menurutnya lucu.
"Wae?" tanya Leeteuk heran.
"Kau lucu oppa."
Dahi Leeteuk berkerut, tapi ia tak berkomentar, menunggu jawaban dari Keisya selanjutnya.
"Bukannya kau sendiri sering membolos?" kata Keisya yang masih tak bisa menyembunyikan tawanya.
"Aku masih ingat saat hari dimana kau berada di UKS untuk membolos, Shin-sonsaeng yang mengatakannya waktu kami tak sengaja berpapasan di lorong kampus saat pulang."
"Dan, ah— aku juga sempat mendengar saat Choi sonsaeng memarahimu di pelajaran seni saat aku baru pertama kali masuk." jelas Keisya.
Leeteuk hanya meringis kikuk, ia menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal karena malu.
"Hyung." teriak Sungmin, membuat Keisya dan Leeteuk menoleh.
Namja pemilik wajah aegyo yang kelewat batas itu segera berlari menghampiri Leeteuk bersama Shindong yang berusaha keras menyamai langkah kakinya dengan deru nafas yang ngos – ngosan.
"Ya~ hyung cepat bayar." todong Sungmin begitu ia berdiri di hadapan hyung tertuanya.
"Mwo? Bayar apa?" tanya Leeteuk binggung. Ia gelagapan juga tiba – tiba di todong dongsaengdeulnya seperti ini di depan yeoja yang di taksirnya.
"Aigoo hyung, apa kau lupa kita ada iuran untuk ulang tahun Ryeowook minggu depan?" ucap Shindong sambil mengatur nafasnya.
"Eo, minggu depan Ryeowook oppa ulang tahun?" Keisya ikut bersuara. Entah pada siapa ia bertanya, yang jelas matanya bergantian melihat tiga orang namja di sekitarnya, Sungmin, Leeteuk, dan Shindong.
"Nde, minggu depan Ryeowookie ulang tahun, karena itu kami— seluruh member super junior dan manajer patungan untuk mengadakan pesta ulang tahun untuknya. Kalau kau mau, kau bisa datang bersama dengan Ji-ah, aku juga sudah menggundangnya untuk datang minggu depan." terang Sungmin pada Keisya yang kemudian mengganguk.
"Dan kau hyung, cepat bayar." mata kelinci itu kemudian mengarah kembali pada Leeteuk.
"Aisshh, kau ini. Kenapa meminta mendadak huh? Aku sedang tidak bawa uang sekarang. Nanti saja di dorm."
"Ya~ hyung, apanya yang mendadak? Bukannya kami sudah menggatakannya sejak beberapa hari yang lalu, kau saja yang tak kunjung membayarnya. Dasar pelit." ejek Shindong.
"Aisshh jinjja, arraso … arraso." Dengan berat hati akhirnya Leeteuk mengeluarkan beberapa lebar uang dari dalam dompet putihnya dan memberikannya pada Sungmin, tapi—
"Ya~ hyung, kau niat memberikannya tidak sih? Cepat lepaskan." bentak Sungmin ketika Leeteuk tak kunjung melepaskan uangnya, yang akhirnya membuat keduanya saling tarik menarik uang itu.
"Hyung, cepat lepaskan, sebentar lagi kami ada kelas. Bisa terlambat nanti." dumel Shindong yang kemudian membantu Sungmin.
"Gomawo hyung." ucap Sungmin dan Shindong girang setelah akhirnya Leeteuk melepaskan peganggannya.
Keduanya kemudian pergi meninggalkan Leeteuk setelah sempat berpamitan pada Keisya yang tak bisa menyembunyikan senyumnya melihat tingkah hyung dan dongsaeng di depannya.
"Sudah kubilang kan cara ini pasti berhasil." ucap Shindong cengegesan.
"Geudae, hyung benar. Leeteuk hyung memang akan selalu menjaga imagenya di depan yeoja, apa lagi kalau itu adalah yeoja yang di cintainya. Jadi tak mungkin dia tak mengeluarkan uangnya saat kita menggatainya pelit." Sungmin terkekeh.
21 Juni
Teettt— Teettt—
"Annyeong." sapa Keisya sopan begitu pintu sebuah apartement terbuka.
Bersama dengan kakak sepupunya, yeoja dengan hijab yang melilit kepalanya itu sekarang ini sedang mengunjungi dorm super junior untuk menghadiri undangan Sungmin beberapa waktu yang lalu. Undangan pesta ulang tahun Ryeowook, eternal magnae super junior.
"Eoh, Keisya-ssi kau sudah datang." sapa Leeteuk begitu yeoja pujaannya masuk.
"Ya~ oppa. Kenapa kau hanya menyapa Keisya huh? Aku juga ada di sini." dumel Ji-ah yang merasa tak di anggap.
"Ji-ah, kau juga datang rupanya." ucap Leeteuk yang tak menyadari kedatangan Ji-ah karena yeoja bertubuh munggil itu terhalangi badan Keisya yang tinggi semampai.
"Eissh, kau menyebalkan oppa. Di matamu hanya ada Keisya saja sekarang." cibir Ji-ah, sedang yang di cibir hanya tersenyum renyah.
Di sisi lain member super junior yang lain sedang sibuk di dapur.
Bukannya memasak dengan benar di dapur minimalis itu mereka malah ribut dan saling menyalahkan .
"Ya~ ikan amis, kenapa kau tidak memasukkan ikannya huh?" bentak Kangin.
"Aku tak tega hyung kalau harus memasak saudaraku sendiri." ucap Donghae dengan wajah memelas.
"Aissh, jinjja! Hyuk jae, kau saja yang masak ikannya kalau gitu."
"Shireo hyung." tolak Eunhyuk.
"Ya~ wae?" Kangin mulai frustasi.
"Aku juga tak tega memasak saudaranya Donghae, hyung. Bisa – bisa dongsaeng kesayangan Leeteuk hyung ini akan ngambek seminggu denganku." ucap Eunhyuk sambil menunjuk Donghae yang berdiri di sampingnya.
"Ya~ kalian ini benar – benar …"
"Hyuuuuuuuuunnggg …" seru Kyuhyun dengan suaranya yang lantang.
"Ya~ Cho Kyuhyun, apa lagi se— Aigoo Kyuhyunie, apa yang kau lakukan dengan supnya huh?" pekik Kangin begitu membalikkan badannya ke arah Kyuhyun yang berdiri kebinggungan di belakangnya.
Matanya membuka lebar, terkejut mendapati sup rumput laut yang di masaknya tadi sudah berceceran. Kuah sup rumput laut itu terus menggembang naik hingga tumpah.
"Ya~ Kyuhyunie apa yang kau lakukan dengan supnya hingga seperti itu?" tanya Kangin dengan nada tinggi.
"Molla hyung, aku kan hanya menuruti apa katamu. Kau suruh aku masukkan susunya, ya aku masukkan." Kyuhyun menerangkan.
"Lalu kenapa bisa seperti itu huh?" dumel Kangin. "Apa jangan – jangan kau masukkan susunya begitu saja tanpa mengecilkan apinya?"
"Nde, aku memang tak mengecilkannya. Memang harus?" tanya Kyuhyun dengan wajah polosnya. Semetara Kangin, mendengar ucapan magnaenya itu ia menepok jidatnya sendiri.
"Kenapa aku bisa lupa kalau si evil ini bodoh dalam hal memasak?" runtuk Kangin pada dirinya sendiri.
Ia menggambil nafas dalam lalu membuangnya, mencoba bersabar dengan situasinya saat ini, yang bertugas menjadi penanggung jawab untuk menggantikan Sungmin dan Ryeowook memasak.
Kalian mungkin binggung kenapa bukan Ryeowook atau Sungmin saja yang memasak, yang sudah jelas memiliki keahlian memasak jauh di atas member super junior lain yang sebagian besar memiliki kemampuan tak lebih dari 10% dalam hal ini, bahkan termasuk Kangin.
Apa lagi Kyuhyun. (*masih ingat legenda sungai han yang dibuatnya? atau peristiwa tersedaknya si evil itu karena makanannya sendiri?)
Ryeowook saat ini tengah pergi keluar dengan Sungmin. Tentu saja, karena hari ini ulang tahun eternal magnae itu otomatis tak mungkin dia juga yang menyiapkan kejutan pesta ulang tahun untuk dirinya sendiri kan?
Ia sengaja dibawa Sungmin keluar agar kejutan ini dapat berhasil sukses tanpa di ketahui Ryeowook sebelumnya, meski efek sampingnya adalah kita tak bisa berharap banyak bahwa pesta itu akan menghidangkan makanan – makanan lezat, jika yang tetap memasak makanan adalah member super junior dengan kemampuan memasak seperti itu.
"Huueekk …"
Suara orang muntah kontan membuat seluruh pasang mata menoleh ke arahnya. Ke arah namja cantik, sang Cinderella super junior.
"Kau kenapa hyung? Gwechanna?" tanya Shindong khawatir melihat hyungnya itu tiba – tiba mengeluarkan makanan yang di cicipinya tadi.
"Gwechanna kepalamu eoh? Aku hampir mati gara – gara makanan sialan itu." tunjuk Heechul pada semangkuk maeuntang di depannya.
Mata indahnya itu mendelik kesal. "Ya~ siapa yang membuat makanan laknat itu huh?" Heechul meninggikan suaranya.
"Memang kenapa hyung? Aku yang membuatnya." ucap Yesung datar.
"Ya~ Kim Jongwoon, apa sebenarnya yang kau masukkan ke dalam makanan itu huh?"
"Wae geurae (ada apa ini) Chullie-ah?" tanya Leeteuk, yang mulai terusik dengan keributan dongsaengdeulnya.
Dengan sikap seorang leader yang dimilikinya, ia menghampiri dongsaengdulnya dan berperan sebagai penengah.
"Kau lihat sendiri apa yang di lakukan Yesungie dengan masakannya itu." ucap Heechul sambil menenggak sebotol air mineral dari dalam kulkas hingga tandas.
Wajahnya memerah dan matanya mulai terlihat berkaca – kaca, tangannya terus ia kibaskan di depan mulutnya.
"Memang kenapa dengan masakannya?" tanya Ji-ah penasaran.
Bersama dengan Keisya yang mengekor di belakangnya, ia mendekati sumber keributan itu.
"Coba saja sendiri, dan kalian akan tahu betapa laknatnya masakan itu." dumel Heechul.
Penasaran— baik Leeteuk, Ji-ah, Keisya dan yang lain pun mencoba masakan buatan Yesung itu.
1 detik berlalu— masih tak ada reaksi apa pun.
2 detik berlalu— tetap tak ada yang terjadi
Namun saat detik ke-3,
"Uhuk …" Leeteuk, Kangin, dan Shindong tersedak, kedua wajah mereka memerah dan dengan langkah cepat, keduanya berlari menggambil sebotol besar air dari dalam kulkas.
"Hueeeekkk …" Eunhyuk, Donghae, Kyuhyun, Ji-ah dan Keisya memuntahkan makanan yang masih belum masuk ke tenggorokan mereka. Sama seperti 3 orang sebelumnya, mereka juga segera mencari air minum terdekat dan menenggaknya.
Ekspresi mereka semua tak jauh berbeda dengan ekspresi Heechul sebelumnya. Wajah yang memerah, mata berkaca, serta tangan yang terus mengibas di depan mulut berharap dengan usaha tersebut dapat meringankan rasa pedas di mulut mereka.
"Yesung hyung, kenapa maeuntag bikinanmu pedas sekali? Berapa banyak bubuk cabe yang kau masukkan, sebenarnya?" tanya Eunhyuk menahan pedas.
"Tak banyak, hanya satu sendok." jawab Yesung santai.
"Ya~ hyung, jangan bohong." ucap Shindong.
"Aniy, aku tak bohong. aku benar – benar memasukkan satu sendok sayur bubuk cabe."
"MWO!" pekik semua member bersamaan. Sedang Ji-ah dan Keisya hanya menutup telinga mereka dengan kedua telapak tanggannya agar suara nyaring ke tujuh namja itu tak merusak gendang telinga keduanya.
"Hyung, apa kau sudah gila memasukkan bubuk cabe sebanyak itu huh?" tanya Kyuhyun dengan nada tinggi. Yang lain mengganguk setuju, kecuali Yesung yang tetap memasang wajah datar seperti tak melakukan kesalahan apa pun.
"Aaiisshh kalau begini kenapa tak biarkan Ryeowook dan Sungmin hyung saja yang memasak? Biar saja yang ulang tahun yang memasak dari pada kita harus keracunan makanan – makanan ini." dumel Donghae.
"Tapi mereka sudah terlanjur pergi, tak mungkin kita tiba – tiba menyuruh mereka kembali padahal semuanya belum siap sama sekali." ucap Leeteuk lesu.
"Lalu sekarang kita harus bagaimana?" tanya Eunhyuk.
Yang lainnya menggeleng tak tahu harus berbuat apa.
"Bagaimana kalau biar aku saja yang memasak." Keisya yang sedari tadi diam dan hanya memperhatikan kini membuka suara.
~My choice~
"Leeteuk oppa, cepat iris bawangnya tipis - tipis." seru Keisya sambil mengaduk samgyetang (sup ayam gingseng).
Sekarang ini, keduanya tengah sibuk memasak di dapur dorm super junior. Sedangkan yang lain sibuk mendekorasi dorm.
"Nde." ucap Leeteuk dengan suara sedikit terisak menahan pedih di matanya.
"Oppa wae geurae? Kenapa kau menagis?" tanya Keisya heran melihat Leeteuk yang entah sejak kapan terus meneteskan air matanya, hingga hidungnya memerah.
"Aniy, nan gwechanna." ucap Leeteuk sambil terus melanjutkan kegiatannya.
"Kau yakin? Kau tak terlihat baik – baik saja oppa. Apa kau sakit?"
"Aniyo." Leeteuk menggeleng. Ia mengusap air matanya dengan jari – jari tangannya bermaksud mengentikan tangis, namun matanya malah semakin terasa pedih dan air mata semakin mengucur deras.
Keisya mengeryitkan alisnya. "Oppa, jangan – jangan kau menagis karena mengiris bawang?" tanya Keisya.
Leeteuk mengganguk malu.
"Aigoo oppa, kenapa kau tak bilang?" Keisya segera menggambil sapu tanganya dan membantu Leeteuk menggelap air mata namja itu.
Tangannya terjulur menyeka air mata Leeteuk dengan sapu tangan putih miliknya. Jemarinya secara tak langsung menyentuh pipi mulus Leeteuk dari balik kain persegi itu.
Saat mata keduanya tak sengaja bertaut, dalam sepersekian menit keduanya mematung. Saling menyelami mata satu sama lain.
Jantung Keisya berpacu cepat, berdetak gila – gilaan. Seirama dengan jantung Leeteuk saat ini.
Perlahan Leeteuk menaikkan tangannya, menyentuh tangan Keisya yang terjulur di pipinya. Membuat mata Keisya beralih menatap tangan Leeteuk yang kini menyentuh tangannya lembut.
Di sisi lain, Ji-ah memandang sepupu dan sahabat yang sudah di anggap oppanya sendiri itu dari kejauhan dengan khawatir.
Pesta kejutan untuk Ryeowook hari ini berjalan sukses dan meriah.
Berbagai macam makanan yang di sajikan Keisya menambah special ulang tahun Ryeowook hari ini, karena yeoja cantik itu tak hanya menghidangkan makanan korea saja.
Tapi juga beberapa makanan Indonesia, ia buatkan special untuk ulang tahun Ryeowook.
Dari mulai beberapa jenis gorengan khas indonesia, rawon, nasi goreng dan beberapa makanan lainnya, ia siapkan untuk menambah penuh meja makan dorm lantai sebelas itu
"Gomawo Keisya-ssi." ucap Ryeowook mengantar kepergian Keisya dan Ji-ah dari depan pintu apartement. "Masakan buatanmu sangat enak, ku harap kapan – kapan kau bisa mengajariku membuatnya."
"Tentu saja oppa, dengan senang hati aku akan mengajarimu lain waktu." ucap Keisya.
"Kalau begitu kami pulang dulu, oppa." pamit Ji-ah dan Keisya kemudian.
Malam harinya.
Keisya menenggadahkan tangan kanannya ke atas, sejajar dengan wajahnya.
Dilihatnya telapak tangan itu lekat – lekat, tangan yang dengan sengaja di sentuh oleh namja yang mampu menggetarkan hatinya. Membuat jantungnya berdegup tak normal setiap kali berada didekatnya.
Jarum jam yang ada di atas nakasnya yang kini sudah menunjuk pada angka 11 dan bentangan langit gelap di luar jendela kamarnya tak membuatnya berfikir untuk segera tidur, tapi malah memilih untuk kembali menginggat saat dimana manik – manik mata coklatnya itu bertatapan langsung dengan bola mata Leeteuk.
Tak jauh berbeda dengan saat itu, sekarang jantungnya lagi – lagi berpacu tak karuan. Rona merah tergambar di pipi mulusnya yang seperti porselen ketika minginggat bagaimana dengan lembut Leeteuk memegang tangannya.
"Ya Allah, bagaimana ini? Sepertinya hal ini akan sangat sulit." gumam Keisya sambil memegang dada sebelah kirinya.
Leeteuk segera menghentikan permainannya begitu menyadari keberadaan Keisya yang tengah berjalan dengan setumpuk buku tebal yang tersusun di atas kedua tangannya hingga menutupi sebagian wajahnya di sudut lapangan.
"Mau ku bantu?" tawar Leeteuk yang kemudian menggambil sebagian dari tumpukan buku yang di bawa Keisya.
"Eo, oppa. Ti – tidak perlu, aku bisa sendiri kok." ujar Keisya sedikit terbata.
"Sudahlah, ayo cepat." kata Leeteuk yang sudah berjalan di depan Keisya.
"Untuk apa kau membawa buku sebanyak ini?" tanya Leeteuk saat Keisya mulai menyamai langkah kakinya.
"Choi sonsaengnim yang menyuruhku untuk membawa semua buku ini ke perpustakaan." terang Keisya.
"Aisshh, sonsaengnim tua bangka itu, bisa – bisanya menyuruh seorang yeoja membawa buku sebnayak ini." cibir Leeteuk.
Keduanya terus menggobrol, tanpa menyadari seseorang dari jauh tengah memperhatikan keduanya sambil mengarahkan ponsel di genggamannya ke arah mereka.
"Gamshahamnida." Keisya dan Leeteuk membungkukkan badannya ke petugas penjaga perpustakaan, lalu pergi meninggalkan ruagan berisi tumpukan buku itu.
"Setelah ini kau mau pergi kemana? Apa ada kelas lagi?" tanya Leeteuk.
"Opso. Kuliahku sudah selesai sejak beberapa jam yang lalu. Aku hanya perlu menunggu Ryeowook oppa selesai kuliah, setelah itu baru pulalng bersamanya." terang Keisya.
"Ryeowookie?" Leeteuk menghentikan langkahnya.
Keisya menoleh dan menatap heran Leeteuk yang tiba – tiba berhenti di belakangnya.
"Waeyo oppa? Ada yang salah?"
"Kau, kenapa mennunggu Ryeowookie?"
"Ah, dia memintaku mengajarinya membuat makanan khas Indonesia seperti yang ku buat kemarin saat ulang tahunnya seusai dia kuliah dank arena itu aku menunggunya." jawab Keisya. "Waeyo oppa? Apa ada yang salah.?"
Leeteuk menggeleng cepat. Raut wajah yang tadi sempat terlihat murung dan kecewa, sekarang kembali cerah mendengar bahwa ternyata Keisya menunggu Ryeowook hanya untuk mengajari koki super junior itu memasak.
"Aniyo, kajja." Leeteuk kembali melangkah menghampiri Keisya yang masih berada beberapa langkah di depannya.
"Keisya awas." teriak seorang namja bertubuh kekar dari arah lapangan kontan membuat Leeteuk menarik tangan Keisya hingga tubuh yeoja itu tak sengaja masuk dalam dekapannya.
"Ya~ Kim yong won, hati – hati kalau melempar bola." teriak Leeteuk pada Kangin yang berlari ke arahnya untuk menggambil bola basketnya yang meleset.
"Hehehe … mianhae hyung." ucap Kangin mempertontonkan gigi putihnya yang tersusun rapi, lalu meninggalkan keduanya.
"Keisya, neo gwechanna?" tanya Leeteuk.
Tubuhnya tiba – tiba seperti mati rasa saat menyadari posisinya sekarang.
Tangan kanannya memegang tangan kiri Keisya di belakang tubuhnya sedang tangan kirinya memegang kepala Keisya yang berbalut kain berwarna cream hingga bersandar di bagian dada sebelah kirinya.
Tubuhnya yang selama ini selalu memiliki jarak sekian centi dari Keisya meski sedang jalan bersama, kali ini berbeda, jarak itu lenyap.
DEG~
Keisya dapat mendengar degup jantung Leeteuk dengan jelas saat ini, karena kepalanya yang bersandar di dada bidang Leeteuk dengan telinga yang mengarah persis di bagian letak jantung namja itu berada.
Debaran jantung itu berpacu tak normal. Detakkan jantung itu bahkan bisa 10 kali berdetak hanya dalam satu detik, tak jauh berbeda dengan detak jantungnya sendiri saat ini.
Matanya mengerjap sedang pipinya memanas, nafasnya terasa sesak.
Seumur hidupnya, ini kali pertama Keisya ada dalam dekapan seorang namja seperti ini selain dengan appanya.
Ckrik … ckrik … ckrik …
Suara jepretan kamera dari seseorang yang tak di ketahui keberadaannya oleh Leeteuk dan Keisya, membuat Leeteuk segera melepas pelukannya dengan kikuk.
"Mianhae." ucap Leeteuk sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal, sedangkan Keisya hanya menunduk.
Di balik dinding, seseorang menurunkan ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku bajunya.
Raut wajahnya terlihat kesal dan tak bersahabat.
"Aish, menyebalkan. Lihat saja nanti."
Ia menghentakkan kakinya ke tanah berulang kali lalu berbalik dan berjalan menjauhi Keisya dan Leeteuk.
"Wa'alaikumsalam."
"…"
"Alhamdulillah, kabar Keisya baik, ma."
"…"
"Tenang saja ma, Keisya sama sekali tidak kesulitan tinggal disini. Ada Ji-ah eonni yang membantu Keisya beradaptasi di sini."
"…"
"Ku mohon ma, jangan bahas itu lagi. Bilang saja pada ayah, apa pun alasannya Keisya tetap tidak mau. Ini bukan zamannya untuk hal seperti itu lagi ma."
" …"
"Keisya mohon."
"…"
"Terima kasih ma. Kalau gitu Keisya tutup telponnya ya, Assalamu'alaikum."
Keisya mengakhiri sambungan telponnya begitu ibunya yang berada di Indonesia membalas salamnya.
"Nugu?" tanya Ryeowook yang sejak tadi berdiri di samping Keisya sambil mengupas kulit bawang.
"Nae eomma di Indonesia." jawab Keisya. Ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku dan mulai mengiris wortel.
"Keisya aku boleh tanya sesuatu?" tanya Leeteuk yang sejak tadi hanya duduk memperhatikan Ryeowook dan Keisya memasak ke dapur dorm Super Junior.
"Nde, tanya apa oppa?"
"Ucapanmu tadi, eemm ass – ass – aselakum?" kata Leeteuk ragu dengan pengucapannya.
"Aselakum?" dahi Keisya berkerut.
"Maksud oppa assalamu'alaikum?"
"Ah, nde. Ass – ass –"
"Assa – la" Keisya coba membantu Leeteuk mengucapkannya dengan benar.
"Assa – la" Leeteuk mengikuti.
"Mu'alai"
"Mu'alai"
"Kum"
"Kum"
"Assalamu'alaikum"
"Assalamu'alaikum." Keisya tersenyum dan mengganguk saat Leeteuk berhasil mengejanya dengan benar.
"Assalamu'alaikum, apa itu artinya?" tanya Leeteuk penasaran.
"Eo, itu salam tegur sapa untuk sesama muslim oppa." terang Keisya.
#Di tempat lain
Seseorang tengah sibuk berkutat dengan laptopnya.
Beberapa gambar dua orang yang tengah bersama dengan sengaja ia upload ke dalam beberapa blog dan juga berbagai jejaring social, hingga dnegan cepat menyebar ke dunia maya.
Tak lupa juga dia menambahkan keterangan – keterangan yang menggambarkan gambar – gambar yang di uploadnya itu, dengan kata – kata yang terkesan berlebihan dan sebenarnya tak sesuai kenyataan.
TBC
