My choice
Tittle: My choice
Cast: Leeteuk, Keisya
Support Cast: Heechul, Yesung, Kangin, Shindong, Sungmin, Eunhyuk, Donghae, Siwon, Ryeowook, Kyuhyun, Ji ah.
Genre: Romance, Friendship
Rating: Fiction T
Warning : EYD kurang baku, Geje , tak banyak menggunakan kosa kata Korea, alur membinggungkan.
Don't like it? Don't read it please.
Summary: "Ya~ Park jung soo,ige mwoya?" bentak Kim Jung Hoon./ "Mwo. Ada apa dengan Keisya? Apa yang terjadi dengannya oppa?" tanya Ji ah panik.
DON'T BE A PLAGIATOR !
Happy reading chingudeul !
Chapter 5
"Assalamu'alaikum Keisya." sapa Leeteuk saat Keisya masuk ke dalam kelas dan menghampiri bangkunya yang berada persis di sebelah Leeteuk.
"Nde." jawab Keisya sopan. Ia tahu persis bagi seorang muslim tak diperbolehkan untuknya menjawab salam dari seseorang yang bukan muslim, karena itu Keisya hanya mengganguk dan menjawabnya dengan kata yang berarti "iya".
"Hyuuunggg . . ." teriak seorang namja tinggi kurus dari arah pintu kelas berlari menghampiri Leeteuk.
Di belakanganya satu orang namja dengan tubuh berisi dan satu lagi namja berbadan kekar mengekor.
"Ya~ Kyuhyunie, ini kelas, jangan berteriak – teriak seperti itu." omel Leeteuk.
"Gawat hyeong, gawat." ucap Kyuhyun tak memperdulikan omelan hyeongnya itu dan malah menyodorkan sebuah majalah ke Leeteuk.
"Apanya yang gawat?" Leeteuk mengerutkan alisnya.
Raut wajah magnaenya yang menegang itu membuatnya cemas. Ia menggambil majalah yang di sodorkan Kyuhyun dan mulai membaca kalimat bercetak tebal sebuah artikel yang Kyuhyun tunjuk.
"LEETEUK SUPER JUNIOR BERPACARAN DENGAN SEORANG WANITA MUSLIM"
"Mwo!" pekik Leeteuk setelah membaca judul artikel tersebut.
Iris coklatnya semakin melebar saat melihat foto dirinya dengan Keisya yang terlihat berpelukan tercetak persis di bawah judul artikel tersebut.
"Mwoya?" ulang Leeteuk. Ia menatap Kyuhyun dan dua dongsaeng lainnya meminta kejelasan.
"Mollayo hyeong." Kyuhyun menggeleng.
"Beritanya sudah menyebar hyeong, bahkan di internet juga sudah ramai di bicarakan." terang Shindong.
"Eottokhe hyeong?" tanya Kangin yang berdiri di sebelah Kyuhyun dengan wajah yang tak kalah khawatir.
"Waeyo oppa?" tanya Keisya yang sejak tadi hanya diam memandang heran keempatnya.
Leeteuk menyodorkan majalah yang di pegangnya ke Keisya, yang menerimanya binggung dan seketika langsung shock membaca judul dan melihat fotonya bersama Leeteuk termuat di dalamnya.
Ia memadang Leeteuk meminta penjelasan namun namja tampan itu hanya menggeleng, menandakan dirinya juga tak tahu bagaimana bisa berita tentang keduanya termuat di sana.
"Ya~ Park jung soo,ige mwoya?" bentak Kim Jung Hoon.
Ia menghentakkan berbagai majalah dan surat kabar lainnya yang memuat berita tentang Leeteuk dengan Keisya.
"Mollaseoyo hyeong." jawab Leeteuk sambil menunduk.
Saat ini dirinya sedang berada di ruang Jung Hoon untuk disidang atas kasusnya. Wajah manajer super junior itu memerah padam akibat isu anak asuhnya. Berkali – kali ia harus menggangkat telpon yang tak terhitung jumlahnya dari berbagai pihak, baik dari majalah, stasiun TV, radio dan lainnya.
Ibu jari dan jari telunjuknya terangkat memijat pelipisnya yang terasa sakit.
"Kau tahu seberapa besar masalah yang kau buat huh? Berpacaran dengan yeoja muslim? Berita macam apa itu? Kau tahu diluar sana puluhan yeoja mengepung SMent meminta kejelasan. Ratusan orang mencaci, berkomentar pedas, dan bahkan tak sedikit yang mengunfollow media sosialmu, neo arra?" bentak Jung Hoon geram.
"Aaiisshhh kau membuat pekerjaanku semakin menumpuk." Jung Hoon mengacak rambutnya frustasi.
"Mianhae hyeong." lirih Leeteuk sambil menunduk.
Jung Hoon menghempaskan tubuhnya, duduk di kursinya.
Namja berumur beberapa tahun diatas Leeteuk itu menghembuskan nafasnya berat mendengar suara lirih Leeteuk yang sudah dianggap dongsaengnya sendiri seperti member Super Junior yang lain.
"Geurae … yeoja nugu?" suara Jung Hoon melemah.
Leeteuk memandang manajernya itu sebentar.
"Yeoja yang diberitakan denganmu itu. Nuguya?" tanya Jung Hoon lagi.
"Namanya Keisya, dia sepupu Ji-ah. Dongsaeng kesayanganmu yang selalu kau manjakan." jawab Leeteuk.
"Nuguya? Ji-ah? Shin Ji ah?" Jung Hoon memastikan. "Aku tak pernah tahu Ji ah punya saudara."
"Amutdeun, sekarang yang terpenting sebaiknya kau hindari yeoja bernama Keisya itu. Jangan buat berita semakin membesar, neo arra?" Jung Hoon memperingatkan.
Di apartement Ji ah, Keisya juga harus bersedia di ceramahi habis – habisan.
"Ya~ bagaimana kau bisa masuk berita seperti ini dengan Leeteuk oppa huh? Dan foto apa ini?" cecar Ji ah meminta penjelasan sepupunya.
"Mollaseoyo eon." lirih Keisya.
Ji ah mengacak rambutnya frustasi.
"Aiissshhh, jinjja. Coba katakan hal lain selain itu. Kau terus bilang tak tahu setiap ku tanya. Lalu foto – foto ini? Bagaimana bisa kau terfoto dalam adegan seperti ini dengannya huh?"
Keisya menggeleng dan untuk kesekian kalinya dia bilang tidak tahu.
"Saat itu Leeteuk oppa hanya berusaha menolongku yang hampir terkena bola. Aku tak tahu kalau ada yang menggambil gambar kami dan membuat semua orang salah paham seperti ini." cerita Keisya.
Ji ah memijat keningnya yang terasa pening. Ia lalu duduk disamping Keisya dan menghadap sepupunya itu.
"Aaiisshh, kau akan dapat masalah besar karena berita ini, neo arra?"
Keisya memincingkan sebelah matanya. "Masalah apa?"
Ji ah hendak membuka suara menjelaskan saat bel apartemennya berbunyi.
"Huh, siapa yang bertamu di saat seperti ini sih?" dumel Ji ah kesal.
Ia bangkit berdiri segera membuka pintu apartemennya.
Seorang ajhumma berdiri di depan pintu apartemen Ji ah saat pintu terbuka. Ji ah menggenali ajhumma itu sebagai tetangga yang tinggal di sebelahnya.
"Annyeong Ji ah-ssi mian menggangu." sapa ahjumma itu.
Ji ah membungkukkan badannya sopan.
"Ne ahjumma, annyeong. Ada apa?"
"Emm … Ji ah-ssi, kau kenal dengan kumpulan yeoja yang berada di bawah?"
"Ne, kumpulan yeoja?" ahjumma mengganguk.
"Kumpulan yeoja di bawah itu sangat berisik. Mereka terus berteriak sambil membawa spanduk dan memaki tak jelas. Membuat penghuni apartemen yang lain juga terganggu. Petugas yang berjaga berusaha mengusir mereka, tapi sepertinya mereka kewalahan. Jebal Ji ah-ssi tolong hentikan mereka." ucap ahjumma.
"Ne ahjumma, aku akan berusaha meredam mereka. Jweseonghamnida sudah membuat ahjumma dan penghuni yang lain terganggu." Ji ah menundukkan kepalanya sopan sebelum wanita paruh baya itu pergi.
Ia segera melesat ke dalam apartemen begitu menutup pintu.
"Waegeurae eonni?" tanya Keisya penasaran. Ia mengikuti langkah Ji ah menuju jendela dan memandang ke bawah.
Puluhan yeoja tengah berteriak dengan spanduk bergambar foto Keisya dan Leeteuk dengan coretan silang besar.
"Ya~ yeoja tak tahu diri keluar kau! Kami tak rela kau dengan oppa kami." teriak seorang yeoja berambut coklat tergerai. Yeoja – yeoja di sekitarnya berseru membenarkan.
"Jauhi oppa kami. Leeteuk oppa hanya milik kami." pekik yeoja yang lain dengan suara tak kalah keras. Lagi – lagi yang lain berseru membenarkan.
Ji ah berbalik kesal dan segera menyambar ponselnya di atas meja.
Ia menekan beberapa angka di layar ponselnya dan menempalkan ponsel itu di telinga kanannya. Wajahnya terlihat kusut dan kesal.
"Yeoboseo— ya~ oppa cepat bawah suruhanmu ke sini. Usir semua yeoja yang membuat keributan di bawah apartemenku." pekik Ji ah pada seseorang di sebrang telpon kemudian mematikan sambungannya.
"Kau sudah lihat masalah yang timbul karena berita itu?"
Keisya mencoba mencerna ucapan Ji ah, menit berikutnya ia mengganguk mengerti dan sedikit berjingkit mendengar ucapan Ji ah selanjutnya.
"Dan ini bukan apa – apa. Mereka bisa melakukan hal yang lebih parah. Kau harus siapkan dirimu mulai sekarang. Hindari Leeteuk oppa agar berita tak semakin membesar."
09.30 a.m
Keisya berjalan lesu di lorong kampusnya. Entah untuk kesekian kalinya ia menghembuskan nafasnya berat karena harus berjalan lebih jauh menuju kelasnya selanjutnya.
Ia terpaksa mengambil jalan memutar, melewati lorong – lorong sepi yang tak banyak mahasiswa lain berlalu lalang.
Berita mengenai dirinya dan Leeteuk sejak beberapa hari yang lalu tak hanya membayanginya di apartemen Ji ah, tapi juga di kampus.
Semua mahasiswa yeoja yang merupakan fans Super Junior berjuluk ELF itu mencecarnya habis – habisan dan tak membiarkan hidupnya tenang berada di kampus.
Bahkan beberapa dari mereka sengaja menjegal kakinya saat berada di toilet dan maju ke depan kelas.
Tak sedikit juga yang dengan sengaja menabrak dan menyenggolnya kasar.
Seperti sekarang ini, sudah hampir beberapa meter lagi dirinya akan sampai di kelasnya jika sebuah kaki tidak terjulur hingga membuatnya terjatuh.
"Uppss." desis yeoja yang dengan sengaja menjegalnya.
Keisya menghela nafasnya berat, mencoba bersabar.
"Neo Gwaenchana?" sebuah suara membuat Keisya menoleh.
Seorang yeoja dengan rambut coklat bergelombang membantunya berdiri dan menggambilkan tas serta bukunya yang berserakan.
"Gomawo, nan gwaenchana." ucap Keisya.
Raut wajahnya terlihat binggung, meski senyum terukir diwajahnya. Ia tak menggenali yeoja disebelahnya ini.
"Ya~ neo!" pekik yeoja itu. jari telunjuknya menunjuk yeoja yang menjegal Keisya.
"Cepat minta maaf. Kau sengajakan menjegalnya tadi. Aku melihatnya." ucap Yeoja berambut coklat itu.
"Ya~ siapa yang menjegalnya huh? Dia sendiri yang tak punya mata dan menyandung kakiku. Aaiisshh appo." ringis yeoja yang itu, berpura – pura kakinya sakit.
"Aaiisshhh neo …"
"Sudah hentikan, ku rasa memang aku yang salah. Kajja." ucap Keisya.
Ia kemudian menarik lengan yeoja berambut coklat itu setelah menundukkan kepalanya meminta maaf pada yeoja yang menjegalnya.
"Ya~ kenapa kau yang malah meminta maaf tadi?" yeoja berambut coklat itu menepis tangan Keisya yang menariknya menjauh.
"Ada apa dengan yeoja ini? Aku yang dijegal kenapa dia yang marah – marah?" batin Keisya.
"Aaiisshh, yeoja itu. Rasanya aku ingin mencakar wajahnya." dumelnya lagi.
"Sudah lupakan saja. Toh aku juga baik – baik saja." ucap Keisya sabar. "Gomawo sudah membantu dan membelaku tadi."
"Geurae, gwaenchana." yeoja berambut coklat itu mengibaskan tangan kanannya.
"Geundae … neo, nuguseyo?" tanya Keisya.
"So Eun, nan Kim So Eun imnida." So Eun mengulurkan tangannya.
"Keisya imnida. Bagapda." Keisya membalas uluran tangan So Eun.
"Jadi— kau yeoja muslim itu? Yeoja yang dikabarkan dengan Leeteuk."
Keisya mengganguk. "Kurasa begitu."
"Apa kalian sungguh berpacaran?"
Keisya menggeleng cepat.
"Aniya, kami hanya berteman."
"Geurae … Hari – harimu pasti sulit karena berita itu. Kau sepertinya sedang dibully fans Super Junior." ucap So Eun.
"Begitulah."
Keisya melirik jam di tangan kanannya. Waktunya untuk masuk kelas.
"Mian So Eun-ssi—"
"Ah, jangan panggil aku seformal itu." sela So Eun.
"Nde, emm So Eun-ah, aku harus pergi sekarang. Lima menit lagi aku ada kelas."
"Di kelas mana? Siapa tahu kita sekelas."
Keisya menunjuk sebuah ruangan tak jauh dari mereka yang hanya berjarak sekitar satu meter.
"Jeongmalyo? Jadi kita benar – benar sekelas." ucap So Eun semangat. Ia kemudian menarik tangan Keisya menuju kelas mereka.
"Yeoja yang sangat periang dan baik." batin Keisya melihat So Eun.
Leeteuk memandang ke depan lesu. Meski tubuhnya kini tengah duduk di dalam kelas, namun fikirannya saat ini tak berada disana.
Rasa rindu karena tak bertemu dengan yeoja yang telah mencuri hatinya membuatnya tak hanya tak dapat berkonsentrasi dengan pelajarannya tapi juga menggangu tidurnya.
2 hari ini ia harus menghindari yeoja berkrudung itu, 2 hari ini pula ia sulit tidur.
Berita tentang dirinya dan Keisya yang sudah menyebar selama 3 hari ini membuatnya kesal karena tak bisa dekat lagi dengan Keisya.
Sempat tadi siang ia melihat Keisya yang berjalan menuju kelasnya dan berfikir untuk mengingkari janjinya pada Jong Hoon untuk menjauhi Keisya, namun urung saat melihat seorang yeoja yang dengan sengaja menjulurkan kakinya agar Keisya jatuh tersandung.
Ia juga hendak berlari untuk membantu Keisya berdiri, tapi niatnya itu kembali tak jadi dilakukannya begitu melihat seorang yeoja lain dengan rambut berwarna coklat bergelombang mendekati Keisya dan membantunya.
"Dia pasti harus menghadapi masalah besar karena berita itu." batin Leeteuk miris.
Ia tak tahu harus berbuat apa agar fansnya yang salah paham berhenti membully Keisya.
Kasihan yeoja itu karena harus menerima perlakuan kasar yang tak seharusnya ia dapatkan.
Ia masih ingat saat Ji ah menelpon Joon Hoon dan meminta manajernya itu untuk mengusir para fans yang membuat keributan di bawah apartementnya dan kejadian tadi siang itu juga sebagai bukti bagaimana Keisya mendapat perlakuan yang tak menyenangkan.
"Hyeong, neo Gwaenchana?" bisik Sungmin yang kali ini sekelas dengannya.
Namja aegyo itu sedari tadi juga tak konsen dengan pelajarannya karena khawatir melihat hyeongnya yang sedari tadi terus melamun.
"Nde, Gwaenchana." jawab Leeteuk datar.
"Kau melamun hyeong?"
"Aniy." Sungmin kembali melihat kedepan kelas. Tak berani bertanya lebih lanjut.
11.00 a.m [ kelas Keisya ]
"Jweseonghamnida songsaengnim." Keisya mengangkat tanganya untuk permisi ke toilet.
Ia segera keluar setelah songsaengnim yang mengajar mempersilahkannya.
Keisya pergi ke toilet seorang diri. Ia berjalan menyusuri koridor dan berbelok di sudut ruangan yang tak terlalu jauh dari ruang kelasnya.
Ia menutup salah satu bilik pintu kamar mandi tanpa menyadari ada seseorang yang diam – diam mengikutinya.
Dengan sebuah sapu, orang itu menganjal pintu tempat Keisya berada.
Keisya yang menyadari ada yang tidak beres di luar mencoba membuka pintu tapi tak bisa.
"Eo, kenapa tak bisa dibuka." ucap Keisya was – was.
"Chogiyo, apa ada orang diluar?" tanya Keisya dengan suara bergetar, namun tak ada sahutan.
"Jebal, buka pintunya." pinta Keisya.
Ia mencoba membuka knop pintu itu lagi tapi nihil. Seseorang benar – benar menguncinya.
Di balik pintu tempat Keisya berada, seseorang yang menguncinya menggambil ember penuh air dan menyiramkannya pada Keisya dari atas, membuat yeoja itu basah kuyup.
"Rasakan." orang itu mendesis pelan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis penuh arti. Ia kemudian berlari kecil kembali ke kelasnya meninggalkan Keisya di dalam kamar mandi berteriak minta tolong.
Tak lupa sebelum pergi ia menempelkan kertas bertuliskan "TOILET RUSAK" di depan pintu kamar mandi agar tak ada seorang pun yang masuk.
12.45 [ perkuliahan berakhir ]
"Sungminie, kau pergi saja dulu menemui yang lain. Aku mau ke toilet dulu, sudah kebelet dari tadi." ucap Leeteuk lalu berlari pergi meninggalkan Sungmin.
"Aaiisshh kenapa toilet terdekat saja jauh sekali sih tempatnya." gerutu Leeteuk masih terus berlari.
Ia segera melesat masuk ke dalam toilet di sudut ruangan di ujung koridor dan tak berapa lama kemudian ia keluar.
"Ah, lega." ucapnya lalu beranjak menyusul Sungmin.
Namun baru dua langkah ia berjalan, suara samar – samar isak tangis terdengar dari pintu toilet yeoja di sebelahnya, membuat langkahnya terhenti.
Dahinya berkerut, di bacanya tulisan yang tertempel di depan pintu itu.
"Kalau toiletnya sedang rusak, seharusnya tak ada seorang pun didalam kan?" batin Leeteuk bertanya pada dirinya sendiri.
"Lalu kalau begitu, siapa yang menangis di dalam? Apa jangan - jangan—" Leeteuk menggeleng cepat. "Aniy … aniya … masak ada hantu di siang bolong." ucapnya lagi.
Dengan ragu, Leeteuk membuka pintu toilet yeoja di sebelahnya. Memastikan asal suara isakan tersebut.
"Ada orang di dalam?" tanya Leeteuk, namun tak ada sahutan.
Di tempat Keisya terkurung, Keisya terus memutar knop pintu yang tak kunjung terbuka dengan tangan kanannya yang mulai lelah sambil meringkuk di dalam kamar mandi.
Tangan kirinya memeluk tubuhnya yang bergetar menahan dingin dan tangis.
Ketakutan membuatnya tak bisa mendengar suara Leeteuk yang berada di luar.
"Tolong … tolong aku … siapa saja kumohon buka pintunya." lirih Keisya. Suaranya sangat lemah dan tak terdengar.
Leeteuk yang merasa tak kunjung mendapatkan respon, berniat kembali. Namun urung saat melihat pintu kamar mandi yang terletak paling ujung terganjal sapu. Terlihat mencurigakan baginya.
Langkah kakinya kini kembali melangkah menghampiri pintu toilet yang terletak paling ujung. Sebelah alisnya terangkat, melihat knop pintu yang terus bergerak. Ditambah suara tangis yang semakin jelas. Suara yang terasa tak asing baginya.
"Chogi, ada orang di dalam?" tanya Leeteuk lagi. Ia menggetok pintu di depannya membuat Keisya sedikit tersentak.
Dengan sisa kekuatannya Keisya menyahut. "Nde, siapa di sana? Jebal, keluarkan aku." lirih Keisya. Meski suaranya hanya seperti bisikan tapi untung Leeteuk bisa mendengarnya.
"Keisya, kau di dalam? Apa yang terjadi?" tanya Leeteuk yang seketika menjadi panik mendengar suara Keisya.
"Seseorang mengurungku, jebal keluarkan aku." ucap Keisya masih dengan suara lemahnya.
"Nde, chakkaman. Aku akan menggeluarkanmu."
Leeteuk segera menyingkirkan gagang sapu yang mengganjal pintu toilet tempat Keisya berada.
Begitu pintu terbuka Keisya segera menghambur ke dada bidang Leeteuk. Memeluk namja itu erat karena ketakutan.
Tangisnya pecah. Leeteuk mengusap pelan kepala Keisya dengan tangan kanannya sedang tangannya yang bebas menepuk pundak yeoja itu, berusaha menenangkan Keisya.
"Neo Gwaenchana? Tenanglah, kau sudah keluar sekarang. Uljima …" ucap Leeteuk.
Keisya mengganguk lemah dalam dekapan Leeteuk.
"Kita keluar dari sini, ne … kajja." Leeteuk melepas jaket yang di kenakannya, menyampirkannya di bahu Keisya dan menuntunnya keluar.
"Omo Keisya, kau dari mana saja?" So eun berlari menghampiri Keisya dan Leeteuk.
Sebuah tas tersampir di pundaknya dan tangannya yang bebas membawa tas lain milik Keisya yang tertinggal di kelas saat izin ke kamar mandi.
"Eoh, Leeteuk oppa annyeong." sapa So Eun.
"Annyeong. Kau teman Keisya?" tanya Leeteuk. So Eun mengganguk.
"Nde, nan So Eun imnida. Keisya kenapa oppa?" tanya So Eun melihat teman barunya itu basah kuyup dan hanya diam menunduk.
Wajahnya yang putih terlihat sangat pucat. Bibir tipisnya bergetar, sepertinya menahan dingin. Ia menyilangkan kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri yang juga terlihat gemetar dengan erat.
"Seseorang mengurungnya di toilet dan menyiramnya." terang Leeteuk.
"Omo, jeongmalyo? Keisya neo Gwaenchana? Siapa yang melakukannya?" tanya So Eun terkejut. Namun Keisya sama sekali tak merespon. Bibirnya seakan kelu karena kedinginan.
"So Eun-ssi, apa tas itu milik Keisya?" Leeteuk menunjuk tas biru yang di pegang So Eun.
"Nde oppa."
"Bisa kau berikan padaku? Aku akan menggantar Keisya pulang."
So Eun mengganguk dan memberikan tas ransel biru di tangannya pada Leeteuk yang kemudian menuntun Keisya pergi.
"Yeoboseo Kangin-ah."
"…"
"Mian aku tak bisa menemui kalian di kantin. Apa Ji ah bersama kalian?"
"…"
"Geurae, kalau begitu katakan padanya untuk segera pulang. Terjadi sesuatu pada Keisya dan sekarang ini aku sedang mengantarnya pulang."
"…"
"Nde, nanti akan aku ceritakan. Kalau begitu ku tutup dulu telponnya."
Leeteuk menutup sambungan telponnya lalu menatap yeoja yang duduk di sebelahnya sambil memegang kemudi dan tetap berusaha fokus pada jalanan di depannya.
"Neo gwaenchana?" tanya Leeteuk khawatir.
"Nde oppa, nan gwaenchana. Gomawo." ucap Keisya masih dengan suaranya yang lemah.
"Kau mau aku menaikkan suhu penghangatnya?"
Keisya menggeleng pelan. "Aniyo oppa. Ini sudah cukup menghangatkan."
"Geurae." Leeteuk mengangguk mengerti.
Ia menggantar Keisya hingga sampai di apartemennya, namun begitu sampai, keduanya terpaksa harus lewat belakang karena fans Super Junior ternyata masih banyak yang menggerubungi apartemen sederhana itu lagi, lengkap dengan spanduk dan makian seperti biasanya.
Keisya mempersilahkan Leeteuk untuk masuk ke dalam apartement Ji ah. Keduanya kini duduk di ruang tengah.
"Kau tahu siapa yang menguncimu di toilet?" tanya Leeteuk.
"Mollaseoyo oppa. Yang ku tahu bagitu aku masuk, seseorang langsung mengunciku dan menyiramku dari atas." terang Keisya.
"Mian, semua ini pasti karena berita itu." lirih Leeteuk.
"Gwaenchana oppa. Ini bukan salahmu, semua ini hanya salah paham." ucap Keisya sambil tersenyum lembut.
"Emm … kau mau minum apa oppa? Biar ku buatkan." Keisya bagkit berdiri. Ia hendak menuju dapur membuatkan Leeteuk minum, namun baru beberapa langkah tubuhnya limbung dan merosot turun.
"Keisya." pekik Leeteuk. Ia segera bangkit, berlari menghampiri Keisya.
Beruntung tangganya sempat menopang Keisya sebelum tubuhnya yang pingsan jatuh ke lantai.
"Keisya irona …" Leeteuk menepuk kedua pipi Keisya pelan berusaha membuatnya bangun.
"Keisya … jebal irona."
Leeteuk menempatkan telapak tangannya pada kening Keisya. Raut wajahnya semakin terlihat khawatir mengetahui suhu tubuh Keisya yang sangat tinggi
"Keisya kau demam? Omo Keisya, jebal irona ..." Leeteuk kembali menepuk pelan pipi Keisya, namun tak ada respon. Mata Keisya tetap terpejam.
Leeteuk menggangkat tubuh Keisya, menggendongnya ala bridal styleke dalam kamar.
Ia terlihat sangat khawatir dan kebinggungan. Di rogohnya kembali saku celannya, menggambil ponsel dan menghubungi seseorang uisa kenalannya.
"Eoddeokhae hyeong?" tanya Leeteuk begitu dokter Kim selesai memeriksa Keisya.
"Dia hanya demam dan terlalu lelah. Aku sudah memberinya obat jadi kau tak perlu cemas Teukie-ah."
"Geurae … gomawo hyeong." Dokter Kim mengganguk.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Aku masih punya banyak pasien. Jangan sungkan memanggilku jika kau butuh sesuatu."
"Nde, jeongmal gomawo hyeong. Josimhae."
Leeteuk menggantar dokter Kim hingga ke depan pintu dan kemudian menutupnya kembali setelah dokter yang hanya beberapa tahun lebih tua darinya itu menghilang di belokan.
Ia kembali masuk ke kamar Keisya, memeriksa kembali suhu tubuhnya dengan meletakkan telapak tangan kanannya pada kening Keisya, sedang tangan kirinya ia tempelkan pada keningnya sendiri. Menyamakan suhu tubuhnya dengan suhu tubuh Keisya yang masih terbaring lemah.
"Sepertinya obatnya mulai bekerja." gumam Leeteuk, saat merasa suhu tubuh Keisya tak sepanas sebelumnya.
Ia membenarkan letak selimut Keisya lalu beranjak pergi kedapur, menggambil baskom berisi air dan handuk kecil untuk mengkompres Keisya.
Leeteuk duduk di tepi ranjang dan mulai mencelupkan handuk itu ke dalam baskom, memerasnya sebentar sebelum kemudian di letakkanya di atas kening Keisya.
13.15 a.m
Di kampus besar Kyunghae University, Sungmin dan Kangin tengah berdiri sambil bersendar pada dinding sebuah kelas.
"Ji ah." seru Sungmin begitu melihat Ji ah yang baru selesai mengikuti perkuliahan.
"Oppa. Sedang apa kalian disini?" tanya Ji ah heran melihat keduanya.
"Menunggumu." jawab Kangin singkat, membuat Ji ah semakin mengeryitkan alisnya.
"Leeteuk hyeong menyuruh ku menyampaikan padamu untuk segera pulang. Terjadi sesuatu pada Keisya." lanjut Sungmin.
"Mwo. Ada apa dengan Keisya? Apa yang terjadi dengannya oppa?" tanya Ji ah panik.
"Mollaseo. Sebaiknya kau segera pulang, kami akan menggantar. Yang lain juga ingin melihat keadaan Keisya." terang Kangin.
Ketiganya kemudian bergegas menuju parkiran dan pergi ke apartemen Ji ah.
TBC
don't forget! please REVIEW
review kalian sangat berarti buat penulis agar ceritanya bisa lebih baik lagi kedepannya^^
~GOMAWO~
