Tiba-tiba (c) faihyuu

Naruto (c) Masashi Kishimoto

Rated K(plus)

Warning(s): AU, Miss Typo(s), OOC (sebisa mungkin untuk dibuat IC), tidak jelas, dsb.

Untuk #NHMonth2022.

Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apa pun dari cerita ini selain kepuasan batin.

• Sunshine Family—Tiba-tiba •


Malam telah tiba. Langit sudah menggelap menjadi nila. Matahari telah turun dari takhta, bulan dan bintang telah menggantikannya. Waktu-waktu di mana para manusia mulai mencapai mimpi sementara mereka. Beristirahat untuk menjalani hari esok yang diharapkan lebih baik dari sebelumnya.

"A-aku gak mau sikat gigi!"

Di dalam sebuah tempat untuk berteduh dan pulang—dengan sebuah galaksi bernama keluarga, sesosok buntalan menggemaskan dengan helai-helai kuning bak buah pisang tengah bersembunyi pada kolong meja. Anak yang baru lima tahun hidup di dunia mengerucutkan tubirnya. Manik safir itu menunjukkan kegarangan di sana. Namun dengan pipi bergaris dua gembul mirip bakpao dan agak merona menggemaskan, usahanya sia-sia.

Sang bunda, seorang wanita manis bermahkota nila panjang malah berhasil menangkapnya ke dalam sebuah pelukan. Wajahnya dihadiahi tembakan ciuman. Membuat si anak laki-laki yang dipanggil oleh semesta sebagai Boruto merasa kegelian. "Bunda, geliii~"

"Maaf, maaf. Habisnya Boruto gemas sekali. Bunda tidak tahan~" Kembali dikecup lagi pipinya. Bundanya menggesekkan hidung mereka. Boruto yang pada akhir menyerah membalas kecup pipi dan dahi sang bunda. "Kenapa Boruto tidak suka sikat gigi, sih?"

"Sakit, Bunda! Gak suka pokoknya."

"Tidak sakit, kok. Nanti Bunda bantu sikatnya pelan-pelan. Ini demi kebaikan Boruto juga, biar tidak sakit gigi." Anak laki-laki itu sedikit terlena pada dekapan dan elusan bundanya, hingga tak sadar telah dibawa ke dalam sebuah ruang penuh keramik—kamar mandi. Dalam sana terdapat pula anak lain dari keluarga Uzumaki. Si tertua, Kawaki. Dari bajunya dan wajahnya yang basah, sepertinya baru saja selesai sikat gigi.

Boruto yang cemberut, bundanya hanya tersenyum geli. Dilepaskannya gendongan dan dekapan itu, sang bunda menyiapkan sikat juga pasta gigi.

"Kawaki sudah sikat gigi, Sayang?" tanya si wanita nila pada putra pertamanya, Kawaki. Hanya berbeda dua tahun di atas Boruto yang kini dibantu berkumur oleh sang suami. Mungkin Kawaki memang tidak terlahir dari rahimnya, tetapi bunda dari keluarga Uzumaki itu—Hinata—tetap menyayangi bak putra kandung sendiri. "Baju Kawaki basah, kalau pakai baju itu terus bisa masuk angin nanti."

"Sudah kok, Bun. Tadi Kawaki mau menunggu Boruto, tapi Boruto lama. Jadi, aku sudah duluan." Si tertua menatap anak tengah dengan pandangan mengejek, membuat Boruto sebal. Hinata yang sudah terbiasa melihat pertengkaran kecil itu hanya dapat menghela napas singkat. Anak laki-laki terkadang memiliki jiwa kompetitif yang jauh lebih tinggi. "Kawaki ke kamar dulu, ya, Bunda."

Hinata yang tengah mensejajarkan posisi dengan Boruto dikecup pipi kanannya oleh Kawaki. Sang bunda yang membalas memberikan kecupan. "Mimpi indah, Kawaki. Jangan tidur terlalu larut, oke? Besok sekolah. Boruto juga, besok sekolah, ya."

"Iya, Bundaaa." Dan Kawaki yang keluar dari kamar mandi.

"Ayo, mana giginya. Aaa—" Dengan wajah yang masih kesal Boruto menunjukkan gigi-gigi susunya. Bundanya itu menggosok pelan-pelan dan teliti. "Lihat, tidak sakit, 'kan?"

Boruto ingin menjawab, tetapi dengan giginya yang masih disikat—anak itu hanya dapat menyipitkan mata. Tanda agak tidak menyetujui sang bunda. Membuat Hinata bertanya-tanya. "Loh, kenapa?"

Anak itu kemudian selesai disikat giginya. Dibantu Hinata untuk meludahkan sisa-sisa pasta gigi di wastafel dan berkumur dari air dalam gelas merah kesayangan Boruto. "Kalau sama Bunda iya, gak sakit. Tapi kalau sama Ayah, aduh! Sakit! Ayah cepat-cepat gitu nyikatnya."

"Loh, loh? Kok jadi Ayah?" Sebuah suara berat muncul lagi ke dalam kamar mandi, seorang pria yang mewariskan hampir segalanya pada Boruto. Menggendong sesosok bayi cantik yang manik safirnya berbinar melihat sosok sang bunda. Hinata sedikit menggoda bayi itu yang mampu membuat Himawari kecil tertawa hangat.

"Iya, Ayah keras nyikatnya. Gak kayak Bunda, pelan—enak. Boruto besok-besok maunya sama Bunda aja."

"Kan biar bersih, soalnya Boruto makan permen melulu sih. Jadi, biar sisa-sisa makanan sama kumannya hilang. Sakit gigi itu tidak enak tahu! Nanti ompong, loh." balas ayah Boruto itu tak kalah.

"Gapapa, 'kan ada gigi palsu kayak Kakek Hiashi!"

Sontak kedua orang tua itu tertawa. Hinata yang tak tahan untuk tidak mencubit gemas pipi sang putra. Wanita itu menyugar helai pirang Boruto yang mencuat unik itu, Naruto memang terlalu serakah dalam menurunkan rupa. "Ya, jangan sampai dong. Boruto 'kan masih sangat muda, Kakek Hiashi sudah tua. Dulu, pas Bunda kecil, Kakek giginya masih ada, kok."

"Yaudah, tapi besok-besok Bunda saja, ya? Yang nyikat giginya."

"Siap, tapi besok-besok juga—Boruto belajar sikat gigi sendiri, ya? Kan sudah besar, harus bisa mandi—"

"—riii!" Uzumaki Boruto memang nama lain dari gemas. Hinata mencium lagi pipi gembul itu.

"Nah, sekarang Boruto ikut Ayah dulu ganti baju. Ini giliran Himawari yang perlu Bunda." Sang kepala keluarga—Uzumaki Naruto yang menyerahkan Himawari nan telah menggapai-gapai sang bunda. Pria pirang itu kini menggantikan posisi putri bungsunya dengan Boruto yang kini tertawa karena digelitiki sang ayah. Mereka berempat yang mulai keluar dari kamar mandi. Dengan Naruto dan Boruto yang jalan terlebih dahulu. "Langsung tidur, ya?"

"Gak mau, maunya dielus Bunda dulu!"

"Sama Bunda saja terus; mandi, makan, main, sikat gigi, tidur, pergi ke sekolah. Tidak kamu, tidak Kawaki, dan juga Himawari sama saja. Sama Ayah sekali-kali dong. Bunda bisa capek, tahu. Kalian juga harus mandiri. Ayah 'kan mau sama Bunda juga."

"Kan Ayah sudah besar, bukan anak kecil lagi kayak kami. Bunda itu punya kami!"

"Enak saja, Bunda juga punya Ayah, ya!"

Hinata masih mendengar percakapan itu hanya dapat tertawa kecil. Terkadang suaminya itu memang sering kali cemburu pada anak-anak mereka sendiri. Belum lagi sejak mereka memiliki Boruto yang masih bayi, anak laki-laki itu tidak bisa lepas dari ibunya barang sedetik pun. Kawaki yang awalnya mungkin terlihat lebih dekat dengan Naruto, tetapi makin ke sini—makin lebih manja pada Hinata. Pun Himawari mungil yang baru tujuh bulan usianya, jelas masih memerlukan sang bunda.

Hyuu—Uzumaki Hinata. Terkadang Hinata sendiri masih tak percaya akan takdir semesta para dirinya. Memiliki suami yang dicinta dan anak-anak manis nan sangat disayangi mereka. Selalu, limpahan rasa syukur terucap dalam batin si wanita nila.

Ini waktunya Himawari untuk minum ASI, bayi manis itu mirip dengan sang ayah. Cepat tertidur, tetapi lumayan lama untuk bangun. Himawari yang mata kini tampak sudah memberat, sebelum akhirnya benar-benar tertidur. Sang bunda yang meletakkan buntalan menggemaskan itu ke dalam keranjang bayi di samping ranjang kedua orangnya tuanya.

Setelah itu, Hinata akan pergi ke kamar kedua putranya. Menidurkan mereka dengan dongeng dan mengingatkan singkat Kawaki tentang buku-buku yang harus dibawa anak kelas satu SD itu, juga mengecek jadwal kegiatan taman kanak-kanak Boruto.

Boruto telah tertidur, Kawaki yang ada di ranjang seberang juga sama. Hinata menutup buku cerita anak-anak yang sedari tadi dibacakan kepada kedua putranya sembari Boruto kecil ini sekali meminta elusan di kepala. Dengan berhati-hati wanita itu bangkit dari ranjang kecil milik Boruto dan menyempatkan diri untuk mengecup dahi anak itu sekejap saja. Pun Kawaki tak luput mendapatkan hal yang serupa.

Hinata yang kemudian dengan berhati-hati keluar dari kamar mereka dan menutup pintu dengan pelan.

"Mereka benar-benar manja sekali..." Naruto yang menunggunya di depan sedikit mendengkus, tetapi Hinata hanya tertawa kecil.

"Ya, mereka juga masih kecil-kecil. Boruto 'kan dari dulu memang agak susah tidur kalau tidak dibuai."

Wajah Hinata tampak lelah, tetapi senyum tetap tersungging pada tubirnya. Bagaimanapun, menjadi seorang ibu merupakan salah satu pilihan terbesar dalam hidupnya. Namun jelas, membuat bahagia ketika dapat melihat putra-putrinya tumbuh dengan baik dan sangat menyayanginya. Sang kepala keluarga Uzumaki kemudian menggandeng si nila ke ruang tengah—ruang di mana banyak memori aktivitas penghuni galaksi ini, mendudukkannya ke sofa. Tatapan tanya dilayangkannya. "Tumben, ada apa?"

"Aku buatkan teh kamomil, kau pasti kelelahan. Hari ini anak-anak sangat bersemangat sekali. Besok mereka juga akan tetap begitu, kau harus sedikit meluangkan waktu untuk dirimu sendiri, oke?"

Di atas sebuah meja berkaki rendah dekat sofa, memang terdapat secangkir teh beraroma khas dengan sepiring kecil gulungan kayu manis—pastri kesukaannya. Naruto yang kini memijat pundak Hinata. Membuat tanya dalam benak wanita itu semakin besar saja. "Naruto-kun? Kenapa, sih? Ada apa?"

Hinata yang menangkup wajah suaminya, menatap dalam-dalam pria nan sangat dicinta. Wanita itu bukannya tidak bersyukur, tetapi ini semua begitu tiba-tiba. Biasanya Naruto memang sudah manis; mengerjakan seluruh pekerjaan rumah ketika pulang kerja—bahkan sering kali menolak kala Hinata bantu, sering pula tiba dengan hadiah untuk mereka semua, dan terbilang cukup biasa sang suami memijatnya begini. Namun entah, malam ini rasanya cukup berbeda sehingga jantung Hinata berdebar keras. Firasatnya mengatakan sesuatu akan terjadi malam ini.

"Naruto-kun?"

"Tidak ada apa-apa, Sayangku. Memangnya aneh seorang suami sekali-kali ingin memanjakan istrinya?" Naruto masih belum terlalu menjawab pertanyaannya. Pria itu justru berceloteh. "Kau memang Bunda mereka, tapi 'kan mereka juga punya Ayah. Biarkan sekali-kali aku yang menemani atau membacakan mereka dongeng. Nanti aku juga akan membantu Boruto sikat gigi dengan lebih lembut, deh!"

"T-tapi, Kawaki dan Boruto bakal protes. Katanya kau terlalu cepat selama bercerita." Hinata yang memilih pasrah sejenak, menikmati segala nan disajikan sang suami. Wanita itu mulai menyesap teh kamomil dan akan menikmati gulungan kayu manis. Tak lupa pula Hinata menawarkan satu gigitan pastri itu pada suaminya. "Naruto-kun?"

"Hmmm—" Naruto menggigit kecil, mengunyahnya pelan. "—kau saja yang habiskan, Hinata."

"Terima kasih, ya." Hinata yang mulai mencicipi gulungan kayu manis itu. Sebelum kembali pada tanya yang tak terjawab. "Betulan deh, ada apa? Kenapa rasanya tiba-tiba? Firasatku mengatakan demikian."

"Firasatmu kuat juga, ya," Naruto pada akhirnya tertawa. Pria itu menghentikan pijatannya dan mendekap Hinata. Membuat si nila sedikit merona. Walaupun telah hampir tujuh tahun mereka bersama, masih saja debaran perasaan ini tak dapat Hinata lepas ketika bersama sang pria. "Coba cek, ada sesuatu di bawah meja."

Segera Hinata menatap bawah meja berkaki rendah itu, terdapat sebuah amplop yang segera diambil oleh sang wanita. "Apa ini?"

"Dibuka saja." Naruto mencubit gemas pipinya.

Rasa penasaran memang dapat membunuh, Hinata dengan keingintahuan yang sebesar samudra dan sedalam palung mulai membuka amplop itu. Dua lembar mirip tiket terlihat. Sang nila yang mulai membaca tulisan di atasnya. Dan terkesiap.

Dua tiket konser musim semi grup idola perempuan asal Akihabara yang selalu menjadi kesukaannya sejak masih gadis dahulu. Konser yang diadakan seminggu lagi. Untuk dua hari berturut-turut di Tokyo Dome. Tiket paling depan, bahkan.

"Aku juga telah memesan kamar secara daring di hotel sekitar sana." Uzumaki Naruto yang kini bersiul-siul aneh.

"N-Naruto-kun—"

"—ya, Hinata?" Naruto yang kini makin memandangnya jahil. "Ada apa?"

"I-ini..." Manik kecubung pucat itu yang mulai berkaca-kaca. Sejak dahulu, Hinata jarang sekali menonton konser. Mungkin saat itu cuma sekali, paling belakang pula. Dimulai dari waktu yang tak tersedia, uang nan pas-pasan, dan bahkan sekalinya ada waktu juga uang—perang untuk mendapatkan tiket terlalu mengerikan. Paling-paling hanya mendapatkan sisa melalui calo.

Hinata tahu, mendapatkan tiket ini tak mudah. Harganya juga tak murah.

"T-tapi 'kan, anak-anak bagaimana nanti? Ini d-dua hari, aku—" Telunjuk Naruto berasa di atas tubirnya.

"—sssttt, anak-anak 'kan ada aku. Gampang mah mereka. Nikmati saja waktumu, Hinata-ku. Anggap saja hadiahku yang sudah sangat terlambat untuk ulang tahunmu Desember lalu. Kita yang gagal liburan."

"T-tapi, itu 'kan karena memang cuacanya tidak bagus. Bukan salah siapa pun. Dan ini mahal—"

Naruto kembali mencubit gemas kedua pipinya. "Kau ini kebanyakan 'tapi', ya? Sudah jangan pikirkan apa pun tentang rumah atau masalah tiketnya, yang terpenting seminggu lagi kau akan melihat oshimu tampil di panggung megah."

"Terima kasih, Anata." Hinata memeluk Naruto erat, mencium ujung tubirnya. Tak dapat pula menahan air mata bahagia. Betapa Hinata begitu mencintai suaminya. Wanita itu bertanya-tanya mengapa bisa dirinya yang biasa aja seperti ini mendapatkan Uzumaki Naruto nan segala-galanya. "Aku mencintaimu."

"Aku juga, Hinata. Sangat-sangat mencintaimu. Terima kasih telah menjadi istriku dan ibu yang baik untuk anak-anak." Sang pria yang kini mencium dalam bibirnya.

Rembulan dan bintang-bintang malam ini makin terang di angkasa sana, sama seperti Hinata. Euforia. Bahagia. Penuh cinta.

.

.

.

—selesai sampai di sini (dahulu)