Seragam dan Perasaan (Terlarang) (c) faihyuu

Naruto (c) Masashi Kishimoto

Rated M

Warning(s): AU, Miss Typo(s), OOC (sebisa mungkin untuk dibuat IC), tidak jelas, dsb.

Untuk #NHMonth2022.

Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apa pun dari cerita ini selain kepuasan batin.

• Forbidden—Seragam dan Perasaan (Terlarang) •


Daftar putar yang disarankan:

JKT48/AKB48—Seragam Ini Sangat Mengganggu

JKT48/SKE48—Innocence


"Jadi, kau mau ke apartemenku?"

Hyuuga Hinata tahu. Sangat tahu. Tak peduli benar-benar terdengar ambigu. Sang dara yang mengangguk tanpa ragu. Menatap dalam-dalam pada mata biru itu.

"Iya, tak apa 'kan?"

Dengan keyakinan sebesar semesta, mengatakan pada diri sendiri—inilah saatnya. Shibuya yang terlalu cepat menjadi malam dengan langit nila. Mereka yang bahkan baru berjumpa setelah Hinata pulang dari sekolah, seperti biasanya. Menghabiskan waktu bersama dengan kesan-kesan romansa.

Menghabiskan waktu untuk menjelajahi toko-toko manis tersembunyi, bermain di game center, dan menikmati makan makan berdua.

"Tapi ini sudah malam, kau harus pulang 'kan?"

Oh, Uzumaki Naruto, pacarnya. Hinata tahu segala. Ajakan pulang itu hanya sebuah pertahanan diri yang tipis dan sia-sia. Hyuuga Hinata tahu, betapa pemuda itu juga menginginkannya. Namun, mungkin baik telah menjadi nama lain Naruto—atau hanya pura-pura?

Genggaman tangan mereka mengerat, gadis itu makin mendekat. Januari akhir yang masih dingin, mereka perlu untuk menjadi lebih hangat. "Belum terlalu malam. Lagi pula, Ayah masih di luar kota dan Hanabi masih belum waktunya pulang dari asrama. Di rumah hanya ada aku sendiri."

Sebuah sandi yang tak terlalu rahasia jika ditelusuri.

Hinata tidaklah pula berdusta. Tak ada siapa pun yang menunggunya. Hanya ada kekosongan belaka. Tiada alasan yang pasti mengapa harus kembali bagi sang Hyuuga.

Seragam sekolah yang masih terlihat walau dibalut mantel memang terlihat agak mencolok, beberapa pasang mata itu dengan gerakan bibir mereka yang tertahan. Menahan diri dan memilih kembali berlalu—toh, bagaimanapun Naruto juga Hinata tak lagi dapat dihentikan. Keduanya yang tak peduli pada apa pun, selama mereka tak berbuat kejahatan maupun nan merugikan.

Selama tak ada yang mengenali mereka, Hinata aman.

"Baiklah," Naruto melepaskan genggamannya. Runtuh sudah pertahanan diri sang pemuda. Si pirang yang kini memeluk pinggang Hinata dari samping, makin mendekatkan diri mereka. Menyusuri jalan-jalan Shibuya yang lebih sepi dari para tatapan manusia. "Ayo."

Langkah menuju dunia yang tak diketahui. Hinata yang ingin dicintai dengan lebih mendalam, ingin mengalami pendewasaan. Rasa ingin tahu yang besar akan kesenangan belaka. Sang gadis yang merasa sudah terpikat dan terikat. Mulai membayang-bayangkan sebuah sensasi dalam kepala.

Uzumaki Naruto yang kini melihatnya, penuh binar di safir itu.

"J-jangan melihatku terlalu begitu," Malu-malu, tetapi sangat mau dari matanya. Hinata hanya tak dapat menahan diri untuk tak merona. Gadis itu hanya siswi sekolah menengah pertama biasa. Bukan seorang anggota grup idola. Hinata yang masih tak terbiasa dengan mata damba penuh cinta. Benar-benar sensasi yang berharga. "K-kita akan ke apartemenmu, 'kan?"

Keduanya yang kini sama-sama menghentikan langkah kaki, menepi pada sebuah jalan sepi—di depan sebuah toko buku tua nan telah tutup. Pemuda itu yang menekannya pada dinding, wajah mereka nan mendekat. Jantung Hinata yang hampir meledak. Naruto berbisik tepat di telinga. "Lain kali, bawa baju ganti saja."

Dan bibir mereka yang bertemu, jelas bukan lagi yang pertama. Dalam sangat dalam, tubir Hinata nan terbuka untuk menerima segala. Tengkuk dan pinggangnya yang terasa dilindungi oleh pemuda nan telah dewasa. Terasa hangat dan candu, Hinata ingin seluruhnya. Jemari yang mulai berani meraih helai-helai kuning mentereng itu, ingin menuju segala dari cinta.

Mereka telah berkencan lebih dari sepuluh kali. Kata orang-orang, jika sudah berkencan sepuluh kali—memang akan terasa sangat dekat. Mulai saling menerima ke dalam kehidupan, setidaknya Hinata telah menerima Naruto sebagai salah satu bagian dari hidup.

Tiba-tiba terlepas begitu saja ciuman mereka. Hinata nan merasa tanggung dan bertanya-tanya akan segala. "K-kenapa?"

Naruto tak menjawab, hanya menggenggam tangannya lagi—mulai berjalan kembali. Pun sang gadis yang baru menyadari suara langkah kaki. Meski keduanya merasa tak begitu peduli tatapan orang, tetapi Hinata tahu bagaimana kekhawatiran si Uzumaki. Atas si Hyuuga dan dirinya sendiri.

Apartemen milik pacarnya kini mulai terlihat. Langkah mereka yang mulai cepat.

Kembali jantung Hinata yang meledak, si gadis—nan mungkin akan tak disebut begitu lagi—berusaha menenangkan diri dengan mengembuskan napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.

Apartemen milik Naruto berlantai sepuluh, sang kekasih tinggal pada lantai empat. Beruntung lift yang hanya ada satu di sini tengah sepi, lorong-lorong nan seakan-akan tak berpenghuni sama sekali. Kamar bernomor cantik yang sangat disukai kekasihnya, 437—jika dikalkulasi dua angka depannya menjadi tujuh, angka ketiga. Angka keberuntungan sang pemuda, sekali waktu Naruto pernah bercerita tentang hal itu. Hinata juga mengingat nomor yang sama sebagai nomor punggung sang pemuda dalam klub bisbol dahulu.

Pintu terbuka, Hinata tahu dunia orang dewasa miliknya akan segera dimulai dari sini. Di sebuah unit apartemen sedang—tak terlalu sederhana, tetapi tidak pula mewah. Dengan ruang tengah dan dapur yang hampir bersentuhan, pun sebuah pintu di sana. Sebuah pintu lain yang benar-benar menjadi awal dari segala penjelajahan dunia akan kesenangan surgawi sementara miliknya.

Dengan agak tak sabar Naruto menutup pintu, pemuda itu menghela napas. "Ingin minum cokelat panas?"

Namun, Hinata hanya tak dapat menahan kikik geli. Pemuda yang hanya dua tahun lebih tua di atasnya itu juga ikut tertawa. Tangan hangat itu menyusup ke dalam jaket tebal dan juga seragamnya. "Gadis nakal, aku hanya mencoba menawarkan."

"Dan aku tahu jika Senpai juga hanya berbasa-basi," Hinata mengeluarkan suara yang bahkan tak disangka dapat dilakukannya. Suara yang menggoda. Terdengar agak menggelikan, tetapi mampu membuat pipi sawo matang itu juga tak kalah memerah dari miliknya. Embusan napas hangat Naruto yang menyentuh perpotongan leher ini. Pun usaha manis si pirang dalam membuka mantelnya. "Jadi, apa yang ingin kaulakukan padaku, Naruto-kun?"

"Yang konsisten dong saat memanggil namaku..."

Mata biru yang menatapnya dalam, memberikan getaran nan lebih hebat. Hinata merasa dipuja, disayang—berharga.

Pemuda ini, kekasihnya. Uzumaki Naruto yang dahulu merupakan kakak kelasnya. Mentari bagi seluruh manusia di SMAnya, SMA Konoha. Atlet terbaik klub bisbol, berwajah rupawan, pandai dalam fisika, suka melucu, baik hati, dan ramah kepada semua. Benar-benar seperti pusat dari tata surya. Dahulu Naruto begitu tak tergapai, hanya menjadi sebatas mimpi Hinata untuk berkencan dengan si pemuda. Angan-angan adik kelas yang bukan siapa-siapa.

Si Uzumaki nan merupakan cinta pertamanya. Sebagai gadis SMA yang terlalu biasa saja, melihat Naruto nan terang benderang begitu—jelas menimbulkan kekaguman penuh. Belum lagi, entah pemuda ingat atau tidak, Naruto pernah membantu Hinata saat upacara penerimaan murid baru dahulu. Kala si gadis baru saja masuk SMA. Sang Uzumaki memberikannya nametag kosong saat Hinata dengan ceroboh tak membawa. Pemuda itu yang tak ingin pula benda kecil tersebut diganti oleh apa pun, ungkapan terima kasih nan diucapkan malu-malu oleh Hinata ketika itu telah dianggapnya cukup.

Hinata bahkan tak menyangka bahwa perasaannya makin berkembang dan bertahan selama ini—bahkan sanggup berbuat gila dan terkesan nekat. Kegilaan dan kenekatan yang membawa mimpinya menjadi nyata nyata. Akan tetapi, tak ada gunanya mengingat masa lalu saat ini, tubir mereka yang kembali bertemu. Naruto yang benar-benar terasa membutuhkan Hinata, dan gadis itu senang dibutuhkan olehnya.

Ini saatnya. Ini waktunya. Detik ini.

Hinata ingin dipeluk, ingin dicium, ingin dibelai, ingin dicinta. Cara Naruto mengangkat dan membawanya ke atas sebuah ranjang benar-benar telah membuat sang Hyuuga terlena. Terdengar aneh, tetapi rasanya seperti terbang di luar angkasa tanpa gravitasi—Hinata yang dapat menggapai segala bintang di sana.

"Sebentar—" Kembali terlepas tautan mereka oleh Naruto. Bibir sang nila yang makin memerah, napas tersengal, poninya berantakan, dan manik kecubung nan berkabut. Pun seragam si Hyuuga yang telah terangkat, mengekspos bagian tubuhnya nan selalu tertutup selama ini. Kerutan hadir di dahi Hinata, kembali merasa tanggung. "—aku tidak punya kondom, Manis. Sebentar lagi kau ujian masuk universitas, 'kan?"

Barulah Hinata tersadar suatu hal yang sangat penting—kontrasepsi.

"Sebentar saja," Naruto mengecup dahinya. "Aku mau ke konbini. Demi kamu juga. Tidak sampai sepuluh menit, ini aku bakal berlari. Sabar, ya."

Sang Uzumaki yang kemudian benar-benar berlari keluar dari kamarnya—meninggalkan Hinata sendiri. Sang puan yang kini menatap langit-langit kamar kekasihnya. Hinata yang kemudian meringkuk seperti bayi. Si nila yang kembali meyakinkan diri.

"Memang sudah saatnya..." Sebuah monolog ringan. Si gadis telah menginjak usia delapan belas tahun pada Desember lalu. Usia dewasa yang telah legal menggantikan usia dua puluh tahun. Hinata sudah dewasa. Banyak pula siswi di kelasnya bercerita bagaimana ketika kelopak mawar mereka telah benar-benar mekar, merah yang menggoda, merasakan cinta dari para kekasih mereka. Hyuuga Hinata yang hanya dapat tertegun dari kejauhan, tak berani bertanya atau apa pun.

Pikiran si Hyuuga yang kini mengawang. Memikirkan banyak hal.

.

Ketika para perempuan juga menceritakan bagaimana rupa atau bahkan sekaligus siapa kekasih mereka, Hinata hanya dapat menyembunyikannya. Karena jika mereka tahu, si nila hanya akan semakin dekat dengan yang namanya neraka dunia. Walaupun aksi mereka ini mungkin memang telah membawa mereka ke dalam neraka yang sebenarnya.

Hubungan mereka yang terlarang. Namun, ada pula beberapa orang yang mungkin akan berpikir bahwa ini masih termaafkan karena bukan sepenuhnya kesalahan si dara. Alasan mengapa Hinata berusaha menyembunyikannya.

Hyuuga Hinata awalnya tak pernah berani untuk mengungkapkan rasa. Ketika Naruto lulus SMA, gadis itu hanya dapat melihatnya dari kejauhan saja. Hinata yang benar-benar pengecut, bahkan terlalu takut untuk sekadar menuliskan surat belaka.

Semua orang juga tahu, Naruto pernah memiliki pacar. Walaupun telah putus sejak lama, masih banyak orang yang tetap berharap pada si pemuda dan mantannya. Akan tetapi, keduanya yang tak ambil pusing masih tetap berteman dan mengatakan tak memiliki hubungan apa pun. Menjadikan salah satu alasan lain mengapa Hinata merasa tak berani mengungkapkan rasa kala itu.

Hidup kembali berjalan, Hinata yang tetap menjadi gadis serba biasa saja dan Naruto nan didengarnya berhasil memasuki universitas Keio. Kalau ditanya tentang rasa, tentu masih ada—menjadi sebuah hal yang terkenang dalam memori Hinata sebagai cinta pertamanya nan tak begitu indah.

Dan beberapa bulan yang lalu, entah mengapa pada tengah malam, Hinata kembali mengingat segala tentang Naruto. Seperti kerasukan, tiba-tiba saja si gadis mencari dan segera menemukan media sosial sang Uzumaki. Tak kalah gila, Hinata yang tiba-tiba berani menuliskan sebuah pengakuan perasaan nan panjang pada pemuda itu dengan akun anonim miliknya. Ketika mengirimkan pesan itu, Hinata menyadari bahwa perasaannya sejak awal belum pernah mati, hanya tertidur sejenak.

Pun barulah si gadis melihat satu per satu foto yang terdapat pada akun tersebut—rata-rata berisikan foto acak tak menentu; terkadang foto makanan, foto kucing dan anjing liar, pemandangan alam, foto Naruto bersama dengan kawan-kawan, dan bahkan soal tugas kuliahnya. Namun, dalam postingan terbaru sang pemuda saat itu mampu membuat Hinata merasa sangat tidak waras. Gadis itu merasa jahat.

Postingan tersebut berisi foto kucing-kucing liar, dengan Naruto yang menandai akun mantannya. Komentar foto itu penuh dengan godaan dan spekulasi bahwa mereka telah kembali bersama dalam sebuah hubungan. Hinata sempat stres karena pesannya tak dapat ditarik lagi. Si gadis yang bahkan berniat untuk menghapus akunnya sekalian, tetapi sama sekali tidak menyangka bahwa Naruto telah membacanya saat itu juga. Telah membalas sesuatu yang malah membuat Hinata tertegun tak percaya.

Naruto membalas pesannya itu dengan kata-kata yang tak kalah panjang, sang pemuda bilang bahwa menghargai pengakuannya. Namun si Uzumaki akan tetap menunggu agar dirinya muncul dengan akun asli—atau setidaknya memberikan sebuah nama. Berharap agar Hinata tak menghilang dan malah membuatnya penasaran seumur hidup.

Hinata pada awalnya tak membalas apa pun dan berusaha melupakan segalanya. Dibiarkannya begitu saja pesan Naruto dan tak jadi menghapus akun anonim itu. Akan tetapi, pemuda itu lumayan gigih. Tiap hari mengirimkannya pesan menanyakan identitas; bahkan pernah menelepon langsung akun anonim yang membuat jantung Hinata hampir lepas. Jelas, si Hyuuga tolak telepon tersebut. Si Uzumaki kemudian mengirimkan banyak pesan jika pemuda itu bahkan terbawa dalam mimpi tentang siapa dirinya.

Hingga pada bulan November lalu, saat hujan musim gugur turun deras di seluruh Tokyo sejak jam pulang sekolah. Naruto tiba-tiba saja memberikannya pesan lagi. Pemuda itu terkesan curhat, berawal dari ingin mengunjungi kawan di distrik Taito—berakhir terjebak hujan karena lupa membawa payung di pinggir stasiun wilayah Chuo. Hujan deras dengan angin kencang menjadikan kereta diberhentikan dan ditunda operasionalnya. Mau meneduh ke konbini atau kedai kopi pun Naruto takut dompetnya basah dan sepatu pemuda itu kotor.

Hinata yang entah—mungkin memang konspirasi semesta tinggal di wilayah nan disebutkan pemuda itu. Sang gadis yang tahu bahwa hujan ini akan sangat awet, bahkan ayahnya mengatakan akan pulang hampir tengah malam. Maka dari itu, dengan membawa payung tambahan dan merelakan tabungannya untuk membayar taksi—Hinata pergi ke stasiun. Gadis itu kemudian melihat seorang pemuda bermahkota pirang tengah duduk menyedihkan di sana.

Wajah terkejut pemuda itu masih segar diingatnya, dengan menahan segala malu dan jantung yang seakan-akan meledak Hinata menyerahkan payung itu dan ingin pergi begitu saja. Namun, seperti dalam drama—pemuda itu menahannya. Mempertanyakan segala. Hinata yang tak lagi dapat berlari, hanya dapat membiarkan seluruhnya terjadi begitu saja.

Mereka yang seminggu kemudian mulai berkencan. Ajakan Naruto saat itu benar-benar seperti mimpi baginya. Hinata menjadi seorang selingkuhan. Namun, Naruto telah membuatnya benar-benar gila untuk tetap bertahan, bahkan untuk sampai pada tahap ini.

Hinata membenci dirinya sendiri. Akan tetapi, terkadang hidup memang penuh ketidakadilan. Si gadis yang merutuki kepergian sang kekasih meninggalkannya sendiri karena membuat Hinata kembali mengingat salah satu memori nan tak ingin diinginkan.

.

"Lihat aku tidak lama, 'kan?" Pintu kembali terbuka, menampilkan Naruto yang membawa sekotak pelindung. Wajah pemuda itu tampak tak berdosa dengan pipi bergaris tiga bak kumis kucing nan sedikit merona.

Gila, Hinata tertegun.

Segala telah terjadi, tetapi yang satu ini—dunia dewasa telah berada di depan matanya. Naruto yang bak melemparkan diri ke dalam pelukan Hinata. Bisikan kata-kata suka dan cinta dari kekasihnya. Pasti ini surga.

Peluk, cium—mereka yang seakan-akan takkan pernah terlepas.

"Aku mencintaimu, Hinata."

Tidakkah Naruto menyadari betapa Hinata juga merasakan hal yang sama? Lebih merasa gila, bahkan. "Aku juga sama, bahkan telah gila untukmu."

Malam itu, sebuah pengalaman pertama baginya, Hinata tak dapat melupakan segala. Dengan seragam yang sedari tadi telah menggangu telah terlepas begitu saja. Bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan, sentuhan lembut jemari penuh magis milik sang kekasih di seluruh tubuh murninya. Menuju sebuah surgawi sementara di tengah ampasnya dunia.

Hinata sama sekali tak menyesal.

Kelopak mata yang tertutup, kaca itu terpecah. Mawar merah yang merekah. Suara-suara lain yang muncul—himpunan dari desah.


Ketika mentari mulai akan bertakhta dari ufuk timur, manik kecubung pucat bak rembulan itu terbuka.

Hinata yang telah menjadi dewasa. Sebuah senyum mengembang, matanya yang kembali berembun—jadi ini sensasinya? Setelah berbuat dosa. Merasakan sebuah kekuatan tak nyata.

Terduduk di ranjang, dengan segala sisa-sisa cinta. Hinata yang agak bertanya-tanya kini harus berbuat apa.

"Hinata?"

Pelukan di sampingnya ini benar-benar akhir tujuan Hinata. Si nila yang menyandarkan diri sejenak kepada kekasihnya. "Terima kasih."

"Eh? Aku yang berterima kasih, kau yang mempercayaiku." Ciuman itu kembali dibubuhi Naruto, menandai dirinya.

"Aku juga yang berterima kasih, setidaknya malam tadi—aku merasa menjadi satu-satunya bagimu." Senyum itu masih mengembang, tetapi kala kelopak mata kembali tertutup sejenak—terdapat air mata.

"Apa maksudmu, Hinata? Kau jelas satu-satunya bagiku." Naruto menangkup wajahnya. Menghapus air mata. "Kau menyesal untuk yang semalam?"

Hyuuga Hinata menggeleng. "T-tidak sama sekali, hanya saja aku merasa bahagia. Berpikir juga betapa gilanya aku bercinta pada pacar orang."

"Pacar orang? Iya, 'kan—kau itu pacarku dan kau itu orang. Astaga, Hinata kenapa—"

"—bukan aku. Pacarmu yang sebenarnya. Dia yang diketahui oleh dunia bebas bebagai milikmu, Naruto-kun." Hinata sudah tak lagi waras sejak awal. "Shion-senpai, 'kan? Aku yang memang jalang karena mencari kesempatan. Kalian sudah balikan 'kan? Saat aku mengirim pesan itu. Aku tidak tahu kita begini sampai kapan, tapi jika kita akhirnya berpisah nanti. Aku menitipkan permohonan maaf untuk Shion-senpai."

Mereka yang terlarang. Si nila yang berusaha melepaskan pelukan Naruto, ingin mengenakan kembali seragam yang menjadi saksi perbuatan mereka. Hinata ingin cepat-cepat pulang sembari menikmati pagi yang masih gelap. Beruntung hari ini merupakan akhir pekan, mungkin Hinata dapat menonton film penuh komedi di rumah untuk makin menguatkan perasaannya.

"K-kau mengira aku yang sudah berani bercinta begini denganmu setelah puluhan kali kita kencan—masih punya hubungan dengan Shion?" Nada si pirang terdengar tak percaya. "Aku sekarang mengerti kenapa kamu mau menyembunyikan hubungan kita. Kamu selalu ingin kencan di tempat yang jauh dari orang-orang yang mungkin akan mengenal kita. Itu semua bukan sekadar malu akan status mantan senpai-kouhai, 'kan?"

Naruto yang tak melepaskan pelukannya, justru makin mengerat. "Biar kukatakan ini padamu—kau terlalu banyak menonton drama."

"Apa maksudnya?" Hinata yang kini memberikan tatapan tanya.

Si Uzumaki mendengkus sebal. "Hinata-ku yang manis dan selalu bisa menyihirku—kau itu pacarku satu-satunya di seluruh dunia. Bukan Shion, bukan cewek lain. Hanya kau. Kau bukan selingkuhan untukku. Kau itu benar-benar kekasihku, cintaku, sayangku. Tanpa ada sebutan yang aneh-aneh. Aku bahkan tidak pernah mau membayangkan putus darimu, pasti aku sudah gila jika sanggup berpikir begitu. Apa sampai sini kau mengerti?"

Hyuuga Hinata mengerjap. "H-huh?"

Naruto yang seperti ingin menangis. "Aku tidak pernah balikan dengan siapa pun, Hinata. Kamu melihat postingan kucing yang menandai Shion pasti, harusnya sudah kuduga karena banyak komentar tidak jelas. Tapi, bukankah aku sudah membalas dan menjelaskannya juga? Aku hanya sedang street feeding, terus tanpa sengaja bertemu Shion—bahkan dia sedang jalan sama pacar barunya.

"Walau mungkin kau memandangku agak rendah, tapi aku masih punya moral untuk tidak selingkuh, Hinata. Aku pasti sudah tidak waras kalau menjadikan perempuan sebaik dirimu ini orang jahat. Kau bahkan satu-satunya yang kupikirkan dalam membangun masa depan, aku ingin menjadikanmu sebagai istriku nanti. Kutegaskan sekali lagi padamu, kau hanya satu-satunya—kau itu bukan pelakor, selingkuhan, atau apa pun itu namanya—dan aku sampai kapan pun tidak mau putus denganmu."

Si puan berhelai nila masih terdiam. Mata biru itu bahkan telah berkaca-kaca.

"Aku hanya mencintaimu, Hinata. Sejak awal kau mengirimkan pesan di akun anonim itu, aku dibuat penasaran dan hampir berhari-hari tidak bisa tidur tenang. Kamu yang cuma baca pesanku, makin membuatku hampir mati. Kukira awalnya kau itu mungkin salah satu teman yang ingin mengerjaiku. Tapi, saat kamu datang ke stasiun dengan payung di malam hujan deras kala itu—aku langsung tahu dengan pasti, kamu dan perasaanmu padaku itu betul-betul besar.

"Aku selalu mengingatmu sebagai gadis yang lupa bawa nametag di upacara penerimaan murid baru dulu. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa itu kamu—dan aku tidak juga mengerti sihir apa yang kamu kuasai sampai bisa membuatku juga jatuh cinta seperti ini. Apa mungkin karena rasa penasaran belaka? Tapi rasanya kini aku yang malah jatuh terlalu dalam padamu. Tolong, jangan tinggalkan aku."

Segalanya terasa jelas. Air mata Hinata memang kembali hadir, tetapi bukan lagi akan sedu sedan. Tergantikan oleh keterkejutan dan euforia sebesar semesta.

Dirinya bukan selingkuhan, Hinata ialah kekasih satu-satunya. Perasaannya terbalas dan bukanlah suatu hal yang terlarang. Hanya kesalahpahaman bodoh yang membuat Hinata tercekik hampir mati.

Seragam sekolah yang kembali terlupakan, dengan perasaan meluap—Hinata membalas pelukan pacarnya erat-erat. "M-maaf, maafkan aku. Aku mencintaimu."

.

.

.

—selesai sampai di sini (dahulu)

•••

Pada tahun ini, usia dewasa di Jepang resmi dimajukan menjadi 18 tahun dari awalnya 20 tahun. Jadi, mereka berdua telah legal, ya. :)

Sekali lagi, terima kasih untuk lagu haram jeketi dan grup saudarinya yang selalu menjadi inspirasi saya dalam menulis.