Bimbel (c) faihyuu

Naruto (c) Masashi Kishimoto

Rated K(plus)

Warning(s): AU, Miss Typo(s), OOC (sebisa mungkin untuk dibuat IC), dsb.

Untuk #NHMonth2022.

Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apa pun dari cerita ini selain kepuasan batin.

• Study Dates—Bimbel •


Mungkin jika tak dipaksa oleh neneknya, Uzumaki Naruto tak akan pernah menapaki kaki pada tempat ini. Tempat yang hanya berasosiasi dengan siswa pun siswi nan rajin maupun pandai. Bimbingan belajar memang bukanlah hal yang menggambarkan si pemuda Uzumaki. Namun, Naruto sudah terlanjur ke sini.

Dengan uang tak sedikit yang telah dikeluarkan neneknya—Uzumaki Mito, pemuda itu merasa sayang kalau tak kemari. Naruto yang kini tengah meyakinkan dirinya sendiri. Seluruhnya untuk masa depan juga meraih mimpi.

Jam belajar jurusan sains masih sepuluh menit lagi, tetapi kelas yang penuh manusia-manusia nan tampaknya berbeda dari pemuda itu telah hampir penuh. Namun, mereka semuanya hanya diam. Tenang. Ada yang membaca buku, mengerjakan sesuatu, atau sekadar memainkan ponsel. Jelas wajah-wajah beda kasta dengan sang pemuda. Tepat waktu saja karena rasa takut yang membara. Membuat Naruto kembali meringis, semoga saja dirinya tak begitu memalukan saat pelajaran dimulai nanti.

Belum lagi dengan pendingin ruangan yang entah mengapa terasa sangat dingin bak di kutub—membuat pikiran sang pemuda berkelana ke mana pun. Tak dapat tenang di tempatnya.

Jangan-jangan kelas ini dibiarkan dingin sebelum guru les akan membakar otak mereka?

Naruto membeku, bahkan ketika dirinya mengatakan pada para kawan bahwa hari ini sang Uzumaki akan les—mereka sempat tak percaya. Pun kemudian ketika si pemuda menunjukkan kartu pelajar bimbel, mereka semua malah berbalik mengirimkan doa. Para sahabat terdekat Naruto saja—Sasuke, Sai, dan Sakura sempat terkejut melihat nama bimbelnya. Salah satu tempat bimbel terbaik dan termahal di wilayah mereka.

Sai yang menggoda bahwa nenek Naruto sepertinya lebih kaya daripada keluarga Sasuke nan pengusaha. Sakura dan Sasuke yang tengah bimbel di tempat lain juga menakutinya tentang apa nan akan dihadapinya tiap kali pertemuan. Kata mereka ada puluhan soal ujian harian pada akhir pembelajaran tiap kali pertemuan—dan soal tersebut hampir pada tingkatan mahasiswa, bukan lagi siswa SMA. Haruno Sakura yang malah meminta Naruto untuk mencatat segala bak spionase tempat bimbel dan seluruh orang-orang di sini.

Rasa-rasanya, Naruto lebih memilih mengerjakan seratus soal fisika sendiri di rumah daripada bersama para manusia haus ilmu dan tutor penuh tekanan. Menyesal pula sang pemuda karena masih bermain-main belaka di awal tahun ketiga sekolah menengah pertama, menjadikan neneknya begitu khawatir begini. Seharusnya sejak awal, pemuda itu lebih menyadari bahwa nilai rata-rata rapornya agak menyedihkan untuk seorang siswa yang berkeinginan masuk perguruan tinggi favorit. Hanya terselamatkan oleh fisika, matematika, dan olahraga—sisanya tak remedial saja sudah merasa memiliki keberuntungan sebesar semesta. Tak luput pula dibantu oleh nilai tambahan guru karena si pirang pernah mewakili sekolahnya dalam olimpiade hingga pada tingkat antar prefektur. Naruto yang kini dihadapkan pada Sentā Shiken, walau dengar-dengar akan diganti atau semacamnya beberapa tahun ke depan.

Pintu terbuka pelan, bahkan dengan suaranya saja membuat seorang gadis di depan sana menjadi pusat segala perhatian. Si gadis berhelai nila menunduk, menggumamkan permintaan maaf. Dengan pandangan nan menatap tanah berjalan tanpa suara dan melirik ke arah meja yang masih tak berpenghuni di dalam kelas dari balik poni tebalnya.

Dan gadis itu yang memilih duduk di sebelahnya.

Naruto kembali melirik, si dara yang tengah terduduk kaku menunggu kelas dimulai—telah mengeluarkan sebuah binder dan pena. Wajahnya manis dan terkesan kalem. Benar-benar menunjukkan aura siswi sains dari perawakannya.

Kekakuan sang gadis tampak aneh di matanya, seperti robot. Mirip dengan hampir seluruh penghuni ruangan ini. Namun, gadis itu dapat dimaafkan karena Naruto menganggapnya sedikit menggemaskan. Andai kalau ruangan tak sesepi ini, pemuda itu ingin berbicara satu atau dua patah kata dengannya.

Gadis itu jelas jauh berbeda dengan Naruto yang seorang siswa sains, tetapi selalu mendapatkan tatapan tak percaya orang-orang. Kata mereka, sang pemuda lebih menunjukkan aura sosial dibanding anak sains lainnya.

Uzumaki Naruto yang menghela napas pelan, sang pemuda nan kini memilih untuk memainkan ponsel demi membunuh waktu. Menunggu waktu belajar yang katanya bak neraka ini dimulai. Masih dalam upaya menenangkan diri bahwa dirinya pasti bisa—bisa mati kutu.

Benar-benar hening, lebih mirip seperti kuburan. Awang-awang yang bahkan terasa seperti di luar angkasa. Naruto ingin berteriak seperti orang gila. Masih sekitar tiga menit lagi sebelum kelas belajar ini dimulai. Si Uzumaki yang kini mulai menghitung dari satu sampai seratus delapan puluh.

Perhitungannya tepat, baru saja angka terakhir disebutkan dalam hati—pintu kembali terbuka. Seorang guru muda berwajah serius tiba. Sontak seluruh siswa maupun siswi di dalam kelas kecil itu mulai mempersiapkan diri mereka. Naruto tak terkecuali, kembali menghela napas entah yang keberapa kalinya.

"Selamat sore, saya Anko. Sepertinya saya melihat beberapa murid baru di sini. Sudah benar tidak salah kelas, 'kan? Di sini kita akan mempelajari ilmu sains." Wanita muda itu meletakkan buku-buku tebal yang mampu membuat Naruto meringis ke atas meja. Pun perkataan sang pengajar mampu membuat si Uzumaki merasa sedikit terhina. Naruto mungkin tidak peka, tetapi kini sang pemuda menyadari lirikan ke arah dirinya.

Uzumaki Naruto hanya tetap diam. Seolah-olah tak tahu apa pun. Semoga, pelajaran hari ini tak begitu sulit untuk diterima Naruto—meski rasanya mustahil.

Namun, seluruh kelas terkejut ketika mendapati seorang gadis berdiri—gadis berhelai nila di sebelahnya. Pipi yang agak gembul itu dari dekat tampak memerah bak permen apel manis kesukaan sang pemuda. Manik kecubung pucat tanpa pupil itu juga sedikit berkaca-kaca, mungkin karena terlalu malu. "M-maaf, saya salah ruangan."

"O-oh, jurusan sosial, ya? Ada di sebelah kiri ruangan ini. Tidak masalah, banyak murid baru salah masuk ruangan sejak kemarin." Anko—guru itu—memberikan senyum canggung.

Dan si gadis salah ruangan itu keluar dengan kembali menunduk, memeluk bindernya erat-erat. Menimbulkan banyak bisik-bisik dari para manusia dalam ruang. Jika dihimpun, ialah terkejut karena gadis itu terlampau kaku untuk seorang siswi sosial.

Naruto juga sama terkejutnya. Dalam hati menyayangkan bahkan belum sempat mengetahui nama gadis itu. Seragam sekolah yang dikenakannya tampak asing, kalau mereka saling mengenal—pemuda itu berpikir akan mendapat relasi nan lebih luas.

Pasti rasanya sangat malu, tetapi Naruto mewajarkan hal tersebut. Karena ruang kelas mati itu benar-benar mencekam, sekali terjebak—sulit untuk keluar. Si pemuda yang sedikit bersalah karena tak mengajak sang dara bercengkrama sejenak.

Anko berdeham ketika pintu ruang kelas kembali tertutup. Sosok gadis yang telah menghilang. "Jadi bagi murid baru yang mungkin belum tahu, saya akan mengajar biologi. Sesuai jadwal hari ini, biologi merupakan pelajaran pertama."

Biologi? Pikirannya tentang gadis tadi sirna. Wajah Naruto memucat sempurna. Sudah kalah sebelum berperang. Pemuda Uzumaki itu bahkan tak benar-benar membaca jadwal mata pelajaran. Si Uzumaki hanya terfokus pada jam yang tertera agak tak terlambat.

"Jika ada materi yang dirasa tertinggal, bisa segera menghubungi bagian administrasi untuk mengatur tambahan les privat. Kali ini, kita akan membahas tuntas tentang pembelahan sel. Saat tahun pertama kalian pasti telah sering mendengar mitosis dan meiosis, tapi di sini saya akan kembali mengingatkan kalian—"

Suara guru itu kemudian bagai desingan peluru kala perang. Seluruh manusia yang serius, mencatat, dan bertanya penuh keilmuan mendasar. Hanya Naruto yang seperti kehilangan jiwa, sesekali mencatat, dan tak tahu harus bertanya apa.


Sudah jatuh, tertimpa tangga. Naruto benar-benar remuk dihajar segala realita. Pemuda itu hanya ingin segera kembali, pulang ke rumah neneknya. Membantu wanita baya itu memasak makan malam, walau terkadang sembari mengomel—setidaknya lebih baik daripada dicekoki sekaligus biologi dan kimia.

Jangan tanya pula tentang ujian harian di akhir pembelajaran, bahkan jika ada lima soal dari empat puluh soal yang dijawabnya benar saja sudah sangat disyukuri pemuda itu.

Masih ada dua pelajaran yang menyusul—kebumian dan matematika. Setidaknya, pelajaran terakhir dapat Naruto pahami dan agak disukai selama ini. Namun tetap saja, sang pemuda telah kehilangan banyak semangatnya. Istirahat selama dua puluh lima menit seakan-akan tak dapat mengembalikan apa pun.

Kecurigaannya pada ruangan yang dingin tadi benar-benar terjadi.

Kafetaria bimbingan belajar ini bahkan sekalinya terdapat manusia, pasti tengah berdiskusi atau malah mempelajari sesuatu sembari menikmati sedikit camilan pun minuman. Melihat segala ambisius ini, lama-lama Naruto bisa gila betulan.

Si pemuda berusaha untuk cuek, menggulir halaman utama media sosialnya. Sesekali curhat pada grup pesan yang berisikan para sahabatnya, tetapi malah dibalas tawa mengejek atau bahkan hanya dibaca saja. Memang menyebalkan.

"B-boleh aku duduk di sini?"

Naruto mengerjap, bibir pemuda itu sedikit terbuka.

Si gadis salah ruangan! Keinginan singkatnya yang akan terkabul. Mungkin saja Naruto dapat memanfaatkan ini sebagai sarana perkenalan.

"Oh, boleh-boleh," Baru disadari oleh sang Uzumaki pula jika hanya dirinya yang sendiri—dari seluruh meja nan penuh. "Silakan."

"Terima kasih." Gadis itu duduk di hadapannya membawa buku modul dan sebuah botol minum. Membuka buku itu dan dengan pensil yang baru dikeluarkan dalam saku—Naruto melihatnya tengah membuka materi matematika dasar. Mulai mengerjakannya soal, tetapi sang dara yang juga jelas masih merasa ragu. Pada akhirnya, sang dara terlihat telah kalah dan lelah. Buku modul itu yang kembali tertutup.

Hening yang membumbung di antara mereka ini sungguh canggung. Naruto yang tak pernah berteman diam, apalagi dengan seseorang tepat di hadapannya begini. "Namaku Uzumaki Naruto, panggil saja Naruto. Kau murid baru di sini juga 'kan?"

Naruto mengulurkan tangannya untuk dijabat. Mengenalkan nama masih merupakan dasar awal percakapan yang normal di seluruh dunia, 'kan? Belum lagi, niat awal si pirang memang ingin mengetahui nama sang dara.

"Hyuuga Hinata, panggil saja Hinata." Gadis itu membalas jabat tangannya. "Salam kenal Naruto-san. Iya, ini hari pertamaku di sini."

"Tidak usah pakai '-san' juga tidak masalah. Aku boleh memanggilmu, Hinata, 'kan?" Pemuda itu yang berharap sang gadis tak merasa masalah. Naruto kurang suka segala kekakuan di antara teman sebaya. "Omong-omong, aku juga sama—ini hari pertamaku."

"D-dan setidaknya, Naruto-kun tidak salah kelas." Hinata tersenyum masam sejenak, sebelum menyadari sesuatu. "Eh? Tak apa 'kan? Aku panggil begitu?"

Naruto-kun. Panggilan yang lumayan baru sejujurnya. Namun terdengar lucu. Naruto dapat memakluminya. "Tentu, tentu. Dan sejujurnya, kukira kamu anak sains. Maaf, ya, tadi aku tidak bilang apa pun."

"Banyak yang bilang begitu," Gadis berhelai nila itu menghela napas. Hinata memainkan pensil yang kini digenggamnya. "Tidak apa-apa, kok. Kelasnya tadi memang sedang sepi begitu, berbicara sedikit pasti jadi canggung. Yap, aku anak sosial, walau banyak yang meragukan juga. Kalau boleh jujur, kukira Naruto-kun anak sosial. Makanya aku tetap berada di ruangan itu, walau ragu."

"Sama kalau begitu, banyak yang bilang aku anak sosial. Sepertinya kita terbalik." Si Uzumaki tertawa kecil. Pemuda itu merogoh sesuatu dari dalam sakunya. Beberapa bungkus permen karet berbagai rasa dan warna. "Permen?"

Manik yang berbinar-binar itu, membuat Naruto merasa gemas sendiri. Bak anak kecil yang kesenangan diberikan sesuatu. Pin pipi pualam itu nan kembali merona seperti permen kapas. "T-terima kasih."

Dilihat dari sedekat ini, Naruto tak dapat mengelak jika Hinata memang sangat manis. Harum pula. Aroma lavendel dan setitik vanili. Pemuda itu tanpa sadar makin melebarkan senyum. "Tadi kau mau mengerjakan matematika, ya? Kenapa tidak jadi?"

Kembali hening—hanya sejenak. "Aku tidak mengerti sama sekali, sudah kalah sebelum perang."

"Boleh kulihat? Soalnya?" Sejujurnya pula, Naruto sedikit penasaran dengan soal matematika yang mampu membuat gadis itu kehilangan minat. Sang pemuda yang lebih senang mencari suatu jawaban dibanding menghafal penuh teori penuh teks. Naruto memiliki minat baca yang rendah.

"O-oh, ini—" Hinata menyerahkan bukunya. "Aku memang agak kurang dalam hitung-hitungan, alasan mengapa aku juga tidak masuk sains."

"Hmm, statistika, ya? Kebetulan aku sudah pernah belajar." Naruto kini membaca seluruh soal yang ada, tangannya merasa gatal untuk mengerjakan. "U-uh, boleh aku kerjakan ini? Pinjam pensilmu, sebentar saja."

"Eh?" Tubir si Hyuuga nila sedikit terbuka, tetapi pensil itu tetap diserahkannya. "K-kalau kau tidak repot sih, silakan saja."

"Tidak, tidak repot. Hanya ada tiga soal, tunggu—" Si Uzumaki yang kini tengah menulis sesuatu pada buku modul Hinata. Sesekali pemuda itu tertegun beberapa detik, sebelum kembali menghitung. "Omong-omong, kau dari SMA mana? Aku belum pernah melihat seragammu."

"SMA Mizu, kau sendiri dari SMA Konoha, 'kan?"

Sekejap gerakan Naruto terhenti. "Hah? Itu 'kan di SMA kota sebelah? Jauh sekali. Kenapa bimbel di sini?"

"Iya, di kota sebelah. Tapi sebenarnya, aku tinggal di kota ini. Sekolah di sana karena keluargaku melihat reputasi jurusan sosialnya bagus." Hinata menatap pemuda itu agak dalam. "N-Naruto-kun, kau betulan mengerjakannya?"

"Tentu saja, tunggu sebentar lagi, ya."

Satu, dua, tiga—

"Sudah selesai!" Naruto yang menyerahkan kembali buku modul itu beserta pensil sang dara. "Aku tidak tahu benar atau tidak, tapi aku juga sudah mencantumkan caranya. Siapa tahu bisa membantumu. Maaf juga kalau tulisanku jelek."

Hinata menerimanya, gadis itu terkesiap. "Cepat sekali, dan langsung ketemu jawabannya?"

"Sekali lagi, belum tentu benar, kok. Cepat juga karena angkanya tidak koma," Naruto mengangkat bahu. "Sebenarnya alasanku masuk sains juga karena tidak kuat banyak teori. Sosiologi, ekonomi, geografi, sejarah apalagi—aku tidak mengerti kenapa orang-orang menyukainya. Aneh saja rasanya melihat orang-orang berkutat pada masa lalu."

"A-aku suka sejarah..." Dengan sangat pelan gadis itu berkata. Entah yang keberapa kalinya pipi agak gembul mirip bakpao itu memerah. Benar-benar mengingatkan Naruto akan seorang tokoh utama drama lama, Oshin. Hinata yang manis lagi cantik, dengan mata uniknya dan rambut panjangnya itu juga membuat sang pemuda mengingat tokoh dongeng asli Jepang—Kaguya-hime. "A-apakah seaneh itu? Sejarah 'kan ada supaya kita memiliki p-pembelajaran di masa depan."

Nada si nila yang sedikit protes, tetapi agak tergagap benar-benar menggemaskan. Namun membuat Naruto sedikit panik, jangan sampai Hinata malah menganggapnya jahat hanya karena sang Uzumaki muda tak menyukai pelajaran favoritnya. Terkadang Naruto memang suka berbicara asal dan tiada rem pada bibirnya. "Tunggu-tunggu, itu tadi cuma asal bicara, oke? K-kau tidak aneh. Maafkan aku, aku yang aneh. Kesukaan orang beda-beda."

"Tidak apa-apa," Hinata melirik ke arah bukunya lagi. Sebuah senyum kembali mengembang pada tubirnya. Senyum jahil—Naruto harus menahan diri agar mencubit gemas pipi itu. "Sepertinya aku juga tahu, kalau mungkin alasan Naruto-kun masuk sains itu karena terlalu cinta pada fisika dan matematika, 'kan? Justru terhalang biologi dan kimia."

Astaga, dari banyaknya spekulasi alasan teman-teman di sekitar pemuda itu. Baru kali pertama sangat mendekati dan mampu membuat Naruto terpana. "Kenapa kau bisa berpikir demikian?"

"Mendengar kau yang tidak suka mata pelajaran dengan banyak teori, tapi bisa mengerjakan matematika secepat ini—aku hanya menebak." Senyum Hinata yang kini melembut, memberi getaran aneh tersendiri untuk Naruto. "Tapi, kelihatannya benar."

"Tadi aku habis belajar biologi dan kimia sekaligus," Naruto mendengkus pelan. "Habis ini sih mending, ada matematika juga. Walau sebelumnya ada kebumian dulu, semoga saja ujian hariannya tidak sesulit tadi. Mau belajar juga sudah kepalang malas, sudah pasrah."

"Kebumian? Menurutku, itu pelajaran seru. Aku pernah belajar selama dua tahun, dan berhasil menjadi salah satu favoritku. Walaupun ada beberapa hitungan, tapi tetap asik. Jika geografi lebih banyak hal-hal berbau sosial, kebumian lebih mendasar pada alam—bahkan astronomi juga."

Mereka berdua benar-benar kontras, tetapi hal itulah yang membuat Naruto benar-benar tertarik pada Hinata. Awalnya gadis itu terlihat malu-malu, tetapi dipancing sedikit percakapan—umpan itu akan dinikmati dengan menyenangkan. Benar-benar terlihat lucu.

"Kita benar-benar berbeda, ya?" Pemuda itu yang tak dapat menahan kekeh. "Dan dua tahun belajar kebumian? Untuk apa? Bukankah ini pelajaran sains, ya? Terus katamu tadi—rumahmu di kota ini? Di mana?" Dua pertanyaan terakhir, anggap saja kepo dan sedikit modus.

Siapa tahu saja, kan? Hinata pulang naik bus dan arahnya sama, bisa dijadikan teman kala pulang bimbel daripada benar-benar sendirian setelah menghadapi salah satu kepahitan dunia karena ketololan sang pemuda.

"Saat tahun pertama dan kedua, aku sempat ikut olimpiade kebumian lintas jurusan mewakili Mizu sampai tahap antar prefektur." Hinata menjelaskan. Gadis itu tampak senang. "Maka dari itu, aku tahu kalau kau siswa SMA Konoha karena mengingat seragamnya. Aku punya teman dari sekolahmu, kami dan beberapa murid sekolah lainnya berhasil menjadi perwakilan Kyoto. Walaupun, hasilnya gagal sih. Oh, omong-omong, aku tinggal di wilayah Sakyō-ku. Naruto-kun sendiri di mana?"

"Eh? Aku juga di Sakyō-ku! Kau pulang naik apa biasanya? Kalau naik bus, mau pulang bersama?" Naruto yang tak dapat menahan seringainya. Mimpi apa pemuda itu semalam, mendapatkan teman baru perempuan cantik dan manis begini—yang ternyata tinggal satu distrik dengannya. Belum lagi dengan seluruh yang gadis itu katakan, segalanya terasa dekat bagi Naruto. "Dan kau bahkan anak olimpiade? Aku juga sama. Tahun pertama dan kedua ikut olimpiade fisika, sama-sama hanya lolos sampai prefektur. Sayang sekali kita tidak bertemu karena selalu beda hari pelaksanaan. Pasti temanmu di kebumian itu namanya Fuu, 'kan? Dia teman sekelasku!"

Dunia bagi manusia memang sempit, tetapi semesta begitu luas bagi peristiwa. Masa memang terasa singkat oleh mata, tetapi panjang bagi hati. Mereka yang terlarut dalam obrolan. Menit demi menit.

Kesenangan hati Naruto ketika Hinata menyanggupi ajakan pulangnya, bagaimana mereka yang kemudian bertukar id dalam aplikasi perpesanan, atau bahkan gadis itu nan kemudian berbalik mengerjakan soal kebumian milik si Uzumaki. Naruto yang sebelumnya bahkan rela berlari kembali ke dalam ruang kelas demi mengambil buku modul bimbel itu.

Hinata yang kurang dalam pelajaran nan memerlukan hitung-hitung dan angka, Naruto yang lemah terhadap banyaknya teori. Entah mengapa, mereka berujung saling belajar dan mengajari. Naruto juga tak begitu mengerti. Namun, jelas seluruhnya tak dapat pemuda itu tolak karena segalanya tengah dinikmati oleh si Uzumaki.

Hyuuga Hinata mungkin akan menjadi guru yang baik, gadis itu pandai menyimpulkan menjadi suatu nan lebih mudah dicerna. Membuat Naruto bahkan lebih memilih untuk diajari oleh gadis itu dibandingkan para guru les di bimbingan belajarnya. Sekali lagi—setidaknya, uang nenek Mito tidak sia-sia. Ada yang Naruto dapatkan, walau dengan cara nan berbeda.

Belajar tiap istirahat dua puluh lima menit dengan seorang gadis manis, lalu mereka akan pulang bersama ditemani banyak obrolan. Sekejap pikiran gila hinggap, bolehkah Naruto anggap ini sebuah jenis kencan?

Tenang, tenang—hanya pikiran iseng sang pemuda saja, walau kini tengah diaminkan.

Kalau Naruto menceritakan ini pada para sahabatnya, bakal seheboh apa, ya? Bayangan Sakura yang pasti akan mencari segala informasi tentang Hinata, Sai nan mungkin akan mengasihani sang Hyuuga nila (sedikit membuat hati si Uzumaki terluka), dan Sasuke yang bakal tetap datar saja.

Lagi dan lagi, Uzumaki Naruto harus berterima kasih pada neneknya, segera.

.

.

.

—selesai sampai di sini (dahulu)

•••

Sentā Shiken: Ujian masuk universitas di Jepang.