Naruto belongs to Masashi Kishimoto. Tidak terdapat keuntungan apapun yang diambil dari fanfiksi ini.
Before you read! Beware of OOC tingkat akut, typos, cringe, humor gagal and stuffs. I've warned you :")
Sasuke tak begitu menikmati secangkir kopi pahitnya pagi itu. Ada setumpuk kertas-kertas bersampul map mengenai detail misinya yang dikirim Naruto petang kemarin, berserak penuhi permukaan meja dengan tinta yang tertulis berderet rapi. Tetapi tidak, bukan perihal pekerjaan sengkarut yang membuat alisnya tengah sedemikian mengkerut (atau seperti napasnya yang kerap diraup dalam-dalam). Ini perkara rumit, yang saking rumitnya, dapat membotaki helai rambutnya kalau-kalau tak kunjung dapatkan jalan keluar juga.
Sebetulnya Sasuke tak ingin melebih-lebihkan, sungguh. Sebab bagaimana tidak, tadi malam, Naruto—kawan lamanya yang telah menjadi Hokage itu, mengujar kalimat yang sontak membuat serat otaknya seolah kehilangan sembilan puluh delapan persen tingkat kejeniusannya. Wah, kau rupanya tak peka sekali, ya, jadi suami. Aku khawatir Sakura-chan akan meninggalkanmu nantinya—begitu katanya, dilengkapi tepukan yang kemudian mendarat di bahu tatkala ia sempat bercerita tentang sang isteri yang merajuk inginkan buah kesukaan, tetapi malah dibelikan sebatang cokelat. Oh, Yang Mulia Leluhur Konoha, bukankah itu terdengar mengerikan? Selama nyaris semalaman Sasuke dibuat terpikir, andaikata ucapan teman bodohnya itu menjadi kenyataan. Bagaimana jika Sakura benar-benar meninggalkannya, pergi jauh, meminta cerai, dan tak mau kenal dengannya lagi hanya karena sebuah cokelat? Astaga. Kepalanya akan botak!
Selagi meneguk kopi yang semakin pahit di lidah, atensinya teralih mendapati kursi di hadapan yang semula kosong ditarik pelan. Visual sepenuhnya tampilkan figur merah jambu yang membawa buku—uh, apa itu? Resep masakan?—dengan secangkir teh, dilengkapi pula senyum singkat yang sempat terbesit dalam wajah cantiknya. Padahal barusan tengah dibicarakan (yah, walau dalam hati, sih, tentunya), tahu-tahu telah muncul di hadapan, seperti hantu saja, Sasuke dibuat sungguh terkejut.
"Aku akan membeli persediaan makan siang nanti, Sasuke-kun." Buku bersampul gambar makanan itu tampak dibuka, Sakura berucap tanpa menolehkan pandangan. Si pria helai jelaga hanya bergumam rendah untuk mengiyakan, tak terlontar barang sepatah silabel dari mulutnya. Ada peluh yang tiba-tiba hinggapi kening, sejujurnya tengah takut sekali untuk sekadar menjawab. Sebab kata Naruto lagi, jika isterimu berkata begini, sebetulnya dia inginnya begitu. Yang bukankah artinya, Sakura tengah diam-diam menyelipkan makna tersirat dalam ujarannya? Apakah membeli persediaan makanan itu berarti ia ingin dibelikan hadiah? Atau jangan-jangan merencanakan perselingkuhan di tempatnya membeli barang untuk meninggalkannya nanti? Oh, demi Dewa. Tidak, tidak. Sepertinya itu terlalu berlebihan.
Baiklah, kalau diingat lagi, sih, Sasuke memang kerap menjadi suami yang tak peka, seperti misalnya melupakan janji, terlalu dekat-dekat dengan wanita padahal raut Sakura telah begitu menekuk, atau—yah, pokoknya cukup banyak sekali (dan ia terlalu gusar untuk kembali mengingatnya, dan jantungnya dibuat seolah nyaris meledak jika melakukan itu). Kemudian kopi diseruput lagi seiring alisnya tengah sedemikian mengkerut. Apakah ucapan Naruto itu benar? Apakah memang masuk di akal? Atau—ah, sungguh memusingkan sekali. Napas diraup dalam-dalam, rupanya memahami isi hati perempuan itu lebih rumit ketimbang mempelajari teknik jurus terlarang. Holly molly!
"Aku tidak setuju, Sakura. Kau tak boleh keluar untuk bertemu lelaki manapun selain aku." Sasuke mengujar sesuai deduksinya. Rautnya kecut tatkala menatap figur yang tengah berhadapan seiring jemarinya merapikan kertas-kertas detail misinya pagi ini dalam amplop coklat berukuran cukup besar. Hening sesaat, yang tersebut di kalimatnya itu sontak mengadah—mengalihkan atensi dari halaman buku dengan sebelah alis terangkat.
"Hah? Apa maksudmu?"
Si pria netra jelaga menghentikan gerak, setengah bingung, Sakura apalagi. Lho, bukannya memang benar, ya? Seperti yang Naruto beritahu kemarin itu, lho, isteri kerap berkata begini untuk maksud yang begitu, lantas mengapa malah balik bertanya? Heh, tunggu dulu. Jangan bilang kalau ternyata Sasuke malah salah mengira? Saling menatap untuk lima detik, belum sempat pikirannya menemukan barang secuil konklusi, suara ketukan pintu yang tiba-tiba nyaring menguar membuat atensi teralih.
Sakura menghela. "Siapa yang datang pagi-pagi begini?" Buku resep masakannya diletakkan, kemudian kakinya berjalan menuju pintu utama yang hanya berjarak dua meter dari kursinya. Begitu dibuka, tampak figur Naruto yang telah berdiri dengan raut yang teramat menekuk. "Lho, ada apa, Naruto? Tumben sekali."
"Ah, pagi, Sakura-chan. Sasuke ada di dalam, 'kan?" Si lelaki berkulit cokelat menjeda, jemarinya menggaruk tengkuk yang tak gatal. "Sepertinya dia melupakan rapatnya dengan para petinggi dalam lima menit lagi. Astaga, aku sampai-sampai harus menggunakan bunshinku untuk menjemputnya," ujarnya.
"Ah, iya, Sasuke-kun di dalam." Sakura nyaris ingin melangkah masuk lagi jika tubuh tegap sang suami yang tahu-tahu telah berada di belakangnya tak lantas menghentikannya. "Oh!"
"Kau terlalu khawatir, Dobe. Kalaupun lupa, aku masih dapat menggunakan mataku untuk sampai di tempatmu dalam sekejap." Sasuke menukas ujaran lelaki berhelai kuning itu terhadapnya yang terlontar sesaat lalu. Tubuh mendekat selagi mengenakan jubah yang semula tersangsang pada punggung kursi. Tampak Naruto menatapnya agak kesal dengan sebuah dengus mengudara. Baiklah, lupakan perihal ketidakpekaannya sejenak, sebab kini, terdapat misi yang cukup rumit tengah menungguinya untuk segera diselesaikan sejak pekan kemarin. Tetapi, sebelum benar-benar meninggalkan rumah, tepat satu langkah di depan pintu langkah Sasuke terhenti, sudut bibirnya kemudian yang tertarik membentuk kurva implisit tatkala berhadapan dengan sang isteri yang juga tengah tersenyum lembut.
"Aku mungkin akan pulang malam, tak usah menungguku, tidur lebih dulu saja."
Sakura mengangguk faham, ada semburat yang tampak mulai penuhi pipinya. Punggung lelaki rupawan itu akan sepenuhnya hilang dalam pandangan andaikata dalam tujuh detik menyusul, suara sopran yang familier di telinganya tak lantas menahannya untuk berjalan semakin menjauh. "Ah! Sasuke-kun, kau melupakan sesuatu."
Sontak Sasuke berbalik, menatap figur yang berdiri dekat sekali dengannya itu dengan setengah terkejut. Huh, apanya yang dilupakan? Tunggu, kenapa wajah isterinya memerah begitu? Ah, apakah ini seperti salah satu nasihat Naruto kemarin, alibi seorang isteri yang inginkan perhatian itu banyak sekali bentuknya, seperti misalnya malu-malu untuk mendapat kecupan selamat jalan dengan berpura-pura ada yang ketinggalan. Klise sekali, memang. Tetapi, ia mengerti. Sebab terkadang Sakura menjadi sungguh pemalu jika dihadapkan pada perihal yang begitu-begitu—yah, pokoknya yang begitu-begitu. Kakinya lantas mendekat, sempat senyum miringnya terlukis tatkala Sasuke mengikis jarak, bergerak untuk mengecup bibir ranum wanitanya sesaat. "Sudah, ya? Aku akan berangkat."
Hening dalam hitungan detik. Wajah Sakura memerah begitu pekat, sementara dalam tiga langkah di depan, Naruto tengah tampakkan raut keterkejutan dengan mulutnya yang menganga. Figur merah jambu itu kemudian mengadah, sempat keningnya dibuat mengkerut dibarengi lengan yang terangkat, memukul dada suaminya dengan amplop cokelat yang semula tergeletak di meja. "Kau melupakan ini, astaga!"
Lagi-lagi hening. Langka sang isteri tampak dibawa cepat-cepat menjauh selagi menutupi wajah dengan jemarinya, pintu dibanting cukup keras. "S-selamat jalan!"—adalah teriakan Sakura dari dalam selagi di tempatnya, pria berhelai sehitam bulu gagak itu hanya mampu membatu sembari memeluk map yang isterinya serahkan.
Tak terdengar barang sepatah kata yang mengudara, selain tawa Naruto yang begitu membahana. Wajah Sasuke begitu kecut dengan serat otaknya yang tengah penuh tanda tanya. Lho, kok Sakura malah membanting pintu begitu? Bukannya benar inginkan kecupan selamat jalan? Atau bagaimana, sih? Kemudian, bahu yang ditepuk membuatnya teralih. Naruto telah berdiri di belakangnya, menghela napas dibarengi gelengan kepala seolah memang perkara yang dilakukannya barusan itu teramat memprihatinkan. "Teme, ketahuilah, aku akan tetap mendukungmu jika Sakura-chan meninggalkanmu setelah ini."
Hah?
A/N: fic ini awalnya dari pair lain tapi kubuat sasusaku juga karena kupikir sasuke yang gak peka kalo overthinking bakal lucu :"D sorry kalo cringe ataupun ooc ya, humornya juga sepertinya garing, mohon dimaklumi soalnya udah lama gak nulis yang ringan-ringan :")
