Disclaimer : Sunrise

Quick AN:

Sempat baca cerita reinkarnasi dengan age gap, jadi ingin buat versi Athrun niichan x chibi Cagalli. Ada age-gap juga, jadi mungkin untuk chapter depan bisa dibilang borderline loli-love (tapi karena dua-duanya masi anak sekolahan tolong dimaklum), kalau tidak suka silakan click away. Sedikit menumpahkan isi kepala juga

Untuk saat ini cuma Athrun yang punya ingatan, nanti mungkin ada yang lainnya juga.


1 : May Be

"Kalau begitu sampai jumpa besok ya, Kira!"

Sambil berdiri beberapa langkah di belakang Kira, aku memperhatikannya melambaikan tangan pada pacarnya yang pulang bersama teman-temannya.

Meskipun begitu, pemandangan mereka berdua tetap asing bagiku.

"Ayo, Athrun," Kira yang sudah selesai berpamitan dengan pacarnya berbalik ke arahku.

"Ah, iya…" aku menjawab sambil mengikuti Kira, dan mengikuti sosok Flay yang pergi ke arah berlawanan bersama teman-temannya; katanya mereka mau mampir ke stand crepe di dekat stasiun. Begitu berbalik lagi, aku menangkap Kira juga masih melirik ke arah Flay, seolah masih belum ingin berpisah.

"Benar tidak apa-apa?" aku bertanya.

"Yap. Tugas kita juga harus segera dikerjakan, kita tidak bisa menundanya lagi."

"Kau yang menundanya terus," aku menekankan, masih tidak habis pikir. Tugas yang diberikan guru TIK dua minggu lalu dengan deadline 3 hari lagi, dan Kira baru berniat mengerjakannya sekarang. Untung aku sudah mengerjakan sebagian besar bagianku dan hanya tinggal perlu menyesuaikannya dengan bagian Kira.

Dia masih sama seperti dulu. Orangnya pintar namun susah sekali membuatnya punya inisiatif untuk memulai. Dia selalu begitu sejak dulu.

"Bagaimana, kau sudah mulai terbiasa di sini, Athrun?" Kira bertanya sambil berjalan sedikit lebih di depan dari posisiku, karena ini pertama kali aku mengunjungi rumahnya.

"Lumayan. Situasinya tidak terlalu jauh berbeda dengan sekolahku yang dulu," aku menjawab sambil melihat ke sekeliling, menghafal jalan supaya tidak tersesat ketika pulang.

"Apa ada orang yang menarik perhatianmu?" Kira menyikutku ringan, wajahnya yang menoleh ke arahku terlihat seperti merencanakan sesuatu.

"Menarik perhatian bagaimana maksudmu?"

"Yaa, yang begitu lah Athrun. Seperti aku dan Flay…" Kira tersenyum lebar, "Kau bilang belum pernah punya pacar selama 16 tahun sejak kau lahir ke dunia ini. Masa muda tidak akan datang dua kali lho," Kira menggoyangkan satu telunjuknya ke arahku.

Aku mendengus mendengarkannya."Ucapanmu itu terdengar seperti orang tua," aku menukas. Aku tidak tahu kalau dia tipe orang yang senang memamerkan pacarnya seperti ini.

Padahal dulu dia tidak seperti itu. Mungkin inilah perubahan drastis dari Kira yang selama ini aku kenal.

Flay Allster.

"Dia adalah orang yang harusnya kulindungi, orang yang sangat berharga bagiku…"

Rasanya aku masih bisa mendengar suara lemah Kira yang tidak berdaya, dari kokpit Freedom yang dikendalikannya, mati-matian mengejar lifepod yang membawa gadis itu.

Rasanya masa-masa itu seperti mimpi.

Valentine berdarah, perang antara Aliansi Bumi dengan Plant, dan perang kedua setelahnya.

Ketika aku lahir ke dunia ini, sejak aku memiliki kesadaran akan diri dan sekelilingku, aku mengingat semua masa-masa itu. Semuanya sangat jelas seperti kenangan yang nyata.

Masalahnya adalah, tidak ada siapapun yang ingat masa-masa itu selain aku.

Ibuku yang kusayangi, yang gugur dalam tragedi Valentine berdarah, hingga saat ini masih sehat bugar, bekerja sebagai peneliti botani. Ayahku yang dulu begitu berambisi menghapus semua kehidupan di planet bumi demi memenangkan pernah dengan Natural, saat ini juga masih sehat dan bekerja sebagai jaksa penyidik. Keduanya tidak tahu menahu tentang kehidupan kejam yang mereka alami dalam ingatanku itu.

Dan seiring bertambahnya usiaku, aku semakin yakin bahwa semua itu bukan mimpi, tapi ingatan yang nyata.

Hampir semua pengetahuan dasar yang ada di dunia ini sudah aku ketahui tanpa perlu mempelajarinya; geografi, sejarah, semuanya sama dengan catatan tentang masa sebelum perang rekonstruksi di awal tahun Cosmic Era.

Di masa ini, tidak ada Coordinator hasil rekayasa genetik manusia maupun Natural yang masih memiliki genetik aslinya, jadi tidak ada kesenjangan sosial akibat dua ras tersebut.

Begitu juga diriku yang di masa itu adalah seorang Coordinator, di masa ini hanyalah seorang manusia biasa.

Aku tidak punya kemampuan khusus seperti di masa lalu, ketahanan tubuh yang tinggi, kemampuan fisik yang di atas rata-rata orang pada umumnya, dan semua kelebihan seorang Coordinator.

Meskipun aku merasakan ketidakpraktisan hidup sebagai Natural, atau manusia biasa, aku merasa sedikit lega karena setidaknya sekarang semua orang memperlakukanku sama.

Tidak ada lagi yang berbisik tentang aku, si pengkhianat yang kabur dua kali dari Zaft, anak seorang penjahat perang, Coordinator yang memegang posisi tinggi di antara para Natural, aku sama seperti semuanya. Apalagi karena di masa ini, perang masih belum ada.

Sekarang aku setara dengan semua orang. Kelebihanku hanyalah pengetahuan yang pernah aku pelajari dulu, sehingga aku bisa dibilang lebih unggul dari yang lain karena mencuri start. Meskipun begitu, aku tetap menempuh pendidikan standar pada umumnya, mengikuti apa yang diatur oleh orang tuaku, berusaha berpura-pura menjadi anak sesuai umurnya di mana usiaku sebenarnya sudah lebih dari setengah abad.

Selain orang tuaku, aku juga bertemu beberapa orang dari masa lalu.

Dearkka dan Yzak yang dulunya lebih tua setahun dariku, sekarang ada di kelas yang sama denganku. Miguel dan Rusty jadi kakak kelasku, dan aku bertemu beberapa atasanku di ZAFT menjadi guru yang mengajariku. Aku bertemu Nicol ketika masuk sekolah menengah pertama, dan terus terus bersama mereka sampai SMA kelas satu.

Selama itu tidak seorangpun dari mereka yang memiliki ingatan sama sepertiku. Aku sempat memberanikan diri mencoba bertanya pada Yzak, Dearkka, dan Rusty. Namun mereka semua hanya menatapku seolah aku tiba-tiba berkepala dua, dan bertanya apa aku sedang membicarakan tentang mimpi yang kulihat semalam.

Sejak saat itu aku tidak pernah membicarakan tentang ingatanku lagi.

Meskipun ada rasa kesepian, bagiku sudah cukup kalau mereka bisa menjalani hidup di kesempatan kali ini tanpa ingatan tentang perang dan dendam di masa itu. Kehidupan damai ini yang aku harapkan untuk mereka.

Selama sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama, aku menghabiskan waktu bersama dengan teman-teman yang dulunya merupakan teman seperjuanganku di ZAFT. Namun, selama itu pula aku memikirkan teman-temanku yang lain, yang dulunya tinggal di negara Orb. Kemanapun aku mencari, tidak ada seorangpun yang kutemukan.

Sampai akhirnya ayah dipindahtugaskan, dan kami sekeluarga pindah kemari.

Di sini aku bertemu dengan Kira, Miriallia, dan juga Tolle yang hanya kutahu dari cerita orang dulu. Aku bertemu Lunamaria yang sekarang jadi kakak kelasku di sini, dan Meyrin yang sekelas dengan Flay, kekasih Kira sekarang. Dan sampai sekarang aku masih merasa canggung melihat Kira bersama Flay. Aku berpikir apakah suatu saat kekasih Kira di masa lalu, Lacus Clyne, akan muncul juga di kehidupan ini?

"Tapi kan tidak salah juga," Kira membantah ucapanku sebelumnya.

"Kalau maksudmu pacaran, tidak ada orang yang menarik perhatianku untuk itu saat ini."

"Sungguh? Bahkan Lunamaria, kakak kelas yang sering 'tidak sengaja' berpapasan denganmu itu?" Kira membuat tanda kutip dengan tangan kanannya. "Dia lumayan populer lho. Atau adiknya itu, temannya Flay. Mau kukenalkan?"

"Tidak. Tidak dia, tidak siapapun di sekolah. Tidak ada yang menarik perhatianku. Kau tidak perlu repot-repot." Aku menegaskan padanya.

Karena memang orang yang kucari tidak ada di sekolah ini.

"Hmm, begitu ya," Kira akhirnya menyerah dan menyudahi topik ini.

Seandainya saja dia memiliki ingatan yang sama denganku, mungkin dia akan tahu kenapa aku menolak tawarannya, dan menangkap maksud di balik saranku untuk mengerjakan tugas ini di rumahnya.

Dan juga tahu satu orang yang paling ingin kutemui di masa ini.

Di hari pertamaku di sekolah baru ini, begitu aku masuk ke kelas dan diminta berkenalan oleh guru wali, aku bisa langsung menemukan Kira yang duduk di meja paling belakang, dan aku diberikan kursi di sebelahnya. Kira menyapaku layaknya orang yang baru pertama kali bertemu, dan dari sana aku menyimpulkan bahwa dia tidak ingat apa-apa seperti Yzak dan yang lainnya.

Namun begitu, kami langsung akrab, seolah-olah kami sudah saling mengenal sejak dulu. Kira berkata ia merasa aneh karena merasa tidak asing denganku padahal ini pertama kalinya kami bertemu. Meskipun kenyataannya memang seperti itu, tapi hanya aku yang tahu hal itu.

Dan tentu saja aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menanyakannya.

.

"Kira… Apa kau punya saudara…?"

"Iya, aku punya adik perempuan," Kira menjawab santai, untungnya ia tidak menyadari ekspresiku yang entah rupanya seperti apa. Aku pun tidak ingat apa yang kurasakan waktu itu, kecuali jantungku yang berdetak kencang ketika menanyakan semua itu. "Kalau Athrun?"

"Aku anak tunggal," jawabku singkat, dan mencoba meneruskan topik tentang adiknya. "Adik perempuan ya? Dia sekolah di sini juga?"

"Sekolah di sini? Kita kan masih kelas satu. Sudah pasti adikku lebih muda dari aku, mana mungkin satu sekolah dengan kita," Kira sekarang memandangku heran.

Kesan mereka sebagai saudara kembar masih melekat dalam ingatanku, membuatku lupa kalau di masa ini semuanya banyak yang berubah. Apa sekarang usia mereka berbeda jauh? "O-ooh, memangnya sekarang dia kelas berapa?"

"Kelas 6 SD. Eh, kalau begitu sebentar lagi dia akan masuk SMP ya… Wah, cepat juga ya. Rasanya baru kemarin aku sering menjemputnya pulang waktu masih satu sekolah." Kira meneruskan seolah pikirannya teralihkan dariku.

.

Waktu itu aku merasa sedikit tidak menentu karena orang yang kucari berusia 4-5 tahun lebih muda dariku. Tapi sebelum aku bisa memastikan dia benar orangnya atau bukan, seseorang mencari Kira. Di saat itu jugalah aku pertama kali bertemu dengan Flay yang di masa ini berdiri di samping Kira, bukannya Lacus.

Meskipun banyak hal yang sama dengan di kehidupan pertamaku—akhirnya aku memutuskan untuk menyebutnya demikian—tapi banyak juga hal yang berbeda di masa ini. Bagaimana kalau seandainya orang yang sekarang menjadi adik Kira, bukanlah orang yang aku cari?

Jadi hari ini, dengan alasan mengerjakan tugas kelompok, aku menyarankan untuk mengerjakannya di rumahnya, sekalian memastikan apakah adik Kira di masa ini sama dengan di kehidupan sebelumnya.

"Oh iya, adikmu hari ini ada di rumah?"

"Hmm? Aah, kalau tidak salah katanya sepulang sekolah dia mampir ke rumah temannya, jadi mungkin sekarang dia masih belum pulang. Orang tuaku juga keduanya sedang bekerja. Jangan khawatir, tidak ada yang akan mengganggu kok."

"Oh, begitu ya," cuma itu yang bisa kukatakan untuk menjawab, padahal dalam hati aku sedikit kecewa karena justru adiknya lah yang ingin aku temui. Tapi setidaknya mungkin kalau aku ke rumah Kira, aku bisa melihat foto atau semacamnya di mana aku bisa melihat seperti apa adiknya itu. "Memangnya adikmu suka mengganggumu?" aku bertanya, mengingat ucapannya tadi bahwa tidak ada yang mengganggu kegiatan belajar kami.

Mendengar pertanyaanku, Kira terbahak singkat. "Haha, tidak, sama sekali tidak pernah. Cagalli kadang-kadang barbar juga kalau bersama dengan temannya, tapi di rumah dia tidak pernah merepotkan siapapun, mandiri dan pintar. Dia aktif dan ceria, tapi bukan anak yang manja. Pokoknya benar-benar adik yang baik. Jadi meskipun dia ada di rumah pun, kita bisa mengerjakan tugas dengan tenang."

Kira bercerita panjang tentang adiknya, sementara langkahku tertahan begitu mendengar nama yang disebutkan Kira.

Nama yang tidak pernah aku dengar lagi sejak aku membuka mata di kehidupan ini, nama yang hanya ada dalam pikiranku, namun tidak pernah hilang dari sana.

Cagalli…


Ga janji bakal sampai tamat sih, sementara cuma pingin nulis aja, haha

Edit: usianya Cagalli ditambah setahun, jadi kelas 6 SD. maap, nyesuain dengan plot

Cheers