Disclaimer: Sunrise

.

Oh iya, judulnya mungkin agak aneh karena ini asal ambil dari judul piano pieces yang lagi didengarkan selama proses penulisan XD


2: On the way

.

Sejak kecil aku mengingat suatu masa—suatu kehidupan sejak awal lahir hingga kematian—menimpa ingatan baruku yang seharusnya masih kosong ini.

Ketika masih bayi, aku yang tidak bisa apa-apa hanya bisa diam dan berlaku layaknya bayi pada umumnya. Tapi aku ingat, yang kurasakan saat itu adalah rasa bahagia sekaligus tidak percaya melihat ibuku, yang terlihat lebih muda dibanding ingatan terakhirku, yang seharusnya sudah meninggal karena kejadian Valentine berdarah, mengurusku dengan penuh kasih sayang.

Ayahku yang dulu lebih sering tidak ada di rumah dan sibuk dengan pekerjaannya, sekarang terlihat sedikit lebih lembut dibanding dulu, lebih memperhatikanku, meskipun beliau tetap sibuk dan tidak lebih dekat denganku dibanding ibu. Namun sekarang aku melihat dengan jelas kilatan rasa sayang yang selalu ada di matanya setiap kali bersama ibu.

Mungkin karena di masa ini, kami semua sama-sama manusia biasa, bukan lagi Coordinator yang berperang melawan Natural yang begitu membenci kami. Tidak ada perang, tidak ada kebencian, dan yang pasti, ibu masih berada di antara kami.

Seiring berjalannya waktu aku mulai bisa berbicara dengan jelas meski di dalam pikiranku aku bisa membuat kalimat sempurna dan berpikir lugas. Namun, waktu melihat wajah terkejut kedua orang tuaku, sedikit demi sedikit aku mencoba bersikap seperti anak-anak pada umumnya.

Dan itu sulit sekali bagiku yang memang tidak pandai berakting di depan orang di kehidupan sebelumnya.

Pada akhirnya, setelah berkali-kali melihat wajah ibu dan ayah yang ragu-ragu ketika melihatku berusaha berlagak seperti anak-anak, aku menyerah dan mulai bersikap lebih apa adanya di depan mereka, sambil mengerem sedikit tentang pengetahuanku. Mereka tidak pernah bercerita tentang kehidupan yang aku tahu, jadi aku merasa kalau mereka tidak tahu apa-apa. Akupun diam saja karena tidak mau membuat ibu semakin khawatir dengan kondisiku yang tidak biasa. Di depan orang lain dan teman-teman, aku berusaha meniru mereka semirip mungkin. Untunglah karena kebanyakan aku bergaul dengan anak-anak mereka lebih mudah untuk dikelabui.

Tapi bukan berarti tidak ada yang menyadari.

Dearkka yang lebih dekat denganku dibandingkan Yzak, menyadari kalau sikapku sedikit tidak biasa dibandingkan yang lainnya. Menurutnya aku terlalu tenang, bicara dan bermain denganku terasa seperti bersama orang dewasa. Apa yang disukai anak-anak seolah-olah tidak menarik buatku. Memang ucapanya hampir benar, tapi aku membantah dengan mengatakan itu mungkin hanya perasaannya saja.

Dan Yzak, entah kenapa di kehidupan kali ini pun sepertinya tetap benci padaku, dan menganggapku rival di segala bidang, baik pelajaran maupun olahraga, bahkan hobi permainan. Sebenarnya aku lebih unggul hanya karena bantuan dari ingatan masa laluku. Olah raga juga sama, meskipun aku harus berusaha lagi karena ketahanan dan kegesitan tubuhku berbeda dengan saat aku masih seorang Coordinator, tapi aku sudah paham teknik-tekniknya. Dan Yzak sepertinya tidak senang dengan itu. Makanya, mengalahkanku adalah misinya tersendiri di kehidupan ini.

Tentu saja, ketika di sekolah aku sering sengaja membuat jawaban salah atau pura-pura tidak paham akan beberapa hal. Orang pasti akan merasa heran kalau aku tidak melakukan kesalahan sedikitpun.

Sambil menjalani masa-masa sekolah seperti orang biasa untuk yang kedua kalinya—kali ini dalam situasi damai tanpa ada kegelisahan tentang perang yang bisa pecah sewaktu-waktu akibat ketegangan antara Natural dan Coordinator—aku mencari-cari sosok sahabatku yang masih belum kutemukan; Lacus, Kira…

Dan juga dia.

Tapi di sekolah tempatku belajar, aku tidak menemukan mereka. Di rumah sekitar tempatku tinggal juga aku tidak menemukan papan nama mereka. Akses luar yang bisa aku dapatkan terbatas karena usiaku yang masih belum diizinkan untuk berkeliaran, bahkan untuk akses dunia maya.

Dan lagi di masa ini, batas usia dewasanya adalah 18 tahun, sedangkan dulu sewaktu masih tinggal di Plant, aku sudah dianggap dewasa di usia 13 tahun. Itu artinya, aku tidak bisa melakukan apapun tanpa izin orang tuaku sampai setidaknya berusia 18 tahun. Bagiku ini suatu kondisi yang tidak menguntungkan.

Aku tidak tahu apakah usia Kira dan yang lainnya sama sepertiku atau tidak, tapi seandainya mereka lahir lebih dulu dariku …

Apakah itu berarti aku tidak akan bisa bertemu mereka di kehidupan keduaku ini?

Begitu aku terus berpikir, sampai-sampai orang-orang di sekitarku menyadari kalau ada yang tidak beres denganku. Terutama kedua orang tuaku.

Suatu hari, ibu memanggilku, memintaku bercerita jika ada hal yang mengganjal pikiranku.

Di masa sebelumnya, Kira selalu bilang kalau wajahku sangat mudah ditebak. Mungkin sampai sekarang hal itu tidak berubah, atau mungkin memang ibu sangat peka dengan kondisiku.

Aku mencoba menenangkannya, berkata kalau aku baik-baik saja. Tapi aku tahu kalau ibuku yang peka ini tidak bisa dibohongi. Ia tahu ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranku. Bahkan ayahku yang jarang bicara denganku pun sampai menyadari sikapku yang tidak biasa dibandingkan anak kecil lainnya. Tapi mana mungkin aku bisa cerita hal yang sesungguhnya pada mereka. Aku yakin orang akan mengecap aku gila dan menyuruhku bertemu dokter kesehatan jiwa kalau tahu; karena aku mempercayai sesuatu yang mustahil.

Aku mencoba lebih banyak tersenyum lebih akrab dengan temanku, mengajaknya ke rumah, ikut kegiatan bersama mereka, supaya orang tuaku tidak merasa khawatir.

Dan akhirnya, hari-hariku habis dengan berpura-pura menjadi anak seumuran dengan teman satu kelasku di sekolah.

Namun, satu yang tidak pernah lepas dari ingatanku adalah dia.

Mungkin saja ini adalah dimensi paralel, mungkin saja aku diberikan kesempatan untuk hidup di dimensi ini, supaya bisa bertemu lagi dengannya. Kesempatan yang sangat kebetulan, tapi mungkin justru di sinilah aku bisa melakukan hal yang dulu tidak bisa kulakukan.

Hidup bersama dengannya di dunia yang damai, tanpa perang, tanpa diskriminasi, tanpa acungan tangan penuh tuduhan yang menentang kami berdua.

Bukankah kehidupan di masa ini adalah yang paling cocok untuk merealisasikan semua itu?

Aku tidak percaya dengan keajaiban seperti ini; bagi kami Coordinator, sains adalah segalanya. Namun sekarang, aku ingin percaya dengan keajaiban itu, dan aku ingin percaya kalau keajaiban ini yang akan menuntunku untuk menemukannya lagi.

Untuk bertemu dan bersama dengan Cagalli lagi…

Dan akhirnya aku merasa seolah semakin dekat dengan tujuanku begitu melihat Kira di sekolah baruku. Aku yakin Kira pasti memegang kunci supaya aku bisa bertemu dengannya lagi. Makanya, aku menyarankan kegiatan ini di rumahnya, untuk memastikan apakah mereka masih tetap saudara atau bukan.

Begitu sampai di rumahnya, Kira langsung mengajakku ke kamar. Sayang sekali karena tadinya aku mengincar ruang tengah, sebab kemungkinan besar di sanalah Kira dan keluarganya memajang foto-foto mereka. Kusingkirkan rasa penasaran itu, dan fokus pada ruangan yang disebutkan Kira sebagai kamarnya.

Begitu masuk ke kamar Kira, hal pertama yang menangkap perhatianku adalah foto keluarga yang diletakkan Kira di atas meja belajarnya.

Dan di sanalah aku melihatnya.

Akhirnya… ketemu juga…

Foto keluarga yang terdiri dari 4 orang; ayah, ibu, kakak laki-laki dan adik perempuan.

Wajah sang ayah tidak ada dalam ingatanku, tapi aku pernah melihat sang ibu, di foto yang dibawa Kira dari suatu koloni bernama Mendel tempat kami bersembunyi pada masa perang dulu. Dan yang satu lagi dari foto yang diperlihatkan olehnya.

Aku mengenali wajah Kira yang terlihat lebih muda, jadi mungkin foto ini diambil beberapa tahun lalu.

Berarti hanya tinggal…

Gadis kecil yang berdiri di depan ibunya, mengenakan blus putih dan terusan rok berwarna hijau muda. Pita kecil berwarna sama diikatkan di kedua sisi kunciran di samping telinganya, menghiasi rambutnya yang pirang.

Dan matanya yang berwarna seperti madu masih terlihat dalam dan bersinar.

Untung saja Kira sedang turun untuk mengambilkan minuman. Kalau tidak entah bagaimana ia akan bereaksi melihatku yang terpaku menatap foto keluarganya ini. Menatap gadis kecil yang ada di foto ini.

Cagalli…

Perlahan tanganku naik, hendak menyentuh wajah yang kurindukan dalam foto itu, namun kuurungkan begitu aku mendengar suara langkah kaki Kira yang naik ke atas. Aku kembali ke tempat dudukku, berusaha menyembunyikan rasa berdebar karena akhirnya setelah sekian lama aku menemukan apa yang aku cari.

Setelah itu, aku berusaha fokus pada tugas kelompok kami, meskipun pikiranku penuh dengan gadis kecil itu. Namun, Kira yang di masa ini pun masih juga ceroboh dalam mengerjakan sesuatu mau tidak mau membuatku harus mengerahkan perhatianku padanya.

Ketika tugas kami mulai terlihat bentukannya dan hari mulai senja, Kira memutuskan untuk selesai hari ini dan meneruskannya lagi besok. Sayangnya dari cerita Kira, kemungkinan aku tidak bisa bertemu dengan adiknya hari ini. Aku pun mengiyakan, karena berharap besok bisa bertemu dengan Cagalli.

Lalu, seolah semesta tahu apa yang aku inginkan, aku mendapat tawaran yang tak terduga dari Kira

"Athrun, kau bilang orang tuamu sering pulang larut ya?"

"Ya, kadang-kadang tidak pulang sama sekali juga sering seperti malam ini." Kalau menjelang sidang kadang ayah pulang malam atau bahkan tidak pulang. Ibu juga kadang-kadang menginap di lab-nya kalau tidak sempat pulang. Sebenarnya ada untungnya aku punya ingatan masa lalu, jadi aku bisa bertahan hidup tanpa merepotkan kedua orang tuaku. Mereka kadang meminta maaf karena sering meninggalkanku sendirian semenjak mereka mulai bisa meninggalkanku di rumah tanpa perlu dititip ke orang lain. Tapi aku yang sudah biasa tinggal sendiri justru merasa biasa saja. Meskipun jarang bersama, setidaknya aku tahu mereka akan baik-baik saja, dan nantinya aku akan bertemu mereka lagi ketika mereka pulang ke rumah.

"Kalau begitu mau makan bersama?"

"Eh? Tapi…"

"Ayahku sedang dinas ke luar kota. Ibuku sudah bekerja full-time lagi sejak Cagalli kelas 4 SD, dan tadi ibu bilang akan lembur dan makan di luar, jadi aku hanya berdua dengan adikku. Kalau kau juga sendiri di rumah, bagaimana kalau makan malam bersama kami saja?"

"I..itu… Apa adikmu tidak keberatan…?" aku melayangkan mata ke arah lain selain Kira, bingung bagaimana menerima tawaran itu.

"Kau bilang kau juga sering ditinggal sendiri oleh orang tuamu, jadi kau pasti bisa masak kan? Bagaimana kalau sama-sama? Cagalli juga suka membantu kalau orang tua kami telat pulang, jadi dia juga bisa memasak. Semakin banyak semakin ramai kan?" Ia menawarkan sambil tersenyum.

"Benar? Kau bukannya mau minta aku untuk masak menggantikanmu saja kan?" Aku menatapnya tidak percaya, mencoba menyamarkan rasa penasaranku yang sebenarnya pada sosok adiknya itu.

"Eh? Hahaha, tidak kok, tidak begitu.. Haha," Kira malah setengah tertawa, berarti sepertinya tebakanku benar.

"Ya sudah. Aku beritahu orang tuaku dulu untuk jaga-jaga kalau-kalau mereka pulang cepat malam ini."

"Oke, kalau begitu nanti kita mampir ke supermarket dekat sini ya, ada beberapa yang harus dibeli."


Aku menghela nafas sambil membuka kunci rumah Kira.

Kira sendiri saat ini malah tidak bersamaku. Begitu kami selesai belanja dan dalam perjalanan pulang ke rumahnya, Kira baru ingat kalau orang tuanya sebenarnya menyuruhnya membeli beberapa barang, dan semua barang itu tidak ada di daftar belanjaannya.

Aku menawarkan untuk ikut dengannya, tapi karena hari semakin sore, Kira menyuruhku pulang duluan dan bersiap-siap lebih dulu supaya lebih cepat selesai, dan ia pergi sendiri kembali ke supermarket. Tentu saja setelah menyerahkan kunci rumah padaku.

"Permisi," Aku berkata pada rumah yang kosong ini, hanya karena tidak enak masuk ke rumah orang lain tanpa memberi salam meskipun tidak ada siapa-siapa.

Begitu tiba di ruang tengah, aku ragu apa aku langsung ke dapur saja atau menunggu Kira. Meskipun dia tadi bilang padaku untuk langsung memulai persiapan makan malam, tapi aku tetap merasa tidak enak bergerak seenaknya di rumah orang lain. Justru lebih tidak enak karena di sini tidak ada siapa-siapa. Kalau ada orang kan setidaknya aku bisa minta izin.

"Yah, orangnya juga sudah mengizinkan sih. Dari pada telat…" Aku bergumam sambil membawa belanjaan. Dalam hati aku menepuk jidatku sendiri karena lupa menanyakan di mana dapurnya.

Apa di sini ya, pikirku sambil berjalan ke arah lorong yang sepertinya menuju dapur. Aku merasa seperti penyusup di rumah orang…

Sebelum aku bisa bergerak jauh, tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki berderap dari atas, menuruni tangga.

"Kak Kira baru pulang? Kenapa tidak memangg—"

Suara itu…

Langkahku terhenti, dan aku bisa merasakan dadaku berdegup kencang mendengar suara itu—yang aku kira tidak akan bisa kudengar lagi untuk kedua kalinya. Lalu di saat bersamaan dengan suara langkah kaki yang terhenti, aku menolehkan kepalaku ke sumber suara, dari arah tangga.

Di sana gadis kecil yang usianya terlihat seperti sekitar 10 tahunan, masih dengan seragam sekolahnya, menatapku dengan wajah takut.


AN: Kalau salah tolong dibenarkan, tapi pas ngecek usia dewasa Coordinator di Plant (atau mungkin secara keseluruhan di timeline SEED?), usia 13 itu sudah dianggap dewasa, usia 15 bisa ikut pemilihan dewan pemerintah.

Makasih buat semua yang uda support dan stay untuk baca cerita gabut ini, terutama longlivecagalli dan Lupus Aureus, sungkem2 pokoknya

Semoga ceritanya ngga mengecewakan hehe

Cheers~