Disclaimer: Sunrise

Yang nanya gimana ending kehidupan sebelumnya, meskipun cuma sekilas balik, here you go


3. Memories In My Eyes

.

Aku bahkan tidak sempat berpisah dengannya.

Setelah perang selesai, Orb dan Plant memasuki masa di mana selama beberapa lama mereka mengupayakan kondisi-kondisi tertentu untuk membawa keamanan kembali pasca perang, hingga penandatanganan traktat perdamaian antara kedua negara itu.

Seiring dengan suara para dewan tinggi Plant yang mengharapkan kembalinya Lacus Clyne setelah keikutsertaannya dalam perang, mereka juga menawarkan padaku untuk kembali.

Tadinya aku merasa ragu karena aku yang sudah dua kali menjadi desertir dari Zaft masih diminta untuk kembali, tapi sejak awal memang reputasiku di Plant tidak seperti reputasiku di Bumi. Banyak yang mengenangku sebagai orang yang menghentikan ayahku sendiri yang berambisi untuk memusnahkan para Natural.

Dan sejak awal, tujuanku kembali ke Zaft adalah untuk menghapus bayang-bayang ayahku yang mungkin saja masih menjalarkan akarnya di suatu tempat, seperti waktu kejadian runtuhnya Junius Seven.

Kira pun tidak mungkin meninggalkan Lacus, jadi kami bertiga meninggalkan Orb dan memulai kehidupan yang baru di Plant.

Cagalli yang waktu itu kembali mengambil posisinya sebagai representatif dari para dewan kepala juga tidak mengatakan apapun yang menentang keputusanku. Ia memahami kami dan hanya mendoakan supaya jalan kami di sana selalu lancar tanpa aral apapun melintangi kami. Meskipun pada awalnya Kira ragu karena meninggalkan Cagalli sendiri, tapi ia meyakinkan bahwa sekarang ia tidak sendirian. Ada Kisaka dan yang lainnya di Orb, kami tidak selemah itu sampai kau harus tetap tinggal di sini, begitu katanya pada kami.

Aku juga sebenarnya tidak ingin meninggalkannya, tapi seperti waktu itu, ada hal yang harus kulakukan dulu, sebelum aku bisa kembali dan meminta izinnya supaya aku bisa posisi yang pantas untuk bisa berdiri di sampingnya, di depan semua orang, setelah aku membereskan masa laluku. Supaya aku bisa menjadi orang yang ikut menyokongnya, bukan menjatuhkannya hanya karena bersamaku.

Tapi sebelum semua itu bisa terwujud, di kehidupan pertamaku, tahun 75 C.E., Cagalli Yula Athha terbunuh dalam sebuah aksi terorisme yang menentang kerja sama Plant dan Orb.

Terakhir kalinya aku bertemu dengan Cagalli yang masih sehat adalah saat perpisahan kami meninggalkan Orb menuju Plant. Namun kali berikutnya aku bertemu dengannya, Cagalli sudah tertidur untuk selamanya, peti peristirahatan terakhirnya berhiaskan bunga casablanca yang menjadi simbol dirinya. Ia mengenakan gaun putih bersih, wajahnya dipoles dengan kosmetik yang menutupi warna pucat dari kematian.

Selamat tinggal yang kuucapkan tidak akan pernah sampai padanya.

Ungkapan cintaku yang kusampaikan pada jasadnya yang sudah membeku waktu itu juga tidak akan pernah sampai padanya.

Air mataku yang jatuh setelah aku meminta tentara Orb yang berjaga di ruang duka untuk meninggalkan kami sebentar, tidak akan pernah diketahui olehnya.

Sisa hidupku dipenuhi dengan pekerjaan dan penyesalan. Bertahun-tahun setelah Cagalli pergi, meskipun semua orang di sekelilingku menyuruhku untuk melanjutkan hidupku, dan beberapa orang mencoba mendekatiku, tetap ada satu bagian dariku yang tidak bisa kembali. Satu-satunya alasanku untuk tetap hidup hanya kata-kata Cagalli yang terus terngiang di kepalaku, bahwa bertahan hidup adalah perjuangan yang sebenarnya.

Aku tidak begitu ingat tentang kematianku. Tapi aku ingat aku berharap pada diriku sendiri.

Seandainya aku bisa hidup bersama dengannya lagi, di dunia di mana tidak ada perang, tidak ada jurang pemisah seperti Coordinator maupun Natural, di mana aku bukan anak dari seorang penjahat perang dan dia bukan putri dari suatu negeri.

Dan entah bagaimana atau mengapa, mungkin dari campur tangan Tuhan, Haumea, atau eksistensi agung lainnya apapun itu, semua itu terwujud, dengan terlahirnya aku di sini.

Dan di saat ini, saat di mana akhirnya aku menemukannya lagi.

Kami masih di posisi yang sama—aku memandang Cagalli dari lantai bawah sementara Cagalli masih berdiri di tengah tangga.

Mata dan tubuhku terpaku menatapnya selama beberapa waktu. Begitupun Cagalli yang masih menatapku dengan matanya yang terbelalak takut. Aku masih memikirkan apa yang harus aku katakan di saat ini. Namun tanpa sempat berkata apapun padanya, Cagalli seperti tersadar lebih dulu dibandingkan aku, dan segera berbalik, menghilang dari hadapanku. Aku hampir berlari mengejarnya tapi kuurungkan niatku. Sebab sama seperti kedua orang tuaku, Kira dan semua orang lain yang kutemui lagi di masa ini, Cagalli pasti tidak memiliki ingatan tentang aku dan kehidupan kami sebelumnya.

Makanya begitu melihatku dia pasti langsung kembali ke kamarnya, karena tidak lama terdengar suara pintu dibanting. Anak sekecil itu pasti takut kalau ada orang asing tiba-tiba ada di rumahnya ketika semua orang sedang tidak ada. Dia pasti mengira aku orang jahat yang masuk ke rumah untuk mencuri barang atau semacamnya, makanya meskipun kukejar ke kamarnya pun tidak mungkin dia membukakan pintu untukku. Aku masih orang asing bagi Cagalli yang sekarang.

"Aaargh," aku mengerang sambil mengacak-acak rambutku. Kalau Kira ikut pulang bersamaku pasti dia bisa mengenalkanku pada Cagalli dan kami bisa berkenalan secara baik-baik, bukannya membuatnya takut seperti ini.

Kembali lagi ke ruang tengah sambil membawa belanjaan kami tadi, aku mengeluarkan ponselku dan menghubungi Kira.

"Athrun, kenapa? Kau tersesat?"

"Bukan itu. Aku sudah sampai ke rumahmu dan adikmu sepertinya sudah pulang—"

"Apa? Cagalli sudah di rumah?"

"Begitulah. Tapi tadi dia langsung lari begitu melihatku. Cepat pulang, nanti dia mengira aku orang asing yang masuk rumahmu sembarangan dan melaporkanku pada polisi. Aku juga khawatir membuatnya takut tadi…" Aku mengusap wajah dengan tanganku yang satu lagi, menyesali salah paham yang terjadi dengan Cagalli.

"Hmm? Cagalli biasanya bukan anak penakut padahal…"

"Mau bagaimanapun, kalau ada orang tidak dikenal di rumahnya, wajar saja kalau anak sekecil itu takut. Kalau yang masuk bukan aku tapi seorang penjahat betulan bagaimana?" Aku jadi khawatir kalau-kalau kejadian itu benar-benar terjadi pada Cagalli. Dia yang sekarang masih anak-anak dan pasti tidak memiliki kemampuan bela diri seperti dulu.

"Oke, oke. Aku sedang jalan ke rumah. Beberapa menit lagi aku sampai. Aku juga akan telepon Cagalli. Tunggu ya." Kira berkata sebelum mematikan teleponnya denganku.

Aku menghela nafas sambil duduk di sofa ruang tengah. Sambil menunggu, aku mencoba mendengar tanda-tanda apakah Cagalli sedang bicara dengan Kira, atau apakah dia akan turun ke bawah atau tidak. Tapi tentu saja karena aku sudah bukan Coordinator lagi, suara yang jauh dari lantai dua rumah ini pun tidak terdengar sama sekali.

Alih-alih, aku memikirkan apa yang harus aku lakukan setelah ini.

Meskipun aku sudah menemukan Cagalli, tapi dia masih kanak-kanak, kelas 6 SD. Usianya mungkin baru 11 atau 12 tahun sekarang. Tidak seperti Kira yang menemukan Flay yang usianya sama, atau Miriallia dengan Tolle di masa ini, usiaku dengan Cagalli jauh berbeda. Bukan hanya dia tidak mengingatku, tapi kalau orang sepertiku mendekatinya, orang-orang di sekitar pasti memandang buruk padaku. Remaja macam apa yang tertarik pada siswi SD yang masih bocah?

Bisa-bisa aku dicap predator nanti.

Dan kalau menunggu sampai Cagalli dewasa, aku tidak yakin tidak akan ada orang yang mendekatinya juga. Sampai nanti Cagalli mencapai usia dewasanya, pasti ada setidaknya satu atau dua orang yang akan tertarik padanya, menyatakan perasaan mereka padanya, dan mungkin saja Cagalli menerimanya.

Aku teringat kembali masa di mana Cagalli hampir direbut oleh orang lain, dan apa yang kurasakan selama aku berada di sampingnya sambil harus melihat mereka bersama.

Rasa khawatir kalau Cagalli akan benar-benar menjadi miliknya.

Rasa tergesa karena kalau aku tidak melakukan sesuatu aku bisa kehilangannya.

Makanya aku memberikan cincin itu padanya dulu, untuk memastikan bahwa ia akan selalu menjadi milikku meskipun aku meninggalkannya sementara. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Cincin itu malah memberikan beban yang tidak perlu pada Cagalli.

Oleh karena itu, aku tidak mau hal seperti itu terjadi lagi di kehidupan kali ini. Aku ingin melakukan semuanya dengan benar.

Berarti aku harus bersabar, menunggu sampai saatnya tepat.

Tambah lagi, Cagalli sekarang mungkin masih takut padaku, sehingga mungkin akan butuh waktu sampai dia bisa merasa nyaman denganku, dan sampai akhirnya kami bisa akrab.

Seandainya saja dia memiliki ingatan yang sama…

Tidak, kalaupun memiliki ingatan yang sama, belum tentu Cagalli mau kembali bersamaku. Mungkin saja kepergianku ke Plant waktu itu sudah membuat kepercayaannya padaku hilang. Mungkin saja di kehidupan ini dia ingin bersama dengan orang lain yang bisa lebih memahaminya, lebih memperhatikannya, dan bisa selalu berada bersamanya.

Aku menundukkan kepalaku, bingung apa yang harus aku lakukan setelah ini. Aku tidak mau tergesa-gesa tapi aku juga takut Cagalli tidak mau menerimaku di kehidupan ini.

Apa sebaiknya aku—

"Athrun? Sedang apa kau di sini?"

"Gaah!" Aku terkejut mendengar suara Kira yang sudah berdiri di samping kursi yang kududuki. "Kapan kau sampai?"

"Beberapa menit yang lalu. Untung kau tidak kunci lagi pintunya jadi aku bisa masuk. Kenapa belanjaannya masih di sini? Kan tadi kubilang mulai masak saja." Kira dengan kalemnya mengambil tas belanjaan yang jatuh di sebelahku.

"Enteng sekali kau bilang begitu! Kau tidak khawatir pada adikmu?" Padahal aku menunggu di sini karena merasa tidak enak sudah membuat Cagalli takut. Tapi kakaknya malah santai begini.

"Oh iya. Cagalli mana?" Dia bertanya seolah-olah baru ingat pada adiknya.

"Tentu saja sembunyi di kamar! Dia pasti mengira aku maling dan masih takut untuk keluar!" Aku berseru, sedikit kesal karena dia tidak khawatir sama sekali.

"Masa? Dia tidak keluar sama sekali? Aku padahal sudah menjelaskan kalau kau temanku kok," Kira berjalan ke arah lorong yang mengarah ke dapur, tepat seperti dugaanku tadi, dan meletakkan belanjaannya di sana. "Ayo ikut, aku perkenalkan padanya." Kira melambaikan tangannya padaku, mengajakku naik ke lantai atas.

"Apa tidak apa-apa? Dia mungkin takut bertemu denganku." Kalau bisa aku ingin melihatnya sekali lagi hari ini, tapi tidak mau membuatnya tidak nyaman.

"Tenang, aku juga ikut kok. Kau tidak melakukan apa-apa pada Cagalli kan tadi?"

"Tidak. Begitu melihatku dia langsung naik lagi ke atas. Aku tidak sempat menjelaskan apapun padanya."

"Hmmm… Kok aneh ya," Kira bergumam sambil menaiki tangga. Aku hanya diam mengikutinya, masih ragu-ragu namun dalam hati aku memang ingin sekali bertemu lagi dengan Cagalli, dan kalau bisa bicara dengannya juga.

Di depan kamar Cagalli—yang ternyata ada tepat di depan kamar Kira tadi—Kira mengetuk pintunya. "Cagalli! Ini kakak. Tenang, kakak yang tadi bukan orang jahat kok. Dia temanku, tadi aku sudah cerita di telepon kan?" Kira memanggil dengan suara yang ramah. "Ayo sini, aku kenalkan."

Selama beberapa waktu tidak ada jawaban apa-apa dari dalam. Aku mulai khawatir jangan-jangan aku benar-benar membuat Cagalli trauma tadi. Tapi setelah beberapa waktu, ketika Kira hendak mengetuk lagi, pintunya tiba-tiba terbuka perlahan, dan aku melihat Cagalli dengan takut-takut mengintip dari balik daun pintu. Matanya yang ragu-ragu mencariku, lalu beralih ke Kira.

"Padahal biasanya kamu anak yang berani. Ada apa Cagalli?" Kira berjongkok, menyetarakan pandangannya dengan Cagalli. "Apa kakak yang ini seram?" Kira bertanya sambil menepuk kepala Cagalli, tangannya yang satu lagi menunjuk ke arahku dengan jempolnya.

Tanpa mengatakan apapun, Cagalli hanya menggeleng.

"Dia teman baru kakak, baru sebulan lalu keluarganya pindah kemari," Kira mengulurkan tangan menunjuk ke arahku. "Nah, ayo perkenalkan diri kalian." Wajahnya terangkat, menyuruhku memulai duluan tanpa mengatakan apapun.

"Ha-halo…" Aku berkata, suaraku sedikit kering. Setelah bertahun-tahun aku mencarinya, akhirnya, aku bisa bicara dengannya. "Namaku Athrun. Kalau kamu?" Aku teringat pertemuan pertama kami di pulau tak berpenghuni itu; dulu Cagalli yang bertanya lebih dulu, dan sekarang aku mengulang pertanyaan yang sama.

"Aku Cagalli," jawabannya terdengar pelan, matanya masih tidak mau bertemu denganku. Dalam hati aku panik, bagaimana ini, sepertinya aku sudah benar-benar membuatnya takut.

"Maaf ya, aku tadi membuatmu takut. Kau pasti kaget karena tiba-tiba ada orang asing di rumahmu kan?" Aku ikut berjongkok supaya tidak membuatnya takut dengan tinggi badanku; biasanya anak-anak lebih suka kalau kita mensejajarkan pandangan dengannya dan membuat mereka nyaman. "Aku tidak bermaksud buruk, tadi kakakmu ini lupa sesuatu dan menyuruhku kemari lebih dulu. Aku tidak bermaksud membuatmu terkejut. Maaf ya," aku mengulangi sekali lagi sambil mengulurkan tanganku.

Dengan didorong sedikit oleh Kira, Cagalli akhirnya mau mengulurkan tangan dan menggenggam tanganku.

Tangan ini.

Terakhir kalinya aku memegangnya, rasanya begitu dingin, sebab kehidupan sudah meninggalkannya. Tapi sekarang, tangan mungil yang ada dalam genggamanku ini begitu hangat, dan aku bisa merasakan kehidupan yang pasti darinya.

Di kehidupan kali ini, aku berjanji pada diriku sendiri, tidak akan membiarkan kehangatan ini hilang.

"Salam kenal ya, Cagalli."


Selama ngga stuck, mungkin bakal diupdate setiap weekend untuk beberapa minggu ke depan.

EDIT: Usianya Cagalli Shinku ganti, jadinya kelas 6 SD (sudah diedit di chapter 1 juga) setelah memperhitungkan plot kedepannya (biar lebih gampang nulisnya. Maap2, but author rules)

Cheers~