Disclaimer : Sunrise

.


4.

Yearning

.

"Athrun…"

"Ada apa, Bu?"

"Apa kau ada masalah akhir-akhir ini?"

Pisau di tanganku yang sedang mengiris daging terhenti mendengar pertanyaan ibuku. Dari sudut mataku, kuperhatikan ayah juga melirikku dari balik buletin malam yang baru saja tiba sore tadi. Suasana makan malam yang awalnya biasa saja ini terpecahkan oleh pertanyaan ibuku.

"Ada apa, Bu? Kenapa tiba-tiba…?"

"Sebenarnya sudah beberapa minggu ini kau terlihat agak… bagaimana bilangnya ya…" Kata-kata ibuku terhenti. "Akhir-akhir ini kau terlihat gelisah, lebih sering melamun… Apa ada masalah di sekolah barumu? Apa ada yang tidak cocok di sini denganmu?"

Aah, aku lupa kalau ibu sangat jeli terhadapku. Aku lengah karena mereka sering tidak ada di rumah, jadi aku pikir orang tuaku tidak akan sadar. Apa mungkin justru karena mereka hanya melihatku sesekali perbedaannya jadi terlihat jelas? "Tidak ada masalah apa-apa kok, cuma kepikiran tentang tugas sekolah saja," aku menyebutkan alasan yang bisa kupikirkan di waktu singkat itu, meskipun sepertinya ibu tidak akan percaya.

Tapi ibu menerima jawabanku, meskipun masih terlihat tidak puas.

"Athrun …"

"Iya, Ayah?" Aku mengalihkan pandanganku pada ayah, sedikit terkejut karena ayah memang agak jarang mengajakku bicara. Ayah lebih sering memperhatikan dari jauh, atau mendengarkan cerita ibu tentang aku. Biasanya ayah hanya akan bertanya langsung tentang sekolah atau pelajaran, tapi karena nilaiku selalu sempurna dan aku jarang kena masalah, beliau agak jarang mengajakku mengobrol.

"Apa tidak ada orang yang kau sukai di sekolah?"

Pisau dan garpu terlepas dari tanganku, menimbulkan bunyi nyaring karena terjatuh ke atas piring.

"Maaf, Ayah…? Apa …" Ayahku bertanya apa tadi?

Dari sudut mata, kulihat ibu mengatupkan sebelah tangan ke mulutnya gara-gara ayah menanyakan hal itu.

"Bukankah biasanya anak SMA jaman sekarang sudah mulai tertarik dengan lawan jenisnya? Apa sekarang kau jadi sering melamun gara-gara itu?"

"Tidak, tidak ada yang seperti itu kok! Aku masih ingin fokus dengan sekolah untuk sekarang," aku menjawab, sedikit bingung bagaimana menghadapi ayah yang sekarang. Di kehidupan sebelumnya, aku tinggal lama di bulan bersama ibu sementara ayah tetap di Plant. Setelah kembali ke Plant pun ayah tetap sibuk sehingga aku tidak menghabiskan banyak waktu dengannya. Lalu setelah resmi masuk ke Zaft, hubunganku dengan ayah lebih seperti atasan dan bawahan sebagaimana yang selalu ditekankan oleh ayah. Lalu setelah perang pun aku tidak punya sosok yang bisa kuanggap sebagai ayah yang dekat denganku; apalagi setelah kematian Cagalli aku lebih sering menyendiri. Jadi di kehidupan ini, meskipun hanya sejumput kecil saja, perhatian ayah yang seperti ini masih terasa asing buatku.

"Kalau begitu apa perlu ayah carikan tunangan untukmu?"

"Tidak mau!" Aku langsung berseru tanpa memikirkan apapun selain kata-kata yang dilemparkan ayah, tanpa meresapi maksud dibaliknya. Aku berseru dengan suara agak keras yang tidak pernah kugunakan di depan orang tuaku di masa ini, sama sekali. Ayah dan ibu yang tertegun melihat reaksiku yang tidak biasa untuk pertama kalinya—karena tidak seperti anak-anak lain, aku selalu tenang di depan mereka—hanya terpaku dan memandangku untuk beberapa waktu.

"Ah… maaf, aku tidak bermaksud berteriak begitu…" Aku kembali duduk—Ng? Kapan aku bangkit dari kursiku tadi?

"Athrun masih 16 tahun, masih terlalu muda untuk bertunangan, Sayang." Ibu maju untuk melindungiku. Aku meringis dalam hati, mengingat pertunanganku dulu yang diatur ayah sewaktu masih 14 tahun.

"Kalau begitu berhenti melamun dan jangan buat ibumu khawatir," ayah mengambil gelas teh hijau yang disiapkan ibu dan meminumnya; dari sikapnya, sepertinya ayah sudah selesai bicara denganku.

Mendengar balasan ayah, aku langsung mengerti alasan dari pertanyaannya yang tidak biasa; ternyata ayah bertanya begitu karena memikirkan ibu. Kalau begitu sih tidak heran.

Ibu menyuruh kami melanjutkan santap malam. Tapi tanganku yang membawa makanan ke mulut sedikit melambat dibanding tadi. Sebab apa yang dikatakan ayah kurang lebih tepat sasaran. Ada orang yang kusukai sejak dulu, dan perubahanku ini adalah karena dia sudah muncul lagi di hidupku yang sekarang.

Meskipun begitu, mana mungkin aku bisa mengatakan pada kedua orang tuaku kalau perempuan yang kusukai itu masih kelas 6 SD, dan usianya terpaut jauh dariku? Kalau ketahuan, ayahku yang seorang jaksa penyidik mungkin bisa saja kena skandal keluarga.

Tapi aku tidak menyadari kalau semenjak bertemu Cagalli ada perubahan yang sejelas itu pada diriku sampai ibu bertanya padaku. Memangnya selama ini aku seperti apa ya di mata orang-orang? Teman-temanku di kota ini semua belum lama mengenalku, jadi mungkin mereka tidak akan menyadarinya. Kalau aku bertemu Nicol dan yang lain apa mereka akan sadar juga seperti ibu, bahwa aku berubah semenjak menemukan Cagalli di kehidupanku yang sekarang?

Mengingat Cagalli lagi, aku menghela nafas pelan.

Meskipun masih belum bisa dibilang dekat, tapi setidaknya Cagalli sudah tidak begitu takut lagi padaku. Pertemuan pertama kami itu memang sedikit berantakan, baik dari segi waktu dan situasinya. Tapi pertemuan kami yang dulu pun seperti itu. Hidupku tidak pernah biasa saja sejak bersama Cagalli, baik di kehidupan pertamaku maupun di saat ini.

Acara makan malam bersama kami waktu itu sedikit canggung karena Cagalli lebih banyak diam. Seperti dugaanku, Kira tidak begitu banyak membantu, justru Cagalli yang lebih banyak melakukan ini dan itu. Kira lebih banyak memantau supaya Cagalli tidak melukai dirinya sendiri. Aku berupaya membantu sebisaku, tapi khawatir membuat Cagalli tidak nyaman karena kejadian di sore hari itu.

Waktu makan pun begitu, Cagalli makan sambil terus menunduk, meskipun sesekali Kira berusaha mengajaknya mengobrol.

.

"Telur gulung buatanmu enak sekali, Cagalli." Aku berusaha mengajak Cagalli bicara denganku.

"Terima kasih…" Cagalli menjawab singkat, masih menunduk.

Aaaah, apalagi ya yang biasa orang tanyakan pada anak seumur Cagalli sekarang? "Cagalli ikut kegiatan klub tidak di sekolah?"

"Tidak ada..."

"Sebenarnya dia ingin masuk klub basket, tapi di sekolahnya tidak ada," Kira menambahkan karena Cagalli terus menjawab singkat.

"Hmmm, semoga di SMP yang kau masuki nanti ada klub yang kau sukai ya," aku menjawab.

"Haha, karena sudah semester dua berarti tinggal beberapa bulan lagi, ya," Kira menimpali perkataanku. "Oh iya, Cagalli, kau mau ikut bimbel untuk persiapan ujian masuk SMP?" Kira meneruskan pembicaraan yang sepertinya berkaitan dengan rencana belajar Cagalli untuk kedepannya, dan pembicaraan mereka berlanjut selama beberapa waktu. Yah, lumayan lah setidaknya Cagalli tidak terlalu pendiam, meskipun aku jadi tidak begitu bisa masuk ke dalam pembicaraan mereka.

"Oh iya, bagaimana dengan Shinn?" Tiba-tiba pertanyaan Kira menarik perhatianku.

"Shinn?"

"Tidak ada apa-apa kok dengan dia!" Cagalli tiba-tiba menaikkan suara, membuatku kaget.

"Siapa itu?" Aku bertanya pelan, dalam hati menerka-nerka apakah dia adalah seseorang yang aku ketahui dulu.

"Teman Cagalli yang dia ajak ke rumah beberapa waktu lalu. Tahu tidak, Athrun? Aku shock waktu adikku yang imut ini mengajak laki-laki ke rumah. Aku benar-benar khawatir kalau akhirnya Cagalli akan direbut orang lain, padahal dia masih sekecil ini." Kira berseru dengan dramatis, lalu melihat ke arah adiknya lagi. "Padahal sampai beberapa waktu lalu kau bilang ingin menikah dengan kakak, tapi sekarang kau sudah punya pacar, Cagalli." Kira berpura-pura mengelap air mata yang sebenarnya tidak ada dari matanya.

"Aku tidak pernah bilang ingin menikah dengan kakak! Shinn juga bukan pacarku! Kakak jangan ngomong yang tidak-tidak, kami cuma mengerjakan tugas kelompok!"

"Pernah kok, dulu kau bilang begitu pada kakak satu kali," mereka berdua terus beradu mulut sementara aku hanya bisa memperhatikan.

.

Rasanya Cagalli jauh sekali. Dunianya yang belum kuketahui tidak bisa aku masuki begitu saja. Banyak yang harus aku cari tahu tentangnya, tapi apa aku diizinkan untuk itu, dengan usia kami yang terpaut jauh begini? Apa kata orang nanti melihat pemuda sepertiku mendekati seorang gadis kecil?

Pada akhirnya, apa aku dan Cagalli memang tidak ditakdirkan untuk bersama? Natural dan Coordinator, lalu sekarang gadis kecil dengan pria yang hampir dewasa. Orang yang memandang sebelah mata pada kami pasti akan tetap ada.

Tapi, apa Cagalli sendiri bahkan mau menerimaku lagi di kehidupan kali ini? Apalagi tadi Kira menyebutkan tentang Shinn, yang bahkan dibawa Cagalli ke rumahnya sendiri. Pasti keluarganya juga mengenalnya.

Kalau yang mereka maksud itu adalah Shinn Asuka… orang yang juga pernah ada di kehidupanku sebelumnya...

Tidak ada yang pasti di dunia kali ini. Kira saja sekarang bersama dengan Flay; entah apakah nantinya Kira akan bertemu dengan Lacus juga dan mereka akan bersama lagi atau tidak, tapi kemungkinan Kira akan terus bersama Flay juga ada. Aku pun tidak bisa ikut campur dalam masalah ini karena Kira yang sekarang tidak tahu apa-apa.

Dan Cagalli pun mungkin sama.

Selagi aku menunggunya menjadi dewasa sampai aku bisa secara resmi mendekatinya, bisa saja selama masa-masa itu Cagalli bertemu dengan seseorang yang menarik hatinya, menjadi kekasihnya dan tidak melirik ke arahku sama sekali. Ketika Cagalli resmi menjadi dewasa, aku sudah menjadi paman tua baginya. Mungkin malah dia merasa jijik denganku, apalagi kalau aku mendekatinya di usia itu.

Belum lagi di masa ini, orang tua Cagalli masih hidup. Kalau mereka tahu orang seperti aku mendekati putri kesayangan mereka, apa mereka bakal tinggal diam? Apa Kira bakal mengizinkanku melakukan itu pada adik kesayangannya?

Apa aku harus terima saja kalah sebelum maju seperti ini?

Hal itulah yang terus berputar-putar di kepalaku selama beberapa minggu terakhir ini.

Namun, meski dengan semua keraguan yang ada dalam pikiranku, aku tetap tidak mau melewatkan kesempatan apapun yang bisa aku dapat dari Kira supaya bisa menemui Cagalli. Meskipun tahu perasaanku ini tidak pantas untuk anak seumurannya, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menemuinya, apalagi setelah tahu kalau dia ada di dekatku.

Ketika aku datang, Cagalli menyapaku karena Kira tentu saja memberitahunya tentang kehadiranku. Lalu ketika aku mau pulang, Cagalli akan keluar dari kamarnya untuk memberi salam. Semua itu memang lebih ke arah tata krama ketika ada tamu. Namun meski hanya bisa melihatnya sebentar, untuk saat ini sudah cukup buatku.

Meskipun aku tahu bahwa diriku sendiri menginginkan lebih dari ini, aku menahan diri karena semua itu mustahil untuk sekarang.

Setelah santap malam, aku kembali ke kamarku untuk mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan besok, juga untuk memperlihatkan bahwa aku benar-benar belajar dengan baik, meskipun sebenarnya aku tidak perlu belajar. Setelah tugasku sekolahku selesai biasanya aku membaca buku yang aku pinjam dari perpustakaan ayah.

Ketika aku sedang melanjutkan buku yang aku baca sejak kemarin, tiba-tiba aku mendengar suara pintu diketuk.

"Athrun, Ibu boleh masuk?"


Thanks for reading, makasih juga buat semua yang sudah menyempatkan untuk review, semoga tidak bosan~

Memang, ga bapak ga anak sama-sama bucin sama S.O nya. Next time, sesi curhat bersama mama Lenore dulu ya

Untuk sementara masih belum kepikiran siapa lagi yang bakal muncul, jadi kaya Lacus atau Meer atau yang lain masih belum direncanakan.

Sebenarnya ide awalnya mereka seumuran, ketemu lagi pas dijodohin sama keluarganya. tapi yang satu ini ga akan bisa ditulis jadi banting plot ke chibi Cagalli yang masih gemoy.

Masih bersama Shinku, ayo yang ga bisa moveon dari asugcaga ngumpul sini tiap weekend selama beberapa minggu ke depan

Cheers~