Disclaimer : Sunrise
5.
Hope
.
"Athrun, Ibu boleh masuk?"
Jarang-jarang ibu datang menemuiku akhir-akhir ini. Tapi kalau mengingat percakapan kami ketika makan malam tadi, pasti memang jawaban yang kuberikan tadi masih belum memuaskan untuk ibu. Semoga saja ibu tidak mencurigai apa-apa.
Aku membuka pintu dan disambut oleh ibu yang berwajah lembut seperti biasanya. Sesuatu yang sudah sering kulihat namun terkadang masih membuatku takjub karena di kehidupan pertamaku ibu meninggalkanku dengan cepat. Sama seperti ayah, meskipun ibu tetap sibuk dengan tanaman-tanaman dan penelitian yang disukainya, tapi di kali ini kami memiliki lebih banyak waktu bersama karena tinggal serumah, tidak seperti dulu di mana kami tinggal di koloni yang berbeda. "Tentu saja, Bu." Aku membuka pintu lebih lebar, mempersilakan ibu masuk. "Apa ini tentang yang tadi, Bu?" Aku bertanya, duduk lagi di kursi belajarku sementara ibu duduk di tepi tempat tidurku. Begitu ibu mengetuk pintu kamarku tadi dan bilang ingin bicara sebentar, satu-satunya hal yang terpikirkan hanyalah itu.
Ibu mengangguk sebelum menjawabku, "Tentang ayahmu tadi, sebenarnya dia khawatir padamu seperti ibu juga. Kau tahu kan ayahmu itu bukan orang yang pandai bersikap terus terang soal perasaannya?" Ibu mencoba menyembunyikan senyumnya dengan tangannya.
"Aku rasa itu karena ayah tidak suka melihat ibu khawatir," aku menukasnya. Satu hal yang tidak bisa disembunyikan oleh ayah yang selalu berwajah kaku hanya rasa sayangnya pada ibu. Makanya aku sangat bersyukur ibu masih dalam keadaan sehat hingga sekarang.
Entah apakah aku bisa hidup bersama ayah di kehidupan ini jika ibu meninggalkan kami lagi. Tapi rasanya aku tidak akan sanggup melihat ayah yang sedikit demi sedikit hancur dan berubah jadi semakin dingin untuk yang kedua kalinya.
"Tidak, ayahmu benar-benar khawatir kok. Ibu kan selalu bilang, ayahmu selalu mengkhawatirkanmu bersama ibu. Sebenarnya dia yang minta ibu datang untuk bertanya, karena mungkin kau tidak nyaman bicara di depan ayahmu," ibu terdiam sesaat sebelum melanjutkan lagi, "Kau tahu kan sejak dulu kami tahu kalau kau memang unik dan berbeda dengan yang lainnya?" Aku hanya diam, masih tidak berani untuk mengiyakan, dan juga merasa sedikit sesal karena sudah mengecewakan mereka. "Ayahmu menawarkan pertunangan karena khawatir kau tidak menemukan orang yang satu frekuensi denganmu di sekolah, sebab kau selalu terlihat lebih dewasa dibandingkan anak lainnya, bahkan sejak masa kanak-kanakmu."
Aku mengerjapkan mata sambil memandang ke arah ibu. Ada pemikiran seperti itu dibalik tawaran ayah?
"Tapi kami terkejut karena tadi kau menolak dengan begitu tegas. Itu pertama kalinya kau menyatakan keinginanmu dengan gamblangnya di depan kami. Biasanya kau selalu patuh, tenang dan tidak pernah marah. Tapi tadi, rasanya kami seperti melihat sisi dari dirimu yang selama ini tidak bisa terlihat jelas, rasanya seperti… kau jujur sejujurnya. Bukan berarti kami menganggapmu tidak pernah jujur selama ini, tapi tadi kau seperti benar-benar membuka hatimu kepada kami. Mungkin terdengar membingungkan ya, tapi rasanya seperti itu bagi ibu." Ibu mengakhiri kata-katanya dengan tawa kecil seolah mencoba mencerahkan suasana.
Sudah kuduga, sekeras apapun usahaku, aku tidak akan bisa mengelabui ibu yang selalu bersamaku sejak kecil di kehidupan kali ini. Setidaknya ibu tahu kalau ada sesuatu yang aku sembunyikan, meski ibu tidak sampai tahu detilnya—fakta bahwa aku memiliki ingatan dari kehidupan pertamaku, dan bahwa aku sudah mengenal ibu dan ayah sejak sebelum lahir di kehidupan kali ini.
Dan responku terhadap ayah ketika makan malam tadi mungkin memang suara paling jujur dari hatiku yang paling dalam. Bahwa sekarang, setelah aku menemukan Cagalli, ditambah perasaanku padanya yang tidak pernah mati, aku tidak ingin memiliki hubungan lain dalam bentuk apapun. Apalagi pertunangan yang mengikat dua keluarga secara resmi. Bahkan meskipun aku masih tidak tahu apakah Cagalli akan menerimaku lagi atau tidak nantinya.
"Karena kau sepertinya berkeras tidak mau bertunangan, ibu jadi penasaran, apa sekarang sebenarnya ada orang yang kau sukai?" Ibu menatapku dengan lembut, tapi tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahu yang terpancar jelas. Berbeda dengan dulu di mana pernikahan antar Coordinator harus diatur sesuai kompatibilitas masing-masing pasangan, sehingga aku dan ibu tidak bisa berkata banyak ketika ayah mengatur pertunanganku dan Lacus. Di masa ini, aku bisa memilih pasanganku sendiri. Tapi...
"Itu…" Bagaimana aku bisa bilang pada ibu tentang Cagalli? Ini bukan masalah sederhana di mana aku menyukai seseorang tapi dia tidak balik menyukaiku.
"Ayahmu juga berpikir mungkin sikapmu akan lebih santai dan tidak gelisah lagi kalau kau punya pacar seperti anak sebayamu, dan yakin meskipun pacaran kau pasti bisa tetap mempertahankan nilai sekolahmu. Itu juga salah satu alasan ayahmu bertanya begitu tadi."
"Eh…?"
"Kan sudah ibu bilang, ayah juga sangat mengkhawatirkanmu. Karena sikapmu yang begitu dewasa di usia muda, sewaktu kau masih kecil kami sangat khawatir apa kau bisa menjalani masa depan yang normal seperti anak yang lainnya."
Kepalaku tertunduk, aku jadi merasa bersalah karena sudah membuat kedua orang tuaku khawatir selama ini.
"Jadi, bagaimana? Apa ada orang yang kau suka di sekolah barumu?" Ibu bertanya sekali lagi.
Kalau pada ibu, mungkin aku bisa cerita sedikit. Sebab aku tidak tahu lagi pada siapa aku harus mengadu pada siapa di kehidupanku yang sekarang. Aku tidak pernah bisa sepenuhnya membuka hatiku karena tidak akan ada yang memahami ingatan yang aku bawa dari kehidupan sebelumnya. Aku selalu merasa kesepian karena hanya aku yang mengenang masa laluku. Aku tidak punya seorangpun yang bisa menjadi tempatku berkeluh kesah tentang semua ini.
Hatiku yang sejak kehidupan pertama selalu merindukan sosok ibu untuk bermanja, langsung terhanyut dalam pemikiran itu. Di masa ini, ibuku masih ada di sini bersamaku. Dan di usiaku yang sekarang, aku masih belum dianggap dewasa. Jadi sedikit saja, boleh kan aku bermanja pada ibu sebentar?
"Ibu mungkin akan kecewa padaku…" aku memulai dengan sebuah peringatan. Aku tidak tahu sampai mana aku bisa jujur pada ibu, tapi aku tidak mungkin langsung jujur tentang semuanya. Sesayang apapun, seberapapun pengertiannya ibu padaku, kalau ibu tahu aku menyukai gadis yang jauh di bawah umurku pasti beliau tidak akan setuju.
"Kecewa…?" Ibu mengulang ucapanku, menelengkan kepalanya ke samping, bingung. Tiba-tiba kudengar suara ibu terkesiap. "Athrun… apa… jangan-jangan selama ini sebenarnya…" Ibu meneruskan dengan suara bergetar.
"Eh…?" Aku ikut terkesiap, apa jangan-jangan ibu menebak tentang ingatan masa laluku? Atau menebak tentang Cagalli? Tapi aku belum pernah cerita tentang dia pada ibu, hanya tentang Kira saja.
"Nak… apa alasanmu menolak tawaran ayahmu itu… karena sebenarnya kau tidak tertarik pada lawan jenismu?" Ibu meneruskan dengan suara kecil.
Hah?
"Tidak tertarik pada lawan jenis…?" Aku mengulangi. Maksudnya berarti…
Aaaaah!
"Apa kau merasa begitu sejak kecil? Kalau benar begitu, jujur saja pada ibu, nak. Ibu—"
"Tunggu, tunggu, tunggu! Ibu salah paham!" Aku berteriak dan berdiri dari kursiku begitu cepatnya sampai kursiku jatuh. Tapi aku tidak peduli, aku harus meluruskan hal ini. "Aku tidak seperti yang ibu pikirkan! Aku masih suka pada wanita kok!" Aku menggerak-gerakkan tanganku, berusaha meyakinkan ibu meskipun gerakanku ini tidak ada artinya. "Jadi—anu, itu… pokoknya aku tidak…O-orang yang aku sukai seorang perempuan, jadi—"
"Oh begitu ya," aku mendengar ibu menghela nafas lega. "Syukurlah, berarti ibu bisa menggendong cucu ibu di masa depan nanti, kan?" Ibu tersenyum lebar.
"C-c-cucu….?" Keringat dingin langsung membasahi punggungku. Ibu berpikir terlalu jauh ke depan! Jangankan memberikan ibu cucu, ingatan bahwa di masaku seorang Coordinator, apalagi generasi kedua, sangat sulit untuk memiliki keturunan masih terasa lekat di ingatanku. Di masa ini, karena aku manusia biasa sama seperti Natural, mungkin aku tidak akan menemukan masalah seperti itu, tapi biarpun demikian aku bahkan tidak tahu apa aku bisa bersatu dengan Cagalli di dunia ini—aku masih belum bisa memikirkan untuk bersama dengan orang selain Cagalli. Dan lagi, dia bahkan masih kelas 6 SD, mana bisa aku berpikiran seperti itu pada anak kecil? "I…itu… ibu, dia…"
"Aah, maaf. Ibu terlalu bersemangat. Padahal masih ada masa kuliah dan bekerja sebelum kau memantapkan pasangan hidupmu ya," ibu mengerem pikirannya. Tapi ibu sekarang sudah tidak terlihat khawatir, malah senyumnya semakin lebar. "Jadi perempuan yang kau sukai itu…?"
"Eh?"
"Tadi kau bilang orang yang kau sukai itu perempuan, kan?"
Aagh, mulutku kelepasan! Aku refleks menutup mulutku, meskipun tidak ada artinya karena aku tidak bisa menarik kata-kata yang sudah kuucapkan. "Iya tapi… untuk sekarang aku masih belum bisa bersamanya…"
"Ooh… Apa… dia sudah punya pasangan lain…?" Sudut mulut ibu langsung turun, menunjukkan rasa prihatin padaku.
"Itu…" Apa lebih baik kusamarkan seperti ini saja ya…? Sebab kalau aku harus menunggu, paling cepat mungkin baru 6 tahun lagi aku bisa bersama Cagalli secara resmi tanpa dikomentari orang kalau aku memacari seorang anak di bawah umur. Itupun kalau dia tidak memiliki orang lain dalam hatinya, dan mau menerimaku di kehidupan ini.
"Athrun, kau tahu kan kalau kau tidak bisa masuk ke dalam hubungan orang lain dan merusaknya? Kau harus menghormati keputusan gadis itu dan membiarkannya bahagia," Ibu menasihatiku, masih berpikir kalau teorinya benar. Tapi kata-katanya juga bisa berarti bahwa aku harus merelakan Cagalli karena usia kami yang saat ini terpaut jauh.
"Aku… tidak akan… Tidak ingin merusak kebahagiannya seperti itu," kuputuskan untuk mengiyakan teori ibu untuk saat ini, soalnya aku bingung bagaimana menjelaskannya. Sebisa mungkin, sedekat mungkin aku bercerita tentang posisiku sekarang dengan Cagalli. Aku tidak mungkin cerita pada Kira tentang ini—bisa-bisa aku dicoret dari daftar pertemanan dengannya. Bahkan pada temanku yang lain pun aku tidak mungkin bisa cerita tanpa mereka memandang negatif padaku lebih dulu. Cuma ibu sekarang yang bisa aku mintai tolong untuk mendengarkan ceritaku. "Aku tidak akan melakukan apapun, aku tidak akan mengganggu hubungan mereka, tapi aku ingin menunggunya. Dia tidak tahu apapun tentang perasaanku, tapi aku masih berharap aku punya kesempatan nantinya."
Sambil berkata begitu aku meresapi semua yang kuucapkan sendiri perlahan.
Aku sudah menunggu Cagalli sejak lama, di kehidupan sebelumnya aku menghabiskan sisa hidupku seorang diri puluhan tahun karena tidak bisa mengganti sosok Cagalli dengan orang lain. Dan selama 16 tahun sejak aku lahir ke masa ini aku terus menunggunya hadir kembali di hidupku.
Apa bedanya menunggunya 6 tahun lagi?
Dan lagi, di kehidupan pertamaku, akulah yang membuat Cagalli menungguku untuk bisa pantas berdiri di sampingnya. Kami tidak bisa bersama karena situasiku sendiri. Kalau begitu, bukankah sekarang adalah giliranku?
Setelah 6 tahun dari sekarang, ketika Cagalli menjadi dewasa, asalkan Cagalli masih sendiri, aku akan menyatakan perasaanku padanya. Kalau ternyata ada orang lain yang disukainya, aku akan tetap menunggunya tanpa memaksa untuk bersamanya.
Yang bisa aku lakukan sekarang hanya mengakrabkan diriku dengan Cagalli—supaya dia tidak merasa asing denganku—tanpa melewati batas.
Mau bagaimanapun kemungkinannya, mau kecil ataupun besar, aku masih punya kemungkinan untuk bersama Cagalli. Justru sekaranglah masa yang tepat untuk berjuang mendapatkannya. Perbedaan usia bukan apa-apa jika dibandingkan dengan semua dinding yang menghalangi kami di kehidupan sebelumnya—orang-orang yang tidak merestui Natural dan Coordinator, masa laluku sebagai putra seorang kriminal perang, posisi Cagalli sebagai seorang kepala negara, aku yang menjadi seorang desertir untuk kedua kalinya dari Zaft. Dibandingkan itu semua, perbedaan umur tidak akan menjadi masalah asalkan aku mendekati Cagalli di usia dewasa.
Enam tahun, hanya selama itu saja...
"Ibu ingin bilang kalau masih ada wanita lain yang bisa kau jadikan pilihan, tapi melihat matamu sekarang, sepertinya kau tidak akan mendengarkan kata-kata ibu ya," ibu yang sedari tadi menatapku tersenyum kembali. Aku terdiam, apa wajahku sebegitu jelasnya terbaca, sampai perubahan hatiku yang singkat ini bisa langsung ketahuan oleh ibu. "Tapi kalau kau sudah memutuskan, ibu tidak akan menentangmu. Asalkan kau tidak mengganggu kebahagiaan orang lain, apalagi gadis yang kau sukai."
"Aku tidak akan melakukan itu." Aku berjanji. "Aku akan mundur kalau memang dia tidak menerimaku sama sekali." Untuk yang ini aku masih harus meneguhkan hatiku dulu. Tapi aku masih belum mau menyerah. Aku bukan tipe orang yang menyerah dengan mudahnya, bahkan sejak kehidupan pertamaku.
"Baiklah kalau begitu, ibu harap perasaanmu bisa lebih membaik untuk kedepannya," ibu bangkit dari tempat tidurku dan berjalan ke arah pintu. Sebelum ibu keluar, ia berbalik ke arahku, "Kalau ada masalah lain, bicarakan dengan kami ya. Kami tahu kau selalu berpikiran dewasa, tapi kami juga orang tuamu, dan akan melakukan apa saja untuk membantumu. Kau bisa selalu bergantung pada kami, Athrun."
Dadaku sedikit tercekat. Mungkin inilah hal yang tidak aku miliki di masa lalu, yang membuatku selalu terombang-ambing tidak tentu arah. Video citra satelit yang menunjukkan hancurnya Junius Seven tempat ibu berada saat itu melintas sekelebat di pikiranku, mengingatkanku pada kepergian ibu di kehidupan pertamaku.
Aku benar-benar bersyukur bisa diberi kesempatan untuk menjalani hidup untuk kedua kalinya, dengan keluarga yang utuh. "Aku mengerti. Terima kasih, Bu," aku mengangguk sambil tersenyum. "Ibu..."
"Iya, Athrun?"
"Aku… sangat bersyukur karena ibu dan ayah adalah orang tuaku." Kira dan Cagalli tidak bersama dengan orang tua angkat mereka, yang membesarkan mereka sejak kecil di kehidupan sebelumnya. Tapi aku bersyukur atas kesempatan untuk menjalani kehidupan yang damai bersama kedua orang tuaku lagi.
Ibu terlihat tertegun dengan kata-kataku, tapi beliau hanya tersenyum, "Ibu juga bersyukur karena kamu adalah anakku."
"Tolong sampaikan terima kasihku pada ayah juga." Aku juga sangat bersyukur karena bisa memiliki hubungan yang sedikit lebih baik dengan ayah dibandingkan dulu, meskipun mungkin kami masih harus lebih banyak berinteraksi lagi.
"Tentu. Selamat malam, Athrun," sambil melemparkan senyum sekali lagi ibu meninggalkan kamarku.
Trivia: Ada softener baju nama merk-nya 'Renoa' (spelling Lenore kalau ditulis huruf katakana) dan dulu Shinku selalu pake itu cuma karena brand nya namanya sama dengan mamanya Athrun XD
Dipikir-pikir kayanya baru kali ini nyoba nulis tentang Lenore, apalagi semi-canon dan interaksinya sama Athrun. Semoga penggambarannya sesuai ekspektasi
Tadinya mau dobel update, tapi entah editnya keburu atau ngga. Ditunggu saja yah hehe
Buat yang libur panjang, selamat liburan. Buat yang liburnya sesuai kalender seperti Shinku, enjoy your weekend sebelum Senin masuk lagi~
Happy new year! Thanks for joining me and my stories this year. Hope you guys have a wonderful new year ahead
Cheers~
