Disclaimer: Sunrise
AN: Sedikit warning, karena age-gap ini mungkin dari satu sisi ceritanya bakal jadi borderline grooming karena sekarang Athrun bakal sedikit-sedikit approach ke Cagalli. Mungkin ada yang bakal kurang nyaman juga, cuma terselamatkan sedikit karena bagi kita, semua tau asucaga is meant to be. Sebagai disclaimer Shinku tidak mendukung grooming sama sekali ya, apalagi dengan kasus terkait yang lagi naik baru-baru ini. This is purely fiction, dan Athrun di cerita ini pun ga akan ngapa-ngapain Cagalli sampai dia cukup umur, and with her consent of course.
6.
Wait There
.
"Benar tidak apa-apa sayuran sebanyak ini untuk kami, Athrun?" Kira bolak balik melihat ke arah sayuran yang ada dalam kardus dan ke arahku.
"Tidak apa-apa. Ibu sendiri yang memberikannya karena aku sering dijamu di sini."
"Tapi kan biasanya kau yang membantu kami memasak. Tidak perlu repot-repot memberi yang seperti ini juga tidak apa-apa kok."
"Ini varietas yang dikembangkan sendiri oleh ibu di lab dan dibawa ke rumah, jadi ibu juga ingin orang lain mencoba dan memberitahu apakah rasanya enak atau tidak, meskipun menurut kami tetap seenak sayur yang biasa. Tapi ibu juga ingin pendapat yang lain. Jadi aku harap kalian tidak keberatan untuk mencoba juga."
Aku mulai sering cerita pada ibu dan ayah tentang Kira yang sering membantuku di sekolah, dan bahwa aku kadang-kadang menghabiskan waktu di rumah Kira kalau ayah dan ibu lembur atau tidak bisa pulang. Ibu berkata bahwa sedikit demi sedikit raut wajahku mulai membaik akhir-akhir ini. Aku yang tadinya selalu terlihat gelisah selama beberapa waktu, sudah terlihat sedikit santai dibandingkan dulu, apalagi kalau baru pulang dari rumah Kira—atau setidaknya begitulah menurut ibu.
Jadi ibu memang sudah berniat memberikan ini sebagai ucapan terima kasihnya, karena sudah membuatku nyaman di kota baru ini. Ibu bilang ayah dan ibu merasa sedikit bersalah karena tiba-tiba harus pindahan dan membuatku terpisah dari teman-temanku yang sudah kukenal lama. Selain itu, karena aku sekarang 'menyukai orang yang seharusnya tidak kusukai', ibu merasa sedikit lebih tenang karena ada Kira yang menemaniku, dan membantuku move-on dari orang yang seharusnya tidak kusukai itu (ibu masih percaya teorinya itu dan aku juga belum berani membetulkannya).
Yah, meskipun itu tidak bisa dibilang salah juga. Karena penyebab aku semakin membaik dibandingkan dulu adalah kurang lebih memang karena Kira, atau lebih tepatnya Kira yang membuatku jadi bisa bertemu Cagalli.
Seiring dengan semakin akrabnya aku dengan Kira di kehidupan yang sekarang, aku jadi bisa bertemu Cagalli lebih sering. Selain itu setelah berbicara dengan ibu waktu itu, aku mulai mencoba mengesampingkan dulu kekhawatiran yang disebabkan perbedaan umurku dengan Cagalli yang cukup jauh. Kuputuskan untuk menunggu Cagalli mau bagaimanapun hasilnya nanti dan fokus untuk menjadi akrab dengannya dulu untuk sekarang. Mungkin sikap optimisku inilah yang membuatku lebih santai dibandingkan dulu.
Makanya aku sangat menantikan saat-saat bisa bertemu Cagalli lagi. Setiap kali Kira mengajakku ke rumahnya—kalau ia sedang tidak bersama Flay—untuk mengerjakan tugas, atau bahkan sekedar main video game bersama, aku selalu mengiyakan. Seperti sekarang, kami baru saja menyelesaikan makalah dan membuat bahan untuk presentasi kelas Wirausaha besok dan Kira mengundangku lagi untuk makan bersama sejak kemarin. Kira kadang-kadang mengejekku, karena aku jomblo jadi aku pasti mau saja kalau diajak ke rumahnya.
Aku bersyukur dia tidak tahu tujuanku yang sebenarnya. Kalau tahu, pasti Kira tidak akan membiarkanku mendekati rumahnya lagi, dan tidak akan membiarkanku bertemu Cagalli lagi.
Tiba-tiba terdengar suara pintu depan dibuka, dan diikuti dengan suara, "Kira, Cagalli! Ibu pulang."
Aku yang diberitahu Kira kalau ibunya malam ini akan lembur, terkejut. Bagaimana ini, kalau ibunya pulang aku jadi tidak enak ikut makan malam bersama dengan mereka. Apa sebaiknya aku pulang saja? Padahal aku sangat menantikan bisa makan malam bersama Cagalli lagi.
Kira juga sepertinya tidak tahu ibunya akan pulang di jam segini, karena ia segera pergi menyambut ibunya setelah menyuruhku menunggu sebentar di sini. "Ibu? Selamat datang, aku kira Ibu pulang larut, jadi aku mengajak temanku makan malam."
"Athrun kan?" Aku mendengar ibunya menjawab. "Tidak apa-apa. Semakin banyak semakin ramai kok. Ibu juga ingin bertemu dengannya." Suaranya semakin dekat ke arah dapur, dan orang yang sebelumnya hanya pernah aku lihat di foto—baik di kehidupan pertamaku maupun di kehidupan ini—muncul dari mulut pintu dapur. Wajahnya langsung tersenyum cerah, dan aku sedikit terpana melihat betapa miripnya Kira dengannya. Di kehidupan sebelumnya, aku selalu merasa kalau Kira mirip dengan tante Caridad dibanding paman Haruma—sebelum tahu kalau mereka adalah orang tua angkat. Sekarang setelah melihat ibu kandung Kira, mereka hampir seperti pinang dibelah dua. "Halo, Athrun ya? Tante sering sekali mendengar tentangmu dari Kira dan Cagalli. Panggil saja tante Via ya." Ibu Kira, tante Via, melambai ringan ke arahku.
"Iya, Tante. Saya Athrun," aku sedikit terkejut, apa benar Cagalli juga cerita tentangku? Padahal kami masih jarang bicara. "Maaf, tiba-tiba mengganggu acara makan malam Tante sekeluarga."
"Tidak apa-apa kok. Tante senang Kira punya teman yang dekat sepertimu sekarang. Soalnya dulu kerjaannya cuma main game di kamar terus sendirian. Baru setelah punya pacar dia jadi sering main, meskipun tante khawatir dia hanya keluar karena ada pacarnya. Syukurlah dia juga punya teman yang sepantaran dengannya," tante Via mengetuk ringan kepala Kira yang datang mengikutinya ke dapur. Tanpa mempedulikan Kira yang merengut, ia mengalihkan pandangannya lagi ke arahku. "Lho, apa ini?" Tante Via menyadari sayuran dengan jumlah lumayan banyak yang aku bawa.
"Ini dari ibu saya. Soalnya Kira banyak membantu saya sewaktu baru pindahan hingga sekarang sampai saya bisa terbiasa dan nyaman di kota yang baru ini. Apalagi saya kadang-kadang ikut merepotkan dengan berada di sini sampai ikut makan. Jadi kami juga ingin berterima kasih. Ini sayuran yang ditanam sendiri oleh ibu."
"Aduuh, padahal kan Athrun juga yang ikut memasak. Jadi sebenarnya tidak perlu repot-repot. Malah Tante berterima kasih kamu mau membantu Cagalli masak karena Kira tidak bisa diharapkan membantu adiknya itu. Oh iya, berarti ibumu Lenore Zala yang baru-baru ini mulai ikut acara dwi-mingguan rukun tetangga ya."
"Betul," Benar juga, kalau tidak salah ibu juga pernah cerita kalau dia kenal ibunya Kira karena asosiasi antar-tetangga yang kadang-kadang mengadakan acara kumpul bersama.
"Ibu dari tadi kenapa menjelek-jelekkan aku terus sih," Kira merengut sebal.
"Habis temanmu ini malah lebih bisa diandalkan membantu Cagalli daripada Kira yang seharusnya sudah jadi kakak."
Aku mendengar derap langkah yang sekarang sudah familier, dan sangat kutunggu setiap datang kemari. "Lho, ibu sudah pulang?"
"Hari ini ibu tidak jadi lembur, Cagalli. Ayo, bantu ibu memasak. Athrun tunggu dengan Kira saja ya. Biar kali ini tante dan Cagalli yang masak," ibu Kira mengusir kami para pria dengan halus, sementara Cagalli hanya mengangguk kecil melihatku, dan langsung fokus pada bahan makanan yang ada di dapur.
"Lihat, ini semua dikasih dari ibunya Athrun lho. Nanti kalau ketemu lagi ibu harus berterima kasih…" suara tante Via semakin kabur seiring dengan Kira menarikku menjauh dari dapur.
Padahal aku juga sangat menantikan kegiatan memasak bersama Cagalli sejak sering diajak makan bersama di rumah Kira, meskipun Cagalli masih tidak terlalu sering bicara denganku. Entah kenapa Cagalli sering bersikap seakan dia tidak mau dekat denganku.
Apa aku benar-benar dibenci gara-gara kejadian itu ya?
Kira mengajakku main game di kamarnya sementara menunggu makan malam. Beberapa menit sebelum acara santap dimulai, tante Via memanggil kami—lebih tepatnya Kira sih—dan memintanya menata meja makan. Aku ikut membantu karena aku juga ikut makan bersama mereka, sementara Kira malah sibuk membalas pesan dari Flay yang tiba-tiba datang. Rasanya aku ingat di masa sebelumnya pun ada kejadian seperti ini, hanya saja waktu itu kami bersama tante Caridad.
Selama makan malam, tante Via juga menanyakan banyak hal padaku; tentang Kira di sekolah, tentang keluargaku, tentang kehidupanku di kota sebelumnya. Pokoknya tidak jauh berbeda dengan tante Caridad, mereka berdua sangat baik terhadapku.
Ketika aku terpikirkan apakah tante Caridad masih tetap saudara tante Via di kehidupan kali ini, Cagalli mencoba menarik perhatian ibunya. "Ibu, hari Sabtu ini ada acara yang ingin aku datangi. Aku boleh pergi ya?" Cagalli tiba-tiba bertanya pada tante Via yang duduk di sebelahnya. Begitu ditanya, sepertinya acara itu berhubungan dengan klub basket putri dari SMP yang jadi tujuan Cagalli untuk melanjutkan sekolahnya.
"Tempatnya di mana?" tante Via memutar tubuhnya ke arah Cagalli.
"Di kota sebelah, kalau naik kereta 45 menit sih."
"Kira, kau bisa temani adikmu tidak? Ibu ada kegiatan bersama ikatan tetangga tanggal segitu. Ibu Athrun juga mungkin akan ikut ya?"
"Oh iya, ibu cerita kalau Sabtu ini memang ada kegiatan dari jam 10 pagi," aku mengingat cerita ibu ketika makan malam dua hari yang lalu. Kalau tidak salah untuk acara yang akan digelar di hari tahun baru nanti.
"Eeeh, hari itu aku sudah ada janji," Kira menolak. Kalau Kira, tidak salah lagi, pasti janji dengan Flay.
"Acaranya jam berapa?" Tante Via bertanya lagi pada Cagalli.
"Siang sampai sore… Kalau kakak tidak bisa mengantarku, apa boleh aku pergi sendiri?"
"Kalau di distrik sebelah, sepertinya Ibu tidak bisa membiarkanmu sendiri, Cagalli." Sorot mata tante Via terlihat tidak setuju. "Di aula olahraga seperti itu pasti banyak orang kan? Apalagi acaranya sampai sore, Ibu khawatir nanti pulangnya terjadi apa-apa."
"Tapi aku bisa kok pergi sendiri, aku kan sudah besar," Cagalli masih bersikeras. Sejak dulu tidak pernah mau merepotkan orang lain, selalu berusaha melakukan semua sendiri, aku membatin sambil memperhatikan interaksi mereka.
Tapi sepertinya Tante Via masih tidak bisa menyetujuinya. "Kira…" Tante Via melirik ke arah Kira sekali lagi.
"Mmmm, tapi aku sudah menolaknya beberapa kali karena akhir-akhir ini tugas sekolah sangat sibuk. Kalau kutolak lagi…"
"Masa kau tidak bisa buat waktu untuk adikmu?"
"Tapi kan…"
"Tidak apa-apa, Bu. Ya sudah kalau begitu mungkin lain kali saja," Cagalli masih sedikit cemberut, tapi sepertinya tahu kalau ibunya tidak akan mengizinkannya pergi sendiri. Matanya yang kecewa kembali ke arah makan malamnya yang belum habis.
"Ya sudah kalau begitu, Kakak temani," Kira akhirnya menyerah, meskipun jelas sekali dia sepertinya masih keberatan. Memang akhir-akhir ini karena sudah masuk pertengahan semester, guru-guru seolah memberikan tugas sekaligus, jadi Kira lebih sering menghabiskan waktunya denganku untuk mengerjakan tugas—kebanyakan tidak ada yang mau satu kelompok dengan Kira karena dia selalu menunda-nunda sampai akhir.
"Tidak usah, Kak. Aku tahu kok Kakak sibuk sekali akhir-akhir ini," Cagalli menolak sambil tersenyum. Entah kenapa Cagalli sama sekali tidak terlihat kesal pada Kira yang jelas-jelas merasa terpaksa mengantarnya, dan malah terlihat perhatian pada Kira, "Kakak pergi dengan Kak Flay saja, sudah lama tidak ketemu kan?" Justru Kira yang terlihat kaget karena Cagalli langsung tahu Kira akan pergi dengan Flay.
"Maaf…"
Semua orang langsung melihat ke arahku. "Kalau misalnya tidak keberatan, bagaimana kalau saya saja yang menggantikan Kira mengantar?" Aku melihat ke arah tante Via.
"Eh? Serius, Athrun?" Kira melihatku seakan tidak percaya aku menawarkan hal itu.
"Sebenarnya aku juga sedikit penasaran dengan pertandingan itu," aku menjawab Kira sebelum beralih lagi ke tante Via. "Saya tadinya mau datang ke acara yang sama, meskipun sedikit berbeda dengan yang ingin dilihat Cagalli." Aku ingat klub yang ingin diikuti Cagalli dan SMP yang disebutkan Kira sebelumnya, juga acara yang dimaksud. Kebetulan karena aku mencari tahu tentang sekolah itu, aku tahu kalau klub basket mereka, baik yang putri maupun yang putra, akan bertanding untuk babak penyisihan turnamen nasional Sabtu ini. Cagalli pasti ingin menonton pertandingan putri yang dimulai siang hari setelah pertandingan putra selesai. "Tadinya saya berniat untuk datang ke acara yang pagi." Tentu saja itu semua bohong, itu cuma alasan yang kupikirkan mendadak.
Tapi aku merasa ada yang mengganjalku melihat Cagalli kecewa sementara aku bisa saja mengabulkan apa yang diinginkannya. Dulu banyak hal yang tidak bisa aku lakukan untuknya karena status kami. Tapi sekarang, meskipun aku cuma teman kakaknya, selama aku dapat izin orang tua Cagalli, harusnya tidak ada yang curiga padaku kalau kami pergi bersama. Dan lagi, kalau memang ada yang bisa kulakukan di masa ini, aku ingin melakukannya kalau memang diperbolehkan.
"Karena tujuan kami sama, bagaimana kalau saya saja yang mengantar Cagalli?" aku melanjutkan lagi, masih memandang ke arah ibu Cagalli, tapi mataku sedikit melirik ke arah Cagalli, yang terlihat masih terkejut melihat aku menawarkan diri untuk pergi dengannya. "Kalau Cagalli hanya ingin menonton pertandingan putri yang dimulai dari siang, biar saya ikut menyesuaikan dengan Cagalli saja."
"Hmmm, tapi kalau begitu bukannya Athrun jadi tidak bisa menonton pertandingan yang diinginkan?" Tante Via menempelkan telapak tangannya ke pipi, seolah mempertimbangkan hal itu. Tapi untunglah tante Via nampaknya tidak menentang, lebih condong merasa tidak enak karena khawatir membuatku repot daripada tidak setuju karena aku orang luar dan bukan keluarga.
"Tidak apa-apa kok. Saya masih bisa melihat siarang ulangnya. Justru karena saya sering dijamu di sini ketika ayah dan ibu tidak ada di rumah, biasanya Cagalli yang sering memasak. Jadi kalau bisa saya ingin membalas dengan membantu Cagalli kali ini, kalau tidak keberatan." Sekarang aku melemparkan pandanganku ke arah Cagalli, yang sedang menunduk memikirkan tawaranku. "Apa Cagalli mau pergi dengan kakak?" Aku bertanya dengan suara lebih lembut.
"Tapi… Itu bukan pertandingan yang ingin Kakak tonton… Nanti Kakak malah bosan…Aku tidak mau merepotkan," Cagalli pasti sangat ingin pergi karena ia mempertimbangkan untuk pergi bersamaku, meskipun mungkin aku masih terasa asing untuknya.
"Tidak apa-apa. Kakak memang berencana menonton sampai selesai kok," Aku tersenyum ke arahnya, berusaha meyakinkannya kalau dia tidak merepotkan sama sekali. Justru aku yang menginginkan hal ini. "Atau Cagalli mau nonton tanding putra juga?" Aku tidak terlalu berharap untuk yang ini, tapi kalau aku bisa punya kesempatan lebih lama bersama Cagalli, tentu saja aku sangat terbuka untuk pilihan itu.
"Nanti Kakak malah tidak bisa fokus menonton pertandingan karena ada aku," Cagalli masih beralasan. Apa sebenarnya dia tidak mau kalau aku ikut?
"Tidak kok. Kakak senang karena kalau Cagalli ikut kakak jadi ada teman," toh kemungkinan aku akan lebh sering memperhatikan Cagalli dibandingkan pada pertandingannya. "Lagipula, kakak selalu iri pada Kira karena dia punya adik, dan bisa jalan-jalan dengan adik semanis ini kapanpun. Berbeda dengan kakak yang merupakan anak tunggal," aku menambahkan, membuat kesan seorang anak tunggal kesepian yang merindukan seorang adik.
Di sudut pikiranku, aku merasa bahwa aku yang dulu rasanya tidak mungkin melakukan hal seperti ini—berbohong dan bermanis untuk mendapatkan apa yang kuinginkan. Tapi bertahun-tahun lamanya aku berusaha untuk berlagak seperti orang lain yang bukan diriku—bertingkah seperti anak kecil meskipun total usiaku sudah bisa dibilang setara kakek tua kalau dijumlahkan—sedikit demi sedikit membuatku terbiasa untuk berakting di depan orang lain. Seperti saat sekarang, di mana aku berbohong membuat rencana pergi menonton sebuah turnamen dan memelas sebagai anak tunggal.
Padahal dalam hati, niatku ini bisa dibilang tidak murni sama sekali. Sebagian memang karena aku tidak mau Cagalli sedih dan ingin mengabulkan keinginannya. Sisanya adalah rasa egoisku yang menginginkan kesempatan bersama Cagalli berdua saja, lebih lama lagi dibandingkan kesempatan yang diberikan Kira.
Lalu Cagalli menatap ke arah ibunya, meminta persetujuan, "Boleh tidak?"
"Benar tidak apa-apa, Athrun? Padahal kau bisa saja mengajak temanmu kok," tante Via bertanya sekali lagi.
"Tidak apa-apa. Sayangnya teman yang saya ajak tidak bisa ikut pergi. Jadi kalau Cagalli juga ikut justru saya yang senang."
Ayo, sedikit lagi.
"Kalau begitu, baiklah. Tapi jangan merepotkan Kak Athrun ya. Kalau sudah selesai langsung pulang ke rumah, jangan mampir-mampir dulu. Kasihan Kak Athrun kalau harus menemanimu terlalu lama," ibunya berkata.
"Berarti aku boleh pergi dari pagi dan ikut menonton tim putra juga?"
"Cagalli boleh ikut juga, Athrun?"
Aku berusaha menahan senyumku supaya tidak terlalu lebar ketika menjawab, "Tentu saja boleh."
Begitu aku beralih lagi pada Cagalli, kudapati ia juga balas menatap ke arahku dan berkata dengan suara yang masih pelan, "Mohon bantuannya ya kak."
Sebelum aku bisa menjawab, "Cagalli kalau di depan Athrun lebih tenang dari biasa ya. Padahal biasanya kau sering bicara," Kira tiba-tiba berkomentar setelah mendengar jawaban Cagalli. "Apa jangan-jangan kamu suka pada Athrun? Padahal waktu itu kau ketakutan melihat—"
"Apanya? Kakak jangan bicara sembarangan!" Cagalli berseru pada Kira, dan aku langsung paham apa maksudnya. Ketika menimpali Kira, Cagalli jadi terdengar lebih mirip dengan Cagalli yang dulu, yang selalu menyuarakan isi hatinya dengan gamblang pada siapa saja dengan lantang. Berbeda dengan saat bicara denganku barusan.
"Hehe, Cagalli sadar tidak? Mukamu merah lho," Kira menunjuk sambil nyengir ke arah Cagalli.
"Mukaku tidak merah!" Meskipun aku bisa melihat dengan jelas kalau ucapan Kira benar.
"Kalian ini! Malu dilihat orang!" Tante Via memperingati mereka. "Maaf ya, Athrun. Biasanya mereka memang seperti ini kalau sedang tidak ada tamu. Tante kira sekarang mereka sudah mulai lebih tenang dan dewasa, ternyata masih sama saja. Kira juga, padahal dia kakaknya dan seharusnya lebih dewasa, tapi masih tetap senang sekali menggoda adiknya." Tante beralih ke arahku, meminta maaf sambil tertawa kering. "Coba dia lebih dewasa sedikit seperti Athrun, ya."
"Tidak apa-apa. Tapi rasanya pasti menyenangkan punya saudara seperti ini. Setiap hari selalu ramai," aku masih memperhatikan Kira dan Cagalli yang masih beradu mulut. Dulu juga kadang-kadang mereka seperti ini, meskipun Kira tidak sejahil sekarang. Mungkin suasana damai di dunia ini juga mempengaruhi sifat dan sikapnya sekarang. Kira yang seperti ini juga tidak terlalu buruk, aku membatin.
"Kalau baru lihat sekali dua kali pasti rasanya ramai. Tapi kalau sudah bertahun-tahun bersama mereka, lama-lama bisa pusing juga lho," tante Via berkata sambil menghela nafas, seolah sedang mengutarakan kesusahannya selama merawat kakak beradik ini. "Benar kan, tidak merepotkan?" Tante bertanya lagi padaku.
"Benar-benar tidak apa-apa kok. Lagipula saya yang menawarkan."
"Kalau begitu nanti tante titip Cagalli ya, Athrun. Cagalli biasanya tidak pernah minta apa-apa. Bahkan mainan, baju, atau apapun, dia tidak seperti teman-temannya. Lihat sendiri kan, tadi dia langsung menyerah tanpa merengek? Makanya kalau ada sesuatu yang dia inginkan, kalau bisa tante ingin sekali mengabulkannya. Seandainya bisa mungkin tante yang akan pergi menemaninya. Tapi pertemuan nanti Tante ikut membantu seksi acara jadi tidak bisa mangkir. Terima kasih ya," Tante Via akhirnya memberikan izin sepenuhnya, sementara Kira dan Cagalli masih sibuk dengan satu sama lain.
Aku berharap tante akan berkata begitu juga seandainya nanti aku datang untuk mengambil putri anda selamanya…
Maaf telat dari biasanya karena kurang sreg sama isi chapternya, jadi banyak yang dirombak, terus malah ilang fokus ngedit chapter lain. Semoga ga ada yang ketinggalan
Have a nice weekend,
Cheers
