Disclaimer: Sunrise

Maaf telat, kemarin habis ikut ujian


7.

The Moment

.

Karena semua yang aku katakan pada Cagalli dan yang lainnya waktu acara makan malam itu mendadak kupikirkan di tempat, esok hari setelahnya aku cepat-cepat memberitahu ibu. Gawat juga kalau aku berjanji menemani Cagalli lalu mendadak ada acara keluarga atau apa di hari itu. Untung saja ibu memperbolehkan. Ibu nanti pasti akan cerita pada ayah, jadi aku tidak perlu bilang lagi.

Begitu tahu kalau aku tidak pergi sendiri tapi bersama adiknya Kira, ibu sedikit bertanya-tanya mengenai Cagalli. Jadi aku ceritakan semua tentang pertemuan kami waktu aku pergi ke rumah Kira untuk pertama kalinya, dan juga Cagalli yang sepertinya masih kurang nyaman denganku. Dan bahwa aku berharap dengan menemaninya pergi seperti yang kutawarkan Sabtu ini, aku bisa membuatnya tidak takut padaku lagi.

Begitu selesai cerita, entah kenapa ibu menatapku bingung. Begitu kutanya kenapa ibu hanya berkomentar, "Sepertinya kau ingin sekali adiknya Kira tidak takut padamu lagi ya…" seolah-olah bertanya padaku.

Aku sedikit gugup karena ditanya begitu. Tapi segera kujawab, "Karena aku sering sekali mengerjakan tugas dengan Kira dan mungkin kedepannya akan sering begitu, aku tidak mau anggota keluarganya merasa tidak nyaman setiap kali aku datang." Meskipun kelas kami mungkin akan dipecah begitu naik ke kelas 2, tapi sampai tahun depan aku mungkin akan sering satu kelompok bersama Kira—sekalian mengawasinya yang sering sekali menunda-nunda tugas dari guru, sama dengan yang dulu sering kulakukan waktu sekolah bersama Kira di Copernicus.

Lalu akhirnya Sabtu pagi datang. Setelah selesai sarapan, aku langsung naik ke kamarku untuk bersiap-siap untuk pergi bersama Cagalli.

Kalau ditambah dengan kehidupan sebelumnya, usiaku hampir mencapai 80 tahunan. Meskipun begitu, ketika aku bersiap-siap sambil memikirkan bahwa hari ini aku dan Cagalli hanya pergi berdua saja, aku merasa sedikit berdebar layaknya anak muda seusiaku sekarang.

Aku tahu Cagalli dulu menyukaiku, dan dia pun tahu perasaanku meskipun kami jarang sekali mengatakannya pada satu sama lain. Karena posisi kami berdua, setiap kali kami pergi keluar bersama diam-diam, aku tidak merasakan debaran seperti ini-yang ada hanyalah rasa khawatir apakah kami akan ketahuan atau tidak, yang biasanya akan ditepis Cagalli dengan menyuruhku untuk rileks sejenak ketika kami hanya berdua saja.

"Athrun!" Aku mendengar suara ibuku bersamaan dengan suara ketukan di pintu kamar. "Ibu masuk ya."

Aku mempersilakan ibuku masuk, dan begitu membuka pintu.

"Kau masih siap-siap? Katamu kau mau pergi jam setengah sembilan. Biasanya kau selalu tepat waktu, jadi ibu merasa agak heran karena sudah setengah sembilan lebih tapi kau masih belum berangkat," ibu melirik jam yang ada di dinding kamarku. Benar saja, hampir 10 menit berlalu sejak waktu yang kujadwalkan untuk keluar rumah.

"Ah, gawat. Terima kasih, Bu. Aku pergi dulu," aku mengambil tasku.

"Kau akan pergi berdua dengan adik perempuan Kira, kan?"

"Iya. Sama seperti yang aku ceritakan sebelumnya kok. Namanya Cagalli," aku menjawab, mengulangi apa yang kuberitahukan pada ibu sebelumnya. Tanpa sadar aku tersenyum, teringat bahwa kali ini aku bukannya akan bertemu Kira, tapi memang berniat untuk menemui Cagalli—bukan sebagai sampingan tapi tujuan utamaku hari ini. Aku juga tidak perlu berhati-hati pada Kira. Aku bebas memperhatikan Cagalli hari ini.

Namun begitu aku berjalan ke arah pintu di mana ibuku masih berdiri, ibu tidak bergeming dari sana, dan malah menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kujelaskan, seolah bingung akan sesuatu, sama seperti ketika aku menceritakan tentang Cagalli beberapa hari yang lalu.

"Ada apa, Bu? Apa ada sesuatu?" Apa jangan-jangan aku terlihat aneh dengan baju yang aku pilih untuk menemui Cagalli hari ini? Aku hanya mengenakan kaus abu-abu dan kemeja flanel merah dan jins, harusnya pilihanku ini cukup normal. Dulu aku terbiasa dengan seragam militer dan jarang keluar untuk urusan pribadi. Kepergian Cagalli membuatku tidak terlalu peduli dengan hal-hal lainnya kecuali pekerjaan. Jadi aku masih sedikit-sedikit mencoba memahami gaya berpakaian anak muda saat ini. Sebab dulu Dearkka sering mengomentari baju yang kupilih sendiri—terlalu tidak modis, katanya. Akhirnya, baju di lemariku sekarang semuanya dipilih oleh ibu yang fashion-sense nya lebih bagus dibanding aku.

"Tidak kok, tidak ada apa-apa. Ibu cuma mau tanya, nanti kau makan malam di rumah kan?" Ibu menyembunyikan kebingungannya tadi dengan senyum.

Aku merasa ada sesuatu yang tidak dikatakan ibu, tapi aku memutuskan untuk menjawab yang ditanyakan ibu saja. "Iya Bu. Nanti aku hubungi ibu sebelum pulang, tapi seharusnya aku sudah di rumah sebelum makan malam." Kalau memang ada sesuatu yang penting, ibu pasti akan cerita padaku.

"Oke. Hati-hati ya, Nak," ibu akhirnya beranjak dari depan pintuku.

"Aku pergi dulu, Bu!" aku berkata sambil menutup pintu kamarku dan bergegas pergi.


Semakin mendekati rumah Cagalli, dadaku berdebar semakin kencang. Tentu saja aku merasa senang karena sebentar lagi akan bertemu dengannya. Namun selain rasa antusias itu, di sudut pikiranku aku masih tetap khawatir. Apa dengan begini Cagalli bisa lebih nyaman denganku? Atau jangan-jangan nantinya aku malah melakukan sesuatu yang membuatnya lebih tidak suka lagi padaku? Atau mungkin—

Selagi memikirkan itu, aku ternyata sudah sampai di depan rumah Kira dan Cagalli.

Meskipun Cagalli masih kecil, tapi dia pasti tidak suka ditemani oleh seseorang yang murung karena memikirkan urusan pribadinya. Aku datang untuk membuat Cagalli tidak murung lagi seperti ketika makan malam waktu itu. Sambil menekan semua pikiranku itu, aku menekan bel untuk memberitahukan kedatanganku.

Aku merasa aneh karena sembari menunggu, dadaku tiba-tiba berdegup kencang. Padahal dulu tidak pernah seperti ini. Apa karena kami sudah terpisah cukup lama sehingga bertemu Cagalli-benar-benar menemuinya dan bukannya menemui Kira sebagai kedok untuk menemuinya-menjadi terasa asing bagiku?

Pintu dibuka, dan aku merasa jantungku seperti berdegup keras satu kali sebelum kembali ke ritmenya yang biasa. Aku lalu bertemu muka dengan tante Via yang masih mengenakan pakaian rumah, membukakan pintu sambil tersenyum.

"Selamat pagi, Athrun. Maaf ya, Cagalli masih siap-siap, dia bangun kesiangan. Tidak apa-apa menunggu sebentar, ya?" Tante Via membuka pintu lebih lebar lagi, mempersilakan aku masuk.

"Selamat pagi, Tante. Tidak apa-apa. Saya juga tadi agak sedikit terlambat. Permisi," aku berkata sambil masuk ke teras depan dan melepas sepatuku.

"Athrun tunggu saja di sini ya. Mau tante bawakan sesuatu?"

"Terima kasih, tapi tidak usah. Cagalli juga seharusnya tidak akan lama."

"Lho, Athrun sudah datang?" Aku mendengar suara Kira setelah mendengar derap kaki dari arah tangga. Aku menoleh dan melihat Kira yang berpakaian rapi sedang mengencangkan jam di pergelangan tangannya. "Cagalliii, Athrun sudah datang menjemput!" Kira berteriak ke arah lantai dua. Aku mendengar suara langkah yang lebih kecil, "Tolong bilang tunggu sebentaaar!" lalu terdengar langkah kecil lagi dan suara pintu.

"Kau pergi dengan Flay?" Aku bertanya melihat penampilan Kira, meskipun sudah tahu jawabannya.

"Iya, kami janjian di stasiun yang dekat dengan daerah rumahnya," Kira menjawab. "Athrun, titip Cagalli ya. Terima kasih karena sudah mau menemaninya hari ini. Sebenarnya aku sudah mencoba menawarkan pergi dengannya lagi, tapi dia menolak dan menyuruhku pergi dengan Flay saja."

"Bagus kan, berarti dia mendukungmu dengan Flay," lebih bagus lagi karena aku jadi bisa pergi hari ini dengan Cagalli sebagai gantinya.

"Iya sih. Sebenarnya di awal aku selalu mengira kalau Cagalli tidak suka dengan Flay."

"Masa?" Aku bertanya, sedikit terkejut. Cagalli yang dulu sepertinya tidak ada masalah apa-apa dengannya; justru dialah dulu yang memberitahuku tentang Flay. Tapi tentu saja Cagalli yang sekarang tidak memiliki ingatan itu.

"Hmm… Kurang lebih sikapnya pada Flay dulu sama seperti sikapnya padamu sekarang, dia seperti menjaga jarak dengan Flay. Tapi sekarang sudah tidak seperti itu lagi sih. Mungkin Cagalli tidak terlalu pandai mengahdapi perubahan, seperti munculnya orang baru dalam kesehariannya," Kira menjelaskan.

"Begitu ya," ternyata Kira juga menyadari kalau Cagalli menjaga jarak denganku, terutama karena hal yang sama juga pernah terjadi dulu. Mungkin Cagalli tidak terbiasa dengan masuknya orang baru ke kehidupan kakaknya yang ia kenal sejak lahir. Tapi karena sikapnya dengan Flay sekarang sudah berubah, aku jadi sedikit lega. Berarti aku juga masih punya harapan.

"Athrun, bagaimana kalau kita pergi sampai stasiun sama-sama? Paling cuma keretanya saja yang berbeda."

"Oh? Aku tidak masalah sih…" Tidak apa-apa. Kira cuma ikut sampai stasiun saja. Selebihnya aku akan berdua saja bersama Cagalli sampai sore.

Tidak lama kemudian aku mendengar derap kaki kecil yang kutunggu sejak tadi. Begitu Cagalli muncul dari tangga, Cagalli kelihatan sedikit terengah, pasti dia buru-baru tadi.

"Ma-maaf membuat Kakak menunggu," Cagalli berkata sambil menatapku, terlihat merasa bersalah karena sudah membuatku menunggu, padahal hanya sebentar saja. Syukurlah, kali ini dia tidak canggung menatapku seperti biasanya-di mana Cagalli biasanya selalu menghindari menatapku langsung. Aku memperhatikan kantung matanya yang sedikit terlihat. Apa Cagalli kurang tidur makanya dia kesiangan hari ini?

"Tidak apa-apa. Kalau kau sudah benar-benar siap, kita bisa langsung berangkat?" aku menjawab sambil sedikit membungkuk ke arahnya. "Tidak apa-apa kan, Kira?" aku menoleh ke arah Kira lagi, teringat kalau kami akan berangkat sama-sama.

"Aku sudah siap. Kita berangkat sekarang saja," Kira menjawabku.

"Lho, Kakak juga ikut?" Cagalli langsung beralih ke arah kakaknya.

"Cuma sampai stasiun. Di sana kita akan naik kereta yang berbeda."

"Kalian berangkat sekarang?" Tante Via muncul dari arah dapur sambil mengelap tangannya dengan kain lap—sepertinya baru selesai beres-beres.

"Iya, Bu. Aku ikut dengan Athrun dan Cagalli sampai ke stasiun lalu berpisah di sana," Kira menjelaskan lagi pada ibunya kali ini.

"Baiklah kalau begitu. Tante titip Cagalli ya, Athrun. Cagalli, jangan merepotkan Athrun ya," tante Via berpesan pada mereka. "Kira, ibu titip salam pada Flay ya. Kapan-kapan ajak dia main ke sini lagi."

"Kalau sekolah sudah lebih santai nanti akan kuajak, Bu. Kami pergi dulu ya."

Aku dan Cagalli juga ikut berpamitan dengan tante Via sebelum kami semua keluar rumah dan mulai berjalan menuju ke arah stasiun bersama-sama.


Aku merasa seperti seorang pria mesum.

Apa karena aku melajang terus seumur hidupku sampai aku mati di kehidupan sebelumnya, ya?

Selama perjalanan dari rumah Kira dan Cagalli sampai ke stasiun, Kira banyak mengajakku berbicara, tentang sekolah dan lain-lainnya. Kadang-kadang Kira berbicara dengan Cagalli juga. Aku merasa sedikit lega karena kalau kami hanya berdua mungkin Cagalli tidak akan bicara apapun denganku—Cagalli masih belum nyaman denganku dan aku juga bukan orang yang bisa mengajak basa basi membuka pembicaraan dengan topik yang menarik. Apalagi dengan anak yang usianya terpaut jauh denganku yang sebenarnya sudah puluhan tahun.

Begitu sampai di stasiun, Kira pergi ke arah peron kereta dalam kota, sementara Cagalli dan aku pergi ke peron kereta yang menuju ke distrik sebelah. Kebetulan sekali aku menemukan satu kursi yang kosong. Aku membiarkan Cagalli duduk di sana—kursi yang paling pinggir sehingga ia bisa bersandar ke belakang maupun ke pembatas samping—sementara aku berdiri di depannya. Awalnya Cagalli menolak, tapi aku bersikeras dia duduk karena memperhatikan kantung matanya tadi dan bertanya apakah dia tidur cukup tadi malam. Melihat wajahnya memerah dan menggelengkan kepala, aku memaksa lagi supaya Cagalli duduk, dan berkata kalau dia bisa tidur sepanjang perjalanan dan aku akan membangunkannya kalau kami sudah dekat.

Dan benar saja, baru 15 menit berlalu sejak kami naik kereta, Cagalli terlelap sambil bersandar ke pembatas. Lalu untuk beberapa lama, aku terus memperhatikan wajah tidurnya yang manis. Aku tidak bisa melepaskan mataku darinya. Aku sempat terpikir untuk menggunakan ponselku dan mengambil fotonya diam-diam. Tapi aku tahu aku tidak akan memaafkan diriku sendiri karena sudah mengambil fotonya tanpa izin. Meskipun Cagalli mungkin tidak akan tahu, dan mungkin tidak terlalu paham karena dia masih kecil, tapi aku tetap tidak bisa melakukannya. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menahan diri sampai Cagalli dewasa nanti.

Jadi aku hanya berdiri di depannya sambil berpegang pada palang kursi yang ada di sebelah Cagalli, memperhatikan wajah tidurnya sambil berharap tidak ada yang memperhatikan aku terus menatap gadis kecil yang sedang tidur.

Di kehidupan sebelumnya, aku pertama kali bertemu Cagalli ketika usia kami sudah 16 tahun, dan aku jarang bertanya tentang masa lalu Cagalli sewaktu tinggal bersama di Manor Athha karena kesibukan Cagalli. Foto-fotonya sewaktu kecil yang diperlihatkan padaku pun hanya sedikit. Jadi aku tidak menyangka bisa melihat pemandangan seperti ini secara langsung di kehidupanku yang sekarang.

Melihatnya tidur lelap dengan damai seperti ini mengingatkanku bahwa dunia kami sekarang begitu berbeda dengan saat pertama kali bertemu. Dunia seperti inilah yang kami harapkan dulu.

Begitu kami sudah setengah jalan dan semakin banyak penumpang yang naik dan turun ke gerbong kami, aku mengambil tempat-yang akhirnya kosong-di sebelah Cagalli, memaksa diriku sendiri untuk berhenti memandanginya seperti pria mesum. Dan juga untuk menjaganya dari penumpang lain. Begitu tujuan kami tinggal berjarak dua stasiun lagi, meskipun aku merasa tidak tega, aku membangunkan Cagalli untuk bersiap-siap turun.

Dan aku meminta maaf dalam hati sambil menggunakan cara yang sedikit usil untuk membangunkannya; dengan menutuk pipinya yang masih terlihat gembil, khas anak-anak.

"Cagalli," aku memanggilnya pelan sambil tetap menutuk-nutuk pipinya yang empuk. Kalau Cagalli yang dulu mungkin sudah marah kalau aku melakukan ini padanya. "Sebentar lagi kita turun. Ayo bangun," aku berbisik di dekat wajahnya.

Aku memperhatikan dengan lekat ketika Cagalli mengernyitkan dan membuka matanya, mengerjap beberapa kali dan menggunakan punggung tangannya untuk memuyu-muyu matanya. Begitu ia melihat sekeliling dan matanya mendarat di wajahku, seketika Cagalli bangun sepenuhnya, terlihat dari wajah kagetnya.

"Ma-maaf! Aku ketiduran!" Cagalli seperti hendak bangun dari tempat duduknya, tapi aku menahannya. "Ki-kita sudah di mana?"

"Tinggal…" aku melirik ke arah layar penunjuk stasiun di atas pintu. "Dua stasiun lagi kita sampai. Aku tidak mau membangunkanmu terlalu dekat dengan tujuan kita supaya kau tidak kaget dan terburu-buru."

"Harusnya kakak langsung bangunkan aku!" Cagalli protes, wajahnya terlihat merengut tidak senang.

"Habis kau tidur lelap sekali. Lagipula semalam kau memang kurang tidur, jadi aku sengaja supaya kau bisa istirahat. Acara hari ini sampai sore kan? Aku ingin kau menyimpan tenagamu supaya kau tidak terlalu kelelahan nantinya.

Cagalli cemberut menggembungkan pipinya lagi, membuatku jariku berkedut ingin menutuknya lagi. "Aku sudah kelas 6, sudah besar, bukan anak-anak lagi!"

Aku tersenyum, "Bilang begitu ketika kau sudah masuk SMA, baru nanti kakak akan mengakui kalau kau sudah besar."

Kau pasti tidak tahu betapa aku menantikan saat itu tiba.

Cagalli mengedipkan mata dua kali, lalu ia membuang muka, dan tiba-tiba berdiri. "Sebentar lagi turun," dia hanya berkata.

Cagalli selalu seperti itu. Apa yang akan dia lakukan selalu di luar perkiraanku, bahkan meskipun ia terlahir kembali tanpa ingatannya yang lalu di masa sekarang ini.

Aku mengikutinya berdiri dari tempatku dan bersiap di samping pintu untuk turun bersama Cagalli.


Siapa yang pingin ikutan colek pipinya Cagalli-sama?

longlivecagalli, Lowkey pingin bikin outtake Via sama Lenore ngumpul di acara arisan sambil makan gorengan XD

kiarakite, kalau di anime memang ga terlalu jelas ya. Shinku blum baca semuanya, tapi kalau manga sama novel kayanya sedikit mengambarkan isi pikiran Athrun, terutama di beberapa adegan yang bikin penasaran 'dia tuh mikirin apa waktu itu'

Terima kasih buat semua yang masih ngikutin cerita ini, sepertinya perjalanan Athrun masih panjang. Sedikit bocoran, karakater yang bakal muncul nanti mungkin Shinn ya, tapi masih lama. Kira-kira bakal ngerebut Cagalli atau gimana ya? XD

Cheers~