Disclaimer: Sunrise
8.
It's Your Day
.
Acaranya ternyata cukup ramai. Dan di luar perkiraanku, ternyata justru lebih banyak orang yang datang untuk menonton pertandingan putri yang diadakan setelah tengah hari. Sebenarnya Cagalli ingin menonton babak finalnya juga, tapi karena diadakan di hari sekolah, jadi Cagalli ingin menonton pertandingan hari ini saja, dan berharap tim SMP tujuannya itu menang.
Aku hanya tahu dasarnya saja dari permainan ini. Aku cukup mahir memainkannya di sekolah, tapi tidak setertarik itu. Aku hanya berkata ingin menonton pertandingan ini supaya aku bisa pergi bersama Cagalli. Meskipun begitu, aku masih bisa menikmatinya. Meskipun aku lebih sering memperhatikan Cagalli daripada pertandingan.
Dan ternyata memang tidak mengecewakan.
Cagalli yang dulu sangat fokus dalam pekerjaannya, menjadi seorang politikus di usia yang masih sangat muda, tidak ada waktu untuk menikmati masa mudanya—apalagi dengan kematiannya yang tiba-tiba.
Jadi melihat Cagalli yang begitu fokus memperhatikan pertandingan dengan begitu serius, ekspresi wajahnya yang berubah-ubah seiring jalannya pertandingan, merupakan suatu hiburan tersendiri bagiku. Aku senang akhirnya bisa melihat Cagalli dari dekat, melihatnya menemukan sesuatu yang ia sukai dan menikmatinya tanpa perlu memikirkan beban besar ketika mengemban suatu negara seperti dulu.
Memikirkan kalau aku mungkin bisa terus melihat Cagalli yang seperti ini dari dekat, memperhatikannya tumbuh dan menikmati hidupnya tanpa beban…
Meskipun aku dilahirkan lebih tua, untuk saat ini bisa melihat Cagalli bahagia seperti ini membuatku merasa bahwa perbedaan umur kami tidak terlalu buruk juga. Aku senang bisa berperan sebagai kakak yang mengabulkan keinginannya untuk saat ini. Kalau aku sama-sama anak SD seperti dia, mungkin tante Via tidak akan mengizinkan kami pergi berdua saja.
Sambil sesekali fokus pada pertandingan, aku lebih banyak memperhatikan ekspresi wajah Cagalli. Untungnya wajah Cagalli dan suara penonton cukup ekspresif terhadap jalannya pertandingan, jadi setiap kali para suporter menaikkan suara mereka, aku menganggap itulah waktuku untuk kembali fokus ke pertandingan. Supaya aku tidak ketinggalan momen-momen terbaik dalam permainan itu, dan supaya aku memiliki sesuatu yang bisa dibicarakan dengan Cagalli nanti ketika makan siang.
Dan benar saja, Cagalli terlihat lebih santai setelah pertandingan selesai dan waktu makan siang tiba, apalagi karena tim putra SMP yang dijagokannya menang dan maju ke babak final. Sambil keluar dari gedung olah raga, Cagalli yang biasanya menjaga jarak denganku, memulai pembicaraan lebih dulu—meskipun sambil ragu-ragu karena sebelumnya kami tidak begitu akrab. Tapi begitu aku membalas dengan reaksi yang tepat, Cagalli langsung berbicara panjang lebar tentang pertandingan tadi. Aku bersyukur aku memperhatikan semua momen yang disebutkan Cagalli, sehingga pembicaraan kami terbilang cukup seru.
Kami mampir ke minimarket yang agak jauh dari area pertandingan sebab aku merasa dengan banyaknya pengunjung, pasti restoran terdekat akan penuh dan minimarket yang ada di dekat sini sudah kehabisan makanan. Kami beruntung karena sampai lebih dulu di area makan lantai dua minimarket itu, karena beberapa waktu setelah kami duduk dengan makan siang kami, orang-orang mulai ikut berdatangan.
Begitu kami kembali dan pertandingan basket putri dimulai, Cagalli terlihat sangat fokus dengan pertandingan. Aku bahkan bisa menyadari atlet mana yang ia sukai karena matanya selalu mengikuti pemain itu. Dan ketika kuperhatikan, memang cara mainnya bagus. Aku memperhatikan nomor punggungnya, dan langsung menyadari bahwa ternyata dia adalah kapten tim putri yang didukung Cagalli. Mungkin Cagalli sedang memperhatikan bagaimana kakak kelasnya di masa mendatang.
Sayangnya, pertandingan berakhir dengan SMP tujuan Cagalli yang harus menelan kekalahan. Cagalli pun terlihat ikut kecewa karena selisih skornya cukup tipis. Meskipun demikian, Cagalli sepertinya tetap merasa senang karena ia bisa menyempatkan diri melihat pertandingan ini.
"Sayang sekali tim putri sekolahmu tidak maju ke babak final ya. Mungkin nanti ketika kau masuk SMP itu dan menjadi reguler di klub basket mereka, kau bisa membawa mereka sampai final untuk menjadi perwakilan provinsi," aku berkata setelah kami membahas pertandingan terakhir sepanjang jalan keluar dari dalam gedung menuju ke gerbang depan.
"Aku kan belum tahu bisa masuk ke SMP itu atau tidak," Cagalli menjawab singkat.
"Kalau mau, kakak bisa membantumu belajar untuk ujian masuk," aku menawarkan. Mungkin saja dengan begini aku bisa memiliki waktu lebih banyak bersama Cagalli. Sikapnya padaku sudah sedikit melunak, jadi aku tinggal mendekatinya sedikit demi sedikit supaya lebih akrab. "Nanti kalau kau masuk ke sana, jadi reguler dan keluar di pertandingan nasional, kakak pasti datang untuk menonton pertandinganmu." Aku membayangkan pertandingan-pertandingan yang akan Cagalli ikuti nanti. Cagalli orang yang sungguh-sungguh tapi juga keras kepala dan tidak mau kalah, jadi dia pasti akan melakukan apa saja sekuat tenaga untuk bisa menang. Meskipun Cagalli yang sekarang tidak memiliki ingatan yang sama, dan mungkin banyak hal yang berbeda dibandingkan Cagalli yang dulu, tapi aku merasa kalau sifatnya yang satu itu tidak akan berubah.
"Kalau pertandingannya hari sekolah, Kakak tidak mungkin bisa hadir," aku bisa mendengar sedikit senyum dari nada bicaranya. Syukurlah, dia tidak menyuruhku untuk tidak datang sama sekali.
"Nanti aku pura-pura sakit saja," aku menjawab sekenanya, tapi mungkin saja aku akan benar-benar melakukannya. Bolos satu hari tidak akan mempengaruhi nilaiku sama sekali. Aku juga masih ingat semua pengetahuan umum yang kupelajari dulu, jadi aku tidak akan tertinggal.
Aku memperhatikan Cagalli yang terlihat kaget mendengar jawabanku. Namun begitu menyadari aku membalas tatapannya, wajahnya kembali menatap lurus ke depan. Kelihatannya memang masih sedikit canggung karena semangat Cagalli setelah menonton pertandingan sudah turun setelah pertandingannya selesai. Aku berharap semoga Cagalli tidak kembali menjaga jarak denganku lagi.
Sambil menyusuri jalan seperti saat kami datang pagi tadi, aku berkata pada Cagalli, "Setelah ini kita langsung pulang ya, aku akan mengantarmu sampai ke rumah." Meskipun sebenarnya kalau bisa aku ingin bersamanya lebih lama lagi. Tapi aku harus menahan diri. Aku tidak mau membuatnya tidak nyaman dengan ketamakanku.
"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri kok. Kakak tidak perlu mengantarku sampai ke rumah."
"Tidak bisa begitu. Tante Via mungkin sudah pulang kan? Aku harus memastikan kau pulang dengan selamat sampai ke rumah, lalu memberi salam pada ibumu." Mana bisa aku memulangkannya tanpa memastikan ia sudah benar-benar masuk ke rumah? Memang ini bukan acara kencan seperti yang aku harapkan—aku harus terus mengingatkan diriku kalau Cagalli usianya masih jauh dariku—tapi aku tetap harus berlaku sopan seperti seorang pria yang seharusnya. Apalagi kalau orang tua Cagalli ada, setidaknya aku harus membuat mereka terbiasa padaku.
Supaya aku bisa terlihat lebih meyakinkan bagi mereka, supaya mereka tidak ragu kalau suatu hari nanti aku serius dengan Cagalli.
Cagalli masih berkeras bahwa aku tidak perlu melakukannya, tapi melihatku yang hanya tersenyum dan bersikeras juga untuk mengantarnya pulang, akhirnya Cagalli menyerah dan mengikutiku.
Begitu kami mulai mendekati area pusat dekat stasiun, tempat yang memang sudah ramai sejak siang tadi jadi semakin ramai karena sekarang adalah malam Minggu. Tempat ini dipenuhi dengan restoran, departemen store, game center, dan kafe-kafe menarik yang sering didatangi orang untuk melepas penat setelah berkegiatan selama hari kerja.
Begitu kami tiba di persimpangan jalan besar, aku dan Cagalli menunggu lampu merah bersama banyak pejalan kaki yang lain. Dan begitu lampu berubah warna menjadi hijau, serentak orang-orang maju untuk menyebrang.
Meskipun ramai, aku masih bisa mendengar suara orang yang berjalan buru-buru dari arah belakang Cagalli, dan secara refleks aku menarik bahu Cagalli supaya lebih mendekat ke arahku.
"Kita jalan agak cepat ya," aku berkata tanpa melepaskan tanganku, dan mempercepat langkah sedikit, aku bisa merasakan Cagalli yang awalnya terkejut, namun segera mengikuti instruksiku.
Begitu kami sampai ke seberang, Cagalli langsung menjauh dariku. Namun secepat itu juga aku menggenggam telapak tangannya. "Banyak orang di sini. Aku takut kita terpisah, jadi pegang tanganku sampai kita tiba di peron stasiun ya." Aku berusaha meyakinkannya, tapi dalam hati aku merasa senang karena bisa membuat alasan untuk bergandengan tangan dengannya.
Dan tentu saja Cagalli berontak, "Aku bisa jalan sendiri! Tidak perlu dipegangi!" Ia berusaha menarik tangannya, aku melonggarkan sedikit peganganku tapi masih tidak melepaskannya.
"Cuma sampai stasiun, kalau sudah sepi tidak apa-apa. Aku tidak mau kau hampir tertabrak seperti tadi," aku mencoba meyakinkannya lagi. "Ayo, semakin cepat kita sampai stasiun semakin cepat aku melepaskan tanganmu," Aku tersenyum padanya meskipun sebenarnya kalau bisa aku masih tetap ingin memegang tangannya terus sampai kami pulang ke rumah. Atau kalau bisa pergi bersama ke tempat lain juga.
Aku memang mulai merasakan beberapa kelebihan perbedaan usia kami, tapi tetap saja aku masih berharap usia Cagalli lebih dekat lagi denganku. Dengan begitu mungkin kami bisa diizinkan untuk jalan-jalan di luar lebih lama lagi. Mungkin aku bisa mengajaknya pergi melakukan apa yang tidak bisa kami lakukan dulu, seperti makan street food di taman seperti orang-orang, menonton film di bioskop, pergi ke akuarium, main di game center seperti yang ada di sebelah kami—
Aku merasa tangan Cagalli yang kupegang sedikit tertahan, membuatku membalikkan badanku. Kulihat Cagalli yang sejak tadi mengikutiku berhenti di depan game center yang ada di sisi kanan kami, matanya fokus melihat mesin permainan yang ada di samping pintu masuk.
Aku mengikuti arah pandangannya. Yang dilihat Cagalli adalah sebuah mesin permainan tipe crane; mesin permainan dengan sebuah capitan besar yang bisa digerakkan untuk mengambil hadiah yang ada di dalamnya.
Dan yang ada di dalamnya adalah boneka plushie berbentuk kepiting besar warna warni. Ada yang abu, kuning, ungu, dan merah.
Kepiting… merah…
"Memangnya tidak ada kepiting di Plant?"
"Mau kuambilkan?" Aku langsung berkata pada Cagalli.
"Eh?" Cagalli mengalihkan pandangannya ke arahku, terlihat sedikit terkejut.
"Cagalli mau itu?" Aku menunjuk ke arah mesin crane dengan boneka kepiting di dalamnya.
"Tidak kok…" Cagalli membuang muka dariku. "Nanti saja aku pergi ke game center dekat rumah dengan temanku." Berarti memang ingin ya, kalau sampai merencanakan untuk mencari di tempat yang dekat dengan rumah.
"Aah, apa mungkin dengan Shinn yang waktu itu diceritakan Kira?" Aku bertanya sambil tersenyum, tapi dalam hati aku sedikit kesal karena kalau begitu Cagalli akan membagi kenangannya bersamaku di masa sebelumnya—kenangan saat kami pertama kali bertemu di kehidupan sebelumnya, ketika kepiting keluar dari rambut dan baju Cagalli saat aku membantunya keluar dari air—dengan orang lain. Bahkan meskipun Cagalli tidak memiliki ingatan…
Tunggu.
Kenapa Cagalli yang sekarang tidak memiliki ingatan tentang masa sebelumnya bisa tertarik melihat boneka kepiting ini?
Apa jangan-jangan…
"Kakak, kenapa?"
Mataku mengerjap lagi, teringat kalau Cagalli sedang bersamaku sekarang.
Apakah mungkin Cagalli juga punya ingatan yang sama denganku, bahwa ia teringat dengan kepiting yang kami lihat saat kami pertama bertemu dulu?
Aku menariknya mendekat ke arah game center itu dan mengeluarkan satu uang koin yang diperlukan untuk mencoba permainannya satu kali. Satu kali juga harusnya sudah cukup, aku berpikir sambil mengarahkan pencapit ke arah boneka yang berwarna merah. Untung posisinya ada di tempat yang tidak begitu sulit diraih.
Aku mendengar suara Cagalli yang tadinya terus berkata 'tidak usah', berubah menjadi suara terkesiap begitu boneka kepiting yang kuinginkan jatuh ke kotak tempat mengambil hadiahnya. Aku membungkuk untuk mengambilnya, dan dengan wajah bangga memberikannya pada Cagalli—sedikit ingin pamer. Namun, di luar perkiraanku, wajah Cagalli berubah jadi cemberut menatapku dan boneka di tanganku.
Apa? Kenapa? Apa tadi aku melakukan sesuatu yang salah? Apa seharusnya aku tidak melakukan ini? Apa dia tidak mau yang warna merah dan lebih suka kalau kuambilkan yang kuning atau warna lainnya?
"Ehm… Cagalli ...?" Aku memanggilnya ragu, ingin memastikan apakah dia marah padaku atau tidak. Tapi memangnya apa yang sudah kulakukan untuk membuatnya kesal?
Masih sambil menyodorkan boneka kepiting itu padanya, aku memutar otak, memikirkan apa yang sudah kulakukan. Tapi Cagalli malah menggerutu sendiri dengan suara kecil sehingga aku tidak bisa mendengarnya, matanya terarah ke samping, tidak mau menatapku. Aku teringat kalau dia ingin datang bersama temannya untuk bermain game ini. Apa jangan-jangan sebenarnya Cagalli memiliki orang yang disukainya dan berharap orang itu yang mengambilkan untuknya? Atau mungkin Cagalli sebenarnya ingin mencobanya sendiri? Benar juga anak kecil kan biasanya ingin mencoba segala sesuatunya sendiri. Aku malah mengambil kesempatan itu darinya sekarang.
"Ermm kalau kau tidak mau, kakak berikan pada Kira saja ya?" Kalau Cagalli tidak suka apa boleh buat. Aku sedikit berharap kalau Cagalli mungkin sebenarnya memiliki ingatan yang sama denganku, meskipun hanya sedikit. Atau mungkin setidaknya sesuatu yang bisa membawanya padaku.
Kira yang tidak ingat kehidupan yang sebelumnya pun sekarang bisa bersama dengan Flay, Miriallia yang dulu kehilangan Tolle sekarang bisa bersama dengannya lagi. Aku merasa kalau mungkin sebenarnya, jauh di alam bawah sadar, mereka mengenali satu sama lain sehingga bisa bersama lagi di kehidupan kali ini. Makanya melihat Cagalli yang memperhatikan boneka ini dari jauh, aku sedikit berharap bahwa mungkin bawah sadar Cagalli sebenarnya masih mengingatku, meskipun Cagalli yang sekarang mungkin tidak menyadari hal itu.
Tapi sepertinya aku salah mengira. Mungkin tadi Cagalli hanya sekedar melihat boneka ini saja dan tertarik, tanpa ada alasan tertentu lainnya.
"Kalau begitu—" Kalimatku terhenti ketika merasakan boneka yang kupegang ditarik. Tangan kecil Cagalli menggenggam sisi boneka yang dekat dengannya, mulutnya terkatup sambil menatap ke samping bawah.
"Katanya buatku?"
"Eh?"
"Kakak bilang ini buatku?" Cagalli bertanya sekali lagi, kali ini wajahnya menengadah, dan akhirnya matanya beradu denganku.
Selama ini, Cagalli hampir selalu menghindar dariku dan tidak mau melihat langsung ke arahku kecuali di saat-saat tertentu. Mungkin baru hari ini Cagalli mulai memberanikan diri menatapku, meskipun terkadang masih ragu. Tapi di sini Cagalli menatapku dengan pasti. Tidak seperti sebelumnya, matanya yang sekarang tidak ragu-ragu lagi saat menatapku.
"Iya. Kakak ambilkan ini untukmu," aku melepaskan tanganku, membiarkan Cagalli membawanya.
Lalu Cagalli langsung menyembunyikan wajahnya di dibalik boneka lonjong berwarna merah itu, dan berkata, "Terima kasih, Kak." Suaranya sedikit tertelan oleh bantalan empuk itu, tapi aku masih bisa mendengarnya.
"Sama-sama, syukurlah kau suka." Aku benar-benar bersyukur, akhirnya aku merasa Cagalli mulai membuka diri padaku. Setidaknya aku sudah membuktikan kalau aku bukan orang yang seram seperti kesan pertama yang aku buat di depannya waktu pertama kali bertemu. Cagalli menurunkan bonekanya sedikit sehingga aku bisa melihat matanya, dan wajahnya yang entah kenapa sedikit merah.
Tapi apapun penyebabnya, Cagalli kecil yang melihatku seperti itu dengan wajah setengah tertutup boneka terlihat sangat manis. Salah satu ekspresi wajah yang tidak pernah kulihat di kehidupan sebelumnya.
Aku merasa sayang karena tidak terlahir kembali dengan usia yang sama dengan Cagalli, tapi di sisi lain aku senang karena bisa melihat sisi Cagalli yang tidak bisa aku lihat di kehidupan pertamaku.
Semua kejadian hari ini membuat hatiku naik turun dengan situasi usia kami yang terpaut jauh, kadang menyayangkannya, kadang bersyukur atasnya. Nikmati saja prosesnya, ucapku dalam hati.
"Nah, sekarang ayo kita pulang. Aku pasti dimarahi ibumu nanti karena kita mampir sebelum pulang dan mungkin ketinggalan kereta yang harusnya kita naiki." Tapi aku tidak menyesal karena setidaknya sekarang aku telah membuat suatu kenangan baru dengan Cagalli yang sekarang. "Ah, karena masih banyak orang, pegang tangan Kakak, ya," aku mengulurkan tanganku lagi pada Cagalli, dan sekarang, Cagalli sendiri yang mengulurkan tangannya, menyambut tanganku.
Pegang taaangankuuu bersama jatuh cintaaaa
Makasih kak kiarakite, sekarang tiap lanjut nulis ini kepikiran terus lagunyaa
Shinnya masih nunggu ya, untuk sekarang ngeliat pasangan kita ini berproses dulu
Have a nice weekend
Cheers~
