Disclaimer: Sunrise
9.
Falling
.
"Nicol!"
"Athrun!" Nicol langsung menghampiriku, masih dengan stelan hitam putih khas pemain musik yang selalu mereka pakai ketika konser; hanya saja ia sudah melonggarkan dasi kupu-kupu putihnya. "Terima kasih sudah jauh-jauh datang ke resitalku kali ini."
"Kau bicara apa? Tentu saja sama sekali bukan masalah. Ini, penampilanmu bagus sekali." Aku memberikan buket bunga sederhana padanya.
"Benar kau tadi menontonku?"
"Eh?"
"Kau tidak tertidur lagi seperti sebelumnya?"
"Tidak, kok. Aku benar-benar menonton," aku berkeras, tapi bisa merasakan wajahku sedikit memerah. Sebab aku memang berusaha mempertahankan kelopak mataku untuk terbuka sampai akhirnya tiba bagian Nicol—aku tidak bohong, aku menonton penampilan piano Nicol hingga selesai. Tidak seperti saat penampilan Nicol di resitalnya yang sebelumnya—di mana aku benar-benar tertidur hanya selang sepuluh menitan setelah acara dimulai—kali ini aku benar-benar menonton bagiannya. Tetapi jujur, setelah Nicol selesai tampil aku benar-benar tidak ingat apa-apa lagi.
"Haha. Baiklah, aku percaya," Nicol berkata sambil meletakkan bunga dariku bersama buket bunga yang lain.
"Nicol, setelah ini kau ada acara?"
"Oh, semua yang tampil di resital kali ini akan pergi untuk makan bersama sehabis ini. Apa kau mau ikut kami, Athrun?" Nicol menawarkan.
"Oh, kalau begitu lain kali lagi saja," tadinya aku bermaksud mengajak Nicol untuk pergi keluar bersama, karena jarang sekali aku kembali ke kota asalku dan bertemu teman-teman lamaku. Kebetulan saja hari ini sekolah musik tempat Nicol les piano mengadakan resital, dan Nicol mengundangku untuk datang. Di antara kami bertiga, hanya aku yang datang ke resital Nicol. Baik di kehidupan sebelumnya maupun sekarang, aku lebih dekat dengan Nicol dibanding dengan Yzak maupun Dearkka, begitu juga sebaliknya.
Apalagi dengan kematian Nicol di kehidupan sebelumnya.
Aku masih menyesali kematiannya dulu, merasa bersalah kenapa aku tidak bisa melindunginya di pertempuran di lepas pantai Orb waktu itu. Nicol yang kala itu masih berusia 15 tahun dan begitu menyukai pianonya.
Oleh karena itulah, bisa melihatnya bermain piano lagi seperti ini merupakan sesuatu yang tidak mungkin kulewatkan, bahkan meskipun aku masih tidak begitu menyukai musik klasik seperti di kehidupan sebelumnya. Aku tetap ingin mendukung permainan pianonya. Sekarang usia Nicol sama sepertiku, 16 tahun. Nicol yang sekarang hidup melewati batas usianya yang dulu, salah satu dari sekian banyak hal baru di kehidupan ini yang aku syukuri dan membuatku bahagia sampai dadaku terasa tercekat oleh perasaan itu.
Tentu saja, bertemu dengan Cagalli lagi tetap ada di daftar teratas dari hal-hal membahagiakan itu semua.
"Athrun…" Aku mendengar Nicol memanggilku dengan wajah bingung. Gawat, aku melamun meskipun cuma sebentar tadi.
"Ah, maafkan aku. Aku sedikit melamun tadi. Ada apa?"
"Bukan apa-apa kok. Hanya saja… kau terlihat berbeda ya…"
"Berbeda bagaimana? Kita baru beberapa bulan saja tidak bertemu kok. Terakhir kali kulihat di cermin, wajahku masih sama seperti dulu."
"Bukan fisikmu. Tapi… apa ya…? Aku juga tidak begitu mengerti, tapi kau terlihat berbeda. Kau sepertinya… lebih santai, lebih tenang. Athrun yang dulu terlihat seperti… bagaimana ya…?" Nicol mengatupkan bibirnya dan menutupnya dengan kepalan tangan, seperti sedang berpikir. "Dulu wajahmu terlihat seperti ada sesuatu yang terus-terusan kau pikirkan? Setidaknya di pikiranku kau terlihat seperti itu. Kau seperti menahan sesuatu, tidak terlihat lepas seperti anak-anak lainnya. Mungkin karena itu Athrun terlihat dewasa ya. Tapi sekarang kau terlihat lebih santai? Dibandingkan dulu... Malah… kau sekarang terlihat bahagia…?" Nicol menelengkan kepalanya, seperti tidak yakin dengan kata-katanya sendiri dan bertanya ke arahku.
Ah, apa mungkin ini yang dilihat juga oleh ibu dari diriku?
Ibu yang pertama kali menyadari perubahan sikapku setelah bertemu Cagalli. Waktu itu aku masih ragu-ragu, bahkan sedikit kalut karena pertemuanku dengan Cagalli sedikit bermasalah sehingga membuat Cagalli tidak nyaman denganku. Hal ini berlangsung sampai beberapa minggu.
Lalu semua berubah setelah aku pergi menemani Cagalli melihat pertandingan di hari Sabtu itu. Sejak hari itu Cagalli jadi lebih santai di depanku dan tidak lagi pendiam. Jika aku kebetulan datang ke rumahnya bersama Kira, Cagalli akan menyambutku sambil tersenyum ramah, tidak kaku lagi seperti dulu.
Aku masih ingat pertama kalinya Cagalli menunjukkan senyumnya padaku.
.
"Cagalli, Kakak pulang," Kira masuk ke dalam setelah melepas sepatunya sembarangan. Aku menghela nafas dan melepas sepatuku dan merapikannya sebelum mengikuti Kira masuk ke dalam rumah.
Kebetulan karena besok libur akhir pekan panjang sejak hari Jumat, jadi hari ini Kira meminta tolong padaku untuk membantunya menyelesaikan satu quest dari game yang sedang dimainkannya. Kebetulan aku punya konsol dan game yang sama—hadiah dari orang tuaku dulu setelah mendengar aktingku yang berkata kalau aku juga ingin konsol yang sama dengan teman-temanku, supaya aku terlihat lebih meyakinkan sebagai anak-anak pada umumnya. Tapi kurang lebih aku bersyukur dengan pemberian mereka, karena dengan konsol itu aku bisa berbaur dengan yang lainnya.
Dulu aku sering bermain dengan Kira di kehidupan sebelumnya, dan di masa sekarang pun aku tidak memiliki kesulitan untuk memainkan game seperti ini. Namun supaya tidak mencurigakan. aku juga melatih diriku sendiri supaya tidak terlalu mahir, juga melatih reaksiku yang terkadang terlalu datar—tidak seperti anak-anak yang biasanya cenderung kompetitif.
"Selamat datang, Kak," aku mendengar suara Cagalli dari ruang tengah tempat Kira berada.
Aah, hari ini juga aku masih bisa bertemu dengannya. Aku melangkah masuk, dari balik pintu kulihat sepertinya Cagalli seperti sedang mengerjakan tugas sekolah di ruang tengah sambil menonton televisi dengan volume kecil.
"Selamat sore, Cagalli," aku memberi salam, memberitahukan bahwa aku juga ikut datang bersama Kira. Akhir-akhir ini aku jarang main ke rumah Kira karena tidak ada tugas kelompok lagi, jadi sudah beberapa waktu berlalu sejak terakhir kali aku bertemu dengannya, ketika mengantarnya menonton penyisihan turnamen basket nasional.
"Selamat sore, Kak Athrun," Cagalli menyapa sambil tersenyum begitu melihatku.
Aku mengerjap.
Seingatku, sejak pertama kali bertemu, sejak kami berkenalan lagi, ini pertama kalinya aku mendengar Cagalli memanggil namaku. Biasanya dia hanya memanggilku kakak saja. Tentu saja ini merupakan kemajuan besar bagiku, dan aku tidak menyangka betapa aku menantikannya memanggil namaku lagi sampai aku mendengarnya dari mulut Cagalli.
Pelan-pelan aku mendekatinya, "Sedang apa? Mengerjakan tugas ya?" aku masih berhati-hati, khawatir satu kesalahan kecil bisa membuatnya kembali menjauhiku seperti dulu.
"Sedang belajar. Minggu depan ada try out untuk ujian masuk SMP."
"Kapan tes ujian masuk SMP nya?"
"Tanggal 1 Februari."
Sekarang sudah masuk minggu kedua Desember. Berarti kurang dari 2 bulan lagi. "Kau akan ikut ujian masuk ke SMP yang kemarin kita lihat pertandingannya itu kan?"
Cagalli mengangguk, lalu aku menanyakan apa aku boleh ikut duduk di kursi yang ada di samping depannya sambil menunggu Kira yang sedang menyiapkan minuman untuk kami nanti. Biasanya aku langsung masuk ke kamar Kira dan menunggu di atas, tapi karena Cagalli ada di sini dan dia sepertinya tidak masalah dengan keberadaanku, jadi aku memilih untuk menunggu di sini saja. Untung Cagalli tidak keberatan. Hari ini aku tidak akan ikut makan bersama mereka, jadi mungkin cuma ini kesempatanku untuk dekat dengan Cagalli hari ini.
Aku mendapati di pangkuan Cagalli ada boneka kepiting merah yang kuberikan waktu itu. Melihat boneka itu ada bersamanya aku jadi merasa senang, untung saja waktu itu aku memaksa mendapatkannya untuk Cagalli. Setidaknya sesuatu yang kuberikan bisa membuatnya nyaman, dan kelihatannya dia menyukainya sampai ikut membawanya untuk menemaninya belajar.
"Kakak hari ini mengerjakan tugas dengan kak Kira lagi?" Cagalli bertanya di sela-sela soal latihan yang dikerjakannya.
"Tidak. Akhir-akhir ini tugas sekolah sudah mulai berkurang. Kira hanya memintaku menemaninya main game hari ini. Mungkin aku tidak akan lama."
Cagalli mengangguk paham, sementara aku berusaha menahan bibirku yang ingin tersenyum lebar karena sekarang Cagalli sudah mau membuka pembicaraan denganku, bukan lagi aku yang harus memancingnya dengan pertanyaan supaya kami bisa bercakap-cakap. "Cagalli jadi ikut bimbel untuk persiapan ujian masuk?" tanyaku sekarang.
"Jadi. Aku pergi seminggu sekali, padahal aku sudah bilang pada ibu tidak usah," aku melihat mulut Cagalli mengatup cemberut. "Padahal kalau belajar aku bisa minta kak Kira untuk membantuku. Tapi ayah bersikeras karena katanya SMP yang ingin kumasuki termasuk SMP favorit, dan ayah juga ingin aku masuk ke sana. Jadi ayah meminta ibu mencarikan bimbel yang bagus."
Aku terkekeh pelan mendengarnya. "Tidak apa-apa kan? Cagalli kan ingin sekali masuk ke sana. Tidak ada salahnya ikut bimbel supaya kau benar-benar siap untuk ujian masuknya. Kau harus menggunakan waktumu dengan tepat untuk belajar."
"Kakak sendiri, malah menemani kak Kira bermain game."
Aku terbahak singkat. "Nanti kalau sudah waktunya ujian masuk universitas kakak pasti tidak akan sesering ini bermain dengan Kira." Kau tidak tahu kan kalau alasan sebenarnya aku selalu mengiyakan ajakan Kira bermain bersamanya adalah supaya aku bisa bertemu denganmu.
Tapi karena itu alasan terselubung, mau tidak mau momen ini berakhir begitu Kira kembali dari dapur dan berkata padaku, "Athrun, ayo. Kita ke atas," Kira menganggukkan kepalanya ke arah lantai dua, dengan sebuah nampan dengan dua gelas minuman di atasnya.
Meskipun cuma sebentar, aku sudah merasa senang karena kali ini aku bisa bicara langsung dengan Cagalli dan jarak di antara kami sudah tidak sejauh dulu. "Kakak ke atas dulu ya," aku melambai pelan pada Cagalli yang hanya mengangguk mengiyakan, lalu kembali ke buku pelajarannya.
.
Setelah percakapanku dengan Cagalli, setiap kali aku main ke rumah Kira aku selalu menyempatkan diri berbicara singkat dengan Cagalli, bukan lagi salam bertemu dan berpisah yang sopan seperti dulu, tapi benar-benar bicara dengannya seperti teman yang sudah mulai akrab.
Dan hal itu sepertinya mempengaruhi suasana hatiku sehari-hari.
Ibu bahkan bertanya apakah aku akhirnya mendapatkan gadis yang aku sukai itu, karena katanya wajahku terlihat lebih rileks, sering tersenyum dibandingkan dulu. Auraku sedikit berbeda, terlihat seperti orang yang sedang berbunga-bunga, begitu kata ibu.
Aku masih belum yakin untuk jujur tentang Cagalli, dan aku juga tidak bisa membuat cerita bohong dengan mengatakan kalau Cagalli sepertinya mulai melihat ke arahku—sebab ibu masih percaya dugaan melesetnya tentang aku yang menyukai pacar orang lain. Aku khawatir ibu menyangka aku bahagia karena orang yang aku sukai itu mungkin akan putus dengan pacarnya dan berpaling padaku, sehingga kesannya aku jadi penghancur hubungan orang lain.
Aku akhirnya beralasan bahwa aku lebih rileks karena tugas sekolah sudah mulai lebih santai dan lagi ujian tengah semester juga hampir berakhir. Ibu kelihatan masih penasaran, tapi tidak mengatakan apa-apa. Setidaknya ibu bukan tipe yang memaksaku untuk jujur tentang kehidupan pribadi kecuali itu hal yang mengkhawatirkan bagi ibu.
Lalu sekarang, Nicol juga menangkap perubahan pada diriku. Apa aku terlihat sebahagia itu setelah menjadi lebih dekat dengan Cagalli? Aku tidak menyangka apa yang kurasakan dalam hati ternyata terpantul jelas sekali di wajahku.
"Apa jangan-jangan kau sudah punya pacar di sana, Athrun?"
Aku memang bercerita sedikit tentang situasi hatiku pada ibu, tapi ada bagian-bagian yang harus kuedit gara-gara asumsi ibu. Jadi pada Nicol yang tidak tahu apa-apa dan juga jauh dariku, mungkin aku bisa sedikit bercerita. "Tidak, tapi…"
"Apa ada orang yang kau sukai di sana?"
Otomatis wajah Cagalli langsung muncul di kepalaku, dan sebelum aku bisa menghentikannya, bibirku langsung mengembangkan senyum.
"Oow, aku benar ya? Orangnya seperti apa?" Nicol langsung bertanya dengan bersemangat.
"Aku kan tidak bilang apa-apa," tapi aku berusaha menyembunyikan wajahku yang memanas, dan sepertinya itu malah membuat Nicol semakin yakin tentang teorinya.
"Tapi benar kan? Aku tidak pernah melihatmu seperti ini lho," Nicol tersenyum jahil, mungkin berniat menggodaku, tapi aku bisa melihat kalau sepertinya ia turut senang untukku. Itulah yang aku sukai dari Nicol, baik di masa lalu maupun sekarang. Nicol adalah orang yang baik dan juga tulus.
"Kurang lebih begitu…" Aku menjawab dengan suara kecil. Di masa lalu hubunganku dengan Cagalli bisa dibilang tidak memiliki status karena kami merahasiakannya dari publik dan hanya kerabat dekat kami saja yang tahu. Makanya aku jarang sekali membicarakan apa yang kurasakan pada orang lain. Di masa sekarang pun karena usiaku dan Cagalli yang terpaut jauh, aku tidak bisa dengan bebas menceritakannya pada orang lain, dan lagi aku bukan tipe yang cerita urusan pribadi pada siapapun. Mungkin ini pertama kalinya aku curhat pada orang lain tentang orang yang kusukai di masa ini, yang bukan keluargaku.
Aku hanya berharap Nicol tidak memandang sebelah mata pada perbedaan usia kami. Aku bisa jujur pada Nicol karena tahu dia bukan orang yang menghakimi orang begitu saja. Ibuku pun sebenarnya sama, tapi aku lebih tidak ingin membuatnya kecewa kalau-kalau ibu tidak setuju. Dan aku juga masih belum siap kalau ibu cerita juga pada ayah.
"Aaah, sayang sekali hari ini kami ada acara bersama," Nicol merengut karena acara pasca resital dari tempat lesnya malam ini. "Kapan-kapan aku—"
"Nicol!" Aku mendengar suara seseorang yang rasanya agak familiar. "Sebentar lagi kita harus—ah, maaf!"
Aku menoleh ke arah pintu ruang persiapan, dan melihat seorang perempuan bermata abu-abu, berambut hitam yang digelung ke atas, mengenakan gaun sederhana tapi elegan warna hitam. Wajahnya dipulas dengan make-up, tapi aku masih bisa melihat sedikit bintik di pipinya.
"Maaf, tapi sebentar lagi kita harus kumpul di ruang persiapan utama! Nanti kau menyusul ke sana ya!" gadis itu menyampaikan pada Nicol dan mengangguk padaku sekali, lalu buru-buru pergi meninggalkan ruangan.
"Ah, Meer—!" Nicol beranjak berdiri, tapi gadis itu sudah lari lebih dulu.
"Siapa itu?" Aku bertanya, meskipun aku punya jawaban sendiri dalam kepalaku. Apa jangan-jangan itu…
"Namanya Meer Campbell. Dia satu sekolah musik denganku, tapi di bagian vokal. Kami kadang-kadang mengobrol ketika waktu istirahat, dan kali ini dia juga tampil di resital tadi."
"Benarkah?" Aku tidak memperhatikan namanya di dalam buklet program yang dibagikan di pintu masuk, aku hanya mencari jam berapa Nicol tampil.
"Athrun, kau benar-benar tidur ya?" Nicol sekarang menyeringai ke arahku. "Dia tampil 2 performa setelahku tadi."
"O-ooh…" Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena aku memang tertidur setelah konser piano Nicol. Tapi mau bagaimana lagi, seleraku terhadap musik klasik dari kehidupan pertama sampai sekarang masih belum berubah. "Ta-tapi… aku benar-benar menonton pertunjukanmu kok."
"Pertunjukkan bagianku saja kan?"
"Aku ke sini untuk menontonmu, jadi aku tidak salah juga kan kalau aku cuma menonton penampilanmu saja," aku membela diri. Tapi sedikit menyesal karena aku tidak memperhatikan buklet programnya lebih teliti, padahal di sana ada semua orang yang tampil di resital malam ini.
Tapi aku bersyukur di kehidupan kali ini Meer bisa menjalani hidupnya sebagai dirinya sendiri, melakukan apa yang ia sukai. Dalam hati aku memanjatkan harapan supaya sekarang dia bisa dicintai banyak orang sebagai dirinya sendiri, seperti yang diinginkannya dulu.
Mendengar jawabanku tadi, Nicol malah tertawa kering. "Terima kasih, Athrun. Tapi maaf ya. Padahal aku juga ingin mengobrol panjang denganmu. Kapan-kapan aku yang akan pergi menemuimu, nanti beritahu aku kapan waktumu kosong." Nicol berkata sambil bersiap-siap untuk pergi menyusul temannya tadi.
"Tidak apa-apa. Aku cukup senang melihatmu lagi meskipun cuma sebentar. Nanti aku hubungi lagi kapan kita bisa ketemu. Lebih bagus lagi kalau Dearkka dan Yzak juga bisa ikut," aku ikut berjalan bersamanya keluar ruangan, dan berpisah dengan Nicol di persimpangan lorong, dia menuju ke ruang ganti dan aku ke arah pintu keluar, bersiap untuk kembali ke kota tempatku tinggal sekarang.
Begitu keluar dari stasiun, hari sudah cukup larut. Aku yang mengira bisa mampir ke restoran keluarga atau semacamnya bersama Nicol terlanjur bilang pada ibu kalau aku tidak makan malam di rumah. Kalau begini mungkin aku harus cari sesuatu dulu yang bisa kumakan sebelum pulang.
Sambil memperhatikan restoran yang ada di sekitarku aku memikirkan apa yang sebaiknya kubeli, atau mungkin lebih baik aku membeli sesuatu yang gampang dimakan dari minimarket—
Mataku berkedip ketika aku merasa melihat sosok yang familiar di antara kerumunan orang, masuk ke sebuah minimarket yang ada di seberang jalan.
"Cagalli…?" Aku bergumam, tidak mengira bisa melihatnya di sini, di jam segini. Namun aku segera ingat kalau Cagalli pergi ke tempat bimbel seminggu sekali. Mungkin saja ia baru pulang dan mampir ke minimarket dengan alasan yang sama denganku—sebab mungkin keluarganya sudah selesai makan malam di jam sekarang.
Karena setelah ujian tengah semester tugas sudah mulai mereda, aku jadi tidak punya alasan lagi untuk mampir ke tempat Kira. Hanya sesekali saja aku bisa ke sana, jadi aku pun sudah beberapa lama tidak bertemu Cagalli.
Begitu lampu untuk menyebrang jalan berubah hijau, aku mengikuti kerumunan yang menyebrang jalan, menuju ke arah minimarket yang sama dengan yang Cagalli masuki. Di dalam, aku mengedarkan pandanganku, mencari Cagalli yang sekarang masih berperawakan anak SD.
Aku menemukannya di bagian minuman dingin, namun begitu aku mau menghampirinya, Cagalli cepat-cepat berpindah ke bagian makanan ringan. Matanya tidak sekalipun memandangi barang yang dipajang; alih-alih, ia selalu celingukan, seolah mencari sesuatu, atau seseorang.
Penasaran, aku mempercepat langkahku mengejarnya. Dari belakang aku menepuk bahunya, dan di saat yang sama aku bisa merasakan Cagalli memekik kecil dan hampir melompat saking kagetnya. Ia berbalik, dan aku bisa melihat wajahnya terlihat waspada, dan ada sedikit rasa takut...
"Maaf, Cagalli. Ini aku," Aku langsung menarik lenganku, mengangkat kedua tanganku ke udara, menunjukkan aku tidak akan melakukan macam-macam. "Maaf aku tidak bermaksud mengagetkanmu," aku bisa melihat rasa takut di matanya berubah menjadi lega—aku bahkan bisa mendengar suara helaan nafasnya. Aku menunduk sambil menumpangkan kedua tanganku di lutut, mencoba mendekatkan pandanganku dengannya. "Maaf sudah membuatmu takut. Kau tidak apa-apa kan? Aku—" Kata-kataku terhenti begitu tangan Cagalli tiba-tiba mencengkram lengan jaketku kuat-kuat. Matanya masih menatapku lekat—lega, tapi masih waspada.
Mata waspada itu bukan ditujukan ke arahku. Ada yang tidak beres.
"Ada apa?" aku mendekatkan diri ke rak display makanan supaya tidak menghalangi pelanggan lain dan berjongkok supaya pandanganku setara dengan Cagalli, dan maju lebih dekat padanya. Tanganku kembali ke bahunya, mencoba menenangkannya. Dan kata-kata yang keluar dari mulutnya membuatku takut sekaligus siaga.
"Tolong aku, Kak."
Terima kasih buat yang masih ngikutin~
Kalau bukan hamster brain bukan Athrun namanya, ya XD.
Karena sepertinya ada yang penasaran sama Cagalli, gimana kalau di beberapa chapter setelah ini ada POV Cagalli juga untuk liat side-nya dia? Tadinya pingin bikin pov nya lenore juga, tapi kayanya terlalu random. Gimana nih yang baca?
Have a nice weekend,
Cheers~
