Disclaimer: Sunrise


10.

Lord, Hold My Hand

.

"Ada apa?" Aku menarik Cagalli mendekat padaku, diam-diam memindai tubuhnya, mencari-cari apakah dia terluka atau tidak.

Cagalli hanya menggeleng dan berkata pelan, "Kakak mau temani aku sebentar tidak?"

"Temani ke mana?"

Cagalli tidak segera menjawab dan malah menghindari pandanganku. "Apa Kakak mau langsung pulang ke rumah?"

"Ah, hari ini Kakak mau makan di luar, tadi Kakak sedang memikirkan mau makan di mana, lalu melihatmu. Jadi Kakak terpikir untuk menyapamu sebentar. Kau sudah mau pulang?" Aku bertanya, dan lagi-lagi Cagalli terlihat ragu untuk menjawab.

Lalu dari sudut mataku aku merasa ada orang yang berdiri beberapa langkah dari depan kami, hanya diam berdiri memperhatikan ke arah sini. Dan Cagalli juga sepertinya sadar dengan tatapan orang itu, malah sepertinya sangat menyadari karena aku bisa merasakan dengan tanganku yang masih memegangnya, tubuhnya seperti menegang takut. Bola matanya bergerak-gerak ragu.

Begitu orang itu mulai melangkah kemari, aku memutuskan untuk membawa Cagalli pergi dari sini. Aku tidak mengenalnya, tapi aku merasa sepertinya Cagalli tidak suka orang ini ada di dekatnya.

"Kau sudah makan malam? Kalau belum Kakak traktir di restoran sana ya? Kakak tahu satu tempat yang enak tapi agak jauh. Kita jalan sebentar ya," aku langsung bangkit dan tanpa menunggu jawaban Cagalli, kupegang tangannya, menuntunnya melewati pria berjaket panjang yang terus menatap ke arah Cagalli. Aku berdiri di samping kanannya untuk menghalangi Cagalli dari pria itu. "Nanti biar aku yang telepon ibumu supaya tidak khawatir karena kau pulang agak malam ya. Atau mungkin minta kakakmu jemput ke sini saja ya?" aku berkata begitu kami melalui pria itu, menunjukkan kalau aku adalah kenalan Cagalli. Dia pasti mundur kalau tahu anak ini tidak sendirian.

Aku sengaja membawa Cagalli kembali ke arah stasiun di mana orang-orang masih banyak berlalu lalang. Sesekali aku melirik ke belakang, memastikan apakah orang tadi mengikuti kami atau tidak. Untuk beberapa waktu aku masih bisa menemukan sosoknya, jadi aku sedikit mengajak Cagalli mengambil jalan yang agak memutar, menyusuri lorong ke lorong namun tetap di area ramai—mencoba membuatnya bingung. Lalu beberapa lama kemudian, setelah aku tidak melihatnya mengikuti kami lagi, dan mengajak Cagalli masuk ke sebuah restoran keluarga. Selama itu, Cagalli tidak mengatakan apa-apa maupun bertanya kenapa aku mengajaknya berkeliling seperti ini.

Di dalam aku memesankan satu loyang pizza dan juga drink bar untuk kami berdua. Aku menyuruhnya menunggu di tempat duduk kami sementara aku mengambilkan sup jagung telur untuk menghangatkan tubuh kami dari udara dingin di luar.

"Ini, makan dulu supaya badanmu hangat," aku menyodorkan mangkuk sup berwarna putih pada Cagalli yang masih menunduk. Sambil menggumamkan terima kasih, Cagalli memegang mangkuk yang hangat dan meniupnya pelan.

Setelah sup di mangkuk kami tinggal setengah dan pelayan membawakan pesananku, aku mengambil piring kecil yang kubawa dari meja drink bar dan mengambilkan beberapa potong untuk Cagalli.

"Cagalli, kau kenal dengan orang yang tadi?" Aku bertanya setelah aku lihat Cagalli sepertinya masih belum mau menyentuh makanannya. Sambil menunduk Cagalli hanya menjawab dengan gelengan kepala.

"Apa ini pertama kalinya?" Cagalli diam sesaat sebelum menggeleng lagi. Tanganku mengepal kuat mendengar itu. Ada orang yang menguntitnya dan ini bukan yang pertama kali? "Apa ada orang lain yang tahu?" Lagi, Cagalli hanya menggelengkan kepalanya. "Kau tidak cerita pada orang tuamu atau Kira?" Suaraku sedikit naik.

"Aku tidak mau membuat mereka khawatir…"

"Tapi kalau orang itu berniat jahat dan berhasil menyentuhmu, justru mereka akan lebih khawatir kan?" Aku berusaha menahan suaraku supaya tidak terdengar emosi, tapi sepertinya Cagalli bisa menangkap nada keras dari suaraku karena ia terlihat semakin menciut, merasa bersalah. Aku menghela nafas, mencoba menenangkan diri. Aku merasa marah pada penguntit itu karena berani melakukan hal ini dan membuat Cagalli takut, dan juga pada diriku sendiri yang baru mengetahui hal ini sekarang—tapi apa boleh buat karena Cagalli memang tidak memberitahu siapapun. Bahkan keluarganya pun tidak ada yang tahu.

"Maaf, Kakak bukan marah padamu," aku meminta maaf karena menaikkan suaraku. "Kau pasti takut kan karena diikuti orang asing seperti itu dan bingung apa yang harus kau lakukan?" Aku memperhatikan Cagalli mengangguk dengan takut-takut. Aku mendesah pelan, tidak seharusnya aku terbawa perasaan. Bukannya Cagalli yang jadi korban lebih kalut daripada aku? Justru aku yang seharusnya lebih tegar supaya dia bisa percaya padaku dan tahu aku bisa diandalkan olehnya.

"Kau bilang ini bukan pertama kalinya. Kapan kejadian sebelumnya?"

"Minggu lalu, di hari yang sama. Waktu aku keluar dari tempat bimbel aku bisa merasakannya mengikutiku. Waktu aku masuk ke minimarket dan berputar-putar di kota dia mengikutiku. Aku ingat kak Kira bilang akan makan di luar bersama kak Flay, jadi aku pergi ke tempat yang sama dan menemukan mereka berdua. Aku memaksa untuk bersama mereka sampai mereka selesai dan pulang bersama kak Kira. Dia berhenti mengikutiku di restoran itu dan tidak mengikutiku pulang waktu itu."

"Berarti Kira juga tidak sadar tentang orang itu?"

Cagalli menggeleng. "Aku hanya bilang ingin pulang dengan kak Kira dan akan menunggunya. Aku duduk di sebelahnya dan fokus membaca buku supaya tidak mengganggu kak Kira dan kak Flay. Aku tidak mau merusak acara kencan mereka dan membuat kakak khawatir, makanya aku diam saja. Aku kira orang itu akan berhenti. Aku tidak mengira kalau dia bakal mengikutiku lagi. Aku tadi habis berkeliling tanpa tujuan, soalnya jalan menuju rumah pasti sudah sepi."

Aku ingin menanyakan apa rencananya kalau orang itu masih tetap menguntitnya dan aku tidak bertemu dengannya di sana tadi. Tapi aku tidak berani memikirkannya. Aku benar-benar bersyukur Nicol tidak bisa pergi bersamaku sehingga aku langsung pulang dan bisa berpapasan dengan Cagalli tadi di sana.

"Nanti kau pulang ke rumahku dulu ya, baru kita minta seseorang untuk menjemputmu dari rumahku."

"Kenapa?"

"Untuk jaga-jaga kalau-kalau dia menunggu di luar dan membuntutimu untuk tahu di mana kau tinggal."

"Tapi kalau dia datang ke rumah kakak karena menyangka aku tinggal di sana bagaimana?" Bagaimana bisa anak ini masih mengkhawatirkanku padahal dia yang ada dalam bahaya.

"Tidak masalah, daerah teras depan rumah kami dipasangi kamera pengawas." Ayah orang yang selalu berhati-hati; baik di rumah kami yang dulu maupun yang sekarang, ayah selalu memasang kamera pengawas untuk jaga-jaga meskipun rumah kami sudah dipasangi interkom dengan fungsi perekam wajah. Mungkin karena pekerjaan, ayah jadi selalu ekstra waspada. Mungkin saja ada yang benci padanya dan melakukan sesuatu pada ayah, bahkan mungkin pada kami. "Kalau dia datang ke rumah kami, justru lebih bagus karena kita jadi punya bukti yang bisa dipakai."

"Bukti untuk apa?"

"Cagalli tidak perlu memikirkan itu. Biar nanti aku yang bicarakan dengan orang tuamu tentang apa yang harus dilakukan nanti."

"Kenapa aku tidak boleh tahu juga? Kan aku yang diincar!"

"Tidak apa-apa, Cagalli. Serahkan saja pada orang dewasa. Kau fokus saja untuk belajar, jangan sampai kejadian ini membuatmu gagal ujian masuk," aku mengulurkan tangan dan mengusap puncak kepalanya, berusaha membuatnya tenang dan paham. "Makanlah duluan, Kakak mau telepon ke rumah dulu untuk memberitahu kalau aku akan membawamu pulang." Aku berkata pada Cagalli, sementara aku sendiri permisi keluar untuk menelepon.


"Aku pulang," aku memberi salam begitu aku masuk ke rumah. Suara langkah kaki menghampiriku, dan ibu muncul menyambutku yang datang sambil menggandeng Cagalli.

"Selamat datang, Athrun. Halo, kamu pasti Cagalli ya," ibuku menunduk supaya pandangannya lebih dekat dengan Cagalli.

"Se-selamat malam, Tante," Cagalli menyapa, sedikit tergagap. "Maaf mengganggu malam-malam begini."

"Sama sekali tidak, kok. Ayo masuk. Tante buatkan sesuatu ya. Ajak dia duduk di ruang tamu, ya, Athrun," ibu menyuruh padaku sambil beranjak ke dapur untuk membuatkan teh sembari menunggu tante Via dan Kira—yang sudah kutelepon sebelumnya, jadi seharusnya mereka tidak akan lama lagi sampai kemari—untuk datang menjemput.

"Ayo kemari," aku menuntun Cagalli ke ruang tamu sambil masih menggenggam tangannya, yang tidak sedetikpun kulepaskan sejak kami keluar dari restoran keluarga tempat kami makan malam tadi. Aku tidak tenang karena penguntit itu bisa saja mengikuti kami, dan baru bisa lega setelah aku membawa Cagalli masuk ke rumahku yang lebih aman.

Aku mengarahkan sofa panjang untuk Cagalli duduk dan mengambilkan jaketnya untuk kugantung di gantungan dekat pintu, lalu kembali ke sofa dan duduk di sebelahnya. Cagalli terlihat bingung melihatku kembali duduk di sampingnya, dan aku hanya tersenyum. "Aku temani sampai keluargamu datang ya," aku berkata padanya. Mana mungkin aku bisa meninggalkannya setelah tahu tentang kejadian ini.

Tidak lama, ibu datang sambil membawa nampan berisi beberapa cangkir teh, dan meletakkannya di atas meja.

"Ah, tidak usah repot-repot, Tante." Cagalli langsung menaikkan tangannya, meskipun tidak ada artinya karena ibu sudah membawanya ke sini.

"Tidak sama sekali, kok. Minumlah sambil menunggu keluargamu datang ya," kulihat ibu tersenyum ramah ke arah Cagalli, dan aku lihat juga wajah Cagalli yang seperti terpana melihat ibu.

Ibu juga sepertinya menyadarinya, sebab ibu langsung bertanya, "Apa ada sesuatu di wajah tante?" ibu menepuk-nepuk pipinya, khawatir ada sesuatu yang menempel di sana.

"Tidak, maaf saya tidak sopan. Hanya…" Cagalli menunduk, wajahnya memerah. "Tante… mirip sekali dengan kak Athrun…"

"Oh, memang banyak yang bilang begitu karena warna rambut kami sama. Tapi dia lebih mirip ayahnya kok," ibu terkekeh pelan.

"Lenore," aku mendengar suara ayah yang menghampiri kami. Aku mendongak ke arah ayah, dan mendapati wajahnya sedikit merengut.

"Lho, itu benar kok," ibu malah berkata seolah-olah ayah tidak keberatan sama sekali. "Nanti kalau Athrun sudah lebih dewasa, pasti lebih mirip lagi denganmu." Ibu mendekati ayah dan tersenyum padanya, sementara ayah cuma membuang muka, kelihatannya seperti memerah—

Pikiranku terhenti menyadari tangan Cagalli menegang. Aku mengalihkan pandanganku ke arahnya, dan melihat Cagalli menatap ayahku dengan lekat. Entah kenapa aku merasa seperti melihat keraguan di matanya. Lalu matanya beralih ke arahku, dan begitu tatapan kami bertemu, Cagalli langsung menunduk. Wajahnya memerah, malu karena ketahuan olehku.

Aku memperkenalkan ayah dan ibuku yang duduk di sofa di hadapan kami pada Cagalli, dan dengan sopan Cagalli balas memperkenalkan dirinya. Ayah bertanya tentang kejadian tadi, jadi aku ceritakan garis besarnya saja. Detailnya akan kuceritakan ketika keluarga Cagalli datang.

Tangan Cagalli yang kupegangi masih terasa kaku, jadi sebisa mungkin aku mengajaknya bicara supaya tidak terlalu tegang. Mungkin dia masih takut dengan kejadian tadi. Padahal rasanya sewaktu kami jalan kemari Cagalli tidak setegang sekarang.

Untung saja tante Via dan Kira cepat datang, sebab tidak lama kemudian aku mendengar suara interkom rumah kami berbunyi. Ibu yang menyambut mereka dan mengarahkan ke ruang tamu. Tante Via yang masuk lebih dulu sambil setengah berlari dan berseru, "Cagalli!"

Aku langsung melepaskannya dan Cagalli pun menghambur ke arah ibunya. "Aku tidak apa-apa kok, Bu," aku bisa mendengar Cagalli menenangkan ibunya. Padahal harusnya tadi dia begitu ketakutan, tapi dengan cepatnya ia bisa bersikap tegar demi ibunya.

"Athrun," Kira memanggilku. "Terima kasih sudah menjaganya ya…" Kira berterima kasih tapi aku bisa menangkap ada sedikit nada sesal dalam suaranya.

Tapi sebelum aku berkata apa-apa tante Via bertanya kepadaku. "Sebenarnya apa yang terjadi tadi?" Aku cuma memintanya untuk datang menjemput Cagalli karena terjadi sesuatu dan tidak menceritakan detail kejadiannya pada mereka. Namun itu saja tentu sudah cukup membuat semua ibu panik mendengarnya kalau menyangkut anak mereka.

Aku meminta Cagalli menjelaskan lagi apa yang terjadi, tentang kejadian minggu lalu ketika ia menemui Kira untuk menghindari penguntitnya. Kira yang sepertinya memang tidak menyadari apa-apa, langsung terlihat kecewa pada dirinya sendiri, dan Cagalli pun langsung bersikeras meyakinkan kalau itu bukan salah Kira, melainkan Cagalli sendiri yang memutuskan tidak cerita apa-apa.

Setelah Cagalli selesai menceritakan kejadian hari ini, Kira langsung berkata, "Kalau begitu tidak usah ke sana lagi saja. Dia tidak pernah mengikuti Cagalli sampai ke rumah kan? Berarti dia tidak akan tahu kami tinggal di mana. Kalau Cagalli tidak datang lagi, dia pasti menyerah."

"Tapi… Nanti kalau dia malah menguntit orang lain bagaimana?" Cagalli bertanya. "Aku tidak mau ada orang lain yang terluka gara-gara aku."

"Itu bukan salahmu, Cagalli," Kira membantah dengan kata-kata yang sama dengan yang ingin kukatakan.

"Setelah ini kita bisa lapor polisi dulu supaya pelakunya bisa ditindak. Jadi kau tidak perlu khawatir," tante Via mencoba menenangkan Cagalli. "Ibu juga setuju dengan Kira, mungkin sebaiknya kau belajar di rumah, Ibu akan carikan guru privat saja. Yang penting kau selamat."

Aku setuju dengan tante Via, tapi sangsi dengan ucapannya untuk melapor pada polisi. Aku menunduk, ragu untuk berkata bahwa keinginan tante Via mungkin tidak bisa dilakukan.

"Soal itu…" tiba-tiba ayah ikut bicara, membuat perhatian semua orang tertuju padanya. "Anda memang bisa melaporkannya pada polisi, tapi kemungkinan polisi tidak akan bisa menindaknya."

"Eh, kenapa?" Kira berseru. "Cagalli sudah dua kali diikuti seperti itu, mana bisa dibiarkan? Kalau dia beralih mencari korban baru bagaimana?"

"Dia memang menguntit, tapi dia tidak pernah menyerang Cagalli secara langsung. Polisi tidak akan bisa melakukan apa-apa kalau dia tidak melakukan tindakan atau tidak ada kerugian langsung," aku menjelaskan pada Kira.

"Tapi kan…" Kira mencoba membantah.

"Apa yang dibilang Athrun benar," Ayah mengangguk mengiyakan kata-kataku. "Kita juga tidak tahu identitasnya. Selain itu, tidak ada bukti dia melakukan tindakan selain penguntitan. Kalaupun mengajukan laporan, yang bisa kita dapatkan dari polisi hanya meningkatkan keamanan di lingkungan sana. Lalu kalau mereka menemukan orang tersebut, polisi hanya bisa memberi peringatan supaya tidak melakukan hal itu lagi. Dia baru bisa ditangkap kalau kita meminta perintah perlindungan terhadap Cagalli dari orang itu, lalu dia melanggarnya." Tentu saja ayah lebih paham detail hukum yang berlaku untuk kasus Cagalli. Aku hanya tahu saja karena pernah membaca, dan jujur aku berharap apa yang aku ketahui itu kurang tepat dan masih ada pasal lain yang bisa menjerat orang itu.

"Tapi… kalau begitu Cagalli…" tante Via yang sedari tadi mendengarkan penjelasan ayah sambil memperhatikannya, beralih pada Cagalli lagi.

"Aku tidak apa-apa kok pergi ke sana lagi, kalau memang orangnya bisa ter—"

"Cagalli!"

"Jangan bicara sembarangan! Mana bisa ibu mengembalikanmu ke tempat itu, sementara kami tahu ada yang menunggumu di sana?" tante Via menaikkan nada suaranya bersamaan dengan Kira.

"Tapi kan—"

"Tidak bisa! Ibu tidak akan membiarkanmu kembali ke sana!"

"Tapi kalau begitu nanti—"

"Cagalli," aku menepuk bahunya begitu tante Via bersiap untuk menyanggahnya lagi. "Untuk sementara, sebaiknya kau ikuti ibumu dan berhenti dari sana. Kita buat laporan pada polisi dan minta mereka membawa surat perintah resmi untuk mengecek rekaman cctv yang ada di dalam minimarket tadi; pria itu pasti setidaknya tertangkap di salah satu kameranya. Dari sana, kita bisa meminta polisi meningkatkan personil patroli di daerah tempat lesmu. Kalau mencarimu, minggu depan pasti dia datang lagi, jadi polisi bisa meminta keterangan darinya dan kita bisa mengajukan perintah perlindungan. Kau tidak perlu pergi ke sana lagi dan membahayakan dirimu sendiri."

"Ada tempat dia mungkin saja tertangkap kamera?" Ayah tiba-tiba bertanya.

Aku mengangguk. "Aku kebetulan bertemu Cagalli ketika dia masuk ke minimarket, dan berpapasan dengannya di dalam. Dia pasti tertangkap di salah satu kamera mereka."

"Kamu membuat keputusan yang bagus dengan masuk ke sana ya," ayah sekarang melihat ke arah Cagalli, sudut bibirnya terangkat sedikit. "Nyonya Hibiki, kalau anda mau membuat laporan, akan saya bantu. Saya bisa mengusahakan untuk memastikan polisi bergerak tepat di hari di mana pria itu beraksi supaya kita tidak kehilangan dia sebelum sadar Cagalli tidak pergi ke sana lagi."

"Terima kasih banyak, Tuan Zala," tante Via membungkuk dalam-dalam. "Maaf merepotkan, tapi saya minta bantuannya. Saya tidak bisa membiarkan semua ini begitu saja. Cagalli juga pasti tidak akan tenang kalau pelakunya belum ditangani. Kalaupun tidak bisa ditangkap, setidaknya jangan sampai ada korban lagi."

Ayah dan tante Via membicarakan detail tentang pembuatan laporan yang harus dilakukan besok, sementara aku mendengarkan dengan seksama. Tapi di tengah-tengah, aku merasakan pandangan Kira ke arahku. Ketika aku membalas tatapannya dan menelengkan kepalaku bingung, ia malah menggelengkan kepalanya dan ganti melihat ke arah Cagalli.

Begitu pembicaraannya selesai, keluarga Hibiki pun pamit untuk pulang. Tadinya aku ingin menawarkan untuk ikut pergi mengantar karena khawatir penguntit itu mungkin mengikuti kami tadi dan menunggu Cagalli pulang untuk menyergapnya. Tapi begitu mendengar mereka datang dengan mobil, aku mengurungkan niatku karena aku jadi tidak punya alasan kuat untuk ikut.

Sebelum pulang, sekali lagi aku menarik lengan Cagalli dan mengingatkan. "Cagalli,meskipun di tempat berbeda, kalau kau merasakan ada yang mengikutimu, lakukan seperti tadi ya. Pergi ke tempat ramai, dan kali berikutnya segera hubungi siapapun yang bisa kau percaya untuk menjemput supaya kau tidak pulang sendiri, ya."

"Aku mengerti kok."

"Gadis pintar," aku ingin menepuk kepalanya, tapi kuurungkan karena banyak yang melihat. Cagalli juga pasti tidak akan menyukainya. "Hati-hati ya."

"Kalau begitu kami permisi ya. Terima kasih banyak atas bantuannya," tante Via memberi salam, diikuti Kira dan Cagalli, sebelum akhirnya mereka semua keluar dari rumah ini menuju mobil untuk pulang. Aku mengikuti mereka sampai teras depan, terus memperhatikan sampai mereka tidak terlihat lagi, karena mobilnya diparkir beberapa meter dari rumah.

"Athrun," aku mendengar ibu memanggilku begitu aku kembali masuk ke rumah. Aku perhatikan ayah juga masih di sini.

"Ibu, maaf karena tiba-tiba mengajak orang ke rumah larut malam begini," saat waktunya istirahat aku malah membuat keluargaku waspada pada hal lain yang sebenarnya bukan urusan mereka, bahkan jadi melibatkan ayah.

"Dia Kira dan Cagalli yang sering kau ceritakan itu kan? Sayang sekali ya kami harus bertemu karena sesuatu yang kurang menyenangkan seperti ini. Kapan-kapan kau ajaklah mereka ke rumah. Biasanya kau yang selalu mengunjungi mereka kan?"

"Iya, kapan-kapan akan kuajak Kira kemari," sebenarnya aku lebih suka pergi ke rumah Kira dibandingkan mengajak Kira ke sini; sebab kalau begitu aku jadi tidak bisa menemui Cagalli.

Seolah sedang membaca pikiranku, ibu tiba-tiba menambahkan, "Cagalli juga ya…"

"Eh?" Aku tersentak, kenapa ibu tiba-tiba membicarakan untuk mengajak Cagalli ke rumah?

"Sepertinya kau dekat dengannya, beberapa waktu lalu kau sampai menemaninya pergi ke suatu tempat kan?" ibu bertanya sambil tersenyum.

"Ah, yang waktu itu. Aku cuma sekedar menemani karena Kira tidak bisa pergi saja."

"Tadi juga, kau sepertinya khawatir sekali padanya. Jadi ibu kira kalian bertiga memang dekat."

"Kalau dengan Cagalli, itu karena aku sering bertemu dengannya kalau main ke rumah Kira, jadi lama-lama aku menganggapnya seperti adikku sendiri." Entah kenapa aku merasa perlu membela diri mendengar ucapan ibu. Apa jangan-jangan tadi aku bersikap tidak wajar di depan Cagalli dan ibu menyadarinya? Aku terlalu khawatir pada Cagalli sampai-sampai tidak memperhatikan sekitarku dan sikapku.

"Begitu ya. Oh iya, Cagalli sekarang kelas berapa? Kelas 6?"

"Iya. Makanya dia ikut bimbel untuk persiapan ujian masuk SMP."

"Ooh. Kalau begitu mulai sekarang mungkin dia harus belajar sendiri atau mencari tutor ya. Tapi ujian masuk sudah semakin dekat kan? Pasti sulit kalau mencari sekarang-sekarang."

"Benar juga…" Aku tidak terpikir sampai ke sana, tapi…

"Hari ini cukup sampai di sini. Kalian semua istirahatlah," ayah berkata pada kami, lalu mulai mendahului kami pergi ke ruangannya.

"Benar juga. Besok ayahmu harus pergi membantu Nyonya Hibiki membuat laporan pada polisi. Istirahatlah, Athrun. Kapan-kapan ceritakan tentang mereka lagi ya," ibu tersenyum lagi padaku dan langsung mengikuti ayah.

Aku tidak tahu pastinya, tapi entah kenapa sepertinya ibu memiliki ketertarikan sendiri pada Cagalli sekarang.


Hmm, maaf kalau lanjutannya di luar ekspektasi. Sebenarnya plan awalnya bukan ini sih, tapi kalau dimasukin juga, kasian Cagalli-nya. mungkin nanti Shinku tambahin buat semacam omake kalau ada yang minta baca chapter sebelum dirombak.

Fic ini juga ga akan panjang-panjang, di sini kurang lebih sudah lewat setengah dari keseluruhan, jadi mungkin sisa beberapa chapter lagi aja.

Warning, chapter depan ada yang mau nyoba ngerebut Athrun ;)

Cheers~