Disclaimer: Sunrise
Maaf telat. Karena sudah mau dekat-dekat ke endingnya jadi agak bingung mau dibawa ke mana.
Enjoy~
11.
Do You?
.
"Ah, Cagalli, yang di sini masih salah." Aku menunjuk ke soal nomor 6 di buku kumpulan soalnya.
"Ah, iya. Aku lupa… ini harusnya pakai rumus yang tadi kakak ajarkan kan?"
"Betul. Bisa coba kau kerjakan ulang?" Aku menyerahkan buku soalnya lagi pada Cagalli.
"Iya," Cagalli kembali fokus pada soal matematika yang kuajarkan tadi.
Setelah kejadian malam itu, keluarga Hibiki memutuskan untuk mengeluarkan Cagalli dari tempat les bimbelnya dan memberitahukan pada pengurus sekolah kalau ada orang aneh yang menguntit Cagalli. Mereka meminta pengurus tempat les itu untuk bekerja sama dengan pos polisi terdekat supaya meningkatkan patroli di daerah itu, terutama di jam bimbel selesai.
Aku sebenarnya agak ragu apakah pelakunya bisa cepat tertangkap atau tidak, tapi dengan ikutnya ayah ketika pelaporan kasus, mereka langsung bergerak hari itu juga. Aku yang ikut bersama mereka, menunjukkan minimarket tempat aku menemukan Cagalli malam itu, dan benar saja, pria penguntit itu tertangkap dalam kamera. Seorang pria paruh baya yang terlihat agak sedikit lusuh.
Dan di luar dugaan, dengan mudah polisi menemukannya tepat sesuai prediksi; beberapa waktu sebelum jam bubaran tempat les Cagalli, dia sudah datang menunggu di sana—aku tahu karena aku diam-diam ikut ke sana. Begitu ketahuan, awalnya ia membantah dan berniat kabur, tapi untungnya personil yang dikerahkan untuk ini tidak hanya seorang. Begitu aku melihat pelakunya dibawa dengan mobil polisi, baru aku meninggalkan tempat itu. Setidaknya aku tahu prosedur yang dibutuhkan sudah berjalan. Hasilnya pasti akan dilaporkan lagi pada keluarga Hibiki, jadi aku tinggal menunggu.
Beberapa hari setelah peringkusan itu, ketika kelas sudah selesai dan orang-orang sudah mulai pulang kecuali bagian piket—termasuk aku dan Kira, aku bertanya tentang kelanjutan kasusnya, tanpa memberitahunya bahwa aku melihat pelakunya langsung. Kira menceritakan kalau pelakunya sebenarnya mengikuti Cagalli hanya karena dia mirip anaknya yang ikut dengan istrinya setelah perceraian mereka, dan ia tidak mendapat hak temu sama sekali. Dia kebetulan melihat sosok Cagalli di area sana, dan langsung meletakkan bayangan Cagalli sebagai pengganti anaknya dalam pikirannya; dia memang baru mulai menguntit Cagalli belakangan ini. Setelah mendapat pengarahan dari polisi, dia berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Aku ingat merasa benar-benar lega mendengarnya; setidaknya dia tidak punya alasan menguntit orang lain jadi Cagalli bisa tenang karena tidak akan ada korban selanjutnya. Polisi juga berencana untuk tetap patroli di sana beberapa minggu kedepan untuk memastikan pria itu menepati janjinya. Kalau tidak, ada kemungkinan dia ditahan lebih lama dibandingkan sebelumnya.
"Athrun, bagaimana kau bisa bersikap seperti itu?" Kira bertanya padaku setelah ceritanya selesai—sambil menyapu sisi lantai yang jadi bagiannya. "Kau begitu tenang dan bisa menganalisis situasi dengan cepat. Kau bisa menjelaskan semuanya dengan jelas dan membuat Cagalli menurut padamu. Cagalli juga bilang kau bahkan langsung sadar waktu melihatnya memperhatikan Cagalli dari jauh. Kalau aku yang ditemui Cagalli, mungkin aku tidak akan sadar, seperti waktu Cagalli memaksa menungguku pulang dengan Flay waktu itu. Aku kira Cagalli cuma sedang ingin bermanja atau memang ingin menggangu kami—padahal aku sendiri tahu Cagalli bukan anak yang seperti itu. Makanya… aku merasa bersalah, kesal pada diriku sendiri… merasa tidak becus jadi seorang kakak…"
Tentu saja aku bisa seperti itu karena aku bukan sekedar anak SMA seperti Kira yang sekarang. Usiaku yang sebenarnya sudah jauh lebih tua dan matang dibandingkan Kira sekarang—yang tidak memiliki ingatan masa lalu seperti aku. Mentalku masih sama seperti dulu, seperti seorang tentara yang harus selalu tenang tapi juga selalu siap dan waspada menghadapi kondisi apapun. Apalagi aku sering sekali menangani Cagalli waktu masih menjadi pengawal pribadinya. Aku hanya mencoba menghadapinya seperti waktu itu saja.
Dan tentu saja aku tidak mungkin cerita semua itu pada Kira.
"Aku bisa begitu karena bukan keluarganya, jadi aku tidak terlalu terbawa emosi. Kau selalu bersama Cagalli sejak dulu, jadi wajar saja kalau kau panik dan khawatir menghadapi situasi di mana Cagalli mungkin dalam bahaya. Makanya kau tidak bisa berpikir jernih waktu itu kan," aku mencoba meyakinkan Kira bahwa dia tidak salah apa-apa.
"Bukan cuma kau saja," Kira menyangkalku, masih terlihat murung, "Cagalli bahkan sepertinya langsung tenang setelah pulang ke rumah. Aku kira dia bakal takut pada orang itu, atau trauma. Tahu tidak dia bilang apa? Cagalli bukannya lari karena takut pada penguntitnya, dia lari karena dia tahu tidak akan bisa melawan, karena dia masih kecil sementara penguntitnya adalah orang dewasa. Cagalli bilang kalau badannya lebih besar, dia pasti akan langsung melawan di tempat," Kira sedikit terkekeh, sementara aku menghela nafas mengkal, tapi ikut tersenyum. Beberapa sifat Cagalli sepertinya tidak berubah sama sekali. Aku yakin Cagalli yang dulu juga pasti akan melakukan itu di situasi yang sama, selalu berjuang sendiri, berusaha tidak merepotkan orang lain di sekitarnya. Tapi aku merasa lega karena waktu itu dia langsung memintaku menolongnya. Aku bersyukur waktu itu aku ada di sana, bisa melindunginya, dan aku lega dia baik-baik saja sekarang.
Lagi, Kira melanjutkan dengan nada yang sedikit sendu, "Entah kenapa rasanya Cagalli sudah bukan adik kecilku yang dulu lagi. Dia pelan-pelan semakin dewasa, sebentar lagi dia masuk SMP, dan setelah itu dia pasti bertemu laki-laki yang akan menyita perhatiannya dan mengambilnya dari kami."
"Kau juga sudah bukan milik Cagalli satu-satunya karena sekarang kau lebih sering bersama Flay," aku menyeloroh, dalam hati mencoba meredam rasa kesal karena diingatkan lagi oleh Kira kalau mungkin saja ada orang yang akan merebut Cagalli setelah dia masuk SMP nanti.
"Haha, benar juga sih," Kira mengiyakan.
"Oh iya, bagaimana dengan Cagalli? Ujiannya kan tinggal sebulan lagi. Dia tidak akan pergi ke tempat les itu lagi kan?" Aku berganti dari sapu ke pel, begitu juga dengan Kira.
"Iya. Cagalli bilang dia tidak perlu ke sana lagi kalau memang pelakunya sudah ditindak. Dia juga bersikeras untuk belajar di rumah saja. Sekarang dia lebih sering belajar dengan latihan soal sendiri."
Aku berdalih pada Kira ingin menemui Cagalli untuk memastikan dia benar-benar baik-baik saja, berkata bahwa aku jadi ikut kepikiran karena kasus itu. Jadilah setelah tugas piket kami selesai, aku ikut pulang bersama Kira ke rumahnya. Di sana, aku bertemu dengan Cagalli dan tante Via—yang sepertinya sedikit terguncang sampai meminta shift kerjanya dikurangi supaya bisa pulang cepat dan menjemput Cagalli pulang dari sekolah.
Karena tante Via ada di sana, dan kebetulan tante sedang memperhatikan Cagalli yang sedang belajar, tanpa pikir panjang aku langsung menawarkan diri untuk membantu Cagalli belajar. Hanya membantu sedikit saja, tidak sampai seperti seorang tutor, seperti membimbing Cagalli mengerjakan latihan soal seminggu sekali. Awalnya tante Via keberatan karena merasa sudah terlalu sering merepotkanku; mulai dari mengantar Cagalli, menemaninya pulang waktu kasus penguntitan itu terjadi, dan juga karena keluarganya meminta tolong pada ayahku untuk laporan kasus itu. Tapi aku bersikeras kalau aku benar-benar tulus ingin membantu karena memang sudah dekat dengan Kira dan Cagalli, dan bahwa aku sudah menganggap Cagalli sebagai adikku sendiri. Makanya aku menolak tegas waktu tante Via berkata akan membayarku layaknya seorang tutor. Namun akhirnya aku diizinkan untuk membantunya—meskipun waktunya tidak lama lagi sampai tanggal ujian masuk.
Namun, di luar dugaan, Cagalli sebenarnya tidak begitu memerlukan tutor. Kemampuan Cagalli yangg sekarang sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk bisa lulus ujian masuk SMP. Begitu aku tanyakan, sambil malu-malu Cagalli menjelaskan kalau ia tidak sengaja ketiduran ketika ujian try out awal, sehingga salah satu nilai ujiannya di bawah rata-rata. Setelah melihat laporan nilainya itu, orang tua Cagalli berkeras supaya ia ikut pelajaran tambahan untuk menghadapi ujian masuk SMP-nya, sehingga ia diikutkan ke bimbel itu.
Jadi sekarang aku hanya membantu Cagalli dengan membantunya mengerjakan simulasi soal ujian. Dengan sisa waktu yang ada, paling aku hanya akan menemaninya selama empat kali pertemuan. Itu juga seharusnya sudah lebih dari cukup untuk Cagalli yang sekarang. Aku hanya perlu mengajarkan beberapa soal yang sulit-sulit saja, meski tanpa itu pun Cagalli seharusnya tetap bisa lulus.
Dan kelebihannya, sekarang aku punya waktu bersama Cagalli lebih lama dari biasanya.
"Kalau kau lulus, apa ada sesuatu yang kau mau?" aku bertanya begitu sesi kami hari ini selesai.
"Tidak ada! Kakak tidak usah menyiapkan sesuatu untukku, aku sudah sering merepotkan!" Cagalli langsung berseru di tengah-tengah tangannya yang sedang membereskan buku-buku pelajaran.
"Aku melakukan semuanya karena ingin, dan bagiku tidak merepotkan sama sekali, kok." Aku ingin melakukan sesuatu yang dulu tidak bisa kulakukan. Menghabiskan waktu seperti ini bersama Cagalli juga membuatku senang, tapi dulu aku tidak bisa memberikan apapun padanya karena Cagalli bisa memiliki semuanya dengan posisinya waktu itu. Hanya cincin bermata merah itu satu-satunya hadiah yang pernah kuberikan padanya.
Meskipun usiaku sudah matang, tapi aku masih tidak begitu paham bagaimana cara memilih hadiah untuk perempuan. Jadi cara satu-satunya hanya dengan bertanya pada orangnya. Tapi tentu saja pertanyaan sesederhana ingin hadiah apa tidak dijawab dengan sederhana oleh Cagalli.
"Atau, bagaimana kalau kau lulus, kakak akan mengajakmu ke tempat yang kau inginkan? Apa ada tempat yang ingin Cagalli kunjungi?" aku masih belum menyerah. Dan melihat Cagalli memikirkan usulku, aku bersorak kecil dalam hati. "Tenang, kakak tidak akan lupa. Pikirkan tempat yang ingin kau datangi, lalu ketika kau lulus kakak akan tanya lagi."
"Benar tidak apa-apa?" Cagalli bertanya ragu-ragu.
Apa sudah ada tempat yang dipikirkannya ya? Matanya seperti sedikit berharap padaku. Mungkin dia sangat ingin pergi ke sana.
"Asal tempatnya tidak begitu jauh tidak apa-apa kok. Tapi kalau kau mau ke luar negeri, kau harus tunggu kakak kerja dulu," aku tertawa kecil, dan berubah jadi terbahak sewaktu Cagalli memukulku ringan dengan boneka kepitingnya.
"Mana mungkin aku minta hal seperti itu!"
"Kalau kau memang mau, akan kakak kabulkan kok," aku tersenyum jenaka, tapi aku benar-benar serius dalam hati. Kalau ada hal yang Cagalli inginkan, kalau bisa aku ingin jadi orang yang mengabulkan semua itu untuknya di kehidupan kali ini.
"Tidak usah saja, pokoknya aku tidak mau merepotkan kakak lebih dari ini!" Cagalli langsung kembali membereskan buku-bukunya. "Hari ini terima kasih banyak, ya kak."
"Sama-sama. Minggu depan hari terakhir kita belajar. Nanti kita review semuanya supaya kau benar-benar siap ya."
"Oke. Kalau begitu sampai minggu depan lagi ya kak."
Sayangnya, minggu depan yang dijanjikan itu harus batal.
Hari ini seharusnya hari terakhir aku datang menemui Cagalli untuk membantunya belajar, tapi waktu istirahat siang Kira tiba-tiba memberitahuku kalau Cagalli bilang dia ada perlu mendadak dengan temannya, dan bertanya apakah belajarnya hari ini bisa dibatalkan.
Padahal sesi belajar kami adalah sesuatu yang aku nantikan, tapi kalau memang Cagalli tidak bisa apa boleh buat. Aku berterima kasih pada Kira dan memintanya menyampaikan kalau aku tidak masalah, dan apa Cagalli mau menggantinya di lain hari. Tapi Kira malah berkata tidak apa-apa, dia yang akan membantu Cagalli belajar sampai hari ujian. Kira berkata kalau dia juga ingin membantu Cagalli sebisanya. Kira membiarkanku membantu Cagalli karena tahu aku selalu dapat nilai tinggi ketika ulangan dibandingkan dirinya dan berpikir aku lebih baik untuk membantu Cagalli belajar. Tapi melihat Kira yang ingin menghabiskan waktu dengan adiknya sendiri, mau tidak mau aku harus mundur.
Sementara Kira bilang mau menemui Flay sebentar karena dipanggil olehnya sebelum pulang, jadilah aku duduk termenung di kursiku setelah pelajaran hari ini selesai. Aku sedikit bersemangat pagi ini karena akan bertemu Cagalli lagi. Tapi karena sesi kami mendadak batal, aku jadi merasa tidak ingin langsung pulang ke rumah.
"Athrun."
Tiba-tiba aku mendengar namaku dipanggil oleh suara yang tidak biasa kudengar. Begitu aku berbalik, aku melihat Flay berdiri sambil tersenyum ke arahku.
Sebentar, Flay mencari aku, bukan Kira? Eh, tapi bukannya Kira sudah pergi menemuinya lebih dulu tadi? "Ada apa, Flay?" Aku bertanya, mengedipkan mataku, sedikit bingung.
"Kau tidak sedang buru-buru pulang kan?"
"Tidak sih… Kenapa?"
"Bisa ikut aku sebentar tidak?" Flay melambaikan ujung jari-jarinya, menandakan untuk mengikutinya, masih tersenyum, tapi seperti menyembunyikan sesuatu.
"Ada apa?" Aku yang bingung bangun dari kursiku, tapi masih ragu-ragu untuk pergi.
"Ada yang mau bicara denganmu. Jadi tolong ikut sebentar ya." Kenapa orangnya tidak datang sendiri menemuiku kalau begitu?
Meski sedikit ragu, aku ikut dengan Flay ke tempat yang diinginkannya, yang ternyata adalah kelasnya sendiri, yang berada selang satu kelas dengan kelasku dan Kira. Begitu masuk ke dalam, aku melihat Kira sedang berdiri di dekat jendela bersama seseorang.
Orang itu kan…
"Kira, ayo kita keluar."
"Eh?" Mereka tidak ikut? Aku di sini berdua saja dengan dia?
"Kami pergi keluar dulu ya Athrun," Kira menghampiri pacarnya dan Flay langsung menggandeng tangan Kira, keluar dari ruangan kelas dan menutup pintunya. Jadilah hanya ada dua orang di dalam kelas, aku dan gadis yang berdiri di tepi jendela.
Meyrin Hawke.
"Maaf, karena tiba-tiba memintamu ke sini," dia menundukkan kepalanya beberapa kali padaku, sedikit terbata-bata. "Aku dengar dari Kira katanya kau masih ada di kelas jadi… aku … itu…"
Dari Kira? Apa karena itu dia tadi ada di sini? Berarti mereka bertiga—Kira, Flay dan Meyrin—sedang mengobrol bersama sebelum aku datang? Aku kira dia hanya mau bertemu Flay.
"Oh, ada perlu apakah?" aku bertanya, bingung sendiri melihat Meyrin yang tergagap di depanku. Setelah dekat dengan Kira dan sering bersamanya, otomatis bukan hanya sekali dua kali aku ikut bertemu dengan Flay. Kami tidak bisa dibilang sangat dekat, tapi Flay dan Kira sudah seperti satu paket. Kadang-kadang Kira (dengan memaksa) mengajakku jalan-jalan sepulang sekolah bersamanya dan Flay, atau bahkan ditambah juga dengan Miriallia dan Tolle. Lalu karena tidak enak membiarkanku sendiri, Flay sering mengajak teman sekelasnya, Meyrin.
Sejak awal, begitu melihatnya aku sudah berniat untuk menjaga jarak karena kejadian di kehidupanku sebelumnya. Namun, memikirkan sikap Flay selama kami berempat bersama, dan juga apa yang dilakukannya hari ini—dia yang tadi memanggil Kira, dan dia juga yang tadi memanggilku, aku yakin Flay sengaja melakukan ini—aku teringat sesuatu yang dulu dilakukan oleh Kira dan Lacus beberapa tahun setelah kematian Cagalli.
Aku menunduk, tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi lagi—tapi mungkin saja apa yang kupikirkan ini cuma hipotesa salah yang kubuat dari pengalaman sebelumnya. Dan aku sangat berharap aku memang salah.
"Anu… sebenarnya… itu…" Meyrin berkutat dengan jarinya, sesekali melirik ke arahku, namun segera mengalihkan pandangannya ke arah lain selain ke arahku. "Kalau tidak keberatan, apa kau mau menemaniku pergi ke kota hari Sabtu ini?"
Aku menahan desahan dalam hati, sepertinya dugaanku benar.
"I… itu… maksudku, kalau boleh, mau tidak pergi untuk makan siang bersamaku? Atau sekedar jalan-jalan saja juga tidak apa-apa." Kata-kata Meyrin sedikit berjubel, mungkin karena ia gugup, tapi kurang lebih aku bisa menangkap isinya.
"Dia pasti suka padamu."
Aku teringat kata-kata Cagalli di kehidupan sebelumnya, ketika aku berkata kalau aku tidak mengerti mengapa Meyrin mau membantuku sampai mengorbankan dirinya supaya aku bisa kabur dari Zaft.
Waktu itu aku tidak bisa menjawab apapun karena aku sendiri malah semakin bingung dengan kata-kata Cagalli. Bagaimana Meyrin di saat itu bisa menyukaiku, yang hampir tidak pernah berbicara dengannya. Dan sekarang, sepertinya hal yang sama terulang lagi.
"Maaf, hari Sabtu ini aku… ada urusan lain…" Aku membuat alasan sekenanya—sebenarnya aku tidak ada acara apapun akhir minggu ini. Aku selalu sengaja menghindarinya, bahkan ketika Flay maupun Kira mencoba mendekatkan kami. Karena aku tidak mau hal seperti ini terjadi. Aku tidak mau hal seperti di kehidupanku yang sebelumnya terjadi lagi.
Beberapa tahun setelah kematian Cagalli, Meyrin yang memang sebelumnya selalu menemaniku selama aku berada di Zaft, mendekatiku dengan niat khusus, bahwa kalau bisa ia ingin menjadi lebih dari sekedar teman. Bahwa meskipun ia tahu ia tidak bisa menggantikan Cagalli, setidaknya ia ingin mencoba membuatku tidak kesepian lagi.
Pikiranku saat itu berkata bahwa tidak ada salahnya menerima Meyrin di hidupku. Dia paham seberapa besar artinya Cagalli bagiku, tahu ia tidak bisa menggantikannya, dan bersedia menerima diriku yang seperti itu. Tapi hatiku berkeras tidak bisa menerima. Meskipun hanya sebagai partner hidup seperti itu, aku tidak bisa menerima orang lain. Tidak ada yang bisa menggantikan gadis yang sudah mengisi berbagai sudut hidupku dalam waktu singkat, dan mempengaruhi hidupku sebegitu besarnya. Dan kematiannya yang tiba-tiba membuatku dipenuhi rasa penyesalan.
Dan lagi, justru kalau aku menerimanya, Meyrin-lah yang paling kasihan, karena harus hidup bersama dengan orang yang tidak mencintainya seumur hidup. Jadi di saat itu pun, aku menolak tawaran Meyrin, dengan mengatakan bahwa ia pasti bisa menemukan orang yang bisa mencintainya dan hanya mencintainya, tanpa terbagi. Dan sayangnya orang itu bukan aku.
Di saat sekarang pun, aku yakin akan lebih baik untuk melakukan hal yang sama.
"Jadi, maaf aku tidak bisa pergi denganmu di hari itu."
"Kalau begitu, mungkin lain kali…" Meyrin masih belum menyerah.
Aku bukannya membencinya, tapi aku juga tidak mau memberikannya harapan sama sekali. Lunamaria yang dulu selalu memperhatikan kami dan begitu menyayangi adiknya itu, setelah aku menolak Meyrin, datang melabrakku, berkata kalau aku memang tidak berniat menerima Meyrin, setidaknya jangan memberikan harapan kosong padanya. Aku yang dulu hanya sekedar memperlakukannya seperti biasa, langsung diceramahi oleh Lunamaria, yang berkeras bahwa kebaikanku kala itu adalah sikap yang bisa membuat orang salah paham. "Kalau begitu kita ajak Flay dan Kira juga ya."
"Maksudku tanpa…" Mata kami bertemu, dan aku bisa merasakan kalau Meyrin menangkap maksudku.
"Maaf, kalau cuma berdua saja, agak…" Aku tidak menyelesaikan kalimatku, yakin dia tahu apa maksudku. Dan Meyrin pun tidak mengatakan apapun selama beberapa saat.
Di depan Meyrin yang sekarang, yang begitu muda dan lugu, aku yang sudah berusia jauh diatasnya, merasa tidak tega membiarkannya menumpangkan harapan padaku, bahwa suatu saat aku akan melihatnya. Apalagi dengan adanya Cagalli, yang sudah kucari sejak aku memiliki kesadaran di kehidupanku yang kedua ini. Aku memang belum yakin Cagalli mau menerimaku lagi, tapi yang pasti aku tidak akan melepaskannya begitu saja dengan mudah.
Aku memperhatikan air mukanya berubah menjadi kepahaman dan… mungkin sedikit rasa kecewa dan sedih? Lalu seolah mencoba menyembunyikan semua itu, ia menunduk.
Setelah beberapa waktu, barulah ia membuka mulutnya lagi, masih tidak menatap ke arahku. "Maaf kalau aku terlalu ikut campur… Apakah ada seseorang yang Athrun sukai?"
"Iya," aku langsung menjawab dengan suara pelan tapi mantap.
"Apa dia ada di sekolah ini?"
"Tidak ada."
"Begitu ya…" Ada jeda darinya sebelum melanjutkan. "Padahal aku dengar tidak ada…" Suaranya begitu pelan sampai aku mengira aku cuma salah dengar. Kalau aku masih seorang Coordinator, mungkin aku bisa yakin dia mengucapkan itu atau tidak.
Kemudian, Meyrin mengangkat wajahnya, ada senyum lebar menghiasi wajahnya. "Baiklah. Terima kasih ya, sudah sengaja mengabulkan keinginanku untuk bertemu di sini. Maaf aku mengganggu waktumu," Meyrin membungkuk sekali lagi, dan ketika ia menatapku lagi, senyum tadi masih ada di wajahnya.
"Tidak apa-apa. Kalau begitu aku pulang duluan ya. Sampai nanti," aku melambai ringan ke arahnya dan berbalik meninggalkan ruangan kelas tanpa mengatakan apapun lagi.
Aku ingin bertemu Cagalli.
Setelah pertemuan langsung dengan Meyrin tadi, aku jadi teringat beberapa puluh tahun terakhir sisa hidupku setelah Cagalli meninggalkan dunia itu. Kelebatan ingatan yang sebenarnya tidak ingin kuingat lagi datang begitu saja. Setahun pertama setelah kematian Cagalli, aku menenggelamkan diri dalam pekerjaan sampai hampir merusak tubuhku sendiri, yang seharusnya memiliki ketahanan di atas rata-rata bahkan untuk ukuran seorang Coordinator. Aku tidak punya jalan lain selain itu untuk lari dari rasa sesal dan sedih yang selalu melekat di kepalaku. Kenapa Cagalli harus pergi secara mendadak secepat itu? Kenapa dia harus pergi tanpa aku sempat mengatakan apapun padanya? Kenapa aku tidak bisa berada di sisinya ketika ia pergi? Kenapa kami berpisah dalam keadaan tanpa ada hubungan apapun di antara kami, sama-sama menjadi orang lain di akhir hidupnya?
Tahun berikutnya, Lacus yang memiliki wewenang paling tinggi di Plant menyuruhku untuk mengambil cuti panjang selama sebulan, menyuruhku untuk menjauhi pekerjaan, untuk berdamai dengan Cagalli dan diriku sendiri. Selama sebulan aku kembali ke Orb, mengunjungi makamnya hampir setiap hari, mengunjungi tempat-tempat yang dulu pernah kami datangi bersama, menghabiskan waktu dengan bawahan sekaligus teman/keluarganya dulu, Myrna, Kisaka, Erica, juga Kapten Ramius yang tidak meninggalkan Kesatuan Militer Orb sampai usia pensiunnya. Meski masih terasa berat, akhirnya aku bisa merelakan kepergiannya.
Sepulangnya aku kembali ke Plant, Lacus, Kira dan yang lainnya mengakui kalau aku terlihat lebih baik. Namun beberapa tahun kemudian, melihat aku yang tetap fokus bekerja dan tidak meneruskan hidupku seperti seharusnya, mereka mulai sedikit ikut campur. Setelah aku menolak Meyrin, Kira dan yang lainnya mencoba mengenalkan beberapa orang padaku sampai aku menyuruh mereka berhenti.
Masa-masa itu terasa sangat jauh, sekarang setelah aku menemukan Cagalli lagi. Sisa hidupku yang hampir tidak bisa kuingat karena tidak ada kejadian yang membekas di ingatanku, sekarang jadi semakin kabur karena tertimpa keberadaannya yang seperti cahaya penolong bagiku.
Sekarang setelah menemukannya lagi, aku semakin yakin aku tidak bisa kembali ke kehidupan sebelumnya. Entah bagaimana caranya aku harus mengulang masa itu lagi kalau aku kehilangan Cagalli lagi di kehidupan sekarang.
Rasanya aku semakin mengerti—meskipun hanya sedikit—kenapa ayah berubah menjadi seperti itu setelah kehilangan ibu di kehidupan sebelumnya.
Aku menghentikan langkahku, baru tersadar di mana aku sekarang. Ini jalan menuju ke rumah Kira, dan begitu mengitari belokan di depanku, berjalan beberapa langkah lagi, dan aku akan sampai ke rumahnya. Tempat di mana Cagalli berada.
Tidak, belum tentu Cagalli ada di sana. Mungkin saja ia pergi keluar bersama temannya.
Tapi tetap saja, aku ingin memastikan.
Tanpa berpikir lagi, aku langsung mempercepat langkahku, maju ke arah belokan itu lalu—
"Uwaah!"
Mendengar suara itu, refleks aku mengerem langkahku, mencari asal suara tadi.
Di depanku, seorang anak laki-laki yang sepertinya seusia Cagalli, berdiri dengan satu tangan memegang sesuatu, dan tangan yang lain menekan dadanya, mungkin kaget karena hampir bertabrakan denganku. Aku memperhatikan perawakannya, dan menyadari seragam sekolah abu-abu yang dikenakannya, warna dan modelnya hampir sama seperti seragam Cagalli.
Jangan-jangan…
"Athrun… Zala…?" Aku terkesiap mendengar namaku dipanggil oleh anak laki-laki di depanku ini.
Seorang anak laki-laki berambut hitam dengan mata merah rubi.
Kira-kira Shinn mau bawa kabar apa di sini?
Kayanya cuma tinggal beberapa chapter lagi yah. Sisanya omake-omake yang mungkin akan dimasukin juga kalau lagi niat hehe
See you next time,
Cheers~
