Disclaimer: Sunrise
12.
Room with a view
.
Apa katanya?
Dari mana dia tahu namaku?
Kalau memang ini Shinn yang diceritakan Kira sebelumnya, memang mungkin saja dia tahu tentang aku dari Cagalli. Sebab akhir-akhir ini aku membantunya belajar untuk persiapan ujian. Tapi tidak mungkin dia langsung mengenalku begitu bertemu seperti ini. Apalagi seingatku Cagalli tidak memiliki fotoku sama sekali, yang berarti tidak mungkin dia bisa memperlihatkan wajahku pada Shinn.
Jadi seharusnya, ini benar-benar pertemuan pertama kami di kehidupan ini. Dan jika begitu, tidak mungkin dia langsung menyebutkan namaku, seolah-olah sudah mengetahui—
Tunggu.
Apakah jangan-jangan…
Sebelum sempat aku bereaksi pada panggilannya, ia tiba-tiba menarik nafas kaget, "Ah, maaf. Saya tidak hati-hati, permisi." Sambil membungkuk meminta maaf, anak laki-laki itu—Shinn, langsung berlari meninggalkanku. Dia pasti langsung mengira kalau aku tidak memiliki ingatan apapun seperti kebanyakan orang yang aku temui lagi di kehidupan sekarang. Makanya sikapnya berubah seolah tidak mengenalku lagi.
Tapi aku tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja.
"Lunamaria," aku berseru sebelum ia pergi jauh. Betul saja, dia langsung berhenti mendengar nama yang kusebutkan. Berarti benar, anak ini adalah Shinn Asuka, dan dia juga memiliki ingatan dari masa yang sama denganku. Hanya itu alasan baginya untuk berhenti mendengar nama itu, nama isterinya di kehidupan sebelumnya. "Kau masih ingat dia, Shinn?"
Perlahan dia berbalik ke arahku lagi, menatapku dengan mata serius yang terlihat tidak seperti anak usia 12 tahunan. "Kau sudah bertemu dengan Luna?" Ucapannya yang sekarang berbeda dengan saat meminta maaf tadi. Cara bicaranya sama persis dengan Shinn yang aku kenal sebelumnya.
Aku mengangguk. "Kami satu sekolah, dia kakak kelasku."
"Kakak kelas?" Shinn terlihat terkejut. "Berarti, usianya sekitar 17 tahun sekarang?"
"Seharusnya begitu," aku tersenyum sedih. Aku mengerti betul perasaannya, ketika menemukan orang yang disukainya kehidupan sebelumnya—sekarang usianya terpaut begitu jauh. Tapi situasi Shinn mungkin lebih sulit lagi, karena ialah yang lebih muda dari Lunamaria.
"Begitu ya…" ia menunduk, wajahnya terlihat kalut dengan berbagai perasaan yang campur aduk.
Sebelum Shinn sempat berkata sesuatu lagi, aku menyadari kalau Shinn bisa menebak usia Lunamaria, padahal aku tidak memberitahunya aku ada di kelas berapa. "Tunggu, bagaimana kau bisa tahu kalau aku sekarang kelas 1 SMA?"
"Hmm? Aah, Cagalli yang cerita," Shinn menjawab seolah itu hal yang seharusnya sudah sangat jelas. Tapi pikiranku malah teralihkan dengan Shinn yang menyebutkan nama Cagalli begitu akrabnya sekarang, padahal dulu dia selalu menyebutnya 'Athha' atau 'Representatif Athha'.
Sewaktu aku masih meresapi hal itu—dan merasa tidak begitu senang mendengarnya—tiba-tiba Shinn menyahut ke arahku, "Tunggu, jadi kau juga ingat semuanya di masa lalu?"
"Begitulah. Aku baru pertama kali bertemu dengan orang yang ingat tentang masa lalu seperti kau." Aku terdiam sebentar, kau juga katanya?
"Hmm? Jadi kau tidak tahu tentang Cagalli?" Shinn menatapku dan terlihat sedikit bingung.
"Eh?" Dadaku berdegup keras satu kali, lalu aku bisa merasakan ritme jantungku semakin cepat setelah mendengar kata-kata Shinn. "Apa… maksudmu? Cagalli…?" Apa jangan-jangan selama ini sebenarnya dugaanku benar….?
"Kau tidak tahu kalau dia juga tahu?"
Aku terdiam di tempatku begitu mendengar Shinn mengkonfirmasi dugaanku yang pernah kuredam sebelumnya. Jadi selama ini, sebenarnya dia ingat semuanya, dan juga—seharusnya—ingat padaku?
Aku hanya menggeleng pelan untuk menjawab pertanyaan Shinn, kepalaku masih mencoba meresapi kenyataan yang baru kudengar ini. Sebenarnya semua tanda-tandanya ada. Sejak boneka kepiting merah yang dilihat Cagalli waktu itu, aku sudah curiga tapi aku langsung melupakan teori itu, karena tepat setelah itu Cagalli merubah sikapnya padaku, membuatku lebih fokus mendekati Cagalli. Tapi perlahan kepingan-kepingan petunjuk muncul di kepalaku, Kira yang menyaksikan betapa tenangnya Cagalli setelah kasus penguntitan itu, Cagalli yang sebenarnya memiliki kemampuan akademis cukup tinggi sehingga ia sebenarnya tidak membutuhkan pelajaran tambahan, sikap Cagalli yang begitu mirip dengan dirinya yang dulu...
Tanpa mengindahkanku yang masih mencoba memproses semuanya, Shinn melanjutkan. "Ooh, tapi dia juga tidak tahu kalau kau tahu sih… Tunggu, berarti selama ini kalian saling menganggap satu sama lain sebagai orang asing?" Shinn terlihat seperti menahan diri untuk tidak menggelengkan kepalanya karena mengkal.
"Yah, memang terkadang aku merasa kalau dia ingat, tapi aku tidak berani menanyakan karena belum pernah bertemu dengan orang yang memiliki ingatan yang sama denganku." Aku teringat masa kecilku, ketika aku bertanya pada beberapa orang tentang kehidupan di masa sebelumnya dan apakah mereka juga ingat, dan tidak ada satupun yang paham maksudku. Mungkin sebenarnya aku hanya takut kecewa kalau seandainya aku berharap Cagalli ingat dan mendapat jawaban yang sama seperti mereka. "Apa dia sering bercerita tentang aku?"
"Yah, kadang-kadang sih. Tapi aku tidak akan cerita lebih jauh dari ini. Sisanya kau yang harus cari tahu sendiri." Shinn juga masih sama seperti dulu, cara bicaranya yang agak congkak bahkan padaku yang lebih tua. Tapi aku merasa lega mendengarnya. Aku merasa kalau kehidupan pertamaku itu bukan hanya khayalanku; semua itu nyata, dan masih ada orang yang mengingatnya sama sepertiku.
Dan juga Cagalli… Apa yang terjadi di antara kami bukan hanya khayalanku saja…
Aku mengangguk pada Shinn. "Terima kasih. Ini sudah lebih dari cukup. Aku akan memastikannya dengan Cagalli nanti." Cagalli akan mengikuti ujian masuk SMP minggu depan. Kalau aku cerita tentang semua ini sekarang, aku takut mengganggu konsentrasinya, bahkan meskipun ia memiliki kesadaran yang sama denganku. Aku tidak mau merusak kesempatan yang dimilikinya untuk menikmati kehidupannya yang sekarang, jadi aku akan menunggu sampai ujian selesai.
Lalu aku teringat dengan arah Shinn datang, yang berarti dialah yang ditemui Cagalli hari ini. "Oh, berarti kau baru saja dari rumah Cagalli?"
"Hm? Oh iya." Shinn mengangkat kotak yang ia bawa dengan sebelah tangannya. "Dia membantuku membuatkan hadiah untuk adikku, Mayu."
"Ah, kau bersama dengan adikmu lagi sekarang?" Aku pernah mendengarnya bercerita tentang adiknya, yang meninggal bersama kedua orang tuanya karena pertarungan aku dan Kira sebelum kami meninggalkan Orb menuju luar angkasa sekali lagi di perang pertama.
Wajah Shinn yang biasanya keras sekarang melembut. "Iya, adikku sekarang masuk TK, dan satu kelas dengan Stellar." Aku ingat nama itu, nama dari Extended yang menjadi salah satu penghuni laboratorium mengerikan yang ditemukan Minerva, yang entah kenapa begitu ia lindungi, begitu mempengaruhi hidup dan pandangannya ketika perang kedua dulu.
"Apa keduanya bahagia?"
"Mereka berdua sahabat dekat, dan setiap hari mereka selalu tersenyum. Stellar mengalami hal yang kurang menyenangkan sebelum pindah ke dekat rumahku, tapi sekarang dia sudah lebih baik dan lebih ceria. Dan yang terpenting sekarang dia bisa menjalani hidup yang normal seperti anak-anak lainnya." Wajahnya terlihat damai, hampir sama seperti kehidupannya setelah bersama dengan Lunamaria dulu.
"Syukurlah kalau begitu," mungkin bagi Shinn, inilah tujuannya terlahir di kehidupan ini, juga ingatannya dari kehidupan sebelumnya yang masih utuh.
Kalau begitu, apakah mungkin aku dan Cagalli memiliki ingatan ini supaya kami bisa bersatu kembali di kehidupan sekarang? Mungkin aku terlalu serakah memikirkan kemungkinan itu, tapi aku tidak bisa tidak mengharapkan hal itu.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Mayu pasti menungguku pulang. Hari ini hari ulang tahunnya."
Cagalli juga sangat tahu seperti apa Shinn yang kehilangan keluarganya. Aku mengerti kenapa dia mau membantu Shinn sampai membatalkan janjinya denganku. Dia tahu seberapa berharganya Mayu untuk Shinn, makanya ia juga ingin membantu membahagiakan mereka. Cagalli juga mungkin masih merasa bersalah atas kematian Mayu di kehidupan pertama kami. "Begitukah? Kalau begitu hati-hati di jalan ya."
"Aku bukan anak-anak!"
Aku terbahak mendengar jawaban Shinn, yang langsung lari meninggalkanku untuk pulang ke rumah.
Aku memang ingin bertemu Cagalli, tapi mungkin sekarang bukan waktu yang tepat. Aku akan menunggu sekitar seminggu kemudian, sampai hari pengumuman kelulusan ujian masuk. Sementara itu, mungkin aku harus bersiap sampai datang hari itu.
Mungkin kebohonganku pada Meyrin tadi soal urusanku hari Sabtu ini akan jadi kenyataan. Aku akan bertanya pada Nicol setelah sampai di rumah nanti apakah dia punya waktu untuk bertemu denganku akhir pekan ini.
"Athrun, kau tidak bilang padaku kalau sekarang kau sedang suka seseorang," Kira menyahut ke arahku keesokan harinya di sekolah pada jam istirahat siang. Wajahnya kelihatan tidak senang.
Aku mengerjap. Dari mana dia tahu tentang aku dan Cagalli? "Hah.? Dari mana…?"
"Ah… Itu… yang kemarin…" Kira tiba-tba mengalihkan pandangannya, terlihat seperti seorang anak yang ketahuan berbuat jahil.
Aah, tentu saja Meyrin yang merupakan temannya Flay akan cerita tentang apa yang terjadi kemarin di antara kami, dan Flay tentu akan cerita pada Kira, dan Kira pasti tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya langsung padaku.
"Aku kan sudah bilang tidak ada orang yang menarik perhatianku di sekolah. Kau kerja sama dengan Flay dan mencoba mendekatkanku dengan Meyrin ya?" Aku sebenarnya sedikit tidak senang dia seenaknya menjodohkanku dengan orang, tapi aku tahu dia tidak berniat buruk sama sekali.
"Yaah, sebenarnya sudah sejak beberapa waktu lalu kami kami mencoba membuat kalian dekat," Kira menggaruk-garuk kepalanya sambil tertawa kering. "Flay bilang kalian lumayan cocok, dan lagi Meyrin juga kelihatan tertarik padamu. Katamu tidak ada orang yang menarik perhatianmu waktu itu, jadi kukira kau masih kosong."
Ternyata benar, mereka selama ini memang berniat untuk mencomblangkan Meyrin denganku. Harusnya aku lebih peka lagi supaya bisa menjauh sebelum semuanya terlanjur. Aku agak kasihan dengan Meyrin karena harus sakit hati gara-gara aku lagi di kehidupan kali ini. Tapi karena kami belum lama kenalan dan tidak menghabiskan begitu banyak waktu bersama, aku harap dia tidak terlalu berlarut dengan penolakanku kemarin.
"Jadi, siapa orangnya?" Kira langsung bertanya, dan punggungku menegang. Aku bahkan belum berani cerita pada siapapun. Apalagi pada Kira yang merupakan kakak Cagalli sekarang. Di kehidupan sebelumnya, Kira sudah mengenalku lebih dulu, dan dia sendiri mendukungku dengan Cagalli. Tapi di kehidupan sekarang, di mana Kira lebih tua dari Cagalli, dan Cagalli sendiri masih lebih belia dibanding aku, aku tidak yakin Kira akan sesuportif dulu pada hubungan kami.
Hubungan kami; seperti aku dan Cagalli sudah memiliki hubungan saja. Padahal semuanya masih belum pasti. Bahkan setelah Shinn memberitahuku hal yang sebenarnya, bahwa Cagalli masih mengingat masa lalu kami seperti aku.
Mungkin saja walaupun dia ingat, dia sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi padaku. Aku pergi tanpa menjelaskan apapun pada Cagalli, hanya memintanya menungguku tanpa menjelaskan lebih jauh maksudku.
"Maaf, tapi aku masih belum bisa cerita padamu. Aku memang menyukai seseorang, tapi dia tidak tahu apa-apa. Dan aku juga tidak tahu apakah dia juga membalas perasaanku atau tidak." Aku menjelaskan sebisaku. Kalau Kira, mungkin aku harus menunggu sampai Cagalli lulus kuliah dulu, baru dia bisa merestui kami. Aku hanya berharap dia tidak menyadari perasaanku pada Cagalli dan usahaku untuk selalu mendekatinya.
"Lho? Aku kira malah kalian sudah jadian, ternyata belum?" Kira terlihat heran. Sepertinya Kira tidak mencurigaiku sama sekali. Aku masih aman.
"Kalau sudah aku pasti cerita padamu kok. Tapi aku tidak bisa bilang apapun sekarang." Dan kalaupun Cagalli menerimaku, aku mungkin tidak akan bisa bersama dengannya secara resmi sampai Cagalli menginjak usia dewasa. Jadi mungkin hari di mana aku bisa memberitahu Kira masih sangat jauh.
"Terus yang kau bilang pada Meyrin kemarin kalau hari Sabtu kau ada acara itu bohong dong, hanya untuk menolaknya saja?"
"Tidak. Sekarang aku memang benar-benar ada perlu hari Sabtu. Aku mau bertemu dengan teman lamaku yang tinggal di kota tempat asalku."
"Ooh, begitu. Aku kira kau ada kencan dengannya,"
"Mungkin tidak akan terjadi untuk sementara waktu." Aku tertawa kering, membayangkan waktu yang selama ini kuhabiskan dengan Cagalli. Meskipun isinya cuma belajar bersama, bagiku itu waktu istimewa yang baru bisa kurasakan di kehidupan sekarang.
"Cagalli bagaimana? Ujiannya Rabu depan, kan?"
"Tidak masalah. Cagalli sepertinya terlihat cukup percaya diri untuk bisa lulus. Katanya 'Pak Guru' sudah mengajarinya dengan baik," Kira menyeringai ke arahku, menekankan kata Pak Guru.
Aku hanya mendengus mendengar godaannya. "Kalau aku bisa membantu, syukurlah. Aku harap semuanya lancar. Kau tahu kapan pengumumannya?"
"Ujiannya hari Rabu, dan pengumumannya hari Jumat siang. Padahal Cagalli yang akan ikut ujian, tapi malah aku yang gugup… Bagaimana ini Athrun…?" Wajah Kira yang tadinya percaya diri sedikit demi sedikit berubah jadi semi-pucat. Padahal dia tadi sempat menggodaku, cepat sekali pikirannya teralihkan?
"Tidak apa-apa. Aku yakin Cagalli pasti lulus. Selama belajar dengannya semuanya selalu lancar dan Cagalli tidak punya masalah apapun dengan pelajaran. Aku bahkan yakin dia bisa masuk peringkat atas." Kalau benar Cagalli memiliki ingatan sepertiku, tidak heran Cagalli tidak menemui kesulitan sama sekali waktu aku mengajarinya. Semua pengetahuan dari masa sebelumnya pasti masih diingatnya. Soal-soal salah yang Cagalli buat pasti sama seperti yang kadang aku lakukan, akting belaka supaya tidak terlihat terlalu sempurna—tidak seperti anak-anak seusianya. "Kalau begitu, hari Jumat depan aku boleh ke rumahmu? Aku ingin memberikan sesuatu untuk Cagalli, untuk hadiah kelulusan."
"Athrun, kau baik sekali pada Cagalli. Kalau begitu aku juga mau dong hadiah darimu nanti kalau aku lulus universitas."
"Itu masih 3 tahun lagi. Lagipula aku menganggap Cagalli seperti adikku sendiri, aku cuma ingin memberikan hadiah atas kerja kerasnya dan juga sebagai tutornya."
Aku harap Cagalli menyukai hadiah yang kupersiapkan. Dan aku harap dia tidak akan lari dariku sekarang.
"Lihat, lihat!" Dengan bangga Cagalli memperlihatkan foto yang ia ambil tadi siang begitu aku datang ke rumahnya.
Akhirnya hari pengumuman hasil ujian tiba. Kira sepertinya sudah tahu hasilnya karena ia tadi menelepon Cagalli begitu istirahat siang, dan wajahnya terus tersenyum sampai akhir jam pelajaran hari ini. Dia bersikeras tidak mau memberitahuku karena Cagalli bilang ingin melakukannya sendiri. Meskipun aku sudah tahu hasilnya dengan reaksi Kira yang seperti itu, aku merasa beruntung karena Cagalli minta aku datang ke rumahnya supaya bisa langsung memberitahuku hasilnya. Sebab memang ini yang kuinginkan. Aku juga memiliki satu hal yang ingin kuberitahukan padanya.
Begitu sampai ke rumahnya, Cagalli langsung menarikku ke ruang tengah. Tapi aku meminta untuk pergi ke kamarnya seperti kami biasa belajar bersama. Aku sudah cerita pada Kira kalau aku sudah menyiapkan hadiah. Selain itu, kami memang kadang-kadang belajar di kamar Cagalli jadi Kira juga sudah tidak heran melihat kami langsung naik ke atas.
Di dalam Cagalli mendudukkanku di tepi tempat tidurnya. Aku meletakkan tas sekolahku di kaki tempat tidur sementara Cagalli mengambil ponsel kecil khusus untuk anak-anak—yang biasanya hanya bisa dipakai untuk menelepon keluarga atau meminta bantuan, tapi kadang-kadang ada juga yang dilengkapi dengan fitur kamera. Setelah berkutat dengan perangkat itu sebentar, Cagalli langsung menunjukkan sesuatu yang ada dalam ponselnya padaku dengan semangat.
Foto sebuah papan pengumuman dengan deret angka—nomor ujian peserta—dan nomor peserta yang ada di urutan kedua ditandai dengan lingkaran.
"Ooh, Cagalli masuk peringkat 2 ya?" Mau tidak mau aku ikut tersenyum bersamanya. Aku sudah tahu dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya itu, mengerjakan soal ujian masuk setingkat SMP pasti sesuatu yang mudah bagi Cagalli. Tapi tetap saja aku ikut senang karena akhirnya Cagalli bisa masuk ke sekolah pilihannya, sesuatu yang tidak bisa dia alami dulu karena pendidikannya semua dilaksanakan di rumahnya—begitulah menurut Cagalli waktu ia cerita tentang masa lalunya.
"Benar. Tapi yang tahu baru kak Kira dan kak Athrun. Aku akan memberitahu ibu dan ayah sekaligus nanti malam, waktu kami video call dengan ayah." Cagalli mengiyakan, sambil bercerita tentang rencana mereka nanti malam. Ayah Cagalli dan Kira masih ditugaskan di prefektur sebelah dan dinasnya akan selesai tepat beberapa minggu sebelum upacara penerimaan siswa baru sekolah Cagalli.
"Hebat sekali. Tapi aku sudah tahu Cagalli pasti lulus dan masuk peringkat teratas kok. Jadi aku sudah menyiapkan hadiah."
"Tidak usah! Kakak tidak perlu repot-repot untukku!" Cagalli langsung menolak dengan tegas, sambil meletakkan kembali ponselnya di atas meja belajarnya.
"Tapi aku sudah menyiapkannya. Masa aku kembalikan lagi ke tokonya?" aku memasang wajah memelas, padahal dalam hati aku sedang memutar otak bagaimana caranya aku bisa bertanya pada Cagalli tentang kenyataan yang disembunyikannya. Juga tentang kenyataan yang aku sembunyikan sekarang.
"Memangnya Kakak membelikanku apa? Apa tidak bisa diberikan pada orang lain saja?"
"Tidak bisa. Aku membelinya khusus untukmu. Kalau kau tidak mau, mungkin aku tidak punya pilihan lain kecuali membuangnya." Sebab hadiah yang kusiapkan sedikit spesial—hadiah yang kupilih dengan bantuan Nicol, Yzak dan Dearkka karena aku masih tetap tidak begitu paham hadiah seperti apa yang cocok untuk wanita. Waktu aku terpikir untuk memberikan cincin lagi—meskipun hanya sekedar aksesoris dan bukan perhiasan asli seperti yang kubeli dulu untuk Cagalli, mereka semua langsung menentangku, tidak habis pikir bagaimana aku bisa menentukan hadiah seperti itu.
"Bo—mana bisa begitu!? Itu pemborosan namanya, Kak!" Cagalli langsung berseru.
Aku kecewa pada diriku sendiri karena bisa melewatkan semua tanda-tanda yang diberikan Cagalli. Cagalli yang dulu pasti tanpa ragu akan menyebutku bodoh di saat itu, dan aku yakin dia tadi hampir mengatakannya padaku, kebiasaannya dari kehidupan sebelumnya. Boneka kepiting yang sekarang masih ada di samping bantal tidur Cagalli, dan sikapnya selama ini. Semuanya mengarah ke sana. Kenapa aku tidak sadar?
Aku terdiam selama beberapa saat, entah kenapa kelebatan masa laluku bersama Cagalli muncul lagi di saat ini. Semua, sampai kenangan terakhirku bersamanya muncul di kepalaku. Ketika saat aku terakhir melihat wajahnya di ruang duka, dingin dan kaku, menutup mata seperti tertidur. Biar berapa kalipun aku memanggilnya, dia sudah tidak bisa menjawabku sama sekali.
"...Cagalli…" Aku mengangkat wajahku, dan bertemu mata dengan Cagalli yang berdiri di depanku. Aku masih duduk di tempat tidurnya sehingga mata kami sejajar. Bola matanya yang selalu terlihat hangat dan terang, sekarang menatap ke arahku.
Ia menelengkan kepalanya ke samping, wajahnya terlihat bingung. "Kenapa?"
Aah, Cagalli sekarang masih hidup. Dia ada di depanku, hidup, sehat, dan dia—seharusnya—mengenaliku dan ingat semuanya tentang yang kami lalui bersama. Tentang perasaan kami yang terhalang oleh situasi sekeliling dan posisi kami masing-masing. Dan juga tentang takdir yang memisahkan kami sebelum aku sempat kembali padanya.
Sekarang aku yakin, ingatanku yang utuh ini adalah kesempatan kedua yang kudapatkan untuk bisa bertemu dengannya, bersama dengannya lagi. Tapi di sudut hatiku, ada keraguan karena dengan selama ini Cagalli menjauhiku dengan sengaja sewaktu awal kami bertemu. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Bagaimana ia melihatku, bagaimana perasaannya terhadapku.
"Cagalli…"
"Ada apa?" Cagalli pasti bingung dengan perubahan nada suaraku yang parau, dan wajahku yang terlihat kalut, yang terpantul jelas di matanya yang keemasan. Wajahnya khawatir melihatku.
Dengan suara pelan, aku memanggilnya lagi.
"Cagalli Yula Athha…"
.
Sasuga senpai longlivecagalli mah ga bisa diboongin hehehe. Yep, Cagalli sama kaya Athrun dan Shinn di sini.
Next chapter kita lihat lihat dulu isi kepala Cagalli yah
See you next chapter,
Cheers~
