"Sampai jumpa, Ying!"

Yaya melambaikan tangan pada Ying, sahabatnya, yang kini sudah menaiki busway. Ying juga melambai. Sosoknya menghilang ketika pintu otomatis busway tertutup, dan kendaraan itu melaju di jalanan yang ramai.

Yaya mengambil langkah untuk meninggalkan halte busway. Ia membenarkan letak tali tas selempangnya. Jam menunjukkan pukul 9 malam. Yaya merogoh ponselnya yang ia silent sedari tadi, menepuk dahinya kala mendapati banyak pesan masuk maupun panggilan tak terjawab.

Kak Hali

Dimana. Pulang sekarang.

Kak Taufan

YAYA KAMU DIMANA? INI UDAH JAM BERAPA MASYAALLAH ANAK GADISS

PULANG SEKARANG NGGAK?!

Kak Gempa

Yaya? Udah selesai jalan-jalannya?

Mau kak Gem jemput ngga? Ini udah malem lho

Yaya meringis dalam hati. Ia sedikit tidak paham dengan ketiga kakaknya yang sama-sama menghubunginya, padahal mereka sedang berada di bawah atap yang sama. Sekarang ia bingung harus menjawab pesan siapa dulu.

"Atau kak Hali aja ya?" gumamnya. Kaki Yaya berhenti berjalan dan gadis itu menyingkir dari jalan trotoar yang masih ramai oleh pejalan kaki. Kedua irisnya menatap lama nomor sang kakak pertama. Logikanya menyuruh untuk mengabari si sulung terlebih dahulu karena presentase kemungkinan dapat semprot dari Halilintar lebih banyak dibanding kakaknya yang lain. Dengan gerakan pelan, Yaya menelepon kakaknya.

Belum sampai bunyi terhubung kedua, panggilannya langsung diangkat. Seketika Yaya merasakan jantungnya mengadakan senam.

"Pulang. Sekarang. Atau kak Hali marah."

Perkataan bernada titah itu terdengar menyeramkan. Yaya meneguk ludah. Tahu sang kakak sudah kehilangan kesabarannya karena ia yang pulang ngaret.

"Iya iya, Yaya pulang sekarang." cicit Yaya pelan.

"Gempa yang jemput kamu. Shareloc sekarang."

Tut.

Dan Yaya mulai mengumpulkan keberaniannya selama ia menunggu sang kakak ketiga datang.


"Late" by Meltavi

Boboiboy © Animonsta Studios

Fanfic ini aku tulis tidak mengharapkan keuntungan apapun, hanya untuk kesenangan semata^^

Warning(s) : AU, bro!HaliTauGem, family, humor, typo, gaje, dll.

Selamat membaca^^

...

..

.


"Emang tadi ngapain aja, sih? Kok bisa ampe malem?" tanya Gempa. Pertanyaan itu langsung terlontar tepat sang adik menduduki dirinya di kursi penumpang.

Yaya menyengir. Membuat Gempa geleng-geleng kepala dan melajukan kembali mobilnya. Ia sudah pasang telinga mendengar alasan klasik dari Yaya.

"Tadi tuh nanggung gtu lho kak, jadi kita muter-muter dulu di Mall-nya."

"Ya nggak ampe lupa waktu juga, Yaya. Kamu 'kan tau kak Hali kalo marah kayak apa," balas Gempa. Masih teringat jelas bagaimana Halilintar ngomel-ngomel di rumah tadi karena Yaya tidak menjawab panggilannya. "Zaman sekarang tuh bahaya, banyak kejahatan. Kalo kamu kenapa-napa gimana?"

Gempa dengan rentetan nasihatnya. Yaya selalu mendengarkan, meski kakak ketiganya itu tidak berhenti mengoceh selama tiga jam. Namun Gempa jarang marah kepadanya karena sifatnya yang lemah lembut. Alih-alih memarahinya, Gempa akan memberinya ceramah seperti guru ngaji Yaya saat kecil dahulu.

Kakak ketiganya ini juga paling yang menunjukkan perhatian kepadanya. Jika Halilintar mengimplementasikan bentuk perhatiannya berupa larangan-larangan tegas, maka Gempa akan menunjukkannya secara langsung. Taufan berbeda lagi. Kakaknya yang satu itu agak sedeng karena sifatnya yang kelewat absurd itu.

Ya. Benar. Yaya Yah adalah anak terakhir dari seorang pilot bernama Amato. Punya tiga kakak, laki-laki semua. Entah Yaya harus mensyukurinya atau tidak. Karena statusnya yang menjadi anak bungsu, cewek pula, Ayah maupun kakak-kakaknya menjadi amat protektif padanya. Yaya tahu itu merupakan bentuk kasih sayang mereka padanya. Namun tak jarang ia merasa terkekang karena semua larangan itu.

Seperti saat ini.

"Udah sampe." Gempa menarik rem tangan mobil. Ia keluar lebih dulu, meninggalkan Yaya di dalam yang menatap lurus ke depan.

Yaya memejamkan matanya. Mendadak jantungnya kembali mengadakan senam karena membayangi Halilintar memarahinya.

"Tenang, tenang. Itu cuma kak Hali. Aku hanya harus diam dan tidak melawan, maka semuanya akan baik-baik saja. Kamu pasti bisa, Yaya. Kamu pasti bisa." gumam Yaya menyemangati dirinya sendiri. Pasti Halilintar sudah menyiapkan serangan berupa amukan di dalam sana. Yaya bersumpah amukan Halilintar lebih menakutkan dari singa yang mengaum.

Setelah itu Yaya mengikuti Gempa memasuki rumahnya. Bibir bawahnya ia gigit, Yaya memegang erat ujung jaket Gempa hingga kakaknya itu tersadar dan menoleh padanya. Namun Gempa hanya tersenyum, tahu ia tengah menahan takut karena sebentar lagi akan berhadapan dengan si sulung.

"Assalamu'alaikum, kita pulang!" seru Gempa hingga terdengar seantero rumah. Tak lama ada sahutan yang menjawab salam Gempa.

"Wa'alaikumussalam."

Yaya menelan ludah ketika mengetahui betul pemilik suara itu. Suara rendah dan ngebass yang mampu membuat siapapun segan mendengarnya. Kakak pertamanya. Halilintar.

Dilihatnya takut-takut sang kakak yang tengah menatap ponselnya di sofa. Aura Halilintar terasa semakin mengerikan bagi Yaya. Gadis itu semakin mengeratkan pegangannya pada ujung jaket Gempa, sedikit berjinjit untuk membisikkan sesuatu pada kakaknya.

"Kak Gem, temenin Yaya di sini, ya?"

Gempa mengangkat alis. Ia memandang Halilintar sebentar sebelum menatap lagi adik satu-satunya. "Kak Gem ada tugas." Wajah Yaya sontak berubah memelas. "Kamu hadepin sendiri, ya. Semangat." bisik Gempa sambil tersenyum jahil. Lalu dengan cepat melepaskan eratan tangan Yaya pada jaketnya.

"Kak Gem!"

Terlambat, Gempa sudah ngacir ke lantai dua.

"Ekhem."

Jantung Yaya berdegup kencang mendengar dehaman keras itu. Ia meringis, tahu dirinya tidak bisa lari sekarang. Ditatapnya takut-takut Halilintar yang masih fokus menatap gadget.

"Kak Hali, Yaya minta ma–"

"Duduk." Halilintar menepuk tempat di sampingnya. Dengan langkah pelan, Yaya menghampiri sang kakak dan duduk di sampingnya. Hatinya tak henti-henti merapal doa. Meskipun Yaya tahu kakaknya itu tak akan main kekerasan, namun tetap saja bentakannya mampu membuat bulu kuduk Yaya merinding.

Hening mengisi selama beberapa detik karena Halilintar terus menatap ponselnya. Yaya meliriknya sedkit, menemukan layar ponsel kakaknya menampilkan roomchat bersama seseorang. Sepertinya itu urusan pekerjaan.

Tiba-tiba Halilintar mematikan ponselnya dan menaruh di atas meja. Yaya tersentak, lalu menatap ke bawah segera saat dirasanya Halilintar menatap ke arahnya.

"Sekarang jam berapa?" Nada itu terdengar sangat dingin. Yaya berpikir kakaknya itu pasti tahu sekarang jam berapa tanpa bertanya padanya. Dan Yaya cukup paham kakaknya sedang membuatnya tersudut agar sadar akan kesalahan yang ia perbuat.

"Sembilan, Kak." jawab Yaya pelan.

Halilintar mengangguk. Bagus, adiknya masih bisa membaca jam. "Kamu janji pulang jam berapa tadi sebelum berangkat?" tanya Halilintar melanjutkan sesi interogasinya.

Yaya meringis. Halilintar pintar sekali dalam hal memojokkan orang. "Jam tujuh udah di rumah,"

"Terus kenapa nggak ditepatin?"

Yaya langsung menatap kakaknya dengan memelas. "Kak–"

"Kenapa nggak angkat telepon?"

Ucapan Yaya langsung terpotong karena lagi-lagi Halilintar menginterogasinya. Ia kembali menunduk, tak berani menatap wajah kakaknya yang sedatar papan jalan.

"Uh, tadi aku silent. Jadi nggak kedengeran," jawab Yaya jujur.

"Kenapa di-silent?"

Sungguh, Yaya ingin mengubur diri rasanya. Kenapa pertanyaan Halilintar selalu membuatnya kehabisan kata-kata, sih?

"Kamu suka bikin orang satu rumah khawatir?"

"Kak Hali, bukan gitu–"

"Terus apa? Kamu mau pulang sampai jam 12 malem? Kalau ada sesuatu yang buruk gimana? Yaya mau, hm?"

Yaya melipat bibirnya dalam. Tampaknya Halilintar benar-benar marah padanya sekarang. "Yaya minta maaf,"

"Minta maaf kenapa?"

"Karena Yaya ... "

"Tegang banget, sih. Kayak lagi di pengadilan aja,"

Suara bernada jahil itu membuat Yaya menoleh ke belakang, sementara Halilintar menghela napasnya karena sudah tahu siapa yang memutus pembicaran mereka.

Yaya melotot ke arah Taufan, kakak keduanya yang kini sedang bersandar di pintu dapur sambil menjilat es krim rasa strawberry miliknya. Kedua iris safirnya menatap tepat kepadanya dan Halilintar seperti layaknya menonton drama picisan di televisi.

"ES KRIM AKU!" seru Yaya geram. Ia baru saja akan bangkit ketika suara seram Halilintar terdengar lagi.

"Kak Hali belum selesai."

"Udahlah, Hal. Kau nyerocos sampai tiga jam pun nih bocah nggak akan nurut." ujar Taufan seraya berjalan mendekat. Yaya mendelik. Ia tidak tahu harus kesal atau berterima kasih atas kedatangan si kakak absurdnya ini. "Langsung jewer aja biar kapok." Tangan Taufan bergerak menjewer telinga Yaya yang tertutup kerudung.

Yaya sontak berteriak sakit. "Kak Taufan! Sakit woi!" Yaya dengan mudah melepaskan diri dengan menepis tangan sang kakak. Ditatapnya tajam Taufan yang mengemut es krimnya lagi dengan wajah super menyebalkannya itu. "Itu es krim aku, tau!"

"Siapa suruh pulang malem, hah? Mau jadi cabe-cabean?" balas Taufan membuat Yaya semakin kesal.

"KAK TAUFANNN!"

"Eits, nggak kena!" Taufan berlari menghindar ketika tangan Yaya berusaha meraih tubuhnya. Yaya lalu mengejarnya, melupakan sesi interogasinya bersama Halilintar tadi. Ia harus memberi pelajaran dulu kepada kakak keduanya ini karena sudah seenaknya memakan es krim miliknya.

Halilintar yang masih duduk di sofa menghela napas lelah. Ia membiarkan kedua adiknya kejar-kejaran di sana dan beralih naik ke kamarnya.

"Kalau sudah selesai jangan lupa kunci pintu." pesannya, meski tak yakin apakah Taufan dan Yaya mendengarnya.

Sekali lagi, suara Yaya yang melengking terdengar di rumah bertingkat dua itu.

"KAK TAUFAANNN!"

.

.

.

.

finizh


A/N:

AKU SENENG BANGET AKHIRNYA AKUN INI BALIIKK YEAAAYYYY /joget

ASLII KAGET BNGET TIBA-TIBA BISA LOGIN LAGII, KIRAIN BAKAL GABISA AMPE KAPANPUN HUHUHUUU /lebay

waitt ini aku nulis apaah?!

lagi-lagi ide random aq yg sudah lama terbengkalai dan baru bisa di-pub skrg ehehe mirip little sister yah tpi bedanya mereka udah gede XD

BTW BTW AKU MAU LANJUT LITTLE SISTER JDI TUNGGU YAAA /geer bngt lu

ITU AJAA A/N-NYAA MAAF CAPSLOCK KARNA AKU LAGI SENENG AKHIRNYA AKUN INI BALIK YIPIIIIII

Akun Meltavii kayaknya bakal tetep idup(?) karna aku naro utang disana wakakakk dadahhh semuaaa