Denganmu 05


All characters belong to Masashi Kishimoto

Warn: OOC, typo(s), a bit lemon and yaoi!


.

.

'KLIK'

'KLIK'

'KLIK'

'KLIK'

Sasuke memainkan pulpennya hingga menimbulkan bunyi. Kini ia tengah duduk di sudut kelas dengan tatapannya yang kosong. Entah sudah berapa kali ia menghela napas dan sesekali menarik napas berat.

"Sasuke, kau kenapa?" Sasuke menoleh dan melihat Kiba yang menarik bangku di sebelah meja duduknya. "Suara napasmu itu terdengar sampai luar kelas tahu!"

"Hah..." Sasuke menghela napas lagi. "Jangan menggangguku, Kiba. Aku sedang tidak mood."

"Memangnya kapan kau pernah mood?" Kiba menyunggingkan senyumnya saat Sasuke menatapnya kesal. "Guys! Kalian ada yang bisa beritahu aku, apakah seorang Sasuke Uchiha pernah punya mood baik pada orang lain?"

Sasuke berdecak ketika tiba-tiba Kiba berteriak di ruangan kelas. Nah, inilah sebabnya Kiba dan Naruto dikenal sebagai anak kembar. Yah, walaupun sebenarnya ada satu lagi kembaran mereka di kelas Hinata, siswa yang bernama Rock Lee. Persamaan diantara Naruto, Kiba, dan Rock Lee adalah suara mereka yang berisik dan sifat mereka yang selalu bersemangat. Itulah kenapa mereka bertiga dikenal sebagai Trio Toa.

Sialnya, Sasuke mesti satu kelas dengan dua anggota Trio Toa. Okelah dengan Naruto, Sasuke telah mengenalnya sejak kecil jadi sedikit paham soal sifat Naruto. Tapi, Inuzuka Kiba? Dia adalah yang terburuk. Selain berisik, dia juga memiliki mulut yang pedas. Bagi Sasuke, dia adalah orang yang menyebalkan untuk diajak berdebat setelah seniornya saat SMP dulu.

"Kiba, kau kenapa sih berteriak begitu?" Sakura bertanya dengan suaranya yang tinggi.

"Loh, tidak sadar jika suaramu juga bisa terdengar sampai ruang kepala sekolah?" Kiba membalas dengan tak kalah berisiknya.

"Bodoh! Tidak mungkin terdengar, ruang kepala sekolah itu di atas dua lantai dari kelas ini!"

"Oh ya? Tapi kau kan tidak tahu seberapa berisiknya dirimu!"

"Tidak sadar diri kau!" Sakura bangkit dan berjalan mendekati Kiba. "Kau pikir aku takut karena aku seorang perempuan?"

Nah kan, kenapa sekarang malah Sakura dan Kiba yang saling menatap tajam? Sasuke berdecak sebelum akhirnya bangkit dan berjalan hendak keluar kelas.

"Oy, Sasuke! Mau kemana kau? Ini semua kan dimulai dari kau!" Sasuke menghiraukan Kiba dengan tetap berjalan hingga Kiba menyusulnya dan menahan lengannya. "Apa kau tuli?"

Sasuke berbalik, menatap Kiba lekat-lekat sambil menggertakan giginya.

"Sudah kubilang untuk jangan menggangguku, Kiba. Aku tidak ingin terlibat."

"Cih, bilang saja kau memang apatis dan tidak perduli pada orang lain!"

Sasuke bergerak tiba-tiba. Ia menekan Kiba pada tembok menggunakan lengannya. Sebenarnya ia tidak ingin berbuat lebih jauh tapi ia benar-benar sedang kesal hari ini setelah kejadian di kamar mandi pagi tadi.

"Kan sudah kubilang untuk jangan mengganggu, Inuzuka." Sasuke menekan setiap kata-kata yang ia ucapkan. Matanya menatap tajam pada Kiba dengan jarak wajah mereka yang tipis, membuat Kiba membulatkan matanya dan menelan ludah gugup.

"Sa-Sasuke?" Sasuke menoleh dan melihat Naruto berdiri di depan pintu bersama seseorang. "Ka-kau dan Kiba kenapa?"

"Naruto!" Sakura yang mendengar suara Naruto berjalan menuju pintu masuk kelas. "Cepat! Kau harus memisahkan Sasuke dan –oh, Hinata? Kau di sini juga?"

"I-iya. Tadi aku tidak sengaja be-bertemu dengan Naruto." Hinata menjawab dengan gugup, kali ini sungguhan yang disebabkan oleh adegan tak terduga di depannya. "Ka-kalau begitu aku pergi dulu."

Hinata segera berbalik untuk kembali ke kelasnya. Berjalan agak sedikit terburu dengan mata yang gusar. "Wah, ternyata dia seorang gay yang agresif." bisiknya.

"Cih." Sasuke melepaskan diri dari Kiba dan melenggang keluar kelas. Sementara Kiba menghela napas lega dan merapikan bajunya yang kusut akibat amukan Uchiha.

"Sasuke, kau mau kemana?" Naruto dihiraukan. Ia hendak menyusul Sasuke tapi Sakura menahan lengannya. "Ada apa sih dengan dia?"

.

.

Sudah seminggu dari peristiwa antara Sasuke dan Kiba. Selama seminggu pula Sasuke menghindari semua orang. Sungguh, ia masih memikirkan kata-kata Hinata. Menerka apa yang sebaiknya ia lakukan untuk langkah selanjutnya.

"Sasuke, bisa kita bicara?" Sasuke hanya menatap Naruto. Toh, tanpa menjawab pun ia tahu Naruto akan melanjutkan omongannya.

"Baiklah, aku akan duduk di sini." Nah kan, sekarang Naruto sudah menyeret kursi dan duduk di samping Sasuke. "Kau kenapa sih? Akhir-akhir ini tidak pernah bermain dengan kami? Apa aku dan Sakura melakukan kesalahan?"

"Sembarangan kau, Naruto!" Sakura mendekat, duduk di seberang Sasuke menggunakan kursi Nika. "Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Yang melakukan kesalahan itu kau!"

"Aku?" Naruto menunjuk dirinya sendiri. "Apa aku melakukan kesalahan padamu, Sasuke?"

"Tidak." Naruto menatap Sakura dengan wajah bingung. "Kau tidak melakukan kesalahan pada Sasuke tapi kau bersalah padaku!"

Naruto semakin bingung sekarang. "Kau tidak mengerjakan tugas kelompok kita sabtu lalu. Aku yang mengerjakan semuanya sendiri!"

"Ah, itu..." Naruto menggaruk belakang kepalanya. "Maaf, Sakura. Weekend kemarin aku pergi dengan Hinata jadi aku lupa, hehehe..."

Bagus, informasi tak terduga yang membuat Sasuke melotot sebentar dan tanpa sadar menggertakan giginya.

"Hee.. Ada apa antara kau dan Hinata?" Sakura tersenyum jahil.

"Itu... Entahlah. Akhir-akhir ini dia sering menghubungiku dan mengajakku bertemu." Naruto menjawab kikuk. "Tapi tidak ada apa-apa kok antara kami! Kau jangan salah paham ya, Sakura."

Tentu saja Sakura tidak akan salah paham. Seseorang yang salah paham itu sebenarnya adalah orang yang hanya diam melihat Sakura dan Naruto ribut kecil. Satu orang meledek dan satu orang lagi bersikeras meyakini tidak ada apa-apa antara ia dan Hinata.

"Kalian berisik." Naruto dan Sakura mematung saat Sasuke tiba-tiba berdiri dan meninggalkan kelas lagi. Hah, sepertinya sulit mendekati Sasuke saat ini.

.

.

Hinata menengok ke kanan-kiri dan berjalan saat melihat mobil yang menjemputnya. Ia melepas tas sekolahnya setelah memasuki mobil dan menutup pintu.

"Kou-san, sebelum pulang aku ingin kita mampir ke supermarket, ya. Aku ingin belajar memasak ramen."

'TIK'

Terdengar suara pintu mobil terkunci. Akan tetapi, bukannya segera berangkat supir Hinata masih terdiam saja.

"Kou-san?" Hinata terkejut ketika tiba-tiba supirnya yang ada di bangku depan bangkit dan bergerak menuju kursi belakang, yang kini ada Hinata di sana. "Kou-san, kau –kena-"

Hinata melotot saat melihat orang yang tadi di kursi depan bukanlah Kou-san, melainkan saingannya yang sangat tidak tahu sopan santun.

"Belajar memasak untuk pria idamanmu, eh?" Sasuke menyunggingkan senyum seolah meremehkan.

"Apa yang kau lakukan di mobilku, Uchiha?" bagus, Hinata kembali ke mode yandere-nya. "Dan kemana Kou-san? Jangan bilang kau menyakitinya!"

"Tenang saja, supir tercintamu itu mungkin sedang menikmati secangkir kopi di kafe seberang." Sasuke bergerak mendekati Hinata yang bergerak mundur.

"Daripada itu, bisakah kita membicarakan hubungan kita?"

"Cih, dalam mimpimu! Aku tidak akan pernah terlibat hubungan denganmu!"

"Apa? Maksudku adalah hubunganku, kau, dan Naruto." Sasuke kembali menyeringai. "Oh, atau kau lebih senang jika ini hanya tentang aku dan kau?"

"Berhenti bermain-main, Uchiha! Kau harus pergi atau aku akan berteriak!"

"Berteriak saja, jika kau ingin sifat aslimu terbongkar." Hinata menarik napas.

"Kau curang, Hinata." Hinata mengerutkan dahinya. "Kau mulai berani mendekati Naruto selama seminggu ini, eh?"

"Kenapa? Bukankah kau sendiri yang membuangnya?"

"Apa?"

"Oh, kau berpura-pura lupa tentang hubunganmu dengan si Inuzuka itu?" Sasuke berdecak. "Tidak kusangka kau bisa berani seagresif itu di depan seluruh teman kelasmu."

"Kenapa? Kau baru tahu?" Sasuke mendekati Hinata, menekannya pada pintu mobil dan berbisik pelan pada telinga Hinata. "Jika aku agresif dengan Kiba di depan umum, coba bayangkan seagresif apa aku dengan Naruto saat tidak ada orang lain."

"Berengsek!" Hinata mendorong Sasuke hingga ada jarak di antara mereka berdua. "Keluar kau dari mobilku!"

"Tentu, aku akan pergi. Aku sudah ada janji dengan Naruto." Hinata mengepalkan tangannya saat melihat Sasuke meraih tombol pengunci pintu di kursi pengemudi.

"Oh, Hinata. Asal kau tahu saja." Sasuke menahan gerakannya membuka pintu bersamaan dengan Kou yang terlihat sedang berlari ke arah mobil Hinata. "Mulai sekarang aku akan menjadi lebih agresif."

Sasuke mengedipkan matanya sambil melambai pada Hinata sebelum akhirnya keluar dari mobil. Samar dapat Sasuke dengar Hinata mengutuknya dari dalam mobil.

"Hi-Hinata-sama, maafkan saya. Tuan Uchiha memaksa untuk masuk." Kou memasuki mobil dengan perasaan bersalah saat melihat majikannya terengah kesal.

"Kita pulang." kata Hinata tegas, sedikit terdengar suaranya bergetar. "Sekarang!"

.

.