Denganmu 10

by

acyanokouji


All characters belong to Masashi Kishimoto

Warn: OOC, typo(s), A BIT LEMON!


.

.

Sasuke menaiki tangga tergesa-gesa sambil merapal doa dalam hati. Acara kelasnya berakhir sangat sore, bahkan matahari sudah mulai akan menghilang. Untung tiket karcis acara ramalan kelasnya sudah habis terjual. Padahal festival sekolah baru akan berakhir besok dan Kiba sudah menyuruh Naruto untuk segera mencetak tiket masuk ramalan Sasuke Uchiha. Jelas Sasuke mengamuk. Apa ini rasanya menjadi seorang idola yang dijual habis-habisan oleh agensi?

CLEK

"Tenyata kau memang di sini." Sasuke tersenyum miring pada gadis berambut ungu yang terlihat kebingungan.

Hinata tidak sengaja tertidur di atap sekolah. Padahal ia hanya mencoba menghindari teman-temannya hari ini tapi ternyata lagu akustik Taylor Swift membuatnya tertidur.

"Mau apa lagi kau?" tanya Hinata serak dengan masih sedikit setengah sadar tapi ia jelas sangat sadar jika pemuda di depannya mengancam.

"Jangan pikir kau bisa sembunyi setelah terang-terangan menamparku, Hyuuga."

Oh, masalah tadi siang. Bukannya Hinata sudah beralibi jika ia hanya 'menepuk' nyamuk yang kebetulan ada di pipi Sasuke?

"Eh? A-aku hanya me-memukul nyamuk se-seperti yang kukatakan, U-Uchiha-san." Sasuke berdecih. Untuk apa berpura-pura di hadapannya? Sasuke lebih suka Hinata yang 'itu'.

"Tidak ada yang percaya kebohonganmu, Hyuuga." Sasuke mendekat, membuat Hinata terpaksa mundur hingga mencapai dinding pagar. "Kau ingat aturannya, 'kan?"

Hinata mengernyit tak mengerti. Aturan apa lagi? Apa Uchiha di hadapannya memang suka menambahkan aturan-aturan tidak jelas?

"Mata dibalas mata. Gigi dibalas gigi. Tamparan dibalas oleh tamparan juga."

Oh, itu? Cih, kini Sasuke terang-terangan bilang akan menamparnya? Kenapa ia suka berbuat hal yang tidak senonoh sih?

"Jadi kau ingin balas menamparku? Tampar saja. Aku tidak peduli." Hinata menegakkan badannya. Menatap nyalang pada Sasuke. Ia sudah tidak peduli lagi pada mata sapphire yang mengintip lewat pintu.

"Kenapa diam saja? Ayo, tampar saja aku. Kau ingin membalasku, 'kan?" Hinata mendongak, menawarkan pipinya pada Sasuke. Sementara Sasuke mengeraskan rahangnya dan mengepal kuat telapak tangannya. Ia menahan sesuatu.

"Kau yang menantangku, Hinata."

Kejadian itu terjadi secepat kilat. Hinata terkejut bukan main. Matanya terbuka lebar, napasnya berhenti entah sejak kapan. Sasuke menamparnya. Ia memang merasakan sakit tapi masalahnya bukan sakit di pipinya. Sakit itu dirasakan dibibirnya yang tiba-tiba mendapatkan 'tamparan' dari bibir Sasuke.

"Bangsat! Apa yang kau lakukan, berengsek?!" Hinata mendorong tubuh Sasuke dengan keras.

"Membalasmu." Sasuke berkata enteng. Hinata hampir berniat menampar Sasuke lagi tapi ia juga takut 'dibalas' lagi.

Matahari sudah benar-benar akan menghilang. Kou pasti sudah panik mencari Hinata. Jadi, Hinata putuskan untuk pergi kabur saja. Berlari meninggalkan Sasuke yang tersenyum miring dan melewati surai kuning yang bersembunyi di balik bayangan gedung.

.

.

Berita mengenai Hinata yang menampar Sasuke saat festival sekolah menjadi trending gosip di sekolahnya. Banyak yang terkejut karena Hinata si pemalu terang-terangan berlaku kasar meskipun beberapa siswa membela dan berkata jika Hinata tidak begitu. Betul, Hinata tidak kasar. Yang 'kasar' itu sebenarnya orang yang katanya dikasari oleh Hinata.

Tidak terasa waktu bisa berjalan dengan cepat. Kiba terkejut kini ia sudah berada di acara kelulusannya saja. Padahal seingatnya baru kemarin ia dijatuhi sial karena sering mengolok bungsu Uchiha.

"Sakura, ayo foto dengan ayah dan ibu!" keluarga Haruno terlihat sangat harmonis. Orang tua yang utuh dan penyayang. Siapa yang tidak? Setiap orang tua pasti bangga dan sayang pada anaknya yang pintar hingga bisa lolos seleksi Tokyo University jurusan kedokteran pula.

Kehadiran orang tua, buket bunga, dan foto bersama adalah paket yang seharusnya ada saat hari kelulusan. Akan tetapi, di hari pentingnya Kiba malah sendirian. Orang tuanya pergi ke Kalimantan untuk tugas kerja. Maklum, keduanya adalah penggiat perlindungan hewan. Jelas mereka akan segera pergi saat diminta ikut mengevakuasi orangutan yang terluka akibat kebakaran hutan. Karena bosan, Kiba pergi menuju taman belakang yang sepi untuk diam-diam merokok. Hei, ia juga perlu melepas penat.

"Ngh~"

Heck! Kiba mendengar suara-suara aneh dalam imajinasinya. Apa ia sudah tertular Naruto, ya?

"Ahh.. Lepaskanhh~"

Sialan. Itu bukan suara dalam imajinasinya. Suara itu nyata ada di hadapannya. Kiba terkejut, bukan karena mendengar suara aneh tapi karena orang yang mengeluarkan suara aneh itu. Seingat Kiba, gadis itu tidak akan membiarkan pemuda surai hitam itu menyentuhnya. Apa Kiba perlu menolongnya? Tapi Kiba malas berdebat dengan Uchiha.

Akhirnya Kiba memutuskan untuk pergi saja. Belum lama sekolahnya heboh karena Hinata yang menampar Sasuke, kini Kiba harus heboh karena melihat Hinata berciuman dengan Sasuke. Tapi, lebih heboh suara kaleng soda yang tidak sengaja Kiba injak sih.

.

.

Setelah perjuangan yang membuat sakit kepala, Kiba akhirnya diterima masuk Tokyo University jurusan kedokteran hewan. Bagus, kini ia benar-benar menjadi penerus keluarga. Tidak seperti pemuda rambut kuning di hadapannya.

"Kau kenapa tidak ikut ujian ke Tokyo University saja sepertiku? Ambil bisnis untuk melanjutkan usaha keluargamu." Kiba heran pada kehidupan Naruto yang rumit. Lihat saja, Naruto sangat rumit memilih rasa ramen instan padahal hanya cukup ambil yang mana saja.

"Tidak. Aku akan sakit kepala karena harus belajar nanti. Lebih baik masuk kampus olahraga saja." Naruto pergi menuju mesin air panas setelah akhirnya beres memilih rasa ramen instan yang akan dimakannya.

"Terserahlah." Kiba duduk di bangku yang disediakan oleh toko swalayan untuk menyantap onigiri, disusul Naruto disampingnya bersama ramen instan panas.

"Bagaimana kabar Sasuke?" Naruto mengernyit. Setelah lima menit terdiam dan itu yang keluar dari mulut Kiba?

"Baik, ia satu kampus denganmu, 'kan?" Kiba mengangguk, dari yang ia dengar sih begitu. "Kenapa kau tiba-tiba membahasnya?"

"Ah, itu. Aku hanya tiba-tiba ingat kejadian ia dan Hinata." Naruto menyeruput ramen instan rasa curry dan bertanya lebih lanjut pada Kiba melalui dehaman. "Aku tidak sengaja melihat mereka berciuman."

"UHUK UHUK!"

Naruto tersedak curry yang padahal tidak pedas. Apa Kiba sebaiknya tidak membicarakannya, ya?

"Kau melihatnya juga?!"

Eh, Naruto juga lihat? Kiba hanya mengangguk.

"Jadi kau juga mengintip mereka berciuman di atap sekolah?!"

Lah, malah jadi pengakuan dosa? Tapi Kiba juga berdosa sih meskipun lokasi dosanya berbeda.

"Sukses untuk akademikmu di Kyoto!"

"Terima kasih. Semangat untuk kuliah perdanamu hari ini. Ingat, jangan sampai kau salah gedung, Kiba!"

Tadi Kiba hanya tertawa mendengar petuah Naruto sebelum mereka berpisah. Namun, siapa sangka jika ia benar akan tersesat di hari pertamanya. Duh, pakaian mahasiswa di sini terlihat elit-elit. Pakai jas dan kemeja yang terlihat mewah. Ada yang membawa buku perundang-undangan, sepertinya ini gedung fakultas hukum.

"Kudengar ada mahasiswi baru yang sangat cantik."

"Di sini kita semua harus terlihat cantik dan rapi, 'kan?"

"Bukan begitu. Dia tidak hanya cantik tapi juga seksi. Auranya sedikit menakutkan tapi menggoda di saat yang bersamaan."

"Ah, yang benar kau?"

"Benar. Lihat saja. Itu orangnya."

Kiba mengikuti arah pandang kedua pemuda yang tidak sengaja ia curi dengar obrolannya. Seorang gadis turun dari tangga. Rambutnya diikat bagai ekor kuda. Kemejanya berbentuk v yang menampilkan bahu mulus dan errr dadanya yang seksi(?) Bawahannya hanya celana bahan biasa dan sepatu boots tinggi hitam. Penampilan biasa di gedung ini tapi auranya luar biasa. Bahkan ketika si gadis melewati dan menatap sinis padanya, Kiba hanya bisa mematung karena terkesima. Setelah gadis itu sudah tak tertangkap pandangannya, barulah ia bisa bernapas kembali.

WHAT THE HELL! APA YANG TERJADI PADA HINATA HYUUGA?!

.

.