Denganmu 12
by
acyanokouji
All characters belong to Masashi Kishimoto
Saya cuma pinjem. Selamat membaca.
Warn: OOC, typo(s), a bit lemon and LGBTQ+ SENSITIVE CONTENT!
.
.
Hinata bisa merasakan perbedaan pandangan orang-orang padanya sejak peristiwa tak disengaja saat festival sekolah lalu. Sejak hari itu, ia merutuki dirinya sendiri.
"Bodoh! Kenapa tidak bisa menahan diri sih?!"
"Lebih bodoh lagi kau membiarkan dirimu disentuh laki-laki gay, Hinata!"
"Bajingan! Bajingan! Bajingan!"
Kata-kata umpatan terus dirapalkan putri sulung Hyuuga. Hanabi yang sudah kesal karena kakaknya terus mengurung diri, bertambah kesal saat mendengar kakaknya bicara kasar terus-terusan.
"Kalau kau mau bicara begitu terus, sekalian saja lepas topengmu di depan semua orang!"
Hinata mendelik sebal pada adiknya yang muncul di pintu kamar.
"Suka-suka aku! Itu 'kan hakku mau bersikap bagaimana pun!"
Hanabi memutar bola matanya malas. Kakaknya yang satu itu memang bebal. Beda dengan kakak sepupu yang sudah dianggap seperti kakak kandungnya.
"Terserah. Yang penting kau harus ikut makan malam."
"Tidak mau!"
"Kau tidak mau bertemu dengan Kak Neji?"
"Tidak –hah?!"
Hinata bangkit dan berlari dengan cepat menuju lantai bawah. Lihat, Hanabi sudah ditinggalkan.
"Kak Neji?"
Seorang pemuda berambut coklat panjang menoleh. Pemuda itu adalah kakak sepupu laki-laki Hinata yang pergi merantau untuk melanjutkan studinya. Kedua mata mereka bertemu, saling memberikan senyuman hangat.
.
.
"Kenapa kau tidak mengabari kalau mau pulang?" Hinata memanyunkan bibir. Bermanja pada Neji di ruang tengah rumahnya.
"Aku ingin memberikan kejutan."
"Dan aku terkejut!" Hinata mendengus. "Sampai kapan kau ada di sini?"
Neji terlihat sedang berpikir. "Enam bulan, mungkin."
"Studimu sudah selesai?" Neji menggeleng.
"Aku butuh waktu untuk memulihkan diri."
"Kau terkena penyakit?" Hinata khawatir, pasti.
"Tidak. Aku hanya... patah hati." Hinata bisa melihat tatapan pilu Neji. Ia rasa darah dalam tubuhnya mendidih, sepertinya ia ingin marah. Siapa yang tega membuat Neji Hyuuga patah hati?
"Wanitaku pergi dengan wanita lain, Hinata."
"He? A-apa?! Maksud–" Hinata terkejut, tidak tahu musti bereaksi bagaimana. Lalu, membuang napas. "Manusia gay memang merepotkan."
"Tidak. Aku hanya apes, mungkin." Neji memandang langit-langit.
Mungkin tidak semua. Iya, Hinata juga tahu. Tapi, yang ia kenal orangnya memang begitu.
"Kau kenapa?"
"Aku?" Hinata menunjuk dirinya sendiri. "Memangnya kenapa?"
"Kata Hanabi kau terlihat sering marah-marah akhir-akhir ini. Ya memang bukan hal yang aneh kalau kau marah-marah tapi pasti ada sebabnya, 'kan?"
Hinata berdecak kesal. Adiknya itu memang tidak bisa tutup mulut. Seharusnya ia menghibur Neji tapi malah ia yang bercerita.
"Begitu, ya?" Neji merasa sedikit terkejut sebenarnya tapi ia mengendalikan diri. "Kapan taruhan kalian akan berakhir?"
"Eh? Tidak tahu."
"Kau tidak memastikannya?" Hinata menggeleng yang bikin Neji menghela napas. "Segera akhiri permainanmu dengannya, Hinata. Pemuda itu hanya bermain-main denganmu. Menangkan taruhannya dan menjauhlah darinya."
Begitukah? Hinata memang cerita soal taruhan merebut hati Naruto tapi ia tidak bercerita detail tentang siapa orang yang mengajaknya taruhan. Uchiha itu rekan bisnis ayahnya. Jangan sampai masalah ini memengaruhi keluarganya.
"Oh ya, kau sudah akan masuk kuliah, ya?" Neji bertanya retoris. "Apa kau sudah memutuskan akan lanjut studi ke mana?"
"Belum." Hinata menunduk.
"Kenapa? Bukannya Shikamaru sudah memberimu saran?" Hinata mendongak dan menatap Neji.
"Kau ingin aku menuruti saran dari Kak Shikamaru?" Neji mengedikkan bahu.
"Terserah padamu. Tapi kurasa ada baiknya mencoba. Yang dia bilang juga masuk akal." Neji meraih remot televisi, memijit tombol on untuk menikmati dorama yang ia lihat iklannya di bandara.
.
.
Hinata harus segera mengakhiri pertaruhannya dengan Sasuke. Ia harus bisa memenangkan Naruto. Tapi, kenapa menghubungi Naruto rasanya sulit sekali? Hampir seperti menghubungi pacar yang sudah tidak saling sayang. Lihat saja, semua ajakan Hinata ditolak. Pesannya sering dianggurkan. Hingga mendekati acara kelulusan, Hinata tahu ia sudah kalah.
From: Kak Neji
Aku dan Paman Hiashi akan sedikit terlambat. Musti menjemput Hanabi juga di sekolah. Nanti kami akan menghampirimu di dekat aula.
Hari kelulusan, Hinata dan angkatannya baru selesai acara pelepasan. Kini mereka resmi menjadi alumni angkatan ke-69 dari KHS. Teman-temannya banyak yang sudah berkumpul dengan keluarga masing-masing. Haru bangga akhirnya mereka resmi legal dan akan memulai kisah baru.
"Sendirian di hari kelulusan, Hinata?" sebuah suara muncul dan Hinata menyesal sudah menoleh. Si bungsu Uchiha lagi.
"Keluargaku akan segera datang." Hinata membuang muka.
"Benarkah? Mana? Mau kutemani sampai mereka tiba?" Sasuke mendekati Hinata.
"Jangan dekat-dekat, Uchiha. Kita sudah lulus." Sasuke mengernyit tak mengerti. Tatapan Hinata padanya terlihat sangat waspada.
"Kita sudah tidak akan ada urusan lagi."
Sasuke terdiam. Ia menatap tajam pada Hinata yang juga menatapnya dengan waspada. Lupa, mereka masih ada urusan yang belum tuntas.
"Ikut aku." Sasuke menarik Hinata dengan paksa. Jelas Hinata terkejut. Ia ingin berteriak di tengah lautan manusia yang sibuk masing-masing. Tapi mungkin itu keputusan yang kurang tepat.
"Lepas! Kau menyakitiku!" Hinata memaksa genggaman Sasuke terlepas. Pergelangan tangannya sedikit memerah karena Sasuke menggenggamnya erat sampai di taman belakang.
"Kau kenapa sih?!" Hinata menatap nyalang Sasuke sambil mengurut tangannya.
"Kita akan membahas urusan kita yang belum selesai, Hyuuga. Well, kalau kau lebih senang kita bicara di depan banyak orang, mungkin kita bisa kembali." Sasuke menyeringai, membuat Hinata mendengus.
"Oke, jadi bagaimana? Tentang taruhan bodohmu itu?"
"Oh kau akhirnya menganggap Naruto bodoh ya?"
"Jangan sembarangan, berengsek! Tidak usah bertele-tele, aku harus pergi."
"Hinata, Hinata, kau tidak sabaran sekali." Sasuke berdecak dan menyilangkan kedua tangannya. "Baiklah, kita perjelas sekarang. Hubunganmu dan Naruto sudah jelas, 'kan?"
Hinata mengernyit tak mengerti.
"Kau tidak bisa mendapatkan Naruto, artinya kau kalah."
"Tapi Naruto belum dimiliki siapa pun!"
"Iya, makanya aku menang."
Hinata makin bingung. Kalau diingat-ingat lagi, sepertinya ada yang salah dengan taruhan ini.
"Kau bertaruh untuk dirimu sendiri. Sedangkan aku bertaruh untuk apapun selain dirimu."
"Itu tidak adil!" Hinata menyalak.
"Tidak ada yang adil di dunia ini, Hinata."
Sasuke berjalan mendekati Hinata. Perempuan itu berjalan mundur sambil bertanya-tanya. Kenapa tiba-tiba jadi sok filosofis begini?
"Akui saja. Kau sudah kalah." Sasuke menyentuh hidung Hinata dengan telunjuknya. Setelah menepis tangan Sasuke, Hinata mundur lagi selangkah.
"Oke. Ya, terserah. Aku kalah. Kau menang. Aku tidak peduli. Yang penting sekarang sudah berakhir, 'kan?"
"Bagus. Sekarang aku akan mengambil hadiahku." sejak kapan ada hadiah dalam pertaruhan ini? Apa hadiahnya Naruto?
Hinata terbelalak. Sasuke mendekatinya dengan sangat cepat. Kini bibir mereka kembali menempel seperti waktu itu. Sialnya Sasuke menangkap kedua tangannya hingga Hinata tidak bisa berontak.
"Hmph..." Hinata bergerak-gerak dalam dekapan Sasuke. Ia butuh oksigen. Lalu, ia putuskan untuk menginjak kaki laki-laki yang ada di depannya.
"Aw! Kau memang suka main kasar ya, Hinata?" Sasuke melepaskan ciumannya pada Hinata. Merintih karena merasakan sakit pada kakinya tanpa melepas cengkraman pada tangan Hinata.
"Baiklah, kau sedang buru-buru 'kan? Akan kulakukan dengan cepat." Sasuke kembali menyerang Hinata. Ia menciumi bibir perempuan itu. Lalu, ciumannya mulai berpindah pada pipi dan leher Hinata.
"Ngh~"
Sebuah catatan bagi Sasuke, leher Hinata sensitif. Kalau sensitif, berarti Sasuke harus bermain lama di situ.
"Ahh.. Lepaskanhh~"
Hinata menjerit saat Sasuke menggigit tulang selangkanya. Bagus, baju Hinata sudah berantakan rupanya. Semakin Hinata berontak, semakin erat pula Sasuke mencengkram dan menciuminya. Hell, Hinata tidak mau ternodai laki-laki sembarangan. Apalagi penyuka sesama jenis seperti Sasuke.
'TAK'
Suara kaleng yang terinjak mengejutkan Sasuke dan Hinata. Cumbuan Sasuke terlepas. Hinata segera merapikan dirinya. Apa ada orang yang melihat mereka?
"Sialan. Mengganggu saja!" Sasuke menggerutu. Dilihatnya Hinata sudah berjalan menjauh ke arah yang berlawanan.
.
.
"Hei, kenapa malah melamun?" Hinata menoleh. Seseorang mendekatinya saat ia sedang mencoba belajar untuk ujian masuk perguruan tinggi.
"Kak Shika? Habis menemui Kak Neji?" Shikamaru berdeham dan mengambil kursi duduk di dekat Hinata.
"Belajar untuk ujian masuk, Hinata?"
"Begitulah." Hinata menghela napas.
"Hei, jangan terlalu khawatir. Kau pasti bisa lolos." Shikamaru menyentuh bahu Hinata dan memberikan senyumannya. Hinata ikut tersenyum tapi bukan hanya ujian masuk universitas yang menjadi beban pikirannya.
"Aku akan membantumu. Kalau kau kesulitan, tanya saja padaku."
"Benarkah? Terima kasih banyak, Kak Shika." Hinata tersenyum lembut.
Shikamaru menatap wajah Hinata dengan lekat. Iris mata perempuan itu mirip amethyst. Cantik dan terlihat menenangkan. Rasanya Shikamaru terbius dan tanpa sadar hendak mendekatkan wajahnya.
"Kak Shikamaru?"
Panggilan Hinata membuat Shikamaru kembali sadar. Cepat-cepat ia segera membetulkan duduknya. Ia tidak boleh terburu-buru.
"Kau sudah lama belajar, Hinata?"
"Sejak tadi pagi."
"Ingin refreshing dulu? Aku ingin mengajakmu makan siang di luar. Kudengar ada butik pakaian baru juga. Mau belanja?"
Hinata sebenarnya bukan penyuka fashion seperti adiknya. Well, ia suka tapi tidak terlalu memerhatikannya. Baginya selama pakaiannya nyaman dan sesuai situasi itu sudah cukup.
"Mungkin itu bukan ide yang buruk." Hinata menutup buku yang dibacanya. Ia butuh sedikit hiburan dari kegiatan lain untuk menenangkan pikirannya. Membeli baju baru dengan Shikamaru mungkin pilihan yang baik. Hinata juga perlu menyiapkan pakaian kuliahnya nanti, itu juga kalau ia berhasil lolos masuk Tokyo University sih.
.
.
