Denganmu 15
by
acyanokouji
All characters belong to Masashi Kishimoto
Warn: OOC, typo(s), (maybe) a bit lemon dan yaoi!
.
.
Hinata baru keluar dari ruang kuliahnya. Hari ini adalah hari pertama kembali ke universitas. Tidak banyak yang disampaikan dosennya. Hanya sekitar tentang kontrak kuliah dan pengantar mata kuliah. Ketika langkahnya dua langkah dari pintu kelas, gawai Hinata berdering. Sebuah pesan masuk dari Shikamaru. Kujemput jam enam?
Hinata tersenyum membaca pesan tersebut. Ia mengetik jawaban pesan dan mengirimnya ketika sampai di depan elevator. Ya, aku akan memilih baju dulu. Menurutmu, aku musti pakai baju seperti apa, Kak?
Pintu elevator terbuka. Hinata masuk diikuti tiga mahasiswa lain. Dua menit Hinata menunggu elevator tersebut bergerak menuju lantai dasar. Sebuah pesan masuk lagi bersamaan dengan bunyi denting elevator yang terbuka di basement.
Aku sudah membelikanmu sesuatu. Mustinya sudah sampai di apartemenmu sekarang, pakailah untuk nanti malam. Hinata terdiam sebentar guna membaca pesan tersebut. Lagi? Shikamaru beli barang lagi?
"Maaf, apa kau akan keluar?" sebuah suara menyadarkan Hinata. Ia berdiri tepat di depan pintu elevator sehingga menghalangi jalan masuk.
Hinata terkesiap. "Ah, maaf. Aku akan keluar sekarang." Hinata maju dua langkah untuk keluar elevator dan berhenti sebentar. Ia membuka gawainya lagi, membalas pesan Shikamaru. Oke, aku akan memakainya.
"Yo, Hinata!"
Hinata mengernyit. Ia yang baru tiba melihat Sasuke bersandar pada mobilnya. Penampilan lelaki itu agak berbeda dari sebelumnya. Rambutnya sudah kembali pendek, terpotong rapi seperti masa SMA dulu. "Ngapain kau?" tanya Hinata.
"Galak sekali. Aku menunggumu tentu saja."
"Untuk apa menungguku?" Hinata masih berdiri agak jauh dari mobilnya.
"Aku mau numpang ikut mobilmu pulang. Apartemen kita satu arah." Sasuke menegakkan badannya yang sedari tadi bersandar di pintu penumpang Hinata.
"Aneh." Hinata berjalan menuju sisi lain mobilnya. "Kau 'kan punya mobil sendiri. Kenapa menumpang?"
"Mobilku di-service begitu tiba di Tokyo. Ayolah, aku ikut sampai perempatan saja. Waktu liburan 'kan aku sering memberimu tumpangan."
"Aku tidak pernah memintanya."
Sasuke berdecih pelan. Alasannya kurang kuat kah untuk menipu Hinata?
"Beri aku tumpangan, nanti aku kabulkan pemintaanmu."
"Hah?!" Hinata sedikit meninngikan suaranya. Seorang mahasiswa berkacamata menoleh padanya, ia cepat-cepat memalingkah wajah. Lagian Sasuke itu bicara apa? Memangnya dia jin mengabulkan permintaan segala?
"Baiklah, baiklah. Masuk." Hinata mengalah. Ia membuka pintu mobil dan masuk ke bangku pengemudi. Diam-diam Sasuke tersenyum senang dan merayakan kemenangannya dalam hati. Dengan perasaan senang, Sasuke masuk dan duduk di bangku penumpang samping pengemudi.
Mencoba tidak memedulikan kehadiran Sasuke, Hinata menyalakan mesin mobil dan mulai melaju. Ketika mereka keluar gebang universitas, Hinata melirik Sasuke sebentar. "Seatbelt, please?" kata Hinata.
Sasuke menoleh pada Hinata. Perempuan itu duduk tegap, memakai sabuk pengaman. Oh iya, Sasuke baru sadar kalau Hinata sering pakau sabuk pengaman setiap pergi bersamanya. "Untuk apa? Jaraknya dekat cuma sekitar sepuluh menit."
"My car, my rule!" Hinata menginjak rem sengaja dengan menukik saat di lampu merah. Badan Sasuke agak condong ke depan dan jidatnya hampir saja menabrak kaca.
Sasuke berdecak kesal. "Oke, oke." Sasuke menarik sabuk pengaman, melingkari badannya dan menguncinya. "Kau senang sekarang?" Sasuke menyindir dengan sinis sedang Hinata hanya mengedikkan bahu.
"Omong-omong, kau pulang cepat? Sekarang baru jam dua siang tapi kau sudah mau pulang."
Hinata melirik Sasuke lagi. "Kau sendiri? Kenapa ada di gedung fakultasku padahal fakultas teknik lokasinya cukup jauh?" Hinata balik bertanya sambil memindahkan gigi mobil, mulai maju lagi setelah lampu apil berubah warna.
"Kelasku cuma satu sampai jam makan siang. Setelah kumpul dengan teman satu kelas, aku berjalan-jalan sekitar kampus tapi malah berakhir di fakultasmu."
Alasan. Bilang saja ingin menemuiku.
"Oh." Hinata menanggpi seadanya, matanya fokus melihat jalanan.
"Kau ada acara nanti malam? Aku ingin mengajakmu keluar."
Hinata berbelok ke kiri. Sekilas ia melirik Sasuke yang sedang menatapnya. "Ya, aku sudah ada janji," kata Hinata.
"Dengan siapa?" Hinata tidak menjawab tapi perempuan itu tidak sengaja bertatapan dengannya selama tiga detik. "Shikamaru Nara, eh?"
"Bukan urusanmu."
Sasuke mendengus pelan. Ia ketinggalan. "Di sana. Tolong turunkan aku di depan kedai ramen kecil itu." Sasuke menunjuk sebuah kedai seberang jalan setelah lampu merah.
"Oke." Hinata berbelok ke kanan. Sekitar lima puluh meter dari lampu apil, ia menepi ke kiri untuk menurunkan Sasuke.
"Terima kasih tumpangannya. Semoga kau berkenan direpotkan lagi." Sasuke mengedipkan matanya sebelah pada Hinata. Lalu, ia bergerak untuk membuka sabuk pengaman.
Hinata mencibir sebentar karena tingkah Sasuke. "Apartemenmu yang mana?" tanya Hinata.
"Hee kau ingin tahu?" Sasuke kembali menoleh pada Hinata dengan seringaian setelah sabuk pengaman terlepas dari tubuhnya. Hinata berdecak sebal. Bukan berarti ia peduli kok.
"Lupakan."
Sasuke terkekeh pelan. Hinata jadi makin heran melihat.
"Itu, gedung yang paling tinggi di blok ini." Hinata mengikuti telujuk Sasuke pada sebuah gedung tak jauh dari tempat mereka berhenti.
"Serius?" Hinata menatap tidak percaya. "Itu 'kan..."
"Di seberang apartemenmu." Sasuke mendahului Hinata. "Sudah kubilang 'kan kalau apartemen kita satu arah?"
Sasuke tersenyum padanya, Hinata merasa asing. Yang membuatnya bingung, kenapa Sasuke minta berhenti di sini padahal gedung apartemennya berjarak sekitar dua ratus meter?
Mencoba tidak peduli, Hinata kembali duduk dengan tegap, memandang ke depan. "Yasudah, cepat turun." Hinata berkata tanpa menoleh.
Sasuke keluar dari mobil Hinata. Ia menutup pintu dan mundur selangkah. Saat mobil Hinata mulai melaju, Sasuke mencoba ramah dengan melambaikan tangan. Setelah memastikan mobil Hinata sudah agak jauh, ia terdiam dan memandang datar.
Sasuke mengeluarkan ponselnya, melakukan panggilan pada seseorang. "Kelasmu sudah selesai belum? Susul aku di Ichiraku sekarng. Oh, tolong bawa mobilku juga, ya. Kuncinya kutitip pada satpam." Sasuke langsung mematikan panggilan tanpa menunggu sautan dari ujung telepon.
Sementara itu, di sisi lain, Kiba yang baru keluar gedung fakultas dokter hewan menatap kesal layar ponselnya. "Berengsek! Lalu bagaimana dengan mobilku, sialan?!"
.
.
Seperti yang tertera di pesan, Shikamaru menjemput Hinata jam enam sore. Pria berkucir itu sudah menunggu di depan pintu apartemen Hinata. Ia memerhatikan penampilan Hinata yang membuatnya terkesima.
Hinata memakai gaun berwarna putih tanpa lengan yang panjangnya hanya mencapai lututnya. Gaun tersebut membentuk lekuk tubuhnya dengan sebuah pita tepat di bawah dadanya. Hinata memakai heels setinggi lima sentimeter berwarna putih susu. Malam ini rambutnya digulung hingga menampilkan leher dan bahunya. Tidak lupa kalung liontin Hinata juga.
"Kau cantik." puji Shikamaru.
Hinata tersipu. "Terima kasih. Pilihanmu memang tidak pernah salah."
"Kita pergi sekarang?" Shikamaru mengulurkan tangannya. Hinata menyambut uluran tersebut dan mereka pun segera pergi menuju sebuah mall.
Hinata dan Shikamaru tiba ke sebuah mall jam enam lewat empat puluh lima menit. Mereka menuju lantai tiga, ke sebuah aula terbuka. Malam ini mereka akn menghadiri acara fashion show pembukaan butik baru dari brand pakaian yang sering dibelinya.
"Kita akan duduk di sini." Shikamaru menuntun Hinata ke sebuah bangku di baris ketiga kursi keempat dan kelima.
Hinata mengucapkan terima kasih pada Shikamaru yang membantunya duduk. Setelah memosisikan duduknya, Hinata melihat-lihat ke sekeliling. Menunggu acara yang akan dimulai sebentar lagi. Tiba-tiba matanya menangkap surai kuning yang duduk di barisan kedua.
Naruto?, batin Hinata. Tapi Naruto 'kan tidak melanjutkan studinya di Tokyo.
Mencoba abai, Hinata menoleh ke kiri dan melihat seorang pria paruh baya berambut coklat dengan jenggot di sekeliling wajahnya. Pria tersebut menatap Hinata lekat-lekat, terutama pada paha dan dadanya yang agak terbuka. Hinata bergerak gelisah. Ia menutupi pahanya dengan tas selempang kecil yang dibawanya. Ia juga mencoba menarik gaunnya ke atas.
"Selamat malam hadirin sekalian! Perkenalkan, saya Pain yang akan memandu acara hari ini!"
Sudah dimulai. Hinata milih fokus pada panggung kecil di depannya, mengabaikan pria menyeramkan di sampingnya. Acara dimulai tepat jam tujuh malam. Pembawa acara adalah seorang pria berambut oranye yang memiliki beberapa buah tindik di wajahnya. Rangkaian acara terdiri dari sambutan singkat dari seorang pria bertato dan memakai kumpluk bentuk kelelawar. Selanjutnya adalah penampilan koleksi pakaian yang akan dirilis oleh brand Sabishii.
Model keluar satu per satu memamerkan baju-baju terbaru. Rata-rata baju yang dijual adalah gaun untuk berpesta. Memang, brand Sabishii adalah anak perusahaan dari brand Saba-Saba yang menjual pakaian wanita remaja. Model ketujuh keluar dengan potongan baju crop top berwarna merah gelap yang sedikit compang untuk tujuan estetik. Bawahan model tersebut memakai rok hitam setengah paha yang menampilkan kaki jenjangnya.
"Ino Yamanaka?" bisik Hinata.
"Hn?" Shikamaru mendengar bisikan Hinata dan menoleh pada perempuan itu. Hinata ikut menoleh dan melihat raut bertanya Shikamaru.
"Eh? Tidak, kupikir modelnya mirip kenalanku."
"Oh." Shikamaru kembali memerhatikan ke atas panggung. Hinata masih terheran-heran tapi ia abaikan dan menikmati acara. Sampai model kedua belas keluar panggung, seorang perempuan pirang yang mengucir rambutnya di kedua sisi muncul. Tubuhnya tinggi semampai, langsing, tapi dadanya cukup berisi.
Berdasarkan ucapan si pembawa acara, perempuan itu adalah desainer dan pemilik brand Sabishii yang baru buku. Pakainnya bukan memakai gaun yang banyak dijualnya. Namun, jelas pakainnya terbuka sesuai dengan imej brand tersebut.
"Cantik sekali..." Hinata memandang kagum. Ia yakin model nomor tujuh yang mirip teman SMA-nya adalah salah satu perempuan tercantik tapi si pemilik butik terlalu cantik baginya. Bagaimana bisa perempuan terlihat anggun tapi seksi di saat yang bersamaan.
Hinata menoleh pada Shikamaru. Matanya sedikit terkejut melihat tatapan Shikamaru yang tak lepas dari perempuan bernama Sabaku itu. Hanya perasaannya saja atau mata Shikamaru memang terlihat berbinar?
.
.
Pertunjukan selesa pukul delapan lewat tiga puluh menit. Semestinya Hinata dan Shikamaru melihat pembukaan butik. Namun, karena yakin butik akan dipenuhi orang-orang, Shikmaru menyarankan mereka untuk datang lain kali. Hinata menyetujui saat Shikamaru mengajaknya makan malam.
"Hinata? Hinata Hyuuga?"
Hinata berhenti saat seseorang memanggil namanya. Ia berbalik di koridor mall dan terkejut melihat teman lama. Tuh 'kan benar, Hinata tidak salah lihat.
"Naruto-kun?" kata Hinata. Shikamaru yang ikut berhenti menatap bingung pada Hinata.
"Yatta! Kau benar-benar Hinata!" Naruto berseru senang. Shikamaru mendelik tak suka. SKSD sekali laki-laki itu. Ia lalu memberikan tatapan bertanya pada Hinata.
"Ah, Kak Shika, ini Naruto teman SMA-ku. Naruto, ini Kak Shikamaru."
Hinata memperkenalkan kedua laki-laki tersebut. Shikamaru dan Naruto berkenalan seadanya.
"Hinata, kau kemari untuk melihat fashion show?" Hinata mengangguk. "Bagaimana tadi? Kau melihat Ino juga?"
Hinata benar lagi, model nomor tujuh itu ternyata benar Ino Yamanaka. "Bagus. Kau kemari untuk melihat Ino-san?" kali ini Naruto yang mengangguk.
"Ino memulai karirnya sebagai model sejak lulus SMA. Ah, itu..." Naruto menggaruk pipinya. "Aku dan Ino berpacaran."
Hinta membuka mulutnya sedikit, ia terkejut. Ternyata mantan laki-laki yang disukainya sudah punya pasangan. "Begitu? Selamat Naruto."
Naruto tersenyum pada Hinata. Tak lama senyumannya luntur, digantikan wajah terkejut sambil menatap belakang punggung Hinata. "Eh, Sasuke?"
Hinata berbalik begitu mendengar perkataan Naruto. Di belakangnya ada Sasuke bersama seorang perempuan yang mengepang rambutnya. Hinata sadar akan tatapan dingin Sasuke padanya dan pada Shikamaru. Mereka berpandangan beberapa detik, kemudian Sasuke menatap kalung yang tergantung di leher Hinata.
"Reuni dadakan, eh?"
